Claim Missing Document
Check
Articles

Aktivitas Komunikasi Sanggar Seroja dalam Mengedukasi Transpuan di Jakarta Frank Marco; Septia Winduwati
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.15673

Abstract

Humans are social beings who need the help of other humans and every human being has the right to determine his own way of life. However, this is what thedoes not feel, lesbian gay bisexual transgender (LGBT) community especially the transwoman community, such as in the right to health, work and many more so that they have to live a different life because their choices are different from most people. Many of them drop out of school, do not work and fall into the world of crime, this can be an example of the lack of attention of the trans women community and is one of the main reasons for the establishment of Sanggar Seroja to educate and empower trans women in Jakarta. Sanggar Seroja tries to educate transgender women through art activities and activities of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs). With the establishment of Sanggar Seroja, they hope that trans women will get the same attention and rights as other people, and they want to instill an attitude of independent trans women who are proud of themselves.Manusia adalah makluk sosial yang memerlukan bantuan manusia lain dan setiap manusia memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun inilah yang tidak dirasakan oleh komunitas lesbian gay bisexsual transgender (LGBT) terutama komunitas transpuan seperti dalam hak kesehatan, pekerjaan dan masih banyak lagi sehingga mereka harus menjalani hidup yang berbeda karena pilihannya yang berbeda dari kebanyakan orang. Banyak dari mereka yang putus sekolah, tidak bekerja dan terjerumus ke dalam dunia kriminalitas, hal ini dapat menjadi salah satu contoh kurangnya perhatian komunitas transpuan serta merupakan salah satu alasan utama didirikannya Sanggar Seroja untuk mengedukasi serta memberdayakan transpuan di Jakarta. Sanggar Seroja berusaha mengedukasi transpuan melalui kegiatan-kegiatan kesenian dan kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dengan didirikannya Sanggar Seroja, mereka berharap agar transpuan mendapatkan perhatian dan hak yang sama dengan orang lain, serta ingin menanamkan sikap transpuan yang independen dan bangga dengan dirinya sendiri. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitiatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Hasil pada penelitian ini adalah aktivitas komunikasi yang dibentuk oleh Sanggar Seroja komunikasi yang edukatif, saling terhubung dan juga Sanggar Seroja mengadakan kegiatan-kegiatan yang berguna untuk mengembangkan potensi dalam diri transpuan.
Self Disclosure Individu Queer Melalui Media Sosial Instagram (Studi Deskriptif Kualitatif pada Akun @kaimatamusic) Dhiya Fauziani Hediana; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6489

Abstract

In current digital era, the development of technology in the world are getting more advanced and rapid. The existence of new media provides an open space for individuals to convey or receive information. One of them, a Queer who see new media as a space for expression, such as self disclosure. The limited space in the public that encourages individuals queer self disclosure through digital communication in new media, namely social media Instagram. This purpose of this study is to find out how the self disclosure of one of a Queer on social media Instagram. The analysis is based on the theory of interpersonal communication with reference which according to the concept of self disclosure and social media theory. The study conducted using a qualitative descriptive approach with case study method on the Instagram account @kaimatamusic. The findings result of this study are informant able to open up herself by sharing her work, sexual identity, ideas, activities and open attitudes to the others on an Instagram account. Even so, there are some personal information that she did not share such as romantic partners and families Di era digital saat ini, perkembangan teknologi di dunia semakin maju dan pesat. Kehadiran media baru memberikan ruang keterbukaan individu untuk menyampaikan ataupun menerima informasi. Salah satunya, individu queer yang melihat media baru sebagai ruang untuk berekspresi, seperti melakukan pembukaan diri (self disclosure). Adanya keterbatasan ruang di publik yang mendorong individu queer melakukan penyingkapan diri (self disclosure) melalui komunikasi digital di media baru yaitu media sosial Instagram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembukaan diri salah satu individu Queer di media sosial Instagram. Analisa dilandaskan pada teori komunikasi antarpribadi dengan referensi yang mengacu pada konsep pembukaan diri (self disclosure) dan teori media sosial. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan deskripsi kualitatif dengan metode studi kasus pada akun Instagram @kaimatamusic. Temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah informan dapat membuka diri dengan membagikan  hasil karya, identitas seksual, ide dan gagasan, aktivitas serta sikap yang terbuka dengan orang lain di akun Instagram. Meskipun demikian, ada beberapa informasi pribadi yang ia tidak bagikan seperti pasangan romantis dan juga keluarga.
Preferensi Mahasiswa Dalam Memilih Antara Media Televisi Dan Media Online Marvhieno Ardhian Dumalang; Samsunuwiyati Mar’at; Septia Winduwati
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2027

Abstract

Perkembangan teknologi menyebabkan peran media semakin berkembang. Media online tengah digemari oleh kalangan masyarakat. Media televisi yang biasanya dijadikan sarana utama dalam memperoleh beragam pengetahuan khususnya informasi atau berita politik mulai digantikan dengan media online. Masyarakat yang menyukai informasi atau berita politik memiliki pilihan khusus serta kepuasan tersendiri untuk memilih stasiun televisi apa yang akan dikonsumsi. Penelitian ini diiringi dengan Teori Uses and Gratification, dengan subjek penelitian yaitu mahasiswa. Penelitian ini menggunakan teori U&G untuk mengetahui bagaimana preferensi mahasiwa dalam mengkonsumsi stasiun televisi terkait dengan informasi politik. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah mix method’s karena data yang diperoleh berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara mendalam terhadap subjek penelitian. Teknik yang digunakan melalui kuesioner dan wawancara secara mendalam dan melalukan analisis menggunakan analisi reduksi data, model data, verifikasi kesimpulan.
Aktivitas Komunikasi Interpersonal Barista dalam Mempertahankan Citra Starbucks Chinatown Ivan Setiawan; Septia Winduwati
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i2.8095

Abstract

Thisthesis.aims to find out how baristas communicate to consumers in order to maintain. the company's.image. The.theory used is.the theory of interpersonal communication, interpersonal communication in business. This research.uses qualitative approach and uses the case.study methods. The subject.of this.research was Barista who was placed in Starbucks Chinatown. Researchers get information about what is needed by conducting online interviews with informants. The results showed that Barista applied all aspects of attitude related to the purpose of interpersonal communication in business, namely conveying information, sharing experiences, feeling sympathy, collaborating, overcoming complaints from customers, and also motivating or supporting consumers. Conveying information done by Barista often occurs between Barista and consumers at the POS (cash register). Sharing experiences occurs two-way communication between baristas and consumers. Barista also keeps in a relationship and cooperates outside working hours. Barista is professional in dealing with resentment or disappointment of consumers.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara barista berkomunikasi kepada konsumen.demi mempertahankan citra perusahaan. Teori yang dipakai adalah teori komunikasi antarpribadi, komunikasi interpersonal dalam bisnis. Dalam penelitian.ini, peneliti.melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan.kualitatif dan menggunakan metode studi kasus. Subyek penelitian ini yaitu barista di Starbucks Chinatown. Peneliti mendapatkan informasi tentang apa yang dibutuhkan dengan melakukan wawancara secara online dengan para informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa barista menerapkan semua aspek sikap yang berhubungan dengan tujuan komunikasi interpersonal dalam bisnis, yaitu.menyampaikan.informasi, berbagi pengalaman, rasa simpati, melakukan.kerja sama, mengatasi keluhan dari pelanggan, dan juga memotivasi atau mendukung konsumen.Penyampaian informasi sering terjadi antara barista dan konsumen di POS (mesin kasir). Terjadi komunikasi dua arah antara barista dan konsumen. Barista juga tetap menjalin hubungan dan melakukan kerjasama.di luar jam kerja. Barista juga professional ketika  menghadapi kekesalan atau kekecewaan konsumen.
Adaptasi Budaya oleh Warga Negara Asing di Indonesia Frans Carlos Yosephin; Septia Winduwati
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10248

Abstract

In communication, culture is one of the factors that influence the continuity of a relationship. The cultural background possessed by each individual is a considerable influence because there are various kinds of special characteristics of each region. The purpose of this study is to determine the cultural adaptations experienced by foreign citizens (WNA) who live in Indonesia. The theoretical concept used in this research is the theory of interpersonal communication, intercultural communication and foreign citizens (WNA). The research method used is a qualitative research method with in-depth interviews. The results of the analysis show that cultural adaptation is something that is experienced by all people who move to a new place. Cultural differences that occur are differences in language and differences in behavior. In the cultural process we must have a sense of wanting to learn and appreciate the differences that exist, each person needs time to adapt differently and language is an obstacle experienced when coming to a new place due to differences in the use of Indonesian and the language of the country of origin.Di dalam komunikasi, budaya adalah salah satu faktor yang berpengaruh dalam kelangsungan suatu hubungan. Latar belakang budaya yang dimiliki setiap individu merupakan pengaruh yang cukup besar karena terdapat berbagai macam ciri khusus dari setiap daerah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adaptasi budaya yang dialami oleh Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal di Indonesia. Konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi interpersonal, komunikasi antarbudaya dan Warga Negara Asing (WNA). Metode penelitian yang dipakai menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam. Hasil analisis menunjukkan bahwa adaptasi budaya adalah hal yang dialami semua orang yang berpindah ke tempat baru. Perbedaan budaya yang terjadi yaitu perbedaan bahasa dan perbedaan tingkah laku. Dalam proses budaya kita harus memiliki rasa ingin belajar dan menghargai perbedaan yang ada, setiap orang memerlukan waktu untuk beradaptasi yang berbeda-beda dan bahasa adalah kendala yang dialami ketika datang ke tempat baru karena terjadi perbedaan pemakaian bahasa Indonesia dengan bahasa negara asal.
Self Disclosure Pengguna Bottled di Wilayah Jakarta Evelyn Natasha; Septia Winduwati
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6408

Abstract

Bottled users' self-disclosure is the occurrence by writing the contents of the heart and feelings about various things as well as statements that are sometimes unable to be discussed like things that are intimately or  private when announced on general media, not anonymous. The purpose of determining how self-disclosure of anonymous social media users named Bottled. This research uses self-disclosure theory (Johari Window) and social penetration theory. This research uses a qualitative approach with the method used is a case study. Database collection technically with interviews, observation, and documentation. The key information this study were Psychologists as expert speakers and three supporting informants who were found through purposive sampling techniques.This study results reveal that self-disclosure that occurs in Bottled users makes individuals more comfortable to be open about evaluative and descriptive expressions. Bottled users' self-disclosure is also a form of self-clarification. Self disclosure pengguna Bottled ini merupakan terjadinya suatu tindakan  pengungkapan diri menggunakan menuliskan isi hati dan perasaan tentang berbagai  macam hal serta pernyataan-pernyataan yang terkadang  mampu dibicarakan misalnya hal yang bersifat intim atau terlalu privasi bila dibagikan pada media yang terlalu generik, yang bukan anonim. Penelitian ini bertujuan buat mengetahui bagaimana self-disclosure pengguna media umum anonim bernama Bottled. Penelitian ini menggunakan teori a (Johari Window) & teori penetrasi sosial. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif menggunakan metode yang digunakan merupakan studi perkara. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Narasumber  dalam penelitian ini adalah Psikolog menjadi narasumber pakar dan tiga informan pendukung yang ditemukan melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa self disclosure yang terjadi pada pengguna Bottled berakibat individua lebih nyamana untuk terbukaa tentang ungkapan yang evaluatif & naratif. Self disclosure pengguna Bottled pula sebagai bentuk penjernihan diri. 
Representasi Feminisme dalam Film Bermuatan Reformasi Sosial (Analisis Naratif Tokoh Perempuan dalam Film Di Balik 98) Wanli Wanli; Riris Loisa; Septia Winduwati
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2048

Abstract

Perempuan Indonesia masa kini kerap ditampilkan dalam film nasional. Namun masih jarang yang menjadikan perempuan sebagai tokoh utama dari sebuah film. Film yang merepresentasikan perempuan sebagai tokoh utama dalam pandangan teori Cultural Studies digunakan untuk melawan budaya dominan yang ada. Perempuan yang selalu menurut dan diam direpresentasikan berbeda dalam film ini. Berlatarbelakang tahun 1998, Film Di Balik 98 karya Lukman Sardi mengantarkan kepada khalayak bahwa representasi tokoh-tokoh perempuan sebagai perempuan kuat dengan identitas jamak dan keberanian serta ideologi yang tinggi untuk menegakkan keadilan lewat reformasi sosial dalam segi feminisme. Tokoh-tokoh perempuan dalam film ini juga dapat menyuarakan pendapat dan pikirannya, tetapi masih mengingat perannya sebagai seorang istri, ibu dan wanita karir dalam satu kesatuan yang utuh. Hasil penelitian berupa pesan-pesan feminisme secara humanis, pesan preventif feminisme melalui film, komunikator secara historis, representasi feminisme berbasis ideologi, representasi feminisme berbasis primordial, kolaborasi feminisme posmodern tahun 1998,  bahkan hingga ketegasan legitimasi hak perempuan Indonesia yang secara khusus ditujukan kepada pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode analisis naratif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori feminisme posmoderen dan Cultural Studies, dengan pendekatan kualitatif dan teknik analisis naratif dalam struktur narasi yang dikemukakan oleh Gillespie.
Tipologi Feminisme Wanita Karier Dan Komunikasi Interpersonal Dengan Pasangan Eunike Tania; Pinckey Triputra; Septia Winduwati
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2002

Abstract

Penelitian ini mengangkat fenomena perempuan di Jakarta yang sudah berkeluarga dan terjun ke dalam pekerjaan publik. Tujuannya, peneliti mengelompokkan wanita karier di Jakarta ke dalam tipologi feminisme berdasarkan ciri dan karakteristik yang dimiliki. Selanjutnya, melihat komunikasi interpersonal antara wanita karier dengan pasangan berdasarkan tipologi feminisme yang dimiliki. Penelitian ini didasari oleh Teori Feminisme dan Teori Komunikasi Interpersonal. Metodologi penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif komparatif dengan teknik analisis data menggunakan uji cluster, crosstab dan chi square. Hasil dari penelitian ini yaitu terbentuk empat tipologi feminisme yaitu feminisme eksistensialis dan multikultural, feminisme modern, feminisme tradisional dan feminisme kritis. Lalu ditinjau dalam hal komunikasi interpersonal dengan pasangan yaitu feminisme eksistensialis dan multikultural, feminisme modern dan feminisme kritis memiliki komunikasi interpersonal yang baik kepada pasangan sedangkan feminisme tradisional memiliki komunikasi interpersonal yang cukup baik terhadap pasangan.
Detox Instagram Pada Self-Esteem Pengguna Lisa Harsono; Septia Winduwati
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6617

Abstract

Instagram is a platform that presents the self-image of someone. When users find out that using Instagram was toxic to their self-esteem, they decided to detox instagram by stopping using Instagram. This research’s purpose is to know the self-esteem’s user when doing detox Instagram. This research is based on self-concept theory, self-esteem theory, social media theory, Instagram theory, and the detox instagram phenomenon theory. This research is using a qualitative approach with a study case method for college students that stop using Instagram. Collecting data is done by deep interviews. The result in this research shows that when informants doing detox instagram, they appreciate themself, focus on upgrading their potential, and stop comparing their life to each other. Instagram merupakan platform yang menyajikan citra diri individu. Ketika penggunanya merasakan penggunaan Instagram menjadi toxic bagi self-esteem, maka pengguna memutuskan untuk melakukan deleting toxic (detox) Instagram dengan cara berhenti bermain Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui self-esteem pengguna ketika melakukan detox Instagram. Penelitian ini berlandaskan pada konsep diri, self-esteem, media sosial, Instagram dan fenomena detox Instagram. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada mahasiswa yang berhenti bermain Instagram. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketika informan melakukan detox Instagram, para informan merasa lebih menghargai diri sendiri, fokus kepada potensi yang dimilikinya, dan berhenti membanding-bandingkan diri dengan sesamanya.
Analisis Resepsi Mengenai Kritik Sosial dalam Komik Online (Studi Deskriptif Pemaknaan Pembaca Line Webtoon 304th Study Room Tentang Bullying dalam Dunia Pendidikan) Rani Febriyani; Farid Rusdi; Septia Winduwati
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2442

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kritik sosial yang dimuat dalam komik. Komik Online, 304th Study Room keluaran dari Line Webtoon adalah salah satu komik yang mengkritik pemerintahan di Indonesia terutama tentang masalah pendidikan. Dengan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan resepsi pembaca terhadap kritik yang diutarakan creator 304th Study Room. Metode yang digunakan yaitu analisis encoding-decoding dari Stuart Hall, dengan jenis penelitian kualitatif yang berfokus pada resepsi pembaca. Data diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dari kalangan siswi SMA/K dan mahasiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua informan berada pada hegemoni dominan yaitu menyetujui komik 304th Study Room sangat mengkritik dalam kasus bullying atau penindasan di sekolah. Dua informan ada pada posisi negosiasi yaitu menyetujui komik tersebut sangat mengkritik tetapi di kehidupan nyata sangat jarang ditemui. Satu informan berada pada posisi oposisi yaitu menolak kritik tersebut karena komik bersifat hiburan. Latar belakang informan menjadi sangat berpengaruh karena menimbulkan makna yang berbeda tentang komik 304th Study Room.
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alfira Dittya Raihan Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Cahaya Rizka Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Randy Wijaya Rani Febriyani Reszki, Ananias Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy