Claim Missing Document
Check
Articles

Responsibility of The Sidenreng Rappang Religious Court Class IB Based on Maqāṣid Al-Sharīʻah in Reducing The Rate of Marriage Dispensation Astuti, Tri; Rahmawati, Rahmawati; Said, Zainal; Basri, Rusdaya; Yunus, Mukhtar
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 07 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i07.1181

Abstract

This research aims to evaluate the responsibility of Sidenreng Rappang Class IB Religious Court in reducing the number of marriage dispensations. The study employs a qualitative approach with a case study method, involving in-depth interviews with judges, court officials, as well as families and couples applying for marriage dispensation. The findings of the study are as follows: 1) From 2019 to 2023, there has been a significant shift in the number of marriage dispensation applications at Sidenreng Rappang Class IB Religious Court. This shift indicates a change in societal perspectives on marriage values and the challenges they face in meeting marriage requirements. 2) Factors such as changes in family structure, increased social mobility, and the evolution of religious and cultural norms may contribute to this trend. Additionally, difficulties in meeting marriage requirements can drive individuals to seek dispensation. 3) The responsibility of Sidenreng Rappang Class IB Religious Court is also critical in preventing child marriages. The court's role includes tightening the examination of administrative requirements, providing explanations, exploring the genuine intentions of the child, and considering the true benefits and harms of child marriage
KEKERASAN SEKSUAL SUAMI TERHADAP ISTRI DALAM UUD NO 23 TAHUN 2004 DAN HUKUM ISLAM Zaky, Ahmad; L, Sudirman; Rahmawati, Rahmawati; Basri, Rusdaya; Said, Zainal
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024 (Special Issue)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.31607

Abstract

PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM PERMOHONAN DISPENSASI NIKAH DI PENGADILAN AGAMA”BARRU (PERSPEKTIF MAQASHID AL-SYARIAH) Salmah, Salmah; Hannani, Hannani; Fikri, Fikri; Rahmawati, Rahmawati; Said, Zainal
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024 (Special Issue)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.32534

Abstract

Penelitian tesis ini mengkaji pertimbangan hukum hakim dalam kasus dispensasi nikah di Pangadilan Agama Barru (Perspektif Maqashid Al-Syariah). Terdapat tiga rumusan masalah dalam penelitian ini: 1) Persepsi hukum Hakim tentang permohonan dispensasi nikah 2021 di Pengadila Agama Barru. 2) Faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan hukum Hakim tentang permohonan dispensasi nikah 2021 di Pengadila Agama Barru dan 3) Pandangan Maqashid al Syariah tentang pertimbangan hukum Hakim tentang permohonan dispensasi nikah 2021 di Pengadila Agama Barru. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan yuridis empiris Teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Konsep pertimbangan hukum hakim dalam kasus permohonan dispensasi nikah tahun 2021 mencakup elemen yuridis dengan menetapkan peraturan dan sumber hukum sebagai rujukan tempat hakim menggunakan landasan hukum sebagai cara untuk melaksanakan kepastian hukum.Selanjutnya, pertimbangan mewujudkan keadilan. Selain penerapan landasan hukum, pertimbangan mewujudkan keadilan juga sangat penting. 2) Faktor dalam kasus permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Barru, hakim mempertimbangkan dua hal: kesiapan dan kesungguhan anak. Selanjutnya, hakim mempertimbangkan asas keuntungan, ketiga, karena situasi yang sangat mendesak, dan keempat, faktor budaya.3. Perspektif Maqahid Al-Syariah tentang pertimbangan hakim dalam kasus sensasi nikah di Pengadilan Agama Barru adalah bahwa pertimbangan hakim tentang perlindungan hak anak seharusnya sejalan dengan pasal-pasal yang tercantum dalam PERMA nomor 5 tahun 2019 dan juga sesuai dengan tujuan Maqahid Al-Syariah untuk memelihara kemaslahatan, yang berarti bahwa keputusan hakim tersebut memposisikan kedudukan syara' lebih tinggi dari Undang-undang”.
REGULASI EKONOMI DIGITAL: PERSPEKTIF HUKUM DAN DAMPAK SOSIAL Said, Zainal; Sukri, Indah Fitriani; Ariska, Dwi Putri
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Volume 20, Nomor 2 (Oktober 2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/supremasi.v20i2.76939

Abstract

Perkembangan ekonomi digital di Indonesia membawa perubahan signifikan dalam struktur ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat, termasuk di wilayah Ajatappareng. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji regulasi ekonomi digital dari perspektif hukum serta menganalisis dampak sosial yang ditimbulkan di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur dan wawancara mendalam terhadap pelaku usaha digital, akademisi, dan aparat penegak hukum. Wawancara dilakukan dengan mengambil sampel dari objek penelitian yakni melalui informasi dari dinas Perindustrian dan Perdagangan daerah setempat yang dicocokkan dengan Perda yang telah dibuat untuk memberikan perlindungan hukum bagi pelaku usaha yang ada, selain itu berguna untuk mengukur sejauh mana Perda terkait izin pendirian swalayan dapat diharmonisasikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa regulasi yang ada masih menghadapi tantangan dalam hal penegakan hukum, perlindungan konsumen, serta kesenjangan akses digital. Secara sosial, ekonomi digital memberikan peluang peningkatan ekonomi lokal namun juga memunculkan risiko ketimpangan digital dan perubahan pola interaksi sosial. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kerangka hukum yang adaptif serta kebijakan inklusif yang mampu mengakomodasi dinamika ekonomi digital di tingkat lokal.
Pembaruan Hukum Keluarga Islam dalam Masa Berkabung Suami: Tinjauan Kompilasi Hukum Islam dan Konteks Sosial Budaya di Kabupaten Bone: Reform of Islamic Family Law During the Mourning Period for Husbands: A Review of the Compilation of Islamic Law and the Socio-Cultural Context in Bone Regency Faizal; Rusdaya Basri; Zainal Said
BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam Vol. 6 No. 3 (2025): BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/bustanul.v6i3.2218

Abstract

This study aims to examine how the people of Bone Regency understand and implement the husband's mourning period as stipulated in the Compilation of Islamic Law (KHI) within their socio-cultural context, and to explore relevant Islamic legal reforms related to this practice. Employing qualitative methods with normative, juridical, and sociological approaches, data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that most residents perceive the husband's mourning period in accordance with the KHI as compatible with local cultural values, particularly emphasizing siri’ (a sense of shame) and pesse (empathy). However, some community members remain unaware of these legal provisions. The implementation aligns well with Bone’s customs and traditions but is gradually evolving due to modernization and technological influences. Furthermore, the theory of ‘urf (customary law) effectively bridges Islamic family law and local culture, demonstrating that Islamic law is dynamic and capable of constructive dialogue with socio-cultural realities. This study highlights the importance of cultural context in interpreting and applying Islamic legal provisions, particularly regarding family law and mourning practices.
The Shift of Siri’ Values among the Bugis in Pre-Wedding Photography: An Analysis of Islamic Family Law Prasetio, Tri Bambang; Rusdaya Basri; Zainal Said; Agus Muchsin; Islamul Haq
Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society Vol 6 No 2 (2025): Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/aliftah.v6i2.14983

Abstract

This study examines the shifting meaning of Siri’ in the practice of pre-wedding photography among the Bugis community in Parepare City. In Bugis culture, Siri’ represents honor, modesty, and respect for tradition, values strictly preserved, especially by couples preparing for marriage. However, modernity and contemporary lifestyle have increased the popularity of pre-wedding photography. From an Islamic law perspective, interactions between unmarried men and women are restricted, including in pre-wedding photo sessions, creating tension between modern practices, cultural values, and religious norms.The research uses a field-based qualitative design with an empirical approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Primary sources included religious leaders, photographers, and couples involved in pre-wedding photography, while secondary sources comprised literature on Siri’ and Islamic family law.The findings highlight three main points: (1) Pre-wedding photography is now part of contemporary wedding trends despite some perceptions of inappropriateness, driven by technology, social media, and visual representation. (2) There is a significant shift in Siri’s interpretation, moving from strict pre-marital modesty toward a symbolic understanding compatible with modern lifestyles. (3) Islamic law and Siri’ values respond critically and selectively; Islamic law rejects practices that violate sharia, while Siri’ has transformed yet persists in the community’s consciousness.These findings imply that Bugis cultural identity is adapting, with traditional values like Siri’ being reinterpreted rather than abandoned to accommodate modern social realities. This shift challenges communities to balance cultural expectations, religious norms, and contemporary lifestyles, highlighting the need for clearer cultural guidance and context-sensitive Islamic legal education.