p-Index From 2021 - 2026
7.943
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Attoriolong El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Al-Ulum Farabi Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam Al-Hikmah Jurnal Diskursus Islam Jurnal Adabiyah JAWI : Journal of Southeast Asia Islamic Contemporary Issues Intizar Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan JICSA Journal of Honai Math JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Al-Qalam MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi ISTIQRA: JURNAL HASIL PENELITIAN Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial Borneo : Journal of Islamic Studies El-Fata: Journal of Sharia Economics and Islamic Education Jurnal Edukasi dan Pengabdian kepada Masyarakat (JEPKM) Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Carita : Jurnal Sejarah dan Budaya Jurnal Nirta: Studi Inovasi Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Jurnal Ilmiah Falsafah Jurnal Pendidikan Agama Islam Jurnal Sejarah Peradaban Islam Archipelago Journal of Southeast Asia Islamic Studies Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan International Journal of Islamic Studies Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam Dan Pendidikan Jurnal Cendekia Ilmiah PESHUM ALMUSTOFA: Journal of Islamic Studies and Research Service Muwazah: Jurnal Kajian Gender ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora JUTEQ (JURNAL TEOLOGI & TAFSIR)
Claim Missing Document
Check
Articles

Perang Salib dalam Bingkai Sejarah Syamzan Syukur
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 2 No 01 (2014): OKTOBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v2i01.1348

Abstract

The Crusades were the Christians regarded as holy war (holy war), because it is seen as a war motivated by religious zeal , but the real motivation of religion in this war only take the smallest part compared with other motivations such as political and economic motivation motivation. Crusade between Muslims and Christians lasted for two centuries, and kemenanganpun alternated achieved by both parties. But the important notes in the event that the huge losses suffered by the people of the destruction of structures in both physical and social and psychological condition of the Muslims, because this war took place in the Islamic world. And instead provide a positive impact on the world, especially Europe to influence the progress of European civilization.
Sistem Pemerintahan Kedatuan Luwu dalam Kurung Periode I Lagaligo (Abad IX-XIII) Syamzan Syukur
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 3 No 01 (2015): OKTOBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v3i01.1358

Abstract

Luwu was the oldest kingdom in South Celebes. Luwu had been known as the origin place of Buginese civilization which appeared since 10th century. Therefore, it is so interesting to know more about Luwu. Then, the concern of this research is to explore the goverment system of Luwu in the era of La Galigo in 9-13th centuries. It should be understood that La Galigo is a classic manuscript which describe about the origin people of Luwu. In this case Luwu represents the oldest Buginese ethnic. Further, in La Galigo we will find a story (or even a myth) about the famous person, named Sawerigading. He and his family i.e. Batara Guru as his father and La Galigo as his son had created a new social-political stratum in the Buginese society. Sawerigading played a role as a charismatic person which in this case he became as symbol of his ethnic. According to that condition, we can analyze that the earliest government system of Luwu Kingdom is monarchi absolute. Thus that goverment system appropriates with the social condition of society which had a belief to gods or it calls urmonotheism i.e. PatotoE (as the highest God of Buginese/Luwu society).
INTEGRASI ISLAM DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DI KEDATUAN LUWU PADA ABAD XVII Syamzan Syukur
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2835

Abstract

Temuan tulisan ini menunjukkan bahwa, penerimaan Islam sebagai agama resmi kerajaan di kedatuan Luwu telah memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk sistem pemerintahan. Integrasi Islam  pada sistem pemerintahan Kedatuan Luwu, dapat dilihat pada: pertama, Pembentukan  Parewa Sara’ (institusi sara’) sebagai salah satu institusi pemerintahan khusus bidang keagamaan yang diketuai oleh seorang  Kadhi (hakim agama); tugas seoran Kadhi selain mengembangkan kehidupan beragama dalam masyarakat sekaligus sebagai penasehat datu atau raja; sehingga segala kebbijakan yang diambil oleh raja dan erajaan tidak bertentangan dengan Islam. Kedua, dimasukkannya unsur Sara’ (Syariat Islam) ke dalam Panggedekeng (sistem kebudayaan masyarakat), yang sebelumnya terdiri atas lima yaitu   Ade’ (adat), Bicara, Rapang dan Wari, dan menjadi enam dengan ditambahkannya Sara’ (Syari’at Islam).
Peran Dinasti Mamluk dalam Membendung Ekspansi Bangsa Mongol ke Dunia Islam Syamzan Syukur; mastanning Anning
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5455

Abstract

“Mamluk” berarti budak atau hamba yang ditawan dan dididik, pengetahuan agama dan pengetahuan militer serta ilmu pengetahuan lainnya oleh Dinasti Ayyubiyah. Dalam proses pemerintahan, Mamluk berubah menjadi Dinasti.  Sistem pemerintahannya adalah sistem militeristik  (pergantian kepemimpinan berdasarkan karir militer). Walaupun pada perkembangannya kemudian, sistem pergantian pemimpinnya, berubah menjadi sistem monarchieheredetis. Kemajuan yang diperoleh Dinasti Mamluk tidak hanya dari segi militer, tetapi ilmu pengertahuan, arsitektur dan bidang ekonomi. Sejak Mamluk berkuasa, Mesir menjadi penghubung jalur perdagangan Timur dan Barat. Kehadiran Dinasti Mamluk menambah catatan perstasi kerajaan Islam dalam pentas politik terutama peranannya dalam membendung ambisi pasukan Tartar (Bangsa Mongol) untuk menguasai Islam yang pada saat itu mengalami kemajuan peradaban. Tentara Mamluk dan Mongol saling berhadapan di Ayn Jalut dan pertempuran pun terjadi pada tanggal tahun 658 H./1260. Strategi yang digunakan oleh Dinasti Mamluk dalam mempersatukan umat Islam membuat pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan Mongol.
The Developments and Problems of Muslims in Australia Syamzan Syukur; Syamhi Muawwan Djamal; Syarifah Fauziah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.11858

Abstract

This paper shows that historians have different views about the early arrival of Islam in Australia; some argue that Islam entered Australia in the 9th century BC. Those that believe in the 10th century BC were brought by Arab traders. Besides, some mention below by Muslim Bugis fishermen who traveled by sailboat to collect taripang (a kind of sea slug) on the Gulf of Carpentaria in the 17th century BC. While the development of Islam in Australia started appears from 1976 to 1986 the Muslim community in Australia rose to a three-fold. Increasing the quantity of Muslims in Australia is generally dominated by immigrants from the countries of the Muslim majority. Activity and religious activity continues to writhe mainly due to the support and role of Islamic organizations. As for the problems faced by Muslims in Australia is coming from a non-Muslim society of Australia; Persistence of Muslims to practice their religion, sometimes considered a fanatic attitude and could not cooperate. Another problematic faced by Muslims is related to a misunderstanding of Islam. Most of the Australian non-Muslims regard that Islam is a violent religion. This perspective is connected by the collapse of the World Trade Center (WTC). The method of this research is a descriptive-analytic qualitative study that utilizes library resources to acquire, manage and analyze data.   Tulisan ini menunjukkan bahwa, para sejarawan memiliki pandangan yang berbeda mengenai awal masuknya Islam di Australia; sebagian berpendapat bahwa Islam masuk ke Australia pada abad ke-9 masehi. Adapula yang berpendapat pada abad ke-10 masehi yang dibawah oleh pedagang-pedagang Arab melalui pantai Australia. Selain itu adapula yang menyebutkan di bawah oleh nelayan muslim Bugis yang berkelana dengan perahu layar untuk mengumpulkan taripang (semacam siput laut) dari teluk Carpentaria pada abad ke-17 masehi. Sedangkan perkembangan Islam di Australia mulai Nampak sejak tahun 1976 sampai tahun 1986 komunitas kaum muslimin di Australia meningkat mencapai tiga kali lipat. Peningkatan kuantitas kaum muslimin di Australi pada umumnya didominasi oleh para imigran dari negera-negara mayoritas muslim. kegiatan dan aktivitas keagamaan pun terus menggeliat terutama karena dukungan dan Peranan organisasi-organisasi Islam. Adapun problematika yang dihadapi kaum muslimin di Australia adalah datangnya dari masyarakt non-muslim Australia; Ketekunan umat Islam menjalankan ajaran agamanya, terkadang dianggap sebagai sikap fanatic dan tidak bisa diajak kompromi. Problematika lain yang dihadapi kaum muslimin   adalah berkaitan dengan kesalah pahaman tentang Islam. Kebanyakan non-muslim Australia menganggap bahwa Islam adalah agama kekerasan. Persfektif ini mereka hubungkan dengan  peristiwa  runtuhnya gedung WTC. Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif-analitik denhan memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh, mengelola dan menganalisis data.
Akulturasi Budaya: Adat Pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa st. hajar hajar; Dahlan M; syamzan syukur
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 1 (2020): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i1.12150

Abstract

Abstrak: Penelitian ini akan menjawab pertanyaan 1. Bagaimana prosesi dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?, 2. Apa saja nilai-nilai budaya Islam dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?, 3. Bagaimana proses akultuasi budaya Islam dan budaya lokal dalam adat pernikahan di Kelurahan Cikoro Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa?. Pernikahan di Kelurahan Cikoro disebut dengan istilah pa’buntingan, tidak hanya melibatkan keluarga inti tapi juga masyarakat luas dan terdiri dari dua tahap, yakni: tahap sebelum pernikahan dan tahap setelah pernikahan. Adat pernikahan di Kelurahan Cikoro sangat unik jika dibandingkan dengan adat pernikahan di daerah lain, di Kelurahan Cikoro pesta pernikahan didahulukan daripada akad nikah. Terjadinya akulturasi semakin memperkokoh adat pernikahan di Kelurahan Cikoro dengan nilai budaya Islam seperti: tolong-menolong, musyawarah dan menjalin hubungan silaturrahim. 
PEREMPUAN DALAM LINTAS SEJARAH (Studi Atas Peran Publik Sahabiyah-Sahabiyah di Masa Rasulullah SAW) Syamzan Syukur
Muwazah Vol 6 No 1 (2014)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v6i1.437

Abstract

Abstract: The tradition of pre-Islamic Arabian society known as the position of women as imperior. Prophet as a feminist fight for equality derarat (egalitarian) between men and women. The struggle of the Prophet raise the dignity of women is very opposite to trasidi Arab society. Many traditions and fi'li qauli recommending that treat women well. Even at the time of the Prophet women taking a role in the public sphere-sphere were previously considered taboo for women. As in politics known Aisha, Umm Salama, Safia Bint Abdul Muttalib and others, in the field of education known in economics Aisha and Khadija bint Khuwalid known. Abstrak : Tradisi masyarakat Arab pra-Islam yang dikenal sebagai posisi perempuan sebagai imperior. Nabi sebagai pertarungan feminis untuk kesetaraan derarat (egaliter) antara laki-laki dan perempuan. Perjuangan Nabi mengangkat harkat dan martabat wanita sangat berlawanan dengan trasidi masyarakat Arab. Banyak tradisi dan qauli fi'li merekomendasikan bahwa memperlakukan wanita dengan baik. Bahkan pada saat perempuan Nabi mengambil peran dalam masyarakat lingkup-lingkup yang sebelumnya dianggap tabu bagi perempuan. Seperti dalam politik dikenal Aisha, Ummu Salamah, Safia Binti Abdul Muthalib dan lain-lain, di bidang pendidikan yang dikenal dalam ilmu ekonomi Aisha dan Khadijah binti Khuwalid dikenal.
Konfrontasi Islam Ideologis Versi Abdul Qahhar Muzakkar dengan Komunis di Desa Tompo Bulu Abdulkahar; Syamzan Syukur; Hasaruddin
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 24 No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v24i1.28900

Abstract

Abdul Qahhar Mudzakkar merupakan salah satu tokoh yang kini menjadi simbol perjuangan bagi sebagian masyarakat di Sulawesi Selatan. Perjuangannya dalam menyuarakan hak-hak para gerilyawan memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat local yang berjuang saat itu. Tidak hanya itu, Qahhar juga menjadi ikon perjuangan bagi para tokoh agama dalam memperjuangkan syariat Islam. Konflik di tubuh militer dianggap sebagai dasar pemberontakan Qahhar bersama para pasukannya. Padahal jika kita menelaah dari perspektif lain, perjuangan Qahhar tidaklah dilatarbelakangi oleh motif politik; melainkan motif agama. Hal tersebut dapat kita lihat dari berbagai macam rekonsiliasi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pemerintahan namun tak satupun yang berhasil. Ditambah lagi, surat-surat yang ditulis oleh Qahhar benar-benar menampakkan penolakannya terhadap komunis yang telah mendapat ruang khusus di negeri ini. Hal serupa dapat kita lihat di desa Tompo Bulu yang menjadi salah satu markas berkumpulnya para gerilyawan. Saat itu, ketika PKI datang untuk mencari dukungan, masyarakat lokal menolak dengan alasan PKI-nya. Artinya, masyarakat di pedalaman telah teredukasi sehingga mereka menolak apapun yang berbau PKI dalam kehidupannya.
LOCAL WISDOM IN MA’BALENDO’S TRADITIONAL ARTS AT THE HARVEST FESTIVAL IN BELOPA, LUWU REGENCY Syamzan Syukur; Wahyuddin Gudang; Rahmat Rahmat
Al-Qalam Vol 28, No 1 (2022)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v28i1.1013

Abstract

AbstractThis research discussed in this paper the elements of local wisdom in the traditional art of Ma’balendo during the harvest party in Belopa, Luwu Regency. The goal of this research is to reveal the importance of local wisdom in the Ma’balendo traditional art form.The findings of this study can be used to manage life, build and organize the Luwu community's culture and civilization. Furthermore, this research can be used as a reference for future research studying Luwu's culture and development.This research is field research intended to gather and analyze the data qualitatively. It addressed the issues using historical, anthropological, and hermeneutic approaches. The data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Meanwhile, the data processing and analysis technics used data reduction, presentation, and drawing conclusions or verification.The results of this research indicate that the traditional art of Ma’balendo, as the original ancestral heritage of the Luwu people, is an art performance with farming activities as its theme. The art contains many peculiarities and uniqueness, even the art is full of local wisdom, among others; 1) spiritual dimension, 2) social and community dimension, 3) educational and moral dimension, 4) gender relation dimension in people's lives, and 5) art or entertainment dimension.This research differs from the earlier research, yet the findings will fill in the gaps and contribute to the content of the prior studies. Additionally, the findings of this study can be used as a reference for future research. 
The Continuity and Discontinuity of Visiting Sheikh Yusuf Tomb Tradition in Kobbang Gowa-South Sulawesi Syamzan Syukur
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.938 KB) | DOI: 10.18860/el.v18i1.3500

Abstract

The findings of this paper show that the ritual tradition of visiting the tomb of Sheikh Yusuf in Kobbang from time to time amended. It was initially a strong ritual primarily influenced by the nuances of heresy, but on its further development the influence fades due to the efforts of Islamic preachers. The general motivation of the pilgrims is hoping the livelihood they can acquire, such as finding mates, sustenance, offspring, health and inner tranquility. Yet, some are visiting the tomb to appreciate the scholars or heroes or just for sightseeing. In the context of developing society, this tradition seems to be persisted as Sheikh Yusuf is regarded as having karomah, a guardian, scholars and a hero. His personality is considered to bring blessing to the pilgrims. Therefore, for most modern societies this tradition remains alive and serves as one alternative to find peace and cure severe diseases. Temuan tulisan ini menunjukkan bahwa ritual tradisi ziarah makam Syekh Yusuf di Kobbang dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Pada awalnya masih ditemukan ritual yang kental dengan nuansa bid’ah tapi pada perkembangan lebih lanjut nuansa bid’ahnya mulai terkikis berkat usaha para da’i Islam. Motivasi yang melatarbelakangi para peziarah pada umumnya agar hajat mereka dapat terpenuhi, seperti hajat mendapatkan jodoh, keturunan, rezeki, kesehatan dan ketenangan batin. Tetapi ada pula yang berziarah ke makam Syekh Yusuf karena motivasi menghargai ulama atau pahlawan atau sekedar berwisata. Dalam konteks masyarakat yang terus mengalami perkembangan, nampaknya tradisi ini tetap bertahan, karena Syekh Yusuf dianggap sebagai seorang yang memiliki karomah, seorang wali, ulama dan seorang pahlawan. Kepribadian yang dimiliki oleh Syekh Yusuf dianggap akan mendatangkan berkah bagi para peziarah. Karena itu, bagi sebagian masyarakat modern, tradisi ini tetap hidup dan dijadikan sebagai salah satu alternatif mencari ketenangan batin dan menyembuhkan penyakit yang tidak terjangkau oleh medis.
Co-Authors Abd Rizal Abd. Bashir Fatmal Abd. Rahim Yunus Abdulkahar Agri Arisa Ahmad M Sewang Aili Liila Alamshah, Anisah Amhardianti Amhardianti Amriadi, Amriadi Amrudin Amrudin Amrudin Amrudin Ana Fergina Anawagis, Fian Andi Alif Afwan Andi Alif Afwan Andriani, Hesti Asnawi Hidayatullah Astaman Astaman Ayu Nuraeni Sunggu Busrah, Zulfiqar Dahlan M Desi Yuniarti Enik Sartika Fatmal, Abd. Bashir Ferdhiyadi N Haerani Nur Hafsah Harisa, Rahmawati Hasaruddin Hasaruddin Hasaruddin Hutagaluh, Oskar Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ismail Hannanong Jurrahmah AB. Yasin Jusmiati Juwika Afrita Kadril, Kadril Kamariah Kamariah, Kamariah Kholifatun, Umi Nur M. Dahlan M. Dahlan M. Dahlan M M. Dahlan. M Maharani, Nur Afifa Makkelo, Ilham Daeng masniati masniati Mastanning, Mastanning Mauizatul Hasanah Melinea Putri, Ilma Mira, Sumirah Moh Mujibur Rohman Muh. Idris Muh. Idris Muh. Kaswin Muhammad Andi Syarifuddin Muhammad Arif Muhammad Idris Murniati . Musafir Pababbari Musdalifah Musdalifah Muslimah Muslimah Nana Aprilia Nuraeni Nuraeni Nurhayati Nurhijrah, Nurhijrah Nurlisa Nurlisa Nurul Fadilah, Nurul NURWAHIDAH NURWAHIDAH Paewai, Rusman Pathuddin, Hikmawati Permata, Srianti Rahman Rahman Rahman Rahman Rahmat Rahmat Rahmat Rahmat Rahmat Rahmatul Yushar Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Rahmi Damis Rasyid, Surayah Reynaldo Reynaldo Rizkayadi Ruslan Ruslan Sahabuddin, Wasilah Saidin Hamzah Saripah Saripah, Saripah Sera Yuliantini Sri Nilawati Sri Rezky Meiliana, Sri Rezky Meiliana st. hajar hajar Sumiati Tomadehe Sumirah Sumirah Sumirah Supratman Supratman, Supratman Suraya Rasyid Susmihara Syakur, Nur Aksan Syamhi Muawwan Djamal Syamsudduha Saleh Syarif, Aidil Akbar Syarifah Fauziah Tarhan, Raden Muhammad Teguh Murdianto Umar Sulaiman Wa Ode Zalmatin Wa Ode Zalmatin Wahyu Wahyuddin G, Wahyuddin Wahyuddin Gudang wasik Wasik Yunus, Abdul Rahim Yusawinur Barella Yusdiansyah, Yusdiansyah Zahrani, Gina