Claim Missing Document
Check
Articles

Perkembangan Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya Pematangsiantar (1981-2021) Sinaga, Rosmaida; Nasution, Muhammad Ikhsan Syahaf; Sibarani, Ayu Ashari; Zai, Juanda Fanotona; Sanjaya, Rangga
Indonesian Journal of Education and Development Research Vol 3, No 2 (2025): Juli 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/ijedr.v3i2.6198

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang berdirinya Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya Pematangsiantar, perkembangan program layanan dan fasilitas Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya, dan dampak Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya terhadap penyadang disabilitas dan masyarakat sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapan penentuan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa latar belakang pendirian Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya karena rasa prihatin dari Sr. Jeannette terhadap penderitaan para penyandang disabilitas. Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya Pematangsiantar mengalami perkembangan di bidang program layanan medis seperti mendeteksi para penyandang disabilitas, melakukan revalidasi (fisioterapi, ergoterapi, speakterapi), operasi tulang dan operasi plastik serta pelayanan peningkatan keterampilan para penyandang disabilitas. Adapun fasilitas Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya adalah rumah cabang untuk belajar mandiri, ruang perawat poli, ruang pasien, kamar tidur, ruang dapur, ruang fisioterapi, ruang periksa, ruang ortotik prostetik, ruang pembuatan lilin, komunitas susteran FCJM, kolam terapi, ruang ergoterapi, ruang speakterapi, aula, ruang makan, guest house, ruang pertukangan kayu, yayasan, ruang jaga piket, kapel. Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya berdampak positif terhadap para penyandang disabilitas karena mereka memperoleh pelayanan medis dan membuka peluang hidup mandiri setelah mengikuti pelatihan keterampialan. Dampak kehadiran Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya terhadap masyarakat sekitarnya adalah memberi dukungan bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas dan menambah lowongan pekerjaan sebagai staf administrasi, perawat para disabiltas dan asisten rumah tangga Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya Pematangsiantar.
Pergerakan Nasional di Sumatera Utara pada Masa Jepang Sinaga, Rosmaida; Sinaga, Sinta Lidiana; Simbolon, Roulina; Simanjuntak, Santa Hotnauli; Manurung, Muhammad El Fachrurrozi
AR-RUMMAN: Journal of Education and Learning Evaluation Vol 2, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/arrumman.v2i1.6186

Abstract

Pergerakan nasionalis di Sumatera Utara pada masa Jepang menjadi salah satu awal perjuangan Indonesia untuk meraih kemerdekaannya dari penjajahan asing. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. tokoh Sumatera Utara yaitu Mangaraja Barumun Siregar beliau dikenal sebagai pemimpin dan pelopor dalam perang. Bekal yang beliau peroleh untuk melawan pendudukan Jepang dari pendidikan militer di organisasi Heiho.Dan perjuangan dari toko Sumatera Utara yaitu Tengku Mansur merupakan wali negara Sumatera Timur yang merupakan pendiri dan ketua Jong Sumatranen Bond.Pemerintah Jepang memulai pemerintahannya di Sumatera Utara dengan nama Pemerintahan Militer Jepang, yang dibagi menjadi tiga wilayah yaitu Sumatera, Jawa, dan Indonesia Timur.
Dari Ketidakadilan ke Kesadaran Politik: Sarekat Dagang Islam dan Transisi Menuju Sarekat Islam Fahlevi, Tengku Riza; Dania, Alya Putri; Larasati, Suci; Sinaga, Rosmaida
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i1.6489

Abstract

Studi ini mengkaji Sarekat Islam sebagai arena kontestasi gagasan dalam fase awal kebangkitan nasional, serta kontribusinya dalam membentuk arah perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Sarekat Islam (SI) merupakan tonggak awal dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia yang muncul sebagai respons terhadap ketimpangan struktural akibat kolonialisme Belanda, diskriminasi rasial, dan marginalisasi ekonomi masyarakat bumiputra. Didirikan pertama kali sebagai Sarekat Dagang Islam (SDI) oleh Haji Samanhudi dengan tujuan membela hak-hak pedagang pribumi dari tekanan ekonomi dan politik pedagang Tionghoa yang dilindungi penguasa kolonial, organisasi ini kemudian berkembang menjadi kekuatan politik massal di bawah kepemimpinan visioner H.O.S. Tjokroaminoto. Sarekat Islam tidak hanya bertransformasi menjadi wadah perjuangan kelas bawah, tetapi juga menjadi instrumen pembentukan kesadaran nasional melalui dakwah Islam, pendidikan politik, dan media pergerakan. SI menegaskan posisi Islam sebagai kekuatan moral dan sosial dalam menantang hegemoni kolonial. Namun, masuknya ideologi Marxis-Leninis yang dibawa oleh tokoh-tokoh seperti Semaun menimbulkan konflik ideologis yang tajam dan memperuncing perpecahan internal organisasi. Fragmentasi ini merefleksikan tarik-menarik ideologis dalam tubuh SI antara nasionalisme Islam dan komunisme yang sedang bertumbuh.
Pemuda dalam Cengkeraman Kekuasaan: dari Seinendan ke Generasi Milenial Muham, Setia Esra S; Safitri, Fivie; Manalu, Agrifa Ido Arta; Zai, Diraningsih; Cofifah S M, Indah; Sinaga, Rosmaida
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i1.6328

Abstract

Artikel ini membahas pola mobilisasi dan pemanfaatan pemuda oleh kekuasaan dalam dua periode berbeda: masa pendudukan Jepang (1942–1945) dan era digital kontemporer. Pada masa Jepang, pemuda dimobilisasi melalui organisasi semi-militer seperti Seinendan dan Keibodan untuk mendukung kepentingan militer dan ideologi penjajah. Sementara di masa kini, pemuda dimanfaatkan secara digital melalui peran sebagai buzzer politik yang menyebarkan narasi kekuasaan di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-kritis dengan metode kualitatif, mengandalkan studi pustaka dari sumber primer dan sekunder. Hasil kajian menunjukkan adanya pola kontinuitas dalam strategi kekuasaan yang menjadikan pemuda sebagai alat hegemoni, baik secara fisik maupun digital. Meskipun demikian, keterlibatan tersebut juga melahirkan kesadaran politik yang dapat mendorong pemuda menjadi subjek perubahan sosial. Artikel ini menekankan pentingnya literasi digital dan kesadaran kritis agar pemuda tidak terjebak dalam manipulasi kekuasaan, melainkan mampu tampil sebagai aktor utama dalam demokrasi yang reflektif dan partisipatif.
Dari Pesantren ke Pergerakan Modern: Jejak Sejarah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Rajagukguk, Arisya; Mawaddah, Mawaddah; Sinaga, Rosmaida; Simanulang, Risky; Nduru, Fandi Saputra
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i1.6450

Abstract

Artikel ini menelusuri jejak historis dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), yang lahir dari rahim pesantren namun berkembang menjadi pilar penting dalam modernisasi dan pergerakan sosial-keagamaan di Indonesia. Muhammadiyah dan NU muncul sebagai respons terhadap kondisi sosial keagamaan umat Islam yang saat itu berada dalam tekanan penjajahan, kebodohan struktural, serta dekadensi moral yang disebabkan oleh lemahnya pendidikan dan menyebarnya praktik keagamaan yang menyimpang. Dengan menggunakan pendekatan historis-kualitatif, tulisan ini membandingkan latar belakang pendirian, visi keagamaan, bentuk pergerakan, serta kontribusi keduanya dalam bidang pendidikan, sosial, dan politik. Meski berasal dari basis keagamaan yang serupa, Muhammadiyah berkembang dengan pendekatan rasional dan modernis, sedangkan NU meneguhkan tradisi keagamaan lokal secara kontekstual. Keduanya saling melengkapi dalam membangun masyarakat Islam yang moderat, inklusif, serta berperan aktif dalam pembangunan bangsa.
Perang Dunia II dan Perubahan Lanskap Kekuasaan di Indonesia: Pendudukan Jepang dan Respons Ronauli, Anggun; Saputri, Adinda Dwi; Nainggolan, Lorenti br; Sumbayak, Djumar; Sinaga, Rosmaida
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i1.6474

Abstract

Pendudukan Jepang di Indonesia selama Perang Dunia II (1942–1945) menjadi titik balik dalam sejarah kekuasaan kolonial di Asia Tenggara. Jepang menggantikan Belanda sebagai penguasa, menerapkan pemerintahan militer yang represif namun juga membuka ruang bagi tumbuhnya nasionalisme. Artikel ini mengkaji bagaimana pendudukan Jepang menyebabkan perubahan dalam lanskap kekuasaan politik di Indonesia, serta menganalisis respons rakyat yang meliputi kolaborasi, perlawanan, dan adaptasi terhadap kondisi baru. Meskipun rakyat mengalami penderitaan akibat kebijakan Jepang seperti romusha dan kekurangan pangan, pengalaman masa pendudukan ini justru memperkuat semangat kemerdekaan. Dengan menggunakan pendekatan historis, artikel ini menyoroti bagaimana dinamika pendudukan Jepang membentuk fondasi penting bagi lahirnya Republik Indonesia pada tahun 1945.
Peran Pemuda dan Perempuan Dalam Sejarah Sumpah Pemuda Sari, Alpida; Pasaribu, Tiara Nia’ammusyifa; Rahmadhani, Nurdilla; Purba, Maharani Br; Sinaga, Rosmaida
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i1.6453

Abstract

Artikel  ini merupakan sebuah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Dalam momentum bersejarah ini, peran pemuda sangat vital sebagai motor penggerak semangat persatuan, nasionalisme, dan identitas kebangsaan Indonesia. Melalui ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, pemuda dari berbagai daerah menunjukkan komitmen kuat terhadap cita-cita kemerdekaan. Di sisi lain, meskipun peran perempuan kurang terdokumentasi secara luas dalam peristiwa Sumpah Pemuda, keterlibatan mereka tetap signifikan dalam mendukung gerakan nasional. Perempuan aktif dalam organisasi-organisasi pendidikan dan sosial yang membina kesadaran kebangsaan serta memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk dalam ranah pendidikan dan kesetaraan. Kontribusi perempuan memperkuat basis perjuangan pemuda dengan menyediakan dukungan moral, intelektual, dan organisasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan Sumpah Pemuda tidak lepas dari sinergi antara pemuda dan perempuan yang secara kolektif membangun fondasi nasionalisme Indonesia. Peran keduanya menjadi bukti bahwa perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia merupakan hasil kolaborasi lintas gender dan generasi.
Hegemoni Ekonomi VOC di Nusantara: Analisis Monopoli Rempah-Rempah dan Dampaknya terhadap Pasar Global Abad ke-17 Sartika, Dian; Sabana, Sobri; Sinaga, Rosmaida; Situmeang, Sherly Natasya; Sitanggang, Engelni Mei; Surbakti, Adriel; Damanik, Fatur Rahman
SAKOLA: Journal of Sains Cooperative Learning and Law Vol 2, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/sakola.v2i2.7091

Abstract

Artikel ini menganalisis hegemoni ekonomi Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Nusantara melalui monopoli rempah-rempah pada abad ke-17 dan dampaknya terhadap pasar global. Penelitian menggunakan metode kualitatif historis dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VOC menerapkan strategi sistematis termasuk pemusnahan tanaman (extirpatie), pelayaran Hongi (hongitochten), kontrol distribusi ketat, dan manipulasi politik (divide et impera) untuk menguasai produksi dan perdagangan rempah-rempah. Dampaknya bersifat dualistis: di Eropa menyebabkan stabilisasi harga, akumulasi modal, dan perkembangan ekonomi; sementara di Nusantara mengakibatkan kehancuran jaringan perdagangan tradisional, pemiskinan masyarakat, dan hilangnya kedaulatan politik. Studi ini menyoroti VOC sebagai perwujudan awal kapitalisme korporat global yang relevan untuk memahami dinamika ekonomi politik kontemporer.
Peran Pemuda Sebagai Agen Transformasi Sosial dalam Pergerakan Nasional Azmy, Fauzan; Sianipar, Marliana; Sinambela, Marshal Gilbert; Sinaga, Rosmaida
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i2.14899

Abstract

Peran pemuda sebagai agen transformasi sosial dalam pergerakan nasional memiliki peran yang penting dalam upaya memajukan bangsa. Pemuda memiliki potensi untuk menjadi motor penggerak perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Melalui keterlibatan aktif pemuda dalam pergerakan nasional, diharapkan mampu menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan demi kemajuan sosial dan politik suatu negara. Pemuda telah lama diakui sebagai kekuatan utama dalam pergerakan sosial dan politik. Dalam konteks pergerakan nasional, peran pemuda menjadi lebih penting karena mereka merupakan agen transformasi sosial yang mampu mengubah paradigma dan membawa perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Tulisan ini menguraikan peran pemuda dalam pergerakan nasional sebagai pembawa perubahan sosial, agen inovasi, dan pembentuk identitas nasional. Melalui partisipasi aktif mereka dalam berbagai kegiatan sosial, politik, dan budaya, pemuda mampu memobilisasi massa, menggalang dukungan publik, dan memperjuangkan cita-cita nasional. Namun, tantangan yang dihadapi pemuda, seperti pendidikan yang tidak merata, pengangguran, dan ketidakpastian ekonomi, mempengaruhi efektivitas mereka sebagai agen transformasi sosial. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu memberikan dukungan dan peluang yang memadai bagi pemuda agar mereka dapat melaksanakan peran mereka dengan efektif dalam memajukan pergerakan nasional.
Sejarah Dan Perkembangan Gereja HKBP Simanullang Matiti Tahun 1904-1945 Simanullang, Ezra Tamar Kristalia; Simamora, Rapmaita Lamaida; Kurniawan, Yogi; Purba, Destry Stepani; Sinaga, Rosmaida; Diansyah, Arfan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.9995

Abstract

Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedatangan misionaris ke daerah Doloksanggul, selain itu mengetahui Sejarah berdirinya dan perkembangan Gereja HKBP Simanullang di tahun 1904-1945. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan menggunakan metode historis yang melibatkan analisis kritis terhadap sumber-sumber sejarah. Proses ini meliputi empat langkah penting, yaitu Heuristik, Verifikasi, Interpretasi, dan Historiografi. Berdirinya Gereja HKBP Simanullang di Matiti, tidak lepas dari peran penting salah satu tokoh penting dan seorang misionaris dari Jerman yaitu, I.L Nomensen yang diberi gelar “Sang Apostel Batak” yang mengupayakan  penyebaran agama Kristen Protestan bagi tanah batak salah satunya ialah daerah Humbang Hasundutan. Dimana Nomensen mengirim sesama misionaris bernama Pendeta Herling ke daerah Doloksanggul sekitar 1904. Kehidupan masyarakat matiti sebelum masuknya pengkabaran injil kental dengan penyembahan roh. Meskipun awalnya mendapat penolakan dari masyarakat, namun seiring berjalanya waktu ke kritenan pun diterima. Dan Seiring berjalanya waktu, dari tahun 1907 penduduk Matiti mau dibabtis, dan Perkembangan Jemaat HKBP Matiti semakin banyak.
Co-Authors Abdul Latif alexander Annisa P A, Einina arfan diansyah Asrul, Annisa Aprilia Atira, Nurul Azimah, Siti Syariah Azmy, Fauzan Bella, Sinta Berutu, Anzelina Cristiani Br Bangun, Shaniya Kristiani Br Surbakti, Adelia Charoline Amayta Br Tarigan, Ade Leora br Tarigan, Talenta Butar-butar, Samuel Chandra, Muhammad Diki Cofifah S M, Indah Damanik, Fatur Rahman Damanik, Pria Satria Sanjaya Damanik, Selvia Andriani Putri Dania, Alya Putri Fahlevi, Tengku Riza Fakhriza, Alya Febriana Pulungan, Dona Gea, Natalman Ginting, Aggy Adinda Gultom, Fajar Ridwan Syah Putra Harahap, Rayhan Hidayah, Mutiara Ivanka, Ririn Jesika Indah Sari Purba Larasati, Suci Lubis, Salsa Bila Lubis, Yenny Maharani Lumbantoruan, Ruth Manalu, Agrifa Ido Arta Manalu, Jesika Febrianty Manalu, Valentino Manik, Hiu Yuri Manurung, Muhammad El Fachrurrozi Masni, Siti Mawaddah Mawaddah, Mawaddah Muhajir, Shafa Al Muham, Setia Esra S Mulyani, Fini Fajri Nababan, Marhenta Nababan, Sarah Amelia Nadiyah Nadiyah Nainggolan, Klara Minar Sari Nainggolan, Lorenti Br Nasution, Amanda Fayrisha Nasution, Delila Agustina Nasution, Muhammad Ikhsan Syahaf Nazwa, Dirham Nduru, Fandi Saputra Nur Fadillah, Nur Nurul Hasanah Pakpaha, Delima Br Pasaribu, Santha Sepatya Hotmaria Pasaribu, Tiara Nia’ammusyifa Perangin-angin, Desta Riani Br Purba, Agnesia Margareta Purba, Amelia Purba, Destry Stepani Purba, Maharani Br Purba, Muhammad Naufal Syafiq Rahmadhani, Nurdilla Rajagukguk, Arisya Rangga Sanjaya, Rangga Rezkinah, Intan Rianti, Novita Paskah Ricardo, Fransiscus Ronauli, Anggun Rut, Shintya Sabana, Sobri Safitri, Fivie Santika, Lisa Saputri, Adinda Dwi Saputri, Erika Afrilia Saragih, Berlianta Sari Harahap, Armyla Sari, Alpida Sartika, Dian Sebayang, Reva Natasya Br Sembiring, Marselinus Eprimsa Sembiring, Rahmi Asyifa Hidayah Sembiring, Santa Hoky Br Siagian, Deviyana Sri Marini Siagian, Dewi Br Sianipar, Marliana Sianturi, Doni Frides Sianturi, Felix Raphael Sianturi, Ramlan Anri Sibarani, Ayu Ashari Sidauruk, Ida Maria Sihite, Dina Sihombing, Juliani Sihotang, Marnita Simamora, Lilis Putri Simamora, Rapmaita Lamaida Simangunsong, Lister Eva Simanjuntak , Duana Angel Simanjuntak, Juan Vito Simanjuntak, Santa Hotnauli Simanulang, Risky Simanullang, Ezra Tamar Kristalia Simanullang, Yuda Sanrico Simarmata, Diva Nancy Audissa Simarmata, Rendi Rianto Simbolon, Ronald Gemsar Simbolon, Roulina Simbolon, Veronika Sinaga, Sinta Lidiana Sinambela, Marshal Gilbert Sipayung, Dinda Valica Siregar, Halimatu Syadiah Sitanggang, Engelni Mei Sitanggang, Hertati Sitepu, Jeim's Keyhezkiel Iberena Putra Siti Khadijah Situmeang, Sherly Natasya Solihah Titin Sumanti, Solihah Titin Soriente, Antonia Sumbayak, Djumar Surbakti, Adriel Surbakti, Vinc Jae Lestari SURYA AYMANDA NABABAN Syarifah Syarifah, Syarifah Tanjung, Flores Tarigan, Adolf Enrico Tungkup, Jopita Afnatasia Lumban Turnip, Rafli Edelweis Tusaddiah, Halimah Yogi Kurniawan, Yogi Zahrah, Alfiyyah Zai, Diraningsih Zai, Juanda Fanotona Zalukhu, Desveromika Zalukhu, Desveronika