Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Cirebon dalam Leksikon Arsitektur Hijau Keraton Kasepuhan Menyikapi Isu SDGs Yuningsih, Epi; Isnendes, Retty; Kurniawan, Eri
LOKABASA Vol 14, No 1 (2023): April 2023
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v14i1.53777

Abstract

Arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan bangunan yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal karena dalam pemilihan dan penggunaan materialnya mencerminkan sifat berkelanjutan yang selaras dengan alam. Oleh karena itu, bangunan tersebut dianggap sebagai bangunan yang mencerminkan konsep green architecture sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Namun, ada kekhawatiran bahwa pengetahuan yang menjadi kearifan lokal dalam bangunan tersebut akan tergerus oleh pengaruh globalisasi dan modernisasi, hal tersebut tentunya akan sangat berdampak pada terkikisnya perbendaharaan leksikon dan pengetahuan masyarakat akan nilai-nilai kearifan lokal dalam bangunan keraton. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap nilai kearifan lokal dan konsep green architecture yang terekam dalam leksikon etnoarsitektur Keraton Kasepuhan dengan menggunakan pendekatan teoritis berupa studi etnolinguistik yang mengkaji bahasa dan budaya sebagai suatu kesatuan yang utuh. Data bahasa berupa leksikon bersumber dari kegiatan observasi, wawancara, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis berdasarkan bentuk lingualnya. Selanjutnya, data tersebut dikaitkan dengan konsep arsitektur hijau yang menjadi tujuan dari pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) serta nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sejumlah leksikon yang berkaitan dengan arsitektur untuk menyatakan jenis bangunan, bagian-bagian bangunan, alat dan bahan bangunan, proses pembuatan, perawatan bangunan, dan jenis ornamen. Leksikon tersebut mengandung nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Cirebon dan mencerminkan konsep green architecture karena telah memenuhi prinsip-prinsip arsitektur hijau berupa conserving energi, working with climate, respect for site, respect for use, limitting new resources, dan holistic. Penerapan prinsip tersebut menunjukkan bahwa dalam pelaksanaannya, arsitektur Keraton Kasepuhan sudah mendukung arsitektur yang berkelanjutan sesuai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Kajian Sosiologi Sastra Pada Novel “Jamparing” Karya Chye Retty Isnendes Herlina, Yeni; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty; Nurhuda, Denny Adrian
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.732

Abstract

The aim of this research is to determine the sociological study of literature on the novel Jamparing by Chye Retty Isnendes. The method in this research is qualitative with a research focus on analyzing the novel (a) the author's world view, (b) socio-cultural background, (c) the author's view of the characters, (d) the characters and relationships between characters and interviews. The result of this research is a novel that shows the conflict between two groups from different social backgrounds as a reflection of complex social reality. The differences are clearly reflected in the lifestyles, values and outlook on life of the two groups from Muhammadiyah Middle Schools and State Middle Schools. The conflict between them represents a larger struggle in society, between traditional and modern, rural and urban. The author uses characters from each group as a vehicle to represent these differences, highlighting the dynamics and growth of the characters. Meanwhile, the dynamics of social relations both within and between groups illustrate the complexity of human interaction. Even though conflict is present, the main message to be conveyed is the importance of tolerance, understanding and respect for diversity in society. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kajian sosiologi sastra pada novel jamparing karya Chye Retty Isnendes. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan fokus penelitian analisis novel (a) pandangan dunia pengarang, (b) latar belakang sosial budaya, (c) pandangan pengarang terhadap tokoh, (d) karakter tokoh dan hubungan antar tokoh dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah Novel yang memperlihatkan pertentangan antara dua kelompok dari latar belakang sosial yang berbeda menjadi cerminan realitas sosial yang kompleks. Perbedaan jelas tercermin dalam gaya hidup, nilai-nilai, dan pandangan hidup kedua kelompok dari SMP Muhammadiyah dan SMP Negeri. Konflik yang terjadi antara mereka merepresentasikan pertarungan yang lebih besar dalam masyarakat, antara tradisional dan modern, pedesaan dan perkotaan. Pengarang menggunakan tokoh-tokoh dari masing-masing kelompok sebagai wadah untuk merepresentasikan perbedaan tersebut, menyoroti dinamika dan pertumbuhan karakter. Sementara itu, dinamika hubungan sosial baik di dalam maupun antara kelompok menggambarkan kompleksitas dalam interaksi manusia. Meskipun konflik hadir, pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya toleransi, pengertian, dan penghargaan terhadap keragaman dalam masyarakat. 
Makna Konotatif dalam Puisi Bahasa Sunda yang Berjudul “Do’a Pikeun Guru” Karya Kustian Kurniasih, Kurniasih; Nunuy Nurjanah, Nunuy Nurjanah; Isnendes, Retty; Firdaus, Winci
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5, No 2 (2023): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v5i2.733

Abstract

Poetry is an artistic expression that uses words creatively and rhythmically. It is a way to convey feelings, thoughts, or experiences through specially selected language to create an aesthetic impression, rhythm, and beauty. Poetry can be an expression of deep feelings, a picture of nature, a narrative about life, or simply a reflection of various aspects of life. The purpose of this study was to determine the connotative meaning in Sundanese poetry entitled Do'a Untuk Guru by Kustian. The method in this study is a qualitative method, with data collection through reading, understanding, and translating. The result of this study is 1 type of associative meaning found in the poem entitled "Prayer for the Teacher" namely connotative meaning, social meaning, affective meaning, reflective meaning, and colloquial meaning. There are 3 lines of poetry containing connotative meanings, 2 lines of poems containing social meanings, 4 lines of poems containing affective meanings, 4 lines of poems containing reflective meanings, and 4 lines of poems containing colloquial meanings according to Leech's theory. AbstrakPuisi adalah ungkapan seni yang menggunakan kata-kata secara kreatif dan berirama. Ini adalah cara untuk menyampaikan perasaan, pemikiran, atau pengalaman melalui penggunaan bahasa yang dipilih secara khusus untuk menciptakan kesan estetika, ritme, dan keindahan. Puisi bisa berupa ekspresi perasaan yang mendalam, gambaran alam, narasi tentang kehidupan, atau sekadar refleksi dari berbagai aspek kehidupan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna konotatif dalam puisi bahasa Sunda yang berjudul “Do’a Pikeun Guru” karya Kustian. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pengumpulan data melalui membaca, memahami, dan menerjemahkan. Hasil dari penelitian ini adalah jenis makna asosiatif yang ditemukan dalam puisi berjudul “Doa Pikeun Guru” yaitu makna konotatif, makna sosial, makna afektif, makna reflektif dan makna kolokatif. Dalam puisi tersebut, terdapat 3 baris puisi yang mengandung jenis makna konotatif, 2 baris puisi yang mengandung jenis makna sosial, 4 baris puisi yang mengandung jenis makna afektif, 4 baris puisi yang mengandung jenis makna reflektif, dan 4 baris puisi yang mengandung makna kolokatif menurut teori Leech.
Eco-critical Discourse Analysis of the Indonesian President’s Statement at the 21st Conference of the Parties in Paris Mansyur, Siti Awaliyah; Iwa Lukmana; Isnendes, Retty; Gunawan, Wawan
REiLA : Journal of Research and Innovation in Language Vol. 3 No. 2 (2021): REiLA : Journal of Research and Innovation in Language
Publisher : The Institute of Research and Community Service (LPPM) - Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/reila.v3i2.6285

Abstract

This study investigates the representation of the environmental, ecological, and climate change issue in the Indonesian President’s Joko Widodo statement at the COP21, 2015. The data was taken from the transcript published by the Indonesian Ministry of Environment and Forestry's official website. It is selected according to the popularity of the President and to learn about his ecological view based on the way he represented the country's ecological issue at the global event. The analysis was carried out within an eco-critical discourse analysis framework, which started by investigating the ideology using Fairclough's three-dimensional model. Then, the ideology was judged using the ecolinguistics perspectives proposed by Stibbe (2015a, 2020). The result shows that President Joko Widodo’s ecological-ideology can be regarded as 'prosaic: environmental problem solving', of which this study concludes that his speech can be defined as a 'beneficial discourse' that has to be promoted widely to raise the awareness of language use regarding an environmental issue.
AMERICAN PERCEPTIONS ON BARRIERS OF LEARNING INDONESIAN AS A FOREIGN LANGUAGE Syahri, Chaidir; Isnendes, Retty; Muniroh, R. Dian Dia-an
International Journal of Education Vol 17, No 1 (2024): February 2024
Publisher : Kantor Jurnal dan Publikasi Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ije.v17i1.60667

Abstract

Foreign language acquisition is one of the important issues in the current era of globalization. Indonesian is not an exception because, within the last twenty years, the significance of Indonesian language has increased. This study aims to reveal the problem of the learning of Indonesian language as a foreign language. It focused on adolescent learners from the United States of America in a reputable language institution. More specifically, there are two questions in this study. First, what are the barriers of learning Indonesian that were found by the American learners? Second, what are the types of teaching materials that these learners like? This study is a case study with descriptive methods. It was conducted in a training institution focusing to train Christian preachers. Four learners from the United States of America were the informants in this study. The data were generated from the four American learners in obtained through (1) observation; (2) depth interviews with informants; and (3) relevant documents. This study concluded that (1) in general, the barriers faced by the American learners can be classified into four types: social, mental, phonological, and grammatical; and (2) the learners prefer various teaching materials but their common preference is the authentic learning materials that consider aspects of audiovisual media use, Indonesian cultural diversity, and language formality. Since the study only relied on four informants, the results cannot be generalized to all learners of Indonesian Language. However, they can provide a figure in the learning of Indonesian language involving non-native speakers, especially the Americans.
RAGAM BENTUK TUTURAN DAN KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TRADISI MELENGKAN PADA UPACARA PERNIKAHAN ADAT GAYO Qatrunnada, Dwi; Isnendes, Retty; Fasya, Mahmud
Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 1 No. 9 (2022): Humantech : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : Program Studi Akuntansi IKOPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32670/ht.v1i9.2055

Abstract

Suku Gayo melaksanakan sistem perkawinan sesuai dengan syariat Islam. Suku Gayo sendiri merupakan suku yang seutuhnya memeluk agama Islam, maka sistem perkawinannya pun sesuai dengan agama Islam. Pernikahan adalah hal yang sangat hakiki di dalam agama dan kehidupan. Oleh karena itu, diharapkan keputusan untuk menikahkan anak harus dengan penuh pertimbangan, supaya pernikahan dapat abadi sekaligus sebagai perintah agama, serta menjadi pahala bagi orang-orang yang melaksanakannya. Melengkan atau pidato adat berfungsi untuk menyampaikan sesuatu yang berupa pesan, pertanyaan, jawaban, penerimaan, dan permintaan pada acara sinte murip dan sinte mate. Melengkan disampaikan oleh dua orang secara bergantian pada posisi berdiri. Melengkan berbentuk puisi dan mempunyai irama tersendiri. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian etnografi, etnografi adalah suatu kebudayaan yang mempelajari kebudayaan lain. Data utama penelitian ini bersumber dari kegiatan observasi terhadap acara pernikahan adat Suku Gayo. Data yang diambil peneliti berupa rekaman video dan audio di dalam sebuah acara pernikahan adat Suku Gayo. Setelah direkam, data kemudian di transkripsikan dalam bentuk tulisan dan kemudian di analisis berdasarkan teori kesantunan PTSR oleh Aziz. Dengan memahami ragam bentuk dan kesantunan berbahasa dalam acara adat pernikahan Suku Gayo ini juga dapat menambah pemahaman terhadap ragam bentuk tindak tutur yang digunakan serta mengetahui secara lanjut terhadap kesantunan Bahasa yang digunakan di dalam masyarakat suku tersebut.
Aspek Sosial dalam Novel Surat Wasiat Karya Samsoedi Muliawati, Ema Siti; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6949

Abstract

This research was conducted due to the lack of public awareness in appreciating literary works that are full of social values. The purpose of this study is to describe the social elements contained in the novel Surat Wasiat by Samsoedi. In this research, the descriptive analysis method is used, which involves collecting data from the novel Surat Wasiat, analyzing the collected data, and presenting a description of the data. The main source of data in this research comes from the novel Surat Wasiat.  The data obtained is a record of the results of analyzing the literature that has been studied. The results of this study identified three social dimensions, including religious, economic, and educational aspects. In the religious social dimension, three related elements were identified, including 1) belief in Allah Swt, 2) obeying His commands, and 3) sincere attitude and gratitude to Him. In the social dimension of education, there are six elements, including 1) ethics, 2) respect, 3) patriotism, 4) peace, 5) avoiding envy and jealousy, and 6) complying with prevailing social norms. AbstrakPenelitian ini dilakukan karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghargai karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan elemen-elemen sosial yang terdapat dalam novel Surat Wasiat karya Samsoedi. Dalam penelitian ini, digunakan metode analisis deskriptif yang melibatkan pengumpulan data dari novel Surat Wasiat, proses analisis terhadap data yang terhimpun, serta penyajian deskripsi dari data tersebut. Sumber utama data dalam penelitian ini berasal dari novel Surat Wasiat.  Data yang didapatkan adalah catatan dari hasil analisis literatur yang telah diteliti. Hasil dari penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi sosial, meliputi aspek keagamaan, ekonomi, dan pendidikan. Dalam dimensi sosial keagamaan, teridentifikasi tiga elemen terkait, termasuk 1) keyakinan pada Allah Swt, 2) mematuhi perintah-Nya, serta 3) sikap ikhlas dan rasa syukur kepada-Nya. Dalam dimensi sosial pendidikan, terdapat enam unsur, di antaranya 1) etika, 2) sikap menghargai, 3) patriotisme, 4) kedamaian, 5) menghindari rasa iri dan dengki, serta 6) patuh pada norma-norma sosial yang berlaku.
Konflik Tokoh Utama dalam Novel Panganten Karya Deden Abdul Aziz: Kajian Psikoanalisis Sosial Karen Horney Nurhuda, Denny Adrian; Koswara, Dedi; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty; Yuliani, Yuliani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.5256

Abstract

This study aims to explain the conflict phenomenon and types, also its resolution efforts made by the main character in the novel Panganten by Deden Abdul Aziz. The descriptive-qualitative research uses Karen Horney's literary psychology approach (psychoanalysis theory), which emphasizes that literature is a reflection of society, to analyze the data. The data analysis technique of this research is interpretative descriptive analysis. The results show that there are interpersonal conflicts between characters in this novel and intrapsychic conflicts consisting of despised real self, real self, ideal self, and actual self. In addition, conflict resolution efforts that occur in this novel are approaching others, fighting others, and staying away from others. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena, jenis, dan upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh karakter utama dalam novel Panganten karya Deden Abdul Aziz. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra Karen Horney yang menekankan bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat. Penelitian deskriptif kualitatif dengan teori psikoanalisis sosial Karen Horney ini menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk menganalisis datanya. Teknik analisis data penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat konflik interpersonal antartokoh dalam novel dan konflik intrapsikis yang terdiri atas diri rendah (despised real self), diri nyata (real self), diri ideal (ideal self), dan diri aktual (actual self). Di samping itu, upaya penyelesaian konflik yang terjadi dalam novel ini adalah mendekati orang lain, melawan orang lain, dan menjauhi orang lain. 
ANALISIS KONTEN HOTS DALAM BUKU SIMPAY BASA SUNDA KELAS VIII Mauludi, Nugraha; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty
Magistra Andalusia: Jurnal Ilmu Sastra Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/majis.6.2.152.2024

Abstract

The goal of 21st century learning is that students are expected to have higher order thinking skills. But in fact, students' high-level thinking skills in Indonesia are still worrying. Based on that, this study aims to understand aspects of higher order thinking and describe its application in the content contained in textbooks in schools. In analyzing and describing content that has high-level thinking content, (1) cognitive level, (2) stimulus elements, and (3) contextual elements will be analyzed. This research method uses descriptive analytic method with a qualitative approach. The techniques used in this research are documents and notes. The text book used in this study is the Simpay Basa Sunda book at the VIII grade junior high school level. The results of this study contained 413 data whose details were (1) various cognitive levels in the book there were 72.39% at level 1 (knowledge and understanding), 9.68% at level 2 (application), and 17.91% at level 3 (reasoning). (2) the stimulus elements in this book are dominated by verbal stimuli totaling 323 stimuli, then visual stimuli totaling 1 stimulus. (3) there are 114 contextual elements in this book with a percentage of 28%. It can be concluded that this book can support the development of higher-order thinking skills, and can also support the ongoing 21st century learning process. However, it must be noted that this can be developed further by increasing the content containing HOTS.
Aspek Flora untuk Penyebutan Standar Kecantikan dalam Bahasa Sunda Sandi Setiawan; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes; Denny Adrian Nurhuda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4671

Abstract

The purpose of this research is to reveal the direct meaning or conceptual meaning and figurative meaning or associative meaning. The method used in this research is analytical descriptive method with data collection techniques by literature review, namely looking for the data needed and then recording it so that there are six data used which are sourced from several libraries namely “Kamus Bahasa Sunda R.A. Danadibrata”, “Kamus Idiom Sunda-Indonesia”, and “Peperenian Urang Sunda”. The data used were Ngadaun seureuh, Bitis Jaksi Sajantung, Mucuk Eurih, Lambey Jeruk Sapasi, Pipi Kadu Sapasi and Héjo Carulang. The analysis technique starts from collecting data, reducing the initial data and analyzing the data used in this study. The result of this study is to reveal that the conceptual meaning does not show the standard of beauty in Sundanese language but refers to the plant used as a simile, but the standard of beauty can be found when looking by means of associative meaning or figurative meaning that is continuous with the referred flora. The beauty is borrowed from the form or nature of the flora used in the idiom.  AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap makna langsung atau makna konseptual dan makna kiasan atau makna asosiatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deksriptif analitis dengan teknik pengumpulan data dengan tinjauan pustaka yakni mencari data yang dibutuhkan lalu mencatatnya sehingga terdapat enam data yang digunakan yang bersumber dari beberapa pustaka yakni “Kamus Bahasa Sunda R.A. Danadibrata”, “Kamus Idiom Sunda-Indonesia”, dan “Peperenian Urang Sunda”. Data yang digunakan adalah Ngadaun seureuh, Bitis Jaksi Sajantung, Mucuk Eurih, Lambey Jeruk Sapasi, Pipi Kadu Sapasi dan Héjo Carulang. Teknik analisis dimulai dari pengumpulan data, mereduksi data awal dan menganalisis data yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah mengungkap bahwa makna konseptual tidak menunjukan standar kecantikan dalam bahasa Sunda melainkan merujuk pada tanaman yang digunakan sebagai perumpamaan, namun standar kecantikan tersebut dapat ditemukan apabila melihat dengan cara makna asosiatif atau makna kiasan yang berkesinambungan dengan flora yang dirujuk. Kecantikan tersebut dipinjam dari bentuk atau sifat flora yang digunakan dalam idiom tersebut.