Claim Missing Document
Check
Articles

Daya Hambat Infusa Daun Dalundung (Clerodendrum fragrans) terhadap Pertumbuhan Escherichia Coli: Inhibitory Power of Dalundung (Clerodendrum fragrans) Leaf Infusion on the Growth of Escherichia Coli Meliani, Harnum; Kanan, Maria; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.390

Abstract

Daun dalundung merupakan salah satu tanaman lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat Luwuk sebagai sayuran dan dipercaya memiliki khasiat obat tradisional. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa daun ini mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri infusa daun dalundung terhadap pertumbuhan Escherichia coli secara in vitro, baik melalui metode difusi (sumuran) maupun metode dilusi (pengenceran bertingkat). Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium dengan empat variasi konsentrasi infusa daun dalundung (22%, 16,5%, 11%, dan 5,5%) serta dua kontrol, yaitu kontrol positif (amoksisilin) dan kontrol negatif (akuades steril). Uji daya hambat dilakukan dengan metode difusi sumuran untuk mengukur zona hambat pertumbuhan bakteri, sedangkan metode dilusi digunakan untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menilai diameter zona hambat dan keberadaan pertumbuhan koloni pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daun dalundung memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat tertinggi pada konsentrasi 16,5% sebesar 7,8 mm yang tergolong kategori sedang. Namun, uji dilusi menunjukkan bahwa tidak ada konsentrasi yang mencapai nilai KBM, sehingga efek antibakteri infusa daun dalundung bersifat bakteriostatik. Hasil ini menegaskan bahwa pelarut air hanya mengekstraksi senyawa polar seperti flavonoid dan tanin yang berperan dalam aktivitas penghambatan. Disarankan penelitian lanjutan menggunakan pelarut organik (etanol atau metanol), uji fitokimia kuantitatif, dan metode mikrodilusi spektrofotometri untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dan potensi antibakteri yang optimal. Dalundung leaves are a local plant widely consumed by the Luwuk people as a vegetable and are believed to have traditional medicinal properties. Phytochemical analysis shows that these leaves contain various secondary metabolites such as flavonoids, tannins, saponins, alkaloids, and essential oils that have the potential to act as natural antibacterials that can inhibit the growth of microorganisms. Based on this, this study aims to determine the antibacterial activity of dalundung leaf infusion on the growth of Escherichia coli in vitro, both through the diffusion method (well) and the dilution method (multiple dilutions). This study used a laboratory experimental design with four variations in the concentration of dalundung leaf infusion (22%, 16.5%, 11%, and 5.5%) and two controls, namely a positive control (amoxicillin) and a negative control (sterile aquadest). The inhibitory test was carried out using the well diffusion method to measure the inhibition zone of bacterial growth, while the dilution method was used to determine the Minimum Inhibitory Concentration and Minimum Bactericidal Concentration. The observation data were analyzed descriptively quantitatively by assessing the diameter of the inhibition zone and the presence of colony growth in each treatment. The results showed that dalundung leaf infusion had antibacterial activity against E. coli at all test concentrations, with the highest inhibition zone at a concentration of 16.5% of 7.8 mm, which is classified as moderate. However, the dilution test showed that no concentration reached the MBC value, so the antibacterial effect of dalundung leaf infusion was bacteriostatic. These results confirm that the water solvent only extracts polar compounds such as flavonoids and tannins that play a role in inhibitory activity. Further research is recommended using organic solvents (Ethanol or Methanol), quantitative phytochemical tests, and spectrophotometric microdilution methods to obtain more accurate results and optimal antibacterial potential.
Efektivitas Ekstrak Daun Jarak Kepyar (Ricinus communis linn) terhadap Mortalitas Larva Culex Sp.: Effectiveness of Castor Leaf Extract (Ricinus communis linn) on the Mortality of Culex sp. Larvae Makka, Asmaul Husna; Dwicahya, Bambang; Syahrir, Muhammad; Kanan, Maria; Utama, Deddy Alif
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.397

Abstract

Nyamuk Culex sp. merupakan salah satu vektor penyakit menular seperti filariasis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Larva Culex sp. hidup di perairan yang mengandung bahan organik dan aktif memakan mikroorganisme serta kotoran organik. Upaya pengendalian larva umumnya menggunakan larvasida kimia, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat menimbulkan resistensi dan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif larvasida alami yang lebih aman dan ramah lingkungan, salah satunya berasal dari tanaman jarak kepyar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun jarak kepyar terhadap mortalitas larva Culex sp. Penelitian menggunakan metode eksperimen sejati dengan rancangan Posttest Only Control Group Design. Sampel berupa larva Culex sp. instar III dan IV sebanyak 25 ekor per kelompok perlakuan. Ekstrak daun jarak kepyar dibuat dengan metode maserasi dingin dan diuji pada dua konsentrasi, yaitu 138 ppm dan 453 ppm, serta disertai kontrol positif dan negatif. Data mortalitas dianalisis menggunakan uji ANOVA dan Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas larva meningkat seiring peningkatan konsentrasi, yaitu pada instar III sebesar 5,33% (138 ppm) dan 10,67% (453 ppm), sedangkan pada instar IV sebesar 4% (138 ppm) dan 8% (453 ppm). Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi > 0,05, yang berarti tidak terdapat perbedaan nyata antar konsentrasi maupun antar instar. Kesimpulannya, ekstrak daun jarak kepyar belum efektif sebagai larvasida terhadap larva Culex sp. karena tingkat kematian masih di bawah nilai LC₅₀ dan LC₉₀. Disarankan penelitian lanjutan dengan konsentrasi ekstrak lebih tinggi, waktu paparan lebih lama, serta uji fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif yang berpotensi sebagai larvasida nabati. Culex sp. mosquitoes are one of the vectors of infectious diseases such as filariasis, which remains a public health problem in Indonesia. Culex sp. larvae live in waters containing organic matter and actively feed on microorganisms and organic waste. Larvae control efforts generally use chemical larvicides, but long-term use can cause resistance and negative impacts on the environment. Therefore, safer and more environmentally friendly natural larvicides are needed, one of which is derived from the castor bean plant. This study aims to determine the effectiveness of castor bean leaf extract on the mortality of Culex sp. larvae. The study used a true experimental method with a Posttest Only Control Group Design. Samples were 25 instar III and IV Culex sp. larvae per treatment group. The castor bean leaf extract was prepared using the cold maceration method and tested at two concentrations, namely 138 ppm and 453 ppm, and accompanied by positive and negative controls. Mortality data were analyzed using ANOVA and Mann–Whitney U tests. The results showed that larval mortality increased with increasing concentration, namely in instar III by 5.33% (138 ppm) and 10.67% (453 ppm), while in instar IV by 4% (138 ppm) and 8% (453 ppm). Statistical analysis showed a significance value > 0.05, which means there was no significant difference between concentrations or between instars. In conclusion, castor bean leaf extract is not yet effective as a larvicide against Culex sp. larvae because the mortality rate is still below the LC₅₀ and LC₉₀ values. Further research is recommended with higher extract concentrations, longer exposure times, and phytochemical tests to identify active compounds that have the potential as botanical larvicides.
Gambaran Gangguan Pendengaran pada Karyawan di PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk : Description of Hearing Loss in Employees at PT Luwuk Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Irwan, Fitri Ramadani; Kanan, Maria; Tongko, Mirawati; Sakati, Sandy Novriyanto; Balebu, Dwi Wahyu; Salamat, Ferdy
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 2 (2026): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i2.401

Abstract

Gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan salah satu dampak lingkungan kerja yang tidak aman dan menjadi isu penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Data WHO (2023) menunjukkan sekitar 430 juta orang mengalami gangguan pendengaran dan diperkirakan meningkat hingga 700 juta pada tahun 2050. Industri pembangkit listrik termasuk sektor dengan tingkat kebisingan tinggi yang berisiko menimbulkan gangguan pendengaran pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gangguan pendengaran pada karyawan PT Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (ULPLTD) Luwuk. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan teknik total sampling terhadap 66 pekerja aktif. Pemeriksaan pendengaran dilakukan menggunakan hearing test berbasis frekuensi suara (Pitch/Hz) dan audiometri tutur, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil menunjukkan bahwa pada telinga kanan, sebagian besar pekerja memiliki pendengaran normal (78,6%), sedangkan 16,1% mengalami gangguan pendengaran ringan dan 5,4% sedang. Pada telinga kiri, 87,5% pekerja memiliki pendengaran normal, 10,7% mengalami gangguan ringan, dan 1,8% sedang. Secara keseluruhan, terdapat 19,7% pekerja yang mengalami gangguan pendengaran ringan hingga sedang pada salah satu atau kedua telinga. Pemeriksaan audiometri tutur menunjukkan seluruh pekerja masih mampu mengenali dan memahami suara dengan baik. Gangguan pendengaran diduga berkaitan dengan paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas 85 dBA. Oleh karena itu, perusahaan disarankan melakukan deteksi dini secara berkala, pengendalian kebisingan, serta meningkatkan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri. Noise-induced hearing loss is one of the impacts of unsafe working environments and remains an important issue in occupational health and safety. According to the World Health Organization (2023), approximately 430 million people worldwide experience hearing impairment, and this number is projected to increase to 700 million by 2050. Power generation industries are among the sectors with high noise exposure, placing workers at risk of hearing disorders. This study aimed to describe the occurrence of hearing disorders among employees at the Diesel Power Plant Service Unit (ULPLTD) Luwuk. A descriptive observational study was conducted using a total sampling technique involving 66 active workers. Hearing assessments were performed using frequency-based hearing tests (Pitch/Hz) and speech audiometry. Data were analyzed using univariate analysis. The results showed that in the right ear, 78.6% of workers had normal hearing, while 16.1% experienced mild hearing loss and 5.4% had moderate hearing loss. In the left ear, 87.5% of workers had normal hearing, 10.7% had mild hearing loss, and 1.8% had moderate hearing loss. Overall, 19.7% of workers experienced mild to moderate hearing loss in one or both ears. Speech audiometry indicated that all workers (100%) were still able to recognize and understand speech sounds. Hearing disorders were suspected to be associated with noise exposure exceeding the permissible exposure limit of 85 dBA. Therefore, regular early detection, effective noise control measures, and strict use of personal protective equipment are strongly recommended.
Co-Authors Achmad Sugandi Lasidengki Anwar Mallongi Arda, Zul Adhayani Ardiata, Ketut Baba, Julfa Badjuber, Magfira Balebu, Dwi Wahyu Bauntal, Severianus Bidullah, Ramli Bujana, I Kadek Sinta Caca Sudarsa Caca Sudarsa Cahya, Bambang Dwi Cahyani, Rathi Dwi Chrystina Natalia Pilok Natalia Cice Morintoh cindy suruata Daud Sandalayuk Deddy Alif Utama Dwi Gunawan, Nur Hendra Dwi Wahyu Balebu Dwicahya, Bambang Ekaputri, Risky Febriyani Febriyani Ferdy Salamat Fitri vebrianti Fitrianty Sutadi Lanyumba Franning Deisi Badu, Franning Deisi hafiudin lasompo Hairil Akbar Hanapi, Sunarti Handayani, Lisa Handayani, Tien W. Handayani, Tien Wahyu Harun, Amalia Hatta, Herman Herawati Herawati Herawati Herawati Herawati Herawati I'in Inriani Inda Hafid Intari, Luky Dwi Irwan, Fitri Ramadani Joni Tandi, Joni LA DEE, MUSTAKIM Lanyumba, Fitrianty S. Lanyumba, Fitriyanti Sutadi Lasompo, Nurul Fadillah Lidongi, Putri Marcelita Maemunah Maemunah Magfirah, Magfirah Makka, Asmaul Husna Marselina Palinggi Marselina Sattu Marsella, Mimi Meliani, Harnum Mirawati Tongko Muhammad Irzandi Arifai Muhammad Syahrir Muhammad Syahrir Mustika, Lulu Niluh Puspita Dewi, Niluh Puspita Nursin, Widyah Purnama Nuryani Nuryani Otoluwa, Anang Samudera Pongsampe, Gebby Ramli Ramli Ramli Ramli Recky Patala Reflin Mamitoho Riani, Ni P. I. Ririn Pakaya Risky Ekaputri Sakati, Sandy Novriyanto Sakati, Sandy Novryanto Salamat, Ferdy Sandalayuk, Marselia Sandy N. Sakati Sarlina Manton Sobbay, Putri Suarsana, I Made Agus Sudarsa, Caca Supardi Sombeng Sutrisnawati Tiak, Agnesria Ningsi Tofan, Moh Tongko, Mirawati Towulu, Dessy Gracelia Ulin Nam'ma Saputra Wahyuni Hafid, Wahyuni Wiji Lestari Wowor, Jilian Stevani Yunita Sari Thirayo