Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search
Journal : Journal of Green Complex Engineering

Arsitektur sebagai Katalis Budaya: Desain Eco-Cultural untuk Pusat Warisan Bugis-Makassar Suaib, Muhammad; Syarif, Muhammad; Paddiyatu, Nurhikmah; Rohana; Yusri, Andi; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.201

Abstract

ABSTRAKKabupaten Gowa merupakan wilayah di Sulawesi Selatan yang kaya akan budaya Bugis-Makassar, namun belum memiliki fasilitas representatif untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal secara berkelanjutan. Studi ini merancang sebuah Pusat Kebudayaan dan Seni Lokal dengan pendekatan eco-cultural yang menggabungkan prinsip keberlanjutan lingkungan dengan pelestarian nilai budaya lokal. Metode yang digunakan meliputi observasi tapak, wawancara, studi literatur, serta analisis sosial dan ekologis sebagai dasar perancangan. Hasil desain menunjukkan integrasi lima prinsip eco-cultural—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, dan idealized concept of place—ke dalam bentuk arsitektur yang adaptif terhadap iklim tropis serta simbolik terhadap budaya Bugis-Makassar. Zona fungsional disusun secara fleksibel untuk menunjang aktivitas edukasi, pertunjukan, dan interaksi sosial, sementara bentuk bangunan terinspirasi dari topi Patonro dan kipas tradisional. Desain ini tidak hanya menghasilkan fasilitas budaya yang fungsional dan kontekstual, tetapi juga berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi ekologis. Dengan demikian, pusat kebudayaan ini berperan penting dalam mendukung kontinuitas budaya dan kesadaran lingkungan masyarakat Gowa, serta menjadi model arsitektur berkelanjutan berbasis lokal di Indonesia. ABSTRACTGowa Regency in South Sulawesi is rich in Bugis-Makassar cultural heritage but lacks a representative facility for the sustainable preservation and development of local culture. This study designs a Local Cultural and Arts Center using an eco-cultural approach that combines environmental sustainability principles with the preservation of local cultural values. The methods used include site observation, interviews, literature studies, and socio-ecological analysis as the foundation for design development. The design results demonstrate the integration of five eco-cultural principles—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, and idealized concept of place—into architectural forms that are adaptive to the tropical climate and symbolically reflective of Bugis-Makassar culture. Functional zones are organized flexibly to support educational, performance, and social interaction activities, while the building form is inspired by the traditional Patonro headgear and cultural fan motifs.This design not only provides a functional and contextually relevant cultural facility but also serves as an educational space and ecological reflection. Therefore, the cultural center plays a vital role in supporting cultural continuity and environmental awareness in the Gowa community and serves as a model for locally based sustainable architecture in Indonesia.      
Arsitektur Kolaboratif Biophilic untuk Generasi Z di Kota Tropis: Studi Kasus Kota Makassar Cinta Dwi Andayu; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.202

Abstract

ABSTRAKGenerasi Z menghadapi tantangan psikologis dan sosial yang signifikan di lingkungan perkotaan, khususnya yang berkaitan dengan tekanan kesehatan mental yang diperparah oleh saturasi digital dan keterbatasan interaksi sosial yang otentik. Sebagai respons terhadap kondisi ini, studi ini mengusulkan desain Gen-Z Collaboration Center di Kota Makassar, Indonesia, dengan menggunakan prinsip-prinsip arsitektur biophilic. Melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan analisis tapak, kajian pustaka, dan studi kasus komparatif untuk merumuskan desain yang menyatukan fungsionalitas spasial dengan elemen alam. Desain yang dihasilkan terdiri dari tiga zona inti—kesehatan mental, kreativitas, dan kewirausahaan—yang disusun dalam tata ruang radial dan terinspirasi secara simbolik dari tanda baca semicolon. Fitur utama meliputi pencahayaan alami, taman vertikal, fitur air, material organik, serta ruang fleksibel dan adaptif yang mendorong ketahanan emosional, koneksi sosial, dan kehidupan kota yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pola desain biophilic dari Terrapin Bright Green, pusat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang kolaboratif, tetapi juga sebagai ekosistem penyembuhan dalam konteks urban. Penelitian ini berkontribusi terhadap praktik desain perkotaan dengan menawarkan model arsitektur publik yang berpusat pada generasi muda, berkelanjutan, dan responsif secara psikologis di kota-kota tropis. ABSTRACTGeneration Z faces significant psychological and social challenges in urban environments, particularly related to mental health stressors exacerbated by digital saturation and limited authentic social interaction. In response, this study proposes the design of a Gen-Z Collaboration Center in Makassar, Indonesia, using biophilic architectural principles. Employing a qualitative descriptive methodology, the study integrates site analysis, literature review, and comparative case studies to formulate a design that merges spatial functionality with natural elements. The resulting design consists of three core zones—mental wellness, creativity, and entrepreneurship—structured through a radial layout and symbolically inspired by the semicolon. Key features include natural lighting, vertical gardens, water features, organic materials, and flexible, adaptive spaces that promote emotional resilience, social connection, and sustainable urban living. By applying Terrapin Bright Green's biophilic design patterns, the center serves not only as a collaborative environment but also as a healing urban ecosystem. This research contributes to urban design practices by offering a youth-centered, sustainable, and psychologically responsive public architecture model for tropical cities.
Integrasi Alam dalam Desain Pesisir: Pendekatan Biomimikri pada Oceanarium Hamid, Hamza; Amalia Amal, Citra; Abdullah, Ashari; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.203

Abstract

ABSTRAKStudi ini mengeksplorasi penerapan pendekatan biomimikri dalam desain arsitektur Oceanarium di Kota Makassar, sebuah kota pesisir dengan keanekaragaman hayati laut yang signifikan. Terletak pada pertemuan antara pariwisata, pendidikan, dan konservasi, Oceanarium ini bertujuan merespons degradasi ekologi dan minimnya fasilitas edukasi kelautan yang terintegrasi. Dengan mengambil inspirasi dari bentuk-bentuk alami seperti terumbu karang dan gelombang laut, desain ini menggabungkan geometris yang mengalir, material transparan, dan program spasial adaptif untuk mendorong integrasi lingkungan dan pengalaman imersif bagi pengguna. Secara metodologis, penelitian ini menggabungkan analisis tapak, kajian literatur, studi banding kasus internasional, dan sketsa konseptual untuk merumuskan strategi desain yang kontekstual. Bangunan dirancang dengan zona-zona fungsional seperti area publik, edukasi, rekreasi, dan konservasi, yang dihubungkan melalui sirkulasi pengunjung menyerupai arus laut. Prinsip biomimikri diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan termal, ventilasi alami, dan ketahanan lingkungan. Hasil menunjukkan bahwa biomimikri meningkatkan kinerja arsitektur baik secara estetika maupun fungsional. Pendekatan ini memfasilitasi praktik bangunan berkelanjutan, mendorong keterlibatan publik, dan selaras dengan konteks budaya serta ekologi lokal. Oceanarium ini tampil bukan hanya sebagai landmark arsitektur ikonik, tetapi juga sebagai laboratorium hidup untuk edukasi kelautan dan pelestarian lingkungan. ABSTRACTThis study explores the application of biomimicry in the architectural design of an Oceanarium in Makassar City, a coastal metropolis with significant marine biodiversity. Positioned at the intersection of tourism, education, and conservation, the Oceanarium aims to respond to ecological degradation and the lack of integrated marine educational facilities. Drawing inspiration from natural forms such as coral reefs and ocean waves, the design incorporates fluid geometries, transparent materials, and adaptive spatial programming to promote environmental integration and user immersion. Methodologically, the research integrates site analysis, literature review, comparative international case studies, and conceptual sketching to formulate a contextual design strategy. The building features multiple zones, including public, educational, recreational, and conservation areas, connected through a visitor circulation system that mimics ocean currents. Biomimetic principles are applied to enhance thermal comfort, natural ventilation, and environmental resilience. The results indicate that biomimicry enhances architectural performance both aesthetically and functionally. It facilitates sustainable building practices, fosters public engagement, and aligns with local cultural and ecological contexts. The Oceanarium emerges as not only an iconic architectural landmark but also a living laboratory for marine education and environmental stewardship.      
Integrasi Alam, Budaya, dan Ekonomi Kreatif: Studi Perancangan Creative Hub Biofilik di Wilayah Semi-Perkotaan Ayuda, Andi Rezky; Latif, Sahabuddin; Amal, Citra Amalia
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.204

Abstract

ABSTRAKCreative Hub yang dirancang dengan pendekatan arsitektur biofilik di Kabupaten Luwu menjawab kebutuhan mendesak akan ruang kolaboratif untuk mendukung ekonomi kreatif lokal. Proyek ini merespons kurangnya infrastruktur yang memadai untuk kegiatan edukasi, produksi, dan interaksi budaya, khususnya bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif. Lokasi yang dipilih secara strategis di Kota Belopa memungkinkan integrasi optimal dengan fungsi-fungsi perkotaan yang sudah ada. Metodologi desain menggabungkan analisis spasial, partisipasi komunitas, dan prinsip-prinsip biofilik, sehingga menghasilkan konsep yang menekankan pada pencahayaan alami, ventilasi, vegetasi, dan identitas budaya. Fasilitas utama mencakup ruang kerja bersama (co-working space), galeri seni, amfiteater, bengkel kreatif (workshop), dan taman edukasi, yang tersebar dalam zona-zona fungsional yang jelas. Massa bangunan mengadopsi bentuk organik yang mencerminkan topografi lokal serta mendukung praktik berkelanjutan seperti pemanenan air hujan dan atap hijau. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Creative Hub biofilik ini meningkatkan kesejahteraan pengguna, mendorong kreativitas, dan mempromosikan inklusi sosial. Ia tidak hanya menjadi wadah fisik bagi pengembangan seni dan kewirausahaan, tetapi juga menjadi landmark ekologis dan kultural yang memperkuat identitas kawasan Luwu. Rancangan ini menawarkan model yang dapat direplikasi dalam mengintegrasikan keberlanjutan, warisan budaya, dan keterlibatan komunitas dalam perencanaan infrastruktur kreatif. ABSTRACTThe Creative Hub designed using a biophilic architectural approach in Luwu Regency addresses the urgent need for collaborative spaces to support the local creative economy. The project responds to the lack of adequate infrastructure for education, production, and cultural interaction, especially for small businesses and creative communities. The selected site, strategically located in Belopa, allows optimal integration with existing urban functions. The design methodology integrates spatial analysis, community participation, and biophilic principles, resulting in a concept that emphasizes natural light, ventilation, greenery, and cultural identity. Key facilities include co-working spaces, art galleries, an amphitheater, workshops, and educational gardens, distributed across clearly defined functional zones. The massing adopts organic forms that reflect the region’s topography and support sustainable practices such as rainwater harvesting and green roofs. Results show that the biophilic Creative Hub enhances user well-being, fosters creativity, and promotes social inclusion. It serves not only as a physical platform for artistic and entrepreneurial development but also as an ecological and cultural landmark that strengthens the regional identity of Luwu. The design offers a replicable model for integrating sustainability, cultural heritage, and community engagement into creative infrastructure planning.      
Revitalisasi Mall GTC Makassar menjadi Kantor Sewa Adaptif dengan Pendekatan Smart Building Berbasis Iklim Tropis Bakri, Andi Afratul Jannah; Abdullah, Ashari; Syahruddin, Andi Syahriyunita; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i2.242

Abstract

ABSTRAK Penurunan fungsi pusat perbelanjaan konvensional di kota-kota besar, khususnya pasca pandemi, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perancangan ulang bangunan melalui pendekatan adaptive reuse. Studi ini menyajikan rancangan konseptual revitalisasi Graha Tata Cemerlang (GTC) Mall di Makassar menjadi bangunan kantor sewa dengan pendekatan arsitektur smart building. Metode yang digunakan bersifat kualitatif-deskriptif dengan tahapan analisis tapak, struktur eksisting, program ruang, studi preseden, dan integrasi teknologi bangunan cerdas. Hasil dari studi ini berupa desain arsitektur yang mencakup redesain tapak dengan zonasi baru, penataan ruang per lantai untuk kebutuhan kantor modern, transformasi fasad dengan sistem kinetik, serta penerapan teknologi IoT dan Building Automation System (BAS) guna meningkatkan efisiensi energi dan kenyamanan pengguna. Peningkatan aksesibilitas dan desain inklusif juga menjadi fokus dalam mendukung keberagaman pengguna. Karena perancangan ini belum direalisasikan secara fisik, efektivitas dan dampak aktualnya belum dapat diukur secara langsung. Meskipun demikian, studi ini memberikan kontribusi awal berupa konsep dan strategi desain yang dapat dijadikan acuan bagi proyek revitalisasi serupa di kota-kota berkembang lainnya di Indonesia. ABSTRACT The decline in the function of conventional shopping malls in major cities, particularly in the post-pandemic period, presents both challenges and opportunities for redesigning buildings through an adaptive reuse approach. This study presents a conceptual design for the revitalization of Graha Tata Cemerlang (GTC) Mall in Makassar into a rental office building using a smart building architectural approach. The methodology employed is qualitative-descriptive, involving stages such as site analysis, existing structural evaluation, space programming, precedent studies, and the integration of smart building technologies. The outcome of this study is an architectural design that includes a redesigned site plan with new zoning, floor-by-floor spatial layout tailored for modern office needs, façade transformation using a kinetic system, and the application of IoT and Building Automation System (BAS) technologies to enhance energy efficiency and user comfort. Accessibility improvement and inclusive design are also central to accommodating diverse user needs. Since this design has not yet been implemented physically, its effectiveness and actual impact cannot be measured at this stage. Nevertheless, the study offers an initial contribution in the form of design concepts and strategies that can serve as a reference for similar revitalization projects in other developing cities in Indonesia.
Integrasi Alam dan Spiritualitas: Desain Pesantren Inklusif Berbasis Biofilik untuk Santri: Studi Kasus di Kabupaten Wajo, Indonesia Juhari, Lutfiah Hafifah; Idrus, Irnawaty; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i2.243

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya permintaan terhadap pendidikan Islam, khususnya di kalangan santri putri di wilayah pedesaan, mendorong perlunya pendekatan desain yang inklusif dan berkelanjutan. Studi ini menyajikan rancangan arsitektur Pondok Pesantren Tahfidz khusus putri di Kabupaten Wajo dengan menggunakan pendekatan arsitektur biofilik. Desain ini mengintegrasikan elemen-elemen alami seperti cahaya, udara, vegetasi, dan air untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung secara emosional dan nyaman secara psikologis. Secara metodologis, proyek ini menerapkan analisis tapak arsitektural, pemrograman berbasis pengguna, serta prinsip-prinsip desain biofilik, termasuk 14 pola dari Terrapin Bright Green. Hasil perancangan membagi zona tapak menjadi area publik, semi-publik, dan privat guna mengoptimalkan sirkulasi, privasi, dan keamanan. Atap hijau, ventilasi silang, material alami, serta elemen air diterapkan untuk mendorong kesejahteraan spiritual dan kognitif. Sistem struktur dan utilitas dikembangkan menggunakan teknologi berkelanjutan seperti panel surya dan instalasi pengolahan air limbah (STP). Konfigurasi spasial ini mendukung aktivitas akademik maupun keagamaan, sekaligus menjaga nilai-nilai Islam terkait kesederhanaan dan kontemplasi. Model pesantren berbasis biofilik ini menunjukkan respons arsitektural yang efektif terhadap ketimpangan pendidikan berbasis gender serta mendorong kesadaran lingkungan di kalangan santri. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana arsitektur pendidikan Islam dengan menawarkan solusi desain yang dapat direplikasi dan disesuaikan untuk pengembangan pesantren masa depan. ABSTRACTThe increasing demand for Islamic education, particularly among female students in rural areas, calls for inclusive and sustainable design approaches. This study presents the architectural design of a Tahfidz Islamic Boarding School for female students in Wajo Regency using a biophilic approach. The design integrates natural elements such as light, air, vegetation, and water to create an emotionally supportive and psychologically comfortable learning environment. Methodologically, the project applies architectural site analysis, user-based programming, and biophilic design principles, including Terrapin Bright Green's 14 patterns. The resulting layout zones public, semi-public, and private areas to optimize circulation, privacy, and safety. Green roofs, cross ventilation, natural materials, and water features are embedded to foster spiritual and cognitive well-being. Structural and utility systems are developed using sustainable technologies such as solar panels and STP water treatment. The spatial configuration supports both academic and religious activities while preserving Islamic values of modesty and contemplation. This biophilic pesantren model demonstrates an effective architectural response to gender-based educational disparities and promotes environmental consciousness among students. It contributes to the discourse on Islamic educational architecture by offering a replicable and adaptable solution for future pesantren development.
Analisis Eksperimental Pengaruh Sabo Dam Tipe Beam terhadap Karakteristik Aliran Debris pada Variasi Kemiringan Saluran Yusuf, Musdalifah; Tongeng, Andi Bunga; Marupah, Marupah; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i2.244

Abstract

ABSTRAKAliran debris merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang berdampak besar terhadap infrastruktur, lingkungan, dan keselamatan masyarakat, khususnya di wilayah dengan topografi curam. Untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan, berbagai strategi mitigasi struktural telah dikembangkan, salah satunya adalah penggunaan sabo dam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sabo dam tipe beam terhadap karakteristik aliran debris dengan mempertimbangkan variasi kemiringan saluran, yakni 6°, 8°, dan 10°. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium menggunakan flume pada debit konstan, dengan fokus pengamatan pada tiga parameter utama: tinggi muka air, kecepatan aliran, dan bilangan Froude. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan sabo dam secara signifikan memengaruhi dinamika aliran, dengan peningkatan nilai Froude yang mengindikasikan pergeseran rezim aliran dari subkritis menjadi superkritis. Di sisi lain, sabo dam tipe beam terbukti efektif dalam menahan material debris seperti sedimen, batu besar (boulder), dan kayu, meskipun efektivitas retensi mengalami penurunan pada saluran dengan kemiringan lebih tinggi akibat meningkatnya gaya inersia dan kecepatan aliran. Temuan ini menunjukkan adanya korelasi langsung antara geometri saluran dan kinerja hidraulik sabo dam. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam desain struktur pengendali sedimen yang adaptif terhadap kondisi medan, serta dapat menjadi referensi teknis dalam pengembangan kebijakan mitigasi bencana berbasis infrastruktur di daerah rawan aliran debris. ABSTRACTDebris flow is a hydrometeorological disaster with significant impacts on infrastructure, the environment, and public safety, particularly in areas with steep topography. To mitigate the associated risks, various structural mitigation strategies have been developed, one of which is the use of sabo dams. This study aims to analyze the effect of beam-type sabo dams on debris flow characteristics by considering variations in channel slope, namely 6°, 8°, and 10°. The method employed is a laboratory experiment using a flume with constant discharge, focusing on three main parameters: water surface elevation, flow velocity, and Froude number. The results show that the installation of sabo dams significantly affects flow dynamics, with an increase in Froude numbers indicating a shift in flow regime from subcritical to supercritical conditions. On the other hand, beam-type sabo dams were proven effective in retaining debris materials such as sediment, large boulders, and woody debris, although retention efficiency decreased at higher slopes due to increased inertial forces and flow velocity. These findings demonstrate a direct correlation between channel geometry and the hydraulic performance of sabo dams. This research provides important contributions to the design of sediment control structures that are adaptive to field conditions and can serve as a technical reference in the development of infrastructure-based disaster mitigation policies in debris flow-prone areas.      
Efektivitas Deflektor Silinder Pori Bertulang dalam Mengurangi Kecepatan Aliran di Sekitar Pilar Jembatan Nurizkitha, Indira Zahrani; Karim, Nenny; Al Imran, Hamzah; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i2.245

Abstract

ABSTRAK Kecepatan aliran air di sekitar pilar jembatan memiliki peran penting dalam menyebabkan gerusan lokal (local scouring), yang berpotensi merusak stabilitas struktur. Studi ini bertujuan untuk menguji efektivitas deflektor bawah air berbentuk silinder pori bertulang dalam menurunkan kecepatan aliran, sehingga dapat mengurangi risiko gerusan pada fondasi jembatan. Penelitian dilakukan melalui pendekatan eksperimental di Laboratorium Hidraulika Universitas Muhammadiyah Makassar, menggunakan saluran terbuka dengan kondisi yang menyerupai aliran sungai alami. Dua skenario debit digunakan, yaitu Q1 dan Q2, dengan pengamatan kecepatan aliran dilakukan pada interval waktu 5, 10, dan 15 menit. Data diambil pada 15 titik pengamatan di sepanjang saluran, baik sebelum maupun sesudah pemasangan deflektor. Hasil menunjukkan bahwa deflektor mampu menurunkan kecepatan aliran secara signifikan. Pada debit Q1, kecepatan menurun dari rata-rata 0,618 m/dtk menjadi 0,39 m/dtk. Sementara pada Q2, terjadi penurunan dari 0,707 m/dtk menjadi 0,437 m/dtk. Selain itu, pola aliran berubah menjadi lebih stabil dan terkontrol, dengan berkurangnya formasi vorteks yang biasanya menyebabkan erosi. Temuan ini menunjukkan bahwa deflektor silinder pori bertulang efektif sebagai strategi mitigasi gerusan yang adaptif dan efisien. Penggunaan struktur ini diharapkan dapat diterapkan secara luas dalam perencanaan dan perlindungan infrastruktur jembatan di lingkungan sungai berkecepatan tinggi. ABSTRACT The velocity of water flow around bridge piers plays a critical role in causing local scour, which threatens structural stability. This study aims to examine the effectiveness of reinforced porous cylindrical underwater deflectors in reducing flow velocity and mitigating scour risk. An experimental approach was conducted at the Hydraulics Laboratory of Universitas Muhammadiyah Makassar using an open channel flume simulating natural river conditions. Two discharge scenarios (Q1 and Q2) were tested, with flow velocities observed at intervals of 5, 10, and 15 minutes. Data collection was carried out at 15 observation points along the channel, both before and after the installation of the deflector. The results show a significant reduction in flow velocity following the use of the deflector. Under Q1, the average velocity decreased from 0.618 m/s to 0.39 m/s, while under Q2, it dropped from 0.707 m/s to 0.437 m/s. Furthermore, the deflector contributed to more stable and controlled flow patterns, reducing vortex formation commonly associated with erosion. These findings demonstrate that reinforced porous cylinder deflectors are an effective, adaptive, and efficient strategy for local scour mitigation. The implementation of such structures offers promising potential in the planning and protection of bridge infrastructure located in high-velocity river environments.
Investigasi Eksperimental Pengendalian Gerusan Pilar Jembatan Menggunakan Deflektor Arus Bawah Air Berpori Baharuddin, Andri; Karim, Nenny; Ali, Muh. Yunus; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i2.246

Abstract

ABSTRAK Gerusan di sekitar pilar jembatan merupakan permasalahan hidraulik yang serius dan dapat mengancam stabilitas serta keselamatan struktur jembatan, khususnya pada sungai dengan variasi debit yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecepatan aliran dan debit terhadap gerusan lokal serta mengevaluasi efektivitas penggunaan underwater current deflector dalam mengurangi kedalaman gerusan. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium menggunakan saluran terbuka dengan model pilar jembatan berbentuk silinder pada dua variasi debit. Dua jenis deflektor berpori diuji, yaitu Silinder Pori Bertulang (SPB) dan Silinder Pori Tak Bertulang (SPTB). Kecepatan aliran diukur pada beberapa titik pengamatan, sedangkan kedalaman gerusan maksimum diukur setelah setiap pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan debit menyebabkan kenaikan kecepatan aliran dan kedalaman gerusan maksimum pada kondisi tanpa perlindungan. Pemasangan underwater current deflector terbukti mampu menurunkan kecepatan aliran lokal di dekat dasar saluran dan secara signifikan mengurangi kedalaman gerusan di sekitar pilar. Dibandingkan dengan SPTB, SPB menunjukkan kinerja yang lebih baik, terutama pada debit tinggi, karena memiliki kestabilan struktural yang lebih tinggi dalam memodifikasi pola aliran. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi porositas dan tulangan merupakan faktor penting dalam efektivitas perangkat mitigasi gerusan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah dan praktis dalam perencanaan perlindungan pilar jembatan pada sungai yang rawan terhadap gerusan. ABSTRACT Scour around bridge piers is a critical hydraulic problem that can compromise the stability and safety of bridge structures, particularly in rivers with highly variable flow conditions. This study experimentally investigates the influence of flow velocity and discharge on local scour and evaluates the effectiveness of underwater current deflectors in reducing scour depth. Laboratory experiments were conducted in an open-channel flume using a cylindrical bridge pier model under two discharge conditions. Two types of porous deflectors were examined: a Reinforced Porous Cylinder (RPC) and a Non-Reinforced Porous Cylinder (NRPC). Flow velocity was measured at multiple observation points, while maximum scour depth was recorded after each test. The results indicate that increasing discharge leads to higher flow velocities and greater maximum scour depths under unprotected conditions. The installation of underwater current deflectors significantly reduced local flow velocities near the bed and decreased scour depth around the pier. Among the two models, the reinforced porous cylinder consistently demonstrated superior performance, particularly under higher discharge conditions, due to its enhanced structural stability and ability to maintain effective flow modification. These findings highlight the importance of combining porosity and structural reinforcement in scour mitigation devices. The study contributes experimental evidence to the understanding of porous, reinforced flow-control structures as effective countermeasures against bridge pier scour. The results may serve as a practical reference for designing safer and more resilient bridge foundations in rivers prone to severe scour.
Efektivitas Deflektor Silinder Pori Bertulang dalam Mengendalikan Aliran di Sekitar Pilar Jembatan Ali, Aksan; Karim, Nenny; Syamsuri, Andi Makbul; Latif, Sahabuddin
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i2.247

Abstract

ABSTRAK Gerusan lokal di sekitar pilar jembatan merupakan salah satu penyebab utama kegagalan struktur dalam sistem hidraulik akibat interaksi kompleks antara aliran turbulen dan elemen fondasi. Penelitian ini menyelidiki pengaruh pemasangan deflektor arus bawah air (Underwater Current Deflector/UCD) berbentuk silinder pori bertulang (SPB) terhadap karakteristik aliran di sekitar pilar jembatan. Eksperimen dilakukan di laboratorium menggunakan model fisik dalam saluran terbuka dengan kondisi debit yang dikendalikan. Kecepatan aliran dan kedalaman air diukur, serta bilangan Froude dan Reynolds dihitung sebelum dan sesudah pemasangan SPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deflektor secara signifikan menurunkan kecepatan aliran dan mengubah rezim aliran dari kondisi superkritis menjadi subkritis. Transisi ini mengindikasikan penurunan energi hidraulik dan turbulensi, sehingga meminimalkan potensi mobilisasi sedimen dan gerusan lokal. Analisis komparatif menegaskan efektivitas SPB dalam menstabilkan pola aliran dan menurunkan indikator energi aliran. Struktur berpori pada deflektor berperan sebagai peredam energi aliran, menjadikannya alternatif perlindungan hidraulik yang menjanjikan dibandingkan metode struktural konvensional. Meskipun temuan ini signifikan, studi ini juga mengakui keterbatasan model skala laboratorium dalam mereplikasi kondisi sungai alami secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian lanjutan melalui validasi lapangan dan simulasi numerik sangat dianjurkan. Studi ini memberikan dasar praktis bagi pengembangan deflektor hidraulik untuk perlindungan pilar jembatan. ABSTRACT Local scour around bridge piers is a major cause of structural failure in hydraulic systems due to complex interactions between turbulent flows and foundation elements. This study investigates the effect of installing an underwater current deflector (UCD) in the form of a reinforced pore cylinder (SPB) on flow characteristics around a bridge pier. A laboratory flume experiment was conducted using physical models at controlled discharge conditions. Flow velocity and water depth were measured, and Froude and Reynolds numbers were calculated before and after the installation of the SPB. The results show that the deflector significantly reduces flow velocity and shifts flow regimes from supercritical to subcritical conditions. This transition indicates a reduction in hydraulic energy and turbulence, thus minimizing the potential for sediment mobilization and local scour. Comparative analysis confirmed the effectiveness of the SPB in stabilizing flow patterns and reducing flow energy indicators. The porous structure of the deflector acts as a flow energy dissipator, making it a promising hydraulic protection alternative to traditional structural methods. While the findings are significant, the study acknowledges the limitations of laboratory-scale models in replicating real river conditions. Further research involving field validation and numerical simulations is recommended. This study provides a practical basis for the development of hydraulic deflectors for bridge pier protection.
Co-Authors A. Amin, Siti Fuadillah A. Syahriyunita Syahruddin A., Siti Fadillah A.Amin, Siti Fuadillah Abdullah, Ashari Ade Mawardi Syamsuddin Adriani Ahmad Ahmad Ahmad Syukur Ahmad, Andi Firman Ahmad, Asman Ahmad, Imelda Aisyah Ayu Andira Alkatiri Akbar, Muhammad Fauzan Al Imran, Hamzah Aldhy Renaldi Ali, Aksan Ali, Muh. Yunus Alif Bastian Alma Widiyanti Amal, Citra Amalia Amalia, Andi Annisa Amelia, Yuyun Amin, Siti Faudillah Alhumairah Andi Annisa Amalia Andi Sulfajri Andi Syahriyunita Andi Syahriyunita Syahruddin Andi Syahriyunita Syahruddin Andi Syahruyinita Andi Yusri Andi Yusri Andi Yusri andi Yusri Anti, Suriyanti Aris Sakkar Dollah Ashari Abdullah Ashari Abdullah Asriadi Asriadi Ayuda, Andi Rezky Baharsin, Syamsir Aman Baharuddin Hamzah Baharuddin Hamzah Baharuddin, Andri Bakri, Andi Afratul Jannah Bastian, Alif Cinnong, Ahmad A. Cinta Dwi Andayu Dollah, Aris Sakkar Fahmi, Ridwan Fahrul, Ahmad Fath, Raja Fauzan Hamdi, Fauzan Hamid, Hamza Hamzah Yunus Hasra, Mila Karmila Ibrahim Salam Idrus, Irnawaty Ihsan Ihsan Ihsan Ihsan Imam Rusydi Yulyadiputra Imelda Ahmad Irlan Nurasyid Irwandi Irwandi Ismail Ibrahim Juhari, Lutfiah Hafifah Julianto Widayat Kadir, Sania Ramadhani Karim, Nenny Khilda Wildana Nur Khilda Wildana Nur Lateko, Andi Halik Mansyur, Taufik Marupah, Marupah Muh. Arif Muh. Arif Muh. Ilmiansah Muh. Rizal Syahdan Muhammad Aldi Muhammad Aldi, Muhammad Muhammad Ardi Bennu Muhammad Artha Tiranda Muhammad Fikri Muhammad Ilham Muhammad Ilham Muhammad Sofyan Muhammad Sofyan Muhammad Syarif Muhammad Syarif, Muhammad Mursyid Mustafa Musa, Reski Vendi Mustafa, Mursyid Mutiah, Uryun Nabilah Arbia Nana Rohana, Nana Nini Apriani Rumata Nur Hikmah Paddiyatu Nur ‘Azah NUR, KHILDA WILDANA Nurhikma Paddiyatu Nurhikmah Paddiyatu Nurhikmah Paddiyatu Nurizkitha, Indira Zahrani Nurleha Syam Paddiyatu, Nurhikma Paddiyatu, Nurhikmah R. Rusli Rahmah, Berkah Fadhila Rahmat Sopianto Raja Fath Ramadhan, Afif Alfatwa Ramadhan, Moh. Faried Ramli Rahim Rasma Warni Rasmawarni Rasmawarni Rasmawarni, Rasmawarni Renaldi, Aldhy Reski Vendi Musa Ridwan Fahmi Rohana ROHANA ROHANA Rohana Rohana Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Rosady Mulyadi Rusli Rusli Salam, Ibrahim Salmiah Zainuddin Sari, Nirma Mawar Sembiring, Rinawati Siti Fadillah A. Sopianto, Rahmat Sri Wahyuni Suaib, Muhammad Sulfajri, Andi Sumarni Baking Supardi Jaya Tammeng Suriyanti Anti Syaharuddin, A. Syahriyunita Syahdan, Muh. Rizal Syahriyunita, Andi Syahruddin, A. Syahriyunita Syahruddin, Andi Syahriyunita Syahruyinita, Andi Syam, Nurleha Syamsuri, Andi Makbul Syukur, Ahmad Tajuddin, Hafizh Tammeng, Supardi Jaya taufik, opi Tiranda, Muhammad Artha Tongeng, Andi Bunga Warni, Rasma Welisfa, Sri Nindy Widiyanti, Alma Wiwi Herawati Wiwik Wahidah Osman Wiwik Wahidah Osman Yulyadiputra, Imam Rusydi Yunus, Hamzah Yusri, Andi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Yusriadi Yusuf, Musdalifah Zainuddin, Salmiah