Claim Missing Document
Check
Articles

Aktivitas Komunikasi Kelompok Pemuda Wardul dalam Menciptakan Kegiatan Sosial Abdul Rijwan; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.23994

Abstract

Group communication activities among youth hang out at roadside coffee shops, sometimes people have a negative view of gathering activities carried out by young people, hanging out or gathering activities make people feel restless, and make the environment they live in unsafe because they are worried about children. -children hanging out will cause problems such as fights between groups, drinking, drugs, and so on. The purpose of this study is to provide a different view that there are other groups when hanging out they don't do negative things, even this group makes positive social activities for people who can't afford it. The pattern of communication that exists in this group creates several other positive activities when they get together. The results of the study were that the communication activities of children hanging out at the Wardul coffee shop made several positive activities, from chatting at the Wardul coffee shop the group members sparked ideas to carry out several activities including carrying out sports activities, developing talents by playing musical instruments and band together, doing trips to Sukabumi. and take social action for the community. Aktivitas komunikasi kelompok pada Pemuda nongkrong di warung kopi pinggir jalan terkadang masyarakat memiliki pandangan yang negative terhadap aktivitas berkumpul yang dilakukan anak-anak muda, aktivitas nongkrong atau berkumpul membuat masyarakat menjadi resah, dan mebuat lingkuangan yang mereka tempati menjadi tidak aman karena mereka khawatir dengan anak-anak yang nongkrong akan membuat masalah seperti tawuran antar kelompok, mabuk-mabukan, narkoba, dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini ingin memberikan pandangan yang berbeda bahwa ada kelompok lain saat nongkrong tidak melakukan hal-hal negatif bahkan kelompok ini membuat kegiatan sosial positif pada masyarakat yang tidak mampu. Pola komunikasi yang terjalin di kelompok ini menciptakan beberapa kegiatan positif lainnya saat mereka berkumpul. Hasil penelitian adalah aktivitas komunikasi anak nongkrong di warung kopi Wardul membuat beberapa kegiatan positif, dari kegiatan mengobrol di warung kopi Wardul para anggota kelompok mencetuskan ide untuk melakukan beberapa kegiatan diantaranya melakukan aktivitas olahraga, mengembangkan bakat dengan bermain alat musik dan ngeband bareng, melakukan trip sukabumi dan melakukan aksi sosial untuk masyarakat.
Representasi Bullying dalam Film The Emoji Movie Aletheia Imanuel; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.23996

Abstract

The Emoji Movie is a 2017 Sony Pictures animated film directed by Tony Leondis. The purpose of this study is to dissect the representation of bullying in the form of discrimination and intimidation and the search for identity in the main character in The Emoji Movie and to find out the message that The Emoji Movie wants to convey to the audience. This study uses a qualitative approach using Roland Barthes' semiotic analysis technique in which there are elements of verbal bullying that trigger the search for the main character's identity in The Emoji Movie. The results obtained from this research are that in this film the meaning of bullying is constructed, where bullying should have a negative meaning but becomes a positive meaning in this film, as the starting point for triggering the formation of the main character's self-confidence in the search for his identity. But, basically a person's resilience and the meaning of bullying for each individual is different. Other people's opinions on our behavior in society can be positive or negative depending on our response and our meaning. The Emoji Movie merupakan film animasi produksi Sony Pictures tahun 2017 disutradarai oleh Tony Leondis. Tujuan dari penelitian ini untuk membedah representasi bullying dalam bentuk diskriminasi dan intimidasi dan pencarian jati diri pada tokoh utama dalam film The Emoji Movie dan untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan melalui film The Emoji Movie kepada penonton. Penelitian ini menggukan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes yang di dalamnya terdapat unsur-unsur bullying verbal yang menjadi pemicu pencarian jati diri tokoh utama dalam film The Emoji Movie. Hasil dari penelitian ini yaitu film ini mengkonstruksikan makna bullying, dimana bullying yang seharusnya bermakna negatif tetapi menjadi makna positif dalam film ini, sebagai awal mula pemicu terbentuknya kepercayaan diri tokoh utama dalam pencarian jati dirinya. Tetapi pada dasarnya resiliensi seseorang dan pemaknaan bullying untuk setiap individu berbeda-beda. Pendapat orang lain atas perilaku kita di masyarakat dapat menjadi hal yang positif maupun negatif tergantung respon kita dan pemaknaan kita.
Strategi Personal Branding Kreator Konten TikTok dalam Mengembangkan Citra Diri Positif Cynthia Dora Moudy; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.24001

Abstract

In this technological era, we are no strangers to social media. One of the most popular social media lately is Tiktok. With the rise of Tiktok, many new Content Creator have appeared and made the competition between creators even fiercer. Therefore, every creator must have good personal branding that can have a good impact on Tiktok followers and users who watch their content. Strong personal branding is very important for a Content Creator because it can affect the application of personal branding strategies in any content or live streaming that creators do on social media. The author uses the theory of mass and persuasive communication, personal branding, social media and Content Creator as well as a qualitative approach using the case study method. The data and information obtained from this research are through in-depth interviews, documentation, and literature studies. The results of research on the personal branding strategy carried out by TikTok Content Creator in carrying out active interactions, as well as implementing personal branding elements that must be owned by a Content Creator are quite effective for viewers and followers in building relationships, increasing trust and developing a positive self-image. Di era teknologi ini, kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya media sosial. Salah satu media sosial yang paling banyak diminati akhir – akhir in ialah Tiktok. Dengan melejitnya Tiktok, banyak kreator konten baru bermuculan dan membuat persaingan antar kreator semakin sengit. Oleh karena itu, setiap kreator harus memiliki personal branding yang baik yang dapat berdampak baik pada pengikut serta pengguna Tiktok yang menonton konten - konten mereka. Personal branding yang kuat sangat penting bagi seorang kreator konten, karena hal tersebut dapat mempengaruhi pengaplikasian strategi personal branding dalam setiap konten atau live streaming yang dilakukan kreator pada media sosial. Penulis menggunakan teori komunikasi massa dan persuasif, personal branding, media sosial dan Kreator Konten serta pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dan informasi yang diperoleh dari penelitian ini adalah dengan melalui wawancara mendalam, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil peneliatian strategi personal branding yang dilakukan oleh Kreator Konten Tiktok dalam melakukan interaksi yang aktif, serta mengimplementasikan elemen personal branding yang harus dimiliki oleh seorang kreator konten cukup efektif terhadap penonton dan pengikutnya dalam membangun hubungan, meningkatkan kepercayaan serta mengembangkan citra diri yang positif.
Interpretasi Personal Branding Ian Hugen dalam Menyuarakan Citra Positif Transgender di Media Sosial Instagram Daniel Dwi Fabian; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.24002

Abstract

Humans are social beings who live side by side and depend on one another. Humans live in groups and humans who live in groups in an area are called communities. However, there is a group of people who are not part of society. An example is the LGBT community, the LGBT community often gets treatment from society. The LGBT community is considered to have a negative stigma because it is against religious law. Because of this, the LGBT community often receives treatment in their environment and on social media. However, in the midst of the LGBT community, there is a transgender figure who has good personal branding. That figure was Ian Hugen. Ian Hugen is a public figure who is also a transgender person and Ian Hugen often insults self-love on social media so that he often receives praise from netizens. In this study the authors used the concepts/theories of communication, meaning, transgender, image, and social media. This study used qualitative research methods. The results of this study are informants on the meaning of Ian Hugen's personal branding in positive image deception which is dominated by the position of meaning. This is reinforced by the 8 elements of personal branding fulfilled by Ian Hugen. Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berdampingan dan bergantung satu sama lain. Manusia hidup secara berkelompok dan manusia yang hidup secara berkelompok pada suatu daerah disebut masyarakat. Akan tetapi, ada sekelompok manusia yang tidak menjadi bagian dari masyarakat. Komunitas LGBT kerap kali mendapatkan diskriminasi dari masyarakat. Komunitas LGBT dianggap memiliki stigma yang negatif karena berlawanan dengan hukum agama. Oleh karena itu, komunitas LGBT kerapkali mendapatkan diskriminasi dilingkungannya maupun di media sosial. Namun, ditengah-tengah komunitas LGBT, terdapat sosok transgender yang memiliki personal branding yang baik. Ian Hugen sebagai seorang public figure yang juga transgender dan sering kali menyuarakan tentang self-love di media sosial. Pada penelitian ini penulis menggunakan konsep/teori komunikasi, pemaknaan, transgender, citra, dan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ian Hugen memenuhi delapan elemen personal branding menurut Montoya. Hal tersebut diperkuat dengan pemaknaan informan terhadap personal branding Ian Hugen dalam menyuarakan citra positif transgender melalui media sosial Instagram yang di dominasi dengan posisi pemaknaan Dominan.
Persepsi Perempuan Muda terhadap Komunikasi Nonverbal Artifaktual pada Fenomena Fashion Style Cewek Mamba, Bumi, dan Kue Febriana Agatha; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 2 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i2.24009

Abstract

Fashion is an inseparable part of everyday life. Nowadays, fashion is not only how we dress or look but also a medium for communication which can represent human expression and self-image. This research aims to find out young women's perceptions of artifactual non-verbal communication, especially in the phenomenon of fashion style cewek mamba, cewek bumi and cewek kue. The communication theory used is artifactual non-verbal communication which includes fashion. In this study, used a descriptive qualitative research approach with a case study method. Based on the analysis conducted with the informants, it can be concluded that the informants' perceptions related to the phenomenon of fashion style cewek mamba, cewek bumi and cewek kue are different. The informants stated that the phenomenon of fashion style of cewek mamba, cewek bumi and cewek kue does not represent the original personality of the individual but is merely a fashion expression that shows the mood and the heart of the individual. Fashion merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini fashion tidak hanya bagaimana kita berbusana atau berpenampilan saja melainkan menjadi medium untuk berkomunikasi dimana dapat menampilkan ekspresi dan citra diri manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi perempuan muda terhadap komunikasi non-verbal artifaktual khususnya pada fenomena fashion style cewek mamba, cewek bumi dan cewek kue. Teori komunikasi yang digunakan adalah komunikasi non-verbal artifaktual yang didalamnya mencakup fashion. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan para informan dapat disimpulkan bahwa persepsi para informan terkait dengan fenomena fashion style cewek mamba, cewek bumi dan cewek kue berbeda-beda. Para informan menyatakan fenomena fashion style cewek mamba, cewek bumi dan cewek kue tidak mewakili kepribadian asli individu melainkan merupakan ekspresi fashion semata yang menunjukkan mood dan suasana hati pemakai.
Strategi Komunikasi Silang dalam Meningkatkan Kesadaran akan Keberadaan Tuli Flavia Veilieta; Septia Winduwati
Kiwari Vol. 2 No. 3 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i3.25890

Abstract

Communication is something that happens every day in the society. But not everyone can communicate well because of their limitations, such as people with deaf disabled. In this study, the author used the word Deaf which begins with a capital letter to emphasize that Deafness is an identity, as people disabled who certainly have Human Rights, the "voice" of Deaf Friends also needs to be heard by society, so that they can carry out activities well and feel the equality of their fellow human beings. This study aims to determine activities in increasing public knowledge of Deaf culture through cross-communication strategies. The results show a variety of strategies used in increasing public awareness. They use the app as the primary medium to be the bridge from deaf and normal people listen in many ways. With the Sign Language Interpreter (JBI) service available on the Silang application, it makes it easier for inclusive companies to get access. The authors suggest that subsequent studies use more diverse samples and different research methods. Komunikasi adalah suatu hal yang terjadi setiap hari di tengah masyarakat. Namun tidak semua orang dapat berkomunikasi dengan baik karena keterbatasannya, seperti para penyandang difabel Tuli. Pada penelitian ini penulis menggunakan kata Tuli yang diawali huruf kapital untuk menekankan bahwa Tuli adalah sebuah indentitas, sebagai kaum difabel yang tentu memiliki Hak Asasi Manusia, "suara" Teman Tuli juga perlu terdengar oleh masyarakat, sehingga mereka dapat menjalani aktivitas dengan baik dan merasakan kesetaraan sesama manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dalam meningkatkan pengetahuan publik akan budaya Tuli melalui strategi komunikasi Silang. Hasil menunjukkan beragam strategi yang digunakan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Mereka menggunakan aplikasi sebagai media utama untuk menjembatani orang Tuli dan dengar dalam berbagai hal. Dengan adanya layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang tersedia pada aplikasi, memudahkan perusahaan-perusahaan bersifat inklusif untuk mendapat akses. Penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan sampel yang lebih beragam dan metode penelitian yang berbeda.
Upaya Public Relations Pusbisindo dalam Mengampanyekan Penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia di Kalangan Masyarakat Mandasari, Rika; Winduwati, Septia
Prologia Vol. 6 No. 2 (2022): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v6i2.15572

Abstract

The communication between hearing and deaf people often referenced as difficult because of the lack of knowledge in Indonesian Sign Language (Bisindo). The stigma in the society is one of the reasons why hearing people is not easy to communicate with the deaf. In daily basis, deaf in Indonesia use Bisindo to communicate. The society needs to know how to speak the sign language in general so that the deaf could live an accessible language everywhere they needed to. Pusbisindo is the organization to advocate and research that has a role to do the campaign of the sign language. This research aims to find out how the attempt of Pusbisindo’s public relations to campaign the use of Indonesian Sign Language in society. This research uses descriptive study with a study case. Researcher did a interview, documentation, and literature review to gather the datas. The concepts used are communications, public relations, nonprofit organization, nonverbal communication, and Indonesian Sign Language. The result of this research is about the public relations activity on the social media, or collaboration with external parties, so the communication process can be direct. Pusbisindo’s media relations often raises the theme of inclusiveness.   Komunikasi masyarakat dengar dengan teman Tuli seringkali masih terhambat karena keterbatasan pengetahuan mengenai Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Selain itu, stigma yang ada di masyarakat masih menjadi hambatan teman Tuli untuk mengakses komunikasi dengan mudah. Dalam kesehariannya, teman Tuli berkomunikasi dengan menggunakan Bisindo. Masyarakat luas perlu mengetahui penggunaan Bisindo secara umum untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang dapat diakses oleh teman Tuli. Pusbisindo sebagai wadah riset dan advokasi berperan dalam menyuarakan penggunaan Bisindo tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui upaya public relations Pusbisindo dalam mengampanyekan penggunaan Bisindo di kalangan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan studi kasus melalui pengumpulan data, seperti wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi, public relations, organisasi nirlaba, komunikasi nonverbal, dan Bahasa Isyarat Indonesia. Hasil penelitian ini mengenai kegiatan public relations Pusbisindo dalam mengampanyekan penggunaan Bisindo melalui kelas Bisindo dan kerja sama yang dilakukan Pusbisindo dengan lembaga-lembaga serta universitas dalam pengajarannya. Pusbisindo juga aktif dalam kerja sama untuk menjadi pembicara di seminar-seminar. Selain itu, kerja sama dengan media juga terjalin dengan baik, khususnya dengan media yang aktif dalam menyuarakan inklusifitas. Media sosial Facebook, Twitter, Instagram, chat messenger, dan website menjadi saluran komunikasi yang digunakan Pusbisindo untuk menjalin komunikasi langsung dengan khalayak luas, didukung oleh komunitas-komunitas Tuli dari mulut ke mulut dalam kegiatan publikasinya. Pusbisindo juga mengadakan kegiatan atau acara webinar maupun event besar dalam merayakan Hari Bahasa Isyarat Internasional.
Selektivitas Gen Z dalam Memilih Media Informasi di Instagram (Studi Kasus Mahasiswa Di Jakarta) Hidayatullah, Bagas Syarip; Winduwati, Septia
Prologia Vol. 7 No. 2 (2023): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v7i2.21430

Abstract

Social media is not only used as a means of entertainment. This cannot be separated from technological developments that are increasingly developing and forming new lifestyles for people. the use of social media has no limits, users can freely take advantage of what is in it. All features available in the known space in cyberspace can be used for online business, entertainment, information and communication in cyberspace, which can connect all Internet users in the world so that distances are not visible. This study aims to determine the selectivity and motives of students in Jakarta in fulfilling information needs on Instagram. The theory that researchers use is the Use and Gratification theory with a qualitative descriptive research method. The data obtained in this study were obtained through interviews and documentation. The results obtained from this study were that seven out of eight students in Jakarta read information media on Instagram with informational motives. And six of the eight informants continued to read the media even though they were not registered with the press council. Media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan. Hal tersebut tidak lepas dari perkembangan teknologi yang semakin berkembang dan membentuk pola hidup yang baru bagi masyarakat. Pemakaian media sosial tidak memiliki batasan, pengguna dapat memenfaatkan secara bebas apa yang ada didalamnya. Semua fitur yang tersedia di ruang yang dikenal di dunia maya dapat digunakan untuk bisnis online, hiburan, informasi dan komunikasi di dunia maya, yang dapat menghubungkan semua pengguna Internet di dunia sehingga jarak tidak terlihat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui selektivitas dan motif mahasiswa di Jakarta dalam memenuhi kebutuhan informasi di Instagram. Teori yang peneliti gunakan adalah teori use and gratification dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini didapatkan melalui wawancara, dan dokumentasi. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah tujuh dari delapan mahasiswa di Jakarta membaca media informasi di instagram dengan motif informasi dan enam dari delapan informan tetap membaca media tersebut meskipun tidak terdaftar di dewan pers.
Analisis Pembentukan Online Personal Branding Melalui Media Sosial (Studi Kasus Channel YouTube The Jooomers) Japutra, Josephine Patricia; Winduwati, Septia
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27524

Abstract

Along with the development of the gaming industry, namely, streaming games. The existence of the internet, technological advances and the use of social media such as YouTube have supported and encouraged game content creators to compete to be the audience's choice. One of them is by forming and maintaining personal branding on online platforms so that it can attract attention and leave an impression according to the desired perception. Therefore, this research aims to find out the online personal branding that has been implemented by one of the game content creators on YouTube, namely, The Jooomers, through content that has been uploaded to his YouTube channel in order to survive in the competitive game streaming market. Also, the perception that has been captured by the audience, especially subscribers regarding online personal branding. Researchers use the theories of mass communication, public relations, online personal branding, content creators and social media to examine this research. The method used is a descriptive qualitative approach through content observation and interviews with subscribers. Based on the research results, it is known that The Jooomers has fulfilled the Skill Set, Aura and Identity elements, thereby giving rise to the Brand Experience, First Impression and Getting Found elements that are obtained by its subscribers. Also, online personal branding is a practical strategy for content creators who want to create personal branding using any online platform. Meanwhile, content creators need to pay attention to relevance in realizing the aspects that make up online personal branding in practice so that the desired goals can be achieved. Seiring dengan perkembangan bidang industri game yakni, streaming game. Eksistensi kemajuan teknologi hingga penggunaan media sosial seperti YouTube telah mendukung sekaligus mendorong content creator game harus bersaing untuk menjadi pilihan audiens. Salah satunya dengan membentuk dan menjaga personal branding pada platform online agar dapat menarik perhatian dan meninggalkan kesan sesuai dengan persepsi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui online personal branding yang telah diterapkan oleh salah satu content creator game di YouTube yakni, The Jooomers melalui konten yang telah diunggah pada kanal YouTubenya agar dapat bertahan pada kompetisi pasar streaming game. Serta, persepsi yang telah ditangkap oleh audiens, terutama subscriber-nya terhadap online personal branding tersebut. Peneliti menggunakan teori komunikasi massa, public relations, online personal branding, content creator dan media sosial untuk mengkaji penelitian ini. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi konten dan wawancara dengan subscriber-nya. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa The Jooomers telah memenuhi elemen Skill Set, Aura dan Identity hingga memunculkan elemen Brand Experience, First Impression dan Getting Found yang diperoleh subscriber-nya. Serta, online personal branding merupakan strategi praktis untuk dilakukan oleh content creator yang ingin membentuk personal branding yang memanfaatkan platform online apapun. Adapun content creator perlu memperhatikan relevansi dalam mewujudkan aspek-aspek yang membentuk online personal branding pada praktiknya agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
Aplikasi Customer Service Commitment dalam Menjaga Loyalitas Konsumen Starbucks Signing Store Salsabila, Salsabila; Winduwati, Septia
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27597

Abstract

Maintaining product quality, providing good service and meeting consumer expectations is the key for Food and Beverage industry activists to maintain consumer loyalty. This research aims to identify the application of Customer Service Commitment in maintaining consumer loyalty at the Starbucks Signing Store. The method used is a qualitative descriptive approach through in-depth interviews. Based on research results, Starbucks Signing Store uses the concept of Customer Relationship Management to get closer to consumers in order to create two-way communication and both Starbucks and its consumers get information which will later become material for evaluating a marketing program in Marketing Public Relations which is specifically aimed at forming a positive image of a company. brand in the long term, namely Customer Service Commitment. By implementing the Customer Service Commitment program, Starbucks Signing Store has never received negative reviews from consumers, has become a store that consistently conveys positive messages to consumers, and most importantly can retain consumers from before this store was renovated and changed the concept from a regular Starbucks to a Starbucks Signing Store. Mempertahankan kualitas produk, memberikan pelayanan yang baik dan sesuai ekspektasi konsumen adalah kunci bagi pegiat industri Food and Beverage untuk mempertahankan sebuah loyalitas dari konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan Customer Service Commitment dalam memelihara loyalitas konsumen Starbucks Signing Store. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam. Berdasarkan hasil penelitian Starbucks Signing Store menggunakan konsep Customer Relationship Management untuk mendekatkan diri kepada konsumen agar terciptanya komunikasi dua arah dan baik Starbucks maupun konsumennya mendapatkan informasi yang nantinya akan menjadi sebuah bahan evaluasi sebuah program pemasaran dalam Marketing Public Relation yang khusus ditujukan untuk membentuk citra positif sebuah brand dalam jangka waktu panjang, yaitu Customer Service Commitment. Program Customer Service Commitment, Starbucks Signing Store tidak pernah mendapatkan ulasan negatif dari konsumen, menjadi toko yang konsisten menyampaikan pesan positif untuk konsumen, dan yang terpenting dapat mempertahankan konsumen dari sebelum toko ini direnovasi dan berubah konsep dari Starbucks biasa menjadi Starbucks Signing Store. 
Co-Authors Abdul Rijwan Adiwinata, Arcelia Emmanuella Agatha Christy Adriani Aletheia Imanuel Alfira Dittya Raihan Ananta, Della Angel, Valentina Kyrie Angelyn, Felycia Angie Lavenia Aprilia, Elvira Arvin Stephensius Ayu Reni Anisa Buche Christian Sapulette Caroline Caroline Chandra, Surya Charenina, Putri Chery, Nabila Aurellia Christianto, Ivania Ariella Christina Cynthia Dora Moudy Daniel Dwi Fabian Deka Marcella Dhiya Fauziani Hediana Eko Harry Susanto Eldiani Febyola Elvan Eunike Tania Evelyn Natasha Ezra Krisna Farid Rusdi Fasa Bikati Sabka Fauziek, Catherine Febriana Agatha Flavia Veilieta Frank Marco Frans Carlos Yosephin Garcia, Giorgiana Hadi Artomo Hidayatullah, Bagas Syarip Ika Widyani, Agustina Iren Chienita Irena, Lydia Ivan Setiawan Japutra, Josephine Patricia Jaya, Daniel Putra Jesselin Rahardja Jesslyn Jesslyn Jocelin Citra Tanjaya Kusmayani, Zakia Syahlail Kyra, Ancilla Lie, Daniel Lie, David Sugianto Linsye Linori Tanama Lisa Harsono Liu, Hansen Marvhieno Ardhian Dumalang Michelle Angela Michelle Levine Muhammad Fauzan Azhar Muhammad Rakha Rizky Pratama Natalia Natalia Natalia, Dinda Nathali, Gisela Anastasia Paramita, Sinta Pasanea, Debora Natalia Pertiwan, Indah Pinckey Triputra Pinckey Triputra Putri, Cahaya R. Putri, Cahaya Rizka Putri, Edsa Estella Amrikasari Queentania Suherman Randy Wijaya Rani Febriyani Reszki, Ananias Rika Mandasari, Rika Riris Loisa Rodhiah, Rodhiah Roswita Oktavianti Ryan Refael Zabdi Safira Amelia Salsabila, Salsabila Samsunuwiyati Mar’at Sarah Shafira Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sekar Mayang Setyo Riani Setyanto, Yugih Shania, Shania Sharka, Yoliandra Nur Shinta Darmawaty Sofian Arissaputra Tan, Stephanie Tandres, Herliany Tanjaya, Aldrich Tanuja, Vico Tasya Thio Audrey Fransisca Gunawan Valentika Valentika Wahyutristama, Biyan Nugraha Wangi Puspitaningrahayu Wanli Wanli Widyani, Augustina Ika Wijaya, Calvin William William Wulan Purnama Sari Yolanda Octha Verren Young, Cindy