p-Index From 2021 - 2026
9.169
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Asas: Jurnal Sastra Jurnal Mirai Management Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Pendekar : Jurnal Pendidikan Berkarakter Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Journal on Education Jurnal Tabarru': Islamic Banking and Finance Hasta Wiyata GERAM (GERAKAN AKTIF MENULIS) Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Imtiyaz : Jurnal Ilmu Keislaman Jurnal Pendidikan dan Konseling Best Journal (Biology Education, Sains and Technology) Asy-Syariah Jurnal Asy-Syukriyyah Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars Enrichment : Journal of Management Attractive : Innovative Education Journal Thufuli: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam Anak Usia Dini El-Iqtishady Jurnal Kewarganegaraan TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Al Mashaadir : Jurnal Ilmu Syariah Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Jurnal Simki Pedagogia An-Nisbah : Jurnal Perbankan Syariah Al-Iqtishod : Jurnal Ekonomi Syariah Arus Jurnal Pendidikan Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra KARANGAN Journal Aurelia: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Al-Khidmah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Al-Muqaranah : Jurnal Perbandingan Mazhab dan Hukum FIQHUL HADITS: Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Jurnalistrendi: Jurnal Linguistik, Sastra dan Pendidikan JURNAL PENDIDIKAN BAHASA Jurnal Asy-Syukriyyah Jurnal Mediasas : Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Al-Hikmah: Jurnal Ilmu Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Journey: Journal of English Language and Pedagogy Indonesian Journal of Law and Islamic Law (IJLIL) Qiyas : Jurnal Hukum Islam dan Peradilan
Claim Missing Document
Check
Articles

“I Get Blank When I Start Writing”: Analysis of EFL Student’s Anxiety In Writing Descriptive Text Puspitasari, Yuyun; Quthny, Abu Yazid Adnan; Hamdani, Beny
Journey: Journal of English Language and Pedagogy Vol. 7 No. 1 (2024): Journey: Journal of English Language and Pedagogy
Publisher : UIBU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/journey.v7i1.868

Abstract

In various educational worlds, of course, we learn foreign languages, one of which is English. English is challenging and can cause anxiety, one of which is in writing. English as a Foreign Language (EFL) learners often face many challenges when it comes to developing their writing skills. The recent research aims to discuss EFL students’ anxiety in writing descriptive text. This study used narrative inquiry. A narrative inquiry explore the experiences and feelings of an EFL students’ writing anxiety. The research participants are two students. These two students were taken from 1 Senior high school student and one was taken from Junior high school. Data collection uses semi-structured interview with 45 minutes. The interviews were held at a private Islamic boarding school in Probolinggo East Java. Data Analysis uses thematic Analysis. The results of this study reveal that students' writing anxiety level is still relatively high, therefore, teacher motivation and guidance to students must be increased so that students can deal with or evaluate writing anxiety experienced by students. Finally, in learning English as a second language (ESL), it is important for students to have adequate vocabulary knowledge so that they are not confused and anxious to write English texts.
Kedudukan Ahli Waris Pengganti dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Perdata di Indonesia Rahman, Babur; Quthny, Abu Yazid Adnan; Firdausiyah, Vita
QIYAS: JURNAL HUKUM ISLAM DAN PERADILAN Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/qys.v10i1.7742

Abstract

Abstract: This study discusses the position of substitute heirs from the perspective of Islamic law and civil law in Indonesia. In inheritance practices, situations often occur where direct heirs have died before the testator, so that problems arise regarding who inherits the inheritance. Islamic law recognizes the concept of hijab and the division of inheritance strictly based on lineage, but does not explicitly regulate substitute heirs. On the contrary, the Civil Code (KUHPerdata) and the Compilation of Islamic Law (KHI) provide space for grandchildren as substitute heirs, especially if their parents who should be heirs have died first. Through a normative-comparative approach, this study reveals that there are differences in principle between classical Islamic law and positive law in Indonesia regarding the existence of substitute heirs. KHI as a codification of Islamic law in Indonesia tries to accommodate the principle of social justice by adopting the concept of substitute heirs, although it is not entirely in accordance with classical fiqh. This study recommends the need for harmonization between Islamic legal norms and the provisions of national laws and regulations in order to ensure legal certainty and justice in the distribution of inheritance.Keywords: Substitute heir, Islamic law, civil law, KHI, inheritanceAbstrak: Penelitian ini membahas kedudukan ahli waris pengganti dalam perspektif hukum Islam dan hukum perdata di Indonesia. Dalam praktik pewarisan, sering kali terjadi situasi di mana ahli waris langsung telah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris, sehingga muncul permasalahan mengenai siapa yang mewarisi harta peninggalan. Hukum Islam mengenal konsep hijab dan pembagian warisan secara tegas berdasarkan garis nasab, namun tidak secara eksplisit mengatur ahli waris penggantinya. Sebaliknya, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberikan ruang bagi cucu sebagai ahli waris pengganti, terutama jika orang tua mereka yang seharusnya menjadi ahli waris telah meninggal dunia lebih dahulu. Melalui pendekatan normatif-komparatif, penelitian ini mengungkap bahwa terdapat perbedaan prinsip antara hukum Islam klasik dengan hukum positif di Indonesia terkait keberadaan ahli waris pengganti. KHI sebagai kodifikasi hukum Islam di Indonesia mencoba mengakomodasi prinsip keadilan sosial dengan mengadopsi konsep ahli waris pengganti, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan fiqh klasik. Kajian ini merekomendasikan perlunya harmonisasi antara norma-norma hukum Islam dan ketentuan peraturan perundang-undangan nasional guna menjamin kepastian hukum dan keadilan dalam pembagian warisan.Kata kunci: Ahli waris pengganti, hukum Islam, hukum perdata, KHI, pewarisan
Studi Hadits Tentang Perceraian Karena Bahaya Penyakit Menular Dalam Kasus HIV/AIDS Kottrunnada Sofia; Abu Yazid Adnan Quthny
FIQHUL HADITS : Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam Vol 3 No 2 (2025): FIQHUL HADITS: Jurnal Kajian Hadits dan Hukum Islam
Publisher : Mahad Aly PP Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the phenomenon of divorce caused by infectious diseases from the perspective of the Prophet’s hadith, with particular attention to cases of HIV/AIDS that continue to increase in society. This issue is significant because it concerns the safety of spouses within marriage and how Islamic teachings provide solutions when potential harm arises in marital relationships. The purpose of this study is to explore the normative foundations found in the Prophet’s hadiths that allow divorce under certain circumstances to prevent greater harm. This research employs a descriptive qualitative method using a library research approach. Data were collected through the examination of relevant literature, including classical and contemporary hadith compilations, fiqh books, and other scholarly works related to divorce and infectious diseases. The analysis focuses on hadiths related to the prevention of harm in marital life, such as the narration concerning the Prophet’s divorce from a woman of Bani Ghifar and the hadith “lā ḍarar wa lā ḍirār” (there should be neither harm nor reciprocating harm), which serves as an important principle in Islamic law. The findings indicate that the Prophet’s hadiths provide a normative basis for preventing harm within marriage. In certain situations, divorce can be considered a legitimate solution when a marital relationship poses a significant threat to the safety of one of the spouses. Thus, the teachings of the Prophet not only emphasize the importance of maintaining marital harmony but also offer guidance when the protection of life and welfare becomes a primary consideration.
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI TASAWUF AKHLAQI DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK SANTRI DI MADRASAH DINIYAH TAKLIMIYAH PESANTREN ZAINUL HASAN Hilya Abadina; Abu Yazid Adnan Quthny; Hawa’ Hidayatul Hikmiyah
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v9i1.4405

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan implementasi nilai-nilai tasawuf akhlaqi dalam pembentukan akhlak santri putri di Madrasah Diniyah Taklimiyah (MADITA) Pesantren Zainul Hasan Genggong. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai tasawuf akhlaqi—seperti ikhlas, sabar, tawadhu’, dan tanggung jawab—dilakukan melalui kegiatan intra-kurikuler (pembelajaran kitab Akhlaqu lil Banat dan Ta’lim al-Muta’allim), ko-kurikuler (hafalan dan setoran nadzom), serta diperkuat oleh kegiatan ekstra-kurikuler (pengajian kitab Taisirul Khollaq dan Ihya’ Ulumuddin). Seluruh proses ini mencerminkan tahapan dalam tasawuf: takhalli (pengosongan sifat tercela), tahalli (penghiasan diri dengan sifat mulia), dan tajalli (pancaran akhlak dalam perilaku nyata). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembinaan akhlak berbasis tasawuf akhlaqi di lingkungan madrasah diniyah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter santri secara menyeluruh. Kata Kunci: tasawuf akhlaqi, pembentukan akhlak, madrasah diniyah, pesantren
Between Welfare and Vulnerability: A Critique of Marriage Dispensation in the Probolinggo Religious Court Decree from the Perspective of Maqasid al-Shari'ah and Children's Rights Fatlala Nur Azizah; Abu Yazid Adnan Quthny; Nina Agus Hariati
Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syari'ah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah Vol. 9 No. 2 (2026): Jurnal Mediasas: Media Ilmu Syariah dan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Publisher : STAI Syekh Abdur Rauf Aceh Singkil, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/mediasas.v9i2.594

Abstract

The amendment of the Marriage Law through Law Number 16 of 2019, which raised the minimum marriageable age to 19 years, has created a legal paradox in Indonesia. Despite stricter regulations intended to prevent child marriage, requests for marriage dispensation in Religious Courts have significantly increased. This study analyzes the judicial reasoning behind these grants using a qualitative document study and a descriptive-normative approach, specifically focusing on the Probolinggo Religious Court Decree No. 210/Pdt.P/2025/Pa.Probolinggo. The findings indicate that judges often grant dispensations based on the Islamic legal maxim akhaff al-dararain (choosing the lesser of two evils) to prevent perceived social harms such as premarital intimacy or pregnancy. However, from the perspective of Maqasid al-Syari’ah and children’s rights, this study critiques the dominance of short-term welfare considerations over long-term vulnerabilities. The results suggest that current judicial practices often neglect the child's rights to education (hifz al-’aql), reproductive health (hifz al-nafs), and economic stability. The study concludes that a transformation in the judicial approach is necessary, moving from a formal-administrative "rubber stamp" process to an integrative model involving cross-sectoral collaboration with health and psychological experts to ensure the "best interest of the child." [Perubahan Undang-Undang Perkawinan melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang menaikkan batas usia minimum perkawinan menjadi 19 tahun telah melahirkan suatu paradoks hukum di Indonesia. Di tengah pengetatan regulasi yang bertujuan untuk mencegah perkawinan anak, permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama justru mengalami peningkatan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan permohonan dispensasi kawin dengan menggunakan metode studi dokumen kualitatif dan pendekatan deskriptif-normatif, dengan fokus pada Penetapan Pengadilan Agama Probolinggo Nomor 210/Pdt.P/2025/PA.Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim kerap mengabulkan dispensasi kawin dengan mendasarkan pertimbangannya pada kaidah fikih akhaff al-dararain (memilih mudarat yang lebih ringan) guna mencegah kemudaratan sosial yang dipersepsikan, seperti kedekatan hubungan antara laki-laki dan perempuan di luar perkawinan maupun kehamilan di luar nikah. Namun demikian, ditinjau dari perspektif Maqashid al-Syari’ah dan hak-hak anak, penelitian ini mengkritisi dominannya pertimbangan kemaslahatan jangka pendek dibandingkan dengan kerentanan jangka panjang yang berpotensi dialami oleh anak. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa praktik peradilan yang berlangsung saat ini sering kali mengabaikan hak anak atas pendidikan (hifz al-‘aql), kesehatan reproduksi (hifz al-nafs), dan stabilitas ekonomi di masa depan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan transformasi dalam pendekatan peradilan, dari sekadar proses formal-administratif yang bersifat rubber stamp menuju model yang lebih integratif melalui kolaborasi lintas sektor dengan tenaga kesehatan dan psikolog, guna menjamin terpenuhinya prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interest of the child).]
Co-Authors Abadina, Hilya Abd Hannan Abdul Komar Abdurrahman, Moh Achmad Zurohman Achmad Zurohman, Achmad Ahmad Fajri Ahmad Fajri Ahmad Muzakki Ahnaf, Fatih Holis Ahyar, Mohammad Ali Wafa Anis Yuli Arobi, Ibnul Astutik, Ika Asuroh, Lailatul Audini, Elma Auliya, Iroda Babul Bahrudin Badri, Diyaul Bahruddin Zaini Beny Hamdani Choerul Anwar Badruttamam Diyaul Badri Eko Waluyo Eko Waluyo Fajrul Falah, Moh. Fathullah Fatih Holis Ahnaf Fatlala Nur Azizah Fera Susanti Fika Maghfiroh Ghotsi, Muhammad Thoif Al Hawa' Hidayatul Hikmiyah Hawa’ Hidayatul Hikmiyah Hemas Haryas Harja Susetya Herliana Utari Hidayatul H, Hawa’ Hikam, Ahmad Ilzamul Hilya Abadina Hosnawiyah Ibnul Arobi Ika Astutik Ikfina Nurlaili Ima Hazimah Iskarimah Imam Bukhori Imam Muttaqin, Imam Imam Syafi'i Indah Siti Nor Hasanah Irzak Yuliardy Nugroho Iskarimah, Ima Hazimah Ivonne Hafidlatil Kiromi, Ivonne Hafidlatil Jafar Shodiq* Jamaluddin Jamaluddin Jamiliyah, Qomariyah Tahmilatal Jannah, Ambar Nourotil Khairul Umam Komar, Abdul Kottrunnada Sofia lestari, puput Linda Ruzyanti Loviga Denny Pratama Magfirotul Hamdiah Maqfiroh, Asfiyatul Maryani Maryani Masfiyatul Aziziyah Ma’arif, Mohamad Ahyar Muhammad Faisol Muhammad Sahal Munawwaroh, Madinatul Nadiroh Anggitasari Naqiyah, Nuril Kamilatin Nina Agus Hariati Nuntufa Nuntufa Nur Izah Fitriah Nurul Emeldhaya Ockta, Latifah Prasetyandari, Cici Widya Purwantoro, Farich Qomariyah Tahmilatal Jamiliyah Rahman, Babur Ramdan Wagianto Raudlatul Jannah Ririn Fatmawati Ririn Hidayati Riska Wulandari Rosita Nurul Qomariah Saifuddin Syuhri Shodiq*, Jafar Sigit Siswomiharjo Siti Aisyah Siti Maria Ulfa Siti Romlah Sitti Aisyah Syafi’i, Imam Syamsul Arifin Umam, Rosyidul Usliani Usliani Usliani, Usliani Utari, Herliana Vita Firdausiyah Wafa, Mohammad Ali Wahyu Lestari Yuyun Puspitasari Zainuddin Zainuddin Zakky Mubarok, Egga Zamanina, Kunti Zahra