Claim Missing Document
Check
Articles

Penatalaksanaan Anestesi pada Pembedahan Akustik Neuroma dengan Monitoring Saraf Kranialis Christanto, Sandhi; Suarjaya, I Putu Pramana; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3198.439 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.59

Abstract

Tumor di daerah Cerebello pontine Angle (CPA) mencakup kurang lebih 10% dari seluruh angka kejadian tumor primer intrakranial pada orang dewasa. Sebagian besar kasus tumor CPA (8090%) adalah akustik neuroma dan sisanya berupa meningioma, epidermoid, kista arakhnoid dan lain sebagainya. Akustik neuroma bersifat jinak namun dapat mengancam jiwa karena lokasinya yang berdekatan dengan struktur- struktur vital di daerah CPA. Pengelolaan anestesi pasien dengan neuroma akustik perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan seperti lokasi tumor yang berdekatan dengan struktur vital, posisi operasi dan risiko yang dapat ditimbulkan, risiko emboli udara selama tindakan operasi, gangguan hemodinamik akibat manuver pembedahan di regio infratentorial dan monitoring neurofiologis selama operasi untuk mencegah kerusakan saraf kranial didaerah tersebut. Wanita 46 th, berat badan 48 kg diagnosa tumor CPA kanan, dengan diagnosa banding akustik neuroma dan meningioma. Pasien mengeluh telinga kanan berdenging dan pendengaran menurun sejak 1 tahun yang lalu namun keluhan dan gejala neurologis lain tidak didapatkan. Pemeriksaan MRI didapatkan massa di daerah CPA dextra ukuran 2,2 x 1,2 x 2,2 cm yang mendesak saraf kranial V ke supero-medial. Tindakan pembedahan dengan monitoring saraf kranialis diperlukan untuk mengambil tumor dengan meminimalkan risiko kerusakan pada saraf kranialis yang ada disekitar tumor tersebut. Tujuan dari laporan kasus ini adalah membahas pengelolaan pasien yang dilakukan pembedahan di daerah CPA dan pertimbangan-pertimbangan anestesi yang berkaitan dengan tehnik diatas.Surgery Anesthesia Management on Acoustic Neuroma with Cranial Nerves MonitoringCerebellopontine angle tumor represent 10% of all adult primary intracranial tumor. Most common form of CPA tumor (8090%) is acoustic neuroma and the rest are meningiomas, epidermoid, arachnoid cyst and many others. Although acoustic neuroma is benign lesion, this tumor can bring threat to life because the complex anatomy and important neurovascular structures that traverse this space. Like all posterior fossa surgery, perioperative considerations of acoustic neuroma management related to anatomical complexity, patient positioning, the potential for venous-air embolism, brainstem dysfunctions, hemodynamic arousal caused by surgical maneuver and intraoperative neurophysiologic monitoring. A 46 years old woman, 48kg was diagnosed with right CPA tumor with differential diagnose between acoustic neuroma and meningioma. She complained of gradual loss of hearing in right ear and associated with tinnitus . Other neurologic defisit was not found. Right CPA mass, 2,2 x 1,2 x 2,2 cm size with pressure over fifth cranial nerve to supero-medial region was found in MRI examination. Surgical approach with intraoperative neuromonitoring need to be done in order to resect tumor while minimizing risk of cranial nerve injury. The purpose of this case report is to discuss management patient with CPA tumor and its anestetic considerations which are connected to the procedure.
Penatalaksanaan Anestesi untuk Operasi Tumor Fossa Posterior disertai Hidrosefalus Aulyan Syah, Bau Indah; Rahardjo, Sri; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2218.074 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i3.119

Abstract

Operasi tumor fossa posterior mempunyai permasalahan spesifik antara lain penekanan jalur aliran cairan serebrospinal sehingga terjadi hidrosefalus yang akan meningkatkan tekanan intrakranial. Seorang wanita 25 tahun, berat badan 52 kg masuk ke rumah sakit dengan keluhan utama kepala pusing yang dialami sejak 5 jam sebelum masuk rumah sakit disertai mual, muntah, telinga rasa berdengung, dan nyeri ulu hati. Hasil pemeriksaan MSCT kepala axial tanpa kontras ditemukan hidrosefalus non-communicating, tumor serebellum hemisfer kanan, curiga astrositoma, diagnosis banding medulloblastoma. Pada pemeriksaan MSCT kepala potongan aksial, coronal dan sagittal dengan kontras ditemukan massa tumor daerah fossa posterior, sangat mungkin suatu pilokistik serebelar astrositoma disertai hidrosefalus ringan, didiagnosis hidrosefalus tipe obstruksi dan tumor serebellum serta ditemukan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial dengan hidrosefalus, sehingga dilakukan pemasangan VP-shunt sebelum eksisi tumor. Teknik anestesi dilakukan dengan metode untuk mempertahankan perfusi otak sambil memelihara otak tetap rileks demi memfasilitasi pembedahan seperti hiperventilasi, pemberian mannitol 20% dan mempertahankan MAP yang adekuat. Operasi VP-shunt dalam posisi supine dan operasi fossa posterior dalam posisi prone berlangsung selama 4,5 jam. Dilakukan penundaan ekstubasi postoperatif. Ekstubasi dilakukan keesokan harinya di unit perawatan intensif. Pasien tersedasi dan terventilasi selama 14 jam. Tidak ditemukan adanya emboli udara vena. Pasca ekstubasi, pernapasan adekuat, hemodinamik stabil, dan tidak ada gangguan neurologis yang signifikan.Management of Anesthesia for Fossa Posterior Tumor with Hydrocephalus Surgery Fossa posterior tumor removal procedure may have spesific problem including obstruction of cerebral spinal fluid pathway, development of hydrocephalus and an increased intracranial pressure. A 25 year old woman, 52 kgs, admitted to the hospital with major complaint of dizziness occurred approximatelly 5 hours prior to hospital admission. The patient also suffered from nausea, vomiting, buzzing hearings, and heartburn sensation. The non-contrast MSCT revealed a non-communicating hydrocephalus, tumor of the right cerebellar hemisphere, suspected as astrocytoma with differential diagnosis of medullablastoma. From axial, coronal and sagittal view of MSCT with contrast, a tumor mass was found in the posterior fossa, and most likely to be considered as a polycystic cerebellar astrocytoma with mild hydrocephalus. She was diagnosed with obstructive type of hydrocephalus and cerebellar tumor with increased intracranial pressure signs due to hydrocephalus, and planned for VP shunt prior to the tumor removal. To maintain brain perfusion as well as to ensure brain relaxation, anesthesia management was done with several methods such as hyperventilation, administration of mannitol 20%, while maintaining adequacy of MAP. The VP shunting was conducted in supine position, whilst the posterior fossa excision in conducted in prone position. Both procedures were done in 4.5 hours. Postoperative extubation was postponed until the following day at the intensive care unit. The patient was sedated and ventilated for 14 hours. No sign of venous air embolisms. Post extubation on the next day, the patients breathing and hemodynamic statuses were both stabile and adequate, with no significant neurological defect.
Terapi Hiperosmolar pada Cedera Otak Traumatika Rachman, Iwan Abdul; Rahardjo, Sri; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2682.511 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i2.110

Abstract

Cedera otak traumatika merupakan kasus yang sering ditemukan yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hipertensi intrakranial dan edema serebral adalah manifestasi utama dari cedera otak berat, keduanya dikenal sebagai kontributor utama pada cedera otak sekunder dan memiliki luaran neurologis yang buruk. Tatalaksana pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial dan edema serebral akibat cedera otak traumatika yaitu mengontrol ventilasi, mempertahankan homeostasis otak dan fungsi tubuh, pemberian sedasi, serta terapi hiperosmolar. Manitol dikenal secara luas sebagai terapi utama pada terapi hipertensi intrakranial, namun larutan salin hipertonik dan natrium laktat hipertonik juga merupakan terapi alternatif yang potensial untuk terapi hipertensi intrakranial. Pemberian obat hiperosmolar pada pasien cedera kepala berat bertujuan untuk menurunkan kadar air dalam daerah interstisial otak akibat efek hiperosmolarnya sehingga terjadi penurunan tekanan intrakranial meskipun terdapat beberapa mekanisme lain yang kemungkinan juga terlibat dalam terjadinya penurunan tekanan intrakranial. Sekarang ini efektivitas cairan hiperosmotik dalam mengurangi edema pada jaringan yang pembuluh darahnya mengalami kerusakan masih dipertanyakan. Bahkan penggunaan obat-obatan tersebut sebagai terapi hiperosmolar diduga malah meningkatkan angka kematian karena dapat memperluas edema sehingga semakin memperburuk peningkatan tekanan intrakranial.Hyperosmolar Therapy in Traumatic Brain InjuryTraumatic brain injury is a common case and related with high morbidity and mortality. Intracranial hypertension and cerebral edema are the main manifestation from severe brain injury and known as main contributor for secondary brain injury, with detrimental neurological outcome. Management of elevated intracranial pressure and cerebral edema are controlling ventilation, maintaining brain homeostasis as well as body function, sedation, and hyperosmolar fluid therapy. Mannitol has been widely known as the main therapy for intracranial hypertension, showever, hypertonic saline and hypertonic sodium lactate are considered as potential alternative therapy for intracranial hypertension. The provision of hyperosmolar theraphy for severe head injury patients aims to reduce water content in the interstitial of the brain for its hyperosmolar effect that would decrease intracranial pressure, even though there probably other mechanism which involve for the decrease of intracranial pressure. In present day, the effectiveness of hyperosmolar fluid in reducing edema in the damaged tissue with impared blood vessel remains questionable. Moreover, the usage of those medication as hyperosmolar therapy allegedly increases mortality because it could adjuct the edema which would exacerbate extension of edema which exacerbate the increase of intracranial pressure.
Pulih Sadar Pascaanestesi yang Tertunda Permatasari, Endah; Lalenoh, Diana C.; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.576 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol6i3.48

Abstract

Dengan penggunaan obat-obatan anestesi dengan kerja singkat, umumnya pasien dapat segera dibangunkan pascaoperasi dan pembiusan. Namun dapat terjadi proses pulih sadar yang tertunda karena berbagai penyebab. Proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi masih merupakan suatu masalah bagi ahli bedah dan anestesi. Seharusnya pada akhir operasi dan pembiusan, pasien sudah kembali ke tingkat kesadaran penuh, mampu mempertahankan reflex jalan nafas dengan ventilasi yang adekuat dengan nyeri yang terkendali. Waktu proses pulih sadar pascaanestesi dapat bervariasi dan tergantung dari berbagai faktor risiko terkait kondisi pasien prapembedahan, jenis anestesi yang diberikan dan lama operasi. Pulih sadar pascaanestesi yang tertunda terutama disebabkan oleh medikasi dan obat-obatan anestesi pada waktu perioperatif. Penyebabnya multifaktor dan obat-obatan anestesi tidak selalu menjadi penyebab. Apabila faktor penyebab lain telah dapat disingkirkan maka wajib dipertimbangkan yang menjadi penyebab adalah kelaian intrakranial akut. Sembari mencari penyebab, tatalaksana awalnya adalah mempertahankan jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Walaupun proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi jarang ditemukan, mengenali gejala dan penyebab menjadi wajib untuk dapat dilakukan tatalaksana proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi sehingga dapat mengurangi morbiditas dan mortalitasnya. Diagnosis yang akurat adalah kunci tatalaksana dan ahli anestesi memegang peran penting dalam mencegah terjadinya komplikasi anestesi ini.Delayed Emergence from AnaesthesiaThe use of fast acting general anaesthetic agents leads to patients awaken quickly in the post operative period. However sometimes recovery is protracted and the list of possible causes in long. Delayed emergence from anaesthesia remains a major cause of concern both for anaesthesiologist and surgeon. Ideally, on completion of surgery and anaesthesia, the patient should be awake or easily arousable, protecting the airay, maintaining adequate ventilation and with their pain under control. The time taken to emerge to fully consciousness is affected by patient factors, anaesthetic factors, duration of surgery and painfull stimulation. The principal factor for delayed awakening from anaesthesia assumed to be the medications and anaesthestic agents used in the perioperatif period. Delayed emergene from anaesthesia is often multifactorial and anaesthetic agent may not always be the culprit. When other causes are excluded, the possibility acute intracranial event should be considered. While the specific cause is being sought , primary management is always support of airway, breathing and circulation. Although delayed emergence from general anesthesia is not uncommon, recognizing the cause and instituting timely treatment is imperative in condition where delayed therapy can increase morbidity and mortality. Accurate diagnosis is the key of management and anesthesiologist play a key role in the prevention of this anesthetic complication.
Peran Logistic Performance Terhadap Customer Loyalty dengan Customer Satisfaction sebagai Variabel Intervening (Studi Kasus E-Commerce) Narohito, Yosapat Parningotan; Rahardjo, Sri; Arubusman, Dian Artanti
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 8 No. 1 (2025): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/rrj.v8i1.1885

Abstract

This study aims to analyze the effect of logistic performance on Customer Loyalty in the context of e-commerce, with Customer Satisfaction as a mediating variable. Three dimensions of logistic performance are examined: Logistic Service Quality, Cost Delivery, and Integration Process. A quantitative approach is used with descriptive and inferential analysis techniques. Data were collected through an online survey of logistics service users in e-commerce platforms and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results indicate that Logistic Service Quality has a significant negative direct effect on Customer Loyalty, suggesting an anomaly in customer expectations toward logistics services. Conversely, Cost Delivery and Integration Process show significant positive effects on Customer Loyalty. Regarding Customer Satisfaction, Logistic Service Quality and Cost Delivery have positive impacts, while Integration Process has a negative influence. Furthermore, Customer Satisfaction significantly increases Customer Loyalty, reinforcing its mediating role in the model. The mediation analysis reveals that Customer Satisfaction successfully mediates the relationship between Logistic Service Quality and Customer Loyalty, turning a negative direct effect into a positive indirect one. However, for the Integration Process, an indirect negative effect on Customer Loyalty through Customer Satisfaction is observed, indicating that complex or user-unfriendly systems may reduce Customer Satisfaction and loyalty. These findings imply that logistics companies should not only focus on cost efficiency and technological integration but also consider customer comfort and satisfaction to foster long-term loyalty in the e-commerce ecosystem.
Strategi Optimal Peningkatkan Efisiensi di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Makassar dengan Menggunakan Discrete-Event Simulation Purwanto, Erfien; Adrianto, Luky; Rahardjo, Sri
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 29 No. 1 (2017): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v29i1.316

Abstract

Abstrak: Peran transportasi laut dalam sektor industri di Indonesia sangatlah penting, mengingat kondisi geografi yang dimiliki Indonesia, dimana bagian terbesar adalah laut dibandingkan dengan daratan. Berbicara mengenai transportasi laut, hal ini tidak akan lepas dari pembahasan elemen penting di dalamnya, yaitu pelabuhan, dimana pelabuhan memiliki peranan penting di dalam logistik maritim. Pada penelitian ini akan membahas mengenai strategi untuk mengurangirisiko antrian serta konsekuensi ekonomi terutama bagi pengelola terminal.Berdasarkan hasil simulasi yang dijalankan dengan menggunakan software Arena 14.0, yang mewakili aktivitas kapal dari waktu persiapan penyandaran, waktu persiapan loading/discharging waktu proses loading/discharging, waktu penyelesaian dokumen kargo dan kapal, dan waktu persiapan sailing/shiftingdiTBBM Makassar diperoleh bahwa dengan kondisi eksisting saat ini BOR untuk Jetty I adalah 72% dan Jetty II adalah 77% dengan demurrage per tahun adalah USD 5,740,866.00, kondisi ini mencerminkan kondisi yang melebihi dari batas ideal. Berdasarkan hasil analisa dapat diperoleh skenario kedua memberikan hasil yang optimum yang dapat menekan BOR untuk Jetty I adalah 51% dan Jetty II adalah 62%, serta mengurangi beban demurrage menjadi sebesar USD 2,311,669.00 atau penurunan sebesar 59.7% dari kondisi awal.Abstract : The role of sea transportation in the industrial sector in Indonesia is very important, given by the geographical coverage of Indonesia, which is ocean broader than its land. Discusing about sea transportion, it can not be separated from the discussion of the important elements, i.e. ports, where the port has an important role in maritime logistics. The purpose of this research is strategy to reduce the risk of queues as well as economic consequences, especially for terminal management. Based on simulations run using software Arena 14.0 representing activity start from berthing/unberthing, preparing of loading/ unloading, loading/ unloading process, carg/vessel document, and sailing/ shifting in TBBM Makassar obtained that the existing condition of BOR at jetty I calculation is 72% and jetty II is 77%, with demurrage per year is US$ 5,740,866.00, of which these conditions have exceeded the limits of the ideal conditions. From the analysis of simulation optimum scenarios concluded that the second scenario provides optimum results that can suppress conditions of BOR at jetty calculation is 51% and jetty II is 62%, and can minimize the total of demurrage to US$ 2,311,669.00 or a decrease of 59.7% from initial conditions.
Peluang dan Tantangan Angkutan Laut Luar Negeri oleh Kapal Berbendera Indonesia terhadap Barang yang Diangkut dari Pelabuhan Belawan Putra, Bina; Soeboer, Deni Achmad; Rahardjo, Sri
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 29 No. 1 (2017): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v29i1.458

Abstract

Pelabuhan Belawan sebagai pintu gerbang perdagangan internasional  di wilayah Indonesia bagian barat merupakan pintu gerbang untuk eksport Indonesia ke berbagai belahan dunia khususnya komoditas yang berasal dari propinsi Sumatera Utara dan sekitarnya. Sejak azas cabotage diberlakukan di Indonesia pada tahun 2005, belum pernah kapal-kapal berbendera Indonesia menguasai lalu lintas angkutan laut luar negeri (eksport), kapal asing selalu mendominasi pangsa muatan ekspor secara nasional. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk melihat profile kapal-kapal  berbendera asing  yang membawa ekspor Indonesia  dari Pelabuhan Belawan dan perkembangannya selama 3 tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan selama tiga tahun terakhir dari 2013 sampai 2015, kapal asing masih menguasai pangsa muatan lalu lintas angkutan laut luar negeri khususnya yang diangkut dengan menggunakan kapal kontainer. Tahun 2013, 94% barang ekspor dalam kontainer diangkut oleh kapal berbendera asing ,ditahun 2014 turun menjadi 88 % dan kembali naik 93 % ditahun 2015. Tingginya pangsa muatan yang di dapat oleh kapal berbendera asing menjadi peluang yang harus ditanggapi secara serius oleh pemerintah dengan berbagai macam tantangan termasuk diantaranya kapasitas kapal nasional yang tidak bertambah.  
Evaluasi Masa Konsesi Pada Pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru Ambarini, Ronia; Suwandi, Ruddy; Rahardjo, Sri
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 26 No. 12 (2014): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v26i12.956

Abstract

Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan utama dan tersibuk di Indonesia berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor maupun barang antar pulau. KapasitasTerminal Petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok mampu menampung sebesar 4,5 juta TEUs. Undang-Undang Nomor 17/2008 tentang Pelayaran mereformasi sistem pelabuhan di Indonesia yaitu menghapus monopoli dan membuka kesempatan bagi partisipasi sektor swasta. Masa konsesi sangat penting, karena terkait dengan kepentingan pemerintah sebagai pemilik proyek maupun pihak swasta sebagai pemegang hak konsesinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang usaha dalam pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru dan untuk mengetahui pengaruh kebijakan, kelayakan proyek dan kinerja operasional baik secara parsial maupun simultan terhadap masa konsesi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif sedangkan analisis data Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan software Smart PLS versi 2.0. Hasil dari analisis diperoleh kesimpulan bahwa persepsi responden Undang-Undang Nomor 17/2008 tentang Pelayaran berikut turunannya, memberikan peluang usaha sangat besar bagi sektor swasta yaitu berdirinya perbengkelan petikemas, pencucian petikemas, pengurusan jasa dokumen, restoran dan kebijakan, kelayakan proyek dan standar kinerja operasional pelabuhan terbukti secara parsial dan simultan berpengaruh signifikan terhadap masa konsesi. Hal ini jika pemenuhan kebijakan diimbangi dengan peningkatan berbaikan kelayakan proyek dan standar kinerja operasional pelabuhan, maka diperoleh masa konsesi yang wajar sesuai dengan peraturan yang ada. Masa konsesi dalam penetapannya harus memberikan kondisi yang saling menguntungkan bagi pihak yang bekerjasama terutama bagi pemerintah dan PT. Pelabuhan Indonesia II.
PENGARUH BIAYA SDM, BIAYA KONSESI, DAN JUMLAH PENDAPATAN TERHADAP LABA SERTA IMPLIKASINYA PADA KEY PERFORMANCE INDICATOR PERUSAHAAN WAREHOUSE LINI 1 Taufik Perdana Budiman, Bambang; Maemunah, Siti; Rahardjo, Sri; Suhalis, Adenan; Tatiana, Yana; Manurung, Laurensius
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i1.47

Abstract

KPI merupakan alat navigasi berupa metrik finansial ataupun nonfinansial yang memiliki skala dan bersifat kuantitatif sebagai alat ukur yang menilai dan mengevaluasi kinerja organisasi. Untuk mencapai kinerja yang baik maka jumlah pendapatan dan biaya operasional perlu dikelola dengan baik. Penelitian ini dilakukan di PT XYZ yang merupakan perusahaan Groundhandling terbesar di Indonesia dengan salah satu segmen usahanya adalah Warehouse Lini 1 yang beroperasi di bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif, adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh sebanyak 72 sampel. Data dihimpun melalui data sekunder milik perusahaan selama tujuh puluh dua bulan (2017-2022) yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Penelitian menggunakan teknik analisis statistik deskriptif, uji hipotesis, dan path analysis atau analisis jalur. Hasil penelitian yang pertama, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung biaya sumber daya manusia (X1) terhadap Key Performance Indicator (Y). Biaya Sumber Daya Manusia berkontribusi langsung pada kinerja keuangan sebesar 85,5%. Hasil penelitian yang kedua, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung biaya konsesi (X2) terhadap Key Performance Indicator (Y). Biaya konsesi berkontribusi langsung pada Key Performance Indicator sebesar 85,5%. Hasil penelitian yang ketiga, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung Jumlah Pendapatan (X3) terhadap Key Performance Indicator (Y) sebesar 85,5%. Hasil penelitian yang keempat, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung Biaya konsesi (X2) dan Jumlah Pendapatan (X3) terhadap jumlah Laba (Z) sebesar 72%. Sisanya 28% berasal dari faktor-faktor lain.
Total Intra Venous Anesthesia (TIVA) Target Controlled Infusion (TCI) Propofol Remifentanil untuk Seksio Sesarea Emergensi pada Pasien Meningioma dengan Peningkatan Tekanan Intrakranial Aryasa, Tjahya; Fajar Apsari, Ratih Kumala; Rahardjo, Sri
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2536.971 KB) | DOI: 10.24244/jni.v9i1.251

Abstract

Meningioma sangat jarang ditemukan pada kehamilan, tapi kehamilan dapat memicu pertumbuhan meningioma. Ibu hamil yang menjalani seksio sesarea dengan penyulit tumor otak merupakan indikasi anestesi umum dengan kombinasi Target Controlled Infusion (TCI) propofol dan remifentanil. Propofol pada seksio sesarea dapat mengatasi respons simpatis akibat laringoskopi. Remifentanil berhubungan dengan hasil luaran lebih baik pada neonatus dari opioid lainnya. Perempuan 34 tahun, hamil 37 minggu datang dengan keluhan utama nyeri perut hilang timbul disertai kebutaan dan tanda peningkatan tekanan intrakranial tanpa penurunan kesadaran. Tidak dilakukan CT-Scan kepala karena direncanakan seksio sesarea emergensi. Dilakukan seksio sesarea dengan teknik anestesi umum menggunakan TCI propofol mode Marsh dengan target efek 34 mcg/ml dan TCI remifentanil dengan target 23 ng/ml, dan rocuronium dengan dosis 0,7 mg/kgBB. Pada menit kesepuluh, lahir bayi laki-laki, dengan berat badan 2000 gram dan skor APGAR 78. Selama operasi hemodinamik stabil dan tidak ada komplikasi. pascabedah dilakukaan pemeriksaan CT-scan dan ditemukan meningioma yang besar. Teknik ini memberikan hasil luaran pada neonatal dan ibu yang baik.Total Intra Venous Anethesia (TIVA) Target Controlled Infusion (TCI) with Propofol Remifentanil for Emergency Caesarean Section in Meningioma Patient with Increase Intracranial PressureAbstractMeningiomas are very rare in pregnancy, but pregnancy triggers the growth of meningiomas. Pregnant women who undergo cesarean section complicated with brain tumor are an indication of general anesthesia with Target Controlled Infusion (TCI) propofol and remifentanil. Propofol can blunt sympathetic response due to laryngoscopy. Remifentanil has a better outcomes in neonates than other opioids. A 34-year-old woman, 37-weeks pregnant presented with uterine contractions accompanied with blindness and signs of increased intracranial pressure without decreased consciousness. Head CT scan was not performed because an emergency cesarean section was planned. Caesarean section was performed with general anesthesia using Target Controlled Infusion (TCI) Marsh mode propofol with a target effect of 3-4 mcg/ml and remifentanil TCI with a target of 2-3 ng/ml, and rocuronium 0.7 mg/kg. At the tenth minute, a male baby was born, weighing 2000 grams and an APGAR score of 7-8. During surgery, the hemodynamic was stable without complications. Postoperatively, a CT scan was performed and a large meningioma was found. This technique provided good neonatal and maternal outcome outcomes.
Co-Authors A Himendra Wargahadibrata Adi Hidayat Adi, Erman Noor Adriman, Silmi Adriman, Silmi Afra, Syeda Maria Ahmad Agnesha, Fahmi Ambarini, Ronia Anindita, Triatma Arief, Budi Arshad, Muhammad Aulyan Syah, Bau Indah Aulyan Syah, Bau Indah Ayu, Rifana Bambang Suryono, Bambang Bestari, Viqy Esha Bhirowo Yudo Pratomo Bijaksana, Gena Bimarso, Wahyono Budianti, Nugrahaeni Calcarina Fitriani Retno Wisudarti Chamsudi, Danie Hayam Mada Christanto, Sandhi Christanto, Sandhi Dewi Yulianti Bisri Dian Artanti Arubusman, Dian Artanti Diana C. Lalenoh, Diana C. Diana Lalenoh Dinar Dewi Kania Edhie Budi Setiawan, Edhie Budi Fachrial, Peppy Fadhil, Dimas Nu’man Faturachman, Muhammad Rafli Firdaus, Riyadh Firdaus, Riyadh Fithrah, Bona Akhmad Fithrah, Bona Akhmad Fitri Sepviyanti Sumardi Francis Tantri, Francis Fuadi, I Fuadi, I Gunawan, Fanny Hamzah, Hanzah Handayani, Sri Hartono, Pinter Herlambang, Panji Hisam, Muhammad Yusuf Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan Ikhwandi, Arif Indrawan, Rully Isngadi Iwan Abdul Rachman Iwan Fuadi Jasa, Zafrullah Kany Jasa, Zafrullah Kany Kadarisman, Muh Laksono, Buyung Hartiyo Lalenh, Diana C. Larasati, Kinanthi Liza, Helda Luky Adrianto Mahmud Mahmud Malisan, Johny Mangastuti, Rebecca Sidhapramudita Manurung, Laurensius Muhammad Thamrin Mulyono Narohito, Yosapat Parningotan Nasution, Syahrial Nur, Muhammad Ikhwan Nuryawan, Iwan Oetoro, Bambang J. Oetoro, Bambang J. P, Inggita Dyah Parhusip, Veronica Permatasari, Endah Permatasari, Endah Prasadja Ricardianto, Prasadja Prasetya, Sandie Prayunanto A.N, Eko Purbanuara Parlindungan Sitorus Purwa Saputra, Datep Purwanto, Erfien Puspita, Amelia Tri Putra, Bina Putri, Dini Handayani Putu Pramana Suarjaya Radian Ahmad Halimi Rahayu, Solihah Sari Ratih Kumala Fajar Apsari Restu S, Meta Rini, Isworo Ruddy Suwandi Rudita, Muhammad Rumpoko, Triaji Mudo Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Santoso, Arief Hariyadi Sectio, Devin Igel Septika, Rafidya Indah Setiandari, Kristina Setyarto, Aries Siti Helmyati Siti Maemunah Soeboer, Deni Achmad Subekti, Bambang Eko Subekti, Bambang Eko Sudadi Sudadi Sudadi Suhalis, Adenan Suharso, Pamungkas Hary Sujarwanto Sujarwanto, Sujarwanto Sulam, Munyati Sunartejo, Bayu Suyasa, Agus Baratha Suyasa, Agus Baratha Syafruddin Gaus Tatang Bisri Taufik Perdana Budiman, Bambang Tjahya Aryasa Widiastuti, Monika - Winarso, Achmad Wahib Wahju Winarso, Achmad Wahib Wahju Wrgahadibrata, A Himendra Yana Tatiana, Yana Yosiyanto, Robi Yunita Widyastuti Yusmein Uyun Zaki, Wildan Arsyad