Claim Missing Document
Check
Articles

Behavioral, environmental, and climatic factors associated with dengue hemorrhagic fever incidence in Limboto District, Gorontalo, Indonesia Sandalayuk, Marselia; Arda, Zul Adhayani; Hanapi, Sunarti; Hafid, Wahyuni; Pakaya, Ririn; Badu, Franning Deisi; Kanan, Maria; Sandalayuk, Daud; Baba, Julfa
Svāsthya: Trends in General Medicine and Public Health Vol. 2 No. 5 (2025): September 2025
Publisher : PT. Mega Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70347/svsthya.v2i5.119

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) remains endemic in Southeast Asia, with Indonesia reporting more than 131,000 cases and 1,135 deaths in 2022. In 2019, Gorontalo Province ranked fourth nationally in terms of incidence rate (101.53 per 100,000 population), with Gorontalo Regency accounting for 31.4% of the provincial cases in 2021. This study aimed to determine the factors associated with the incidence of dengue fever in the Limboto Health Center Working Area, Gorontalo Regency, in 2022. A cross-sectional research design was used. The research was conducted from April to July 2022 in the working area of the Limboto Health Center. The population and sample were people who lived in Limboto District, with 124 respondents. Simple random sampling was used. The independent variables were knowledge, attitude, action, water reservoir, air temperature, air humidity, and occupancy density. The dependent variable was the incidence of dengue hemorrhagic fever. The research instruments used were questionnaires, observation sheets, and hygrometers. The data were processed using univariate and bivariate analyses with SPSS at the 95% confidence level (p<0.05). Among the 124 participants, 33.1% (n=41) reported DHF infection during the study period. Chi-square analyses revealed no statistically significant associations between DHF incidence and knowledge (p=0.499, χ²=0.456), attitudes (p=0.526, χ²=0.401), preventive actions (p=1.000, χ²=0.000), water storage practices (p=0.763, χ²=0.091), ambient temperature (p=0.688, χ²=0.161), humidity (p=1.000, χ²=0.000), or household density (p=0.788, χ²=0.072). All p-values exceeded the 0.05 significance threshold, indicating insufficient evidence to reject the null hypotheses. No factors were significantly associated with DHF incidence in this cross-sectional analysis.
Gambaran Kepadatan Larva Aedes sp. di Kelurahan Maahas: Overview of Aedes sp. Larvae Density in Maahas Village Dwicahya, Bambang; Bujana, I Kadek Sinta; Sakati, Sandy Novriyanto; Syahrir, Muhammad; Kanan, Maria
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.338

Abstract

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai jumlah kasus DBD di kelurahan Maahas Februari 2019 – Juli 2024 sebanyak 11 kasus. Kelurahan Maahas merupakan salah satu wilayah yang sepanjang 4 tahun terakhir selalu memiliki kasus DBD. Tujuan kami adalah untuk mengetahui gambaran kepadatan larva nyamuk Aedes sp. di Kelurahan Maahas. Metode penelitian ini menggambarkan kepadatan larva Aedes sp. dengan Jenis penelitian Observasional Deskriptif yang dilakukan di Kelurahan Maahas pada bulan Juni-Juli 2024. Populasi dalam penelitian ini sebanyak  1.268 rumah dengan sampel 295 rumah dan metode pengambilan data  menggunakan teknik Random Sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan Nilai House Index (HI) 25% dengan tingkat kepadatan sedang, Container Index (CI) 7,96% dengan tingkap kepadatan sedang, Breteau Index (BI) 4,8% dengan tingkat kepadatan rendah, ABJ 75% ≥ 95% dengan status tidak bebas jentik dan nilai HRI 0,17 dan BRI 0,83 maka nilai Maya Indeks (MI) berada pada kategori tinggi. Kesimpulan penelitian ini memberikan wawasan tentang kontribusi kepadatan larva Aedes sp terhadap kejaadian DBD di suatu wilayah. Penelitian di masa mendatang harus membahas terkait hubungan antara variabel (HI, CI, BI, ABJ dan MI) denga kejadian DBD yang pada akhirnya memajukan pengetahuan di bidang kesehatan internasional. Based on data from the Banggai Regency Health Office, the number of DHF cases in Maahas Village from February 2019 to July 2024 was 11 cases. Maahas Village is one of the areas that has always had DHF cases in the last 4 years. Our goal is to determine the density of Aedes sp. mosquito larvae in Maahas Village. This research method describes the density of Aedes sp. larvae with the type of Descriptive Observational research conducted in Maahas Village in June-July 2024. The population in this study was 1,268 houses with a sample of 295 houses and the data collection method used the Random Sampling technique. The analysis used is univariate analysis. The results of the study showed that the House Index (HI) value was 25% with a moderate density level, Container Index (CI) 7.96% with a moderate density window, Breteau Index (BI) 4.8% with a low density level, ABJ 75% ≥ 95% with a status of not free from larvae and HRI values ​​​​of 0.17 and BRI 0.83, so the Maya Index (MI) value is in the high category. The conclusion of this study provides insight into the contribution of Aedes sp larval density to the incidence of dengue fever in an area. Future research should discuss the relationship between variables (HI, CI, BI, ABJ and MI) with the incidence of dengue fever which ultimately advances knowledge in the field of international health.
Gambaran Kepadatan Larva Aedes sp. di Kelurahan Hanga-hanga Permai: Overview of Aedes sp. Larvae Density in Hanga-hanga Permai Village Ardiata, Ketut; Dwicahya, Bambang; Kanan, Maria
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.339

Abstract

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai jumlah kasus DBD di kelurahan Maahas Februari 2019 – Juli 2024 sebanyak 11 kasus. Kelurahan Hanga-Hanga Permai merupakan salah satu wilayah yang sepanjang 4 tahun terakhir selalu memiliki kasus DBD. Tujuan kami adalah untuk mengetahui gambaran kepadatan larva nyamuk Aedes sp. di Kelurahan Hanga-Hanga Permai. Metode Penelitian ini menggambarkan kepadatan larva Aedes sp. dengan Jenis penelitian Observasional Deskriptif yang dilakukan di Kelurahan Hanga-Hanga Permai pada bulan Juni-Juli 2024. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 400 rumah dengan sampel penelitian 400 rumah dan metode pengambilan data menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil: Nilai House Index (HI) 27% dengan tingkat kepadatan sedang, Container Index (CI) 16% dengan tingkat kepadatan sedang, Breteau Index (BI) 94% dengan tingkat kepadatan tinggi, ABJ 73% ≥ 95% dengan status tidak bebas jentik dan nilai HRI 0,28 dan BRI 0,71 maka nilai Maya Indeks (MI) berada pada kategori tinggi. Sebagai kesimpulan, penelitian ini memberikan wawasan tentang kontribusi kepadatan larva Aedes sp. terhadap kejadian DBD di suatu wilayah. Penelitian di masa mendatang harus membahas terkait hubungan antara variabel (HI, CI, BI, ABJ dan MI) denga kejadian DBD yang pada akhirnya memajukan pengetahuan di bidang kesehatan internasional. Based on data from the Banggai Regency Health Office, the number of DHF cases in Maahas Village from February 2019 to July 2024 was 11 cases. Hanga-Hanga Permai Village is one of the areas that has always had DHF cases in the last 4 years. Our aim was to determine the density of Aedes sp. mosquito larvae in Hanga-Hanga Permai Village. Method: This study describes the density of Aedes sp. larvae with a Descriptive Observational research type conducted in Hanga-Hanga Permai Village in June-July 2024. The population in this study was 400 houses with a research sample of 400 houses and the data collection method used inclusion and exclusion criteria. The analysis used was univariate analysis. Results: House Index (HI) value of 27% with moderate density, Container Index (CI) 16% with moderate density, Breteau Index (BI) 94% with high density, ABJ 73% ≥ 95% with status not free of larvae and HRI value of 0.28 and BRI 0.71 then the Maya Index (MI) value is in the high category. Conclusion: In conclusion, this study provides insight into the contribution of Aedes sp larval density to the incidence of dengue fever in an area. Future research should discuss the relationship between variables (HI, CI, BI, ABJ and MI) with the incidence of dengue fever which ultimately advances knowledge in the field of international health.
Gambaran Penyelenggaraan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Sakit X, Kabupaten Banggai Kepulauan : Overview of the Implementation of Liquid Waste Management at Hospital X, Banggai Islands Regency Bauntal, Severianus; Kanan, Maria; Dwicahya, Bambang
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 4 No. 1 (2025): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v4i1.340

Abstract

Kegiatan rumah sakit menghasilkan limbah cair memiliki beban cemaran yang dapat menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan hidup yang dapat mengakibatkan penyakit pada manusia. Oleh karena itu, air limbah perlu dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan agar kualitasnya memenuhi baku mutu air limbah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran Penyelenggaraan Pengelolaan Limbah Cair di Rumah Sakit X. Jenis penelitian adalah survei yang bersifat deskriptif dengan ruang lingkup berupa Unit Pengolahan Air Limbah (IPAL), Fasilitas Penunjang, Penaatan Frekuensi, Penaatan Kualitas Limbah dan Penaatan Pelaporan. Objek dalam penelitian ini adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan petugas pengelola limbah cair. Data diperoleh dengan cara wawancara, observasi dengan menggunakan lembar observasi yang berpedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit dan dianalisa secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa Rumah Sakit Xsudah memiliki Unit Pengolahan Air Limbah dan ditempatkan pada lokasi yang tepat, namun saat ini tidak berfungsi karena mengalami kerusakan. Berdasarkan fasilitas penunjang IPAL, dimana sudah dilengkapi dengan bak pengambilan air limbah, alat ukur debit air limbah, tetapi tidak terdapat pagar pengaman IPAL, titik koordinat IPAL, dan fasilitas keselamatan IPAL. Penataan frekuensi, penataan kualitas limbah, dan penataan pelaporan semuanya tidak dilakukan karena IPAL dalam keadaan rusak, sehingga tidak beroperasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan pengelolaan limbah cair Rumah Sakit Xsaat tidak memenuhi syarat karena tidak sesuai dengan Permenkes Nomor 7 Tahun 2019. Hospital activities that produce liquid waste have a pollution load that can cause pollution to the environment that can cause disease in humans. As a result, waste water must be treated before being released into the environment to ensure that it meets the waste water quality criteria established by the applicable laws and regulations. The goal of this study is to gain an overview of the Liquid Waste Management Implementation at the X Hospital. This is a descriptive survey with a scope that includes Waste Water Treatment Units, Supporting Facilities, Frequency Compliance, Waste Quality Compliance, and Reporting Compliance. The Waste Water Treatment Plant (WWTP) and the liquid waste management officer are the subjects of this study. Data was collected through interviews and observations utilizing observation sheets in accordance with the Minister of Health's Regulation No. 7 of 2019 on Hospital Environmental Health Requirements, and was analyzed descriptively. Based on WWTP supporting facilities, which include waste water collection tanks and waste water discharge monitoring instruments, but no WWTP safety fence, WWTP coordinate points, or WWTP safety facilities. Because the WWTP is in disrepair and hence not operational, the frequency arrangement, waste quality management, and reporting system do not match the criteria.The study's findings show that the implementation of liquid waste management at the X Hospital does not satisfy the standards because it does not comply with the Permenkes No. 7 of 2019.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kepemilikan Jamban di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai Tahun 2021: Factors influencing latrine ownership in Bunta II Village, Bunta District, Banggai Regency in 2021 Tiak, Agnesria Ningsi; Kanan, Maria; Dwicahya, Bambang; Sudarsa, Caca
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 2 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA Volume 2 Nomor 2 Januari 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i2.237

Abstract

Jamban keluarga merupakan sarana sanitasi dasar untuk menjaga kesehatan lingkungan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Masalah penyakit lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas. Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan salah satu bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetik. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya kepemilikan jamban di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta Kabupaten Banggai. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasinal Analitik dengan pendekatan Cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta. Populasi penelitian adalah semua rumah yang ada di Kelurahan Bunta II Kecamatan Bunta. Pengolahan dan analisis data hasil observasi kemudian diolah secara manual dan dikelompokan berdasarkan variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada pengaruh antara pendapatan dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,235 (>0,05), tidak ada pengaruh antara ketersediaan air bersih dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,223 (>0,05), tidak ada pengaruh antara peran petugas kesehatan dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,723 (>0,05) dan ada pengaruh antara peran pemerintah kelurahan dengan kepemilikan jamban dengan nilai p=0,029 (<0,05). Diharapkan dapat bergotong-royong dalam membantu masyarakat dengan memberikan bantuan dana dalam pembuatan Jamban dan masyarakat dapat mengusulkan program bantuan jamban kepada pemerintah kelurahan dalam upaya untuk membantu pembuatan jamban. Family latrines are basic sanitation facilities to maintain environmental health in order to improve community health. The problem of disease in the residential environment, especially in the disposal of feces, is one of the various health problems that needs to be prioritized. Disposal of feces needs special attention because it is one of the waste materials that causes many problems in the health sector and acts as a breeding ground for diseases, such as diarrhea, typhus, vomiting, dysentery, worms and itching. Apart from that, it can cause environmental pollution in water sources and cause bad odors and aesthetics. The aim of the research is to get an idea of the factors that influence the low level of latrine ownership in Bunta II Village, Bunta District, Banggai Regency. The type of research used is analytical observational with a cross-sectional approach. The research was carried out in Bunta II Village, Bunta District. The research population was all houses in Bunta II Village, Bunta District. Processing and analysis of observation data is then processed manually and grouped based on research variables. The research results show that there is no influence between income and latrine ownership with a value of p=0.235 (>0.05), there is no influence between the availability of clean water and latrine ownership with a value of p=0.223 (>0.05), there is no influence between the role of health workers with latrine ownership with a value of p=0.723 (>0.05) and there is an influence between the role of sub-district government and latrine ownership with a value of p=0.029 (<0.05). It is hoped that we can work together to help the community by providing financial assistance in building latrines and the community can propose a latrine assistance program to the sub-district government in an effort to help build latrines.
Kualitas Bakteriologis Peralatan Makan pada Rumah Makan Pelabuhan Rakyat Kabupaten Banggai Laut : Occupational Safety and Health Standards at Luwuk Regional Hospital Tofan, Moh; Kanan, Maria; Dwicahya, Bambang; Sakati, Sandy Novriyanto
Buletin Kesehatan Mahasiswa Vol. 2 No. 3 (2024): Buletin Kesehatan MAHASISWA
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Banggai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/jpmeo.v2i3.253

Abstract

Peralatan makan yang tidak bersih akan berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan kuman, penyebaran penyakit dan keracunan makanan. Oleh karena itu, tingkat kebersihan peralatan makanan haruslah dijaga terus supaya terhindar dari kontaminasi kuman pathogen serta cemaran zat lainnya. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan gambaran kualitas peralatan makan berdasarkan angka lempeng total (ALT) dan keberadaan Escherichia coli pada peralatan makan di Rumah Makan Pelabuhan Rakyat Kabupaten Banggai Laut Tahun 2022. Jenis Penelitian bersifat deskriptif dengan analisis Laboratorium. Pengambilan Sampel Usap Alat Makan menggunakan botol yang berisi fisiologis 0,85 %. Pemeriksaan Angka Lempeng Total menggunakan media Plate Count Agar (PCA), dan untuk mendeteksi keberadaan Escherichia coli menggunakan EC medium. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada pemeriksaan angka kuman terdapat 12 atau (100%) sampel peralatan makan tidak memenuhi syarat kesehatan berdasarkan Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1096/MENKES/Per/VI/2011 bahwa angka kuman pada peralatan makan harus 0 Koloni/cm2. Sedangkan pemeriksaan keberadaan Escherichia coli pada peralatan makan menunjukan bahwa 4 (33,3%) sampel tidak memenuhi syarat kesehatan dan 8 (66,6%) sampel memenuhi syarat kesehatan. Bagi Instansi terkait agar dapat memberikan edukasi dalam proses pencucian dan penyimpanan peralatan makan yang memenuhi syarat kesehatan pada pemilik Rumah Makan Pelabuhan Rakyat Banggai Laut. Unclean eating utensils play a role in the growth and development of germs, the spread of diseases, and food poisoning. Therefore, the cleanliness level of food utensils must be continuously maintained to avoid contamination with pathogenic germs and other pollutants. The research aims to obtain an overview of the quality of eating utensils based on the total plate count (TPC) and the presence of Escherichia coli in the eating utensils at the Pelabuhan Rakyat Restaurant in Banggai Laut Regency in the year 2022. The study is descriptive with laboratory analysis. Sampling of Eating Utensil Swabs uses bottles containing 0.85% physiological saline. Total Plate Count examination uses Plate Count Agar (PCA) medium, and to detect the presence of Escherichia coli, EC medium is used. The study results indicate that in the germ count examination, 12 or (100%) of the eating utensil samples did not meet the health standards according to the Indonesian Minister of Health Regulation No. 1096/MENKES/Per/VI/2011 stating that the germ count on eating utensils should be 0 colonies/cm². Meanwhile, the examination for the presence of Escherichia coli in eating utensils showed that 4 (33.3%) samples did not meet health standards, and 8 (66.6%) samples met health standards. Relevant agencies should provide education on the process of washing and storing eating utensils that meet health standards to the owners of the Pelabuhan Rakyat Restaurant in Banggai Laut.
Determination of Secondary Metabolites and Antioxidant Activity of Robusta Coffee Bean Ethanol Extract by UV-Vis Spectrophotometry Tandi, Joni; Riani, Ni P. I.; Handayani, Tien W.; Kanan, Maria
Jurnal Akademika Kimia Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24775185.2023.v12.i1.pp58-64

Abstract

Robusta coffee beans (Coffea canephora Pierre ex.A.Froehner) have antioxidant, antidiabetic, and antihypertensive effects and can prevent coronary heart disease. This study aims to determine the compound content and total levels of secondary metabolites and to determine the antioxidant activity of robusta coffee bean extract. UV-Vis spectrophotometer was used to determine the total levels of secondary metabolites and antioxidant assay using DPPH reagent. The results obtained for the positive qualitative test contain secondary metabolites of alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins and do not contain steroid compounds while for the quantitative test, the total alkaloid content is 0.1973% w/w (caffeine equivalent), flavonoids are 1.2106% w/w (equivalent to quercetin), saponins 0.536% w/w (equivalent to sapogenins), tannins at 9.7103% w/w (equivalent to tannic acid). The IC50 result for the antioxidant activity of the ethanolic extract of robusta coffee beans is 55.16 µg/mL which is included in the category of strong antioxidants.
Penyuluhan Tentang Pentingnya Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) di Desa Dowiwi Kecamatan Simpang Raya, Sulawesi Tengah: Counseling on the Importance of Waste Water Disposal Channels (SPAL) in Dowiwi Village, Simpang Raya District, Central Sulawesi Sudarsa, Caca; Cahyani, Rathi Dwi; Kanan, Maria
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v2i1.216

Abstract

Pencemaran udara tanah berarti terjadi penyimpangan dari kondisi udara normal. Ketika limbah cair di buang ke tanah, partikel yang ada di tanah berfungsi sebagai filter untuk mencegah kandungan limbah yang berukuran besar dan meloloskan cairan tercemar meresap ke dalam tanah. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) Proporsi rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak menurut daerah tempat tinggal pada tahun 2022 sebesar 83,8% untu k daerah perkotaan dan 76,99% di  daerah pedesaan. Dilihat dari data tersebut masih banyak rumah tangga yang belum menggunakan sistem sanitasi dengan baik dan benar. Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat setempat mengenai Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL). Maka, kami melakukan penyuluhan tentang Pentingnya Penggunaan Saluran Pembuangaan Air Limbah (SPAL) kepada mayarakat di Desa Dowiwi Kecamatan Simpang Raya. Penyuluhan ini di lakukan pada 50 responden di Desa Dowiwi pada tanggal 22 juli 2023. Berdasarkan hasil pengukuran pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat Dowiwi mengenai pentingnya. Penggunan saluran pembuangan air limbah  (SPAL) sudah baik sebanyak 56%, Kurang 40% dan cukup 4%. Maka dari itu di harapkan dengan adanya penyuluhan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat di Desa Dowiwi Kecamatan Simpang Raya akan pentingnya penggunaan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) agar sanitasi lingkungan tetap terjaga dan berdampak baik bagi lingkungan kesehatan masyarakat di Desa Dowiwi Kecamatan Simpang Raya. Kegiatan penyuluhan tentang pentingnya Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) bertujuan Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan Pentingya Penggunaan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), sasaran pada masyarakat umum, target 50 orang, sumber dana mahasiswa, waktu & tempat pelaksanaan 22 juli 2023 20.00-selesai, tempat: rumah warga Desa Dowiwi, rencana penilaian : pre-test, pencapaian 100%. Soil air pollution means there is a deviation from normal air conditions. When liquid waste is dumped into the ground, the particles in the soil function as a filter to prevent large waste contents from allowing contaminated liquid to seep into the ground. Based on BPS (Central Statistics Agency) data, the proportion of households that have access to adequate sanitation according to area of ​​residence in 2022 is 83.8% for urban areas and 76.99% in rural areas. Judging from this data, there are still many households that do not use the sanitation system properly and correctly. To improve the level of public health and find out what factors influence the knowledge, attitudes and actions of local communities regarding Waste Water Disposal Channels (SPAL). So, we conducted outreach about the importance of using waste water drainage channels (SPAL) to the community in Dowiwi Village, Simpang Raya District. This counseling was carried out on 50 respondents in Dowiwi Village on July 22 2023. Based on the results of measuring the knowledge, attitudes and actions of the Dowiwi community regarding the importance of. The use of waste water disposal channels (SPAL) is good at 56%, 40% is poor and 4% is sufficient. Therefore, it is hoped that this outreach can increase the knowledge of the community in Dowiwi Village, Simpang Raya District regarding the importance of using Waste Water Disposal Channels (SPAL) so that environmental sanitation is maintained and has a good impact on the public health environment in Dowiwi Village, Simpang Raya District. Outreach activities about the importance of Waste Water Disposal Channels (SPAL) aim to increase public knowledge about the importance of using Waste Water Disposal Channels (SPAL), target the general public, target 50 people, source of student funds, time & place of implementation 22 July 2023 20.00-end, places: house of residents of Dowiwi Village, assessment plan: pre-test, achievement 100%.
Hubungan Sanitasi Dasar Dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Lipulalongo Kabupaten Banggai Laut Kanan, Maria; Cahya, Bambang Dwi; Lestari, Wiji; Herawati, Herawati; Sudarsa, Caca
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 2 (2024): Volume 15 No. 2 (2024)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v15i2.1346

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan pada anak, dimana panjang atau tinggi badannya pendek atau sangat pendek yang didasarkan pada tinggi menurut umur dengan parameter Z-score < -2 SD. Sanitasi lingkungan berperan penting dalam mencegah penyakit infeksi berbasis lingkungan seperti diare dan cacingan yang dapat memengaruhi pertumbuhan linier dan jika terjadi secara berulang akan mengurangi asupan zat gizi sehingga dapat menyebabkan stunting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan ketersediaan air bersih, jamban, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan tempat sampah dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Lipulalongo. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah Populasi dalam penelitian ini yaitu 480 rumah keluarga balita, terdiri atas 365 balita tidak stunting dan 115 balita stunting. Sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara ketersediaan SPAL dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Lipulalongo dengan nilai signifikan chi square p = 0,038 yang mana p < 0,05 namun tidak ada hubungan antara ketersediaan air bersih (p=0,1), ketersediaan jamban (p=0,18), ketersediaan tempat sampah (p=1,0) dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Lipulalongo. Semua pihak sebaiknya bahu membahu untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya ketersediaan sanitasi dasar untuk mencegah kejadian stunting.
Praktik Etnomedisin dalam Tradisi Pengobatan Masyarakat Suku Terasing di Kabupaten Banggai: Ethnomedicinal Practices in the Healing Traditions of Isolated tribal Communities in Banggai Regency Otoluwa, Anang Samudera; Syahrir, Muhammad; Tongko, Mirawati; Kanan, Maria
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v16i2.388

Abstract

Etnomedisin dipahami sebagai bidang kajian kesehatan yang menggunakan pendekatan budaya untuk memahami jenis-jenis penyakit, ragam ramuan tradisional, teknik peracikan, metode pengobatan, serta menelaah berbagai tumbuhan, hewan, atau bahan alam lain yang memiliki potensi sebagai obat. Tujuan penelitian ini adalah melakukan eksplorasi mendalam mengenai pemanfaatan etnomedisin dalam praktik pengobatan tradisional pada masyarakat suku terasing dalam menangani berbagai penyakit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif eksploratif dengan pendekatan etnografi untuk mengungkap pengetahuan lokal terkait etnomedisin. Data dialasis dengan menggunakan ukuran Fidelity Level (FL) atau tingkat fidelitas.  Hasil penelitian ini mendapatkan 11 spesies tumbuhan obat dan 63 ramuan.  Hasil Fidelitas berdasarkan jumlah sitasi ditemukan bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu yang paling utama berupa daun 40,0% lalu akar 14,3% dan rimpang bijih,7,9`% sedangkan bagian tumbuhan yang lain seperti buah, batang, kulit batang, getah, umbi, air buah dan rimpangi dibawah 10 %. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat yaitu yang paling utama berupa daun 40,0% lalu akar 14,3% dan rimpang bijih,7,9`% sedangkan bagian tumbuhan yang lain seperti buah, batang, kulit batang, getah, umbi, air buah dan rimpangi dibawah 10 %. Cara penggunaannya yang terbanyak yaitu diminum (82,5%), ditempelkan 11,1%, dipijat/dihirup/ditetes 3,2% serta dikumur 1,6%. Penelitian ini merekomendasikan alternatif pengobatan tradisionil berbasis alam mupun kearifan lokal untuk pengembangan ilmu kesehatan kedepannya, namun tentunya dibutuhkan pengembangan uji efikasi maupun toksisitas untuk mendukung proses saintifikasi terhadap tumbuhan alam yang diyakini oleh masyarakat sebagai media obat. Ethnomedicine is a field of health studies that applies a cultural approach to understand disease classifications, traditional remedies, formulation techniques, and the use of plant, animal, or other natural materials with medicinal potential. This study aims to conduct an in-depth exploration of ethnomedicine utilization in traditional healing practices among an isolated indigenous tribe in treating various diseases. A qualitative exploratory design with an ethnographic approach was employed to reveal local knowledge related to ethnomedicine. Data were analyzed using the Fidelity Level (FL) to measure citation fidelity. The results identified 11 species of medicinal plants and 63 traditional remedy formulations. Fidelity analysis based on citation frequency showed that the most commonly used plant parts were leaves (40.0%), followed by roots (14.3%), and rhizomes (7.9%), while other parts such as fruit, stems, bark, sap, tubers, and plant water were cited at less than 10%. The dominant method of application was oral consumption (drinking) (82.5%), followed by topical pasting (11.1%), inhalation/massage/drops (3.2%), and gargling (1.6%). This study recommends nature-based traditional medicine and local wisdom as alternative pathways for future health science development. However, further efficacy and toxicity testing are required to support the scientific validation (scientification) and standardization of natural medicinal resources used by the community.
Co-Authors A. Arsunan Arsin Achmad Sugandi Lasidengki Agus Bintara Birawida Anwar Mallongi Arda, Zul Adhayani Ardiata, Ketut Baba, Julfa Badjuber, Magfira Balebu, Dwi Wahyu Bauntal, Severianus Bidullah, Ramli Bujana, I Kadek Sinta Caca Sudarsa Caca Sudarsa Cahya, Bambang Dwi Cahyani, Rathi Dwi Chrystina Natalia Pilok Natalia Cice Morintoh cindy suruata Daud Sandalayuk Deddy Alif Utama Deko, Muh. Riski K Dwi Gunawan, Nur Hendra Dwi Wahyu Balebu Dwicahya, Bambang Ekaputri, Risky Febrianty, Rekhal Febriyani Febriyani Ferdy Salamat Fitri vebrianti Fitrianty Sutadi Lanyumba Franning Deisi Badu, Franning Deisi hafiudin lasompo Hairil Akbar Hamid, Firdaus Hanapi, Sunarti Handayani, Lisa Handayani, Lisa Salsa Handayani, Tien W. Handayani, Tien Wahyu Harun, Amalia Hasanuddin Ishak Hatta, Herman Herawati Herawati Herawati Herawati Herawati Herawati I'in Inriani Ida Leida Maria Inda Hafid Intari, Luky Dwi Irwan, Fitri Ramadani Joni Tandi, Joni LA DEE, MUSTAKIM Lanyumba, Fitrianty S. Lanyumba, Fitriyanti Sutadi Lasompo, Nurul Fadillah Lidongi, Putri Marcelita Maemunah Maemunah Magfirah, Magfirah Makka, Asmaul Husna Marselina Palinggi Marselina Sattu Marsella, Mimi Meliani, Harnum Mirawati Tongko Muhammad Irzandi Arifai Muhammad Syahrir Muhammad Syahrir Mustika, Lulu Niluh Puspita Dewi, Niluh Puspita Nursin, Widyah Purnama Nuryani Nuryani Otoluwa, Anang Samudera Pongsampe, Gebby Ramli Ramli Ramli Ramli Ramli Ramli Recky Patala Reflin Mamitoho Riani, Ni P. I. Ririn Pakaya Risky Ekaputri Sakati, Sandi Novryanto Sakati, Sandy Novriyanto Sakati, Sandy Novryanto Salamat, Ferdy Sandalayuk, Marselia Sandy N. Sakati Sarlina Manton Sobbay, Putri Sombeng, Supardi Suarsana, I Made Agus Sudarsa, Caca Supardi Sombeng Sutrisnawati Tiak, Agnesria Ningsi Tofan, Moh Tongko, Mirawati Towulu, Dessy Gracelia Ulin Nam'ma Saputra Wahyuni Hafid, Wahyuni Wiji Lestari Wowor, Jilian Stevani Yunita Sari Thirayo