Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Litera

PERAN MUHAKAM DALAM ADAT PERKAWINAN SEBAGAIREPRESENTASI ADAB DAN ETIKA MELAYU SAMBAS Ahadi Sulissusiawan
LITERA Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v15i2.11834

Abstract

PERAN MUHAKAM DALAM ADAT PERKAWINANSEBAGAIREPRESENTASI ADAB DAN ETIKA MELAYU SAMBASAhadi SulissusiawanFKIP Universitas Tanjungpuraemail: ahadi.sulissusiawan@yahoo.comAbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran Muhakam sebagai representasi adabdan etika dalam adat perkawinan Melayu Sambas. Penelitian ini menggunakan kaidahanalisiskualitatif.Data penelitian adalah ucapan (verbal), gerak-gerik (nonverbal), danpakaian yang digunakan Muhakam ketika memberikan sambutan (alu-aluan) dan nasihatperkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ucapan Muhakam menggambarkan hatiyang ikhlas, penuh kasih sayang, dan belas kasihan.Muhakam memperlihatkan strategiikhlas, merendah diri, dan meminta maaf sebagai representasi adab dan etika Melayu.Adab dan etika Muhakam dalam acara majelis adat perkawinan Melayu ditunjukkandengan sikap dan perilaku yang dapat menumbuhkan simpati dan respon yang baikdari masyarakat. Kebijaksanaandan kesantunandalam berperilaku ditunjukkan olehMuhakam dengan senyum, bertegur sapa, berjabat tangan, dan adab berpakaian. Peranpenting tersebut menjadikan seorang Muhakam dianggapsebagai sosok yang dapatmenjaga marwah keluarga dan masyarakat.Kata kunci: Muhakam, pemantun, adab dan etika Melayu, adat perkawinanA MUHAKAM’S ROLES IN THE WEDDING TRADITIONAS A REPRESENTATION OF SAMBAS MALAY MANNERS AND ETHICSAbstractThis study aims to describe the role of a Muhakam as a representation of manners andethics in the Sambas Malay wedding tradition. This is a qualitative study. The researchdata are speech (verbal), gestures (nonverbal), and clothinga Muhakam is wearing whengiving a speech (alu-aluan) and marital advice. The findings showthat a Muhakam’sspeech depicts a sincere heart, full of affection and mercy. A Muhakam shows sincere,humble, and apologetic strategies as a representation of Malay manners and ethics. AMuhakam’s manners and ethics inthe Malay wedding tradition are shown by the attitudeand behavior that can foster sympathy and good responses from the public. The wisdomand politeness in behavior are shown by a Muhakam by smiling, exchanging greetings,shaking hands, and dressing properly. These make a Muhakam considered as someonewho can maintain the dignity of the family and society.Keywords: Muhakam, quatrain reciter, Malay manners and ethics, wedding tradition
MAKNA SIMBOLIK PANTUN DALAM TRADISI MULANG-MULANGKAN PADA MASYARAKAT MELAYU SAMBAS Ahadi Sulissusiawan
LITERA Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v14i1.4413

Abstract

AbstractThis study aims to describe symbolic meanings of pantun in the mulang-mulangkantradition in the Sambas Malay community. The mulang-mulangkan tradition is a Malaytradition through which the parents of the bride and groom hand over the couple tofamilies and relatives to be well accepted. The study employed the ethnographic approachby applying the analysis according to the ethnographic framework by Spradley. Theanalysis was conducted by investigating symbols based on the contexts and relationalmeanings of folk terms in pantun in relation to the cultural life of the community possessingthe text. The results of the data analysis show that the folk terms in the Sambas Malaycommunity contain symbolic meanings. Some of them are advice on a pure bride, adviceon bitterness in family life, advice on loyalty and willingness to sacrifice, advice on patienceand trust in God to face life, advice on problem solving through agreement, advice ondiligence in saying prayers and not being lazy in family life, and advice on inviting otherswhen a baby is born.
Metafora bentuk manusia dalam sastra lisan mantra Sinding Badan masyarakat Melayu Sambas Ahadi Sulissusiawan; Dedy Ari Asfar; Mariyadi Mariyadi; Agus Syahrani
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.55509

Abstract

Mantra sebagai bentuk puisi tradisional merupakan warisan dari kehidupan primitif  zaman purba atau prasejarah yang berkembang sampai hari ini. Selain itu, mantra mengandung bahasa sugestif dan magis bagi para pengamalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan metafora bentuk manusia (human) pada  mantra Sinding Badan masyarakat Melayu Sambas. Metode dipahami dengan sudut pandang pendekatan linguistik fungsional sistemik dan kajian semiotik sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan metode wawancara. Sumber data penelitian  delapan judul mantra Penyinding Badan yang didapatkan dari narasumber yang berasal dari masyarakat Melayu Sambas. Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa pada mantra Sinding Badan ditemukan bentuk-bentuk manusia yang direalisasikan dengan sapaan manusia, pronomina persona pertama tunggal dan pronomina persona kedua tunggal, pronomina posesif pertama tunggal dan pronomina posesif kedua tunggal, dan substitusi nama manusia. Penggunaan bentuk manusia yang dominan dalam mantra adalah metafora bentuk manusia dengan realisasi pronomina posesif “-ku” dan beberapa penggunaan “-mu”. Hal ini menandakan bahwa tingkat “keakuan” atau tujuan mantra digunakan sesuai untuk memberikan pengaruh kepada pemantra sebagai “aku” dalam mantra. Di samping itu,  banyak juga digunakan metafora bentuk manusia yang direalisasikan dengan nama manusia, yakni manusia-manusia yang telah dipercaya oleh Allah SWT untuk memimpin dan terkenal mempunyai kekuatan tertentu. Kata kunci: metafora, manusia, mantra, semiotik sosialThe metaphor of the human form in the oral literature of the Sinding Badan mantra of theSambas Malay community AbstractMantra, as a form of traditional poetry, is a legacy from ancient or prehistoric primitive life that has developed to this day. In addition, mantras contain suggestive and magical language for practitioners. This study aims to describe the use of the metaphor of the human form in the Sinding Badan mantra of the Sambas Malay community. The method is understood from a systemic functional linguistic approach and social semiotic studies standpoint. This study uses a qualitative descriptive research method with the interview method. The research data source for the eight titles of the Penyinding Badan mantra was obtained from informants from the Sambas Malay community. This study revealed that in the Sinding Badan mantra, human forms are found which are realized with human greetings, the first singular personal pronoun, and the second single personal pronoun, the first single possessive pronoun and the second singular possessive pronoun, and the substitution of human names. The predominant use of the human form in mantras is the metaphor of the human form with the realization of the possessive pronoun "-ku" and some uses of "-mu." This indicates that the level of "I" or the purpose of the mantra is used accordingly to give effect to the caster as the "I" in the mantra. In addition, many human-form metaphors are also used, which are realized by the name of humans, namely humans who have been trusted by Allah SWT to lead and are known to have certain powers. Keywords: metaphor, human, mantra, social semiotics
Co-Authors . Jamilah . Rizawati, . . Rosmaniar A Totok Priyadi Abdussamad . Aditya, Mega Cantik Putri Agus Syahrani Agus Syahrani Agus Syahrani Agus Wartiningsih Agus Wartiningsih Ahmad Rabiul Muzammil Alisa, Nur Amanda Kalalo, Artha Jeane Claudya Amanda Kalalo, Ahadi Amriani Amir Anna Yuniarti Antonius Totok Priyadi Apriyadi, Antonius Totok Asfar, Dedy Ari Aulia Rahmawati, Aulia Bangga, Try Anugerah Chairil Effendy Christanto Syam Deden Ramdani Dedy Ari Asfar Dedy Ari Asfar Dela Dela Diarty, Eny Dita Alfianata Duantika, Prima Eeng Sumarman Eligia Herisoni, Eligia Endang Susilawati Endang Susilowati Erwansah, Erwansah Fauzanna, Sekar Harum Ferdi, Leonardus Hajjafiani, Dini Hendreksen, Tommi Henny Sanulita Hotma Simanjuntak Iis Darliah Khairullah, Khairullah Klara, Maria Laurensius Salem Lestari, Depi Yanti Lestari, Kurnia Listiani, Isma Ma'ruf, Zilzia Rahmi Madeten, Sisilya Saman Mariyadi mariyadi Marsita Riandini Melianti, Melianti Melilisa Jupitasari Mellisa Jupitasari Meri, Andi Meriana Meriana Muhammad Asrori Muhammad Thamimi, Muhammad Muzammil, Ahmad Rabi ul Muzammil, Ahmad Rabi'ul Muzammil, Ahmad Rabi’ul Nadeak, Parlindungan Nanang Heryana Neneng Suryani Nova Oktaviandari Novianti, Riska Nurhidayah, Mareta Nursita Nursita, Nursita Oktiyadi, Rizky Parlindungan Nadeak Patriantoro . Pitaloka, Dian Rahmat Rahmat Rahmina, Michelia Regaria Tindarika Regaria Tindarika Rejeki Situmorang, Rolah Sri Riandini, Marsita Rizky Oktiyadi Rizky, . Rizky, Dina Rosdiana, Eva Ruqiah Ganda Putri Panjaitan Safhira, Bela Sanulita, Henny Saputra, Yohanes Welli Saputri, Eis Sarinda F11109021 Satri, Aprina Eni Sentosa, Adi Septianengrum, Dwi Serapina, Serapina Sesilia Seli Shin, Chong Sisilya Saman Siti Rohana Syahrani, Agus Syambasri ., Syambasri Syambasril . Syamsul Arifin Taazimiyah . Triani, Iin Ulya, Cahyati Uray Eldi Firmansyah Wahyu Damayanti, Wahyu Wahyudi Wahyudi Wahyuni, Dwita Wartiningsih, Agus Wary, Fransiska Febrivaras Winda Istiandini WINDHA WINDHA Wulandari, Kinanti Y. Touvan Juni Samodra Yolanda Oktaviani