p-Index From 2021 - 2026
5.576
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Pretreatment dan Lama Waktu Ekstraksi terhadap Karakteristik Ekstrak Kulit Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C) Menggunakan Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) Bambang Susilo; Sumardi Hadi Sumarlan; Yusuf Wibisono; Novantia Pusputasari
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.913 KB)

Abstract

Kulit jeruk purut mengandung minyak atsiri yang dikenal sebagai minyak eteris (aetheric oil) yang banyak digunakan industri kimia parfum, menambah aroma jeruk pada minuman dan makanan, serta dibidang kesehatan digunakan sebagai antioksidan dan anti kanker. Minyak atsiri jeruk purut dapat diekstrak dengan menggunakan metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis perlakuan pendahuluan bahan yaitu kulit jeruk segar (tanpa pengeringan) dan kulit jeruk kering (dengan pengeringan), faktor kedua adalah lama waktu ekstraksi dengan menggunakan gelombang ultrasonik yang terdiri 3 level yaitu 10 menit, 20 menit, dan 30 menit. Pemilihan perlakuan terbaik menggunakan metode Multiple Atribut Zeleny. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pretreatment kulit jeruk purut sebelum ekstraksi dengan metode ultrasonik tidak berpengaruh nyata (sig>0.05) terhadap rendemen tetapi berpengaruh nyata (sig<0.05) terhadap pH, berat jenis, dan indeks bias. Sedangkan lama waktu ekstraksi berpengaruh nyata (sig<0.05) terhadap rendemen dan berat jenis tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap pH dan indeks bias (sig>0.05). Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan kulit jeruk purut segar dan lama waktu ekstraksi 20 menit dimana nilai rendemen sebesar 11.73037%, pH 4.027, berat jenis 0.84231gr/ml, indeks bias 1.355, kadar sitronellal 18.09%, kadar limonene 22.09%.
PENGARUH KONSENTRASI KARAGENAN DAN RASIO DAGING WORTEL: AIR TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA VEGETABLE LEATHER WORTEL (DAUCUS CAROTA L.) Yusuf Hendrawan; Muhamad Amar Nadhif; Yusuf Wibisono; Sandra Malin Sutan
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.176 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2019.007.02.6

Abstract

Vegetable Leather merupakan jenis makanan yang terbuat dari bahan dasar daging sayur yang dihancurkan menjadi bubur lalu dikeringkan baik dengan alat ataupun sinar matahari. Permasalahan utama dalam pembuatan vegetable leather adalah sifat plastisnya karena komposisi dari bahan-bahan yang digunakan. Dimana bahan yang cukup berpengaruh diantaranya adalah konsentrasi karagenan dan rasio daging buah: air dari bahan utama. Pada proses pembuatannya vegetable leather. Karagenan sendiri merupakan bahan hidrokoloid yang dapat membantu pembentukan gel sehingga dapat memperbaiki tekstur. Selain itu juga rasio perbandingan antara daging buah: air dimana dapat mempengaruhi sifat plastis dan fisikokimia  pada vegetable leather yang dibuat. Sehingga  tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi karagenan dan rasio wortel: air serta menemukan kombinasi terbaik dari kedua faktor tersebut. Hasil analisa statistik dengan ANOVA dua jalur menunjukan bahwa perbedaan proporsi wortel: air berpengaruh nyata terhadap parameter kuat tarik dan kadar abu. Lalu untuk parameter perbedaan penambahan konsentrasi karagenan berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, persen pemanjangan, dan kuat tarik. Kombinasi perlakuan terbaik dengan metode Multiple Attribute TOPSIS diperoleh dari kombinasi penambahan karagenan dengan konsentrasi 4.5% dan proporsi wortel: air 1:1 dengan nilai kadar air 11.7%, aktivitas air 0.654, kadar abu 2.84%, kuat tarik 2.2 N, dan persen pemanjangan 7.3%.Dari hasil perlakuan terbaik pada penelitian ini telah memenuhi Standar Nasional Indonesia manisan kering.
Karakteristik Fisik Briket dari Campuran Serbuk Teh dan Serbuk Kayu Trembesi (Samanea Saman) dengan Perekat Tepung Tapioka Raka Ariwidyanata; Yusuf Wibisono; Ary Mustofa Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2019.007.03.04

Abstract

Pengolahan limbah ampas teh menjadi bahan bakar alternatif berupa biobriket yaitu dengan membakar ampas teh kering secara dengan sedikit udara untuk dijadikan arang yang kemudian dicetak menjadi briket. Penggunan tepung tapioka sebagai perekat disebabkan sifatnya lebih tahan dalam penyimpanan, lebih mudah didistribusikan karena praktis, ringan, dan aman. Penelitian ini menggunakan metode Eksperimen dengan melalukan proses pengarangan dan pembriketan dengan menggunakan serbuk limbah teh dan serbuk gergaji kayu trembesi.  Peneliti memberikan komposisi campuran yang berbeda pada briket namun komposisi perekat dan tekanan sama. Parameter pengujian yang akan di ujikan yaitu kadar air, kadar abu, nilai kalor, laju pembakaran, kerapatan massa. Rata-rata terbaik parameter pengujian yaitu kadar air 5,67%, laju pembakaran 0,490 g/menit, kerapatan massa 0,72 g/cm3 , kadar abu 4,3%, nilai kalor 3845,733 kal/g.
Mekanisme Fouling pada Membran Mikrofiltrasi Mode Aliran Searah dan Silang Iqbal Shalahuddin; Yusuf Wibisono
Jurnal Rekayasa Proses Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.405 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.40458

Abstract

A B S T R A C TMicrofiltration is a low pressure driven membrane process of about 1 bar trans-membrane pressure which is used frequently for separating dissolved particles within 0.1 to 10 μm size. Microfiltration membranes are utilized in water and wastewater treatment processes either during pretreatment, treatment, or post-treatment steps. Moreover in bioprocessing, microfiltration is used in upstream process for substrate sterilization or in downstream process for microbial suspension separation. Fouling is one major concern of membrane filtration processes, including microfiltration. In this article, the fouling mechanism on microfiltration membrane is explained based on the blocking model refer to cake filtration due to the complexity of fouling phenomena. Fouling mechanism on dead-end and cross-flow modes microfiltration are explained, and basically distinguished into four different mechanisms, i.e. complete blocking, standard blocking, intermediate blocking and cake filtration. The proposed models are based on constant pressure operation on the uniform membrane pores, both for dead-end and cross-flow modes. Cross-flow mode, however, is restricted on the beginning of filtration until critical flux condition is reached.Keywords: bioprocess; blocking model; cake filtration; fouling; microfiltration; wastewater A B S T R A KMembran mikrofiltrasi merupakan salah satu teknologi membran yang menggunakan tekanan rendah sekitar 1 bar sebagai gaya pendorong dan digunakan untuk proses pemisahan partikel terlarut yang berukuran antara 0,1 hingga 10 μm. Membran mikrofiltrasi banyak digunakan baik dalam proses pra-pengolahan, pengolahan, maupun pasca-pengolahan air dan air limbah. Pada bioproses, mikrofitrasi juga digunakan pada proses hulu untuk sterilisasi substrat atau pada proses hilir untuk pemisahan suspensi mikrob. Masalah yang paling utama dalam proses filtrasi membran adalah fouling. Dalam artikel ini, mekanisme terjadinya fouling pada membran mikrofiltrasi dijelaskan dengan menggunakan model pemblokiran yang mengacu pada filtrasi deposit partikel (cake) untuk menguraikan kerumitan fenomena fouling dalam mikrofiltrasi. Pada tulisan ini dijelaskan lebih rinci mengenai mekanisme fouling baik pada mikrofiltrasi searah (dead-end) maupun aliran silang (cross-flow). Mekanisme fouling pada proses mikrofiltrasi bisa dimodelkan dengan empat model yaitu pemblokiran pori, penyempitan pori, pemblokiran pori bersamaan dengan endapan permukaan dan formasi endapan permukaan. Mekanisme tersebut berlaku pada kondisi operasional bertekanan tetap dan ukuran pori yang seragam, baik pada aliran searah ataupun silang. Hanya saja, model mekanisme pada aliran silang hanya berlaku pada kondisi awal filtrasi hingga tercapai kondisi fluks kritis.Kata kunci: air limbah; bioproses; filtrasi cake; fouling; mikrofiltrasi; model pemblokiran
PENGARUH PENGGUNAAN VACUUM COOLING TERHADAP PERUBAHAN MUTU MADU HUTAN RIAU Amanda Izzah Aulia; Anang Lastriyanto; Yusuf Wibisono; Ary Mustofa Ahmad
JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/jtp.v10i1.1528

Abstract

Pasteurisasi akan merusak kualitas madu seperti kadar gula pereduksi dan sifat fisik madu karena panas sensible yang tertahan dalam madu. Oleh karena itu, dilakukan pengujian pengaruh pendinginan pada madu setelah proses pasteurisasi dengan alat vacuum cooling. Pada industri pengolah madu yang telah menggunakan vacuum cooling, saat melakukan proses vakum, terdapat masalah yaitu madu tersedot ke selang vakum saat proses vakum terjadi, maka peneliti menggunakan volume sebagai perlakuan kedua. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh pendinginan vakum terhadap perubahan mutu madu hutan Riau. Kandungan madu yang diuji adalah gula pereduksi, kadar air, viskositas dan total padatan terlarut. Pengujian gula pereduksi menggunakan metode DNS, sedangkan pengujian fisik kadar air menggunakan Moisture Balance MOC-120H Shimadzu, pengujian viskositas menggunakan Viscometer NDJ-1S dan pengujian total padatan terlarut menggunakan Refractometer Brix 0% - 32% ATC. Pendinginan madu dengan vacuum cooling menyebabkan penurunan kadar air hingga rata rata 5,1% yang mana akan meningkatkan viskositas hingga rata rata 14,33 Poise dan total padatan hingga 4 %Brix. Gula pereduksi madu dengan perlakuan vacuum cooling mendapatkan hasil terbaik yaitu 48,49%. Dari hasil penelitian yang didapatkan, mendinginkan madu dengan alat pendingin vakum pasca proses pasteursisasi didapatkan hasil bahwa lebih baik menggunakan alat pendingin vakum dibandingkan dengan pendinginan konvensional pada kualitas madu hutan Riau.
Application of microwave assisted extraction in extracting Torbangun leaves (Coleus ambonicus, L.) and its effects on polyphenol and flavonoids content Yusuf Hendrawan; Niken Dieni Pramesi; Muchnuria Rachmawati; Bambang Susilo; Yusuf Wibisono; Shinta Rosalia Dewi; Ni&#039;matul Izza
Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.802 KB) | DOI: 10.21776/ub.afssaae.2018.001.02.2

Abstract

Torbangun leaves (Coleus ambonicus, L.) contain polyphenol compounds, flavonoids and antioxidant compounds that can be obtained by extraction methods. However, with the conventional extraction method it has the disadvantage of long extraction time and requires a lot of solvents. Therefore, this study discusses the use of microwave assisted extraction (MAE) method to extract the leaves of Torbangun. This study uses two treatment factors on MAE i.e. power variations (100, 180 and 300 Watts) and extraction time (1, 2 and 3 minutes). This study aims to analyze the effect of MAE on the content of polyphenol compounds and flavonoids in the extraction process of Torbangun leaf. The results showed that the highest total phenol (4196.59 mg GAE/g extract) was found in the treatment of 300 watt of power with extraction time of 3-minutes with IC50 value of 9.89 mg/ml. The highest total flavonoid value was 300 watt of power with 1-minute extraction time which was 4.54 mg QE/g DW.
Characterization of Pseudomonas fluorescens polyhydroxyalkanoate produced from molasses as a carbon source Yusuf Hendrawan; Dikianur Alvianto; Sumardi Hadi Sumarlan; Yusuf Wibisono
Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.afssaae.2020.003.01

Abstract

Polyhydroxyalkanoate (PHA) is a biopolymer produced by various types of bacteria under conditions of unbalanced growth. One of the bacteria generating PHA is Pseudomonas fluorescens with a carbon source in the form of molasses. This study aimed to determine the effect of molasses concentration and incubation period on biomass and PHA characteristics. This study utilised two factors, such as molasses concentration of 40, 60, 80 g/L, and incubation period for 3, 5, 7 days. The research result indicated the highest biomass yield was obtained from the treatment of 40 g/L molasses concentration and in 7-day incubation period, with dry cell weight values of 1,955 g/L, PHA weight of 0.756 g/L, dry cell yield of 2.036%, and PHA yield of 39.06%, respectively. The visual characteristics of PHA samples were indicated with brownish and granular state, while the melting point and functional groups were identical to pure polyhydroxybutyrate (PHB). The characteristics of the PHB structure obtained from Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) analysis, depicting: C = O esters, CH3, CH2, -C-O-, -C-O-C Polymers, and C-C. The melting point of PHA samples,using Differential Scanning Calorimetry (DSC) analysis, was 166.4 oC and an enthalpy of -13.885 J/g with 9.5% degree of crystallisation.  
Sintesis dan Karakterisasi Membran Selulosa Asetat dengan Penambahan Antibiofouling Alami Ekstrak Bawang Putih Dikianur Alvianto; Fara Aulia Agustin Nurhadi; Angky Wahyu Putranto; Bambang Dwi Argo; Mochammad Bagus Hermanto; Yusuf Wibisono
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 18, No 2 (2022): September
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.18.2.57199.193-204

Abstract

Teknologi membran merupakan teknologi yang dapat memisahkan dua fasa (permeat dan umpan). Kendala dalam teknologi membran yaitu bahan yang terkandung dalam umpan dan mengakibatkan terjadinya fouling (penutupan pori). Salah satu alternatif untuk mengurangi fouling yaitu menambahkan zat antibiofouling pada membran. Bahan yang dapat digunakan sebagai antibiofoulan alami adalah ekstrak bawang putih yang memiliki sifat antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan ekstrak bawang putih terhadap perbaikan karakteristik membran (ketebalan, kuat tarik, elastisitas), fluks air bersih, dan sifat antibiofouling pada bakteri Bacillus subtilis. Membran selulosa asetat dibuat dengan menggunakan metode inversi fasa dan pelarut dimetilformamida. Penambahan ekstrak bawang putih pada pembuatan membran selulosa asetat memiliki konsentrasi masing-masing sebesar 0,25% b/v (0,01 g), 0,5% b/v (0,02 g), 0,75% b/v (0,03 g), dan 0% b/v (kontrol) dengan ketebalan 0,3 mm. Hasil yang optimum diperoleh untuk membran dengan konsentrasi 0,5 % b/v yang menghasilkan pengujian kuat tarik sebesar 0,977 N/mm2 dan untuk membrane dengan konsentrasi 0,25% b/v yang memberikan elastistas pertambahan panjang sebesar 12,22%. Sifat antibakteri membran dengan penambahan ekstrak bawang putih ditunjukkan dengan berkurangnya penempelan bakteri Bacillus subtilis pada permukaan membran sebesar 41,5% – 87,7% area.Synthesis and Characterization of Cellulose Acetate Membrane with The Addition of Natural Antibiofouling Garlic Extract. Membrane technology is a technology that can separate two phases (permeate and feed). The main problem in membrane technology is the material contained in the feed, which causes fouling (pore closure). An alternative to reducing fouling is by adding anti-biofouling substances into the membrane. The material that can be used as a natural anti-biofoulant is garlic extract which has antibacterial properties. This study aimed to analyze the effect of adding garlic extract on the improvement of membrane characteristics (thickness, tensile strength, elasticity), clean water flux, and anti-biofouling properties of Bacillus subtilis bacteria. The cellulose acetate membrane was synthesized using dimethylformamide as solvent through the phase inversion method. The addition of garlic extract in the manufacture of cellulose acetate membranes had concentrations of 0.25% w/v (0.01 g), 0.5% w/v (0.02 g), 0.75% w/v (0.03 g), and 0% w/v (control) with a thickness of 0.3 mm. The optimum results were obtained for the membrane with a concentration of 0.5% w/v, which resulted in the tensile strength test of 0.977 N/mm2, and the membrane with a concentration of 0.25% w/v, which resulted in an elongation elasticity of 12.22%. The antibacterial properties of membranes with the addition of garlic extract were indicated by the adhesion reduction of Bacillus subtilis bacteria on the membrane surface by 41.5% – 87.7% area.
Sifat Fisik Kacang Tanah Pada Varietas Talam 1, Varietas Talam 2 Dan Varietas Takar 2 Isnaini Puspitasari; Sandra Sandra; Yusuf Wibisono
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.019 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v7i2.127

Abstract

The physical properties of agricultural products are very important for designing tools and machines for processing products. The quality of peanuts is determined by physical properties. The physical properties that determine the quality of peanuts are the air content and physical quality of seeds (whole seeds, wrinkled seeds, and damaged seeds). The physical properties of peanuts must be considered the size of peanuts (area and volume), true density, bulk density, porosity, angle of friction used for drying and storage. On Measuring the Physical Properties of Peanuts Various Types of Variations Each of which Has Different Values. In the measurement of the average large dimension value of the Talam 2 variety has a number of 14.48 ± 0.97, the average width value required by Takar 2 and Talam 1 varieties is 8.55 ± 0.57 and. Measure 2 has an arithmetic mean diameter value, geometric mean diameter, surface area, and overall volume as a whole - 9.9 ± 0.56, 9.62 ± 0.36, 291.05 ± 22.07, 468 , 03 ± 52.59. This happens because the Takar 2 variety peanut has a larger seed shape and more containing seeds. Glass is a friction surface that has the highest coefficient of static friction.
EKSTRAKSI SENYAWA FENOLIK DARI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) UNTUK AGEN ANTI-BIOFOULING PADA MEMBRAN Yusuf Wibisono; Ni'matul Izza; Dian Savitri; Shinta Rosalia Dewi; Angky Wahyu Putranto
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.533 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v8i1.165

Abstract

Bawang putih mengandung beberapa zat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, salah satunya yaitu senyawa fenol. Senyawa fenol pada bawang putih memiliki peranan penting sebagai zat antibakteri yang dapat diproses selanjutnya sebagai agen antibiofouling membran. Metode ekstraksi yang tepat seperti kombinasi Microwave-Assisted Extraction (MAE) dan maserasi digunakan untuk mendapatkan senyawa fenol pada bawang putih. Namun demikian variasi rasio bahan dan pelarut serta lama waktu ekstraksi yang sesuai perlu diperhatikan dengan menggunakan kombinasi metode tersebut. Oleh karena itu tujuan penelitian ini yaitu mendapatkan ekstrak fenol dari bawang putih dengan variasi perlakuan rasio bahan dan pelarut serta lama waktu ekstraksi. Hasil ekstrak fenol kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut BNT. Selain itu penelitian ini juga melakukan karakterisasi hasil ekstrak fenol dengan FTIR untuk mengetahui gugus fungsi yang ada pada ektrak secara kualitatif dan PSA melakukan pengujian ukuran ekstrak fenol bawang putih. Berdasarkan hasil yang diperoleh, total fenol tertinggi sebesar 9,94±0,85 mg GAE/g berat kering dapat diperoleh dengan rasio pelarut 1:8 (b/v) dan waktu ekstraksi selama 2 menit. Berdasarkan analisis FTIR, ekstrak kering terdiri dari kelompok alkohol, sehingga dapat membuktikan secara kualitatif bahwa ekstrak tersebut memiliki senyawa fenol. Berdasarkan pengukuran dengan PSA, hasil ekstrak senyawa fenol bawang putih memiliki ukuran partikel sebesar 72,08±4,55 nm yang selanjutnya dapat digunakan sebagai agen pencegahan biofouling pada membran dengan tipe mixed matrix.
Co-Authors Addieny Sugesti Afif Nurul Hidayati, Afif Nurul Agung Sukoyo Agus Salim ahmad rizal Ahmad Rizal Ganiem, Ahmad Rizal Ahyuni, Putri Khumairotul Aih Cahyani Alfisya, Lailia Alvianto, Dikianur Amanda Izzah Aulia Anam Ong Anang Lastriyanto Andrianto Ansari Angky Wahyu Putranto Anshari, Muhammad Redha Ary Mustofa Ahmad Ashried Faradilla Astindari Astindari, Astindari Bambang Dwi Argo Bambang Susilo Basofi, Imam Bayu Dwi Apri Nugroho Berliana, Sobaryati Cep Juli Chusnul Arif Cita Rosita Sigit Prakoeswa Dian Savitri Dina Wahyu Indriani Dwi Murtiastutik Esti Hendradi Evy Ervianti Fara Aulia Agustin Nurhadi Faradilla, Ashried Farida Rahayu Fetri Setyo Liyundira Frilantika Kusuma Wardani Gunadharma, Suryani Gunomo Djoyowasito Handono, Setiyo Yuli Harahap, Nur Anisah Rizky Heru Susetyo Hidayat, Faqih Ibrahim Maina Idriss Imam Santoso Indah Mustika Sakti INDROPO AGUSNI Iqbal Shalahuddin Irawati, Maghfira Selia Irnia Nurika Isnaini Puspitasari Izza, Ni'matul Izza, Sylvia Ni’matul Khafizh Rosyidi, Khafizh La Choviya Hawa Lisda Amalia Maharsih, Inggit Kresna Manalu, Haposan Vincentius Mansur, Sobaryati Maylita Sari, Maylita Md Rezali, Khairil Anas Mifzal, Adib Maula Mochamad Bagus Hermanto Muchnuria Rachmawati Mudhofar, Muhammad Mufidah, Elya Muhafidzah, Novi Fatni Muhamad Amar Nadhif Muhammad Roil Bilad Muhammad, Defghi Arsy Muslimin Muslimin Nafi'ah, Riris Waladatun NANI HANIFAH Niken Dieni Pramesi Novantia Pusputasari Noviansyah Rizal Nugraha Hermawan, Asep Nur Hidayat Nur Kholis Nurul Fadillah Nurwindi, Linda Luvi Panggulu Ahmad Ramadhani Utoro Panggulu Ahmad Utoro Pepy Dwi Endraswari, Pepy Dwi Pranggono, Emmy Hermiyanti Pratama, Andhika Putra Agus Rahmadewi Rahmadewi Raka Ariwidyanata Ramdan Panigoro Raysha Anjani Laemang Riski Apriady, Adhitya Rohma, Novita Ainur Sabrina Sunyoto, Nimas Mayang Saifullah, Jefri Salsabila, Hanna Syakira Samsuranto, Samsuranto Sandra Sandra Sandra Sandra Sawitri Sawitri SEPTIANA SEPTIANA Septiani, Veria Shinta Rosalia Dewi Shinta Rosalia Dewi, Shinta Rosalia Sholihun, M. Siti Asmaniyah Mardiyani Siuliyanty, Siuliyanty Sobaryati, Sobaryati Sri Suhartini Sucipto Sucipto Sukoyo, Agung Sumardi Hadi Sumarlan Syahmidi Syahmidi, Syahmidi Tengku Riza Zarzani N Trislawati, Cristina Uni Gamayani, Uni Utoro, Panggulu Ahmad Veliska, Audrya Nasywa Vibi Rafianto Wahyunanto Agung Nugroho Wahyunanto Agung Nugroho Wardoyo, Chandra Calista Wilujeng, Rohmi Nadi Yusron Sugiarto Yusuf Hendrawan Zulfa Musyaffa, Amirah