Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Tiga Pilar Kinerja Guru dalam Paradigma Peter Senge di Lembaga Pendidikan Katolik Kanisius Komsiah Dadi; Ria Asep Sumarni; Muhammad Japar; Dian Herdiati
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2025 (1)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v5i1.967

Abstract

Artikel ini membahas pentingnya membangun tiga pilar komitmen, kepuasan, dan loyalitasguru dalam meningkatkan kinerja di lembaga pendidikan Katolik, mengacu pada paradigma pembelajaran organisasi Peter Senge. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana ketiga pilar ini dapat diintegrasikan dalam praktik pendidikan untuk mendorong kinerja guru yang lebih baik. Metode yang digunakan adalah pendekatan metode kuantitatif. Survei dilakukan terhadap guru di enam Sekolah Katolik untuk mengukur jumlah guru yang memiliki komitmen, kepuasan kerja, dan loyalitas. Data dikumpulkan menggunakan google form dan dianalisis dengan teknik analisis dekriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya jumlah guru yang memiliki komitmen kuat berkontribusi pada kepuasan kerja yang lebih baik, yang pada gilirannya meningkatkan loyalitas guru terhadap institusi. Selain itu, penerapan prinsip-prinsip pembelajaran organisasi Senge, seperti visi bersama dan pembelajaran berkelanjutan, telah terbukti memperkuat ketiga pilar tersebut. Temuan ini memberikan rekomendasi bagi pengelola lembaga pendidikan Katolik untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan komitmen, kepuasan, dan loyalitas guru sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kinerja kelembagaan.
Guel Music and Dance as Agents of Social Change: Strengthening Social Cohesion and Cultural Sustainability in Central Aceh Herdiati, Dian; Nurlaili, Nurlaili; Musnaini , Sabariah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol. 25 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v25i2.24925

Abstract

This research aims to explore and analyse the role of Gayo music and dance performances as agents of social change in strengthening social cohesion and cultural sustainability within the Gayo community in Central Aceh. The research is motivated by the importance of the performing arts as a medium for preserving cultural identity and uniting communities, particularly in the face of the challenges posed by globalization, which threatens the sustainability of local traditions. The urgency of the research lies in the need to understand concrete strategies for utilizing traditional arts for social purposes, as well as to fill the gap in the literature regarding the unique elements of Guel music and dance in the context of social change. The research method employed was a mixed-methods approach with a sequential explanatory design, combining a quantitative survey of 176 participants with a qualitative phenomenological study of 25 participants. The study’s results showed that participation in Guel performances, particularly through the “Saturday Arts” and “Annual Festival” programs, significantly increased the community’s sense of belonging, cultural pride, and social involvement. Quantitative data analysis showed an increase in governance and conservation indicators by 13.6% and 23.6%, respectively, while qualitative data revealed Guel’s role in value education, gender inclusivity, and intercultural dialogue. The discussion relates this finding to Bourdieu’s theory of social capital, confirming that Guel functions as a social glue (bonding capital), a bridge between groups (bridging capital), and a transformer of cultural capital into social capital. This research recommends the development of inclusive cultural policies, the integration of traditional arts into the educational curriculum, and a community-based governance approach to ensure the sustainability of Guel music and dance as an intangible cultural heritage and a unifying force for society. 
ESTETIKA, ETIKA, DAN IDENTITAS DALAM PEMBELAJARAN MUSIK TRADISIONAL UNTUK ANAK USIA DINI Christina, Dina; Yetti, Eliendra; Herdiati, Dian
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8534

Abstract

Traditional music learning in early childhood plays an important role not only in the development of musical abilities, but also in the formation of character, emotional sensitivity, and the strengthening of cultural identity. This article aims to examine traditional music education from a philosophy of education perspective by positioning aesthetics, ethics, and identity as the three main pillars of arts education. The study employs a normative qualitative approach through a literature review and conceptual reflection on traditional music learning practices in early childhood education institutions in Indonesia. The findings indicate that traditional music functions as a holistic educational medium that integrates aesthetic experiences, the cultivation of moral virtues, and the reinforcement of children’s cultural identity. Aesthetic values are reflected in the process of appreciating harmony, rhythm, and musical expression, which foster children’s sensitivity and creativity. Ethical dimensions develop through collective musical practices that instill discipline, responsibility, cooperation, and empathy. Meanwhile, identity values play a role in strengthening a sense of nationalism and appreciation for local cultural heritage amid globalization. These findings affirm that traditional music learning is a sustainable educational strategy that supports the formation of well-rounded individuals. ABSTRAK Pembelajaran musik tradisional pada anak usia dini memiliki peran penting tidak hanya dalam pengembangan kemampuan musikal, tetapi juga dalam pembentukan karakter, kepekaan rasa, dan penguatan identitas budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pembelajaran musik tradisional dari perspektif filsafat pendidikan dengan menempatkan estetika, etika, dan identitas sebagai tiga pilar utama pendidikan seni. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif normatif melalui studi literatur dan refleksi konseptual terhadap praktik pembelajaran musik tradisional di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa musik tradisional berfungsi sebagai media pendidikan holistik yang mengintegrasikan pengalaman estetis, pembentukan kebajikan moral, serta penguatan jati diri budaya anak. Nilai estetika tercermin dalam proses apresiasi harmoni, ritme, dan ekspresi musikal yang menumbuhkan kepekaan dan kreativitas anak. Dimensi etika berkembang melalui praktik musikal kolektif yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan empati. Sementara itu, nilai identitas berperan dalam memperkuat rasa kebangsaan dan kecintaan terhadap warisan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran musik tradisional merupakan strategi pendidikan berkelanjutan yang mendukung pembentukan manusia seutuhnya.
Improving students’ interest in music subject through practical learning in junior high school Saputra, Dani Nur; Herdiati, Dian
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol. 49, No. 2
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to investigate problems and ways to increase students’ interest in music learning with practical learning methods. This study uses descriptive qualitative and quantitative (mixed) methods. Data were collected by means of questionnaires, observations and interviews. They were then analyzed by calculating the presentation of the success of the actions in this study. Indicator analysis consists of several aspects, including affective data (attitudes) obtained from observations, cognitive (knowledge) obtained from the students’ assessment, and the questionnaire analysis of the research sample. Researchers took a research sample at one of the schools in Jakarta. Then the researchers randomly selected 15 students from different classes in the school as research participants. The results showed that practical learning could increase students’ interest by 87% in category A with a very satisfying indexation when compared to the previous method applied by most teachers, the classical learning method. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji masalah dan berupaya untuk meningkatkan minat belajar musik siswa dengan metode pembelajaran praktek. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif (campuran). Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, observasi, dan wawancara. Pengumpulan data tersebut kemudian dianalisis dengan menghitung penyajian keberhasilan tindakan dalam penelitian ini. Analisis indikator terdiri dari aspek data afektif (sikap) yang diperoleh dari observasi dan aspek kognitif (pengetahuan) yang diperoleh dari penilaian siswa, serta hasil analisis angket sampel penelitian. Peneliti mengambil sampel penelitian di salah satu sekolah di Jakarta. Kemudian peneliti memilih secara acak 15 siswa dari kelas yang berbeda di sekolah tersebut sebagai objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran praktik dapat meningkatkan minat siswa sebesar 87% pada kategori A dengan indeksasi yang sangat memuaskan dibandingkan metode sebelumnya yang diterapkan oleh sebagian besar guru, yaitu metode pembelajaran klasikal.
PENGGUNAAN METODE DRILL PADA TEKNIK DASAR MEMAINKAN ALAT MUSIK TRADISIONAL POLOPALO DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER SMP Ladiku, Wahyu; Ohi, Rahmawati; Semiaji, Trubus; Herdiati, Dian; Karlan, La Ode
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9692

Abstract

The low level of students' basic technical skills in playing the traditional polopalo musical instrument at SMP Negeri 1 Tilongkabila is caused by the use of the ineffective lecture method in musical arts practice. This study aims to describe the implementation of the drill method to improve students' fine motor skills through extracurricular activities. Using a descriptive qualitative approach, this study involved ten eighth-grade students as the main subjects. The systematic research stages included planning a practice-based teaching module, implementing intensive training for eight meetings, evaluating individual technical achievements, and conducting ongoing instructional reflection. The research findings showed a significant increase in skill mastery gradually; at the fifth meeting the success rate reached 50 percent and jumped rapidly to 70 percent at the sixth meeting. Students successfully mastered stick holding techniques, hitting accuracy, hand movement coordination, and rhythmic accuracy in a stable manner. In addition to technical aspects, the implementation of this repetitive practice significantly increased students' discipline, activeness, and self-confidence. The main conclusion confirms that the drill method is very effective in forming essential muscle memory for beginners in playing traditional instruments. This strategy not only optimizes students' musicality, but also plays a strategic role as an effort to dynamically preserve Gorontalo's local cultural heritage amidst the current modernization of arts education in order to fortify the national identity for the younger generation in schools. ABSTRAK Rendahnya keterampilan teknik dasar siswa dalam memainkan alat musik tradisional polopalo di SMP Negeri 1 Tilongkabila disebabkan oleh penggunaan metode ceramah yang kurang efektif dalam praktik seni musik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi metode drill guna meningkatkan kemahiran motorik halus siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan sepuluh peserta didik kelas delapan sebagai subjek utama. Tahapan penelitian secara sistematis mencakup perencanaan modul ajar berbasis praktik, pelaksanaan latihan intensif selama delapan pertemuan, evaluasi capaian teknik individu, serta refleksi instruksional berkelanjutan. Temuan penelitian menunjukkan adanya peningkatan penguasaan keterampilan yang signifikan secara bertahap; pada pertemuan kelima tingkat keberhasilan mencapai 50 persen dan melonjak pesat menjadi 70 persen pada pertemuan keenam. Siswa berhasil menguasai teknik memegang stik, akurasi pukulan, koordinasi gerak tangan, serta ketepatan irama secara stabil. Selain aspek teknis, penerapan latihan berulang ini secara nyata meningkatkan kedisiplinan, keaktifan, dan kepercayaan diri peserta didik. Simpulan utama menegaskan bahwa metode drill sangat efektif dalam membentuk memori otot yang esensial bagi pemula dalam memainkan instrumen tradisional. Strategi ini tidak hanya mengoptimalkan musikalitas siswa, tetapi juga berperan strategis sebagai upaya pelestarian warisan budaya lokal Gorontalo secara dinamis di tengah modernisasi pendidikan seni saat ini guna membentengi identitas bangsa bagi generasi muda di sekolah.