p-Index From 2021 - 2026
4.566
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Humaniora Jurnal Studi Pemerintahan Jurna lAntropologi Indonesia Jurnal Sosiologi Reflektif Jurnal Kawistara : Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora Al-Ulum Farabi Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Jurnal Ilmu Komunikasi Jurnal Ketahanan Nasional Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Jurnal Populasi Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo) Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan) Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan Langkawi: Journal of The Association for Arabic and English Al-Albab Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Jurnal Pemikiran Sosiologi community: Pengawas Dinamika Sosial EQIEN - JURNAL EKONOMI DAN BISNIS Jurnal Masyarakat dan Budaya Politicon : Jurnal Ilmu Politik Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Jurnal Baabu Al-ilmi : Ekonomi dan Perbankan Syariah Jurnal Ilmu Manajemen Profitability BJRM (Bongaya Journal of Research in Management) Jurnal Sosiologi Andalas Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Jurnal Studi Gender dan Anak Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Deskripsi Bahasa Economos : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan International Journal of Economic Research and Financial Accounting JKAP (Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik) Liquidity : Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis Shahih : journal of islamicate multidisciplinary Jurnal Studi Pemerintahan Jurnal Kawistara Income Journal of Economics Development Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review
Claim Missing Document
Check
Articles

HABIB, ISLAM DAN OTORITAS KEAGAMAAN: PENERIMAAN MASYARAKAT MUSLIM BANYUWANGI Atho'ilah Aly Najamudin; Irwan Abdullah
Farabi Vol 19 No 1 (2022): Farabi
Publisher : LPPM IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/jf.v19i1.2539

Abstract

Abstract: Habib as a descendant of the Prophet Muhammad SAW was accepted as a religious elite group in Banyuwangi. Habib became powerful in informing the congregation. We can find majelis taklim, recitations organized by Habib which tend to have many followers spread over rural or urban areas in Banyuwangi. This study focuses on examining the acceptance of the Muslim community in Banyuwangi to Habib's. This research is qualitative research, interviews, and direct experience of researchers in the Habib group in Banyuwangi after the sources were identified descriptive-analytical. The results showed that the community placed Habib as a preacher, leader of the majelis Taklim, Cultural Broker, Philanthropos, and consoler. This paper concludes that the acceptance of the Muslim community in Banyuwangi is encouraged by Habib having religious authority in spreading power through recitations in attracting the sympathy of the Muslim community.
Questioning Fiqh Muamalah of Toleration: Religious Spatial Segregation in the Urban Area of Yogyakarta Nur Quma Laila; Irwan Abdullah
Al-Ihkam, Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Vol 17 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v17i1.5419

Abstract

Yogyakarta, despite being declared as the city of tolerance, shows religious discrimination manifested in religious spatial segregation. Discrimination is contrary to divine norms that protect the rights of each party in mu’amalah. The objective of this study is to explain that religious spatial segregation reflects intolerance in the urban community of Yogyakarta. This study relies on data collection through a qualitative approach which includes observation, interviews, and literature review with descriptive analysis considering fiqh muamalah principles on the interfaith relationships. The results suggest that religious spatial segregation may lead to the emergence of intolerant and discriminative acts in the forms of; (1) the presence of housing associated with a certain religious identity as a manifestation of identity labeling in social recruitment (exclusivism); (2) the practice of land trading (property right) only with people from the same faith; and (3) segregation in social acceptance (social exclusion) as seen in boarding houses with a certain religious label. This study concludes that religious spatial segregation has shallowed the relations between community groups and thus raising the potential of discriminative and intolerant acts in the urban area of Yogyakarta. This study suggests that there is a need for a policy to regulate space as a common one, hence spatial exclusivism for a certain religion can be eliminated.
Kekerasan: Mispresentasi Perempuan dalam Ruang Publik (Suatu Agenda Penelitian) Irwan Abdullah
Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 7 No 02 (2020): Juli-Desember 2020
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.448 KB) | DOI: 10.32678/jsga.v7i02.182

Abstract

Tulisan ini akan menjelaskan kekerasan sebagai misrepresentasi perempuan di dalam ruang publik. penjelasannya merupakan suatu agenda penelitian. Dilatarbelakangi oleh kompleksitas persoalan perempuan, ketika terjadinya kekerasan, harus direspons dengan melibatkan berbagai metode penelitian, baik kualitatif maupun kuantitatif. Permasalahannya, kekerasan yang terjadi dalam berbagai bentuk, sudah menjadi suatu budaya bersama dan telah menjadi praktik kolektif, sehingga kekerasan bukan lagi sesuatu yang bersifat brutal tetapi sebagai (satu-satunya) jalan yang efektif untuk mencapai tujuan-tujuan individu dan bahkan kelompok. Dengan pendekatan yang didasari oleh asumsi bahwa kaum perempuan merupakan kelompok yang sadar dan memahami posisi kultural dan strukturalnya dalam masyarakat, tulisan ini akan menjawab dua pertanyaan. Pertama, apakah masih ada kecenderungan oposisi biner (laki-laki dan perempuan sebagaimana nature terhadap culture) di dalam penelitian gender yang bias pada pemaknaan tunggal dan bersifat satu arah (dari laki-laki ke perempuan)? Kedua, apakah relasi sosial masih bersifat top-down menyangkut hubungan-hubungan yang sinergis dan kemitraan antara laki-laki dan perempuan? Disimpulkan bahwa dengan pendekatan post-feminisme, pembongkaran (dekonstruksi) atas dominasi laki-laki yang menempatkan perempuan sebagai objek, sebagai suatu pemikiran ulang terhadap makna “relasi gender” yang dibangun oleh berbagai proses sosial ekonomi dan politik.
GLOKALISASI IDENTITAS MELAYU: Potensi dan Tantang Budaya dalam Reproduksi Kemelayuan Irwan Abdullah
Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol 6, No 2 (2017): Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.609 KB) | DOI: 10.1161/mhj.v5i2.742

Abstract

Melayu merupakan salah satu etnis besar di Indonesia. Bahkan, etnis ini tidak hanya tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi saja tetapi juga di negara lain, yaitu: Malaysia dan Thailand Selatan. Cukup kuatnya budaya Melayu pada waktu itu membuat pemerintah Indonesia memilih Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Akan tetapi eksistensi kebesaran Budaya Melayu menghadapai tantangan besar karena meskipun cukup berpengaruh, posisi Melayu belakangan ini kurang strategis dan pengaruhnya pun mulai berkurang. Budaya Melayu seakan mengalami kemunduran karena dianggap tidak mampu untuk menjawab tantangan-tantangan masa kini dan masa mendatang bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh hanya diam harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan eksistensi Budaya Melayu di Indonesia. Kata Kunci : Glokalisasi, Identitas Melayu, Budaya Melayu, Potensi dan Tantangan Melayu
Pergeseran Representasi Hijabista dalam Media Sosial Franceline Anggia; Irwan Abdullah
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 2, No 1 (2020): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v2i1.2922

Abstract

Kehadiran hijabista (hijab-fashionista) yang berkancah di media sosial instagram tidak dipungkiri lagi telah banyak mengisi layar gawai. Para hijabista ini kebanyakan merupakan perempuan-perempuan muda (menjelang atau sekitar berusia 30 tahun) yang entah itu meamng berbisnis jilbab atau merupakan sosok berpengaruh (influencer) dalam dunia kecantikan atau dalam dunia mode pakaian Muslim di media sosial instagram. Para perempuan ini, dengan modal sosial dan ekonomi yang dimiliki, nampak tetap mempertahankan nilai-nilai agama dalam hal cara berpakaian bagi perempuan Muslim di samping modifikasi gaya jilbab yang mereka kenakan dan tampilkan dalam koleksi visual profil instagram mereka.
From Islamic Modernism to Traditional Islam: The Impact of Conflict on the Shifting of Religious Authority in Aceh M. Alkaf; Irwan Abdullah; Zuly Qodir; Hasse Jubba
FIKRAH Vol 10, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.108 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v10i1.14347

Abstract

This article discusses the impact of conflict on the shifting of religious authority in Aceh. It aims to complement the limitation of current studies, which emphasize conflict as a struggle for natural resources, a means for regional identity, and an effort to develop central-regional power relations. However, the conflict also generates the shift of religious authority, in particular, from modernist Islam to traditional Islam. Data were collected from literature and other related secondary sources. This study found that religious contestations, between the modernist and the traditional Islam groups, have begun in the early 20th century. It used to be a space for religious discourse; hence, it turned into a protracted social and armed conflict. It began with a social revolution, which led the modernist scholars in charge. Nevertheless, the involvement of the modernist ulama in the Darul Islam rebellion affected their influence. The shift in authority began to emerge by the raising of the Free Aceh Movement (GAM) rebellion. During post-Darul Islam, traditional ulama occupied rural communities, and they confronted the GAM in society, as they were involved in bureaucracy. The modernist Islam groups strengthen their position in bureaucracy or seek input from other modernist Islam groups.
Kontruksi Gaya Hidup Syar’i Perkotaan: Analisis Semiotika Sosial pada Iklan Baliho di Yogyakarta Cut Irna Liyana; Sajarwa Sajarwa; Irwan Abdullah
Deskripsi Bahasa Vol 2 No 2 (2019): 2019 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.76 KB) | DOI: 10.22146/db.v2i2.388

Abstract

Gaya hidup syar’i dewasa ini menjadi trend gaya hidup baru di perkotaan yang muncul melalui simbol-simbol tertentu dalam sebuah iklan. Iklan sebagai alat untuk mengkomunikasikan produk, juga merupakan media penyampaian pesan. Studi ini berupaya menggali bagaimana penggunaan bahasa dan gambar dalam iklan baliho di Yogyakarta dikonstruksikan dan kemudian digunakan sebagai simbol untuk merepresentasikan gaya hidup syar’i perkotaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan dokumentasi pada iklan baliho di Yogyakarta. Analisis data dilakukan dengan analisis semiotika sosial. Penyajian hasil analisis data dilakukan secara formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tiap memeliki struktur generik yang berbeda. Adapun dalam iklan baliho di Yogyakarta, struktur generik yang ada yaitu komponen visual terdiri dari: (1). Lead, (2). Display, dan (3) Emblem. Sedangkan komponen verbal terbagi menjadi: (a). Announcement, (2). Enhancer, (3). Tag, (4). Emblem. Gaya hidup syar’i dipresentasikan dalam iklan baliho di Yogyakarta dalam bentuk verbal dan visual. Bentuk verbal ditandai dengan penggunaan kata tertentu, yaitu kata serapan dari Bahasa Arab, istilah yang digunakan dalam Islam, Bahasa Arab, menunjukkan nuansa Arab (ke-Arab-araban). Sedangkan bentuk visual ditunjukkan dengan penggunaan gambar atau simbol, yaitu dengan Pakaian yang Islami dan Aktivitas keagamaan. Bahasa iklan digunakan tidak hanya sebagai alat untuk mengajak konsumen membeli produk tetapi sebagai alat komodifikasi agama.
Mengukur Kesiapan Sumber Daya Manusia Institut Agama Islam Negeri Menuju Universitas Islam Negeri Asnaini Asnaini; Irwan Abdullah; Fatimah Fatimah; Riri Novitasari
Jurnal BAABU AL-ILMI: Ekonomi dan Perbankan Syariah Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ba.v7i2.7973

Abstract

The transfer of the status of Islamic religious universities has the aim that Islamic education has breadth in developing general science based on Islamic science. Among practitioners and activists, this is known as scientific integration. In addition, transformation (alih status) has a very significant impact on all sides. Especially human resources, the main thing is lecturers. This study analyzed the readiness of lecturers' human resources at I.A.I.N. Bengkulu. This study used primary and secondary data—mapping and analyzing the real data of lecturers both in quantity and quality. The results showed that I.A.I.N. Bengkulu has lecturers who are lacking in quantity and low in quality. To solve this problem, UIN FAS Bengkulu must have a roadmap for developing lecturer competencies. The roadmap is structured correctly and done consistently. During the first five years, I.A.I.N. Bengkulu became UIN FAS Bengkulu was strongly encouraged to focus on the development of lecturers and returned to be carried out consistently for the next five years. If it is not done, it will have an impact on the development of the institution in the next ten years. 
Development of a Socio-Cultural Value-Based Character Education Model for High School Students in the City of Ternate Irwan Abdullah
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 8 No 24 (2022): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.72 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.7704881

Abstract

Character education is an important issue in the development of education in Indonesia. This study aims to: (1) Identify the problems faced by teachers; (2) The determinants that cause “deviant behavior” among students; (3) developing an initial model of socio-cultural-based character education; (4) analyze the effectiveness of the educational model. The method used, Research Development. This research can show that teachers in the learning process are still lacking in exploring the social and cultural values ​​of the people of Ternate City. There are internal and external factors that cause deviant behavior among students. Based on these findings, a Character Education Model Based on Socio-cultural Values ​​has been developed. Development models have produced syllabus, lesson plans and lessons for Social Studies Teaching Materials. It is hoped that in the future similar relevant research will be carried out for the development of syllabus, lesson plans and teaching materials in schools in Ternate City
Negotiation of Muslim Worship during the Pandemic Covid-19: Lessons Learned for Post-Pandemic Henky Fernando; Irwan Abdullah; Mohamad Yusuf
Jurnal Sosiologi Andalas Vol 9 No 1 (2023)
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsa.9.1.1-12.2023

Abstract

The negotiation of Muslim worship during the pandemic Covid-19 is very important to reflect on as a lesson learned after the pandemic Covid-19. This study, in addition to provide a conceptual understanding of the pattern of negotiating Muslim worship during the pandemic Covid-19, reflected this negotiation contextually. This study used a qualitative approach. Data collection was carried out through an interview with Muslims who actively carried out worship activities in the congregation during the pandemic Covid-19 at the Kotagede Mataram Gede Mosque. The analysis was carried out through the process of reducing, describing, and inductively interpreting data to obtain a classification and conclusion regarding the pattern of negotiating Muslim worship during the pandemic Covid-19. This study found that the pattern of negotiating Muslim worship during the pandemic Covid-19 was not least carried out through three contexts, namely, a negotiation in a structural context, a negotiation in a cultural context, and a negotiation in a spiritual context. These three contexts were an effort of Muslim resilience in accommodating their worship activities during the pandemic Covid-19.
Co-Authors Achmad Nurmandi Ade Yamin Ahmad Firdaus, Ahmad Ahmad Muzakky Ahmad Sunawari Long Ahmad Zubaidi Andi Jam’an Andri Arief Rachman Asdi Asdi Asnaini Asnaini Asnaini Asnaini, Asnaini Asyifa Nadia Jasmine Atho'ilah Aly Najamudin Atik Tri Ratnawati Ayu Yuningsih Benny Baskara Cho Youn Mee Cut Irna Liyana Dian Asriani Djoko Surjo Djoko Suryo Djoko Suryo Efendi, Zakaria Eka Wardiana Ekawati Sri Wahyuni Emilia Bassar Erdi Wikan Febrihananto Fatimah Fatimah Fernando, Henky Franceline Anggia Galuh Nur Rohmah Hadiati E Hadiati Erry Hasse Jubba Hermin I. Wahyuni Hermin Indah Wahyuni Heru Nugroho Heru Nugroho Heru Nugroho Hidayati, Mega I Putu Sastra Wingarta Ibnu Mujib Idrus Al-Hamid Iribaram, Suparto Istiadah Istiadah Iswandi Syahputra Jubba, Hasse Kahar Laila Nur Atika Lala M Kolopaking Lasiyo Lasiyo Leanne Morin Liliek Budiastuti Wiratmo M A Chozin M. Alkaf M. Hidayat Magfirahtun Tristiawati Rusli Maghfira Nur Aziza Mahesa Mandiraatmadja Meysella Al Firdha Hanim Miko Polindi Mohamad Yusuf Muassomah Muassomah Muchran BL BL Muhammad Arifin Muhammad Arifin Muhammad Hendri Muhammad Rifai Darus Mutmainna Rachman nfn Sumardjo Nur Intan Vadila Nur Quma Laila Nur Sandi Marsuni Nurhadi Yuwana Nurul Ainul Mukrima Nurul Khusna Pahira Pahira Prima Ayu Rizqi Mahanani Putri Ananda Saka Rahman, Farida Ratna Noviani Riri Novitasari Rohmani Nur Indah Sahrullah Sahrullah Saifuddin Zuhri Qudsy Samsul Rizal Siti Masitoh Sjafri Sairin Sulaiman, Syarifuddin Sunandar Macpal syf aminah Tyas Retno Wulan Ulung Pribadi, Ulung Vivid Violin Wening Udasmoro Wildana Wargadinata Yuniar Galuh Larasati Zaenuddin Hudi Prasojo Zaenuddin Hudi Prasojo ZAINAL ABIDIN BAGIR Zainal Said Zakaria Efendi Zalkha Soraya Zuli Qodir Zuly Qodir Zuly Qodir Zuly Qodir Zuly Qodir