Claim Missing Document
Check
Articles

PENDEKATAN SENI MUSIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN ANAK-ANAK KAMPUNG KALIASIN SURABAYA Sakti Fajar Nugroho; Djuli Djatiprambudi; I Nyoman Lodra
JUDIKA (JURNAL PENDIDIKAN UNSIKA) Vol. 10 No. 2 (2022): JUDIKA (JURNAL PENDIDIKAN UNSIKA)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/judika.v10i2.5268

Abstract

Pendidikan merupakan hak yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Pendidikan formal yang ada di sekolah telah menjadi suatu hal umum di masyarakat, akan tetapi tidak semua kalangan masyarakat dapat memperolehnya. Salah satunya di kampung Kaliasin Surabaya dimana kampung yang berada di tengah kota Surabaya ini memiliki image akan kriminalitas. Hal ini menjadi keresahan bagi warga kampung Kaliasin dimana mereka merasakan dampak diskriminasi dari luar wilayah kampung. Hal ini mengakibatkan pengaruh kesenjangan sosial dalam keidupan sehari-hari. Untuk mentransformasikan social disana maka terbentuknya sanggar Teras Warna sebagai wadah apresiasi bagi anak-anak kampung Kaliasin Surabaya. Anak-anak di kampung Kaliasin Surabaya mayoritas merupakan anak-anak yang kurang beruntung dalam memperoleh pendidikan formal di sekolah. Tujuan terbentuknya sanggar agar anak-anak generasi penerus di kampung Kaliasin memiliki bekal secara education maupun kemampuan skill dalam rangka menghadapi tantangan di masa depan. Sanggar Teras Warna menjadi suplemen bagi anak-anak kampung Kaliasin. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) menjelaskan bagimana proses pembelajaran seni musik di sanggar Teras warna, (2) menjelaskan kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran seni musik di sanggar Teras warna. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dimana peneliti merupakan partisipan yang terlibat di dalamnya. Pengumpulan data diperoleh dari hasil observasi dari beberapa narasumber selanjutnya di analiais kemudian di interpretasikan dalam bentuk deskripsi.
Rekonstruksi Nilai Karakter Anak dalam Lakon Lahire Panji Laras pada Pertunjukan Wayang Topeng Malang Retno Tri Wulandari; Muhammad Jazuli; Djuli Djatiprambudi
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v7i3.4591

Abstract

Fenomena krisisnya nilai karakter dan penurunan moral yang terjadi di kehidupan bangsa dan sekolah sebagai bentuk pengaruh dari globalisasi membutuhkan analisis materi kearifan lokal dengan merekontruksi nilai karakter yang terkandung didalamnya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis struktur penyajian dan nilai-nilai pendidikan karakter dalam pertunjukan wayang topeng Malang lakon Lahire Panji Laras untuk direkonstruksi dalam pembelajaran anak usia dini berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil temuan penelitian menunjukkan pertunjukan wayang topeng lakon Lahire Panji Laras terdiri dari babak keputren dan babak lolaras. Nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung adalah kesatria, pemberani, tangguh, jujur, mandiri, kerja keras, kebaikan, keikhlasan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut direkontruksi dan diintegrasikan ke dalam pembelajaran melalui komponen-komponen pembelajaran, sehingga pendidikan karakter dapat ditanamkan sesuai dengan hakikat pendidikan anak usia dini. Lakon Lahire Panji Laras dalam pertunjukan wayang topeng Malang mengandung nilai-nilai karakter positif yang dapat menjadi bahan pembelajaran pendidikan karakter bagi anak untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Murals as Community Education Media in Surabaya: Cultural Semiotic Studies Amalia Hartiningrum; Djuli Djatiprambudi
Catharsis Special Edition 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v11i3.71547

Abstract

Visual signs that are displayed often appear in mural works in Surabaya as a means of communication and expression of the artist. The mural is significant with the reality of the time when the mural was made and the subsequent time span becomes important in seeing the significance of the mural on the image of Surabaya's public space. This study aims to examine murals as a medium of education through art in society, find out various public murals in Surabaya with consideration of the cultural semiotics of the surrounding community and describe the effects that arise related to education in the community through mural media with a cultural semiotic perspective. So it can be seen that the problems studied are qualitative in nature. The locations used during the research were limited to around South Surabaya, with the mural specifications intact. What is meant by intact is that the paint in the mural is still visible to the naked eye, the forms that make up the visual elements and the text still have clear legibility to the general public. This study shows The result of the research is that murals in Surabaya tend to display a narrative image style initiated by the government/institution with an educational message that appears in the visual signs, while the expressive image style is initiated by the mural artist/community, but the visual signs that appear are more critical and expressive. The mural structure has a fairly high legibility both in terms of visual and text. The existence of the mural is perceived as a spectator reaching individuals, but the understanding of each individual is the result of the relation between visual perception and the concept adopted. The process of community education can only reach individuals but cannot yet become a collective awareness that is able to move people to change their behaviour. The signs encountered are studied through the visual semiotic approach of Saussure and Yasraf with a socio-cultural approach in the people of Surabaya. The benefits of this research are to add to studies related to contemporary art and visual communication design, especially street art with a focus on murals, to identify mural forms in Surabaya, to become a reference material for similar research and to add the perspectives of other researchers regarding the study of cultural semiotics and to provide insights another for the learning process outside the formal environment, especially education in the community, through the mural media approach. Keywords: Mural, Cultural Semiotics, Public education.
Art Therapy: Media Pendidikan Kreatif untuk Menanggulangi Remaja dengan Gangguan Kecemasan Alif Sukma Muclisin; Cindy Wahyuningsih; Indar Sabri; Setyo Yanuartuti; Djuli Djatiprambudi
Journal of Education on Social Science (JESS) Vol 7 No 2 (2023): Civil Society Development in Globalization Era
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jess.v7i2.482

Abstract

Anxiety disorders often appear in adolescents aged 10-24 years. When adolescents experience anxiety disorders the accompanying emotional reactions are body tension, fear, distress, and anxiety in response to certain situations that are perceived as threatening. Anxiety in adolescents can be measured by the Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A), and the Child Anxiety subscale of the Revised Children's Manifest Anxiety Scale (RCMAS), as well as graphical tests, such as Draw A Person (DAP), Draw a Tree (BAUM), and House Tree Person (HTP), which are performed by the adolescent (subject). The purpose of this study is to address adolescents with anxiety disorders. This study uses qualitative methods to describe anxiety disorders in adolescents and quantitative methods to see the effect of art therapy as a creative education media in overcoming anxiety disorders in adolescents. The subjects in this study were 5 adolescents with anxiety disorders of which 2 subjects were given art therapy. The sampling technique used purposive sampling method. The results of this study, art therapy has been shown to be able to reduce anxiety in adolescents with anxiety disorders. From the results of the above research, it can be concluded that art therapy will produce positive developments at different levels.
Komodifikasi Topeng Cirebon : Analisis Praktek Sosial Bourdieu Hadiyatno Hadiyatno; Muhammad Jazuli; Djuli Djatiprambudi
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji dan menganalisis dampak perubahan besar yang terjadi pada Komodifikasi Topeng Cirebon, Komodifikasi merupakan proses yang tidak hanya berhubungan dengan bagaimana produksi menjadi produk massa, tetapi juga berhubungan bagaimana produk tersebut dapat didistribusikan ke pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. komodifikasi merupakan respon terhadap perubahan struktur sosial pada masyarakat Cirebon dan global. Spirit politis pemerintah dalam industri kreatif, telah membawa perubahan bagi pengrajin dalam mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran. Lokasi penelitian utama dilakukan di Desa Selangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Lokasi sekunder dilakukan di beberapa daerah komunitas pengrajin topeng yang ada di Kota dan Kabupaten Cirebon, termasuk daerah istana pada kelompok distinction. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis Praktek Sosial Bourdieu pada Komodifikasi Topeng Cirebon. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif, dengan pendekatan analisis. Praktek Komodifikasi telah membuka mata pengrajin, bahwa kreativitas dalam realitas adalah dinamika, lenturnya topeng Cirebon sebagai sistem pewarisan budaya tradisi, dimaknai sebagai edukasi kepada masyarakat pengrajin topeng. Komodifikasi telah membawa Topeng Cirebon ada dalam persimpangan. Satu sisi pemerintah menjadikan topeng sebagai sistem pewarisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan keotentikanya, sisi lain, topeng merupakan aset produk budaya yang dapat mendatangkan devisa. Sedangkan perdebatan klasik pada publik topeng masih pada ranah perdebatan antara kelompok yang ingin mempertahankan estetika tinggi, penuh nilai dan makna, sisi lain menginginkan perubahan. sebuahparadok, rumit, kontradiktif dan kompleks, tetapi kondisi ini secara tidak langsung dapat mempertegas eksistensi dan kedaulatan topeng terapresiasi dengan sendirinya.
Pembelajaran Komposisi Musik Melalui Unsur Etnik Sebagai Bentuk Penguatan Global Moh Sarjoko; Sunarto Sunarto; Djuli Djatiprambudi; Suharto Suharto
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membuat komposisi musik merupakan pengerjaan yang membutuhkan berbagai unsur, antara lain ide, kemudian ditindak lanjuti ke tahap eksplorasi atau penyusunan tonalitas, dan dikembangakan ke format komposisi, pemilihan instrument melalui orkestrasi, aransemen yang didalamnya ada aturan-aturan tentang progresi akor. Hal tersebut dibutuhkan pemikiran yang focus, namun demikian ada hal yang kadang- kadang masih ada yang terlewatkan. Penelitian ini akan membahas tentang unsur-unsur nuansa musik etnik dalam berkomposisi musik, dengan harapan sebagai bentuk penguatan global, tanpa menghilangkan budaya kearifan lokal yang sudah ada.
Dongkrek Art in Rituals Ceremony in Mejayan Village, Caruban Sub-District, Madiun Regency Moh Sarjoko; Sunarto Sunarto; Djuli Djatiprambudi; Suharto Suharto
International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find out and describe the role of dongkrek traditional art in village clean rituals. Research using descriptive method with a qualitative approach. Data collection tools are interviews, observation, and documentation. The process of data analysis by reducing, presenting, and concluding data. The results of the study show that (a) the traditional art of Dongkrek maintains the authenticity of the traditional Dongkrek art; (b) The procedure for performing the Dongkrek traditional art is divided into three stages, namely the pre-event stage, the main event stage and the closing stage; (c) The moral values ​​contained in the traditional arts of Dongkrek include the value of togetherness/mutual cooperation, the value of beauty, the value of truth, the value of kindness, the value of responsibility, the value of obedience, the value of bad or evil, the value of honesty, the value of trust; (d) The community of Mejayan Village is very supportive because the function of the traditional Dongkrek art is considered to be very potential as a spectacle and guide for the community.
Reading Ponoragan Visual Culture on The Visual Development Phenomenon of Dhadhak Merak Reyog Ponorogo Romzi Akram Al Naufal; Djuli Djatiprambudi; Setyo Yanuartuti
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i1.57629

Abstract

The dhadhak merak is an iconic mask in Reyog Ponorogo. Over a very long period of time, the dhadhak merak has visually evolved into the form that is often seen today. The visual phenomenon then forms an image of Ponoragan visual culture that is interesting to explore in greater depth. This is what attracts the author's attention to focus on reviewing: 1) The phenomenon of visual development of dhadhak merak over time and 2) Reading Ponoragan visual culture in dhadhak merak. This research is a descriptive qualitative research, with data collection techniques using literature studies and archival documentation. In the process of reading the visual culture of dhadhak merak, the author conducted a review from several aspects, namely: visual structure, function, value, and meaning. The results of this study are 1) The dhadhak merak has undergone seven phases of development starting from its simple dhadhak to the form that is commonly found today. 2) The visual structure, function, historical value, and meaning of the dhadhak merak are constructed on the culture of the people of Ponorogo itself starting from the era of animism-dynamism, Hindu-Buddhism, Islam, to the present era. From that, the Ponoragan culture as a very strong identity marker can be reflected in the dhadhak merak visual culture artifact.
Al Farabi's Philosophy on The Existence of Gambus Music In International Music Education Handayani, Lucy; Suharto, Suharto; Djatiprambudi, Djuli
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 26, No 1 (2024): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v26i1.3954

Abstract

Penelitian ini menjelaskan pengaruh filosofis Al Farabi terhadap eksistensi musik gambus dalam pendidikan seni musik mancanegara. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis konsep-konsep Al Farabi tentang musik dan bagaimana konsep-konsep tersebut mempengaruhi pengembangan musik gambus dalam konteks pendidikan seni musik internasional. Metode penelitian melibatkan analisis teks-teks filosofis Al Farabi, serta studi kasus tentang implementasi konsep-konsepnya dalam pengajaran dan praktik musik gambus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Al Farabi, khususnya mengenai harmoni, pengaruh musik pada jiwa, dan tujuan moral musik, memiliki dampak signifikan dalam perkembangan musik gambus. Penemuan ini mengindikasikan bahwa pemikiran Al Farabi masih relevan dan dapat diterapkan dalam konteks pendidikan seni musik mancanegara. Konsep-konsep filosofisnya mendorong pengalaman musik yang lebih dalam, spiritual, dan bermakna, dan dapat membantu musisi gambus serta pendidik seni musik mancanegara dalam mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih holistik dan berpusat pada nilai-nilai.
Overview of the Absurdity of Sekartaji Characteristics in the Phenomenon of Pacitan City Traditional Art Ajisanta, Robet; Djatiprambudi, Djuli; Trisakti, Trisakti
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 4, No 4 (2021): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v4i4.3206

Abstract

The Sekartaji character is one of the characters in the Panji puppet story. It seems that the Panji and Sekartaji stories themselves have many oral and written versions. In addition, the characterization of Sekartaji has undergone many cycles in each version of the story. Meanwhile, in each cycle of its era, the character of Sekartaji has undergone many developments in the transformation of the story which has been adapted in the form of phenomena of traditional arts. This research observes every phenomenon of traditional arts in the city of Pacitan, where each characterization of Sekartaji is very popular as a symbolization in several traditional art events. This phenomenon creates an absurdist perspective and makes Sekartaji's characterization on the side of liminality. From this analysis, this study will explore the absurdity of Sekartaji's characterization of the traditional Islamic phenomenon in the city of Pacitan using the ethnographic method.
Co-Authors Abdulhafizh, Luthfi Ghiyats Agung E.B. W. Agus Cahyono AJISANTA, ROBET Alif Sukma Muclisin Amalia Hartiningrum Angga Fajar Ramadhan Angga Fajar Ramadhan Angga Fajar Ramadhan Anisaluh, Anisaluh_1999 Aqim Amral Hukmi Athian, Muhammad Rahman AUTAR ABDILLAH Basri, Syaiful Qadar Candra, Erika Nur Cindy Wahyuningsih Dita Saraswati Fabiola Dharmawanti Fajar Nugroho Sakti Fitri Dinarti Hadiyatno Hadiyatno Handayani, Lucy Hanshi, Bao Hari Pramono, Koko Hasprita Restiamangastuti Boru Mangunsong I NENGAH MARIASA I Nyoman Lodra I Nyoman Lodra I Nyoman Lodra I Nyoman Lodra Ika Anggun Camelia INDAR SABRI Kartika Herlina Candraning Shiam Mangunsong, Hasprita Restiamangastuti Boru MOH SARJOKO Moh Sarjoko Moh Sarjoko Mohamad Arifin Muh. Ibnan Syarif, Muh. Ibnan Muhammad Budi Zaki Sani Muhammad Ibnan Syarif Muhammad Jazuli Muhammad Jazuli Muhammad Jazuli Muhammad, Anbie Haldini Naufal, Romzi Akram Al Nuning Y. Damayanti Nuning Y. Damayanti Parastuti, Hanin Kharisma Pungki Siregar Ramadhan, Angga Fajar Retno Tri Wulandari Rohendi Rohidi, Tjetjep Rohendi Rohidi, Tjetjep Romzi Akram Al Naufal S. Suharto Sakti Fajar Nugroho Sakuntala Verlista Sakuntala Verlista Sampurno, Muchammad Bayu Tejo Saraswati, Dita Setyo Yanuartuti SETYO YANUARTUTI Setyo Yanuartuti Suharto Suharto Suharto Suharto Suhartono, Suhartono - Sularso Sularso, Sularso Sumasno Hadi Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Suwarjiya Suwarjiya Syaiful Qadar Basri Syakir Syakir - syakir syakir Totok Sumaryanto F., Totok Trisakti Trisakti W., Agung E.B. Warih Handayaningrum WELLY SURYANDOKO Yasinda Widya Fahmi Yasinda Widya Fahmi Yermiandoko, Yoyok Yuwana, Setya