Articles
R.G. Collingwood dalam Idealisme Historis
Daya Negri Wijaya
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (632.48 KB)
|
DOI: 10.17977/um020v9i12015p8-18
Abstrak. Robin George Collingwood adalah seorang filsuf dan sejarawan dari Inggris. Dia berupaya untuk memisahkan bagaimana memahami kejadian alam dan historis dengan baik. Dia berasumsi bahwa keduanya memiliki karakter yang berbeda. Proses pencariannya tersebut telah membawanya pada salah satu cara dalam mendekati sejarah. Dia melihat bahwa sejarah tidak akan dapat dipahami tanpa menggambarkan kembali pemikiran-pemikiran pelaku atau seorang tokoh sejarah dalam suatu narasi. Pemikirannya tersebut tentu saja bercorak idealisme historis sebagai hasil akumulasi kecenderungan filsafat di zamannya yang berusaha mengawinkan kritisisme Kant dan idealisme Hegel. Selain itu, pandangan Collingwood pada manusia dan sejarah juga akan disinggung serta re-enactment sebagai pendekatan sejarah akan menjadi porsi utama tulisan ini. Sebagai penutup, akan disajikan pula tujuan dari sejarah menurut Collingwood yakni meraih kebebasan. Kata-kata kunci: peristiwa, kritisisme Kant, idealisme Hegel, re-enactmentAbstract.Robin George Collingwood is the English philosopher and historian. He tries to separate on how to well understand natural phenomena and historical phenomena. He assumes that both of phenomena have the different character and in searching of the truth leading him to a method how to approach history. He thinks that history could not be understood without re-enacting the thinking of historical personage in a historiography. His thought is absolutely categorized as the historical idealism which is as a result of combination between Kant’s criticism and Hegel’s idealism. In addition, Collingwood’s view on man and history will be explained in this paper and the method of “re-enactment” will be the main concern of this paper. To sum up, it is also described that the main aim of history, based on Collingwood’sview, gains the liberty .Keywords: event, Kant’s criticism, Hegel’s idealism, re-enactment
MONTESQUIEU DAN MAKNA SEBUAH KEADILAN
Daya Negri Wijaya
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (41.502 KB)
People face many injustice practices at present. This will be a national concern. Justice which should be guaranteed by the standing law does not execute as common. Montesquieu concerns on the justice and law. Government should look at a law as an independent power from the executive power. Therefore, law should be fitted with the concrete situation of a nation and should not be following the authority’s will. Montesquieu with his justice spirit inspires the way of revolution. He makes an analogy of king and pope as the liars. They place people as a duping object. He is also claimed as one of philosophers in France. This paper will discuss the meaning of justice and its relation to the spirit of revolution. DOI : http://dx.doi.org/10.17977/um019v1i22016p079
Kontrak Sosial Menurut Thomas Hobbes dan John Locke
Daya Negri Wijaya
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (803.713 KB)
Thomas Hobbes dan John Locke adalah dua pemikir politik Inggris abad 17. Mereka menjadi saksi atas pergolakan politik Inggris mulai dari Revolusi Puritan 1648 dan Revolusi Kejayaan 1688. Banyaknya korban perang dan penindasan membuat mereka berupaya untuk mencari alternatif solusi. Mereka terlihat “berkoalisi” untuk mencapai tujuan yang sama tetapi dengan jalan yang berbeda. Hal ini terjadi karena mereka memiliki asumsi yang berbeda. Jika Hobbes merasa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya maka Locke melihat manusia seperti kertas putih tanpa noda. Keadaan perang menuntut Hobbes dan Locke mencari jalan keluarnya. Mereka terlihat sependapat untuk mengajukan kontrak sosial sebagai jalan perdamaian dimana negara akan menjamin keadilan dan kesejahteraan rakyat. Tulisan ini berupaya untuk membahas ide mereka dalam konteks sejarah pemikiran.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um021v1i22016p183
RUANG BARU KAJIAN KEWARGANEGARAAN
Daya Negri Wijaya
Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter Vol 4, No 2 (2020): WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter
Publisher : PUSAT MPK UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.waskita.2020.004.02.6
Pelatihan Penyusunan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Media Mindmaple Pada Materi Relief Candi Jago Bagi Guru MGMP Sejarah SMA Se-Kabupaten Malang
Ulfatun Nafi'ah;
Blasius Suprapta;
Daya Negri Wijaya;
Deny Yudho Wahyudi
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol. 1, No. 1, April 2018
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (220.141 KB)
|
DOI: 10.17977/um032v0i0p65-72
Pembelajaran karakter dalam pembelajaran sejarah menjadi hal yang sangat penting, kurangnya kesadaran sejarah pada peserta didik juga dipengaruhi oleh kreatifitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran berwawasan karakter. Tujuan dari pelatihan penyusunan media pembelajaran bagi guru MGMP sejarah SMA Se-Kabupaten Malang adalah untuk memberi ketrampilan kepada guru sejarah SMA agar dapat menyusun berbagai macam media pembelajaran berbasis nilai-nilai pendidikan karakter pada materi relief candi Jago. Metode yang digunakan yiatu ceramah, pendampingan dan proyek penyusunan media pembelajaran. Hasil pelatihan penyusunan media pembelajaran berbasis MindMalpe yaitu seluruh guru dapat menyusun media pembelajaran sejarah berbasis afektif. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan maka 95% mengatakan kegitan penyusunan media pembelajaran bermanfaat.
Toponimi desa-desa di Nusa Ambon: Kajian sejarah dan arkeologi
Daya Negri Wijaya;
Deny Yudo Wahyudi;
Siti Zainatul Umaroh;
Ninie Susanti;
Rendy Aditya Putra Ertrisia
Berkala Arkeologi Vol 41 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1532.483 KB)
|
DOI: 10.30883/jba.v41i1.600
Previously, several toponymy studies have already been conducted both in the Nusa (Island) Ambon as well as in the City of Ambon. However, previous studies have not used the historical-archaeological approach. The use of this approach could ease the researchers to reveal the cross-cultural meeting in a specific locus. Taking the Island of Ambon as a locus, the researchers aim to find the origin of village names and the cultural intersection in Leihitu and Leitimor Peninsula. There were three steps conducted to collect and analyse data using historical-archaeological approach. Firstly, the researchers identified and took a tabulation of the village names, mentioned by the Hikayat Tanah Hitu (The Epic of Hitu Land) and three ancient maps. Secondly, the researchers identified various archaeological remains located in the scattered villages. Finally, the researchers analysed the origin of village names by searching the word-meanings, finding the present locations, and describing the role of the contemporary cultures (Islamic and Colonial period) in the past. The researchers found 12 villages with 22 archaeological remains. All related communities have the archaeological remains which could explain the local dynamics, but there are merely ten villages which name meanings could be identified.
The Development of Painting in the Dutch East Indies in 1800-1936
Shela Dwi Utari;
Daya Negri Wijaya
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2023): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24127/hj.v11i2.7721
The development of art in the Dutch East Indies was very dynamic by what was the tendency of the school at that time. Before the influence of European culture entered the painting, Indonesian people had characteristics related to traditional painting. However, when the European genre of painting entered, it triggered the development of indies painting and indie mooi. Therefore, this article wants to examine the development of painting in the Dutch East Indies from 1800-1936. The method used is a literature study by reviewing journals, books, or historical sources that are contemporary or related to painting from 1800-1936. The results of this article found that before 1800, traditional painters used puppet media as a painting medium. Then the story's focus is the Heroic Stories, and the religious aspect takes precedence. However, when colonial penetration entered the painting, it was secular and more commercial according to market interests like mooi indie and indis. The Pita Maha in Bali is evidence of the acculturation of European and traditional painting to this day.
The 1629 Acehnese Invasion of Malacca: A Eurasian Perspective
Wijaya, Daya Negri
Paramita: Historical Studies Journal Vol 32, No 2 (2022): Social, Political, and Economic History
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/paramita.v32i2.36883
The rising tension in the Straits of Malacca in the first half of the 17th century forced the political entities to make an ally on one side and invade other states on the other side. Acehnese Sultanate succeeded in capturing all Malay states, except for Malacca. The desire to control the straits forced them to make an assault. Interestingly, the 1629 Acehnese siege of Malacca was perceived differently. The Acehnese chronicles seem to be quiet except for the Bustan Al-Salatin. However, the European sources are proud to explain the Portuguese victory over the greatest fleet in Asia. The available Eurasian sources should be exploited to cross-check the historical data and narrate more accurately. The siege started when the Acehnese were anchored and fortified. However, they succeeded in surrounding the fortress for a month, but the Luso-Malay joint forces could counter-attack and drive them out from Malacca. The Portuguese relief forces continued to patrol the straits after the Acehnese failure. Unfortunately, the death of Nuno Alvares Botelho in the tragedy of the Dutch ship’s explosion forced the Portuguese to bury their dream of securing the mercantile route of India and China from the Dutch threat. Meningkatnya tensi di Selat Melaka di pertengahan paruh pertama abad 17 telah mendorong entitas politik untuk membuat sekutu dalam satu sisi dan melakukan invasi pada negara lain pada sisi yang lain. Kesultanan Aceh berhasil mencaplok semua negara Melayu kecuali Melaka. Keinginan kuat untuk mengontrol selat memaksa mereka untuk melakukan serangan. Menariknya, penyerbuan Aceh di Melaka tahun 1629 dilihat secara berbeda. Hikayat-hikayat Aceh terlihat diam kecuali the Bustan Al-Salatin, tetapi sumber Eropa dengan bangga menjelaskan kemenangan Portugis atas armada terbesar yang pernah ada di Asia. Ketersediaan sumber-sumber Eropa dan Asia seharusnya dieksploitasi bukan hanya untuk proses verifikasi sumber data tetapi juga untuk menarasikan lebih akurat. Penyerbuan dimulai ketika Aceh mendarat dan membuat benteng. Walaupun mereka, berhasil mengepung benteng Melaka selama sebulan tetapi pasukan gabungan Luso-Melayu dapat memukul balik and menendang mereka keluar. Pasukan penyelamat Portugis terus melanjutkan tugasnya untuk melakukan patroli di selat setelah kegagalan Aceh. Sayangnya, kematian Nuno Alvares Botelho dalam tragedi meletusnya kapal Belanda memaksa orang-orang Portugis mengubur impiannya untuk mengamankan jalur perdagangan India dan China dari ancaman Belanda. Cite this article: Wijaya, D.N. (2022). The 1629 Acehnese Invasion of Malacca: A Eurasian Perspective. Paramita: Historical Studies Journal, 32(2), 221-229. http://dx.doi.org/10.15294/paramita.v32i2.36883
FILM DOKUMENTER “HULA-KETA†SEBAGAI MEDIA PENGUATAN KETAHANAN SOSIAL-BUDAYA DI KOTA TIDORE KEPULAUAN
Daya Negri Wijaya
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 29, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22146/jkn.87551
Tulisan ini berupaya membahas strategi pelestarian hula-keta (sagu panggang) di Tidore dengan menggunakan film dokumenter. Dengan menggunakan metode etnografi dan pendekatan kualitatif, penulis mengumpulkan berbagai data (tekstual dan audio-visual) dengan berbagai teknik meliputi wawancara dengan para informan kunci, observasi beberapa lokasi penting, dan dokumentasi (pengambilan gambar dan video) beberapa lokasi bersejarah. Kekayaan data memudahkan penulis untuk menyusun jalan cerita film dan menyajikannya dalam bentuk film dokumenter. Penulis secara kolaboratif menginisiasi pembuatan film dokumenter bertajuk “hula-keta: bukan Maluku tanpa Sagu†(2023). Film ini mengisahkan aspek kesejarahan, pengolahan, dan cara menikmati sagu panggang itu. Selain itu, berbagai isu terkait eksistensi dan upaya pewarisan hula-keta juga digambarkan. Film ini dapat dijadikan sebagai media penguatan ketahanan sosial-budaya di Tidore. Jejak rekam film ini tetap dapat dinikmati oleh generasi penerus. Mereka diharapkan dapat terinspirasi dan meneruskan estafet pewarisan kebudayaan di Tidore. Selain itu, penulis juga berharap bahwa film dokumenter dapat digunakan untuk memberikan berbagai pesan moral pada khalayak. Para pembuat film dokumenter atau jenis film lainnya jangan hanya tergiur pada keuntungan yang didapat dan jumlah penonton yang melihat. Sudah seharusnya mereka ikut berpartispasi dalam melestarikan kebudayaan daripada berfokus melakukan komodifikasi kebudayaan itu sendiri.