Zakiudin Munasir
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia, Jakarta

Published : 45 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Kortikosteroid sebagai Profilaksis Nefritis pada Purpura Henoch-Schonlein Ratih Dewi Palupi; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.027 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.409-14

Abstract

Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan penyakit vaskulitis tersering pada anak. Sebagian besarkasus PHS bersifat sembuh sendiri (self-limiting). Morbiditas dan mortalitas jangka panjang PHS berkaitandengan keterlibatan ginjal. Nefropati persisten terjadi pada 1% dari keseluruhan kasus PHS dan kurang dari1% mengalami progresifitas menjadi gagal ginjal terminal. Tata laksana PHS terutama bersifat suportif.Kortikosteroid digunakan pada kasus PHS dengan nyeri perut, edema subkutan, dan nefritis. Penggunaankortikosteroid sebagai profilaksis terjadinya gangguan ginjal pada PHS masih merupakan kontroversi.Pemberian kortikosteroid dini tidak dapat mencegah terjadinya keterlibatan ginjal pada PHS namun dapatmengurangi beratnya manifestasi gastrointestinal dan mengurangi risiko kelainan ginjal persisten.
Sindrom Wiskott Aldrich: Laporan Kasus Nita Ratna Dewanti; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.027 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.120-4

Abstract

Sindrom Wiskott Aldrich (SWA) merupakan kelainan genetik imunodefisiensi yangditurunkan secara X-linked recessive, termasuk dalam sindrom hiper IgE. Kasus ini sangatjarang, insidens di Amerika Serikat 4:1000000 kelahiran bayi hidup laki-laki. Manifestasiklinis SWA berupa eksima, trombositopenia, dan infeksi berulang. Biasanya meninggalusia dini. Dilaporkan kasus pertama di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta yaitu bayilaki-laki, 4 bulan, BB 3,8 kg (< P5NCHS), PB 55 cm (< P5NCHS) dengan riwayatbuang air besar berdarah, purpura dan petekie, demam berkepanjangan, eksim,trombositopenia dan infeksi berulang berupa sepsis, pneumonia, dan bula di paru kanan.Pada pemeriksaan fisis didapatkan anak sadar, aktif, suhu 38oC, konjungtiva pucat, padatelinga terlihat vesikel, eritem, dan keropeng. Didapatkan mengi pada pemeriksaan parudan hepatosplenomegali. Pemeriksaan penunjang didapatkan anemia, leukositosis, dantrombositopenia, tidak ditemukan sel blast pada gambaran darah tepi dengan ukurantrombosit kecil. LED meningkat. Analisis tinja didapatkan malabsorbsi lemak. BMPmenunjukkan hipoplasia eritropoesis dan trombopoesis. Pemeriksaan radiologis toraksditemukan bula paru kanan. Kadar IgA 43 mg/dl, IgG 1428 mg/dl, IgM 102 mg/dl, C3dan C4 normal, IgE total 5350 mg/dl. Uji Coombs direk positif, indirek negatif,isohemagglutinin tidak dapat diperiksa. Pasien didiagnosis sebagai Sindrom WiskottAldrich, bula paru kanan, gagal tumbuh dan diare kronik. Pasien diberi transfusi packedred cell (PRC) dan suspensi trombosit, antibiotik, diet elemental dan methisoprinol.Pasien meninggal pada usia 5 bulan karena gagal nafas akibat infeksi paru yang berat.
Profil klinis Infeksi Saluran Kemih pada Anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Miesien Miesien; Taralan Tambunan; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.032 KB) | DOI: 10.14238/sp7.4.2006.200-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) sering terjadi pada bayi dan anak kecil.Gejala ISK tergantung usia, intensitas reaksi inflamasi dan lokasi infeksi pada salurankemih.Tujuan. Mengetahui profil klinis ISK pada anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo.Metode dan subyek. Desain penelitian ini adalah deskriptif potong lintang. Subyekberusia lebih dari 2 bulan sampai 13 tahun, berobat ke Departemen IKA RSCM dalamkurun waktu Februari sampai dengan Agustus 2004. Diagnosis ISK ditegakkanberdasarkan hasil biakan urin bila pertumbuhan kuman ³ 105 koloni/ml urin.Hasil. Dalam kurun waktu 7 bulan ditemukan 50 subyek (28 laki-laki dan 22perempuan), usia rerata dua tahun (SD±2,4). Terbanyak usia 2 bulan – 2 tahun (32/50). Lima gejala klinis terbanyak adalah demam, nafsu makan menurun, diare, kencingtidak lancar dan muntah. Tiga tanda klinis terbanyak dianatarnya adalah demam, balanitisdan ikterus. Pemeriksaan penunjang sebagian besar normal.Kesimpulan. Infeksi saluran kemih (ISK) terbanyak pada usia 2 bulan – 2 tahun. Gejalaklinis ISK terutama demam. Tanda klinis ISK terbanyak demam, balanitis dan ikterus.Hasil urinalisis normal tidak menyingkirkan diagnosis ISK, sehingga anak demam padausia 2 bulan – 2 tahun dengan penyebab tidak jelas perlu dipikirkan ISK.
Penyakit Alergi lain yang Dialami Anak dengan Asma Lily Irsa; Arwin A.P. Akib; Syawitri P Siregar; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.108 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.259-63

Abstract

Latar belakang. Perjalanan penyakit alergi memperlihatkan bahwa penyakit alergi saling berhubungandan tampilannya dapat berubah menurut umur sesuai dengan allergic march. Kondisi alergi pada umumnyaberupa rinitis alergi, asma, dan dermatitis atopi yang mempunyai jalur imunopatologi sama.Tujuan. Untuk mengetahui penyakit alergi yang pernah dialami anak dengan asma.Metode. Penelitian retrospektif terhadap anak dengan asma di Divisi Alergi Imunologi, DepartemenIlmu Kesehatan Anak FKUI/ RSCM dari Januari 2000 sampai dengan April 2003. Data dicatat darirekam medik dan dikeluarkan dari penelitian bila data tidak lengkap.Hasil. Didapatkan 148 pasien asma selama kurun waktu penelitian, terdiri dari 83 laki-laki dan 65perempuan. Riwayat atopi keluarga terdapat pada 103 anak. Penyakit alergi yang pernah dialami adalahrinitis alergi 39 (26,3%), dermatitis atopi 34 (23%), urtikaria 13(8,8%), dan konjungtivitis 2(1,4%).Kesimpulan. Dari penelitian ini didapatkan bahwa penyakit alergi lain yang pernah dialami anak asmaadalah rinitis alergi, dermatitis atopi, urtikaria, dan konjungtivitis.
Kadar Seng Plasma Pasien Tuberkulosis Anak: Studi Pendahuluan Bertha Soegiarto; I Boediman; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.098 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.236-41

Abstract

Latar belakang. Tuberkulosis (TB) menjadi masalah kesehatan di Indonesia, oleh karena dengan meningkatnya pasien TB dewasa, terjadi juga peningkatan anak yang terinfeksi dan sakit TB. defisiensi mikronutrien tertentu termasuk seng sangat mempengaruhi sistem imunitas pejamu, padahal imunitas selular sangat berpengaruh terhadap perjalanan penyakit TB. Penelitian tentang status mikronutrien pada pasien TB anak masih sangat terbatas.Tujuan. Menentukan kadar seng plasma pasien TB anak, kadar seng plasma pasien TB anak pada berbagai tahap pengobatan OAT dan kadar seng plasma pasien TB anak baru dengan indurasi uji Mantoux yang berbeda.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan di unit rawat jalan dan rawat inap Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dalam kurun waktu April – Mei 2008. Dari 84 pasien TB anak, 30 di antaranya diikutsertakan dalam penelitian. Tiga mililiter darah vena diambil dari pasien dan dikirim ke Laboratorium SEAMEO-TROPMED Universitas Indonesia untuk dilakukan analisis kadar seng plasma.Hasil. Dua puluh lima dari tiga puluh pasien TB anak memiliki kadar seng plasma di bawah nilai normal, dengan rerata (9,0 ± 1,8) μmol/L. Sebelum terapi OAT dimulai, kadar seng plasma lebih rendah daripada setelah mendapatkan terapi OAT. Pasien dengan uji Mantoux negatif memiliki kadar seng plasma lebih rendah daripada pasien dengan uji Mantoux positif.Kesimpulan. Pasien TB anak memiliki kadar seng plasma di bawah nilai normal. Kadar seng plasma pasien TB baru lebih rendah daripada pasien TB yang sudah mendapatkan terapi OAT. Pasien dengan uji Mantoux negatif memiliki kadar seng plasma lebih rendah daripada pasien dengan uji Mantoux positif.
Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea pada Anak Sindrom Down​ Dewi Kartika Suryani; Bambang Supriyatno; Mulya Rahma Karyanti; Zakiudin Munasir; Sudung O. Pardede; Dina Muktiarti
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.055 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.295-302

Abstract

Latar belakang. Sindrom Down merupakan kelainan kromosom tersering. Anak dengan sindrom Down (SD) di berbagai negara memiliki beberapa faktor risiko terhadap OSA dengan prevalensii antara 30%-60%, dibandingkan 0,7%-2% pada populasi umum. Hingga saat ini belum ada data mengenai OSA pada anak sindrom Down di Indonesia. Tujuan. Mengidentifikasi prevalensi OSA pada anak sindrom Down dan menganalisis hubungan antara habitual snoring, obesitas, penyakit alergi di saluran napas, hipertrofi tonsil, dan hipertrofi adenoid sebagai faktor risiko OSA pada anak sindrom Down. Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada anak sindrom Down berusia 3-18 tahun yang tergabung dalam Yayasan POTADS. Penelitian dilakukan di Poliklinik Respirologi IKA FKUI RSCM dari bulan Juli 2016 hingga Juli 2017. Penegakan diagnosis OSA menggunakan nilai batas AHI≥3 pada pemeriksaan poligrafi. Faktor- risiko yang dianggap berpengaruh dianalisis secara multivariat. Hasil. Penelitian dilakukan terhadap 42 subjek dengan hasil prevalensi OSA pada anak dengan SD 61,9%. Sebesar 42,9% merupakan OSA derajat ringan, 14,3% OSA sedang, dan 4,8% OSA berat. Pada analisis multivariat didapatkan faktor risiko yang bermakna yaitu habitual snoring (p=0,022 dan PR 8,85; IK 1,37-57) dan hipertrofi adenoid (p=0,006 dan PR 12,93; IK 2,09-79). Kesimpulan. Prevalensi OSA pada anak sindrom Down sebesar 61,9%. Faktor risiko yang bermakna yaitu habitual snoring dan hipertrofi adenoid.
Terapi Antiretroviral Lini Kedua pada HIV Anak di RS. Cipto Mangunkusumo Dina Muktiarti; Arwin AP Akib; Zakiudin Munasir; Nia Kurniati
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.130-6

Abstract

Latar belakang. Akses terhadap terapi antiretroviral (ARV) semakin mudah saat ini dan membuat angka harapan hidup anak terinfeksi HIV semakin panjang. Dalam penanganan jangka panjang anak terinfeksi HIV, salah satu masalah baru yang timbul adalah gagal terapi dan resistensi obat. Tujuan. Menilai karakteristik pasien anak terinfeksi di RS. Cipto Mangunkusumo yang menggunakan terapi ARV lini kedua dan indikasi penggantian ke terapi ARV lini kedua.Metode. Penelitian kohort pasien anak terinfeksi HIV di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002. Kriteria inklusi adalah pasien anak terinfeksi HIV yang berobat di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002 sampai April 2012 dan menggunakan salah satu obat antiretroviral lini kedua. Data yang diambil adalah data demografis, kada CD4, jumlah virus, stadium klinis, dan kombinasi terapi ARV.Hasil. Empatratus empat pasien anak terinfeksi HIV dan 44 (10,9%) menggunakan terapi antiretroviral lini kedua. Sebagian besar (59,1%) gagal terapi adalah kombinasi antara kegagalan virologi, imunologis, dan klinis. Median usia saat memulai terapi ARV lini kedua 69 (26-177) bulan. Median lama subyek menggunakan terapi ARV lini pertama 9 (13-176) bulan. Seluruh subyek penelitian menggunakan lopinavir/ritonavir sebagai salah satu obat ARV lini kedua dengan kombinasi terbanyak adalah didanosin, lamivudin, dan lopinavir/ritonavir (40,9%). Efek samping didapatkan pada 2 pasien akibat abacavir. Sebagian besar subyek (19/25) yang diperiksa jumlah virus pada 6-12 sesudah menggunakan ARV lini kedua mempunyai hasil tidak terdeteksi.Kesimpulan. Jumlah pasien yang menggunakan terapi ARV lini kedua tidak terlalu banyak karena deteksi kegagalan terapi masih lebih banyak berdasarkan kegagalan klinis dan imunologis.
Studi Observasional Pasca-Pemasaran Formula Isolat Protein Kedelai pada Bayi dengan Gejala Sugestif Alergi Terhadap Protein Susu Sapi Zakiudin Munasir; Dina Muktiarti; Anang Endaryanto; Ketut Dewi Kumarawati; Budi Setiabudiawan; Sumadiono Sumadiono; Johannes Hudyono; Melva Louisa; Arini Setiawati
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.237-43

Abstract

Latar belakang. Fomula berbasis isolat protein kedelai banyak digunakan untuk anak-anak dengan alergi susu sapi di Indonesia. Namun, diperlukan penelitian untuk mendapatkan gambaran penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna pada penggunaan formula isolat protein kedelai.Tujuan. Pertama, menentukan penerimaan orangtua terhadap pemberian suatu isolat protein kedelai pada bayi yang diduga mengalami alergi terhadap protein susu sapi. Kedua, mengetahui toleransi saluran cerna pada pemberian susu formula tersebut.Metode. Suatu studi pasca-pemasaran, prospektif, multisenter yang dilakukan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Denpasar sejak September 2011 sampai April 2012. Subyek berusia antara 6 bulan hingga 1 tahun dengan gejala dugaan alergi terhadap protein susu sapi yang diberikan formula isolat protein kedelai dan diamati selama 4 minggu. Luaran yang diharapkan adalah penerimaan orangtua terhadap pemberian formula isolat protein kedelai dan toleransi saluran cerna terhadap pemberian isolat protein kedelai.Hasil. Diteliti 534 subyek yang dapat dianalisis selama periode penelitian. Mayoritas orangtua (84%) merasa puas dengan formula isolat protein kedelai, 83% orangtua berencana untuk melanjutkan pemberian susu formula karena berkurang (31,5%) dan hilangnya gejala yang diduga akibat alergi susu sapi (32,4%). Gejala klinis yang diduga akibat alergi terhadap protein susu sapi menurun pada setiap kunjungan berikutnya. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan selama periode penelitian.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan tingkat penerimaan orangtua dan toleransi saluran cerna yang baik terhadap pemberian formula isolat protein kedelai kepada bayi dengan gejala sugestif alergi terhadap protein susu sapi. Formula isolat protein kedelai cukup aman dijadikan sebagai formula alternatif pengganti pada anak dengan alergi susu sapi.
Skleroderma pada Anak Melissa Gandi; Qatrah D. Seprida; Tina W. Wisesa; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1778.144 KB) | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.398-405

Abstract

Dilaporkan seorang anak perempuan, N, usia 4 tahun 5 bulan, dengan diagnosis skleroderma lokal tipemorfea generalisata. Etiologi dan patogenesis penyakit ini belum jelas. Pada pemeriksaan fisis didapatkanmakula hipopigmentasi multipel, plakat hiperpigmentasi difus yang sklerotik, fleksi kontraktur jari tangandan kaki serta atrofi kulit punggung tangan dan kaki. Tidak ada keterlibatan organ dalam. Pemeriksaanhistopatologis menunjukkan penebalan kolagen di dermis dan tidak tampak adneksa kulit. Pengobatanterdiri dari krim pelembab, obat antifibrotik dan fisioterapi. Pasien membaik dengan pemberian krim urea10% dan D-penisilamin. Prognosis baik karena morfea generalisata akan mengalami resolusi spontandalam 3-5 tahun, meskipun dapat menyebabkan kecacatan permanen berupa fleksi kontraktur residual,hiperpigmentasi dan atrofi kulit
Pemakaian Formula Hidrolisat Parsial untuk Pencegahan Penyakit Alergi pada Anak Wardhana Wardhana; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.46-52

Abstract

Latar belakang. Formula hidrolisat parsial merupakan salah satu alternatif pemberian nutrisi yang dapat mencegah penyakit alergi di kemudian hari.Tujuan. Mengetahui efektivitas formula hidrolisat parsial untuk mencegah penyakit alergi pada anak dikemudian hari.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik yaitu Pubmed, Cochrane, dan Highwire.Hasil. Telaah sistematis mendapatkan bahwa semua studi mendapatkan insidens Dermatitis Atopi (DA) yang menurun dengan atau tanpa manifestasi atopi. Insidens kumulatif setelah 3 tahun ditemukan lebih rendah secara bermakna pada bayi yang mendapat formula hidrolisat parsial.Kesimpulan. Pemberian formula hidrolisat parsial terbukti dapat mencegah timbulnya manifestasi alergi terutama dermatitis atopi pada usia 1 tahun dan efek pencegahan ini konsisten jangka panjang.
Co-Authors Abhijeet J Bhanegaonkar Agus Firmansyah Ahmad Suryawan Alan R Tumbelaka Alan R. Tumbelaka Alan Roland Tumbelaka Aman B Pulungan Amy Diana Ruth Anang Endaryanto Anggraini Alam, Anggraini Antonius H. Pudjiadi Ari Prayitno, Ari Arini Setiawati Arwin A.P. Akib Arwin A.P. Akib Arwin AP Akib Arwin AP Akib Aryono Hendarto Astrid W Sulistomo Badriul Hegar Badriul Hegar Bambang Supriyatno Bambang Tridjaja AAP, Bambang Tridjaja Bernie Endyarni Medise Bertha Soegiarto Budi Setiabudiawan Caroline Mulawi Cissy B. Kartasasmita Citra Estetika Corry S Matondang Corry S. Matondang Darus, Febriansyah Dewi Kartika Suryani Dewi Wulandari Diana Aulia Dina Muktiarti, Dina Djajadiman Gatot Dominicus Husada Dwi Prasetyo Ellen P. Gandaputra EM Dadi Suyoko Endang Windiastuti Erfi Prafiantini Erica G Horodniceanu Fatima Safira Alatas, Fatima Safira Ferry Damardjati S.P. Ganda Ilmana Ganung Harsono Gatot Irawan Sarosa, Gatot Irawan Graham RR Hanifah Oswari Harahap, Alida Roswita Hardiono D. Pusponegoro Hartono Gunardi HEM Dadi Suyoko Hindra I. Satari Hindra I. Satari, Hindra I. Hindra Irawan Satari I Boediman I gusti Lanang Sidhiarta Imral Chair Indah S. Widyahening Irene Irene Irma Rochima Puspita Ismoedijanto Ivo Novita Sah Bandar Johannes Hudyono Jose RL Batubara Juandy Jo Julfina Bisanto Kartjito, Melissa Stephanie Kemas Firman Ketut Dewi Kumara Wati Kinesya, Edwin Knol, Klaas Kusnandi Rusmil Levina Chandra Khoe Lily Irsa Maddepunggeng, Martira Marc F Botteman Maria Abdulsalam Mei Neni Sitaresmi Melissa Gandi Melva Louisa Mia Kumiati Miesien Miesien Molly D. Oktarina Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Mulya Safri Mulya Safri Mulyadi Mulyadi Munar Lubis Nastiti Kaswandani Ni Putu Sudewi Nia Kuniati Nia Kurniati Nia Kurniati Nia Kurniati Nia Kurniati Nia Kurniati Nita Ratna Dewanti Novie Amelia Chozie Patria Vittarina Sarisetyaningtyas Patrick Detzel Piprim Basarah Yanuarso, Piprim Basarah Qatrah D. Seprida Raihan Raihan, Raihan Ratih D Palupi Ratih Dewi Palupi Ray Wagiu Basrowi Retno Asti Werdhani Rina A.C. Saragih, Rina A.C. Rinawati Rohsiswatmo Rini Sekartini Rita Evalina Rulina Suradi Rulina Suradi Saptawati Bardosono Sasmono, R. Tedjo Setyo Handryastuti Siti D. Wisnuwardhani Sjawitri P Siregar Sjawitri P Siregar Sjawitri P Siregar Sjawitri P. Siregar Soedjatmiko Soedjatmiko Sondang Sidabutar SRI LESTARI Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S. Sri S Nasar Sudung O Pardede, Sudung O Sudung O. Pardede, Sudung O. Sumadiono Sumadiono Sundjaya, Tonny Syawitri P Siregar Taralan Tambunan Taralan Tambunan Theresia Santi, Theresia Tina W. Wisesa Titis Prawitasari, Titis Wardhana Wardhana Wing Yu Tang Xiang Ji Yvan Vandenplas