Articles
Profil Penalaran Adaptif Siswa SMP dalam Menyelesikan Masalah Open-Ended Ditinjau dari Jenis Kelamin
Aziz, Dimas;
Ariyanto, Lilik;
Setyowati, Rina
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 3, No 1 (2021): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v3i1.6972
Penalaran merupakan salah satu   kemampuan yang penting dalam matematika. Salah satu jenis penalaran yaitu penalaran adaptif. Penalaran adaptif adalah proses berpikir logis yang menghubungkan kosep dengan situasi yang tidak hanya menarik kesimpulan, tetapi juga diberi alasan-alasan yang menunjang suatu kebenaran dari pendapat yang diberikan. Kemampuan tersebut dapat diketahui dengan memberikan suatu masalah kepada siswa. Salah satu jenis masalahnya yaitu masalah open-ended. Pada dasarnya kemampuan penalaran matematika anak itu berbeda-beda dalam menyelesaikan masalah matematika. Salah satunya dilihat dari jenis kelaminnya. Dari hal tersebut, maka peneti tertarik mengetahui gambaran kemampuan penalaran adaptif dari siswa laki-laki dan siswa perempuan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bringin yang terdiri dari 2 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Data diambil menggunakan tes tertulis dan wawancara yang dibuat berdasarkan 5 indikator kemampuan penalaran adaptif yang dikemukakan oleh Widjayanti, yaitu menyusun dugaan, memberikan alasan terhadap kebenaran suatu pernyataan, menarik kesimpulan dari suatu pernyataan, memeriksa kesahihan suatu argumen, dan menemukan pola pada suatu gejala matematis. Gambaran kemampuan penalaran adaptif yang dimiliki siswa mengacu pada kelima indikator tersebut. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah siswa  laki-laki ada yang memenuhi semua indikator dan ada juga yang hanya memenuhi indikator menemjkan pola pada suatu gejala matematis . Sedangkan siswa perempuan hanya memenuhi satu indikator penalaran adaptif, yaitu menemukan pola pada suatu gejala matematis. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan penalaran adptif siswa laki-laki lebihbaik dari siswa perempuan.
Profil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Dalam Memecahkan Masalah Kontekstual Matematika Ditinjau Dari Kecerdasan Logis Matematis
Laksono, Singgih Jati;
Zuhri, Muhammad Saifuddin;
Ariyanto, Lilik
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 5, No 1 (2023): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v5i1.13008
Facione (2015) menyatakan bahwa berpikir kritis adalah suatu pemikiran yang memiliki tujuan untuk membuktikan suatu hal , menafsirkan arti sesuatu dan memecahkan suatu masalah. Tujuan dari berpikir kritis yaitu dapat mencapai pemahaman yang mendalam terhadap sesuatu. Kemampuan akan berpikir kritis adalah kemampuan untuk dapat menganalisis fakta, mencetus dan menata gagasan, mengemukakakan pendapat, membuat sebuah perbandingan, pemecahan suatu permasalahan dan menarik kesimpulan. Sedangkan tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah kontekstual matematika berdasarkan tingkat kecerdasan logis matematis siswa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah enam siswa kelas VIII A SMP NEGERI 34 SEMARANG yang masing-masing memiliki kecerdasan logis matematis tinggi, sedang dan rendah. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah instrument utama yaitu peneliti sendiri dan instrumen bantu yang digunakan adalah tes dan wawancara. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tertulis dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi metode yaitu dengan membandingkan hasil tes kemampuan berpikir kritis dengan hasil wawancara dan triangulasi sumber untuk menggali sebuah kebenaran tentang suatu sumber informasi berita tertentu dapat dicari melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Hasil penelitian menunjukkan: (2) siswa yang memiliki kecerdasan logis matematis tinggi mampu memenuhi semua indikator kemampuan berpikir kritis, (2) siswa yang memiliki kecerdasan logis matematis sedang memenuhi empat indikator kemampuan berpikir kritis namun pada indikator inference dan self-regulation masih kurang memenuhi, dan (2) siswa yang memiliki kecerdasan logis matematis rendah hanya mampu memenuhi tiga indikator yaitu interpretation,analysis,evaluation.
Efektivitas Model Pembelajaran Creative Problem Solving dan Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP
Prihatiningtyas, Dian;
Ariyanto, Lilik;
Murtianto, Yanuar Hery
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 2, No 2 (2020): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v2i2.5771
Penelitian ini dilatar belakangi dengan pentingnya kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)mengetahui apakah model pembelajaran creative problem solvingefektif digunakan untuk kemampuan berpikir kritis matematis siswa; (2) model pembelajaran project based learning efektif digunakan untuk kemampuan berpikir kritis matematis siswa; (3) manakah yang lebih baik antara model creative problem solving dan model project based learning terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian modelQuasi Experimental Designyang dilakukan di SMP Negeri 1 Kendal. Teknik pengambilan sampel dengan Purposive Sampling dari populasi siswa kelas VIII diperoleh kelas VIII E sebagai kelas eksperimen I dan VIII D sebagai kelas eksperimen II. Teknik pengumpulan data dilakukan observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan : (1) model pembelajaran creative problem solving efektif digunakan untuk kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada indikator mengidentifikasi fakta yang ada; (2) model pembelajaran project based learning efektif digunakan untuk kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada indikator mengidentifikasi fakta yang ada; (3) model pembelajaran project based learninglebih baik dibandingkan model pembelajaran creative problem solving terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Jadi kelas yang mendapat model pembelajaran creative problem solving dan model pembelajaran project based learning mencapai ketuntasan secara klasikal dan individual
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL MATEMATIS SISWA SMP
Narwastu, Elsa Era;
Ariyanto, Lilik;
Supandi, Supandi
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 4, No 6 (2022): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v4i6.11804
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Ditinjau Dari Kemampuan Awal Matematis Siswa SMP pada Materi Persmaan dan pertidak samaan linear satu variable kelas VII semester 1. Subyek Penelitian yaitu 3 siswa SMP Negeri 4 Demak kelas VII G Teknik pengumpulan data berupa soal tes Kemampuan awal Matematis, soal tes kemampuan berpikir kritis dan Wawancara. Pengambilan subyek penelitian dengan pertimbangan tertentu yaitu kemampuan berpikir kritis matemtis siswa SMP. Pada penelitian ini menggunakan 4 indikator kemampuan berfikir kritis menurut Facione yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, dan infrensi. Pendekatan yang di gunakan yaitu pendekatan kualitatif . Teknik penggumpulan data yang di gunakan yaitu tes tertulis dan wawancara. Teknik analis data yang di lakukan dengan tahapan reduksi, penyajian data (display data),dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil analis data ditunjukan dengan: siswa yang berkemampuan awal tinggi adalah siswa yang mampu memenuhi semua indikator kemampuan berpikir kritis. Siswa yang berkemampuan awal sedang mampu memenuhi dua indikator kemampuan berpikir kritis, yaitu: interpretasi dan analisis tetapi kurang mampu memenuhi indicator evaluasi dan infrensi.siswa yang berkemampuan awal rendah kurang mampu memenuhi semua indicator kemampuan berpikir kritis yang ada, ia masih kurang mampu memahami soal sehingga ketika menulis yang ditanyakan atau punyang di ketahui kurang tepat, kurang mampu membuat model matematikanya dan kurang mampu menjelaskan apa yang telah dikerjakan. Dalam hal ini peran guru sangatlah penting dalam melatih siswa dan membiasakan siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada agar kemampuan berpikir kritis siswa berkembang.
Kesulitan Belajar Siswa pada Penguasaan Konsep Himpunan Berdasarkan Klasifikasi Kecerdasan Emosional
Aulia, Nadia Tsara;
Ariyanto, Lilik;
Murtianto, Yanuar Hery
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 4, No 5 (2022): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v4i5.11430
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mampu mengendalikan emosi, yang muncul dari diri sendiri maupun berdasarkan stimulus dari orang lain. Sedangkan kesulitan belajar merupakan suatu kondisi dimana siswa sulit menerima materi pelajaran yang diajarkan sehingga menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa pada penguasaan konsep himpunan berdasarkan klasifikasi kecerdasan emosional. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari 23 siswa kelas VIII A selanjutnya dipilih 3 siswa berdasarkan klasifikasi kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu penyebaran angket kecerdasan emosional, tes tertulis kesulitan belajar, dan wawancara. Teknis analisis data dilakukan dengan 4 tahapan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi teknik yaitu membandingkan hasil tes kesulitan belajar siswa dalam penguasaan konsep himpunan dengan hasil wawancara. Berdasarkan hasil analisis, diketahui subjek dengan kecerdasan emosional tinggi di dalam tiga kategori hanya mengalami kesulitan pada pemahamn konsep yang terdapat pada soal yang berbentuk visualisasi diagram, subjek dengan kecerdasan sedang sedikit mengalami kesulitan yaitu kesulitan dalam pemahaman konsep pada soal yang berbentuk visualisasi diagram dan kesulitan pemahaman konsep, pemahaman prinsip serta pemahaman verbal pada soal yang berbentuk cerita, dan subjek dengan kecerdasan emosional rendah di dalam tiga kategori mengalami banyak kesulitan dan hanya pada kategori pemahaman konsep soal yang berbentuk visualisasi diagram yang tidak mengalami kesulitan.
Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis dalam Menyelesaikan Soal Hots Materi Persamaan Garis Lurus Ditinjau dari Gaya Belajar Peserta Didik
cisilia, rezza;
Ariyanto, Lilik;
Setyawati, Rina Dwi
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 6, No 1 (2024): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v6i1.16826
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi pemahaman konsep matematis peserta didik SMP kelas VIII ditinjau dari gaya belajar visual, auditori dan kinestetik dalam menyelesaikan soal HOTS persamaan garis lurus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMP Takhassus Al Qur’an Boja tahun pelajaran 2022/2023 yang berjumlah 21 orang. Dari kelas tersebut dipilih 6 peserta didik yang memiliki gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah angket, tes tertulis, wawancara, triangulasi dan dokumentasi. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut, yaitu Peserta didik dengan gaya belajar visual mampu memahami konsep matematis menggunakan tujuh indikator namun hasil kurang tepat ada empat indaktor yang belum diselesaikan. Sedangkan Peserta didik gaya belajar auditori dan gaya belajar kinestetik mampu memahami konsep matematis menggunakan tujuh indikator dengan benar dan tepat. Sehingga kesimpulan dari penelitian ini adalah peserta didik dengan gaya belajar mampu memahami konsep matematis dengan tujuh indikator namun peserta didik dengan gaya belajar visual hasil yang diperoleh kurang tepat.Â
Analisis Kemampuan Representasi Matematis Siswa Kelas X dalam Menyelesaikan Permasalahan SPLTV ditinjau dari Gaya Kognitif Siswa
Nurazizah, Azmi;
Ariyanto, Lilik;
Zuhri, Muhammad Saifuddin
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 5, No 1 (2023): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v5i1.12663
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan representasi matematis siswa dalam menyelesaikan permasalahan materi SPLTV ditinjau dari gaya kognitif Field Dependent (FD) dan Field Independent (FI). Jenis yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian deskripstif dengan pendekatan kualitatif. Waktu pelaksanaan penelitian pada semesteri genap tahun ajaran 2021/2022. Subjek yang diambil yaitu siswa kelas X MIPA 3 di SMA Negeri 1 Gubug yang dengan menggunakan teknik purposive sampling terpilih 2 siswa bergaya kognitif FD dan 2 siswa bergaya kognitif FI. Teknik pengumpulan yang digunakan adalah tes gaya kognitif GEFT (Group Embedded Figures Test), tes kemampuan representasi, dan wawancara. Teknik analisis data dilakukan dengan 3 tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi metode yaitu membandingkan hasil tes kemampuan representasi dan wawancara. Hasil penelitian ini adalah 1) kemampuan representasi siswa yang dimiliki subjek dengan gaya kognitif FD dalam menyelesaikan soal SPLTV yaitu hanya representasi visual, 2) kemampuan representasi siswa yang dimiliki subjek dengan gaya kognitif FI dalam menyelesaikan soal SPLTV memenuhi semua indikator yaitu representasi visual, simbolik, dan verbal.
Keefektifan Model Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) dan Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) Berbantu LKS untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VII
Ani, Isna Shofa;
Supandi, Supandi;
Ariyanto, Lilik
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 1, No 6 (2019): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v1i6.4852
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan antara penggunaan model Pembelajaran Realistic Mathematisc Education danStudent Teams Achievement Division pada materi bangun datar segitiga dan segi empat terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa.Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Kesatrian 2 Semarang tahun ajaran 2018/2019. Sampel penelitian ini yaitu kelas VIIA, VIIC dan VIID dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Data penelitian diperoleh dengan teknik wawancara, metode dokumentasi dan metode tes yang kemudian dianalisis dengan uji ketuntasan belajar individu dan klasikal, uji regresi linear sederhana, uji anava satu jalur, sertauji scheffe.Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran yang menggunakan model Realistic Mathematics Educationdan Student Teams Achievement Division tidak efektif, karena hanya memenuhi dua dari tiga indikator efektivitas,sebagai berikut: (1) Rata-rata hasil belajar siswa yang mendapat perlakuan model Realistic Mathematics Education danStudent Teams Achievement Divisionbelum mencapai ketuntasan belajar secara individual maupun klasikal. (2) Terdapat pengaruh positif antara keaktifan terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa pada model Realistic Mathematics Education dan Student Teams Achievement Division. (3) Terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep siswa yang menggunakan model Realistic Mathematics Education, Student Teams Achievement Division konvensional. (4) Kemampuan pemahaman konsep siswa yang menggunakan model Realistic Mathematics Education lebih baik daripada konvensional. (5) Kemampuan pemahaman konsep siswa yang menggunakan model Student Teams Achievement Division lebih baik daripada konvensional. (6) Kemampuan pemahaman konsep siswa yang menggunakan model Realistic Mathematics Education lebih baik dari Student Teams Achievement Division.
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Pendekatan PMRI untuk Mengatasi Miskonsepsi Matematis Siswa
Wahyudi, Imam;
Ariyanto, Lilik;
Albab, Irkham Ulil
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 1, No 5 (2019): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v1i5.4457
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasispendekatan PMRI untuk mengatasi miskonsepsi matematis siswa. Rata-rata penilaian uji validasi materi diperoleh 81,8%(sangat baik), rata-rata penilaian uji validasi ahli media pembelajaran diperoleh 85,3%(sangat baik)dan rata-rata angket kepraktisan media diperoleh 88,3%. Dilakukan uji keefektifan dengan posttest. Dari analisis nilai posttest dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasispendekatan PMRI untuk mengatasi miskonsepsi matematis siswayang dikembangkan valid, praktisdan efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran matematika pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel kelas VIII.
Profil Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMA pada Materi Program Linier Ditinjau dari Gaya Kognitif Reflektif dan Impulsif
Adiaty, Yuliana Eka Fenty;
Rahmawati, Noviana Dini;
Ariyanto, Lilik
Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 5, No 1 (2023): Imajiner: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas PGRI Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26877/imajiner.v5i1.12840
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi program linear ditinjau dari gaya kognitif reflektif dan impulsif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 2 siswa dari 36 siswa kelas XI MIPA 2 SMA Negeri 1 Gubug masing-masing 1 siswa dengan gaya kognitif reflektif dan 1 siswa dengan gaya kognitif impulsif. Gaya kognitif subjek ditentukan berdasarkan dari nilai Matching Familiar Figure Test (MFFT) dan kemampuan komunikasi matematis diperoleh dari Tes Kemampuan Komunikasi Matematis (TKKM) dan wawancara. Kesimpulan dari penelitian ini adalah subjek Reflektif memiliki karakter respon cukup lambat namun cermat, cenderung menganalisis lebih dalam terhadap masalah yang diberikan, dan sedikit melakukan kesalahan. Sedangkan subjek Impulsif memiliki karakter respon cepat namun tidak cermat dan kurang mendalami masalah sehingga melakukan beberapa kesalahan dalam menjawab. Kedua siswa yang dipilih mampu berkomunikasi dengan baik saat mengkomunikasikan ide/pendapat secara lisan maupun tertulis. Dalam menggunakan instumen MFFT, data yang dicatat meliputi banyaknya waktu yang digunakan siswa untuk menjawab keseluruhan soal yang diberikan (t) dan frekuensi kesalahan atau kebenaran jawaban yang diberikan (f).