Claim Missing Document
Check
Articles

Pemanfaatan Etnobotani Tumbuhan Obat, Tumbuhan Pangan Dan Tumbuhan Pewarna Alami Oleh Masyarakat Di Sekitar Hutan Lindung Ilidobo (Studi Kasus Desa Umauta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur ) Pora Seko, Teodora Yuyun; Mau, Astin Elise; Sinaga, Pamona Silvia; Rammang, Nixon
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.17057

Abstract

Indonesia memiliki sumber daya tumbuhan yang melimpah dan dimanfaatkan oleh masyarakat, salah satu kelompok masyarakat yang memanfaatkan tumbuhan adalah masyarakat Desa Umauta untuk memenuhi kebutuhan hidup yang dilakukan secara tradisioanl berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang dimanfaatkan, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dan cara pengolahan serta penggunaan tumbuhan sebagai obat, bahan pangan dan pewarna alami. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik snowball sampling, observasi lapangan dengan melakukan analisis vegetasi menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Desa Umauta memanfaatkan 35 jenis tumbuhan dari 27 famili dengan bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah bagian daun sebesar 51%. Nilai indeks penting jenis tumbuhan yang paling tinggi yaitu Tarum (Indigofera tinctonia) sebesar 16,31% untuk tingkat semai, Pala (Myristica fragrans) sebesar 71,80% untuk tingkat pancang, Mahoni (Swietenia mahagoni) sebesar 116,17% untuk tingkat tiang dan sebesar 131,45% untuk tingkat pohon. Jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat terdapat 17 jenis tumbuhan dengan bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun 69% dan cara pengolahan dan penggunaanya yaitu direbus, dihancurkan, diminum, ditempelkan dan langsung dikonsumsi. Jenis tumbuhan sebagai bahan pangan terdapat 19 jenis tumbuhan dengan bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah buah 52% dan cara pengolahan dan penggunaanya yaitu langsung dimakan, direbus, dicampurkan, dimasak, dihaluskan dan digoreng. Jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pewarna alami terdapat 11 jenis dengan bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun 46% dan cara pengolahan dan penggunaanya yaitu ditumbuk, dicampurkan dan direbus.
PEMAMFAATAN LIMBAH BAKAU UNTUK PEMBUATAN AQUASCAPE SEBAGAI USAHA MIKRO DI DESA MATA AIR PESISIR SULAMANDA: UTILIZATION OF MANGROVE WASTE FOR AQUASCAPE MANUFACTURING AS A MICRO BUSINESS IN MAT AIR VILLAGE SULAMANDA COASTAL Saraswati , Suprabadevi Ayumayasari; Toruan, Lumban Nauli Lumban; Rammang, Nixon; Namas, Benediktus Julio Ta
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v3i1.1885

Abstract

Aquascape is one form of media that can be used for fish maintenance, especially ornamental fish for home scale. Aquascape itself is the identity of life that represents the original habitat of fish. Physically, the aquarium is only a place or container. Aquascape is the art of combining aquatic plants and ornamental fish in water media. However, the existing Aquscape products are generally large in size with expensive prices so that they can only be reached by large consumers such as hotels, restaurants, and offices. The use of mangrove waste is an alternative and also the use of natural materials that are environmentally friendly. Aquascape can meet the needs of the middle to lower market and accommodate the needs of office workers who do not have a large space or place to put an aquarium, so the mini Aquascape business becomes very promising. Some of the problems faced in presenting the natural atmosphere, starting from the fish that cannot survive to the dirty and mossy fish Aquascape quickly. By conducting training on making mini Aquascapes and fish rearing techniques, especially ornamental fish, it is hoped that it can provide information to coastal community fishermen to try to apply it to home micro scale. The method used is field observation, coupled with literature studies and socialization to fishermen on the Sulamanda coast.
Implementasi teknologi IoT dengan jaringan sensor nirkabel pada sistem irigasi tetes otomatis di lahan kering kepulauan Rantelobo, Kalvein; Olviana, Tomycho; Pell, Yeremias Maria; Laubase, Theodosius; Berubu, Hevenly Imanuel Araujo; Bernandus, Bernandus; Rammang, Nixon; Sampeallo, Agusthinus
KACANEGARA Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Agustus
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/kacanegara.v8i3.2741

Abstract

Kegiatan pengabdian ini berfokus pada implementasi teknologi Internet of Things (IoT) dan Jaringan Sensor Nirkabel (JSN) guna meningkatkan produktivitas serta efisiensi penggunaan sumber daya air pada sistem pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah ini menghadapi tantangan serius berupa keterbatasan ketersediaan air dan ketidakpastian iklim yang tinggi. Oleh karena itu, kegiatan ini menawarkan solusi inovatif berupa sistem pemantauan dan otomatisasi irigasi tetes berbasis sensor. Sensor IoT yang digunakan meliputi pengukur kelembapan tanah dan suhu, yang mampu memberikan data secara waktu nyata (real-time) untuk mendukung pengelolaan air secara tepat guna. Hasil awal dari implementasi teknologi ini menunjukkan adanya efisiensi penggunaan air yang signifikan, serta peningkatan hasil panen tanaman tomat. Pada lahan mitra, sistem ini mampu menghemat penggunaan air antara 25% hingga 30%, dengan peningkatan hasil panen dari 260 kilogram menjadi 300 kilogram. Artikel ini menguraikan metodologi implementasi teknologi, hasil yang diperoleh dari proyek, serta implikasi penggunaan IoT dalam mendukung pertanian berkelanjutan, khususnya di wilayah lahan kering kepulauan. Inovasi ini diharapkan menjadi model penerapan teknologi digital dalam bidang pertanian presisi di Indonesia.
Interaksi Masyarakat Desa Penyangga Kawasan Suaka Margasatwa Kateri (Studi Kasus Desa Kateri, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka) Lewai, Giuseppina Antonio Gratia Fernandez; Purrnama, Maria; Sinaga, Pamona Silvia; Rammang, Nixon
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.30816

Abstract

Interaksi masyarakat dengan hutan dan lingkungan di kawasan dan desa penyangga Suaka margasatwa Kateri berhubungan dengan sumber daya alam di kawasan konservasi yang mencakup aspek-aspek seperti penggunaan sumber daya alam, dampak lingkungan, serta peran budaya dan sosial masyarakat dalam keberlanjutan lingkungan di wilayah Suaka Margasatwa Kateri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses interaksi yang terjadi antara masyarakat desa penyangga dengan kawasan suaka margasatwa Kateri serta mengetahui pula faktor dan dampak yang terjadi di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode purpose sampling, observasi, wawancara serta kuesioner yang diberikan kepada 94 responden dengan analisis Deskriptif kulitatif. Hasil Proses interaksi antara masyarakat dan kawasan suaka margasatwa menunjukkan bahwa hubungan timbal balik antara keduanya sangat kompleks dan beragam. Masyarakat Desa Kateri memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan kawasan konservasi. Pengelolaan kawasan suaka margasatwa juga melibatkan masyarakat dalam kegiatan penyelamatan dan pelestarian kawasan. Faktor yang mempengaruhi interaksi masyarakat Desa Kateri dengan kawasan Suaka Margasatwa yaitu tingkat pendidikan, kepentingan mata pencaharian, tingkat kesadaran massyarakat dan aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang saling terkait. Interaksi antara masyarakat Desa Penyangga Kateri dengan Kawasan Suaka Margasatwa Kateri memiliki dampak positif dan negatif dalam konteks pelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.
Pengelolaan Hutan Berbasis Kearifan Lokal di Hutan Lindung Pong Dode, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur Maria Heldiana Jemian; Nixon Rammang; Pamona Silvia Sinaga; Lusia Sulo Marimpan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3650

Abstract

Forest management is not solely the responsibility of the government; it is also the duty of the community to preserve the forest while improving their own welfare. One of the principles in forest protection and management is the utilization of local community wisdom. Local wisdom is a key asset for communities in advancing themselves without disrupting the social balance that harmonizes with the surrounding natural environment. The application of local wisdom can be found in various regions, such as in forest areas located in East Manggarai Regency, South Lamba Leda Subdistrict. Local wisdom in Mano Village is used to protect and preserve the forest. The purpose of this study is to identify the forms of local wisdom possessed by the community in managing the Pong Dode Protected Forest and to understand the impact of the application of local wisdom in managing the Pong Dode Protected Forest. This research uses a qualitative method with data collection techniques through interviews, observation, and documentation. The results of this study show that there are two forms of local wisdom: prohibitions and invitations. Local wisdom has a positive impact on the preservation of the Pong Dode Protected Forest, as it instills a fear among the community of damaging the forest and its ecosystems.
Assessing Agroforestry Impact on Household Income: A Study of the Bu’u Bei Community Forest (HKm) in Tina Bani Village, Ende, Indonesia Tiga, Elfrida Kastila Ine; Marimpan, Lusia Sulo; Mau, Astin Elise; Rammang, Nixon
Jurnal Wasian Vol. 11 No. 2 (2024): December
Publisher : Forestry Department, University of Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62142/5jw1by08

Abstract

Agroforestry systems play a critical role in supporting livelihoods across East Nusa Tenggara, including in the Bu'u Bei Community Forest (HKm) in Tina Bani Village, Ende District, Ende Regency, Indonesia. This study investigates agroforestry patterns and evaluates their contribution to household income among the 47 HKm member households, surveyed through a census in April and May 2024. Employing both descriptive and quantitative analyses, our research reveals that the agrisilviculture system, characterised by a random mixed planting pattern, dominates agroforestry practices in the village. Path dependency, rooted in long-standing traditions, significantly shapes these practices. Agroforestry contributed significantly to household income in 2023, accounting for 98.87% of total income. However, poor infrastructure, particularly damaged roads, limits market access and reduces the economic potential of these systems. The study emphasises the need for integrated land management approaches that address infrastructure deficits while strengthening the resilience of agroforestry systems. This research provides critical insights into the socio-economic and environmental roles of agroforestry, offering a valuable reference for policymakers and stakeholders committed to promoting sustainable forest management and rural development in Indonesia.
Perbandingan Metode Pengawetan Asap Cair dan Perebusan Boraks Terhadap Kualitas 3 Jenis Bambu Sinaga, Pamona S.; Pelloundo’u, Mamie E.; Rammang, Nixon; Sipayung, Roni H.; Manehat, Marlince
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.10605

Abstract

Bambu merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai nilai manfaat yang besar namun masih mengalami permasalahan dengan umur bambu yang sangat pendek dibandingkan dengan kayu, karena keawetan bambu masih tergolong rendah. Pengawetan bambu yang dilakukan dengan beberapa metode seperti metode larutan asap-garam cair dan metode perebusan boraks tentunya mempunyai efek mutu yang berbeda-beda. Ada juga hubungan antara proses pelestarian bambu dan biaya energi dan lingkungan yang harus diperhitungkan sebagai bagian dari dampak lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengetahui pengaruh metode asap cair dan metode perebusan boraks terhadap mutu 3 jenis bambu yang diawetkan, 2) mengetahui dampak lingkungan dari pengaruh metode asap cair-larutan garam. pengawetan dan metode perebusan boraks. Tahapan penelitian dimulai dari penyiapan 3 jenis bambu (pembersihan dan pemotongan), penyiapan bahan pengawet bambu (larutan garam-asap cair dan boraks), pengujian mutu bambu awet (uji retensi) dan pengukuran nilai eco-cost. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan metode pengawetan asap cair dan larutan garam menghasilkan bambu awet yang memenuhi standar SNI 01-5010-1-1999 (BSN 2003) sebagai bahan konstruksi dengan jenis bambu Pering disusul Betung dan Betung Hitam
PEMAMFAATAN LIMBAH BAKAU UNTUK PEMBUATAN AQUASCAPE SEBAGAI USAHA MIKRO DI DESA MATA AIR PESISIR SULAMANDA: UTILIZATION OF MANGROVE WASTE FOR AQUASCAPE MANUFACTURING AS A MICRO BUSINESS IN MAT AIR VILLAGE SULAMANDA COASTAL Saraswati , Suprabadevi Ayumayasari; Toruan, Lumban Nauli Lumban; Rammang, Nixon; Namas, Benediktus Julio Ta
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v3i1.1885

Abstract

Aquascape is one form of media that can be used for fish maintenance, especially ornamental fish for home scale. Aquascape itself is the identity of life that represents the original habitat of fish. Physically, the aquarium is only a place or container. Aquascape is the art of combining aquatic plants and ornamental fish in water media. However, the existing Aquscape products are generally large in size with expensive prices so that they can only be reached by large consumers such as hotels, restaurants, and offices. The use of mangrove waste is an alternative and also the use of natural materials that are environmentally friendly. Aquascape can meet the needs of the middle to lower market and accommodate the needs of office workers who do not have a large space or place to put an aquarium, so the mini Aquascape business becomes very promising. Some of the problems faced in presenting the natural atmosphere, starting from the fish that cannot survive to the dirty and mossy fish Aquascape quickly. By conducting training on making mini Aquascapes and fish rearing techniques, especially ornamental fish, it is hoped that it can provide information to coastal community fishermen to try to apply it to home micro scale. The method used is field observation, coupled with literature studies and socialization to fishermen on the Sulamanda coast.
PENGOLAHAN SAMPAH DI TEMPAT IBADAH SEBAGAI MEDIA PROMOSI PENGOLAHAN SAMPAH DI SUMBER DI KOTA KUPANG Arsa, I Gusti Bagus Adwita; Nampa, I Wayan; Mau, Yosep Seran; Ndiwa, Antonius S.; Rammang, Nixon; Pramatana, Fadlan
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.39475

Abstract

Sampah masih menjadi salah satu isu utama lingkungan di Kota Kupang. Tata kelola sampah yang belum optimal pada akhirnya menjadi beban lingkungan, baik lingkugan fisik maupun sosial. Fokus penanganan yang dilakukan selama ini lebih banyak pada mobilisasi sampah pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Terlebih TPA yang digunakan masih menggunakan teknologi open dumping. Pengabdian ini dilakukan di salah satu tempat ibadah di kota Kupang. Tempat ibadah dipilih karena menjadi salah satu potensi penyumbang sampah yang cukup besar, baik sampah organik maupun anorganik. Pengolahan sampah di tingkat sumber (tempat ibadah) akan memberikan manfaat ekonomi dan juga menjadi model pengelolaan sampah yang baik, sehingga dapat menjadi acuan dalam pengelolaan sampah rumah tangga atau komunitas. Pengabdian dilaksanakan dengan metoda partisipatif kolaboratif, melalui pemetaan permasalahan, potensi sumber bahan baku (sampah), perencanaan site plan, pengadaan alat pencacah sampah pelatihan proses pembuatan kompos, pengemasan kompos dan pemasarannya. Hasil kegiatan menunjukan bahwa kegiatan PKM ini telah mampu meningkatkan efisiensi pengolahan dan upaya penganganan sampah. Unit pengolahan yang dibangun sudah mampu berproduksi secara berkelanjutan. Teknologi mesin pencacah mampu meningkatkan efisiensi kerja, yaitu hasil yang lebih halus dan waktu yang lebih efisien. Produktivitas pencacahan sampah basah mencapai 60 kg/jam dan sampah kering 34,8 kg/jam. Hasil kegiatan PKM ini juga mampu menyelesaikan pemasalahan yang dihadapi mitra, menghasilkan insentif ekonomi, dan menjadi media promosi penaganan sampah di tingkat sumber. Pelaksanaan kegiatan secara sharing cost (65% mitra 35% PKM) memotivasi mitra untuk menjalankan usaha secara berkelanjutan karena telah turut berinvestasi.
PENDUGAAN SIMPANAN BIOMASSA DAN KARBON JENIS AMPUPU (Eucalyptus urophylla) PADA KAWASAN HUTAN TAMAN WISATA ALAM RUTENG DI RESORT KONSERVASI WILAYAH I GOLO LUSANG, KECAMATAN LANGKE REMBONG, KABUPATEN MANGGARAI, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Rammang, Nixon; Marimpan, Lusia Sulo; Aldi, Erefansius K.
Wana Lestari Vol 1 No 01 (2019): Vol. I no. 01 November 2019
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1903

Abstract

Forests can absorb CO2 in the atmosphere through photosynthesis. CO2 that accumulates in the atmosphere will cause the effects of Green House Gases that can cause global warming. Forests are a major carbon storage in global ecosystems so their role in the global carbon cycle is very important, both in the form of carbon storage or carbon flux. This study aims to estimate the biomass deposits and carbon of the Ampupu (Eucalyptus urophylla) forest in the Ruteng Nature Tourism Park, Resort I Golo Lusang. This study uses a systematic method by census. The amount of biomass and carbon reserves of each species of Ampupu (Eucalyptus urophylla) is calculated by the Allometric equality. The total biomass content in the study location was 9.82 Tons/Ha, the tree phase was 7.60 tons / ha, the pole phase was 1.86 Tons/Ha, the sapling phase was 0.36 Tons/Ha and seedlings were 0. Total carbon content in the study location of 3,03 Tons/Ha, the tree phase was 2.34 Tons/Ha, the pole phase was 0.58 Tons/Ha, the sapling phase was 0.11 Tons/Ha and the seedling phase was 0.
Co-Authors A'oetpah, Heni D Adar, Damianus Adi Yermia Tobe Agusthinus Sampeallo, Agusthinus Ahmada Yudi Surya Aldi, Erefansius K. Allung, Ekaristin Amir, Juniawan Ape Didex Nino Arifin Sanusi Arifin Sanusi Arsa, I Gusti Bagus Adwita Ascicin, Irene Astin Elise Mau Astin Elise Mau Aureliana Gale Ayu, Priskila Aziz, Ineng Utami Intri Banoet, Salomo Y Bernandus, Bernandus Berubu, Hevenly Imanuel Araujo Besi, Aryanto Albert Cerlina, Marsela Da Suka, Quirinus Ruek Dangga, Maria Helmince deku, sarida oktavia Dhiu, Selvia Alfionita Due, Maria Emanuella Elma Intania Logo F. X. D. Ari Sasongko Fiqul El Khoir Goasyah, Ikujram Gustaf Ridolof Saudila Habamananga, Sukartino Haky, Christian Edwin Halena Meldy Asa Helena Sulistya Wati Huru, Dian Kana I G. B. Adwita Arsa I Nyoman W. Mahayasa, I Nyoman W. I W BUDIARSA SUYASA I Wayan Mudita Ine Tiga, Elfrida Kastila Jebaru, Florentina Joh, Arianto Kaho Hinga, Sion Christanto Kalvein Rantelobo Kemis, Eldo Carlito Kuma, Defryanus G. S. Lamen, Veronika Anna Laubase, Theodosius Leri, Theresia Luku Lea Lewai, Giuseppina Antonio Gratia Fernandez Lumban Nauli Lumban Toruan Lusia Sulo Marimpan M. Sudiana Mahendra Mahayasa, I Nyoman W Manehat, Marlince Maria Heldiana Jemian Maria Marleni Ema Purnama Maria Oktaviani Yohana Balut Marimpan, Lusia Mau, Astin Mau, Astin Elise Maubanu, Demris A. Meda, Fransiskus R Mesakh, Melan I Moressi Morison Airtur Namas, Benediktus Julio Ta Nampa, I Wayan Nay, Akwilin Ndiwa, Antonius S. Nenabu, Neti Ngongo, Diana Soli Laxina Norman Patrick Lucky Bire Riwu Kaho Norman Riwu Kaho Oki Hidayat Olviana, Tomycho Pamona Silvia SINAGA Pell, Yeremias Maria Pellondo'u, Mamie Elsyana Pellondo’u, Mamie Pelloundo’u, Mamie E. Pelondo'u, Mamie E Pelondo'u, Mamie E. Pelondo'u, Mamie M. E. Peters O Bako Pora Seko, Teodora Yuyun Pramatana, Fadlan Purnama, Maria Purnama, Maria M. E. Purrnama, Maria Rampung, Antonius Metris Risna, Kamelia S. M. Riwu Kaho, Ludji Michael Riwu Kaho, Norman P.L.B Riwu Kaho, Norman P.L.B. Roni Haposan Sipayung Sakan, Yollis C.S Saraswati , Suprabadevi Ayumayasari Selan, Christanty Wahyuni selan, corna juliustermarlin Selan, Maya Seran, Wihelmina seran, Wilhlmina Sinaga, Pamona S. Sipayung, Roni H. Sipayung, Roni Haposan Siu, Maria M. A. Soares, Hilda Audreya Consita Tabana, Ofliyani Tae, Margaretha Tiga, Elfrida Kastila Ine Turwewi, Margareth H. R. Uge, Maria Margaretha Un, Paulus Wea, Prudensia Wilhelmina Seran Wulan Chairunissa Anwar Yosep Seran Mau Yusratul Aini