This Author published in this journals
All Journal RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) International Journal of Education BAHASA DAN SASTRA Jurnal Arbitrer LOKABASA IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA) Tawarikh : Journal of Historical Studies Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Jaladri : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Journal on Education KLAUSA (Kajian Linguistik, Pembelajaran Bahasa, dan Sastra) Jurnal Masyarakat dan Budaya Linguistik Indonesia Magistra Andalusia : Jurnal Ilmu Sastra Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia REiLA: Journal of Research and Innovation in Language Loa : Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan SAGA: Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Lexeme : Journal of Linguistics and Applied Linguistics Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Edusentris: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran DIMASATRA Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda HUMAN: Journal of Social Humanities and Science Aksara Jurnal Panalungtik Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Ranah: Jurnal Kajian Bahasa JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Claim Missing Document
Check
Articles

Aspek Flora untuk Penyebutan Standar Kecantikan dalam Bahasa Sunda Sandi Setiawan; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes; Denny Adrian Nurhuda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4671

Abstract

The purpose of this research is to reveal the direct meaning or conceptual meaning and figurative meaning or associative meaning. The method used in this research is analytical descriptive method with data collection techniques by literature review, namely looking for the data needed and then recording it so that there are six data used which are sourced from several libraries namely “Kamus Bahasa Sunda R.A. Danadibrata”, “Kamus Idiom Sunda-Indonesia”, and “Peperenian Urang Sunda”. The data used were Ngadaun seureuh, Bitis Jaksi Sajantung, Mucuk Eurih, Lambey Jeruk Sapasi, Pipi Kadu Sapasi and Héjo Carulang. The analysis technique starts from collecting data, reducing the initial data and analyzing the data used in this study. The result of this study is to reveal that the conceptual meaning does not show the standard of beauty in Sundanese language but refers to the plant used as a simile, but the standard of beauty can be found when looking by means of associative meaning or figurative meaning that is continuous with the referred flora. The beauty is borrowed from the form or nature of the flora used in the idiom.  AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap makna langsung atau makna konseptual dan makna kiasan atau makna asosiatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deksriptif analitis dengan teknik pengumpulan data dengan tinjauan pustaka yakni mencari data yang dibutuhkan lalu mencatatnya sehingga terdapat enam data yang digunakan yang bersumber dari beberapa pustaka yakni “Kamus Bahasa Sunda R.A. Danadibrata”, “Kamus Idiom Sunda-Indonesia”, dan “Peperenian Urang Sunda”. Data yang digunakan adalah Ngadaun seureuh, Bitis Jaksi Sajantung, Mucuk Eurih, Lambey Jeruk Sapasi, Pipi Kadu Sapasi dan Héjo Carulang. Teknik analisis dimulai dari pengumpulan data, mereduksi data awal dan menganalisis data yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah mengungkap bahwa makna konseptual tidak menunjukan standar kecantikan dalam bahasa Sunda melainkan merujuk pada tanaman yang digunakan sebagai perumpamaan, namun standar kecantikan tersebut dapat ditemukan apabila melihat dengan cara makna asosiatif atau makna kiasan yang berkesinambungan dengan flora yang dirujuk. Kecantikan tersebut dipinjam dari bentuk atau sifat flora yang digunakan dalam idiom tersebut.
Exploring Linguistic Distinctions: A Comparative Analysis of Baduy and Priangan Sundanese Lexical Choice Sri Rahayu; Eri Kurniawan; Retty Isnendes; Ramadani Ramadani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8425

Abstract

This study aims to analyze lexical variation between Baduy and Priangan Sundanese and to explain how sociocultural factors shape lexical choices, language use, and speaker identity. A qualitative approach with a descriptive–comparative design was employed. Data were collected through observation, interviews, natural conversation recordings, and document analysis involving native speakers in Kanekes (Baduy) and the Priangan region (Bandung, Tasikmalaya, Garut, and Cianjur). The data were analyzed through data reduction, comparative data display, and lexical analysis using theoretical frameworks from contact linguistics and ecolinguistics to examine the influence of isolation, modernization, and language contact.The findings reveal that Baduy Sundanese preserves archaic vocabulary (e.g., kula, kakang), distinctive particles (mah, pan, teh), and specific semantic distinctions, such as the meaning of saung as a primary dwelling. In contrast, Priangan Sundanese reflects modernization and codification through the use of more standardized forms and stronger influence from Indonesian. Additional differences were observed in phonology (vowel lengthening), morphology (retention of traditional derivational forms), syntax (frequent subject/object omission), and levels of Indonesian interference. Sociocultural factors underlying these variations include the geographical isolation of the Baduy community, strong adherence to tradition, politeness norms, and the Priangan community’s openness to modern education and external contact. Overall, lexical choices function as markers of linguistic identity: the Baduy community demonstrates linguistic conservatism as a form of resistance to homogenization, whereas Priangan speakers exhibit adaptation to modernity. These findings contribute to studies on Sundanese variation, contact linguistics, and ecolinguistics, while supporting efforts to preserve endangered dialects. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi leksikal antara Bahasa Sunda Baduy dan Priangan serta menjelaskan pengaruh faktor sosiokultural terhadap pilihan leksikal, penggunaan bahasa, dan identitas penuturnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, perekaman percakapan alami, dan studi dokumen yang melibatkan penutur asli di Kanekes (Baduy) dan wilayah Priangan (Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Cianjur). Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data dalam tabel komparatif, serta analisis leksikal berbasis teori linguistik kontak dan ekolinguistik untuk menelusuri pengaruh isolasi, modernisasi, dan kontak bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Sunda Baduy mempertahankan kosakata arkais seperti kula dan kakang, partikel khas seperti mah, pan, dan teh, serta sejumlah perbedaan semantis, misalnya makna saung sebagai rumah utama. Sebaliknya, Bahasa Sunda Priangan memperlihatkan kecenderungan modernisasi dan kodifikasi melalui penggunaan bentuk baku serta dipengaruhi lebih kuat oleh Bahasa Indonesia. Ditemukan pula perbedaan fonologis (pemanjangan vokal), morfologis (penggunaan bentuk turunan tradisional), sintaksis (penghilangan subjek/objek), serta tingkat interferensi bahasa Indonesia yang berbeda antar kedua komunitas. Faktor sosiokultural yang memengaruhi variasi ini meliputi isolasi geografis Baduy, keterikatan pada tradisi, norma kesantunan, serta keterbukaan Priangan terhadap pendidikan modern dan interaksi eksternal. Secara keseluruhan, pilihan leksikal berfungsi sebagai penanda identitas: komunitas Baduy mempertahankan konservatisme linguistik sebagai bentuk resistensi terhadap homogenisasi, sedangkan komunitas Priangan menampilkan adaptasi terhadap modernitas. Temuan ini berkontribusi pada kajian variasi Sunda, linguistik kontak, dan ekolinguistik, sekaligus mendukung upaya pelestarian dialek yang terancam punah.
Makna Denotasi, Konotasi, dan Mitos Nadhom Istigosah KH Khoer Affandy: Kajian Semiotika Roland Barthes Wihandani; Retty Isnendes
Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 9 No 01 (2026): Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/7gkvc396

Abstract

This study aimed to analyze the denotative, connotative, and mythical meanings in the Sundanese Nadhom Istigosah by KH. Khoer Affandi uses Roland Barthes's theory of semiotics. The method used was qualitative descriptive, analyzing 18 stanzas of the nadhom grouped into five thematic categories: creed, Sufism, society and leadership, the afterlife, and prayer and supplication. The results showed that at the denotative level, the nadhom functioned as a structured guide for collective prayer. At the connotative level, the text contained cultural values of the Sundanese pesantren such as asceticism, love for the Prophet, and rejection of injustice. At the mythical level, the nadhom constructed four belief systems: the power of collective prayer, blessings through a spiritual chain, justice based on Islamic law, and the afterlife as the true goal. This study concluded that the Sundanese Nadhom Istigosah is not merely a prayer text but a layered semiotic system that effectively transmitted Islamic values and Sundanese local wisdom across generations.
Eksplorasi Makna dan Nilai dalam Puisi Mantra Bakbrung Hariang Banga Yessi Hermawati; Yayat Sudaryat; Retty Isnendes; Usep Kuswari; Dede Kosasih
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4934.66-81

Abstract

This study aims to analyze the meaning of the Bakbrung Hariang Banga mantra poem using the pancacuriga approach and to examine its implications for character development in the eight-dimensional graduate profile. Research data were collected through observation, interviews, and documentation of mantra poems from the Cigugurgirang Village community. Data analysis was conducted qualitatively using the pancacuriga semiotic method, which includes five elements of interpretation: silib, sindir, symbol, siloka, and sasmita. The results show that each element of pancacuriga manifests religious, moral, social, and cultural values that are rich in meaning in the mantra poem text. These findings also reveal the connection between the symbolic meaning of mantra poetry and the dimensions of faith, critical reasoning, independence, and communication in the profile of deep learning graduates. The main contribution of this research is the development of the pancacuriga semiotic analysis approach as a comprehensive method in oral literature studies as well as an ethnopedagogical medium for character education based on local wisdom. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna puisi mantra Bakbrung Hariang Banga menggunakan pendekatan pancacuriga serta mengkaji implikasinya terhadap pengembangan karakter dalam profil lulusan delapan dimensi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi teks puisi mantra dari masyarakat Desa Cigugurgirang. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan metode semiotik pancacuriga yang meliputi lima unsur interpretasi: silib, sindir, simbol, siloka, dan sasmita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing unsur pancacuriga memanifestasikan nilai-nilai religius, moral, sosial, dan kultural yang kaya makna dalam teks puisi mantra. Temuan ini juga mengungkap keterkaitan makna simbolik puisi mantra dengan dimensi keimanan, penalaran kritis, kemandirian, dan komunikasi dalam profil lulusan pembelajaran mendalam. Kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan pendekatan analisis semiotik pancacuriga sebagai metode yang komprehensif dalam kajian sastra lisan sekaligus sebagai media etnopedagogik untuk pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
Terjemahan, Analisis, dan Interpretasi atas Naskah "Sang Koeriang Eene Legende Uit De Soenda-Landen" dalam Buku Oost Indische Gedichtjes oleh J. Van Soest Tahun 1857 Retty Isnendes
Jurnal IKADBUDI Vol. 14 No. 2 (Special Issue) (2025): Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Dae
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v14i2.91666

Abstract

Penelitian ini berawal dari kegiatan inventarisasi terhadap cerita Sang Kuriang yang terdokumentasikan secara tertulis. Setelah dilakukan inventarisasi dapat diketahui bahwa cerita Sang Kuriang telah terdokumentasikan dalam naskah yang tersebar dalam buku-buku, artikel-artikel, jurnal-jurnal, dan berita-berita majalah dan koran yang ditulis oleh kaum orientalis, terutama bangsa Belanda selama berdiam atau tak pernah datang sama sekali ke negeri Hindia Timur. Salah satu dari sekian cerita Sang Kuriang terdapat kisahnya dalam buku Oost Indische Gedichten. Buku ini berisi 18 puisi remaja yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh J. Van Soest tahun 1857 atas karya ayahnya sendiri. Puisi yang berjudul "Sang Koeriang Eene Legende Uit De Soenda-Landen" atau “Sang Kuriang Legenda dari Tanah Sunda” merupakan transformasi dari legenda atau dongeng yang sangat terkenal tentang tokoh Sang Kuriang dan Tangkuban Parahu. Puisi tersebut terdapat pada halaman 137 s.d. 146 dengan menggunakan bahasa Belanda dan ditulis dalam 28 bait. Naskah puisi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lalu dianalisis dan diinterpretasi isinya. Secara umum puisi epik "Sang Koeriang Eene Legende Uit De Soenda-Landen" mengisahkan Sang Kuriang dan Dayang Sumbi, akan tetapi detil kisahan sangat berbeda dengan kisahan yang kini kita kenali. Selain itu, isi legenda dalam puisi berhubungan dengan asal muasal delapan (8) penamaan gunung dan dua (2) penamaan tempat di dataran Bandung. Legenda Sang Kuriang menghadirkan gambaran belantara alam Sunda secara ekologis dan kosmologis. Keywords: Sang Kuriang, Tangkuban Parahu, legenda, naskah bahasa Belanda, puisi epik.
Konflik Tokoh Utama dalam Novel Panganten Karya Deden Abdul Aziz: Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney Denny Adrian Nurhuda; Dedi Koswara; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes; Yuliani Yuliani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5256

Abstract

This study aims to explain the conflict phenomenon and types, also its resolution efforts made by the main character in the novel Panganten by Deden Abdul Aziz. The descriptive-qualitative research uses Karen Horney's literary psychology approach (psychoanalysis theory), which emphasizes that literature is a reflection of society, to analyze the data. The data analysis technique of this research is interpretative descriptive analysis. The results show that there are interpersonal conflicts between characters in this novel and intrapsychic conflicts consisting of despised real self, real self, ideal self, and actual self. In addition, conflict resolution efforts that occur in this novel are approaching others, fighting others, and staying away from others. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena, jenis, dan upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh karakter utama dalam novel Panganten karya Deden Abdul Aziz. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra Karen Horney yang menekankan bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat. Penelitian deskriptif kualitatif dengan teori psikoanalisis sosial Karen Horney ini menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk menganalisis datanya. Teknik analisis data penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konflik interpersonal antartokoh dalam novel dan konflik intrapsikis yang terdiri atas diri rendah (despised real self), diri nyata (real self), diri ideal (ideal self), dan diri aktual (actual self). Di samping itu, upaya penyelesaian konflik yang terjadi dalam novel ini adalah mendekati orang lain, melawan orang lain, dan menjauhi orang lain. 
Aspek Sosial dalam Novel Surat Wasiat Karya Samsoedi Ema Siti Muliawati; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6949

Abstract

This research was conducted due to the lack of public awareness in appreciating literary works that are full of social values. The purpose of this study is to describe the social elements contained in the novel Surat Wasiat by Samsoedi. In this research, the descriptive analysis method is used, which involves collecting data from the novel Surat Wasiat, analyzing the collected data, and presenting a description of the data. The main source of data in this research comes from the novel Surat Wasiat.  The data obtained is a record of the results of analyzing the literature that has been studied. The results of this study identified three social dimensions, including religious, economic, and educational aspects. In the religious social dimension, three related elements were identified, including 1) belief in Allah Swt, 2) obeying His commands, and 3) sincere attitude and gratitude to Him. In the social dimension of education, there are six elements, including 1) ethics, 2) respect, 3) patriotism, 4) peace, 5) avoiding envy and jealousy, and 6) complying with prevailing social norms. AbstrakPenelitian ini dilakukan karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghargai karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan elemen-elemen sosial yang terdapat dalam novel Surat Wasiat karya Samsoedi. Dalam penelitian ini, digunakan metode analisis deskriptif yang melibatkan pengumpulan data dari novel Surat Wasiat, proses analisis terhadap data yang terhimpun, serta penyajian deskripsi dari data tersebut. Sumber utama data dalam penelitian ini berasal dari novel Surat Wasiat.  Data yang didapatkan adalah catatan dari hasil analisis literatur yang telah diteliti. Hasil dari penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi sosial, meliputi aspek keagamaan, ekonomi, dan pendidikan. Dalam dimensi sosial keagamaan, teridentifikasi tiga elemen terkait, termasuk 1) keyakinan pada Allah Swt, 2) mematuhi perintah-Nya, serta 3) sikap ikhlas dan rasa syukur kepada-Nya. Dalam dimensi sosial pendidikan, terdapat enam unsur, di antaranya 1) etika, 2) sikap menghargai, 3) patriotisme, 4) kedamaian, 5) menghindari rasa iri dan dengki, serta 6) patuh pada norma-norma sosial yang berlaku.
ANALISIS RAGAM BAHASA PADA MASYARAKAT MULTILINGUAL DI PASAR PRAPATAN KABUPATEN MAJALENGKA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Deyaha Afif; Retty Isnendes; Eri Kurniawan
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 13 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v13i3.12621

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian sosiolinguistik yang bertujuan untuk mengidentifikasi ragam bahasa yang muncul dalam interaksi jual-beli pada masyarakat multilingual di pasar Prapatan, Kabupaten Majalengka. Adapun metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yakni deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak libat cakap, wawancara dan dokumentasi. Teori penelitian yang digunakan yakni Ragam Bahasa berdasarkan tingkat keformalannya menurut Martin Joos (1967) dengan teori faktor munculnya ragam bahasa menurut Holmes (1992). Hasil dari penelitian ini menunjukan ada tiga ragam bahasa yang muncul dari interaksi jual-beli tersebut yakni 1) ragam usaha (consultative) yang menunjukan adanya tujuan komunikasi untuk mencapai kesepakatan jual-beli, 2) ragam santai (casual) & ragam usaha (consultative) menunjukan komunikasi yang didukung kedekatan personal para penutur dengan tujuan kesepakatan jual-beli, dan 3) ragam akrab (intimate) & ragam usaha (consultative) menunjukan komunikasi yang dilatarbelakangi adanya hubungan kekeluargaan antara salah satu penutur dengan tujuan akhir mencapai kesepakatan jual-beli. Sementara faktor pendukung munculnya ragam bahasa yang ditemukan dari penelitian ini yakni berdasarkan 1) status sosial, 2) jenis kelamin, 3) usia, dan 4) etnis.Kata Kunci: Sosiolinguistik, ragam bahasa, multilingual, pasar tradisional
ASPEK PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL SAGAGANG JACARANDA KARYA RISNAWATI: KAJIAN STRUKTURAL DAN PSIKOLOGI Rima Mawar Wati; Dedi Koswara; Retty Isnendes
HUMAN: Journal of Social Humanities and Science Vol. 4 No. 1 (2026): HUMAN: Journal of Social Humanities and Science, July 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/human.v4i1.1721

Abstract

This study aims to describe the psychological aspects of the main character in the novel Sagagang Jacaranda by Risnawati, utilizing Sigmund Freud's theory of literary psychology. A qualitative descriptive method was employed, utilizing reading and note-taking techniques to outline the story's structural elements and the main character's psychological aspects. The study's findings cover two areas: first, the structural elements contained within the novel—specifically theme, characters, plot, setting, and message. The novel's theme centers on an individual's internal conflict in accepting an unexpected reality. The protagonist is Adis, while the antagonists are Mamih and Gagah’s father (Papih). The plot is mixed (non-linear), featuring 20 temporal settings, 36 spatial settings, and one social setting. Second, regarding the psychological aspects of the character Adis, the Superego emerges as the dominant force, reflecting a personality that is mature, responsible, and capable of self-control when facing various life conflicts. Nevertheless, the Id remains present as an instinctive drive influencing the character's desires and emotions through subconscious reflex responses, though its intensity does not surpass the dominance of the Superego. Meanwhile, the Ego acts as a mediator, helping Adis balance Id-driven impulses with the reality she faces; consequently, her decisions and actions remain rational and take the interests of others into account. Thus, the balance between the Id, Ego, and Superego shapes Adis into a character who not only seeks to fulfill personal desires but also upholds moral and ethical values ​​in every decision-making process.