Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARA DENGUE DI SEMARANG Erna Sari; Nur Endah Wahyuningsih; Retno Murwani
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 5, No 5 (2017): SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.265 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v5i5.19183

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) or dengue hemorrhagic fever (DHF) is an acute febrile illness accompanied by deep bleeding that has a tendency to cause shock or convulsions and can lead to death, generally affecting children younger than 15 but now the sufferer can come from an adult. Dengue transmission is influenced by environmental factors, both physical environment, chemical and biological. The physical environment directly affects the composition of vector species, mosquito breeding habitat, population, longevity and transmission. This study aims to find the relationship between the physical environmental factors of the house with the incidence of DHF. Using analytic observational research with case-control study design. The sample amounted to 80 consisting of 40 case samples and 40 control samples with a ratio of 1: 1. Data collection in this research using questionnaire and measurement tool that is thermohygro meter and lux meter. The results were analyzed using chi square test and odds ratio. The result showed no relationship between the presence of ventilated vents (p = 0.33) and air humidity with the occurrence of DHF (p = 0,692) and there was correlation between light intensity in house with the incidence of DBD (p = 0,001). The conclusion that can be taken is the environmental factor is very influential in supporting the mosquito breeding process, so if the environment around the house is not maintained and treated properly can increase the risk for dengue fever.
EFEKTIVITAS ARANG AKTIF BONGGOL JAGUNG DENGAN VARIASI MASSA DAN WAKTU KONTAK DALAM MENGURANGI KADAR TIMBAL (Pb) PADA LARUTAN PESTISIDA MENGANDUNG TIMBAL Khoirunnisa Dyah Kartikasari; Nur Endah Wahyuningsih; Nurjazuli Nurjazuli
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 6, No 6 (2018): NOVEMBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.968 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v6i6.22177

Abstract

Efforts to increase agricultural production with the aim that agricultural crops are not damaged by pests and diseases, one of them by using pesticides.. Approximately 99.9% of pesticides used enter and pollute the environment. Preliminary test results indicate that lead levels in agricultural waste exceed the specified quality standard. This research aims to determine the effectiveness of corncob activated charcoal with mass and contact time variation to reduce lead levels in pesticide solution. The type of research used is true experiment with the pretest-postest control-group design. The sample used is an artificial pesticide solution of Dithane M 45 80 WP which dissolved using aquadest. Analysis of the data used to test the hypothesis is by two way ANOVA test with a 95% confidence level. The results showed lead levels before treatment of 0.238 mg/l. After treatment using corn cobs activated charcoal with mass and contact time variation of lead content decreased, with the highest decrease in variations in mass of 200 gram and contact time of 50 minutes with a percentage of 76,27%. The results of the two way ANOVA analysis p-value values in both variables are 0.134 in the mass variable and 0.401 in the contact time variable where the result is> 0.05 so that there is no difference in the decrease in lead (Pb) in lead pesticide solution.The conclusion of this study is that corn cobs activated charcoal can reduce lead levels in pesticide solutions with an average of 49,90%, but have not been able to reduce lead levels to the specified quality standards.   
Analisis Risiko Mikrobiologi Udara Dalam Ruang di Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang Pada Masa Pandemi Covid 19 Windy Cintya Dewi; Mursid Raharjo; Nur Endah Wahyuningsih
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.2.162-169

Abstract

Latar belakang: Perkembangan Covid-19 dengan persebarannya dari manusia ke manusia yang semakin meluas baik di dunia maupun Indonesia membuat Kementerian Kesehatan melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang (KKP Semarang) turut serta berupaya mendukung pencegahan makin meluasnya persebaran Covid 19. Upaya menimalisir penyebaran virus Covid 19 ini telah dilakukan, salah satu adalah dengan program vaksinasi. KKP Semarang merupakan salah satu pos pelayanan percepatan vaksinasi di Kementerian Kesehatan yang tentunya memiliki potensi bagi pegawainya untuk terpapar kuman udara karena bekerja dalam waktu yang cukup lama dalam ruangan yang menjadi tempat berkumpulnya para pengguna jasa yang melakukan pelayanan sehingga perlu dilakukan pengukuran besar risiko paparan kuman udara pada pegawai KKP Semarang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian obseravional, dengan melakukan pengamatan, wawancara kepada responden dan pengambilan sampel udara di KKP Semarang untuk menghitung angka kuman udara. Penentuan  responden dengan menggunakan metode simple random sampling yaitu berjumlah 96 orang dan jumlah sampel udara yang diambil sebanyak 58 sampel yang diambil di seluruh wilayah KKP Semarang, pengambilan sampel ini dilakukan pada ruangan yang berpotensi sebagai tempat aktifitas pegawai dan ruangan tempat pelayanan, baik yang berlokasi di Induk maupun Wilker yang berjumlah 8 wilker. Dilaksanakan di bulan September-Oktober 2021. Pengolahan dan analisa data menggunakan metode MRA (Microbial Risk Assessment) untuk menentukan besarnya risiko paparan yang diterima oleh pegawai KKP Semarang.Hasil: Tahapan dalam MRA meliputi tahapan identifikasi bahaya, analisis pajanan, analisis dosis respon dan karakterisasi risiko. Hasil dari pengukuran angka kuman yang telah dilakukan pada 58 sampel, dengan hasil sebagian besar sampel udara memiliki angka kuman udara di atas nilai standar sebesar 500 CFU/m3 per hari seperti yang telah ditetapkan American Conference of Govermental Industrial Hygienist (ACGIH) dan Permenkes No 1077 tahun 2011 yaitu < 700 CFU/m3. Rata-rata angka kuman udara tertinggi ada di Wilker Pelabuhan Tegal yaitu 1.831 CFU/m3 dengan dosis pajanan tertinggi di Wilker Bandara Adisoemarmo 52,08 CFU/kg/hari. Dan nilai HQ tertinggi di Wilker Pelabuhan Tegal yaitu sebesar 7,78 (HQ > 1).Simpulan: Hasil dari analisis MRA (Microbial Risk Assessment) dapat disimpulkan bahwa tingkat risiko paparan kuman udara di KKP Semarang tidak aman bagi pegawai sehingga perlu dilakukan pengendalian dari risiko paparan kuman udara ini terhadap pegawai melalui penerapan alur pelayanan yang sesuai serta pemakaian Alat Pelindung Diri bagi semua pegawai. ABSTRACT Title: Microbiological Risk Analysis of Indoor Air at the Port Health Office of Semarang during the Covid 19 PandemicBackground: The development of Covid-19 with its spread from human to human, which is increasingly widespread both in the world and in Indonesia, has made the Ministry of Health through the Semarang Port Health Office (KKP Semarang) take part in efforts to support the prevention of the wider spread of Covid 19. Efforts to minimize the spread of the Covid 19 virus have been carried out , one of which is the vaccination program. KKP Semarang is one of the vaccination acceleration service posts at the Ministry of Health which certainly has the potential for its employees to be exposed to airborne germs because they work for a long time in a room where service users gather for services, so it is necessary to measure the risk of exposure to airborne germs. to Semarang KKP employees.Method: This research is an observational study, by conducting observations, interviews with respondents and taking air samples at the KKP Semarang to calculate the number of airborne germs. Determination of respondents using the simple random sampling method, which is 96 people and the number of air samples taken is 58 samples taken throughout the KKP Semarang area, this sampling is carried out in a room that has the potential as a place for employee activities and rooms where services are located, both located in Parent and Wilker, totaling 8 wilker. Held in September-October 2021. Processing and analyzing data using the MRA (Microbial Risk Assessment) method to determine the amount of exposure risk received by Semarang KKP employees.Result: The stages in the MRA include the stages of hazard identification, exposure analysis, dose response analysis and risk characterization. The results of the measurement of germ numbers that have been carried out on 58 samples, with the result that most of the air samples have airborne germ numbers above the standard value of 500 CFU/m3per day as determined by the American Conference of Governmental Industrial Hygienist (ACGIH) and Minister of Health Regulation No. 1077 in 2011 which is < 700 CFU/m3.CFUThe highest average number of airborne germs is at Wilker Port of Tegal, which is 1,831 /m3 with the highest exposure dose at Wilker at Adisoemarmo Airport 52.08 CFU/kg/day. And the highest HQ value at Wilker Port of Tegal is 7.78 (HQ > 1).Conclusion: The results of the MRA (Microbial Risk Assessment) analysis can be concluded that the level of risk of exposure to airborne germs at the KKP Semarang is not safe for employees so it is necessary to control the risk of exposure to these airborne germs to employees through the application of appropriate service flows and the use of Personal Protective Equipment for all employees.
Literatur Review : Hubungan Antara Kualitas Udara Ruang Dengan Gangguan Kesehatan Pada Pekerja Windy Cintya Dewi; Mursid Raharjo; Nur Endah Wahyuningsih
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 8, No 1 (2021): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (JUNI)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v8i1.4815

Abstract

Udara merupakan komponen penting dalam kehidupan. Adanya peningkatan aktifitas manusia menyebabkan konsentrasi zat dalam udara meningkat. Gangguan kesehatan merupakan salah satu akibat yang ditimbulkan karena kualitas udara dalam ruang yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Kualitas udara tersebut harus meliputi kualitas fisik, kimia dan biologi. Perkantoran adalah salah satu tempat kerja dan tidak terlepas dari  bahaya lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan para karyawan di dalamnya. Penelitian ini merupakan literature review. Metode yang digunakan yaitu melakukan kajian terhadap penelitian yang masuk dalam kriteria untuk dilakukam review. Dari hasil pemilahan bahan terdapat tujuh artikel yang kemudian dibahas. Menurut National Intitute of Occupational Safety dan Health (NIOSH), penyebab timbulnya masalah kualitas udara dalam ruangan pada umumnya disebabkan oleh beberapa hal yaitu kurangnya ventilasi udara, adanya sumber kontaminan di dalam ruangan, kontaminan dari luar ruangan, mikroba, bahan material bangunan dan lain-lain. Gangguan kesehatan pada pekerja kaitanyya dengan kualitas udara dalam ruang dapat diakibatkan oleh beberapa factor diantaranya kondisi lingkungan dalam ruang (suhu ruangan, kelembaban dan aliran udara), konstruksi gedung dan perabot/furniture, proses dan alat –alat dalam gedung, ventilasi udara yang buruk dan status kesehatan pekerja serta factor psikososial/stress.Kata kunci : kualitas udara ruang, suhu, kelembaban, ventilasi, gangguan kesehatan.
Hubungan Jenis Minyak Goreng, Suhu, dan PH Terhadap Kadar Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Pedagang Penyetan Elsa Christiana Hutajulu; Nurjazuli Nurjazuli; Nur Endah Wahyuningsih
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 5 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.5.375-378

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Crude Palm Oil (CPO) adalah minyak sayur yang diproduksi oleh kelapa sawit yang ditemukan di Indonesia, kelapa sawit memiliki kualitas yang dapat ditentukan melalui kandungan digliserida dan tingkat asam lemak bebas. Tingkat FFA yang diizinkan oleh pemerintah adalah 0,3% menurut SNI 01-3741-2002, minyak goreng yang telah digunakan secara teratur dengan temperatur tinggi dapat menyebabkan minyak menjadi tidak sehat dan tidak cocok untuk dikonsumsi. Kecamatan Tembalang, kota Semarang merupakan salah satu dari sekian banyak daerah di wilayah Jawa Tengah, terdapat beberapa pedagang yang menjual penyetan, dan lokasinya berada di pinggir jalan, di Kecamatan Tembalang, Semarang. Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menganalisa kandungan asam lemak bebas pada minyak goreng.Metode: Sebuah studi deskriptif observasional dengan pendekatan lintas sectional. Sampel yang 42 sampel dari 3 kali sampling per penyetan kios dengan pengulangan dari 2 kali dengan total sampling. Variabel dalam studi ini adalah kadar asam lemak bebas sebagai variabel dependen dan suhu, pH, dan frekuensi penggorengan sebagai variabel independen. Analisis data dilakukan oleh tes Spearmen Rank.Hasil: Hasil uji laboratorium kadar asam lemak bebas dalam 7 sampel minyak goreng (16,7%) melebihi standar kualitas yang ditentukan. Hasil tes hubungan menunjukkan bahwa suhu (p-nilai = 0,006), pH (p-nilai = 0,038), penggorengan frekuensi (p-nilai = 1 berkaitan dengan tingkat asam lemak bebas dalam minyak goreng yang digunakan oleh pedagang penyeting sepanjang jalan Sirojudin dan BanjarsariSimpulan: Kesimpulan dari studi ini adalah tingkat kadar asam lemak bebas dalam minyak goreng berkaitan dengan suhu, pH, dan frekuensi menggoreng.Kata kunci: Asam lemak bebas, minyak nabati, warung makananABSTRACT Title: Relationship types of cooking oil, temperature, and Ph to the free fatty acid levels in cooking oil Penyetan tradersBackground:Crude Palm Oil (CPO) is a vegetable oil produced by oil palm found in Indonesia, palm oil has a quality that can be determined through the content of diglycerides and the levels of free fatty acids. The level of FFA allowed by the Government is 0.3% according to SNI 01-3741-2002, cooking oil that has been used regularly with high temperatures can cause oil to be unhealthy and not suitable for consumption. Tembalang Subdistrict, Semarang City is one of the many areas in the Central Java region, there are some traders who sell penyetan, and the location is on the roadside, in the Tembalang District of Semarang. The main objective of this study is to analyze the free fatty acid content on cooking oilMethod: An observational descriptive study with cross sectional approach. The samples were 42 samples from 3 times the sampling per penyetan stall with repetitions of 2 times with total sampling. The variables in this study are Free Fatty Acid Levels as the dependent variable and temperature, pH, and frying frequency as independent variables. Data analysis was performed by the Spearmen Rank test.Result: Laboratory test results of free fatty acid levels in 7 cooking oil samples (16.7%) exceeded the specified quality standard. The relationship test results show that temperature (p-value = 0.006), pH (p-value = 0.038), Frying Frequency (p-value = 1) relates to the level of free fatty acids in cooking oil used by penyeting traders along Jalan Sirojudin and BanjarsariConclusion: The conclusion of this study is the level of free fatty acids in cooking oil is related to temperature, pH, type of cooking oil, and the color of cooking oil.Keywords: Free fatty acid, edible oil, food stalls
Kemampuan Lysol dan Sodium Hipoklorit dalam Menurunkan Bakteri Pseudomonas aeruginosa dari Limbah Jarum Suntik di RS X Rosa Faradila; Nur Endah Wahyuningsih; Budiyono Budiyono
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.100-107

Abstract

Latar belakang: Masa simpan limbah B3 di RS X cenderung lebih dari 2 hari, proses penyimpanan tidak melalui pendinginan pada suhu 0oC dan seharusnya dilakukan desinfeksi. Limbah jarum suntik yang disimpan positif ditemukan bakteri Psedomonas aeruginosa. Lysol dan sodium hipoklorit merupakan desinfektan yang umum digunakan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penurunan jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa dari limbah jarum suntik sebelum dan sesudah desinfeksi menggunakan lysol dan sodium hipoklorit pada berbagai konsentrasi dan durasi kontak.Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi experiment. Limbah jarum suntik diambil dan dibilas dengan NaCl 0,85%. Suspensi bakteri dari bilasan limbah jarum suntik digunakan untuk menilai kemampuan lysol dan sodium hipoklorit dalam mengurangi populasi bakteri Pseudomonas aeruginosa setelah desinfeksi. Kepadatan populasi bakteri dihitung dengan menggunakan metode hitung cawan.Hasil: Persentase rata-rata efisiensi penurunan jumlah koloni bakteri pada lysol berkonsentrasi 1,5% dengan durasi kontak 1 menit, 5 menit dan 10 menit masing-masing yaitu 32,7%; 38,0% dan 64,1%. Laju daya bunuh lysol dengan konsentrasi 2,5% telah mencapai 100% sejak durasi kontak 1 menit. Pada sodium hipoklorit, laju daya bunuh mencapai 98,3%. Secara statistik tidak terdapat perbedaan rata-rata jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa antara sebelum desinfeksi, setelah desinfeksi selama 1 menit, 5 menit dan 10 menit dengan lysol 1,5% dan sodium hipoklorit 0,0025.Simpulan: Lysol dan sodium hipoklorit mampu menurunkan bakteri P. aeruginosa dari limbah jarum suntik dengan efektivitas masing-masing 73,5% dan 98,3%. Kata kunci: Pseudomonas aeruginosa, limbah jarum suntik, lysol, sodium hipoklorit ABSTRACT Title: Efficacy of Lysol and Sodium Hypochlorite Against Pseudomonas aeruginosa Bacteria in Needles Waste at X Hospital Background: Storage time of hazardous wastes at X Hospital tent to more than two days, and the process going without cooling at 00C because of it the wastes should be disinfected. Needle waste that storage was positively found Psedomonas aeruginosa bacteria. Lysol and sodium hypochlorite are disinfectants that commonly used at hospital. This study aims to analyze the decrease number of colonies Pseudomonas aeruginosa bacteria from needle waste before and after disinfection using lysol and sodium hypochlorite in various concentration and duration contact.Method: The type of this study is quasi experiment. Needles waste is taken and rinsed with sterile normal saline. The bacterial suspension used to assess microbiological activities of lysol and sodium hypochlorite in reducing the population of Pseudomonas aeruginosa after disinfection. Bacterial population density was calculated using total plate countResult: The average percentage of efficiency decreased number bacterial colonies in lysol concentration 1.5% with duration contact 1 minute, 5 minutes and 10 minutes respectively 32.7%; 38,0% and 64.1%. Killing rate lysol 2.5% has reached 100% since 1 minute duration contact. Sodium hypochlorite’s killing rate reached 98.3%. Statistically there was no difference in the average number of colonies Pseudomonas aeruginosa bacteria before disinfection, after disinfection for 1 minute, 5 minutes and 10 minutes with lysol 1.5% and sodium hypochlorite 0.0025%.Conclusion: Lysol and sodium hypochlorite were effectively against P. aeruginosa bacteria in needles waste with effectiveness 73.5% and 98.3% respectively. Keywords: Pseudomonas aeruginosa, needle waste, lysol, sodium hypochlorite
Kemampuan Hidrogen Peroksida dan Formaldehid dalam Menurunkan Bakteri Pseudomonas aeruginosa pada Limbah Jarum Suntik di RS X Kota Semarang Riza Dwi Utami; Nur Endah Wahyuningsih; Budiyono Budiyono
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 1 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.1.68-76

Abstract

Latar belakang:Pada limbah jarum suntik ditemukan jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa sebanyak 1,3x103 dan 2,1x103 CFU/ml. Desinfeksi dengan Hidrogen Peroksida dan Formaldehiddapat digunakanuntuk menurunkan mikroorganisme pathogen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas desinfektan Hidrogen Peroksida dan Formaldehid dengan variasi dosis dan lama waktu kontak terhadap penurunan jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa pada limbah jarum suntik.Metode:Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan rancangan non equivalent control group design. Analisis statistikmenggunakan uji Repeated ANOVA (α=5%).Hasil:Hasil penelitian pada sampel sebelum diberikan perlakuan pada desinfektan Hidrogen Peroksida dan formaldehid masing-masing adalah 2,2x103 dan 2,0x103 CFU/ml. Dosis Hidrogen Peroksida diberikan sebanyak 0,75% dan 1,5% (v/v). Dosis Formaldehid sebanyak 0,0185% dan 0,037%(v/v), masing-masing menggunakan variasi lama waktu kontak 1 menit, 5 menit, 10 menit dengan 4 kali pengulangan. Hidrogen Peroksida dapat menurunkan jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa dosis 1,5% (p=0,032), waktu kontak 10 menit (p=0,024). Sedangkan Formaldehid menurunkan jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosa dosis 0,037% (p=0,027), waktu kontak 10 menit (p=0,049).Simpulan:Hidrogen Peroksida dan Formaldehid mampu menurunkan jumlah koloni bakteri Pseudomonas aeruginosapada limbah jarum suntik meskipun belum semuanya hilang. Kata kunci: Hidrogen Peroksida, Formaldehid, Pseudomonas aeruginosa, Limbah jarum suntik ABSTRACT Title: The Ability of Hydrogen Peroxide and Formaldehyde in Reducing Pseudomonas aeruginosa Bacteria in Syringe Waste in X Hospital Semarang City Background:In needle syringe waste, the number of colonies of Pseudomonas aeruginosa was 1,3x103 and 2,1x103 CFU/ml. Disinfection with Hydrogen Peroxide and Formaldehyde can be used to reduce pathogenic microorganisms. The purpose of this study was to determine the effectiveness of Hydrogen Peroxide and Formaldehyde disinfectants with variations in dosage and contact time to decrease the number of colonies of Pseudomonas aeruginosa bacteria in needle syringe waste. Method:This type of research is quasi experimental with a non equivalent control group design. Statistical analysis using Repeated ANOVA test (α=5%). Result:The results of the study on the sample before being given treatment for disinfecting Hydrogen Peroxide and formaldehyde were 2,2x103 and 2,0x103 CFU/ml. The dose of Hydrogen Peroxide is given as much as 0.75% and 1.5% (v/v). Formaldehyde dosages are 0.0185% and 0.037% (v/v), each using a variation of the duration of contact time 1 minute, 5 minutes, 10 minutes with 4 repetitions. Hydrogen Peroxide can reduce the number of colonies of Pseudomonas aeruginosa bacteria by 1.5% (p=0.032), contact time 10 minutes (p=0.024). Whereas Formaldehyde reduced the number of colonies of Pseudomonas aeruginosa bacteria by a dose of 0.037% (p=0.027), contact time of 10 minutes (p=0.049). Conclusion:Hydrogen Peroxide and Formaldehyde can reduce the number of colonies of Pseudomonas aeruginosa bacteria in syringe waste even though not all of them are lost. Keywords: Hydrogen Peroxide, Formaldehyde, Pseudomonas aeruginosa, Syringe waste  
Analisis Efektivitas Insinerator terhadap Pengolahan Limbah Padat Medis Rumah Sakit Tipe A dan Tipe B di Jakarta Andika Rizki Khabibimuna; Nur Endah Wahyuningsih; Mursid Rahardjo
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.177-183

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan jumlah rumah sakit tidak diimbangi dengan peningkatan fasilitas pengolahan limbah yang dihasilkannya. Masalah pada pengolahan limbah menggunakan alat insinerator yaitu tidak sesuai dengan spesifikasi berdasarkan regulasi yang tidak memiliki izin pengelolaan limbah B3, belum semua abu sisa pembakaran limbah B3 menggunakan alat insinerator dikelola dengan benar, belum melakukan Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) pada abu sisa pembakaran, dan memperhatikan emisi udara insinerator agar tidak menimbulkan emisi udara.Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa dan mengetahui efektivitas kinerja insinerator terhadap pengolahan limbah padat medis rumah sakit tipe A dan tipe B di Jakarta. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari informan utama yaitu kepala bagian sanitasi dan operator insinerator, sedangkan informan triangulasi yaitu staf bagian sanitasi dan cleaning service.Hasil: Hasil penelitian menunjukan variabel input yaitu karakteristtik limbah sudah sesuai dengan pedoman sedangkan terdapat hambatan yang ditemukan pada tahapan proses pengoperasian yaitu bagian persiapan limbah medis, pengumpan limbah medis, dan operator insinerator. Sedangkan tahapan output terdapat hambatan pada efisiensi penghancuran dan penghilangan yang belum sesuai dengan baku mutu. Dengan adanya hambatan pada suhu pembakaran yang belum sesuai dapat mempengaruhi keefektivitasan insinerator.Kesimpulan : Pengolahan limbah padat medis dengan insinerator pada Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso dengan nilai akhir keefektivitasan insinerator yaitu 83,6% sedangkan Rumah Sakit TNI AL Dr. Mintohardjo dengan nilai akhir keefektivitasan insinerator yaitu 75,4%.Kata Kunci : Efektivitas, Pengolahan Limbah Padat Medis, Rumah Sakit, Insinerator ABSTRACT Title: Analysis of the effectiveness of incinerators on the treatment of Type A and Type B Hospital Medical Solid Waste in Jakarta Background: The increasing number of hospitals is not balanced by the increase in the waste processing facilities it produces. Problems in the treatment of waste using incinerator is not in accordance with the specifications based on regulations that do not have B3 waste management permits, not all remaining Ashes B3 waste combustion using incinerator tools managed with Correct, have not carried out the Characteristic Leaching Procedure (TCLP) Toxicity test on the remaining ash of combustion, and pay attention to the air emission incinerator in order not to cause air emissions. Method: The purpose of this research is to analyse and determine the effectiveness of incinerator performance towards the medical solid treatment of type A hospital and type B hospitals in Jakarta. This type of research is a qualitative descriptive observational research. The subject of this study was taken using purposive sampling technique consisting of main informant that is head of sanitation and incinerator operator, while the triangulation informant is the staff of sanitation and cleaning service. Results: The results of the study showed that the input variable of waste is in accordance with the guidelines while there are obstacles found in the stage of the operation process namely medical waste preparation, medical waste feeder, and operator Incinerators. While the stage of output there are barriers to the efficiency of destruction and removal that has not conform to quality standards. Due to barriers to unsuitable combustion temperatures can affect the effectiveness of incinerators.Conclusion: Treatment of solid medical waste with incinerator at hospital infectious Diseases Prof. Dr. Sulianti Saroso with the end value of the effectiveness of incinerator is 83.6% while TNI AL hospital Dr. Mintohardjo with final value Effectiveness of the incinerator is 75.4%.Keywords: Effectiveness, Medical Solid Waste Treatment, Hospital, Incinerator
Hubungan Kualitas Udara Dalam Ruang dengan Kejadian Sick Building Syndrome (SBS) pada Karyawan PT PLN (Persero) Unit Distribusi Jawa Tengah Dan DI Yogyakarta Chintya Paramitha Anisa Putri; Mursid Rahardjo; Nur Endah Wahyuningsih
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.219-225

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penggunaan Air Conditioner (AC) digunakan sebagai alternatif pengganti ventilasi alami bagi bangunan perkantoran yang jarang dibersihkan akan menjadi tempat bagi mikroorganisme untuk berkembang biak. Kondisi tersebut mengakibatkan kualitas udara dalam ruangan menurun dan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang disebut sebagai Sick Building Syndrome (SBS). Berdasarkan hasil observasi awal 40% karyawan mengalami gejala SBS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hubungan kualitas udara dalam ruang (suhu, kelembaban, kadar debu dan jumlah kuman) dengan kejadian SBS.Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 34 orang dengan menggunakan kuesioner dan pengukuran. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan PT PLN (Persero) Unit Distribusi Jawa Tengah Dan DI Yogyakarta yang mengalami gejala SBS sebanyak 44,1% (15 pegawai) dan yang tidak mengalami SBS sebanyak 55,9% (19 pegawai). Tidak terdapat hubungan antara suhu udara dengan kejadian SBS dengan p value 0,281. Tidak terdapat hubungan antara kelembaban udara dengan kejadian SBS dengan p value 0,437. Gejala yang paling banyak dirasakan adalah pegal-pegal, rasa kaku pada otot, batuk-batuk, dan hidung berair.Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara kualitas udara dalam ruangan dengan kejadian SBS pada karyawan PT PLN (Persero) Unit Distribusi Jawa Tengah Dan DI Yogyakarta. Kata kunci: sick building syndrome, kualitas udara dalam ruang ABSTRACTTitle: Relationship between Indoor Air Quality and Sick Building Syndrome (SBS) Incidence in Employees of PT PLN (Persero) in Central Java and Yogyakarta Special Region Distribution Unit  Backgorund: The use of Air Conditioner (AC) used as an alternative to natural ventilation for office buildings that are rarely cleaned will be a place for microorganisms to multiply. These conditions result in decreased indoor air quality and can cause various health problems known as Sick Building Syndrome (SBS). Based on initial observations, 40% of employees experience SBS symptoms. The purpose of this study is to describe and analyze the relationship between air quality in space (temperature, humidity, dust content and the number of germs) with the occurrence of SBS.Method: This research uses analytic observational research with cross sectional approach. The number of samples in this study were 34 people using questionnaires and measurements. Data analysis was performed using a chi-square statistical test.Results: The results showed that the employees of PT PLN (Persero) Distribution Unit of Central Java and DI Yogyakarta who experienced symptoms of SBS were 44.1% (15 employees) and those without SBS experienced 55.9% (19 employees). The most felt symptoms are aches, stiffness in muscles, coughing, and runny nose. There is no relationship between air temperature and the incidence of SBS with p value 0,281. There is no relationship between air humidity with the incidence of SBS with p value 0,437. The most felt symptoms are aches, stiffness in muscles, coughing, and runny nose. Conclusion: The conclusion of this study is that there is no relationship between indoor air quality with the occurrence of SBS on the employees of PT PLN (Persero) Distribution Unit of Central Java and DI Yogyakarta Keywords : sick building syndrome, indoor air quality
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN PERILAKU IBU DENGAN DIARE BALITA DI INDONESIA: META-ANALISIS Shabrina Riskya Madjid; Nur Endah Wahyuningsih; Nikie Astorina Yunita
Jurnal Kesmas (Kesehatan Masyarakat) Khatulistiwa Vol 9, No 4 (2022): JURNAL KESMAS (KESEHATAN MASYARAKAT) KHATULISTIWA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jkmk.v9i4.2911

Abstract

Secara global, diperkirakan sebanyak 88% penyakit diare disebabkan oleh sumber air bersih yang tidak layak, rendahnya kualitas sanitasi dasar rumah serta personal hygiene yang kurang. Transmisi agen infeksius diare terjadi secara fekal-oral melalui air bersih yang terkontaminasi. Penelitian meta analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan dengan kejadian diare pada balita di Indonesia. Hasil efek gabungan berupa Prevalence Ratio (PR) dihitung menggunakan fixed effect model atau random effect model dengan software Meta Analisis EpiYudin. Sebanyak 25 artikel dengan desain penelitian cross sectional dilanjutkan untuk meta analisis. Hasil meta analisis menunjukkan ada hubungan signifikan antara kualitas air bersih (p= 0,0001; PR 1,47 [95%CI: 1,07-2,02]), jenis sumber air bersih (p= 0,0001; PR= 1,53 [95%CI: 1,23-1,91]), ketersediaan jamban sehat (p= 0,0001; PR= 1,69 [95%CI: 1,35-2,10]), pembuangan sampah (p= 0,0001 PR= 2,03 [95%CI: 1,28-3,22]), kebiasaan Ibu mencuci tangan (p= 0,0001; PR= 1,81 [95%CI: 1,34-2,46]), dan pengolahan air minum (p= 0,0001; PR= 1,33 [95%CI: 1,03-1,71]) dengan diare pada balita. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa faktor lingkungan dan perilaku yang tidak baik meningkatkan risiko balita mengalami diare.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W AA Sudharmawan, AA Abdul Hadi Hanif, Abdul Achadi Nugraheni, Sri Achmad Ian Rudiyansyah Adiningsih, Amalia Afgrianti, Yuni Agus Iskandar Agustina Ratri Maharani Anak Agung Gede Sugianthara Andika Rizki Khabibimuna Anisfi Choirunnisa Anto Budiharjo Antono Suryoputro Arief Nugroho Arief Nugroho Aris Sulistiawan Astorina, Nikie Audini Fathia Rizki Ayun Sriatmi Bagoes Widjanarko Bambang Setiyobudi Banu Ardi Hidayat, Banu Bekti Kusuma Wijayanti Budiyono Budiyono Budiyono Budiyono Budiyono Budiyono Cahya Tri Purnami Chintya Paramitha Anisa Putri Choirunissa, Risza Christina Tri Restuti David Laksamana Caesar, David Laksamana Delfina Benga Devi Nurfayanti Deviandhoko Deviandhoko Dharminto Dharminto Dwi Sutiningsih Dyah Ayu Riani Edi Dharmana Edy Purwanto Elsa Christiana Hutajulu Elzha Af’idatul Himmah Endang Kusnawati Endang Kusumanti Erdi Komara Erna Sari Estri Irawati, Estri Evika Prilian P., Evika Febita Resatika, Febita Ferawati, Nour Baeti Hansen Hapsari Hapsari Hardiko Hardiko, Hardiko Harmendo Haryati Boimau, Curniasti Duhitantia Haryudi Okta Sofiyanto Hepi Prihati Hayu Laturohmi Ida Rofida Indira Casheila Anindityo Indriyanti Agustina Putri Irawati, Septiria Jayawarsa, A.A. Ketut Jeany Rahma Nafizar Juliana Purdianingrum Juvita Ayu Puspitaloka Khairunnisa, Shafira Mutia Khiki Purnawati Kasim Khoirunnisa Dyah Kartikasari Kintan Arifa Shafirin Kurniawan, Aldi Prastya Laila Kamilla Latifah, Endah Nur Lidya Alvira, Lidya Lina Nur Qolifah Linda Triana Linda Yanti Julian Noya Luluk Masruroh Mahalul Azam Makbul, Marina Mardhiyah, Lailatul Marina Makbul Martini Martini Martini Martini Mas Henny Dewi Sartika Mateus Sakundarno Adi, Mateus Sakundarno Maulidiyah Salim Mawaddah Salwa Mifbakhuddin Mifbakhuddin, Mifbakhuddin Muamilatul Mahmudah Mudiyono Mudiyono Muh Fauzi, Muh Muhammad Adib Mubarok Muhammad Fadli Ramadhansyah Muhammad Nur Muntoha Muntoha Mursid Rahardjo Mursid Rahardjo Mursid Raharjo Nabiha, Puteri Inandin Nadira Esthevyani Nafifah Rahmayanti Netti Juita, Netti Nikie Astorina Yunita Nikie Astorina Yunita Dewanti Nugroho, Aldo Arta Nur Latifah, Endah Nur Siyam Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurul Fitria Onny Setiani Onny Setiani Onny Setyani Praba Ginandjar Praba Ginandjar Prasetyo, Anastasya Ferronica Putri Prasti Widyorini Pratiwi, Jessyca Widya Pudjaningrum Pudjaningrum PURNAMA, LUBIS BAMBANG Pusaka, Semerdanta Puteri Inandin Nabiha Rahayuningtyas, Indah Rahmah Putri Sunarno Rahman, Muhammad Auliya Ramauli Agustina Sihit Ramlah, Muhammad Rudi Asyari Ratna Dian Kurniawati Raynaldi Raynaldi Resa Ana Dina Retno Murwani Rifka Fuazia Bilqis Rina Indah Dianawati Riza Dwi Utami Riza Nurul Husna Rosa Faradila Rudi, Muhammad Sari, Nethi Puspita Sekar Putranti Widantari Septiana Rahmawati Shabrina Riskya Madjid Soedjono Soedjono Sofia Sofia Sri Achadi Nugraheni Subekhi, Tatag Fajar Suhartono Suhartono Suhartono Suhartono Suhartono, Suhartono Sukamto Sukamto SULISTIYANI SULISTIYANI Sunarti Sus Setyabudi, Sus Sutopo Patria Jati Sutriyawan, Agung Syahidah, Kayla Hana Taufik Hidayat Tri Joko Tri Joko Tri Purnamic, Cahya Ufairoh, Azum Ummi Khairunnisa Wiarisa, Hesty Wiarisa, Hesty Widya Gian Argintha Windy Cintya Dewi Windy Cintya Dewi Yulhaimi Febriantoro, Yulhaimi Yulia Nur Hasanah Yundari, Yundari Yunisa Ratna R., Yunisa Yusniar Hanani Yusniar Hanani D. Yusniar Hanani Darundiati Yusniar Hanani Darundiati Yusniar Hanani Darundiati Yusuf Afif Zahra, Nabilah Zaskia, Pingkan Resa