Claim Missing Document
Check
Articles

Growth performance of catfish, Clarias gariepinus Burchel 1822, cultured in biofloc-based system with addition of the heterotrophic bacteria cells Salamah Salamah; Nur Bambang Priyo Utomo; Munti Yuhana; Widanarni Widanarni
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15 No 2 (2015): June 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v15i2.69

Abstract

Super-intensive fish culture activities can lead the deterioration of water quality. Biofloc technology application can reduce the ammonia wastes and converts into bacterial biomass that can be used as a food source for fish. This study aimed to analyze the influence of heterotrophic bacterial cell concentrations in water and feed supplementation to improve the culture performances of catfish (C. gariepinus) on biofloc-based culture system. The experiments were conducted within 42 days consisted of five treatments, namely: (K-): system without biofloc, (K+) system with biofloc, (A) biofloc + L1k cells (102 CFU mL-1), (B) biofloc + L1k cells (104 CFU mL-1), and (C) biofloc + L1k cells (106 CFU mL*). The results showed that the growth performance of catfish cultured in biofloc system with the addition heterotrophic bacterial cell concentrations at 104 CFU mL-1 showed the best results compared to other treatments, with the value of survival rate was 92.67% ± 6.92, feed conversion ratio was 0.90 ± 0.07, and daily growth rate of 6.10% ± 0.09. Bacterial cells abundance were ranging from 104 CFU mL-1 up to 108 CFU mL-1, either with or without the addition of hetero-trophic bacterial cells. Abstrak Penerapan teknologi bioflok mampu mengurangi limbah amonia menjadi biomassa bakteri yang dapat dijadikan sebagai sumber pakan bagi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi sel bakteri heterotrofik da-lam air dan pakan suplemen untuk meningkatkan pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) pada sistem berba-sis bioflok. Percobaan dilakukan dengan lima perlakuan, yaitu: (K-) Tanpa bioflok, (K +) Bioflok, (A) Bioflok + L1k (102 CFU mL-1), (B) Bioflok + L1k (104 CFU mL-1), dan (C) Bioflok + L1k (106 CFU mL-1). Empat hari sebelum dilakukan pemeliharaan (H-4) diinokulasikan bakteri heterotrofik sebanyak 10 ml m-3 air dengan konsentrasi sesuai perlakuan dan molase cair 10 g ke media pemeliharaan. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 42 hari, dengan frekuensi pem-berian pakan 2 kali sehari dan tingkat pemberian pakan 5% dari biomassa ikan. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 42 hari dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari dan tingkat pemberian pakan 5% dari biomassa ikan. Penambahan sel bakteri L1k ke dalam media budidaya dilakukan seminggu sekali sebanyak 10 ml m-3 dengan konsentrasi sel 102, 104, dan 106 CFU ml-1. Penambahan molase dilakukan setiap hari ke media bioflok dengan rasio C:N akhir sebesar 15:1. Kinerja pertumbuhan ikan yang diamati meliputi parameter kelangsungan hidup, pertumbuhan, rasio konversi pakan, populasi sel bakteri total dan sel bakteri L1k. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja produksi ikan lele dumbo pada perlakuan bioflok lebih baik dibanding tanpa bioflok. Penambahan sel bakteri heterotrofik L1k 104 CFUml-1 menunjukkan hasil terbaik dengan nilai tingkat kelangsungan hidup 92,67% ± 6,92, rasio konversi pakan 0,90 ± 0,07, dan laju pertumbuhan harian 6,10% ± 0,09. Kelimpahan sel bakteri total berkisar dari 104 CFU mL-1 hingga 108 CFU mL-1, baik dengan maupun tanpa penambahan sel bakteri heterotrof.
Perkembangan enzim pencernaan dan pertumbuhan larva ikan lele dumbo, Clarias gariepinus Burchell 1822, yang diberi kombinasi cacing sutra dan pakan buatan Nurhayati Nurhayati; Nur Bambang Priyo Utomo; Mia Setiawati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i3.78

Abstract

The main problems that were encountered in the larval rearing of African catfish (Clarias gariepinus) is the availability of live feed such as silk worms that are limited to the initial stadia, so that needs to be combined with artificial diet. The aim of this experiment was to evaluate the giving of appropriate combination and artificial diet the development digestive enzymes and growth of African catfish larvae. The experimental design was arranged in completely randomized design with three replications. The treatment included a combination of and artificial diet with giving of PA (100%), giving of PA75+PB25 (75% and artificial diet 25%), giving of PA50+PB50 (50% and artificial diet 50%), giving of PA25+PB75 (25% and artificial diet 75%), and giving of PB (artificial diet 100%). Result of the experiment showed that feeding with a combination of 50% silk worms and 50% artificial diet influence on the development of the digestive system and the activity of digestive enzymes (amylase, lipase and protease) as well as produces specific growth rates of 23.56±1.08% /day and growth of absolute length of 8.43±0.75 cm. Higher survival rate was achieved by treatment giving PA of 89.61±4.35%. Abstrak Masalah utama yang dihadapi pada pembenihan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah ketersediaan pakan alami berupa cacing sutra yang sering kali terbatas ketika dibutuhkan untuk pemeliharan larva ikan lele pada stadia awal, se-hingga perlu dikombinasikan dengan pakan buatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemberian kombinasi cacing sutra dan pakan buatan terhadap perkembangan enzim pencernaan dan pertumbuhan larva ikan lele dumbo. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulang-an. Perlakuan meliputi kombinasi pakan buatan dan cacing sutra dengan perlakuan pemberian PA (cacing sutra 100%), pemberian PA75+PB25 (cacing sutra 75% dan pakan buatan 25%), pemberian PA50+PB50 (cacing sutra 50% dan pakan buatan 50%), pemberian PA25+PB75 (cacing sutra 25% dan pakan buatan 75%) dan pemberian PB (pakan buatan 100%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan kombinasi cacing sutra 50% dan pakan buatan 50% berpengaruh terhadap perkembangan sistem pencernaan dan aktivitas enzim pencernaan (amilase, lipase dan protease) serta menghasilkan laju pertumbuhan spesifik 23,56±1,08%/hari dan pertumbuhan panjang 8,43±0,75 cm. Ke-langsungan hidup tertinggi ditunjukkan pada perlakuan pemberian PA sebesar 89,61±4,35%.
Efektivitas pemberian hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus, Bloch 1790) melalui perendaman dan oral terhadap pertumbuhan elver ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor) Alimuddin Alimuddin; Boyun Handoyo; Nur Bambang Priyo Utomo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v14i3.79

Abstract

Indonesian eel (Anguilla bicolor bicolor) has recently been cultivated intensively in Indonesia. The growth of Indonesian eel is slow. This study was performed to determine a proper delivery method of recombinant giant grouper (Epi-nephelus lanceolatus) growth hormone (rElGH) and observe aquaculture and nutrient related performances of Indonesian eel elver after rElGH treatment. Three delivery methods of rElGH, namely immersion, orally, and combination of immersion and orally were tested. The dosage of rElGH by immersion (12 mg L"1 water) and orally administration (30 mg kg-1 feed) were obtained in previous studies. Fish were maintained in 23 L glass aquaria for 120 days, at density of 45 fish in each aquarium. The results showed that higher (P<0.05) biomass of harvest (73.68±2.07 g) was obtained in immersion and oral combination treatment, by increment of about 102.9% compared to control (36.32±0.97 g). Administration of rElGH also improved protein and lipid retentions by 142.5%, and 720.0% compared to those of control, respectively (P<0.05). In addition, rElGH treatment increased appetite, while artificial feed conversion ratio (4.75) was 55.15% lower (P<0.05) compared to that of control (7.37). Combination of rElGH immersion and oral administrations also increased hepatosomatic index, and insuline-like growth factor-1 gene expression level. Thus, rElGH administration via immersion and oral combination was a proper method to improve growth of eel elver, and application of rElGH can be useful to increase aquaculture production. Abstrak Ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor) telah dibudidayakan secara intensif di Indonesia. Pertumbuhan ikan sidat relatif lambat. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan metode pemberian hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus) (rElGH) untuk memacu pertumbuhan, dan mengevaluasi performa budi daya dan pemanfaatan pakan pada elver ikan sidat. Tiga metode pemberian rElGH diuji, yakni perendaman, oral, dan kombinasi perendaman dan oral. Dosis rElGH yang digunakan merupakan hasil penelitian sebelumnya, yakni 12 mg L-1 untuk me-tode perendaman dan 30 mg kg-1 pakan untuk metode oral. Ikan dipelihara dalam akuarium volume 23 L selama 120 hari, dengan padat tebar 45 ekor per akuarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa tertinggi (p<0,05) diper-oleh pada perlakuan kombinasi perendaman dan oral (73,68±2,07 g), sekitar 102,9% lebih tinggi daripada kontrol tanpa pemberian rElGH (36,32±0,97 g). Perlakuan rElGH juga meningkatkan retensi protein dan lemak, masing-masing 142,5% dan 720,0% lebih tinggi daripada kontrol (p<0,05). Selanjutnya, perlakuan rElGH meningkatkan nafsu makan, dan konversi pakan (4,75) sekitar 55,2% lebih rendah (p<0,05) daripada kontrol (7,37). Perlakuan kombinasi perendaman dan oral juga meningkatkan indeks hepatosomatik, dan ekspresi gen insuline-like growth factor I. Sebagai kesimpul-an, pemberian rElGH melalui kombinasi perendaman dan oral merupakan metode terbaik dalam memacu pertumbuhan elver ikan sidat, dan penerapan rElGH dapat digunakan untuk meningkatan produksi budi daya.
Pertumbuhan dan daya tahan tubuh juwana kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang mendapatkan tambahan selenium dan terpapar cekaman lingkungan Muhaimin Hamzah; M. Agus Suprayudi; Nur Bambang Priyo Utomo; Wasmen Manalu
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.122

Abstract

This study was conducted to determine the level of sodium selenite (inorganic selenium) supplementation on growth and vitality of juvenile humpback grouper (Cromileptes altivelis) exposed to environmental stress. The experiment was designed as a completely randomized design with six treatments and three replications. The treatment was Se (sodium selenite) supplementation at various levels i.e. 0, 0.025, 0.05, 0.1, 0.2, and 0.4 mg Se kg-1. The experimental juveniles humpback grouper having average initial length of 5,83+0,28 cm and body weight of 3,47+0,43 g were reared in 90 x 40 x 35 cm3 aquaria and fed artificial diet (pellet) two times daily (08.00 and 16.00) at satiation. The humpback grouper were reared for 42 days at the stocking density of 15 fishes per 100 L on sea water with salinity of 30-31 ppt and temperature of 28-29oC. At the end of the experiment, the experimental fishes were submerged in fresh water for 10 minutes to evaluate their responses to osmolarity stress. Result of this study showed that the survival rate, daily growth rate, feed intake, feed efficiency, protein retention, liver glycogen, muscle glycogen, and all parameters of blood profile were not affected by the Se supplementation. On the contrary, Se supplementation improved lipid retention, plasma GPx enzyme activity, RNA-DNA ratio, and T3-T4 ratio. The addition of sodium selenite at dose of 0,05 mg Se kg-1 increased growth performance and vitality of juvenile humpback grouper. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah penambahan sodium selenite (selenium anorganik) dalam pakan yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh juwana kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang terpapar pada cekaman akibat perubahan kondisi lingkungan. Percobaan didesain menggunakan rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah penambahan selenium (Se) dalam bentuk sodium selenite (Se anorganik) pada berbagai dosis (0; 0,025; 0,05; 0,1; 0,2; dan 0,4 mg Se kg-1). Juwana kerapu bebek yang di-gunakan berukuran panjang awal rata-rata 5,83+0,28 cm dan bobot tubuh rata-rata 3,47+0,43 g dipelihara dalam akuarium berukuran 90 x 40 x 35 cm3 dan diberi pakan buatan berbentuk pellet frekuensi dua kali sehari (pukul 08.00 dan 16.00) at satiation. Ikan dipelihara selama 42 hari dengan padat penebaran 15 ekor per 100 liter air laut bersalinitas 30-31 ppt dan suhu 28-29 oC. Pada akhir pemeliharaan, ikan direndam di dalam air tawar selama 10 menit untuk mengetahui respons stres akibat perubahan osmolaritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, konsumsi pakan, efisiensi pakan, retensi protein, glikogen hati, glikogen otot, dan semua parameter gambaran darah tidak dipengaruhi oleh penambahan Se. Sebaliknya, penambahan Se meningkatkan retensi lemak, aktivitas enzim GPx plasma, rasio RNA-DNA, dan rasio T3-T4. Penambahan sodium selenite dosis 0,05 mg Se kg-1 mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan daya tahan tubuh juwana kerapu bebek.
Composition and digestibility values of Indigofera zollingeriana leaf meal on hoven’s carp seed Leptobarbus hoevenii which fermented with sheep rumen liquor Dwinda Pangentasari; Mia Setiawati; Nur Bambang Priyo Utomo; Mas Tri Djoko Sunarno
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 2 (2018): June 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i2.314

Abstract

The aim of this study was to evaluate the nutritional content of fermented tarum leaf meal and its nutrient digestibility on hoven’s carp juvenile. This study consisted of two steps namely fermentation and determination of nutrient digesti-bility of tarum leaf meal. Sheep’s rumen fluids used as fermentator of tarum leaf, fermentation was performed for 24 hours with several levels at 0, 200, 400 and 600 mL kg-1, then dried and analyzed for proximate. Digestibility trial was carried out for fermented and non-fermented tarum leaf meal. Digestibility trial was conducted by adding Cr2O3 as the indicator and faecal collection through siphoning. Hoven’s carp (2,31± 0,02 g) were cultured for 30 days using 60 cm x 50 cm x 40 cm aquarium with a density of 25 fishes aquarium-1. Fish were fed three times daily ad satiation. Feces were collected one hour after feeding, dried and analyzed. Fermentation test showed that the nutrient content of fer-mented tarum leaf meal using 600 mL kg-1 dose was better and significantly than other doses in crude fiber and nitrogen free extract were 9,32±0,53and 49,23±1,11. The decrease of crude fiber were 36%. Digestibility test showed that the raw material digestibility, protein digestibility, fat digestibility and energy digestibility in use tarum meal was better and significantly different than non-fermented tarum leaf meal. The results showed that fermented tarum leaf meal at 600 mL kg-1 increase quality of nutrients and digestibility of hoven’s carp seed. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan nutrisi dari fermentasi tepung daun tarum dan kecernaannya terhadap benih ikan jelawat. Penelitian terdiri atas dua tahap yaitu fermentasi dan uji kecernaan bahan dari tepung daun tarum. Fermentasi tepung daun tarum menggunakan cairan rumen domba sebagai fermentator. Fermentasi dilakukan selama 24 jam dengan dosis 0 (kontrol), 200, 400, dan 600 mL kg-1, kemudian dikeringkan dan dianalisis proksimat. Uji kecernaan menggunakan tepung daun tarum yang difermentasi dan tanpa fermentasi. Uji kecernaan bahan dilakukan dengan menambahkan Cr2O3 pada pakan sebagai indikator dengan metode penyifonan feses. Ikan jelawat (2,31± 0,02 g) dipelihara dalam wadah akuarium ukuran 60 cm x 50 cm x 40 cm dengan kepadatan 25 ekor akuarium-1 selama 30 hari. Ikan diberi pakan tiga kali sehari secara satiasi. Feses diambil satu jam setelah pemberian pakan, dikeringkan dan dianalisis kimia. Uji fermentasi menunjukkan bahwa kandungan nutrien tepung daun tarum yang difermentasi menggu-nakan dosis 600 mL kg-1 lebih baik dan berbeda nyata dibandingkan dosis lainnya pada kandungan serat kasar dan ba-han ekstrak tanpa nitrogen yaitu 9,32±0,53dan 49,23±1,11. Penurunan serat kasar terjadi sebanyak 36%. Uji kecernaan menunjukkan bahwa kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak, dan kecernaan energi pada penggunaan tepung daun tarum yang difermentasi lebih baik dan berbeda nyata dibandingkan dengan tepung daun tarum tanpa fer-mentasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa fermentasi tepung daun tarum dengan dosis 600 mL kg-1 meningkatkan kualitas nutrisi bahan dan kecernaan terhadap benih ikan jelawat.
Improved quality of color sumatra barb, Puntigrus tetrazona (Bleeker, 1855) with artificial feed enriched red spinach flour (Amaranthus tricolor L.) Gamel Koncara; Nur Bambang Priyo Utomo; Mia Setiawati; Muhamad Yamin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.398

Abstract

The Sumatra barb (Puntigrus tetrazona) is one of the Indonesia indigenous ornamental fish from Sumatra island. The breeding of sumatra barb fish has actually seen a decline in color quality because this species cannot produce carotenoid in the body. To solve this problem, needed an alternative using supplementation the carotenoid in the feed. The objective of this study was aimed to determine the effectiveness of red spinach flour doses as feed on the quality of the sumatra barb. The sumatra barb ornamental fish, with weight about 0.54 g and length about 3.50 cm, were reared in the aquarium (30 cm x 20 cm x 20 cm). The completely randomized design with 4 treatments (A=0% (control), B=2%, C=4%, and D=6%) and 3 replications were analyzed in this study. Parameters in this study consisted of body skin color qualities (e.g. L = lightness, C = chroma, and H = hue) and the number of carotenoid in the skin, fins, and meat. The fish were reared for 42 days and given feed 3 times per day. This result showed that supplementation of red spinach flour by 6% with carotenoid 45.26 ppm in feed, 50.44 ppm in fins, 16.10 ppm in the skin, and 3.69 ppm in meat, could increase sumatra barb color qualities. It was indicated decreasing lightness 60.83%, increasing chroma 20.57%, and sustaining hue 87,09°. Abstrak Ikan sumatra albino (Puntigrus tetrazona) merupakan salah satu ikan hias asli Indonesia yang berasal dari pulau Sumatera. Budidaya ikan sumatra albino mengalami penurunan dalam kualitas warna karena spesies ini tidak dapat memproduksi karotenoid dalam tubuhnya. Guna mengatasi permasalahan ini, maka dibutuhkan sebuah alternatif berupa penambahan karotenoid dalam pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas dosis tepung bayam merah sebagai pakan terhadap kualitas warna ikan sumatra albino. Ikan hias sumatra albino dengan bobot 0,54 g dan panjang 3,50 cm dipelihara di dalam akuarium (30 cm x 20 cm x 20 cm).Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empatperlakuan (A=0% (kontrol), B=2%, C=4%, dan D=6%) dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi nilai kualitas warna kulit ikan (L=lightness, C=chroma, dan H=hue) dan total karotenoid pada kulit, sirip,serta daging ikan sumatra albino. Ikan dipelihara selama 42 hari dan diberi pakan tigakali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwapenambahantepung bayam merah pada dosis 6%dengan kandungan karotenoid 45,26 ppm pada pakan, 50,44 ppm pada sirip, 16,10 ppm pada kulit, dan 3,69 ppm pada daging, dapat meningkatkan kualitas warna ikan sumatra albino. Hal tersebut diindikasikan dengan menurunnya nilai L=60,83%, meningkatnya nilai C=20,57%, dan mempertahankan nilai H=87,09°.
THE EFFECTIVITY TEST OF SHEEP RUMEN LIQUOR ENZYME ADDED TO PALM KERNEL MEAL ON ITS DECREASE OF CRUDE FIBER AND APPARENT DIGESTIBILITY COEFFICIENT FOR CATFISH Pangasius hypophthalmus DIET Wahyu Pamungkas; Dedi Jusadi; Nur Bambang Priyo Utomo
Indonesian Aquaculture Journal Vol 6, No 2 (2011): (December 2011)
Publisher : Center for Fisheries Research, Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resource

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.583 KB) | DOI: 10.15578/iaj.6.2.2011.149-156

Abstract

Two experiments were conducted to evaluate the hydrolysis of fiber content in palm kernel meal (PKM) by sheep rumen liquor enzyme and to know the apparent digestibility coefficient of hydrolyzed PKM for catfish Pangasius hypophthalmus. The first trial examined effectivity of sheep rumen liquor enzyme to decrease crude fiber content of PKM. The added volume of sheep rumen liquor enzyme was 0, 20, 40, 60, 80, and 100 mL/kg PKM and then it was incubated for 0, 12, and 24 hours. A factorial completely randomized experimental design consisted of 2 variables and triplicates were selected. The second trial was conducted to evaluate the apparent digestibility coefficients of hydrolized PKM for catfish. Apparent digestibility coefficients were determined using chromic oxide indicator added to both reference and test diets. The feed ingredients used in the trial were hydrolyzed PKM (PKMe) and unhydrolyzed PKM (PKM). Ten fishes with weighing around 20 g were used in the trial and held in 80 l tanks. Feces were collected from three replicate groups of fish using a fecal collection column attached to fish rearing tank. PKM hydrolyzed with 100 mL/kg and incubated for 24 hour showed the lowest crude fiber content (6.99%) among the treatments (P<0.05). Apparent digestibility coefficient of hydrolyzed PKM was 57.57% compared with unhydrolyzed PKM 15.31%. Based on the evaluation in those parameters it was concluded that sheep rumen liquor enzyme added to PKM was effective to decrease crude fiber content of PKM and improve apparent digestibility coefficient of PKM for catfish.
PENINGKATAN KINERJA REPRODUKSI, KUALITAS TELUR, DAN LARVA MELALUI SUPLEMENTASI Spirulina DIKOMBINASI DENGAN INJEKSI OOCYTE DEVELOPER PADA INDUK IKAN LELE (Clarias sp.) BETINA Armen Nainggolan; Agus Oman Sudrajat; Nur Bambang Priyo Utomo; Enang Harris
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.348 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.199-210

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mempercepat maturasi, meningkatkan kualitas telur, dan kuantitas larva ikan lele (Clarias sp.) melalui pemberian kombinasi suplementasi Spirulina pada pakan dan penyuntikan Oocyte developer (Oodev). Perlakuan yang diberikan terdiri atas: pakan A1: Spirulina 0% dengan Oodev 0 IU; pakan A2: Spirulina 0% dengan Oodev 15 IU; pakan B1: Spirulina 1% dengan Oodev 0 IU; pakan B2: Spirulina 1% dengan Oodev 15 IU; pakan C1: Spirulina 2% dengan Oodev 0 IU; pakan C2: Spirulina 2% dengan Oodev 15 IU; pakan D1: Spirulina 3% dengan Oodev 0 IU; pakan D2: Spirulina 3% dengan Oodev 15 IU. Selama 30 hari pemeliharaan, induk ikan diberi pakan perlakuan dengan feeding rate sebesar 3% dari bobot badannya dengan frekuensi pemberian dua kali sehari pada pukul 8.00 dan 17.00 WIB. Parameter yang diamati adalah Gonado Somatic Index (GSI), konsentrasi estradiol-17, konsentrasi protein vitelogenin, fekunditas dan viabilitas larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai GSI tertinggi selama penelitian diperoleh pada perlakuan D2 (9,94%) dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hasil analisis estradiol-17 dan vitelogenin pada perlakuan D2 mengindikasikan kematangan gonad lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Selanjutnya fekunditas tertinggi dihasilkan pada perlakuan D2 sebesar 81.953±164 butir dengan derajat penetasan 90,70±0,24 dan sintasan larva tertinggi (umur empat hari) yakni sebesar 92,94±0,064. Dengan demikian, suplementasi Spirulina dengan dosis 3% pada pakan yang dikombinasikan dengan Oodev dosis 15 IU adalah yang terbaik untuk mempercepat kematangan gonad induk dan menstimulasi kinerja reproduksi terutama pada perkembangan gonad, kualitas telur, larva, dan ketahanan hidup larva.
PERBAIKAN KUALITAS PAKAN DAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA DENGAN PENAMBAHAN ENZIM PROTEASE BAKTERI PADA PAKAN FORMULASI Titin Kurniasih; Nur Bambang Priyo Utomo; Zafril Imran Azwar; Mulyasari Mulyasari; Irma Melati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.588 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.87-96

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pemberian enzim protease bakteri pada pakan formulasi terhadap kecernaan nutrien, efisiensi pakan, dan pertumbuhan ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu pakan formulasi kontrol tanpa penambahan enzim (FK 28), pakan formulasi yang ditambah enzim protease yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus (FBc), pakan formulasi yang diberi enzim protease yang diproduksi oleh bakteri Staphylococcus epidermidis (FSe), pakan komersial berkadar protein 28% (KK 28), dan pakan komersial berkadar protein 31% (KK 31). Penelitian menggunakan ikan nila berukuran awal 4,07±0,25 g, dilakukan pada 15 buah akuarium berukuran 60 cm x 50 cm x 50 cm yang dilengkapi sistem resirkulasi selama enam puluh hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian enzim protease bakteri Bacillus cereus secara signifikan mampu meningkatkan efisiensi pakan dan pertumbuhan ikan nila dibandingkan dengan pakan kontrol. Kecernaan protein dan total pakan meningkat secara signifikan dengan adanya penambahan enzim protease bakteri Staphylococcus epidermidis dan Bacillus cereus. Penambahan enzim bakteri Staphylococcus epidermidis dan Bacillus cereus juga secara nyata meningkatkan retensi protein dan palatabilitas pakan formulasi. Sintasan tidak berbeda nyata di antara kelima perlakuan. Diperoleh kesimpulan bahwa enzim protease kedua bakteri tersebut efektif untuk meningkatkan kualitas pakan dan kinerja pertumbuhan ikan nila.
INDUKSI MATURASI BELUT SAWAH (Monopterus albus) DENGAN HORMON HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN DAN ANTIDOPAMIN Wiwin Kusuma Atmaja Putra; Agus Oman Sudrajattin; Nur Bambang Priyo Utomo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.692 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.2.2013.209-220

Abstract

Penelitian maturasi belut sawah (Monopterus albus) dengan Hormone human Chorionic Gonadotropin dan antidopamin dilakukan di Kolam Percobaan Babakan, Institut Pertanian Bogor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hormon hCG dan kombinasinya terhadap maturasi belut sawah. Penelitian ini dilakukan dengan metode ekperimental secara Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan kontrol (NaCl), hCG (dosis 20 IU/kg), antidopamin (AD) (dosis 0,01 mg/kg), dan hCG+AD (dosis 20 IU+0,01 mg/kg) dengan tujuh ulangan individu. Data dianalisis secara deskriptif dan ANOVA. Parameter uji pada penelitian ini di antaranya adalah konsentrasi estradiol-17β, gonado somatik index (GSI), hepatosomatik index (HSI), histologi gonad, tingkat kematangan gonad, diameter telur, tingkat kebuntingan, dan kualitas air (oksigen terlarut (DO), pH, amoniak, dan suhu). Hasil terbaik pada akhir penelitian ini adalah perlakuan hCG+AD dengan nilai konsentrasi estradiol-17β (13,63-95,49 pg/mL), GSI (1,25%), HSI (1,53%), TKG (IV), diameter telur (0,88 mm), dan tingkat kebuntingan (85,71%). Perlakuan kontrol dan antidopamin tidak berpengaruh dan hanya mampu mencapai tingkat kematangan gonad I. Hasil analisis parameter kualitas air adalah berkisar DO (5,32-5,58 mg/L), amoniak (0,558-0,978 mg/L), pH (6,06-6,36), dan suhu (27,80oC-27,94oC). Hasil ini menunjukkan bahwa hCG dapat menginduksi pematangan gonad belut sawah.