Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : International Journal of Demos

Demokrasi dan Kebangkitan Politik Identitas: Refleksi Perjalanan Demokrasi Indonesia Pasca Orde Baru Mahpudin, Mahpudin
ijd-demos Volume 1 Issue 1, April 2019
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.698 KB) | DOI: 10.37950/ijd.v1i1.1

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi tentang perjalanan demokrasi di Indonesia pasca orde baru Soeharto dengan menggunakan perspektif society. Sejauh mana demokrasi Indonesia yang berlangsung selama 20 tahun sejak digulirkan pada masa reformasi tahun 1998 dan apa faktor yang menghambat tumbuh kembangnya demokrasi menjadi pertanyaan besar yang hendak dijawab dalam tulisan ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini menggunakan teori tentang politik identitas yang digagas oleh beberapa ahli. Metode penelitian menggunakan kualitatif–deskriptif, sementara pengumpulan data dilakukan melalui kajian literatur. Hasil kajian menyimpulkan bahwa Kebangkitan politik identitas di Indonesia pasca Soeharto menyebabkan pejalanan demokrasi di Indonesia selama dua dekade tidak berjalan maju ke arah demokrasi substansial. Demokrasi Indonesia pada akhirnya masih terjebak pada demokrasi prosedural yang hanya berkelindan soal urusan pemilu dan proses pergantian elit. Namun dalam praktik kehidupan warga negara masih belum menunjukkan kehidupan yang demokratis. Berbagai kasus kekerasan dan intoleransi serta menguatnya sentimen identitas atas dasar etinisitas dan agama telah menimbulkan praktik diskriminasi dan pengeksklusian terhadap kelompok identitas lain yang berbeda. Kondisi ini sering kali dimanfaatkan oleh elit politik yang memainkan peran penting dalam mempertajam sentimen identitas dan agama untuk mendapatkan kekuasaan, terutama memasuki masa pemilu. Hal ini membuat demokrasi mengalami regresi. This paper is a reflection of the journey of democracy in Indonesia after Suharto's new order using the perspective of society. To what extent has Indonesia's democracy lasted 20 years since it was rolled out during the 1998 reform period and what factors have hindered the growth of democracy are a big question to be answered in this paper. To answer this question, this paper uses theories about identity politics initiated by several experts. The research method uses qualitative-descriptive, while data collection is done through a literature review. The results of the study concluded that the rise of identity politics in Indonesia after Soeharto caused the journey of democracy in Indonesia for two decades not to progress towards substantial democracy. Indonesian democracy in the end is still trapped in procedural democracy which is only intertwined with electoral matters and the process of changing elites. But in practice the lives of citizens still do not show a democratic life. Various cases of violence and intolerance and the strengthening of identity sentiments based on ethics and religion have led to the practice of discrimination and exclusion of other different identity groups. This condition is often exploited by political elites who play an important role in sharpening identity and religious sentiment to gain power, especially entering the election period. This makes democracy regress.
The Rise of Student Social Movement: Case Study of #GejayanCalling Movement in Yogyakarta Mahpudin, Mahpudin; Kelihu, Ardiman; Sarmiasih, Mia
ijd-demos Volume 2 Issue 1, April 2020
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v2i1.2

Abstract

This paper discusses the rise of student social movements in response to the presence of a crisis of public legitimacy triggered by the failure of the government to carry out the functions of the state and failure to realize the welfare of society. The climax when the government and the parliament agreed to revise the rules regarding the authority of the Corruption Eradication Commission (Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK) which was considered by many elements of civil society as weakening the KPK. This issue became the dominant discourse and triggered the presence of other issues and demands. The focus of this study is the #GejayanCalling movement initiated by a number of students in Yogyakarta who successfully attracted the sympathy and support of thousands of students and various elements of civil society to take to the streets. This paper uses qualitative research methods with a case study approach. The data collection is done through primary data through interviews with key informants and secondary data through literature studies. The results of the study revealed that the #GejayanCalling movement became massive and significant through the consolidation and political compromise undertaken by students in managing the movement to respond to public unrest marked by a crisis of public legitimacy towards the government. The protest was able to attract thousands of students because of the emphasis on the issue by overriding the role of certain figures, actors or organizations. Emphasis on issues rather than actors becomes an effective strategy in creating shared goals and collective action. Besides that, the use of social media as a repertoire of movements in framing issues is very contributing to strengthen demonstration. Penelitian ini membahas kebangkitan gerakan sosial mahasiswa sebagai tanggapan terhadap adanya krisis legitimasi publik yang dipicu oleh kegagalan pemerintah untuk menjalankan fungsi negara dan kegagalan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Puncaknya ketika pemerintah dan parlemen sepakat untuk merevisi aturan mengenai kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dianggap oleh banyak elemen masyarakat sipil sebagai pelemahan KPK. Masalah ini menjadi wacana dominan dan memicu kehadiran isu dan tuntutan lainnya. Fokus penelitian ini adalah gerakan #GejayanCalling yang diprakarsai oleh sejumlah siswa di Yogyakarta yang berhasil menarik simpati dan dukungan ribuan siswa dan berbagai elemen masyarakat sipil untuk turun ke jalan. Makalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui data primer melalui wawancara dengan informan kunci dan data sekunder melalui studi literatur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa gerakan #GejayanMemanggil menjadi masif dan signifikan melalui konsolidasi dan kompromi politik yang dilakukan oleh siswa dalam mengelola gerakan untuk menanggapi keresahan publik yang ditandai oleh krisis legitimasi publik terhadap pemerintah. Protes ini mampu menarik ribuan siswa karena penekanan pada masalah ini dengan mengesampingkan peran tokoh, aktor atau organisasi tertentu. Penekanan pada masalah daripada aktor menjadi strategi yang efektif dalam menciptakan tujuan bersama dan tindakan kolektif. Selain itu, penggunaan media sosial sebagai repertoar gerakan dalam membingkai isu sangat berkontribusi untuk memperkuat demonstrasi.
Co-Authors Abda Abda Ahmad Tazzul Aripin Ahsanty, Nur Alfiyah Alpian, Yayan Amalia, Dita Anggraeni, Sri Wulan Anis Fuad Arie Rahman Asiyi, Salma Rahadatul Azzahra, Ariestawidya Kinasih D Wardani, Galuh Dari, Dwi Wulan Dewi, Shanty Kartika Dewi, Sinta Maria Efrizal, Riky Fahira, Farda Fazra, Rowietu Gustan Pari Haryanti, Yuyun Dwi Hayatillah, Syifa Hendraman, Muhammad Maldini Hermawan, Ilham Heru Purwanto Hery Widijanto Humaira, Shakila Ima Maisaroh Indah Karunia, Chindy Indani Damayanti Ivan Issa Fathony Kafuji, Dede Risma Indah Kania Asri Liany Kelihu, Ardiman Khoerunnisa, Tiara Lestari, Fransisca Mega Listiani Listiani Liyana Sunanto, Liyana Lokman, Asmidar M. Yogi Riyantama Isjoni Mabrur, Awfa Niamillah Maharani, Bintang Kamila Mahpudin Maisaroh, Ima Mazmuria, Yolanda Mochamad Guntur Mohamad Syarif Sumantri Nabela, Fransisca Natasya, Bunga Nazara, Adis Nilam Sari Novitri Hastuti, Novitri Nurhadiansyah, Lutvi Nurlia, Elly Nuryadin, Devi Faustine Elvina Pradika, Fajri Drajat Puspitasari, Wina Dwi Putri, Imel Amelia Putri, Rara Anindya Rafa Diak Intifada Rahayu, Dini Purnama Saepuloh Saepuloh Saidi, Saidi Salamah Anisa Amalia, Neng Salati Asmahasanah Santika, Okeu Santoso, Nanda Trio Santoso, Prakas Sarastiara, Adinda Sari, Puput Mustika Sarmiasih, Mia Sembiring, Rinawati Shihabudin, Rifky Sugeng Santoso Sulistiya, Opi Tahir, Diva Aditiya Titi Stiawati Ujiati Cahyaningsih Wawan Wawan Wawan Wiasih, Susti Widaningsih Widaningsih, Widaningsih Yadia, Putri Khispa Yaman, Khairul Yanto, Ari Yeni dwi Kurino Yonanda, Devi Afriyuni Yuliati, Yuyu Zakaria Zakaria