Claim Missing Document
Check
Articles

Daya Hambat Infusa Daun Dalundung (Clerodendrum fragrans) terhadap Pertumbuhan Escherichia Coli: Inhibitory Power of Dalundung (Clerodendrum fragrans) Leaf Infusion on the Growth of Escherichia Coli Meliani, Harnum; Kanan, Maria; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.390

Abstract

Daun dalundung merupakan salah satu tanaman lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat Luwuk sebagai sayuran dan dipercaya memiliki khasiat obat tradisional. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa daun ini mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri infusa daun dalundung terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro, baik melalui metode difusi (sumuran) maupun metode dilusi (pengenceran bertingkat). Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium dengan empat variasi konsentrasi infusa daun dalundung (22%, 16,5%, 11%, dan 5,5%) serta dua kontrol, yaitu kontrol positif (amoksisilin) dan kontrol negatif (akuades steril). Uji daya hambat dilakukan dengan metode difusi sumuran untuk mengukur zona hambat pertumbuhan bakteri, sedangkan metode dilusi digunakan untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menilai diameter zona hambat dan keberadaan pertumbuhan koloni pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daun dalundung memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat tertinggi pada konsentrasi 16,5% sebesar 7,8 mm yang tergolong kategori sedang. Namun, uji dilusi menunjukkan bahwa tidak ada konsentrasi yang mencapai nilai KBM, sehingga efek antibakteri infusa daun dalundung bersifat bakteriostatik. Hasil ini menegaskan bahwa pelarut air hanya mengekstraksi senyawa polar seperti flavonoid dan tanin yang berperan dalam aktivitas penghambatan. Disarankan penelitian lanjutan menggunakan pelarut organik (etanol atau metanol), uji fitokimia kuantitatif, dan metode mikrodilusi spektrofotometri untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dan potensi antibakteri yang optimal. Dalundung leaves are a local plant widely consumed by the Luwuk people as a vegetable and are believed to have traditional medicinal properties. Phytochemical analysis shows that these leaves contain various secondary metabolites such as flavonoids, tannins, saponins, alkaloids, and essential oils that have the potential to act as natural antibacterials that can inhibit the growth of microorganisms. Based on this, this study aims to determine the antibacterial activity of dalundung leaf infusion on the growth of Escherichia coli in vitro, both through the diffusion method (well) and the dilution method (multiple dilutions). This study used a laboratory experimental design with four variations in the concentration of dalundung leaf infusion (22%, 16.5%, 11%, and 5.5%) and two controls, namely a positive control (amoxicillin) and a negative control (sterile aquadest). The inhibitory test was carried out using the well diffusion method to measure the inhibition zone of bacterial growth, while the dilution method was used to determine the Minimum Inhibitory Concentration and Minimum Bactericidal Concentration. The observation data were analyzed descriptively quantitatively by assessing the diameter of the inhibition zone and the presence of colony growth in each treatment. The results showed that dalundung leaf infusion had antibacterial activity against E. coli at all test concentrations, with the highest inhibition zone at a concentration of 16.5% of 7.8 mm, which is classified as moderate. However, the dilution test showed that no concentration reached the MBC value, so the antibacterial effect of dalundung leaf infusion was bacteriostatic. These results confirm that the water solvent only extracts polar compounds such as flavonoids and tannins that play a role in inhibitory activity. Further research is recommended using organic solvents (Ethanol or Methanol), quantitative phytochemical tests, and spectrophotometric microdilution methods to obtain more accurate results and optimal antibacterial potential.
Efektivitas Ekstrak Daun Jarak Kepyar (Ricinus communis linn) terhadap Mortalitas Larva Culex Sp.: Effectiveness of Castor Leaf Extract (Ricinus communis linn) on the Mortality of Culex sp. Larvae Makka, Asmaul Husna; Dwicahya, Bambang; Syahrir, Muhammad; Kanan, Maria; Utama, Deddy Alif
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.397

Abstract

Nyamuk Culex sp. merupakan salah satu vektor penyakit menular seperti filariasis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Larva Culex sp. hidup di perairan yang mengandung bahan organik dan aktif memakan mikroorganisme serta kotoran organik. Upaya pengendalian larva umumnya menggunakan larvasida kimia, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat menimbulkan resistensi dan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif larvasida alami yang lebih aman dan ramah lingkungan, salah satunya berasal dari tanaman jarak kepyar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun jarak kepyar terhadap mortalitas larva Culex sp. Penelitian menggunakan metode eksperimen sejati dengan rancangan Posttest Only Control Group Design. Sampel berupa larva Culex sp. instar III dan IV sebanyak 25 ekor per kelompok perlakuan. Ekstrak daun jarak kepyar dibuat dengan metode maserasi dingin dan diuji pada dua konsentrasi, yaitu 138 ppm dan 453 ppm, serta disertai kontrol positif dan negatif. Data mortalitas dianalisis menggunakan uji ANOVA dan Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas larva meningkat seiring peningkatan konsentrasi, yaitu pada instar III sebesar 5,33% (138 ppm) dan 10,67% (453 ppm), sedangkan pada instar IV sebesar 4% (138 ppm) dan 8% (453 ppm). Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi > 0,05, yang berarti tidak terdapat perbedaan nyata antar konsentrasi maupun antar instar. Kesimpulannya, ekstrak daun jarak kepyar belum efektif sebagai larvasida terhadap larva Culex sp. karena tingkat kematian masih di bawah nilai LC₅₀ dan LC₉₀. Disarankan penelitian lanjutan dengan konsentrasi ekstrak lebih tinggi, waktu paparan lebih lama, serta uji fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang berpotensi sebagai larvasida nabati. Culex sp. mosquitoes are one of the vectors of infectious diseases such as filariasis, which remains a public health problem in Indonesia. Culex sp. larvae live in waters containing organic matter and actively feed on microorganisms and organic waste. Larvae control efforts generally use chemical larvicides, but long-term use can cause resistance and negative impacts on the environment. Therefore, safer and more environmentally friendly natural larvicides are needed, one of which is derived from the castor bean plant. This study aims to determine the effectiveness of castor bean leaf extract on the mortality of Culex sp. larvae. The study used a true experimental method with a Posttest Only Control Group Design. Samples were 25 instar III and IV Culex sp. larvae per treatment group. The castor bean leaf extract was prepared using the cold maceration method and tested at two concentrations, namely 138 ppm and 453 ppm, and accompanied by positive and negative controls. Mortality data were analyzed using ANOVA and Mann–Whitney U tests. The results showed that larval mortality increased with increasing concentration, namely in instar III by 5.33% (138 ppm) and 10.67% (453 ppm), while in instar IV by 4% (138 ppm) and 8% (453 ppm). Statistical analysis showed a significance value > 0.05, which means there was no significant difference between concentrations or between instars. In conclusion, castor bean leaf extract is not yet effective as a larvicide against Culex sp. larvae because the mortality rate is still below the LC₅₀ and LC₉₀ values. Further research is recommended with higher extract concentrations, longer exposure times, and phytochemical tests to identify active compounds that have the potential as botanical larvicides.
Gambaran Gangguan Pendengaran pada Karyawan di PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk : Description of Hearing Loss in Employees at PT Luwuk Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Irwan, Fitri Ramadani; Kanan, Maria; Tongko, Mirawati; Sakati, Sandy Novriyanto; Balebu, Dwi Wahyu; Salamat, Ferdy
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.401

Abstract

Gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan salah satu dampak lingkungan kerja yang tidak aman dan menjadi isu penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Data WHO (2023) menunjukkan sekitar 430 juta orang mengalami gangguan pendengaran dan diperkirakan meningkat hingga 700 juta pada tahun 2050. Industri pembangkit listrik termasuk sektor dengan tingkat kebisingan tinggi yang berisiko menimbulkan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gangguan pendengaran pada karyawan PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan teknik total sampling terhadap 66 pekerja aktif. Pemeriksaan pendengaran dilakukan menggunakan hearing test berbasis frekuensi suara (Pitch/Hz) dan audiometri tutur, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa pada telinga kanan, sebagian besar pekerja memiliki pendengaran normal (78,6%), sedangkan 16,1% mengalami gangguan pendengaran ringan dan 5,4% sedang. Pada telinga kiri, 87,5% pekerja memiliki pendengaran normal, 10,7% mengalami gangguan ringan, dan 1,8% sedang. Secara keseluruhan, terdapat 19,7% pekerja yang mengalami gangguan pendengaran ringan hingga sedang pada salah satu atau kedua telinga. Pemeriksaan audiometri tutur menunjukkan seluruh pekerja masih mampu mengenali dan memahami suara dengan baik. Gangguan pendengaran diduga berkaitan dengan paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas 85 dBA. Oleh karena itu, perusahaan disarankan melakukan deteksi dini secara berkala, pengendalian kebisingan, serta meningkatkan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri. Noise-induced hearing loss is one of the impacts of unsafe working environments and remains an important issue in occupational health and safety. According to the World Health Organization (2023), approximately 430 million people worldwide experience hearing impairment, and this number is projected to increase to 700 million by 2050. Power generation industries are among the sectors with high noise exposure, placing workers at risk of hearing disorders. This study aimed to describe the occurrence of hearing disorders among employees at the Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Luwuk. A descriptive observational study was conducted using a total sampling technique involving 66 active workers. Hearing assessments were performed using frequency-based hearing tests (Pitch/Hz) and speech audiometry. Data were analyzed using univariate analysis. The results showed that in the right ear, 78.6% of workers had normal hearing, while 16.1% experienced mild hearing loss and 5.4% had moderate hearing loss. In the left ear, 87.5% of workers had normal hearing, 10.7% had mild hearing loss, and 1.8% had moderate hearing loss. Overall, 19.7% of workers experienced mild to moderate hearing loss in one or both ears. Speech audiometry indicated that all workers (100%) were still able to recognize and understand speech sounds. Hearing disorders were suspected to be associated with noise exposure exceeding the permissible exposure limit of 85 dBA. Therefore, regular early detection, effective noise control measures, and strict use of personal protective equipment are strongly recommended.
Larvicidal Activity of Young and Old Leaves of Ricinus communis linn (Castor) with Ethanol, Aquades, Ethyl Acetate, and N-hexane solvents against Aedes sp. Dwicahya, Bambang; Arsin, A. Arsunan; Ishak, Hasanuddin; Hamid, Firdaus; Kanan, Maria; Mallongi, Anwar; Maria, Ida Leida; Birawida, Agus Bintara; Syahrir, Muhammad
Public Health of Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): January - March
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v12i1.1412

Abstract

Background: Dengue fever remains a major public health problem in tropical regions, including Indonesia, where vector control relies heavily on synthetic larvicides that pose environmental and health concerns. Plant-based larvicides have emerged as promising alternatives; however, comparative evidence regarding the influence of solvent polarity and leaf developmental stage on larvicidal efficacy remains limited. Objectives: This study evaluated the larvicidal activity of young and old castor bean leaf extracts obtained using different solvents against Aedes sp. larvae. Method: A laboratory-based experimental study was conducted following WHO guidelines for mosquito larvicide testing. Young and old leaves of castor were extracted separately using n-hexane, ethyl acetate, ethanol, and distilled water through multistage maceration. Third-instar Aedes sp. larvae were exposed to graded concentrations (75–200 ppm) of each extract, with 25 larvae per treatment and three replications. Larval mortality was recorded hourly for 24 hours. Probit analysis was used to determine LC₅₀ and LC₉₀ values with 95% confidence intervals, and differences among treatments were analyzed using one-way ANOVA (p < 0.05). Results: All extracts exhibited larvicidal activity against Aedes sp., with efficacy varying according to solvent type and leaf age. Ethanol extracts of old leaves produced the highest larval mortality, while ethyl acetate extracts of young leaves showed the lowest LC₅₀ values. Phytochemical screening confirmed the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and steroids in most extracts. LC₅₀ values ranged from 131.403 to 410.225 ppm, whereas LC₉₀ estimates were substantially higher and exceeded the tested concentration range, indicating extrapolation beyond observed data.  Conclusion: The larvicidal effectiveness of castor leaf extracts against Aedes sp. is influenced by both solvent polarity and leaf developmental stage. Old leaves extracted with ethanol and young leaves extracted with ethyl acetate demonstrated comparatively higher larvicidal potential. These findings support the potential of castor as a botanical larvicide, although further studies incorporating standard larvicide controls, quantitative phytochemical analysis, and field validation are required before operational application.   Keywords: Aedes sp; ricinus communis linn; castor
Perilaku Seksual Tenaga Kerja Bongkar Muat Pelabuhan dengan Riwayat Penyakit Menular Seksual di Kabupaten Banggai: Sexual Behavior of Docker with Sexual Infected History in Banggai Regency Sombeng, Supardi; Herawati, Herawati; Sakati, Sandi Novryanto; Dwicahya, Bambang; Kanan, Maria; Ramli, Ramli
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v9i2.12

Abstract

Perilaku seksual dapat beresiko terjadinya Penyakit menular seksual (PMS) bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral, maupun anal. Kasus Penyakit Menular Seksual yang ditemukan pada Tenaga Kerja Bongkar Muat Pelabuhan yang pernah menderita yaitu sebanyak 24 orang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku seksual Tenaga Kerja Bongkar Muat Pelabuhan yang pernah menderita penyakit menular seksual di Kabupaten Banggai. Lokasi penelitian dilakukan di kabupaten Banggai pada tahun 2016. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-November tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara mendalam dan direkam. Jumlah informan 17 orang, yang tidak bersedia diwawancara sebanyak 6 orang dan 1 orang telah meninggal dunia informan kunci sebanyak 2 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan sudah melakukan perilaku seksual yang beresiko yaitu perilaku seksual yang dilakukan secara berganti-gantian pasangan serta tidak menggunakan alat kontrasepsi dan terakhir kali informan melakukan hubungan seksual dengan wanita yang beresiko yaitu wanita pekerja seksual. Masyarakat diperlukan mendapatkan infomasi tentang perilaku-perilaku seksual yang beresiko pada kesehatan terutama tentang kesehatan reproduksi, sehingga kedepanyya mereka tidak akan mendapatkan penyakit yang dapat merugikan diri mereka sendiri. Sexual behavior can be at risk of sexually transmitted diseases (STDs) when having sexual intercourse by changing partners via vaginal, oral, or anal. Cases of sexually transmitted diseases were found in Port Loading and Unloading Workers who had suffered as many as 24 people. The purpose of this study was to determine the sexual behavior of Port Load Unloading Workers who had suffered from sexually transmitted diseases in Banggai District. The research location was conducted in Banggai district in 2016. The research was conducted in October-November 2016. This study used a qualitative method with in-depth interviews and recorded approaches. There were 17 informants, 6 of whom were unwilling to be interviewed and 2 of them had died as key informants. The results showed that the informants had carried out at risk sexual behavior that is sexual behavior that was carried out alternately-changing partners and did not use contraception and the last time the informant had sexual relations with women who were at risk namely women who were sex workers. Communities are required to get information about sexual behaviors that pose a risk to health, especially about reproductive health, so that in the future they will not get diseases that can harm themselves.
Edukasi Pencegahan Malaria melalui Peningkatan Pengetahuan Masyarakat di Desa Sakay Tahun 2025: Education on Malaria Prevention through Increasing Community Knowledge in Sakay Village in 2025 Amalia, Risqa; Dwicahya, Bambang; Kanan, Maria
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.449

Abstract

Desa Sakay, Kecamatan Totikum, merupakan wilayah yang memiliki faktor risiko penularan malaria akibat kondisi lingkungan dan rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pencegahan penyakit tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit malaria melalui program penyuluhan kesehatan. Metode yang digunakan adalah penyuluhan edukatif dengan pendekatan partisipatif yang disertai evaluasi menggunakan pre-test dan post-test terhadap 62 responden. Materi yang diberikan meliputi pengertian malaria, penyebab dan cara penularan, gejala, serta upaya pencegahan seperti penggunaan kelambu berinsektisida, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari gigitan nyamuk. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif setelah dilakukan penyuluhan. Pada pre-test, responden dengan kategori pengetahuan baik sebesar 40,3%, cukup 53,2%, dan kurang 6,5%. Setelah penyuluhan (post-test), kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 98,4%, cukup menurun menjadi 1,6%, dan tidak terdapat lagi responden dengan kategori kurang (0%), dan sikap positif terhadap perilaku pencegahan mencapai 100%. Kegiatan Program penyuluhan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan malaria. Sakay Village, Totikum District, is an area with risk factors for malaria transmission due to environmental conditions and low public understanding of disease prevention. This community service activity aims to increase public knowledge about malaria through a health education program. The method used is educational education with a participatory approach accompanied by evaluation using pre-tests and post-tests for 62 respondents. The material provided includes the definition of malaria, causes and modes of transmission, symptoms, and prevention efforts such as the use of insecticide-treated bed nets, maintaining environmental cleanliness, and avoiding mosquito bites. The results of the activity showed an increase in descriptive knowledge after the education. In the pre-test, respondents with good knowledge were 40.3%, sufficient 53.2%, and poor 6.5%. After the education (post-test), the good knowledge category increased to 98.4%, sufficient decreased to 1.6%, and there were no more respondents with poor (0%) category, and positive attitudes towards preventive behavior reached 100%. This outreach program activity has proven effective in increasing public knowledge regarding malaria prevention.
Program Penyuluhan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Desa Sambiut, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan: National Health Insurance (JKN) Counseling Program in Sambiut Village, Totikum District, Banggai Islands Regency Sunarto, Mulya alifia; Sudarsa, Caca; Ramli, Ramli; Kanan, Maria
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.470

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan program perlindungan kesehatan yang berperan penting dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan mengurangi risiko beban pembiayaan kesehatan rumah tangga. Namun, pemahaman masyarakat mengenai manfaat, hak dan kewajiban peserta, kepesertaan aktif, pembayaran iuran, serta alur pemanfaatan layanan kesehatan masih perlu diperkuat, khususnya di wilayah pedesaan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai program JKN di Desa Sambiut, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Kegiatan dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 dengan melibatkan 71 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri atas aparat desa, tokoh masyarakat, ibu rumah tangga, dan kader kesehatan. Intervensi dilakukan melalui sosialisasi, penyampaian materi edukatif, diskusi interaktif, serta simulasi alur pelayanan kesehatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif. Responden dengan pengetahuan baik meningkat dari 43,7% pada pre-test menjadi 94,4% pada post-test, kategori cukup menurun dari 38,0% menjadi 5,6%, dan kategori kurang menurun dari 18,3% menjadi 0%. Pada aspek sikap, responden berada pada kategori positif sebesar 100% pada pre-test dan post-test. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi JKN dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mempertahankan sikap positif terhadap kepesertaan serta pemanfaatan layanan kesehatan. Kegiatan lanjutan diperlukan melalui pendampingan pengecekan status kepesertaan, edukasi pembayaran iuran, dan penguatan peran kader desa agar pemahaman masyarakat dapat berkembang menjadi kepesertaan JKN yang aktif dan berkelanjutan. The National Health Insurance Program (JKN) is an important health protection program that improves community access to health services and reduces the risk of household health-related financial burdens. However, community understanding of its benefits, participants’ rights and obligations, active membership, premium payment, and procedures for accessing health services still needs to be strengthened, particularly in rural areas. This community service activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding the JKN program in Sambiut Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test approach. The activity was conducted from January to February 2026 and involved 71 respondents selected using purposive sampling, consisting of village officials, community leaders, housewives, and health cadres. The intervention was carried out through socialization, educational material delivery, interactive discussion, and simulation of the health service flow. Data were collected using pre-test and post-test questionnaires and analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. The results showed a descriptive increase in knowledge. Respondents with good knowledge increased from 43.7% in the pre-test to 94.4% in the post-test, while the moderate knowledge category decreased from 38.0% to 5.6%, and the poor knowledge category decreased from 18.3% to 0%. In terms of attitude, respondents remained in the positive category at 100% in both the pre-test and post-test. These findings indicate that JKN education can improve community knowledge and maintain positive attitudes toward membership and health service utilization. Follow-up activities are needed through assistance in checking membership status, education on premium payment, and strengthening the role of village health cadres to ensure that improved understanding can lead to active and sustainable JKN participation.
Co-Authors A. Arsunan Arsin Achmad Sugandi Lasidengki Agus Bintara Birawida Amalia, Risqa Anwar Mallongi Arda, Zul Adhayani Ardiata, Ketut Baba, Julfa Badjuber, Magfira Balebu, Dwi Wahyu Bauntal, Severianus Bidullah, Ramli Bujana, I Kadek Sinta Caca Sudarsa Caca Sudarsa Cahya, Bambang Dwi Cahyani, Rathi Dwi Chrystina Natalia Pilok Natalia Cice Morintoh cindy suruata Daud Sandalayuk Deddy Alif Utama Dwi Gunawan, Nur Hendra Dwi Wahyu Balebu Dwicahya, Bambang Ekaputri, Risky Febriyani Febriyani Ferdy Salamat Fitri vebrianti Fitrianty Sutadi Lanyumba Franning Deisi Badu, Franning Deisi hafiudin lasompo Hairil Akbar Hamid, Firdaus Hanapi, Sunarti Handayani, Lisa Handayani, Tien W. Handayani, Tien Wahyu Harun, Amalia Hasanuddin Ishak Hatta, Herman Herawati Herawati Herawati Herawati Herawati Herawati I'in Inriani Ida Leida Maria Inda Hafid Intari, Luky Dwi Irwan, Fitri Ramadani Joni Tandi, Joni LA DEE, MUSTAKIM Lanyumba, Fitrianty S. Lanyumba, Fitriyanti Sutadi Lasompo, Nurul Fadillah Lidongi, Putri Marcelita Maemunah Maemunah Magfirah, Magfirah Makka, Asmaul Husna Marselina Palinggi Marselina Sattu Marsella, Mimi Meliani, Harnum Mirawati Tongko Muhammad Irzandi Arifai Muhammad Syahrir Muhammad Syahrir Mustika, Lulu Niluh Puspita Dewi, Niluh Puspita Nursin, Widyah Purnama Nuryani Nuryani Otoluwa, Anang Samudera Pongsampe, Gebby Ramli Ramli Ramli Ramli Ramli Ramli Recky Patala Reflin Mamitoho Riani, Ni P. I. Ririn Pakaya Risky Ekaputri Sakati, Sandy Novryanto Salamat, Ferdy Sandalayuk, Marselia Sarlina Manton Sobbay, Putri Sombeng, Supardi Suarsana, I Made Agus Sudarsa, Caca Sunarto, Mulya alifia Supardi Sombeng Sutrisnawati Mardin Tiak, Agnesria Ningsi Tofan, Moh Tongko, Mirawati Towulu, Dessy Gracelia Ulin Nam'ma Saputra Wahyuni Hafid, Wahyuni Wiji Lestari Wowor, Jilian Stevani Yunita Sari Thirayo