Claim Missing Document
Check
Articles

TERRITORIAL REGULATION OF THE DUTCH COLONIAL GOVERNMENT IN NEDERLANDS NIEUW GUINEA 1898-1962 Sinaga, Rosmaida
Paramita: Historical Studies Journal Vol 23, No 2 (2013): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v23i2.2678

Abstract

This study discussed about the regulation of the Dutch colonial administration for its expansion in Nederlands Nieuw Guinea (NNG) between 1898 and 1962.  The arrangement covered the expansion area, uniting and abolition of the government. This process began with the exploration activities, construction of infrastructure facilities and transportation/communication and recruitment of government officials. Construction of transportation and communication made local economy was increase. Government officials who stationed in the region must meet the specific requirements such as familiar with the area and experienced in their duties as well as having a high spirit of devotion. Territorial structuring was based on consideration of geographic/transportation access, culture, economic and political values of such area. Government policy on regional growth aims to shorten the span of colonial government control over territory and population of NNG and governments services that closer to the territory’s population.Key words: Territorial regulation, expansion, NNG  Penelitian ini mengkaji tentang peraturan pemerintahan kolonial Belanda atas segala bentuk ekspansi di Nederlands Nieuw Guinea (NNG) pada tahun 1898 dan 1962. Peraturan ini meliputi perluasan wilayah, menyatukan dan penghapusan pemerintah. Proses ini dimulai dengan kegiatan eksplorasi, pembangunan fasilitas infrastruktur dan transportasi / komunikasi dan perekrutan pejabat pemerintah. Pembangunan transportasi dan komunikasi membuat perekonomian lokal meningkat. Pejabat pemerintah yang ditempatkan di wilayah tersebut harus memenuhi persyaratan tertentu seperti akrab dengan daerah dan berpengalaman dalam tugas-tugas mereka serta memiliki semangat  pengabdian tinggi. Penataan wilayah didasarkan pada pertimbangan geografis / akses transportasi, budaya, ekonomi dan nilai-nilai politik daerah tersebut. Kebijakan pemerintah mengenai pertumbuhan regional bertujuan untuk memperpendek rentang kendali pemerintah kolonial atas wilayah dan penduduk NNG dan jasa pemerintah yang lebih dekat dengan penduduk wilayah itu. Kata kunci: pearaturan teritorial, perluasan wilayah, NNG
TERRITORIAL REGULATION OF THE DUTCH COLONIAL GOVERNMENT IN NEDERLANDS NIEUW GUINEA 1898-1962 Sinaga, Rosmaida
Paramita: Historical Studies Journal Vol 23, No 2 (2013): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v23i2.2678

Abstract

This study discussed about the regulation of the Dutch colonial administration for its expansion in Nederlands Nieuw Guinea (NNG) between 1898 and 1962.  The arrangement covered the expansion area, uniting and abolition of the government. This process began with the exploration activities, construction of infrastructure facilities and transportation/communication and recruitment of government officials. Construction of transportation and communication made local economy was increase. Government officials who stationed in the region must meet the specific requirements such as familiar with the area and experienced in their duties as well as having a high spirit of devotion. Territorial structuring was based on consideration of geographic/transportation access, culture, economic and political values of such area. Government policy on regional growth aims to shorten the span of colonial government control over territory and population of NNG and government's services that closer to the territory’s population.Key words: Territorial regulation, expansion, NNG  Penelitian ini mengkaji tentang peraturan pemerintahan kolonial Belanda atas segala bentuk ekspansi di Nederlands Nieuw Guinea (NNG) pada tahun 1898 dan 1962. Peraturan ini meliputi perluasan wilayah, menyatukan dan penghapusan pemerintah. Proses ini dimulai dengan kegiatan eksplorasi, pembangunan fasilitas infrastruktur dan transportasi / komunikasi dan perekrutan pejabat pemerintah. Pembangunan transportasi dan komunikasi membuat perekonomian lokal meningkat. Pejabat pemerintah yang ditempatkan di wilayah tersebut harus memenuhi persyaratan tertentu seperti akrab dengan daerah dan berpengalaman dalam tugas-tugas mereka serta memiliki semangat  pengabdian tinggi. Penataan wilayah didasarkan pada pertimbangan geografis / akses transportasi, budaya, ekonomi dan nilai-nilai politik daerah tersebut. Kebijakan pemerintah mengenai pertumbuhan regional bertujuan untuk memperpendek rentang kendali pemerintah kolonial atas wilayah dan penduduk NNG dan jasa pemerintah yang lebih dekat dengan penduduk wilayah itu. Kata kunci: pearaturan teritorial, perluasan wilayah, NNG
PERANAN PELABUHAN BELAWAN SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN PADA TAHUN 1915-1942 Fadillah, Nur; Sinaga, Rosmaida
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 1 (2020): Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol.5 No.1
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v5i1.18281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan dari Pelabuhan Belawan yang ada di Belawan sebagai pusat perdagangan pada tahun 1915-1942. Sebelumnya kita harus mengetahui bagaimana sejarah Pelabuhan Belawan tersebut. Kemudian kita akan mengetahui peranan Pelabuhan Belawan sebagai pusat perdagangan pada tahun1915-1942. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah dengan menerapkan penelitian lapangan (field Research) dan penelitian Pustaka (Library Research) yang bertujuan untuk mendapatkan sejarah yang diinterpretasikan menjadi historiografi sejarah. Berdasarkan sumber informasi yang relevan dengan penelitian. Data yang diperoleh dikelompokkan melalui verifikasi dan kritik sumber, interpretasi dan historiografi (menyusun hasil-hasil penelitian berdasarkan fakta) Menjadi naskah laporan penelitian. Dari hasil penelitian, dapatlah diketahui bahwa Pelabuhan Belawan didirikan pada tahun 1915 oleh Belanda. Selain menjadi pusat perdagangan, Pelabuhan Belawan sudah membuka angkutan kapal untuk membawa penumpang yang ingin ke luar negeri. Sebagai bagian dari transportasi laut nasional, Pelabuhan Belawan sangat memegang peranan penting, terutama dalam menunjang perekonomian nasional. Belawan merupakan salah satu dari 4 pelabuhan utama di Indonesia, dan dikategorikan sebagai pelabuhan terbesar di Pulau Sumatera.Kata Kunci : Pelabuhan Belawan, Pusat Perdagangan
The Growth of Political Organizations During the Dutch Colonial Period Bella, Sinta; Sembiring, Marselinus Eprimsa; Sinaga, Rosmaida
Holistic Science Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Nasional Holistic Science
Publisher : Lembaga Riset Mutiara Akbar NOMOR AHU-0003295.AH.01.07 TAHUN 2021

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56495/hs.v4i1.552

Abstract

Political organizations engaged in politics were a bonus to the ethical politics run by the colonial government. The emergence of educated elites opened up space for the movement towards an independent Indonesia and freedom from colonialism. In accordance with the purpose of writing, namely to find out the background of the emergence of political organizations, what were the political organizations during the colonial period and what influences resulted from the existence of these political organizations. The method used in the research is descriptive research based on literature study. With the results of his research, the background of the formation of political organizations is the emergence of an elite group of students who are not only from the nobility but have been evenly distributed due to easy access to education as a manifestation of ethical politics. These organizations include the Indische Partij, the Indonesian Association and the Indonesian Communist Party, as well as other political organizations. These political organizations have an influence on society, namely they have a forum for struggling to carry out movements, such as publishing writings in magazines that can be read by the public, speaking at forums both locally and internationally. The movements they carried out often made the Dutch worried so that inevitably the organization was limited and even disbanded.
The Role of the Volksraad in the Dutch East Indies Period Simarmata, Diva Nancy Audissa; Simanjuntak , Duana Angel; Simarmata, Rendi Rianto; Sinaga, Rosmaida
Holistic Science Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Nasional Holistic Science
Publisher : Lembaga Riset Mutiara Akbar NOMOR AHU-0003295.AH.01.07 TAHUN 2021

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56495/hs.v4i1.559

Abstract

This article reviews the role of the Volksraad, the people’s representative body during the Dutch East Indies government.  Through a historical overview, this article discusses how the Volksraad influenced Dutch colonial policy and its relationship with political dynamics and aspirations of indigenous people.  Analysis was carried out on the role of the Volksraad in the context of colonial politics and social changes at that time.  By understanding the role of the Volksraad, this article aims to provide insight into the political and social dynamics of the Dutch East Indies.  The method used is literature with collect research materials in the form of books and relevant scientific articles.  The results of the research show how the Volksraad was born and its role in the Dutch East Indies government in Indonesia
Penjelajahan Samudera Bangsa Belanda yang Berujung Penjajahan Tanah Nusantara Chandra, Muhammad Diki; Sinaga, Rosmaida; Simangunsong, Lister Eva; Annisa P A, Einina; Gultom, Fajar Ridwan Syah Putra; Nababan, Sarah Amelia
Jurnal Akuntansi Hukum dan Edukasi Vol 1, No 2 (2024): November 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jahe.v1i2.3951

Abstract

Penjelajahan samudera oleh bangsa Belanda pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17 menjadi fondasi kolonialisme di Nusantara. Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki serta diblokadenya jalur Perdagangan ke eropa dan Juga persaingan dagang dengan Portugal serta Spanyol dan terlibatnya Belanda di Perang 80 Tahun, Belanda melakukan berbagai ekspedisi maritim. Ekspedisi pertama dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada 1595, yang membuka jalan bagi hubungan dagang Belanda dengan Nusantara. Selain Houtman, Willem Barentsz juga berperan penting dalam eksplorasi jalur alternatif ke Asia, meski gagal menemukan rute yang diinginkan. Pembentukan VOC pada 1602 menjadi instrumen utama Belanda dalam menguasai perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif untuk memahami dampak ekonomi dan politik dari penjelajahan ini. Hasilnya menunjukkan bahwa eksplorasi Belanda membawa dampak besar bagi sejarah Nusantara, dengan penjajahan yang berlangsung lebih dari tiga abad. Kesimpulannya, penjelajahan samudera Belanda tidak hanya didorong oleh motif ekonomi, tetapi juga ambisi politik yang mendalam.
Konstruksi Rasial Masyarakat Indonesia pada Masa Kolonial Asrul, Annisa Aprilia; Sianturi, Doni Frides; Tarigan, Adolf Enrico; Sihotang, Marnita; Sinaga, Rosmaida
Jurnal Akuntansi Hukum dan Edukasi Vol 1, No 2 (2024): November 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jahe.v1i2.3930

Abstract

Artikel ini mengkaji struktur rasial yang berlaku dalam masyarakat kolonial Hindia Belanda, dengan fokus pada hubungan antara kelompok Eropa, pribumi, dan kelompok Timur Asing. Kajian ini menunjukkan bagaimana pemerintah kolonial Belanda secara sistematis membentuk hierarki sosial berbasis ras yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia pada masa kolonial. Dalam struktur ini, orang-orang Eropa menduduki peringkat atas, sementara penduduk asli dan pendatang asing seperti orang Tionghoa, Arab, dan India ditempatkan di kelas yang lebih rendah dengan peran dan hak yang sangat berbeda. Kebijakan hukum, ekonomi, dan sosial yang berasal dari struktur rasial ini tidak hanya memperkuat pemerintahan kolonial tetapi juga mengakibatkan kesenjangan sosial yang berkelanjutan dalam akses terhadap pendidikan, sumber daya, dan peluang ekonomi. Dalam penulisan artikel ini, sumber yang digunakan mencakup arsip, buku, dan teks sejarah dari masa kolonial, serta analisis karya sastra klasik Indonesia yang mencerminkan dinamika sosial dan rasial. Pendekatan kualitatif dengan pendekatan historis dan sosiologi sastra digunakan untuk menganalisis bagaimana pembentukan identitas rasial memperkuat perpecahan sosial dan menciptakan ketegangan rasial yang bertahan hingga saat ini. Penelitian ini mengungkap dampak jangka panjang stratifikasi rasial di bawah kolonialisme terhadap struktur masyarakat Indonesia pasca-kolonial dan pentingnya pemahaman akan sejarah ini dalam konteks sosial dan budaya saat ini.
JALAN RAYA POS (ANYER-PANARUKAN) SEBAGAI BUKTI DARI KEBIJAKAN DAENDELS YANG MASIH ADA HINGGA SEKARANG Febriana Pulungan, Dona; Sari Harahap, Armyla; Zahrah, Alfiyyah; Sinaga, Rosmaida
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2025): PUTERI HIJAU: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v10i1.64071

Abstract

This study aims to determine the background to the construction of the Post Highway (Aanyar-Panarukan) and the impact of the Post Highway Development. This research uses the historical method with stages consisting of Heuristics, VeriKication, Interpretation and Historiography. Based on the research results, it is known that the background to the construction of the Postal Highway was to strengthen military defenses during the reign of Herman Willem Daendels against British attacks on the island of Java and to build transportation facilities. The impact of the construction of the Postal Highway is to increase the progress of the community's economy and the development of transportation which improves the distribution of community goods.
PAPUA DALAM PERJALANAN SEJARAH NUSANTARA Sinaga, Rosmaida; Alexander; Sihite, Dina; Lubis, Salsa Bila; Lubis, Yenny Maharani
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2025): PUTERI HIJAU: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v10i1.64670

Abstract

Indonesia is an archipelagic country in which there are various ethnicities, cultures and histories. Society becomes a unified nation amidst ethnic, religious and cultural diversity. The diversity of the Indonesian nation should not be used as a reason for disintegration but rather as a cultural commitment to knowing, respecting and appreciating each other to strengthen and strengthen Indonesian unity. The historical journey of Papua and other ethnicities in the archipelago in the formation of Indonesia is important to explore to strengthen our unity and Indonesianness as a nation. The method used in this study is the historical method with heuristic, criticism or verification, interpretation and historiography stages. The research results show the historical journey of Papua in the context of the archipelago from the time of ancient kingdoms to the period of Dutch colonialism and the struggle for integration with Indonesia.
DAMPAK POLITIK ETIS TERHADAP PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA Manalu, Valentino; Pasaribu, Santha Sepatya Hotmaria; Butar-butar, Samuel; Sinaga, Rosmaida
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2025): PUTERI HIJAU: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v10i1.64673

Abstract

This research discusses Dutch colonialism in the Indonesian education system. How does colonialism play a role in Indonesian education, especially ethical politics, influencing the education system in Indonesia Dutch colonialism in Indonesia lasted for more than three centuries, with an impact on various aspects of the life of the people of the Republic of Indonesia, one of which included the education system. Education is an effort made to change or develop attitudes, behavior, personal potential, intelligence in a better direction through the learning process. This research aims to determine the role of colonialism in the education system in Indonesia, starting with ethical politics. This research article uses a qualitative analysis method, specifically with literature analysis. According to (Safitri & Anggreani Dewi, 2021) This method is carried out by analyzing data from secondary sources of research articles related to the problems discussed in this research.
Co-Authors Abdul Latif alexander Annisa P A, Einina arfan diansyah Asrul, Annisa Aprilia Atira, Nurul Azimah, Siti Syariah Azmy, Fauzan Bella, Sinta Berutu, Anzelina Cristiani Br Bangun, Shaniya Kristiani Br Surbakti, Adelia Charoline Amayta Br Tarigan, Ade Leora br Tarigan, Talenta Butar-butar, Samuel Chandra, Muhammad Diki Cofifah S M, Indah Damanik, Fatur Rahman Damanik, Pria Satria Sanjaya Damanik, Selvia Andriani Putri Dania, Alya Putri Fahlevi, Tengku Riza Fakhriza, Alya Febriana Pulungan, Dona Gea, Natalman Ginting, Aggy Adinda Gultom, Fajar Ridwan Syah Putra Harahap, Rayhan Hidayah, Mutiara Ivanka, Ririn Jesika Indah Sari Purba Larasati, Suci Lubis, Salsa Bila Lubis, Yenny Maharani Lumbantoruan, Ruth Manalu, Agrifa Ido Arta Manalu, Jesika Febrianty Manalu, Valentino Manik, Hiu Yuri Manurung, Muhammad El Fachrurrozi Masni, Siti Mawaddah Mawaddah, Mawaddah Muhajir, Shafa Al Muham, Setia Esra S Mulyani, Fini Fajri Nababan, Marhenta Nababan, Sarah Amelia Nadiyah Nadiyah Nainggolan, Klara Minar Sari Nainggolan, Lorenti Br Nasution, Amanda Fayrisha Nasution, Delila Agustina Nasution, Muhammad Ikhsan Syahaf Nazwa, Dirham Nduru, Fandi Saputra Nur Fadillah, Nur Nurul Hasanah Pakpaha, Delima Br Pasaribu, Santha Sepatya Hotmaria Pasaribu, Tiara Nia’ammusyifa Perangin-angin, Desta Riani Br Purba, Agnesia Margareta Purba, Amelia Purba, Destry Stepani Purba, Maharani Br Purba, Muhammad Naufal Syafiq Rahmadhani, Nurdilla Rajagukguk, Arisya Rangga Sanjaya, Rangga Rezkinah, Intan Rianti, Novita Paskah Ricardo, Fransiscus Ronauli, Anggun Rut, Shintya Sabana, Sobri Safitri, Fivie Santika, Lisa Saputri, Adinda Dwi Saputri, Erika Afrilia Saragih, Berlianta Sari Harahap, Armyla Sari, Alpida Sartika, Dian Sebayang, Reva Natasya Br Sembiring, Marselinus Eprimsa Sembiring, Rahmi Asyifa Hidayah Sembiring, Santa Hoky Br Siagian, Deviyana Sri Marini Siagian, Dewi Br Sianipar, Marliana Sianturi, Doni Frides Sianturi, Felix Raphael Sianturi, Ramlan Anri Sibarani, Ayu Ashari Sidauruk, Ida Maria Sihite, Dina Sihombing, Juliani Sihotang, Marnita Simamora, Lilis Putri Simamora, Rapmaita Lamaida Simangunsong, Lister Eva Simanjuntak , Duana Angel Simanjuntak, Juan Vito Simanjuntak, Santa Hotnauli Simanulang, Risky Simanullang, Ezra Tamar Kristalia Simanullang, Yuda Sanrico Simarmata, Diva Nancy Audissa Simarmata, Rendi Rianto Simbolon, Ronald Gemsar Simbolon, Roulina Simbolon, Veronika Sinaga, Sinta Lidiana Sinambela, Marshal Gilbert Sipayung, Dinda Valica Siregar, Halimatu Syadiah Sitanggang, Engelni Mei Sitanggang, Hertati Sitepu, Jeim's Keyhezkiel Iberena Putra Siti Khadijah Situmeang, Sherly Natasya Solihah Titin Sumanti, Solihah Titin Soriente, Antonia Sumbayak, Djumar Surbakti, Adriel Surbakti, Vinc Jae Lestari SURYA AYMANDA NABABAN Syarifah Syarifah, Syarifah Tanjung, Flores Tarigan, Adolf Enrico Tungkup, Jopita Afnatasia Lumban Turnip, Rafli Edelweis Tusaddiah, Halimah Yogi Kurniawan, Yogi Zahrah, Alfiyyah Zai, Diraningsih Zai, Juanda Fanotona Zalukhu, Desveromika Zalukhu, Desveronika