p-Index From 2021 - 2026
4.691
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Potensi risiko kejadian luar biasa pada kegiatan ziarah makam: pembelajaran dari infeksi Escherichia coli di Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo Nurjanna Nurjanna; Gumson Joshua Tampubolon; Iffa Karina Permatasari; Theodola Baning Rahayujati; Titiek Hidayati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2395.147 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39810

Abstract

Tujuan: Kegiatan ziarah makam atau biasa disebut “Nyadranan” merupakan bentuk alkulturasi islam dengan budaya jawa yang biasa dilakukan menjelang bulan puasa Ramadhan. Terdapat ritual minum air gentong yang dianggap berkah dalam kegiatan ziarah tersebut. Padahal higienitas air gentong tidak terjamin karena berupa air mentah yang belum diolah. Tulisan ini disusun untuk menggambarkan potensi resiko KLB pada kegiatan ziarah makam dan upaya pencegahan kejadian serupa di masa akan datang. Konten: Kasus KLB pernah terjadi pada 2 rombongan warga Dusun Kradenan Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo yang melakukan kegiatan ziarah makam ke Gunungpring Magelang tahun 2018. Penyebab KLB adalah konsumsi air gentong yang mengandung mikroba patogen Escherichia coli. Air gentong terkontaminasi diduga karena kontak langsung dari tangan peziarah ke air gentong, tercemarnya peralatan minum dan distribusi air, kondisi gentong berukuran besar yang sulit dibersihkan dan adanya toilet dalam kompleks makam.Resiko KLB pada kegiatan ziarah makam dapat terulang kembali jika pihak terkait tidak memberikan perhatian. Peningkatan resiko ini didukung oleh banyaknya lokasi ziarah makam yang tersebar di berbagai daerah terutama di pulau jawa serta banyaknya jumlah peziarah yang datang dari berbagai daerah ke lokasi ziarah.Upaya pencegahan dapat dilakukan oleh pengelola makam dengan meningkatkan higienitas lingkungan dan air di lokasi ziarah makam, seperti pencucian peralatan minum secara berkala dan ada jadwal tertentu untuk menguras/membersihkan gentong. Pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan atau puskesmas juga dapat melakukan inspeksi/pemeriksaan secara berkala pada sumber air yang digunakan di lokasi ziarah dan bila terbukti mengandung mikroba patogen dapat dilakukan desinfeksi. Selain itu peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi pada warga untuk tidak mengkonsumsi air mentah tanpa pengolahan terlebih dahulu seperti memasak air sampai mendidih dan mencuci tangan pakai sabun setelah buang air besar  merupakan langkah awal untuk pencegahan kejadian serupa. 
Model pencegahan kejadian luar biasa keracunan pangan di desa: peran kader untuk keamanan pangan masyarakat Iffa Karina Permatasari; Titiek Hidayati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.783 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39895

Abstract

Tujuan: Menjaga higiene dan sanitasi pengolahan makanan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat tentu menjadi sebuah tantangan, karena tidak ada unit jasa boga yang mengikat dan kewajiban akan sertifikasi laik jasa boga. Padahal, meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan akibat kegiatan makan bersama yang dilakukan di masyarakat. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan potensi upaya menjaga keamanan pangan dan mencegah KLB keracunan makanan pada penyelenggaraan makanan massal sukarela di daerah pedesaan. Konten: Upaya yang paling umum dilakukan untuk meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat adalah edukasi keamanan pangan kepada masyarakat. Tetapi masih terdapat banyak kesulitan untuk edukasi kepada seluruh masyarakat, mengingat akan selalu ada keterbatasan sumber daya. Melibatkan puskesmas dan kader menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan efektivitas upaya menjaga keamanan pangan di tingkat masyarakat pedesaan. Tenaga kesehatan di puskesmas dapat memberikan edukasi kepada kader mengenai keamanan pangan. Kader yang telah diedukasi akan berperan sebagai agen keamanan pangan setempat. Sebuah kebijakan dapat dibentuk mengenai perizinan untuk setiap kegiatan masyarakat yang memerlukan pengolahan makanan massal oleh masyarakat setempat. Pemilik acara harus mengajukan perizinan menyelenggarakan makanan dalam jumlah massal kepada tokoh masyarakat ataupun kader. Terdapat dua kriteria yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin tersebut. Pertama, kelompok masyarakat yang ikut membantu proses pemasakan harus dipastikan sudah mengetahui dasar-dasar higiene dan sanitasi makanan. Kader dapat memberikan edukasi keamanan pangan kepada kelompok masyarakat tersebut. Kriteria kedua adalah kelompok masyarakat tersebut harus dalam keadaan sehat. Hal ini dapat terus dipantau ketika proses pengolahan makanan dilakukan. Penyusunan kebijakan ini merupakan salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan keamanan pangan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Dalam implementasinya, diperlukan berbagai pertimbangan sosial dan budaya dari masing-masing daerah. Pelibatan kader dan tokoh masyarakat merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan kebijakan ini.
Kemampuan Bahasa (Bicara) pada Pasien Stroke dengan Afasia Motorik di Kabupaten Trenggalek : Implikasi Public Health Naylil Mawadda Rohma; Titiek Hidayati; Dewi Puspita
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.487 KB) | DOI: 10.22146/bkm.40530

Abstract

Latar belakang: Perspektif neurologis menjelaskan afasia merupakan gangguang bahasa yang diperoleh karena lesi otak fokal tanpa adanya gangguan kognitif, motoric, sensorik. Gangguan bahasa terjadi pada semua modalitas bahasa (berbicara, membaca, menulis, tanda). Tujuan: Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk menggambarkan kemampuan bahasa (bicara) pada pasien stroke dengan afasia motorik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik. Sampel adalah 23 responden pasien stroke dengan afasia motorik. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah TADIR untuk kemampuan bahasa (bicara). Hasil dan Kesimpulan: Nilai kemampuan bahasa (bicara) pada pasien stroke dengan afasia motorik yaitu hampir seluruhnya mengalami gangguan (terganggu) dengan 19 responden (82,6%).
Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Tenaga Kerja, Pemasaran, dan Branding Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bakpia Safe Melalui Digital Marketing Titiek Hidayati; Indrayanti Indrayanti; Thoharoh Halimatusa'diyah
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v7i1.14230

Abstract

Salah satu faktor pendukung pembangunan ekonomi pedesaan adalah sumber daya manusia. Masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja mudah ditemukan di industri rumahan dan industri kecil dan menengah. Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa banyak pekerja yang melakukan proses kerja yang tidak ergonomis, yaitu berdiri dan duduk dalam waktu yang lama selama proses produksi. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja di UMKM dan pengembangan kompetensi tentang pemasaran dan branding usaha. Subjek dalam penelitian ini adalah pelaku UMKM Bakpia Safe di desa Bangunjiwo, Kabupaten Bantul dengan 30 peserta. Intervensi dengan penyuluhan dan pelatihan dalam bentuk praktik langsung dalam menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja dan dievaluasi dengan kuesioner dan pengamatan. Edukasi tentang kesehatan kerja yang diberikan dapat meningkatkan pengetahuan dan permasalahan terkait kesehatan dan keselamatan kerja yang menurun. Edukasi tentang pemasaran dan branding usaha dapat membantu UMKM dalam meningkatkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk meningkatkan penjualan.
Herbal supplementation improves clinical outcomes among diabetes mellitus patients Akrom Akrom; Titiek Hidayati; Arif Budi Setianto
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 12, No 2: June 2023
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v12i2.22534

Abstract

Hyperglycemic conditions are still common in diabetes melllitus (DM) patients with routine therapy. Rural communities in the Special Region of Yogyakarta habitually consume herbal medicines. Herbal nutritional supplements (MHM) were developed as additional therapy to increase the success of achieving therapeutic targets for DM patients. This study aimed to identify the clinical picture of DM patients who were given MHM at public health center (PHC) in the rural areas of Bantul Regency, Yogyakarta Special Region. This retrospective study was conducted on 94 DM patients with routine therapy. Patients who met the inclusion and exclusion criteria and had agreed to the informed consent were divided into two groups. Patients in the treatment group were asked to consume herbal supplement preparations (MHM) for 20 days. On day 21, each group measured clinical outcome parameters (blood pressure, blood glucose levels, triglycerides, cholesterol, high density lipoprotein (HDL), low density lipoprotein (LDL), liver enzymes, urea, and creatinine). The mean difference test between the two groups (t-test) was carried out using a 95% confidence level. The results showed that the consumption of MHM herbal nutritional supplements for 20 days reduced blood sugar levels, Hb A1C levels, and urea levels (p<0.05). There were no differences in blood pressure, pulse, cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT), serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT), and creatinine levels between the two groups (p>0.05). Administration of MHM for 20 days increased clinical outcomes in blood sugar, HbA1c, and urea levels in DM patients at PHC.
Hubungan Antara Penurunan Hasil Hitung Limfosit Absolut dengan Keparahan Pasien COVID-19 Nisa, Aida; Hidayati, Titiek
Proceedings of Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Graduate Conference Vol. 2 No. 2 (2023): Strengthening Youth Potential for Sustainable Innovation
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/umygrace.v2i2.433

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang saluran pernafasan penyakit infeksi. Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemic dengan angka kematian yang signifikan sehingga penting untuk membedakan kasus berat dan tidak berat. Penulis melakukan penelitian untuk mengevaluasi dan untuk mengetahui korelasi hasil pemeriksaan laboratorium terutama hitung limfosit absolut dengan tingkat keparahan penyakit pada pasien COVID-19. Virus SARS-CoV-2 adalah coronavirus jenis baru, sehingga memerlukan pemahaman lebih lanjut terkait hasi tes laboratorium untuk mendiagnosis penyakit dan menentukan tatalaksana yang sesuai dari seseorang yang terinfeksi COVID-19. Menurut penelitian hasil hitung limfosit pada pasien COVID-19mengalami penurunan. Kondisi limfositopenia memiliki resiko yang besar untuk terjadi cedera ginjal akut (AKI), penanda kegagalan organ serta limfositopenia sering ditemukan pada pasien yang dirawat di intensive care unit (ICU). Studi pustaka ini bertujuan untuk mengkaji hasil hitung limfosit pada pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19. Studi pustaka dilakukan dengan mencari litteratur berupa artikel dan jurnal di e-database nasional maupun internasional menggunakan kata kunci COVID-19, pemeriksaan laboratorium, dan limfosit serta dikaji menggunakan narrative methods. Hasil dari studi menunjukan bahwa terdapat penurunan limfosit absolut pada pasien COVID-19.
PERILAKU DIET BERDASARKAN PENGETAHUAN TENTANG INDEKS GLIKEMIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS PESERTA SEKOLAH PROLANIS BANGUNJIWO BANTUL Hidayati, Titiek; Suryani, Lilis; Akrom, Akrom
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 29, No 4 (2023): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v29i4.50611

Abstract

Cases of non-communicable diseases such as diabetes are often experienced by people with old age. Even in the Bantul region, this disease is included in the 10 groups of diseases that many people suffer. There needs to be independence from the community so that they do not depend on health service facilities such as the nearest health center. There are health cadres, providing education, carrying out actions with sticky media games, and closing with a temporary blood sugar level check. The method used to test the results of the service that has been carried out is by pre-test and post-test. Based on the test results, there is a significant relationship between knowledge and attitude variables. This can be because respondents who have been exposed to information regarding the glycemic index of food have a positive attitude towards choosing low-glycemic foods. Although there is no good relationship between attitude and behavior. In addition, there was an increase in the number of respondents who answered correctly on the pre-test and post-test on the pre-knowledge variable from 81 people to 96 people, the attitude variable from 85 people to 95 people, and the behavior variable from 80 people to 90 people. In addition, examination of blood sugar levels while on the chart shows that 38% are in the pre-diabetic category and 62% have normal blood sugar levels. The conclusion is that there is a positive increase between knowledge and attitudes after being given interventions in the form of education and checking blood sugar levels.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Tuberculosis (TB) Multidrugs Resistant (MDR): Literature Review Akbar, Rizaluddin; Hidayati, Titiek
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 15, No 1 (2024): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v15i1.930

Abstract

Latar Belakang : WHO memprediksi prevalensi TB MDR kurang lebih total kasus sebanyak 440.000 per tahun di dunia dan angka kematian yang cukup tinggi yaitu sekitar 150.000. Indonesia menduduki rangking ke 8 dari 27 negara–negara yang mempunyai beban tinggi dan prioritas kegiatan untuk TB MDR/XDR. Beban TB MDR di 27 negara ini menyumbang 85% dari beban TB MDR global. Kepatuhan pasien dalam melakukan pengobatan memegang peranan penting dalam keberhasilan pengobatan tuberkulosis karena dapat menimbulkan resistensi terhadap kuman tuberkulosis sehingga obat anti tuberkulosis (OAT) tidak dapat mencegah penyebaran penyakit tuberkulosis atau disebut Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB).Tujuan  : untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pada pasien Tuberculosis (TB) Multidrugs Resistant (MDR).Metode : Literatue ini menggunakan pencarian online menggunakan data base yang digunakan penulis antara lain yaitu PubMed,  Wiley Online Library, Science Direct Google Schoolar dengan batasan tahun publikasi 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2015 sampai 2020. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian literarut yaitu “Medication Adherence” AND “Tuberculosis MDR Patient” AND “faktors” AND “multi drugs resistant”.Hasil : Penelusuran awal mendapatkan hasil artikel sejumlah 7.135 yang menunjukkan korelasi tinggi terhadap topik yang akan direview. Hasil akhir artikel yang memenuhi syarat sejumlah 14 artikel kemudian disintesis dan dikaji kualitasnya dengan tools yaitu Joanna Briggs Institute (JBI).Kesimpulan :  Faktor kepatuhan pengobatan pada literature yang sudah direview  antara lain faktor lingkungan, faktor individu, faktor demografik, faktor interpersonal, faktor ekonomi.Factors Affecting Adherence With Treatment In Tuberculosis (TB) Patients Multi Drugs Resistant (MDR) : Literatur Review Background: WHO predicts the prevalence of MDR TB of approximately 440,000 total cases per year in the world and a fairly high mortality rate of around 150,000. Indonesia was ranked 8th in 27 countries with high burden and priority for MDR / XDR TB activities. The burden of MDR TB in these 27 countries accounts for 85% of the global MDR TB burden. Patient compliance with treatment plays an important role in the treatment of tuberculosis because it can cause resistance to tuberculosis germs so that anti-tuberculosis drugs (OAT) cannot prevent the spread of tuberculosis or it is called Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB).Purpose: The aim of the literature review is to determine the factors that influence the treatment of multidrugs resistant (MDR) tuberculosis (TB) patients.Method: This statue uses an online search using databases used by the author, including PubMed, Wiley Online Library, Google Schoolar Science Direct with a publication year limit for the last 5 years, from 2015 to 2020. The keyword used in literary search is "Medication. Adherence "AND" MDR Tuberculosis Patients"AND" Factors "AND"multi-drug resistance ".Results: The initial search resulted in 7,135 article results which indicated a high level of the topic being reviewed. The final results of the articles that meet the requirements of 14 articles are then synthesized and assessed for quality using a tool, namely the Joanna Briggs Institute (JBI).Conclusion: Treatment factors in the reviewed literature include environmental factors, individual factors, demographic factors, interpersonal factors, and economic factors. 
The Relationship Between Nutritional Status And Insulin-Like Growth Factor-1 Levels In Stunted Children In Cirebon Regency Siti Pandanwangi; Akrom; Nurkhasanah; Zuniarto, Ahmad Azrul; Hidayati, Titiek; Tsai, Mei Ling
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol 7 No 3 (July 2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/woh.v7i2.1299

Abstract

Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) is a growth hormone mediator that acts as a growth-promoting factor in the growth process and is also an indicator of the adaptive immune system. Children who experience stunting will experience obstacles to growth and cognitive and motor development, affecting their productivity as adults. This research aims to determine IGF-1 levels and their relationship with stunted children's nutritional status. The research method used was observational, with a cross-sectional research design. The population of stunted children in the Tegalwangi locus area, Cirebon Regency, a sample of children aged 24-60 months who met the inclusion criteria of not being disabled and not being sick, was 50 children. The research began with parents filling in informed consent. Continue to fill in data on date of birth, measure height and weight, take @1ml of the child's blood, and analyze IGF-1 using the ELISA method. The research results were that the average IGF-1 level for men was 16,812 ± 5,164 ng/ml and for women 13,810 ± 5,111 ng/ml. Average IGF-1 levels aged 24-36 months were 14,777 ± 4,742 ng/ml, 36–48 months 17,050 ± 4,280 ng/ml, and 48–60 months 15,214 ± 6,248 ng/ml. Data analysis using the Pearson correlation test obtained a value of p=0.871 based on age, p=0.047 based on gender, p=0.643 based on Height for age, and p=0.245 based on Weight for age (95% CI). The conclusion is that there is a relationship between the age of a stunted child and IGF-1 levels, and there is no relationship with nutritional status. All stunted children have IGF-1 values ​​below the standard value for normal children based on the literature, namely ≥ 28.54 ng/ml.
Pengaruh Minyak Biji Jinten Hitam (Nigella sativa L) terhadap Kadar Interleukin-4 : Effect of Black Cumin Seed Oil (Nigella sativa L) on Interleukin-4 Level Tantri Rachmayani; Akrom Akrom; Titiek Hidayati
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 6 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i6.744

Abstract

Black cumin has a variety of efficacious substances, one of which is thymoquinon as an immunodulator, its role against Interleukin-4 with the subject of phase 2 clinical trials as an anti-inflammatory cytokine that is by inhibiting prostaglandin type E2 from arachidonic acid through induction resistance to cyclooxigenase-2. Aim to find out how the effect of Black Cumin Seed Oil in increasing levels of Interleukin-4. Randomized Clinical Trial study of 39 healthy participants of active smokers with the age of >18 years. Divided into 4 groups, namely Group 1 given placebo 3x1 capsules/day, group 2,3 and 4 given Black Cumin Seed Oil 3x1,3x2 and 3x3 capsules/day given for 30 days. Percentage il-4 using ELISA method. The results were analyzed using the One Way Annova method, with consecutive p-values (0.281 and 0.860) > 0.05 meaning there were meaningless differences between each treatment group. Based on the average percentage value of Interleukin-4, there was an increase in the MBJH treatment group of 3x1 capsules/day by 16,566% compared to the placebo group of 3x1 capsules/day by 13,995%.
Co-Authors - nurkamila - nurkamila, - - Sagiran Ahmad Hamim Sadewa Akbar, Rizaluddin Akrom Akrom Akrom Akrom Akrom, Akrom Amal, Muhammad Ikhlasul Anwar, Muslih Ardhitapramesti A.H.P. Arif Budi Setianto Arif Santoso Arif Santoso Arya Adiningrat Aryanto, Samsu Ayu Cahyaningtyas azizah khoiriyati Briliian Wahyudi, Rizqy Cahya Ningrum, Windy Astuti Dewi Puspita Dhara Indah Kartika Jati, Dhara Indah Kartika Diaz Habibah, Khalisha Eka Arikensiwi Eka Arikensiwi, Eka Emdat Suprayitno Emdat Suprayitno Endang Darmawan Erviana Erviana Erviana Erviana Fadil Abdillah Fahmy Abdul Haq Falasifah Ani Yuniarti, Falasifah Ani Faradisa Yuanita Fahmi Fathimah Kelrey Febriana Astuti Fuadi, Akhsanul Ginandjar Zukhruf Saputri Ginanjar Zuhruf Saputri Gumson Joshua Tampubolon Halimatusa'diyah, Thoharoh Handa Meru Erio Rakihara Haris, Tauranaswa Farrelabhista Putra Hastin Munifah T.F.F.S. Iffa Karina Permatasari Iffa Karina Permatasari Indrayanti, Indrayanti Indrayanti, Indrayanti Indri Nurasa Indri Nurasa Irna Susiati Kailani, Dzaka Ogan Amirudin Lutfi Khoiriyati, Azizah Kumala Syifa, Amira Kusumo, Mahendro Prasetyo Laela Hayu Nurani Laela Hayu Nurani Laili Apriani Lilis Suryani Lukman Hardia Marsetyawan HNE Soesatyo Mustofa Mustofa Nanik Sulistyani Naylil Mawadda Rohma Neni Probosiwi Nevi Seftaviani Nisa, Aida Novita Kurnisa Sari Nur Isnaini Nur Isnaini, Nur Nurcholid Umam Nurcholid Umam Kurniawan Nurisa Fikriyani L. Nurjanna Nurjanna Nurkhasanah Ogan Amirudin Lutfi, Dzaka Olyvia Wulan Kencana Panji Tutut Anggraeni Pradhana, Muhammad Ilham Satya Prasasti Bintarum Pratiwi, Adinda Aning Purwoko, Akhmad Edy Rachmayani, Tantri Rahmah Rahmah Ratna Indriawati Riska, Erlina Rizma Nurfadjrin Sagiran Sagiran Shabrina Arwi Laily Shiko Indrawan Siti Pandanwangi TW Sri Hesthi Sonyo Subroto, Bramastha Alfanda Sumaryani, Sri Sun, Suny Suprayitno, Emdat Tantri Rachmayani Theodola Baning Rahayujati Thoharoh Halimatusa'diyah Thoharoh Halimatusa’diyah Thosimomia Tamimi, Nia Tri Pitara Mahanggoro Tsai, Mei Ling Vivi Sofia Yuningtyaswari Yuningtyaswari Yuningtyaswari Yuningtyaswari Zuniarto, Ahmad Azrul