Claim Missing Document
Check
Articles

Mengintegrasikan Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Sastra dan Budaya Lokal: Temuan dari FGD Kolaboratif UPI–UNDIKSHA Koswara, Dedi; Darajat, Danan; Alamsyah, Zulfikar; Isnendes, Retty; Suherman, Agus
Dimasatra Vol 5, No 1 (2025): April
Publisher : Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dm.v5i1.75630

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru dan dosen pengajar bahasa daerah mengenai implementasi Kurikulum Merdeka dan capaian pembelajarannya, khususnya dalam konteks pembelajaran sastra dan budaya lokal. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali. Latar belakang kegiatan ini didasari oleh tantangan dalam dunia pendidikan pascapandemi Covid-19, yang menuntut adanya penyesuaian terhadap kurikulum serta penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel, adaptif, dan kontekstual terhadap lingkungan budaya peserta didik. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) dengan mengintegrasikan metode ceramah, diskusi, dan simulasi. Subjek kegiatan difokuskan pada guru bahasa daerah dan dosen pengampu mata kuliah bahasa dan budaya daerah di lingkungan UPI dan Undiksha, serta se-Indonesia. Hasil FGD menunjukkan bahwa kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman peserta terhadap prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka, capaian pembelajarannya, serta strategi integrasi nilai-nilai budaya lokal, seperti budaya Sunda dan Bali, ke dalam proses pembelajaran. Selain memberikan dampak langsung dalam peningkatan kompetensi peserta, kegiatan ini juga menghasilkan sejumlah luaran akademik, di antaranya: (1) artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi, (2) buku hasil kegiatan, (3) artikel populer di media massa, serta (4) pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Temuan dan pengalaman dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model implementatif bagi institusi pendidikan lainnya dalam mengembangkan kurikulum berbasis kearifan lokal secara lebih sistematis dan berkelanjutan.
KAJIAN STRUKTURAL DAN PSIKOLOGI HUMANISTIK DALAM NASKAH DRAMA GÉNJLONG KARATON KARYA DIAN HENDRAYANA Nugraha, Asep Suhendar; Koswara, Dedi; Isnendes, Retty; Rahmat, Wahyudi
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 20, No 1 (2025): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/loa.v20i1.8402

Abstract

Abstrak Penelitian ini didasari oleh pentingnya meneliti ilmu kejiwaan dalam naskah drama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur cerita drama, struktur naskah drama, dan psikologi humanistik yang terkandung dalam naskah drama Génjlong Karaton karya Dian Hendrayana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif-kualitatif, tekniknya studi pustaka. Hasil dalam penelitian ini yaitu secara struktur cerita terbilang lengkap karena semua aspek tergambar jelas dalam naskah dramanya. Secara struktur naskah terbilang tidak lengkap karena ada beberapa aspek yang tidak tergambar dalam naskah dramanya yaitu prolog, aside, dan epilog. Sedangkan lima tingkatan kebutuhan manusia semuanya tergambar jelas dalam naskah drama “Génjlong Karaton” karya Dian Hendrayana. Kata-kata Kunci: kajian struktural; naskah drama; psikologi humanis Abstract This research is based on the importance of examining psychology in drama scripts. This research aims to find out the structure of the drama story, the structure of the drama script, and the humanistic psychology contained in the drama script “Génjlong Karaton” by Dian Hendrayana. The method used in this research is descriptive-qualitative; the technique is a literature study. The results in this study are that the story structure is fairly complete because all aspects can be found in the script. Structurally, the drama script is incomplete because there are several aspects that are not reflected in the drama script, namely the prologue, the aside, and the epilogue. The five levels of human needs are clearly depicted in the drama script “Génjlong Karaton” by Dian Hendrayana.
Vokal dalam bahasa daerah di Kalimantan Selatan: sebuah kajian tipologi bahasa Mubarok, Ahmad; Isnendes, Retty; Kurniawan, Eri
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 7 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v7i2.1007

Abstract

This study aims to examine the vocal system in regional languages in South Kalimantan, focusing on eighteen varieties of local languages, namely Banjar, Sunda, Bakumpai, Lawangan, Dayak Halong, Dusun Deah, Flores, Manyan, Abal, Sasak, Javanese, Bugis, Samihin, Bajau, Madura, Berangas, Bali, and Mandar. The research method used is a qualitative descriptive approach with literature data analysis. The results showed variations in the vocal system between regional languages, with some languages having unique vowels while others showed anomalies in the distribution of vowels. The study found that the vowels /i/, /u/, /e/, and /a/ were found in all of the regional languages studied, while the vowels /ə/ were found in seventeen languages, the vowels /o/ in thirteen languages, and the vowels /ɔ/ in six languages. This research makes an important contribution to the development of language typology in South Kalimantan and can be the basis for further research on vocal anomalies in the regional language.
Analisis Struktur dan Nilai Budaya Cerita Rakyat di Sekitar Waduk Jatigede Sumedang Sandiana, Dian; Isnendes, Retty; Haerudin, Dingding
Jaladri : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 1 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i1.3757

Abstract

This research aims to inventory the folklore in the Sabudeureun Jatigede reservoir, Sumedang district. The aim is that all or part of the folklore can be documented, preserved and planned, in development efforts so that it can be utilized optimally to improve the quality of social life of the people in West Java. In addition, it is hoped that it can maintain, preserve and develop the cultural values contained therein which can be utilized optimally to improve the quality of people's social life. This research uses qualitative methods, namely understanding the phenomena experienced by the research subjects. Meanwhile, the research techniques used are library studies and field techniques. The data collection technique uses recording or noting informants' storytelling activities which are directed at being able to answer what and how the stories, local history or myths they have. Meanwhile, interviews are used to answer the meaning or cultural values contained therein. Apart from that, secondary data was also collected related to previous writings regarding descriptions of local history, myths and folklore related to the purpose of the writing. Meanwhile, the theories used in this research are structuralism and functionalism theories. The results of the research are folktales in the Jatigede reservoir, Sumedang Regency, which contain 40 folktales, namely: Endog Sapatalangan, Prabu Adji Putih, Prabu Tungtang Buana, Resi Patangjala Seda, Dewi Nawang Wulan, Dalem Santapura, Aji Putih Sungklanglarang, Babon Kadarmarajaan, Sasakala Weak Sagandu, Sasakala Sumedang Larang, Sasakala Darmaraja, Origins of Cipeueut, Origins of Cipaku, Sasakala Cieunteung, Sasakala Cimanuk, Sasakala Cau Manggala, Sasakala Halu jeung Lisung, Buhaya Putih jeung Keuyeup Bodas, Gunung Surian, Cadasngampar, Pasircalung, Jemah, Mount Jagat, Mount Lingga, Mount Simpay, Mount Cikalingsem, Mount Pamalayan, Mount Sangkan Jaya, Mount Bande, Mount Putri, Kampung Gorowong, Kampung Leuwi Hideung, Kampung Malember, Puncak Damar, Sasakala Paauthor, Sangkuriang version of Paauthor, Larasati Suwung Rasa, Asal -Suggestions for Overtime Pamelangan, Sasakala Kampung Karedok, and Sasakala Lebak Siuh. Furthermore, the content of the story does not focus solely on local history (historiography). Other stories appear as they occur in other areas, for example about sasakala (the origins of a place), cosmological stories, such as the world of spirits and ghosts and stories related to agriculture. Viewed in terms of function, this research aims to show identity which in turn builds the character of the community. Likewise, folklore can provide an understanding of the behavior of people who believe in supernatural beings
Penerapan Media Pembelajaran Aplikasi Canva terhadap Kemampuan Menulis Aksara Sunda Rahmawati, Ira; Nurjanah, Nunuy; Isnendes, Retty
Jaladri : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 1 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i1.3785

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efektivitas penerapan media pembelajaran berbasis teknologi, khususnya aplikasi Canva, dalam meningkatkan kemampuan menulis aksara Sunda. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain pretest-posttest one group. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas X di sebuah sekolah menengah atas di Kuningan. Kelompok eksperimen menerima pembelajaran dengan menggunakan aplikasi Canva. Data dikumpulkan melalui tes menulis aksara Sunda sebelum dan setelah intervensi. Hasil analisis data menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan menulis aksara Sunda pada kelompok eksperimen. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan media pembelajaran aplikasi Canva dapat efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis aksara Sunda pada siswa sekolah menengah atas. Implikasi pedagogis dari penelitian ini mendukung integrasi teknologi dalam pembelajaran bahasa daerah untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis aksara Sunda.
Identification of Students’ Science Anxiety: Do Grade Level and Gender Affect It? Nuwangi, Pohaci Puspa; Riandi; Widodo, Ari; Isnendes, Retty; Ayuningbudi, Fadjrina Hapsari Woro
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 1 (2025): January
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i1.9715

Abstract

This study aims to identify the level of junior high school students' science anxiety, determine the effect of the three indicators of science anxiety on the level of science anxiety, and explore the differences between students' science anxiety based on class and gender. The study was conducted descriptively quantitatively through a survey of 205 junior high school students in Bandung Raya, using the Science Anxiety Questionnaire instrument which was developed multidimensionally by measuring students' learning anxiety, test anxiety, and class anxiety. Parametric statistical tests stated that the three indicators predicted students' science anxiety, students' test anxiety was higher than other anxieties, there was no significant difference in science anxiety between females and males, and there was a significant difference in science anxiety between students in grades VII, VIII, and IX.
Exploring Linguistic Distinctions: A Comparative Analysis of Baduy and Priangan Sundanese Lexical Choice Rahayu, Sri; Kurniawan, Eri; Isnendes, Retty; Ramadani, Ramadani
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8425

Abstract

This study aims to analyze lexical variation between Baduy and Priangan Sundanese and to explain how sociocultural factors shape lexical choices, language use, and speaker identity. A qualitative approach with a descriptive–comparative design was employed. Data were collected through observation, interviews, natural conversation recordings, and document analysis involving native speakers in Kanekes (Baduy) and the Priangan region (Bandung, Tasikmalaya, Garut, and Cianjur). The data were analyzed through data reduction, comparative data display, and lexical analysis using theoretical frameworks from contact linguistics and ecolinguistics to examine the influence of isolation, modernization, and language contact.The findings reveal that Baduy Sundanese preserves archaic vocabulary (e.g., kula, kakang), distinctive particles (mah, pan, teh), and specific semantic distinctions, such as the meaning of saung as a primary dwelling. In contrast, Priangan Sundanese reflects modernization and codification through the use of more standardized forms and stronger influence from Indonesian. Additional differences were observed in phonology (vowel lengthening), morphology (retention of traditional derivational forms), syntax (frequent subject/object omission), and levels of Indonesian interference. Sociocultural factors underlying these variations include the geographical isolation of the Baduy community, strong adherence to tradition, politeness norms, and the Priangan community’s openness to modern education and external contact. Overall, lexical choices function as markers of linguistic identity: the Baduy community demonstrates linguistic conservatism as a form of resistance to homogenization, whereas Priangan speakers exhibit adaptation to modernity. These findings contribute to studies on Sundanese variation, contact linguistics, and ecolinguistics, while supporting efforts to preserve endangered dialects. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi leksikal antara Bahasa Sunda Baduy dan Priangan serta menjelaskan pengaruh faktor sosiokultural terhadap pilihan leksikal, penggunaan bahasa, dan identitas penuturnya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, perekaman percakapan alami, dan studi dokumen yang melibatkan penutur asli di Kanekes (Baduy) dan wilayah Priangan (Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Cianjur). Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data dalam tabel komparatif, serta analisis leksikal berbasis teori linguistik kontak dan ekolinguistik untuk menelusuri pengaruh isolasi, modernisasi, dan kontak bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Sunda Baduy mempertahankan kosakata arkais seperti kula dan kakang, partikel khas seperti mah, pan, dan teh, serta sejumlah perbedaan semantis, misalnya makna saung sebagai rumah utama. Sebaliknya, Bahasa Sunda Priangan memperlihatkan kecenderungan modernisasi dan kodifikasi melalui penggunaan bentuk baku serta dipengaruhi lebih kuat oleh Bahasa Indonesia. Ditemukan pula perbedaan fonologis (pemanjangan vokal), morfologis (penggunaan bentuk turunan tradisional), sintaksis (penghilangan subjek/objek), serta tingkat interferensi bahasa Indonesia yang berbeda antar kedua komunitas. Faktor sosiokultural yang memengaruhi variasi ini meliputi isolasi geografis Baduy, keterikatan pada tradisi, norma kesantunan, serta keterbukaan Priangan terhadap pendidikan modern dan interaksi eksternal. Secara keseluruhan, pilihan leksikal berfungsi sebagai penanda identitas: komunitas Baduy mempertahankan konservatisme linguistik sebagai bentuk resistensi terhadap homogenisasi, sedangkan komunitas Priangan menampilkan adaptasi terhadap modernitas. Temuan ini berkontribusi pada kajian variasi Sunda, linguistik kontak, dan ekolinguistik, sekaligus mendukung upaya pelestarian dialek yang terancam punah.