Claim Missing Document
Check
Articles

Induksi Kalus Krisan (Chrysanthemum morifolium Ramat.) dengan Penambahan Berbagai Kombinasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tia Setiawati; Alma Ayalla; Anandira Witri
EduMatSains : Jurnal Pendidikan, Matematika dan Sains Vol 3 No 2 (2019): Januari
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/edumatsains.v3i2.884

Abstract

Chrysanthemum is an ornamental plant that contains many secondary metabolites such as flavonoids and various volatile compounds that have the potential as medicinal ingredients. Production of secondary metabolites from plants can be carried out in vitro through callus culture. The purpose of this study was to determine the effect of Plant Growth Regulators (PGR) combination on callus formation from explants of leaves and stems of Chrysanthemum plantlets in Murashige & Skoog (MS) media. The study was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with a single factor in the form of 10 combinations of 2,4-D + kinetin for callus induction from stem explants and 12 combinations of NAA + BAP for callus induction from leaf explants. Observations were conducted on two months after planting. Observation data were analyzed descriptively. The results showed that callus formation occurred both from stem and leaf explants in all treatment combinations.In the group of stem explant, a combination of 3 `ppm 2,4-D + 2 ppm kinetin resulted in the highest average of callus size, wet weight, and dry weight, ie 13 (clay models); 1.186 grams; 0.316 grams respectively with a compact texture and light green, brownish dark green.Pada kelompok ekpslan daun, kombinasi 1 ppm NAA + 1 ppm BAP rata-rata ukuran, berat basah dan berat kering kalus tertinggi berturut-turut sebesar 17 (skala clay models); 1,3921 gram dan 0,1024 gram dengan tekstur kompak dan berwarna hijau muda.In the leaf explant group, a combination of 1 ppm NAA + 1 ppm BAP, the highest average of size, fresh weight and dry weight of callus at 17 (clay models); 1,3921 grams and 0.1024 grams with compact texture and light green color. Keywords: Chrysanthemum morifolium, calli, NAA, BAP, kinetin
PENGARUH POLYETHYLENE GLYCOL (PEG) TERHADAP KADAR KUERSETIN KULTUR KALUS Chrysanthemum morifolium Ramat PADA KONDISI PENCAHAYAAN BERBEDA Tia Setiawati; Syifa Fauzia Zazuli; Annisa Annisa; Mohamad Nurzaman; Budi Irawan
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 13, No 1 (2020): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3713.676 KB) | DOI: 10.15408/kauniyah.v13i1.13688

Abstract

AbstrakKrisan (Chrysanthemum morifolium Ramat) mengandung senyawa kuersetin dengan efek farmakologi yang sangat luas. Penambahan polyethilene glycol (PEG) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PEG terhadap pertumbuhan kalus krisan dan kadar kuersetin 3-O-rhamnosida pada pencahayaan yang berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Eksplan kalus berumur 45 hari setelah tanam (HST) disubkultur pada media MS + 4 ppm 2,4-D dengan penambahan PEG dalam lima taraf konsentrasi yaitu 0, 10, 20, 30, dan 40 ppm. Kultur diinkubasi pada kondisi gelap dan terang. Parameter yang diamati adalah warna, tekstur, ukuran, berat basah, dan berat kering kalus serta kadar kuersetin 3-O-rhamnosida. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Analisis Varians dan Uji Jarak Berganda Duncan (α 5%), sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus pada kondisi terang berwarna cokelat dan cokelat kehijauan, sedangkan pada kondisi gelap berwarna putih kecokelatan. Perlakuan 10 ppm PEG menghasilkan berat basah dan berat kering kalus tertinggi baik pada kondisi terang maupun gelap berturut-turut 1,97 g dan 2,92 g; 0,94 g dan 1,09 g. Kadar kuersetin 3-O-rhamnosida tertinggi pada kondisi gelap dan terang terdapat pada perlakuan 10 ppm PEG berturut-turut  1,72 µg/g berat kering (BK) dan 2,59 µg/g BK.Abstract Chrysanthemum morifolium Ramat. contains quercetin with very broad pharmacological effects. The addition of PEG can be used to increase the production of secondary metabolites using in vitro method. This study aimed to determine the effect of PEG on the growth of Chrysanthemum callus and quercetin 3-O-rhamnoside content in different lighting conditions. The experimental design used was a Completely Randomized Design. After 45 days, callus were subcultured on MS medium + 4 ppm 2,4-D which PEG was added in five concentration levels (0, 10, 20, 30, and 40 ppm). Culture was incubated in dark and light conditions. Parameters observed were color, texture, size, wet weight and dry weight of callus, also quercetin 3-O-rhamnoside levels. Quantitative data was analyzed using Analysis of Variance and Duncan's Multiple Distance (α 5%). Qualitative data was analyzed descriptively. The results showed that in light condition, the callus has brown and greenish brown color, whereas in dark, it has brownish white color. The 10 ppm PEG treatment produced the highest fresh weight and dry weight in both light and dark conditions of 1.97 g and 2.92 g, 0.94 g and 1.09 g, respectively.The highest quercetin 3-O-rhamnoside content  in dark and light conditions were founded in 10 ppm PEG treatment of 1.72 µg/g dry weight (DW) and 2.59 µg/g DW.
Pemanfaatan Tumbuhan Famili Zingiberaceae oleh Masyarakat Sekitar Kawasan Wisata Pantai Rancabuaya Kecamatan Caringin Kabupaten Garut Asep Zainal Mutaqin; Mohamad Nurzaman; Tia Setiawati; Ruly Budiono; Ela Noviani
Sains dan Matematika Vol. 5 No. 2 (2017): April, Sains & Matematika
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman suku bangsa dan budaya, termasuk pengetahuan tradisional di dalamnya. Salah satu pengetahuan yang ada di masyarakat adalah pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan. Penelitian ini dilakukan untuk mendokumentasikan pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan famili Zingiberaceae oleh masyarakat desa di kawasan Wisata Pantai Rancabuaya Kecamatan Caringin Kabupaten Garut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif bersifat deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara semistruktur terhadap informan kunci. Penentuan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling. Hasil wawancara menunjukan bahwa terdapat 12 jenis tumbuhan famili Zingiberaceae yang dimanfaatkan masyarakat, yaitu laja bodas (Alpinia galanga (L.) Willd.), laja beureum (Alpinia purpurata K. Schum.), kapolaga (Amomum cardamomum Maton), koneng temen (Curcuma domestica Val.), koneng gede (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), cikur (Kaempferia galanga Linn.), jahe gajah (Zingiber officinale var. Roscoe), jahe emprit (Zingiber officinale var. Amarum), jahe beureum (Zingiber officinale var. Rubrum), koneng bodas (Curcuma zedoaria (Berg.) Rosc.), lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.), dan panglay (Zingiber cassumunar Roxb.). Berdasarkan genusnya, masyarakat memanfaatkan Alpinia, Amomum, dan Kaempferia sebagai bumbu masak dan obat; Curcuma sebagai bumbu masak, bahan jamu, dan obat; serta Zingiber sebagai obat, bumbu masak, bahan minuman, dan ritual adat. Tumbuhan-tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan liar dan hasil budidaya yang diperoleh dari pekarangan, kebun, dan sawah. Indonesia is a country that has a diversity of ethnic groups and cultures, including traditional knowledge in it. One of the existing knowledge in society is knowledge about the use of plants. This research was conducted to document the utilization of Zingiberaceae family of plant species by rural communities in the Rancabuaya Coastal area of Caringin District, Garut Regency. The method used in this research is descriptive qualitative analysis. Data collection techniques were carried out by direct observation and semistructured interviews of key informants. Determination of informants is done by snowball sampling technique. Interview results show that there are 12 species of plants of the Zingiberaceae family that are utilized by the community, namely laja bodas (Alpinia galanga (L.) Willd.), laja beureum (Alpinia purpurata K. Schum.), kapolaga (Amomum cardamomum Maton), koneng temen (Curcuma domestica Val.), koneng gede (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), cikur (Kaempferia galanga Linn.), jahe gajah (Zingiber officinale var. Roscoe), jahe emprit (Zingiber officinale var. Amarum), jahe beureum (Zingiber officinale var. Rubrum), koneng bodas (Curcuma zedoaria (Berg.) Rosc.), lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.), dan panglay (Zingiber cassumunar Roxb.).  Based on its genus, people use Alpinia, Amomum, and Kaempferia as cooking spices and medicines; Curcuma as cooking spices, herbal ingredients, and medicine; and Zingiber as medicine, cooking spices, beverage ingredients, and traditional rituals. These plants are wild plants and cultivation results obtained from the yard, garden, and rice fields.
Perbanyakan In Vitro Bawang Putih (Allium Sativum Var. Tawangmangu) Melalui Kultur Tunas Kapital (Shoot Apex) Dian Latifa; Tia Setiawati; Ruly Budiono
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v7i2.1121

Abstract

The purpose of this research was to get the best combination of NAA and BAP concentration that enhance the growth of shoots and the best IBA concentration to root inducing from shoot apex explants of garlic on semi-solid MS medium. Research used experimental method with single factor and 2 steps induction of research, those are shooting and rooting. For the steps of shoot induction, the treatment used 9 combinations concentration BAP and NAA (k), those were k1 (NAA 0,25 ppm + BAP 1 ppm), k2 (NAA 0,5 ppm + BAP 1 ppm), k3 (NAA 0,75 ppm + BAP 1 ppm), k4 (NAA 0,25 ppm + BAP 1,5 ppm), k5 (NAA 0,5 ppm + BAP 1,5 ppm), k6 (NAA 0,75 ppm + BAP 1,5 ppm), k7 (NAA 0,25 ppm + BAP 2 ppm), k8 (NAA 0,5 ppm + BAP 2 ppm) and k9 (NAA 0,75 ppm + BAP 2 ppm). While for root induction used 3 treatments, those were i1 (IBA 1 ppm), i2 (IBA 2 ppm) dan i3 (IBA 3 ppm). The fastest time of shoot’s growth was 4,66 days after planting that appeared on k7 treatment. The treatment of k4 was the best average of the number shoots and leaves (2,66 and 4). Treatment of k3 was the best average of the lenght shoots and leaves (7,33 and 8,03). In the step of root induction, i2 is fastest time for root inductions (10 day after root induction) and the best average of the number root (2,66). Furthermore, i1 treatment was the best average of the lenght root (0,47 cm).Keywords: Garlic, MS, Plant growth regulator, Shoot apex, Tissue culture
Empowering the Rural Communities through Education on the Use of Chrysanthemums as Medicinal Plants and Herbal Tea Tia Setiawati; Annisa Annisa; Mohamad Nurzaman; Rusdi Hasan; Nining Ratningsih
KAIBON ABHINAYA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ka.v5i1.5347

Abstract

Chrysanthemum is widely known as ornamental plants, but chrysanthemums can also be used as medicinal plants and can be processed into healthy beverages known as chrysanthemum tea. The purpose of the PPM activity is to educate the community, especially PKK women who are participants in this activity about the role of chrysanthemum plants in the prevention and treatment of various diseases such as fever, hypertension, osteoporosis, eye healthy and making chrysanthemum tea as a healthy beverage. PPM activities was carried out through outreach activities with presentations and discussions (question and answer), demonstrations of making chrysanthemum tea, and distributing questionnaires to determine participants understanding before and after the implementation of PPM activities. The results of the questionnaire showed that participants knowledge about the use of chrysanthemum as medicinal ingredients increased after participating in outreach activities, as well as the interest in chrysanthemum tea cultivation and entrepreneurship.
Pendidikan Kesehatan Metode Cerita Berpengaruh Terhadap Peningkatan Pengetahuan Cara Perawatan Gigi Pada Siswa SD Usia 6-7 Tahun Yusi Sofiyah; Rike Yuniaris; Tia Setiawati
Jurnal Asuhan Ibu dan Anak Vol. 4 No. 1 (2019): Jurnal Asuhan Ibu dan Anak
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.508 KB) | DOI: 10.33867/jaia.v4i1.96

Abstract

Masalah kesehatan gigi di Indonesia dari Tahun 2007 sampai 2013 mengalami peningkatan sebesar 23,2% menjadi 25,9%. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran individu dalam menjaga dan merawat kesehatan giginya. Apabila hal ini dibiarkan begitu saja, akan mengakibatkan kesehatan lainnya seperti infeksi, nyeri dan anak akan malas untuk beraktifitas. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu tindakan preventif yaitu memberikan suatu pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan pada anak dapat diberikan melalui metode cerita dan media audio visual, kedua metode tersebut disesuaikan dengan tahap perkembangan pada anak. Tujuan: Mengetahui efektifitas pendidikan kesehatan metode cerita dan media audio visual terhadap peningkatan pengetahuan siswa tentang perawatan gigi. Penelitian ini dilakukan di SDN Sukamenak 1 dan SDN Sukamenak 2 Kab. Bandung. Sampel yang digunakan sebanyak 47 orang (total sampling). Metode penelitian yang digunakan kuantitatif quasi eksperimen design dengan pendekatan pretest dan posttest. Teknik analisa data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Withney dengan menggunakan bantuan program aplikasi statistik. Terdapat pengaruh yang signifikan antara nilai pretest dan posttest kedua kelompok dengan p<0,05 dan terdapat perbedaan yang signifikan antar pengetahuan pretest antara kedua kelompok dengan nilai p= 0,000. Saran: Sebaiknya metode cerita dan media audio visual digunakan dalam memberikan pendidikan kesehatan.
Tingkat Pengetahuan Pencegahan Cedera Pada Siswa Kelas V SD Di Kota Bandung Eli Lusiani; Dede Winingsih; Tia Setiawati
Jurnal Asuhan Ibu dan Anak Vol. 4 No. 1 (2019): Jurnal Asuhan Ibu dan Anak
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.575 KB) | DOI: 10.33867/jaia.v4i1.97

Abstract

Usia prasekolah dan usia sekolah merupakan fase perkembangan anak yang memiliki resiko tinggi cedera. Kematian pada anak usia 5-14 tahun sering terjadi akibat dari jatuh saat beraktivitas yang menyebabkan cedera parah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan pencegahan cedera pada siswa kelas V SD di Kota Bandung. Penelitian menggunakan rancangan deskritif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 73 siswa SD yang diambil secara purposive sampling dengan karakteristik responden laki-laki sebanyak 39 responden, perempuan 34 orang siswa, dengan rentang usia 11-12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pencegahan cedera pada siswa dengan pengetahuan baik sebanyak 12 responden (16,4%), pengetahuan cukup 31 responden (42,5) dan pengetahuan kurang 30 responden (41,1%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pencegahan cedera pada anak usia sekolah paling banyak di tingkat pengetahuan cukup. Direkomendasikan kepada pihak sekolah untuk menambahkan rambu-rambu dan tanda-tanda peringatan pada area yang berbahaya atau menyediakan brosur tentang pencegahan cedera sehingga menambah pengetahuan siswa dan mengurangi angka kejadian cedera.
Sosialisasi Pemanfaatan Tanaman Herbal sebagai Obat Akternatif Penyakit Radang Sendi Desak Made Malini; Tia Setiawati; Kartiawati Alipin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i4.9682

Abstract

ABSTRAK Radang sendi atau Osteoartritis (OA) merupakan salah satu penyakit kronis yang paling sering terjadi pada orang dewasa. Penyakit ini termasuk penyakit degeneratif yang dapat menyebabkan nyeri, kekakuan dan kehilangan mobilitas pada sendi.  Pengobatan konvensional meliputi penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) diketahui memiliki efek samping yang tidak diinginkan dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Pengobatan dengan tanaman herbal telah menjadi alternatif yang menarik untuk pengobatan konvensional. Tujuan dilakukan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman herbal sebagai obat alterhatif OA sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.  Kegiatan pengabdian yang dilakukan berupa penyuluhan dengan pre test dan post test, penyebaran kuisioner dan skriining kesehatan pada 40 orang wanita yang berumur 40-70 tahun. Berdasarkan hasil evaluasi pretest dan post test dari kegiatan ini terdapat peningkatan terkait pengetahuan responden tentang pemanfaatan tanaman herbal (100%), minat menggunakan tanaman herbal (97%) dan budidaya tanaman herbal (100%) obat alternative OA.  Sedangkan hasil skriining kesehatan menunjukkan bahwa nilai IMT (71%), tekanan darah (71%), kadar glukosa(55%), kolesterol (61%) dan Asam urat (40%) menunjukkan nilai rata-rata diatas normal. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan PPM efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat  tentang pemanfaatan tanaman herbal sebagai obat OA dan masyarakat  juga menjadi lebih waspada akan kesehatannya. Kata Kunci: Sosialisasi, Radang Sendi, Tanaman Herbal  ABSTRACT Arthritis or Osteoarthritis (OA) is one of the most common chronic diseases in adults. This disease is a degenerative condition that can cause pain, stiffness, and loss of mobility in the  joints. Conventional treatment involves the use of nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) which are known to have unwanted side effects and can affect the patient's quality of life. Treatment with herbal plants has become an attractive alternative to conventional treatment. The purpose of this Community Service activity is to increase public knowledge about the use of herbal plants as an alternative medicine for OA, thus improving the quality of public health. The community service activities carried out were in the form of counseling with pre-test and post-test, distribution of questionnaires, and health screening on 40 women aged 40-70 years. Based on the pre-test and post-test evaluation results of this activity, there was an increase in respondents' knowledge about the use of herbal plants (100%), interest in using herbal plants (97%), and herbal plant cultivation (100%) as an alternative medicine for OA. Meanwhile, the health screening results showed that the BMI (71%), blood pressure (71%), glucose levels (55%), cholesterol (61%), and uric acid (40%) values were above the normal average. It can be concluded that the community service activity was effective in increasing public knowledge about the use of herbal plants as an alternative medicine for OA, and the public also became more aware of their health. Keywords: Socialization, Arthritis, Herbs   
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Mengenai Gizi Seimbang dengan Status Gizi pada Masa Pandemi Covid-19 Desak Made Malini; Tia Setiawati; Kartiawati Alipn; Nurullia Fitriani
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i8.10359

Abstract

ABSTRACT Maintaining a balanced nutritional intake is crucial to attaining the ideal nutritional status and optimal growth and development in adolescents. COVID-19 pandemic is also a driving factor for maintaining nutritional status as it will preserve the body's immune system in combating viral infections. Knowledge and attitudes related to balanced nutrition are one of the contributing factors to encourage adolescents to maintain their nutritional status. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and attitudes related to balanced nutrition on nutritional status in adolescents aged 17-20 years. The research design used was a cross-sectional approach and the data were analyzed by the Chi-square test (α = 0.05). The results showed that there was no significant relationship between the level of knowledge and attitudes related to animal protein, fiber and vitamins, micro and macro minerals, general guidelines for balanced nutrition, and the four pillars of balanced nutrition on nutritional status (α 0.05). It can be concluded that the level of knowledge and attitudes of adolescents does not directly influence the nutritional status of adolescents aged 17-20 years during the COVID-19 pandemic. Keywords: Adolescents Attitude, Adolescents Knowledge, COVID-19, Nutritional Status  ABSTRAK Menjaga asupan gizi yang seimbang merupakan hal yang krusial untuk memiliki status gizi yang ideal dan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan remaja yang optimal. Kondisi pandemi COVID-19 menjadi faktor pendorong untuk tetap mempertahankan status gizi karena dapat menjaga sistem imunitas tubuh dalam melawan infeksi virus. Pengetahuan dan sikap terkait gizi menjadi salah satu faktor yang berkontribusi untuk mendorong remaja dalam menjaga status gizinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap terkait gizi seimbang dengan status gizi pada remaja berusia 17-20 tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan cross-sectional dan data dianalisis dengan uji Chi-square (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap terkait protein hewani, serat dan vitamin, mikro dan makro mineral, pedoman umum gizi seimbang, dan empat pilar gizi seimbang dengan status gizi (α0,05). Hal ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap remaja tidak memberikan pengaruh secara langsung dengan status gizi remaja berusia 17-20 tahun di masa pandemi COVID-19. Kata Kunci: COVID-19, Sikap Remaja, Status Gizi, Tingkat Pengetahuan Remaja
Sosialisasi dan Pelatihan Teknis Budidaya dan Pembuatan Bibit Sebar F3 Baglog Jamur Merang Hasil Isolasi Laboratorium Fakultas Pertanian Unsika Di Desa Kiara, Kabupaten Karawang Ani Lestari; Tia Setiawati; Vera Octavia Subardja
Jurnal Budiman: Pembangunan dan Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 1 No. 2 (2023): November 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Karawang merupakan salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat, dari total lahan tanam padi seluas 89.360 hektar, produksi panen padi di Karawang per Juni 2022 mencapai 612.309,47 ton. Banyaknya hasil penen padi menyisakan Jerami yang melimpah, sebagaian petani membakar jerami namun pembakaran Jerami akan berdampak pada pencemaran udara. Oleh karena itu salah satu solusi dalam pemanfaatan Jerami adalah dengan membudidayakan jamur merang. Selain menanam padi petani juga dapat melakukan budidaya jamur merang sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Desa Kiara merupakan salah satu Desa di Kabupaten Karawang yang sebagaian besar masyarakatnya berpendapatan sebagai petani dan pedagang. Saat ini pembudidaya jamur merang hanya tersisa 3 petani saja, oleh karena itu diperlukan sosialisasi dan pelatihan pembuatan bibit sebar F3 baglog jamur merang, bibit sebar merupakan hasil isolasi di laboratorium Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang. Selain itu diskusi terkait hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat menjadi sumber informasi Teknik budidaya bagi petani jamur merang. Sosialisasi dan Penyuluhan dilaksanakan di Kantor Kapala Desa Kiara, dengan peserta Kepala Desa dan perangkat Desa, Gapoktan, warga, dan Ibu – ibu PKK, sehingga mampu membangkitkan Kembali minat masyarakat dalam membudidayakan jamur merang.
Co-Authors , ,. Mulyadi , ,. Suryana Adityawan, Mohammad Bagus Adnin Laila Agung Karuniawan Agus Irpan Nurhidayat Agustine, Leony Alfira, Ajeng Alma Ayalla Amala Lastari Utami Anandira Witri Andiana, Anisa Andri Irawan Anggita Levi Astuti Anggita Leviastuti Ani Lestari Ani Lestari Anisaa Fauziyah Annisa Annisa Annisa Annisa Annisa Annisa Annisa Nur Arofah Arianti, Tanti Arofah, Annisa Nur Asep Zainal Mutaqin Astuti, Sipa Dwi Auliya Zahra Awali, Dian Siti Ayalla, Alma Azifah An’amillah Bari, Ichsan Budi Irawan Budi Irawan Darmawan, Darwis Debby Ustari Dede Winingsih Delisa Lestari Desak Made Malini Devitri Amisa Dian Latifa Ela Noviani Elah Karimah Eli Lusiani Endang Rosdiana Fadhilla Ramadhona Farhurohman, Oman Fatmawati, Ariani Fikriyah, Nanda adzka Fitria, Sania Septiani Fredella Josenia, Carlen Harkunti P. Rahayu, Harkunti P. Hendi N Wicaksono Heri Kurniawan, Heri Hernandi Sujono Huda, Ida Nurul Ibadurrahman, Rifki Inggriane Puspita Dewi, Inggriane Puspita Inneke Febrihardianti Syamsi Irma Wahyuningsih Irvan Herdiana Jannah, Isma Aenul Johan Iskandar Joko Kusmoro Kartiawati Alipin Kartiawati Alipn Kharismala R, Nurlaila Lia Dewi Juliawaty Libriati, Rika Lusiani, Eli Maitala Sari Marcelline, Karen Marheny Lukitasari Marheny Lukitasari Maryam Alifah Maulani, Susan Maulidiyah Maulidiyah Maya Amalia Meilinda, Pudji Melina Melina Moahamad Nurzaman Moahamad Nurzaman, Moahamad Moch. Nurzaman Mohamad Nurzaman Mohammad Farid Muhammad Syahril Badri Kusuma, Muhammad Syahril Badri Nia Rossiana Nining Ratningsih Nisa Hurin Nisa Hurin Nopriyeni Nopriyeni Nopriyeni, Nopriyeni Noviani, Ela Noviyanti Soleha Nuriman, Muhammad Nurullia Fitriani Nurullia Fitriani Otih Rostiana Putri, Deviana Aulia Rachma, Nadhira Zaachrany Radewi Safira Fauzia Radewi Safira Fauzia, Radewi Safira Rahmawati, Fitryasari Rani Rubiyanti, Rani Rasmiaditya Silasari Revita Yanuarsari Rezekikasari, Rezekikasari Rike Yuniaris Rully Budiono Ruly Budiono Rusdi Hasan Rusdi Hasan Rusdi Hasan Saeful Amin, Saeful Senadi Budiman Sephianti, Selvi Siti Mariyani Sofiyah, Yusi Sri Mulyati Sri Ratu Dewi Pridani Sugarti, Dini Sukrido Sukrido Supriatun, T Syifa Fauzia Zazuli T Supriatun Tentani Buhti Amadea Titin Supriatun Titin Supriatun Titin Supriatun Titin Supriatun Sadeli Valentina Adimurti Kusumaningtyas Vera Octavia Subardja Washfanisa, Handina Alya Wibowo, Sigit Sapto Wicaksono, Hendi N Winingsih, Dede Yana Maolana Syah Yana Maolana Syah Yani Astuti Yuliana, Trisna Yuniar, Muthya Yuniaris, Rike Yusi Sofiyah