Claim Missing Document
Check
Articles

SPEECH DISORDER OF STUTTERING CHARACTER IN "ROCKET SCIENCE" MOVIE Sari, Mayang Hima; Arifin, M. Bahri; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.2992

Abstract

AbstractStuttering is a speech disorder in which repetition and prolongation of syllables, sound, and phrase interfere with fluency. Someone who experiences stuttering will have a hard time to start the word because of disruption in repetition, vocals and articulation involve the throat, palate, tongue, lips, and teeth. Stuttering may be worse when the person is excited, tired or under stress, or when feeling self-conscious, hurried or pressured. A situation such as speaking in front of a group or talking to the phone can be particularly difficult for people who stutter. As a reflection of real life, a movie can also contain the phenomena of stuttering such as in Rocket Science movies. This research aimed to describe the types of stuttering and also the consequences of being stuttering in social life that experienced by Hal Hefner in Rocket Science movies. This research was conducted by using content analysis qualitative method. The data were generated from movie and movie script in the form of utterances, dialogues, words, and conversations. The result of this research shows that there are ninety-five data which are indicated as the types of stuttering experienced by Hal Hefner in Rocket Science movie. Besides, it was also found the consequences of being stuttering in social life experienced by Hal Hefner in the movie. The researcher shows that there are twelve data of consequences that the researcher found in the movie. The most common consequence that the researcher found in the film is fear to talk.  AbstrakGagap adalah gangguan berbicara yang mana terjadinya pengulangan dan perpanjangan suku kata, suara, dan frasa yang dapat menganggu kefasihan. Seseorang yang mengalami gagap akan mengalami kesulitan untuk memulai kata karena gangguan dalam pengulangan, vokal, dan artikulasi yang melibatkan tenggorokan, langit-langit mulut, lidah bibir, dan gigi. Gagap akan lebih buruk ketika bersemangat, lelah atau dibawah tekanan, atau ketika merasa sadar diri, tergesa-gesa atau tertekan. Situasi ketika berbicara didepan kelompok atau berbicara di telepon dapat menjadi sangat sulit bagi orang yag gagap. Sebagai cerminan dari dunia nyata, sebuah film juga mengandung fenomena kegagapan seperti dalam film Rocket Science. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis gagap dan juga konsekuensi dari kegagapan dalam kehidupan sosial yang dialami oleh Hal Hefner dalam film Rocket Science. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis isi kualitatif. Data dihasilkan dari skrip film dan film dalam bentuk ucapan, dialog, kata-kata dan percakapan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada Sembilan puluh lima data yang diidentifikasi sebagai jenis gagap yang dialami oleh Hal Hefner dalam film Rocket Science. Selain itu, ditemukan juga konsekuensi kegagapan dalam kehidupan sosial yang dialami Hal Hefner dalam film tersebut. Peneliti menunjukkan bahwa ada dua belas data dari konsekuensi yang ditemukan oleh peneliti di dalam film. Konsekuensi yang paling banyak ditemukan dalam film tersebut adalah takut untuk berbicara.
TANDA DALAM PEMALI YANG DILAKSANAKAN MASYARAKAT ETNIK MANDAR DI KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR: TINJAUAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE Amiruddin, Amiruddin; Arifin, M. Bahri; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.003 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i4.2127

Abstract

Pemali ialah hal-hal yang dilarang atau sesuatu yang tidak boleh dilakukan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Setiap etnik di Indonesia memiliki pemali yang diterapkan di setiap kegiatan sebagai wujud kearifan dalam memaknai dan menyikapi kehidupan. Ikatan aturan tersebut lama-kelamaan melekat dalam diri setiap masyarakat sehingga meski tidak berada di daerah asal, aturan tersebut tetap diterapkan. Salah satu etnik di Indonesia yang masih menerapkan pemali meski telah melakukan migrasi, yaitu etnik Mandar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemali-pemali yang masih dilaksanakan dan menjelaskan makna tanda dalam pemali masyarakat etnik Mandar. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data penelitian ini, yaitu pemali yang disampaikan dan diterapkan oleh masyarakat etnik Mandar. Adapun sumber data adalah masyarakat etnik Mandar yang telah mendiami dan menjadi penduduk di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu teknik wawancara yang dikombinasikan dengan teknik rekam dan catat. Teknik analisis data yang digunakan, yaitu teknik analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap pemali terdapat tanda-tanda yang memiliki makna berbeda-beda sesuai dengan keyakinan, tradisi, dan lingkungan masyarakat etnik Mandar. Makna tanda-tanda tersebut memiliki fungsi untuk memberikan pelajaran tentang kesehatan, sopan santun, kebersihan, keselamatan, keagamaan, keberkahan hidup, rasa syukur, hidup sosial, dan kesejahteraan keluarga. Pemali are things that are prohibited or something that should not be done, both in the form of speech and deeds. Every ethnic group in Indonesia has a leader who is applied in every activity as a form of wisdom in interpreting and responding to life. These rules are gradually embedded in every society so that even though they are not in their home areas, the rules are still applied. One of the ethnic groups in Indonesia who still applies pemali despite migrating, namely ethnic Mandar. This study aims to find out the diggers who are still being carried out and explain the meaning of the signs in the Mandali ethnic community pemali. This study included field research with a qualitative approach that was described descriptively. The data of this study, namely the pemali delivered and applied by the ethnic Mandar community. The data sources are ethnic Mandar people who have inhabited and become residents in Samarinda City, East Kalimantan Province. Data collection techniques used, namely interview techniques combined with recording and recording techniques. The data analysis technique used is interactive analysis techniques. The results of the study show that each pemali there are signs that have different meanings according to the beliefs, traditions and environment of the Mandar ethnic community. The meaning of these signs has a function to provide lessons on health, courtesy, cleanliness, safety, religion, life blessings, gratitude, social life, and family welfare.
PEMALI DALAM BUDAYA ETNIK MANGGARAI NUSA TENGGARA TIMUR DI SAMARINDA: SUATU TINJAUN SEMIOTIKA Adung, Narsela; Arifin, M. Bahri; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.247 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v4i2.2706

Abstract

Penelitian ini membahas tentang makna tanda pemali dalam masyarakat etnik Manggarai Nusa Tenggara Timur yang berdomisili di Kota Samarinda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemali apa yang diketahui dan dilaksanakan oleh masyarakat etnik Manggarai serta makna tanda yang terkandung dalam setiap pemali yang dilaksanakan oleh masyarakat etnik Manggarai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan termasuk dalam penelitian lapangan. Data dalam penelitian ini berupa pemali yang diperoleh dari observasi dengan informan yang mengetahui tentang budaya pemali serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari di Kota Samarinda. Data dikumpulkan melalui metode wawancara, merekam, dan mencatat. Data dianalisis dengan teknik reduksi data, transkip data, dan penyajian data. Dari hasil penelitian ini ditemukan makna tanda dalam setiap pemali dengan menggunakan teori semiotika yang dilihat dari makna denotatif atau pemaknaan tingkat satu, yaitu makna yang sebenarnya sesuai dengan kamus, dan makna konotatif atau pemaknaan tingkat dua, yaitu berupa bentuk akibat yang akan menjadi tanda, serta menjadi mitos dalam budaya etnik Manggarai. Dalam penelitian ini dapat dikumpulkan 48 pemali yang terbagi menjadi dua bagian yaitu, yang diketahui dan dilaksanakan.
Co-Authors Aan Komariah Abd. Rahman Abdul Basir Adung, Narsela Alfiansyah, Riska Amelia Ali Kusno Ali Kusno Amiruddin Amiruddin Anggreeni, Devi Indah Annisa Akhlak, Annisa Aprazaq, Fikri Yassaar Aprilia, Anissa Dwi Apriliani, Putri Salsabilah Aprillia Miftaqul Wijiningtias Arif Mazhuri Saputro Aryzona, Chandika Asnan Hefni Asnan Hefni Astuti, Risna Dwi Atillah, Widya Ayu Susana Azainil Azainil Azkiya, Ziyan Bibit Suhatmady Candra, Sutiwi Indriani Chris Asanti Chris Asanti, Chris Daynikita Merisabel DESI NATALIA, DESI Diding Nurdin, Diding Fahmi Shifa' Ushudur Fahrul Rozi Fatimah M. Febri Rhamadani, Siti Natasya Febrimadani, Rendis Fransiska Yuanita Gevorg T. Malashenko Gina Anggraeni Hajrah, Siti Hasyim, Sayid Ferhat Hutapea, Maria C. L. Ian Wahyuni Ibrahim, Zulfah Indah Sari Lubis Indah Sari Lubis Indah Sari Lubis, Indah Sari Inna N. Rykova Irhana, Amalia Jaya, Ferry Fitra Jonathan Irene Sartika Dewi Max Kenedi Wahyu Saputra Lestari, Della Amelya Indah Lili Abdullah Rozak M., Fatimah Macshury, Ajeng Irma Maria Teodora Ping, Maria Teodora Meydli Dwiayu Garaga Mikhail E. Kosov Mirawati Mirawati Mohammad Siddik Munthe, Presly Rosalina Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Nainggolan, Filipus Nainggolan, Olleta Vichi Nasrullah Nasrullah Nasrullah Nasrullah Nisyah, Khairun Nita Maya Valiantien Nurmala, Devi Nurul Hamidah, Nurul Olesya V. Dudnik Olga A. Grishina Pasande, Priskila Ekawati Anggana Pratiwi Sudirman, Eka Purwanti Puteri, Maharani Saskia Rachman, Khairur Rahayu, Famala Eka Sanhadi Rahayu, Fita Nur Rahman , Andika Rajja Rajja Rakhmad Syarif Rimadhani, Novia Rizky Ririn Setyowati Ririn Setyowati Rizkiyah, Muthiatur Rujina, Rujina Saferi Yohana Samperinding, Timorinda Sanhadi R., Famala Eka Sari, Mayang Hima Setya Ariani Singgih Daru Kuncara Siti Seliyanti Aneira Husain Solikhin, Nurul Hadi Solly Aryza Subli, Ach Sudirman, Khairul Sumantri, Wilis Haryo Sumual, Merciana S. Syahfitri, Novi Syaiful Arifin Syamsiar, Syamsiar Syamsul Rijal Tawakal, Alamsyah Tombang, Nopita Ulandari, Tri Vadim V. Ponkratov Vitaloca, Izzah Wahyudi, Rino Tri Wahyuni, Ian Wahyuni, Mery Wasis Sirutama Widyatmike Gede Mulawarman Wijaya, Angga Rinaldy Wilma Prafitri Winnugroho Wiratman, Manfaluthy Hakim, Tiara Aninditha, Aru W. Sudoyo, Joedo Prihartono Winora, Anisa Wulandari, Fevi Yahya, Masrur Yansyah, Heri Yofi Irvan Vivian Yofi Irvan Vivian, Yofi Irvan Yudista, Rensiana Yulinda Ari Wardani Yuni Kartika, Yuni Yusriansyah, Eka