Claim Missing Document
Check
Articles

Komunikasi Cyber Beauty Vlogger Fatya Biya dalam Mendukung Citra Merek Wardah Yolanda Octha Verren; Septia Winduwati
Prologia Vol 4, No 2 (2020): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v4i2.6512

Abstract

In the case of the development of media massa now is a supporter of the needs in community activities.  In the era of globalization, developing technology can make it easier for people to get information practically and effectively by following the times.  YouTube is one example of new media that is currently quite popular.  This study aims to determine Fatya Biya's cyber beauty vlogger communication in supporting Wardah's brand image.  Theories used in this research are cyber communication theory, new media theory and brand image theory.  This research was conducted using descriptive qualitative methods.  Data collection methods from this research are interviews, document studies and online data.  Interviews were conducted with 1 key informant and 3 informants consisting of one beauty vlogger namely Fatya Biya and three Fatya Biya subribers who watched the Wardya one brand makeup video tutorial on YouTube.  The results of this study explain the cyber communication done by beauty vlogger Fatya Biya in supporting Wardah's brand image on YouTube, which is that he uses YouTube as a means to communicate about Wardah products in a video titled Wardah one brand makeup tutorial in supporting Wardah's image, which is halal and economical.Pada hal perkembangan media massa saat ini merupakan sebuah pendukung kebutuhan dalam aktivitas masyarakat. Dalam era globalisasi, teknologi yang berkembang dapat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara praktis dan efektif dengan mengikuti perkembangan zaman. YouTube adalah salah satu contoh dari new media yang saat ini cukup digemari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi cyber beauty vlogger Fatya Biya dalam mendukung citra merek Wardah. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi cyber, teori new media dan teori citra. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif secara deskriptif. Metode pengumpulan data dari penelitian ini adalah wawancara, studi dokumen dan data online. Wawancara dilakukan kepada 1 key informan dan 3 informan yang terdiri dari satu beauty vlogger yaitu Fatya Biya dan tiga subribers Fatya Biya yang  menonton video Wardah one brand makeup tutorial Fatya di YouTube. Hasil dari penelitian ini menjelaskan  komunikasi cyber yang dilakukan oleh beauty vlogger Fatya Biya dalam mendukung citra merek Wardah di YouTube yaitu ia menggunakan YouTube sebagai sarana untuk mengkomunikasikan mengenai produk Wardah dalam video yang berjudul Wardah one brand makeup tutorial dalam mendukung citra Wardah yaitu halal dan ekonomis.
Pemanfaatan Media Sosial Instagram Pada Online Shop @ivoree.id dalam Memasarkan Produk Jesslyn Jesslyn; Septia Winduwati
Prologia Vol 5, No 1 (2021): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v5i1.8178

Abstract

Social media creates changes in the world of marketing, especially promotion and advertising that results in the creation of online business trends. Ivoree is a local brand that sells women's shoes through Instagram to make sales, Ivoree started selling since September 2019 through Instagram social media. Ivoree began to experience development and use social media Instagram as its main promotional tool. The purpose of this study was to find out how to use Ivoree Instagram social media. The concept used in this research is the use of Instagram social media in marketing products. This research uses a qualitative approach with a case study method. While the data collection methods used are interviews, observation, documentation, and literature study. The results of this study are the use of social media on Instagram by uploading content and using features provided by Instagram to interact with followers, Ivoree also endorsed influencers on Instagram to attract the attention of its target market.Media sosial menciptakan perubahan pada dunia pemasaran khususnya promosi dan periklanan yang mengakibatkan terciptanya tren bisnis online. Ivoree merupakan merek lokal yang menjual sepatu perempuan melalui Instagram untuk melakukan penjualan. Ivoree mulai berjualan sejak September 2019 dan menggunakan media sosial Instagram sebagai alat promosi utamanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan media sosial instagram Ivoree. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemanfaatan media sosial Instagram dalam memasarkan produk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah pemanfaataan media sosial di Instagram dengan mengunggah konten dan menggunakan fitur yang disediakan Instagram untuk berinteraksi dengan pengikutnya. Ivoree juga meng-endorse influencer di Instagram untuk menarik perhatian target pasarnya.
Representasi Kemiskinan dalam Film Korea Selatan (Analisis Semiotika Model Saussure pada Film Parasite) Michelle Angela; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6480

Abstract

This study discusses the social problems that occur in South Korea that represents poverty in the film Parasite by identifying the signs used in the film. The director as a mass communicator makes a film as a mass message delivering a message to a mass audience or audience about their representation of reality. The theory used in this research is the theory of mass communication, film, representation, discourse, and poverty. This study uses a qualitative approach with Ferdinand de Saussure semiotic analysis technique which divides the signs into two, namely signifier and signified. In this study it was found that the film Parasite represented poverty depicting the figure of a family who lived a difficult life, a small house that was dirty and cramped, difficulty in finding decent work, living in a slum area, a house flooded. Kim's family poverty in this film is relative poverty which explains even though their basic needs are met, but the difference is clearly seen when compared to the economy with the Park family. Some poverty indicators according to the World Bank are portrayed in the film such as land ownership and limited capital, limited infrastructure needed, development bias in cities, differences in human resources and economic sectors, poor living culture and poor governance. Penelitian ini membahas tentang adanya masalah sosial yang terjadi di Korea Selatan dalam sebuah film yang merepresentasikan kemiskinan dalam film Parasite dengan mengidentifikasi tanda-tanda yang digunakan dalam film tersebut. Sutradara sebagai komunikator massa membuat film menyampaikan pesan kepada audiens massa atau penonton tentang representasinya terhadap realitas. Teori yang digunakan penelitian ini adalah teori komunikasi massa, film, representasi, wacana, dan kemiskinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis semiotika Ferdinand de Saussure yang membagi tanda menjadi dua yaitu signifier dan signified. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa film Parasite merepresentasikan kemiskinan menggambarkan sosok keluarga yang hidup sulit, rumah yang kecil kotor dan sempit, kesulitan dalam mencari pekerjaan yang layak, tinggal di daerah yang kumuh, rumah yang kebanjiran. Kemiskinan keluarga Kim dalam film ini adalah kemiskinan relatif yang menjelaskan meskipun kebutuhan pokok mereka terpenuhi, namun perbedaan terlihat jelas jika dibandingkan dengan ekonomi dengan keluarga Park. Film seperti kepemilikan tanah dan modal yang terbatas, sarana prasarana yang dibutuhkan terbatas, pembangunan yang bias di kota, perbedaan sumber daya manusia dan sektor ekonomi, budaya hidup yang jelek serta tata pemerintahan yang buruk.
Representasi Kekerasan Non Fisik Pada Film Joker (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure) William William; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10195

Abstract

The Joker film is a film with the psychology genre by director Todd Phillips which is produced by the Warner Bros. studio with Joaquin Phoenix as the main character. The story of this film tends to be dark and dark and is considered to also affect one's psychology. Most of the communication and information obtained by the public comes from the mass media. Mass media is a form of media or means of communication used to disseminate information or news to the public or the public. The method used by the researcher is qualitative using the research method with semiotic analysis of Ferdinand De Saussure which analyzes the existing signs with documentation techniques carried out by the researcher. This study focuses on the process carried out to prove the existence of representations of non-physical violence in the Joker film. The researcher aims to show that there is an element of non-physical violence representation through the selection of scenes, text and images. The results of this study can be concluded that violence can be done non-physically, such as slander, abuse, and made jokes for those around him. Film Joker merupakan film dengan genre psikologi karya sutradara Todd Phillips yang diproduksi studio Warner Bros dengan Joaquin Phoenix sebagai pemeran utama. Kisah dari film ini cenderung kelam dan gelap serta dinilai juga bisa mempengaruhi psikologi seseorang. Komunikasi dan informasi yang diperoleh masyarakat sebagian besar berasal dari media massa. Media massa merupakan salah satu bentuk media atau sarana komunikasi yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi atau berita kepada publik atau masyarakat. Metode yang digunakan oleh peneliti merupakan metode kualitatif dengan melakukan analisis semiotika Ferdinand De Saussure, yang menganalisa tanda-tanda yang ada dengan teknik dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian ini berfokus pada proses yang dilakukan untuk membuktikan adanya representasi kekerasan non-fisik pada film Joker. Peneliti bertujuan menunjukkan adanya unsur representasi kekerasan non-fisik melalui pemilihan scene-scene, teks dan gambar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan bisa dilakukan secara non-fisik seperti difitnah, dimaki, dijadikan bahan tertawaan bagi orang di sekitarnya. Individu yang lemah kemudian mempertahankan dirinya sendiri dalam keinginan untuk melukai atau mengikuti orang. Ini membuat individu menjadi tertekan, dan depresi. Tindakan perundungan atau bullying dalam bentuk kekerasan non-fisik dapat menyebakan permasalahan serius yang seharusnya lebih diperhatikan masyarakat seperti depresi, anti sosial, kecemasan, dan lainnya.
Pengungkapan Identitas Diri Melalui Komunikasi Non Verbal Artifaktual Pada Komunitas Crossdress Cosplay Jepang Fasa Bikati Sabka; Yugih Setyanto; Septia Winduwati
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3905

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana identitas diri dibangun dan dibentuk. Dengan menggunakan konsep, identitas diri yang terdiri dari konstruksi identitas diri, faktor-faktor yang mempengaruhi identitas, proses pembentukkan identias diri. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi yang bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode yang dilakukan dalam mengumpulkan data yakni dengan teknik wawancara mendalam, observasi non-partisipan, studi kepustakaan, dan penelusuran data online. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa identitas diri dibangun oleh proses pembentukan identitas diri yang dikarenakan adanya figur yang menjadi model dan tingkat keterbukaan individu terhadap berbagai alternatif identitas. Selain itu, terbentuk melalui media digital maupun media konvensional seperti Anime (kartun Jepang), Manga (komik Jepang), serta lingkungan disekitarnya.
Persepsi Masyarakat Betawi Terhadap Fenomena Ondel-Ondel Ngamen Iren Chienita; Eko Harry Susanto; Septia Winduwati
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3913

Abstract

Ondel-ondel selain sebagai ikon budaya Betawi, sejak dahulu digunakan dan dipercaya sebagai penolak bala dalam ritual adat Betawi. Namun, kini muncul fenomena Ondel-ondel ngamen di tengah masyarakat. Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui bagaimana persepsi masyarakat Betawi terkait fenomena Ondel-ondel ngamen yang dilihat dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah persepsi dalam teori komunikasi dan teori budaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, studi pustaka dan juga penelusuran data online. Hasil dari penelitian ini adalah persepsi kognitif masyarakat Betawi terhadap kelengkapan Ondel-ondel ngamen yang berbeda dengan Ondel-ondel dalam acara rakyat Betawi, persepsi afektif masyarakat Betawi cenderung tidak mendukung penggunaan Ondel-ondel sebagai alat mengamen karena kesal dan prihatin, dan persepsi konatif masyarakat Betawi cenderung tidak memberikan uang kepada Ondel-ondel ngamen.
Analisis Framing Pemberitaan LGBT pada Website Media SEJUK Edisi Januari 2019 Valentika Valentika; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6141

Abstract

Penelitian ini meneliti mengenai analisis framing pemberitaan isu-isu LGBT edisi bulan Januari 2019 pada media SEJUK. LGBT memang masih menjadi hal tabu di kalangan masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deksriptif, strategi penelitian analisis framing, objek dan subjeknya berasal dari artikel media SEJUK, dan wawancara. Dalam artikel yang dipilih terdapat pro dan kontra antara media sampai pada gereja dalam menerima komunitas LGBT. Dengan menggunakan konsep analisis framing Robert N. Entman untuk dapat terlihat bagaimana media SEJUK membingkai pemberitaan tersebut. Hasil penelitian ini adalah secara garis besar, dalam pembingkaiannya media SEJUK ingin memberikan ruang yang berimbang untuk membuat publik mendengar suara alternatif dari yang tidak toleran dan menghargai.
Analisis Framing Pemberitaan Portal Berita Media Online Mediaindonesia.com dan Beritasatu.com dalam Debat Pilpres Putaran Pertama Buche Christian Sapulette; Yugih Setyanto; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6155

Abstract

Penelitian ini meneliti mengenai analisis framing yang dilakukan portal berita media online Mediaindonesia.com dan Beritasatu.com yang melakukan pemberitaan terkait pasca debat putaran pertama pemilihan presiden yang berlangsung pada 17 Januari 2019. Dengan menggunakan teori analisis framing yang dikemukakan oleh Robert N. Entman, terlihat bahwa Mediaindonesia.com dalam melakukan pemberitaan pasca debat tersebut sangat mengarah dan selalu memberikan kesan positif pada pasangan Jokowi-Amin, serta memberikan kesan negatif bagi pasangan Prabowo-Sandi. Berbeda dengan Beritasatu.com yang terlihat lebih netral dibandingkan dengan Mediaindonesia.com, meski tetap lebih mengarah pada satu pihak, yaitu Prabowo-Sandi, namun pemberitaannya tidak ada yang memberikan kesan negatif bagi pasangan Jokowi-Amin.
Pemaknaan Body Positivity dalam Film Imperfect Pada Kalangan Remaja di Jakarta Ayu Reni Anisa; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10421

Abstract

Film are widely used as a medium of mass communication because film are considered effective in conveying messages. The presence of film that are usually made to represent the reality of real life that exists in society. As in the film Imperfect which is fully titled Imperfect: Career, Love & Scales, tells a story about the case of self-acceptance with the issue of beauty standards that are assessed by the general public. This study aims to determine the meaning of teenagers in Jakarta in the Imperfect film related to body positivity. This research is a qualitative research which is descriptive and uses reception analysis. The theory used is the reception theory and Stuart Hall's encoding-decoding theory which describe the three positions of the meaning of the audience. The research results were obtained through in-depth interviews which will be grouped into three positions of meaning, namely the dominant position, the negotiation position and the position.Film banyak digunakan sebagai medium komunikasi massa karena film dianggap ampuh dalam menyampaikan pesan. Kehadiran film yang biasanya dibuat untuk merepresentasikan realitas dari kehidupan nyata yang ada di tengah masyarakat. Seperti halnya dalam film Imperfect yang berjudul lengkap Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan, bercerita tentang kasus penerimaan diri dengan isu standar kecantikan yang dinilai pada masyarakat umun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan remaja di Jakarta pada film Imperfect terkait body positivity. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan menggunakan analisis resepsi. Teori yang digunakan adalah teori resepsi dan teori encoding-decoding Stuart Hall yang menjabarkan tiga posisi pemaknaan audiens. Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam yang akan dikelompokkan menjadi tiga posisi pemaknaan yaitu pada posisi dominan, posisi negosiasi dan posisi. Hasil penelitian menempatkan sebagian besar informan berada pada posisi negosiasi yang menyetujui bahwa penokohan dan cerita yang disampaikan dalam film Imperfect memiliki nilai body positivity namun dengan pengecuali pada beberapa adegan yang ada.
Aktivitas Interaksi Parasosial Penggemar Kepada Idola (Studi Deskriptif Kualitatif pada Wota dan Woti Penggemar JKT48 di Jabodetabek) Muhammad Rakha Rizky Pratama; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10197

Abstract

JKT48 is an idol group originating from Indonesia and produced by Akimoto Yasushi. This research is expected to be able to explain the parasocial interactions that occur between fans and idols. Parasocial interactions are interactions that occur when individuals interact with people who are presented by the media. This research is focused on finding out how the parasocial interaction activities between JKT48 fans Wota and Woti and JKT48 idols. This study uses the concept of communication theory, fandom theory, and parasocial interactions. This research uses a qualitative approach with a collection method by conducting interviews with three informants, study documentation, and literature study. The results in this study are Wota and Woti will feel sad when their idols leave, Wota and Woti limit their relationship with idols only to idols with fans, Wota and Woti make JKT48 as their guide when they behave. None of the three informants in this study was affected pathological.JKT48 merupakan grup idola yang berasal dari Indonesia dan diproduseri oleh Akimoto Yasushi. Penelitian ini bermaksud menjelaskan interaksi parasosial yang terjadi antara penggemar dan idola. Interaksi parasosial merupakan interaksi yang terjadi ketika individu berinteraksi dengan orang yang dipresentasikan oleh media. Penelitian ini fokus untuk mengetahui bagaimana aktivitas interaksi parasosial antara penggemar JKT48 Wota dan Woti terhadap idola JKT48. Penelitian ini menggunakan konsep teori komunikasi, teori fandom, dan interaksi parasosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara tiga informan, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil dalam penelitian ini adalah Wota dan Woti akan merasa sedih ketika idolanya keluar, Wota dan Woti membatasi hubungannya dengan idola hanya sebatas idola dengan penggemar, Wota dan Woti menjadikan JKT48 sebagai pedoman mereka saat bertingkah laku. Namun penelitian menunjukkan bahwa efek patologis tidak terjadi pada tiga informan.
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alfira Dittya Raihan Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Cahaya Rizka Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Randy Wijaya Rani Febriyani Reszki, Ananias Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy