p-Index From 2021 - 2026
4.914
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

PROMOSI KESEHATAN HIV-AIDS DAN STIGMA TERHADAP PENGGUNA NARKOBA SUNTIK (PENASUN) DI KABUPATEN SUMEDANG Evie Ariadne Shintadewi; Suwandi Sumartias
Sosiohumaniora Vol 19, No 2 (2017): SOSIOHUMANIORA, JULI 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.978 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v19i2.11403

Abstract

Di Indonesia, cara penularan HIV-AIDS melalui Injecting Drug User (IDU) atau  Pengguna Narkoba Suntik(Penasun) yang merupakan populasi beresiko dan sulit dijangkau (hard to reach) mencapai angka 40,4%. Salah satunya penyebab mereka sulit dijangkau adalah  sikap menstigma oleh masyarakat, karena stigma dapat mempersulit upaya intervensi pemerintah (melalui promosi kesehatan) dalam pengendalian HIV-AIDS.Tujuan penelitian ini adalah  : 1) untuk memperoleh gambaran tentang pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan penanggulangan HIV-AIDS oleh KPA Kabupaten Sumedang 2) untuk memperoleh gambaran mendalam tentang makna stigma bagi Penasun dan 3) untuk mengetahui makna promosi kesehatan dalam menghapuskan stigma bagi Penasun.Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan Studi Kasus, serta teknikpengumpulandata melalui:a) wawancaramendalam(indepthInterview), b) observasi, c) studipustaka, dan d)focus   group   discussion. Hasil Penelitian menunjukkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sumedang melaksanakan kegiatan promosi kesehatan sebagai upaya pencegahanpenularan HIV-AIDS menggunakan beberapa strategi secara simultan untuk sasaran yang berbeda. Di sisi lain, Penasun memaknai stigma secara positif dan negatif. Makna negatif melahirkan sikap menarik diri dari kehidupan sosial, masa bodoh, apatis, tidak peduli dan putus asa dalam menjalani sisa hidupnya, sedangkan makna postif justru memberikan sisa hidupnya untuk dapat berkontribusi di masyarakat dengan ikut menyampaikan informasi tentang bahayanya HIV-AIDS. Penasun juga memaknai kegiatan promosi kesehatan yang dilakukan KPA Sumedang dalam tiga kategori, yaitu bagus untuk ranah kognitif, cukup untuk ranah afeksi dan masih kurang untuk ranah konasi. Kata Kunci : Stigma, Penasun, HIV-AIDS, Promosi Kesehatan.
Kontestasi Pesan Politik dalam Kampanye Pilpres 2014 di Twitter: Dari Kultwit Hingga Twitwar Mas Agus Firmansyah; Dedy Mulyana; Siti Karlinah; Suwandi Sumartias
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jik.v16i1.2681

Abstract

Selama masa kampanye pilpres tahun 2014, tercatat 95 juta kicauan terkait pemilu telah dikicaukan oleh pengguna Twitter di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah kontribusi dari kicauan akun Twitter pendukung kedua capres. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana format kicauan yang diunggah oleh kedua pendukung capres. Dengan menggunakan metode kualitatif berupa Critical Technocultural Discourse Analysis (CTDA) terhadap kicauan akun Twitter pendukung capres, penelitian ini menemukan bahwa secara umum, terdapat kesamaan format kicauan yang digunakan oleh kedua pendukung capres. Selain menggunakan kicauan tunggal (twit) ditemukan pula kicauan dengan format kultwit dan twitwar. Keberadaan kedua format tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana budaya kolektivisme (guyub) masyarakat Indonesia mampu bertransformasi di ranah digital Twitter.
TRANSFORMASI PT ASKES (PERSERO) MENJADI BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN Veny Afrilia; Suwandi Sumartias; Lukiati Komala Erdinaya
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.599 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v5i2.8481

Abstract

PT ASKES (PERSERO) diterpa berbagai persoalan dalam melayani urusan kesehatan. Tata kelola PT ASKES dinilai buruk dari layanan kesehatan masyarakat. Namun, setelah enam tahun berubah menjadi BPJS, dan terbitnya UU BPJS No 24 tahun 2011, masih ditemui berbagai hal menyimpang dari tujuan pembentukan UU tersebut. Selain diwarnai dengan ketidakjelasan mekanisme pelayanan dan pertanggungjawaban di tingkat dinas, juga lemahnya pengawasan serta buruknya sistem pelayanan di beberapa rumah sakit. Kini, pemegang kartu BPJS masih merasa “warga” kelas dua dalam memperolah layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan yang melatarbelakangi transformasi PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan Studi Kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan PT Askes (Persero) melakukan transformasi karena adanya keinginan dari pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan jaminan kesehatan yang terjangkau, dan memberikan manfaat serta tidak memberatkan masyarakat terutama dari segi finansial. Untuk pemahaman staf divisi pemasaran mengenai transformasi dari PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan pada umumnya staf divisi pemasaran memahami transformasi sebagai upaya pemerintah dalam memajukan tingkat kesehatan dan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan yang menjadi visi dan misi BPJS kesehatan. Sedangkan mengenai tanggapan peserta mengenai BPJS Kesehatan, peserta BPJS Kesehatan masih menganggap BPJS Kesehatan masih kalah bersaing atau kurang efektif jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan asuransi swasta.
Komunikasi sosial pemerintah dalam penyebaran informasi perbatasan Negara Indonesia dan Timor Leste Kristin Engjelima Julwinda Nomleni; Suwandi Sumartias; Wawan Setiawan
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 7, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.847 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v7i2.21348

Abstract

Tindakan pelanggaran perjanjian bilateral tahun 2005 oleh masyarakat Timor Leste memasuki lahan Naktuka sebagai area netral di antara perbatasan kedua negara, menimbulkan kecemasan dan mendorong masyarakat Netemnanu Utara (Indonesia) untuk mengambil tindakan anarkis. Sebagai antisipasi, diperlukan peran pemerintah Indonesia untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat perbatasan melalui lembaga terkait, khususnya Badan Pengelola Perbatasan (BPP) Kabupaten Kupang yang bertanggung jawab mengurus wilayah perbatasan negara di wilayah Kabupaten Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi sosial antara pihak BPP Kabupaten Kupang dengan masyarakat Netemnanu Utara berdasarkan jenis, proses, tahapan penerimaan informasi oleh masyarakat, dan karakteristik masyarakat Netemnanu Utara dalam mengadopsi informasi mengenai persoalan tersebut. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi sosial antara masyarakat dan pihak pemerintah daerah dengan pendekatan sosial budaya, selain itu adanya keputusan pemerintah pusat sebelumnya yang menyetujui penerapan perjanjian traktat 1904 bersama pihak Timor Leste menjadikan komunikasi sosial pemerintah gagal dan menimbulkan penolakan masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan sejarah hidup masyarakat Netemnanu Utara. Penelitian ini menyimpulkan, pemerintah menggunakan beragam jenis dan proses komunikasi sesuai situasi dan karakter masyarakat Netemnanu Utara. Penerimaan masyarakat atas inovasi atau kebaruan informasi terjadi dalam 3 tahap yaitu pengetahuan, persuasi dan tahap pengambilan keputusan. Tahap implementasi dan konfirmasi tidak berlanjut, karena masyarakat menilai minimnya pengetahuan pemerintah, tidak pernah dilibatkan, dan kesepakatan tersebut bertentangan dengan unsur budaya masyarakat perbatasan. Saran, pemerintah pusat maupun daerah sebaiknya selalu melibatkan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan berkaitan dengan batas wilayah antara kedua negara, sebelum melakukan kesepakatan untuk menghindari kegagalan komunikasi dan meminimalisir konflik.
KOMUNIKASI POLITIK PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) DALAM KETERBUKAAN IDEOLOGI Erfina Nurussa'adah; Suwandi Sumartias
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.825 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v5i1.8522

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam keterbukaan ideologi yang dilakukan DPW PKS Jawa Barat. Untuk menjawab permasalahan tersebut,dilakukan analisis terhadap pokok pertanyaan penelitian, yaitu: komunikasi politik DPW PKS Jawa Barat dalam keterbukaan ideologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi etnografi komunikasi. Subjek penelitian adalah DPW PKS Jawa Barat. Dalam penelitian ini narasumber wawancara dibagi menjadi dua yaitu internal dan eksternal, yang dipilih secara purposive sampling (sampel bertujuan) dengan jumlah narasumber internal 5 orang dan narasumber eksternal 4 orang. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, studi pustaka. Adapun teknis analisis data dengan mereduksi data, mengumpulkan data, menyajikan data, menarik kesimpulan, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, komunikasi politik yang berlangsung dalam keterbukaan ideologi DPW PKS Jawa Barat melibatkan komunikator-komunikator politik dari dalam dan luar PKS. Selain itu, komunikasi juga melibatkan kader, simpatisan, masyarakat Jawa Barat serta tamu undangan sebagai komunikannya. Komunikasi politik yang terjadi dalam keterbukaan ideologi melalui pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan dalam beberapa kegiatan DPW PKS Jawa Barat seperti; Muswil, Rakerwil dan Rakorwil. Komunikasi politik dalam keterbukaan ideologi DPW PKS Jawa Barat terjadi melalui pola komunikasi organisasi, dengan penyampaian pesan berupa pidato serta arahan. Dalam komunikasi politik, kegiatan tersebut merupakan bentuk dari retorika, propaganda, public relations, kampanye politik, serta lobi politik
Pengembangan Model Komunikasi Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal di Kawasan Geopark Pangandaran Iriana Bakti; Suwandi Sumartias; Trie Damayanti; Aat Ruchiat Nugraha
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.643 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v6i2.18459

Abstract

Pangandaran adalah salah satu destinasi wisata terkenal di Jawa Barat yang memiliki keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya yang terus dipelihara melalui mekanisme pendidikan lingkungan untuk menuju ke arah pelestarian dan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kearifan lokal, pola interaksi antar pemangku kepentingan, dan saluran komunikasi yang mendukung terbentuknya geopark Pangandaran. Metode penelitiannya eksploratif untuk menginventarisir berbagai gejala yang berkaitan dengan pelaksanaan kearifan lokal, pola interaksi, dan saluran komunikasi dalam mendukung terbentuknya geopark Pangandaran. Teknik pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara, dan studi kepustakaan. Informannya penggiat wisata yang terkait dengan pengembangan wisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Pangandaran yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan kearifan lokal, seperti, layang syeikh, babarit, hajat leuweung, dan sebagainya telah dimanfaatkan untuk menambah daya tarik wisata di berbagai wilayah di Kabupaten Pangandaran. Pola interaksi pada tataran birokrat masih belum jelas, karena rencana tersebut baru sebatas wacana atau statement politis, sedangkan pada tataran masyarakat (penggiat budaya dan pariwisata) sudah terbentuk melalui forum silaturahmi dengan sesepuh adat, dan diskusi kelompok penggiat budaya dan wisata, sehingga terbangun kesepahaman, kesepakatan, kerjasama, dan kolaborasi di antara mereka. Saluran komunikasi yang terbentuk bersifat person to person (antarpersona) antara penggiat budaya dan pariwisata dengan sesepuh adat. Saluran kelompok memiliki konformitas dan kohesivitas yang tinggi dalam mengembangkan destinasi wisata geopark berbasis budaya dan kearifan lokal di Pangandaran. Media sosial digunakan untuk mengirim dan menerima informasi, sehingga semakin menguatkan hubungan dan ikatan sosial di antara mereka. 
Penggunaan Message Appeals dalam Strategi Pesan Kampanye Anti Kekerasan Berbasis Gender Online Eny Ratnasari; Suwandi Sumartias; Rosnandar Romli
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 18, No 3 (2020)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jik.v18i3.3844

Abstract

Meningkatnya kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dalam enam tahun terakhir membuat Sub Divisi Digital At-Risks SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network) melakukan Kampanye “Awas KBGO!” untuk memberikan warning kepada publik. Strategi pesan dengan menggunakan daya tarik pesan masih belum berhasil untuk meningkatkan awareness publik. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis kekuatan dan tantangan penggunaan message appeals dalam strategi pesan Kampanye “Awas KBGO!”. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada organisasi nirlaba SAFEnet dengan teknik pengumpulan data yakni wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampanye “Awas KBGO!” menggunakan strategi pesan message appeals (daya tarik pesan) yang terbagi menjadi dua yaitu reasoning appeals (daya tarik alasan) dan emotional appeals (daya tarik emosional). Emotional appeals yang digunakan menimbulkan dua perasaan yaitu perasaan positif dan perasaan negatif. Penggunaan pesan kampanye yang menimbulkan perasaan negatif berupa fear appeals lebih dominan dibandingkan dengan pesan positif. Kekuatan pesan kampanye terletak pada penggunaan data dan fakta, sedangkan fear appeals justru menjadi tantangan karena menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi target audiens. Substansi penelitian ini memberikan kontribusi berupa rekomendasi kebijakan baru kepada SAFEnet untuk memperbanyak pesan kampanye yang memanusiakan (humanize) dengan narasi positif dan teknik storytelling.
Fenomena Pemasaran Politik Suwandi Sumartias; Santi Susanti
Jurnal Agregasi : Aksi Reformasi Government dalam Demokrasi Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.132 KB) | DOI: 10.34010/agregasi.v5i2.446

Abstract

Era reformasi dan globalisasi telah mendorong perubahan massif dalam pemahaman dan praktik politik masyarakat Indonesia. Praktik politik berada dalam ranah komersialisasi luar biasa, kegiatan pemasaran, kampanye dan iklan politik dalam berbagai media (massa, nirmassa dan media online). Situasi ini diperkuat oleh para opinion leader, organisasi politik, ekonomi, sosial budaya dan keagamaan yang turut menjadi agen dan aktor politik yang sangat berpengaruh dan menempatkan politik menjadi panglima. Media massa dan media sosial memiliki kekuatan besar sebagai pembentuk opini, fungsi pendidikan politik dan perubahan, selain menghibur dan informasi secara netral, fair, profesional dan bertanggung jawab, alih-alih terjebak kepentingan bisnis politik para kandidat dan parsial. Sementara kualitas SDM politisi dan pengetahuan serta kesadaran warga tentang politik masih jauh dari profesional, bahkan menjadi antiklimaks, di mana maraknya pelanggaran etika, hukum dan moral (KKN, konflik sosial, money politics, dan lainnya) dalam relasi politik politisi/birokrat dengan warga semakin transparan keberadaannya sehingga politik tak lagi dipahami sebagai ilmu yang mampu memberi solusi yang nyaman, damai dan menyejahterakan, namun hanyalah retorika (lip service) yang semakin meneguhkan reputasi dan citra buruk politisi dan birokrat. Akibatnya, pemilu hanyalah rangkaian seremonial/pesta demokrasi dengan berbagai tindak politik penuh rekayasa, intrik yang penuh dengan pelanggaran hukum, sosial dan moral.
PEMBENTUKAN BRAND AWARENESS WARUNK INDOMIE UPNORMAL MELALUI FOOD BLOGGER Geuit Septiani; Suwandi Sumartias; Susie Perbawasari
PRofesi Humas Vol 1, No 2 (2017): PRofesi Humas
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.772 KB) | DOI: 10.24198/prh.v1i2.10400

Abstract

Warunk Upnormal merupakan sebuah tempat makan di Kota Bandung yang saat ini menjadi tren anak muda Bandung untuk nongkrong menghabiskan waktu bersama teman sambil bersantap menu-menu yang spesial. Warunk Upnormal juga sebagai warung pertama di Indonesia yang menghadirkan konsep warung indomie dengan kemasan kekinian (Pelopor Warunk Indomie Kekinian). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan pembentukan brand awareness Warunk Indomie Up advertorial online normal melalui food blogger di Kota Bandung. Bagaimana peran food blogger dalam menarik perhatian, menciptakan pemahaman konsumen, dan menciptakan ingatan konsumen mengenai Warunk Indomie Upnormal. Metode penelitianyang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan data kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur, observasi partisipasi pasif, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan aspek menarik perhatian yaitu dengan menceritakan pengalaman yang jujur, mengutamakan isi konten, menyelipkan meme lucu, dan komentar positif dari pembaca. Aspek menciptakan pemahaman yaitu dengan mencantumkan informasi yang jelas, memberi keterangan pada setiap foto, bahasa yang disesuaikan dengan target pembaca dan menceritakan keunikan Warunk Upnormal. Aspek menciptakan ingatan yaitu dengan penyebaran informasi mulut ke mulut, meng-upload advertorial online dan kuis, menceritakan kepuasan, dan membuat promosi unik dan menarik. Saran sebaiknya ulasan Warunk Upnormal menampilkan foto yang lebih variatif dan inovatif dibandingkan review tempat makan lain, dan dalam membentuk ingatan sebaiknya menu utama indomie yang lebih sering ditampilkan dibandingkan menu-menu lain.
Proses Rebranding Mal Grand Indonesia Oleh Departemen Marketing Communication PT Grand Indonesia Fitria Adianti Putri; Suwandi Sumartias; Diah Fatma Sjoraida
PRofesi Humas Vol 2, No 2 (2018): PRofesi Humas
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.88 KB) | DOI: 10.24198/prh.v2i2.9063

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses repositioning, renaming, redesigning, dan relaunching Grand Indonesia oleh Departemen Marketing Communication PT Grand Indonesia. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi dokumen. Penelitian ini dilaksanakan di Grand Indonesia yang terletak di Menara BCA Lantai 37, Jalan MH. Thamrin No. 1 Jakarta Pusat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Grand Indonesia dalam melakukan proses rebranding melalui empat tahap. Pertama, repositioning dengan perubahan target market dan konsep mal. Kedua, renaming perusahaan yang semula Grand Indonesia Shopping Town menjadi Grand Indonesia. Ketiga, redesigning elemen tangible dan visual lainnya, seperti logo, iklan, alat tulis kantor, merchandise, dan interior serta eksterior mal. Keempat, relaunching konsep dan brand baru berupa publikasi secara implisit kepada publik. Simpulan dari penelitian ini adalah pada tahap repositioning, perubahan target market yang menjadi fokus rebranding direncanakan dengan matang dengan upaya pergantian tenant dan konsep mal. Pada tahap renaming dan redesigning yang berupa perubahan nama dan logo disesuaikan dengan baik berdasarkan konsep baru mal. Namun, tahap relaunching yang menjadi akhir dari proses rebranding belum optimal, dikarenakan masih banyak publik yang belum mengetahui proses rebranding Grand Indonesia tersebut. Saran pada penelitian ini adalah agar manajemen segera merampungkan pergantian tenant yang sesuai dengan target market baru, membenahi persepsi publik mengenai nama dan logo baru Grand Indonesia yang kerap masih salah, dan mengadakan tahap relaunching secara resmi agar publik mengetahui secara pasti mengenai proses rebranding yang dilakukan, serta dibutuhkan publikasi yang menarik dan konsisten agar mampu meningkatkan awareness publik terhadap perusahaan.
Co-Authors Aang Koswara Aat Ruchiat Nugraha Adi, Achwan Noorlistyo Aditia, Nico Afrilia, Veny agus rahmat Agus Rusmana Ali Djamhuri Alvin, Alvin Iqbal Baihaqi Amina, Nurtyasih Wibawanti Ratna Ananda, Muhammad Fairuz Satria Ananda, Muhammad Fairuz Satria Andi Alimuddin Unde Anwar Sani Ari Agung Prastowo, Ari Agung ARIADNE, EVIE Asep Suryana Asep Suryana Diah Fatma Sjoraida Diandra, Mikha Puan Duddy Zein Dwia Aries Tina Pulubuhu Dwia Aries Tina Pulubuhu Edwin Rizal Engkus Kuswarno Erfina Nurussa'adah Evie Ariadne Shinta Dewi Fajar Syuderajat Feliza Zubair Firmansyah, Mas Agus Fitria Adianti Putri FX. Ari Agung Prastowo Geuit Septiani Ghassani, Alvenia Azzah Hanny Hafiar Harriadi, Ibrahim Hasna Athifa Hadaina Hendra Hermawan Henny Sri Mulyani Rohayati Herlina Agustin Ilham Gemiharto Inayah Zahra Zahirah Indrayani, Heni Ira Mirawati Iriana Bakti Ismail, Nurzali IZZAH, NURUL Jamilah Ahmad Jaya, Joana Karina Putri Hanifah Kholidil Amin Kristin Engjelima Julwinda Nomleni Limilia, Putri Lukiati Komala Erdinaya Mas Agus Firmansyah Nindi Aristi Novitasari, Ai Nuning Kurniasih Nurtyasih Wibawanti Ratna Amina Nurul Fadhillah Nuryah Asri Sjafirah Nuryah Asri Sjafirah, Nuryah Asri Nurzali Ismail Paisal Paisal Priyo Subekti Priyo Subekti Priyo Subekti Purwanti Hadisiwi Putra, Wisma Ramadhan, Ryan Ratnasari, Eny Restianty, Ajani Retasari Dewi Rima Nurani Sukma Rizana, Aulia Holaw Rosnandar Romli Ryan Ramadhan Santi Susanti Santi Susanti, Santi Seniwati Seniwati Sherica Rafa Almira Siti Jamilah Az Zahra Siti Karlinah Siti Karlinah Sudarmo Sudarmo Sudarmono Sudarmono Sufa, Siska Armawati Susie Perbawasari Trie Damayanti Veny Afrilia Wawan Setiawan Wina Erwina Yanti Setianti Yustikasari Zulfiningrum, Rahmawati