Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENDAMPINGAN PEMBUATAN SABUN CAIR FILTRAT LIDAH BUAYA & DAUN MINT SEBAGAI SABUN ANTISEPTIK PENCEGAHAN COVID-19 PADA KADER & IBU PKK KELURAHAN DASAN CERMEN Lale Budi Kusumadewi; Ari Khusuma; Agrijanti Agrijanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol 5 No 1 (2021): Oktober
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jpm.v5i1.2046

Abstract

Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dan memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa, yang dapat berlanjut pada sakit parah dan radang paru (pneumonia), sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. Salah satu langkah perlindungan dasar individu dalam menghadapi COVID 19 adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Sabun merupakan pembersih yang terbuat dari minyak atau lemak dengan basa kuat. Pada pembuatan akhir sabun umumnya ditambahkan bahan pewarna, pewangi dan bahan alami untuk meningkatkan karakteristik sabun. Lidah buaya merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat untuk menjaga kesehatan kulit. Keistimewaan lidah buaya terletak pada gelnya yang mampu untuk meresap di dalam jaringan kulit, sehingga banyak menahan kehilangan cairan yang terlalu banyak dari dalam kulit. Penggunaan antibakteri dari bahan sintetik dapat mencegah terjadinya infeksi, namun tidak sedikit yang memberikan efek samping seperti iritasi. Untuk memecahkan masalah masyarakat terkait dengan persebaran dan pengendalian kasus persebaran COVID 19, maka pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan berupa pelatihan dan pendampingan pembuatan sabun cair filtrat lidah buaya dan daun mint sebagai sabun antiseptik untuk pencegahan COVID 19 pada kader dan remaja masjid di Lingkungan Dasan Cermen Asri, Kelurahan Dasan Cermen Kota Mataram. Hasil kegiatan ini berupa peningkatan pengetahuan dan ketrampilan mitra dalam membuat sabun dan memasarkan sabun hasil produksi secara online.
GOLD IMMUNOCHROMATOGRAPHIC ASSAY (GICA) SEBAGAI IMUNOSENSOR MENDETEKSI ANTIBODI Bacillus Anthracis PENYEBAB PENYAKIT ZOONOSIS Gunarti Gunarti; Yunan Jiwintarum; Awan Dramawan; Lale Budi Kusuma Dewi
Jurnal Kesehatan Prima Vol 9, No 1 (2015): Jurnal Kesehatan Prima
Publisher : poltekkes kemenkes mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.272 KB) | DOI: 10.32807/jkp.v9i1.64

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to identify patterns of protein antigens full / secretory antigens may be antigenic protein (PA) of Bacillus anthracis by the use of SDS-PAGE method (Laemmli) which can be used as bioreseptor on the test device fabrication method for detecting antibodies GICA of Bacillus anthracis , identify patterns of proteins that are antigenic protein (PA) or indicate the nature of the reactivity of Bacillus anthracis by using Western blotting and Determining the specificity and sensitivity of the test method to detect antibodies GICA Bacillus anthracis when using the results of the ELISA method as a reference. This study is a descriptive observational study. Research variable antigenic protein of Bacillus anthracis as bioreseptor and Antibodies from Bacillus anthracis as imunosenssor. The test prototype test device made using 20 sample with ELISA as a reference for calculating the sensitivity and specificity. The results of this study were identified band – band of 92 kDa, 68 kDa, 54 kDa, 43 kDa, 29 kDa and 18 kDa that can be used as bioreseptor on GICA, identified a pattern of proteins that are antigenic or indicate the nature of the reactivity of the Bacillus anthracis 68 kDa by Western blotting using the method, extract secretory antigen (SA) Bacillus anthracis can be used as a test device bioreseptor on GICA method for the detection of IgG antibodies against Bacillus anthracis and sensitivity and specificity of the test method to detect antibodies GICA Bacillus anthracis when using the results of the ELISA method as a reference each is 100% and 87.5%.
UJI KUALITATIF ALKOHOL URINE PEMINUM TUAK DALAM MENGETAHUI WAKTU SAMPLING YANG TEPAT I Made Suardika; Lale Budi Kusuma Dewi; Thomas Tandi Manu; I Wayan Getas; Ida Bagus Rai Wiadnya
Meditory : The Journal of Medical Laboratory Vol 11, No 1 (2023): Meditory, Volume 11 No. 1 Tahun 2023
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/meditory.v11i1.2421

Abstract

Background:Accidents and criminal acts can be caused by alcohol use. Alcohol use by a person can be known by analyzing a urine sample. In the analysis of urine samples it is necessary to take the right sampling time. In addition, another factor to consider when detecting alcohol in urine is the time of last consumption. Aims:This study was conducted to determine the appropriate urine sampling time for alcohol consumption. Methode:The method used in this urine alcohol qualitative test uses the modified 2.5% potassium bichromate method in 50% H2SO4. The sample consisted of 10 respondents who drank palm wine after 1 hour, 2 hours and 3 hours of consumption. The results:The qualitative test results of urine drinkers of palm wine drinkers after 1 hour, 2 hours and 3 hours of consuming. 10 respondents obtained the results of 4 positive urine samples 1 hour after consuming and 2 positive urine samples 3 hours after consuming palm wine, as well as sampling in the 2nd hour the test results were negative. Conclusion:The positive test results depended on the habit of consuming, the volume consumed, and the age of the wine drinker
Modifikasi Metode Kalium Bikromat Untuk Uji Kualitatif Alkohol Dalam Urine Ayu Nurislami Wulandari
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 6 No 2 (2023): The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v6i2.15456

Abstract

Alcohol is a psychoactive substance that can cause dependence. Alcohol as an intoxicant can affect various structures and processes in the central nervous system and increase the risk of intentional and unintentional injury. One of the direct risks due to alcohol consumption is an accident while driving a vehicle and accidents at work. Rate alcohol It is measured in various body fluids including urine. This study aims to determine the sensitivity of the modified potassium dichromate method for qualitative test of alcohol in urine without filter paper and water bath. This research is a laboratory experimental study, the data obtained were analyzed in a descriptive way, namely seeing the color change of the reaction between the alcohol sample in urine and the Potassium bichromate reagent to green or blue with a modified working method. Tested all showed positive results with the modified Potassium bichromate method. A color change from green to blue is read as a positive alcohol result. The conclusion of this study is that the modified Potassium bichromate method is effective for the qualitative alcohol test process and there is an increase in the sensitivity of the test.
PENGGUNAAN SONGGAK SUKU SASAK UNTUK MENURUNKAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS DI KELURAHAN DASAN CERMEN, KOTA MATARAM Kusuma Dewi, Lale Budi; Khusuma, Ari; Agrijanti, Agrijanti; Wulandari, Ayu Nurislami
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol 5, No 2 (2024): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v5i2.1502

Abstract

Data dari profil Puskesmas Babakan, tingkat obesitas penduduk, dari 3.824 yang diperiksa, ditemukan 1.053 orang (27%) diantaranya dinyatakan obesitas. Sebanyak 90-95% kasus diabetes adalah DM tipe 2, yang sebagian besar dapat dicegah karena disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.  Tujuan pengabdian ini sebagai upaya membantu mengendalikan kadar gula darah penderita hiperglikemia dengan ramuan tradisional suku sasak, Songgak. Sebanyak 45 masyarakat yang hadir dalam kegiatan sosialisasi diperiksa kadar gukosa darahnya, sebanyak 14 orang memiliki kadar gula darah sewaktu ≥200mg/dl. Songgak disosialisasikan dan disampaikan hasil penelitian tentang manfaat songgak untuk menurunkan kadar glukosa darah. Setelah konsumsi songgak selama dua  minggu, terjadi penurunan kadar glukosa darah sewaktu pada 21 peserta. Masyarakat paham pentingnya menjaga pola hidup dan pentingnya pemeriksaan glukosa darah secara berkala bagi penderita DM. Data profile of the Babakan Health Center, the obesity level of the population, of the 3,824 examined, 1,053 people (27%) were found to be obese. As many as 90-95% of diabetes cases are type 2 DM, most of which can be prevented because they are caused by an unhealthy lifestyle. The purpose of this service is as an effort to help control blood sugar levels of hyperglycemia sufferers with the traditional ingredients of the Sasak tribe, Songgak. As many as 45 people who attended the socialization activity had their blood glucose levels checked, as many as 14 people had blood sugar levels when ≥200mg/dl. Songgak was socialized and presented the results of research on the benefits of Songgak for lowering blood glucose levels. After consuming Songgak for two weeks, there was a temporary decrease in blood glucose levels in 21 participants. The community understands the importance of maintaining a lifestyle and the importance of regular blood glucose checks for people with DM.
Preparasi Sampel Urine Dalam Analisis Amfetamin Dengan Metode Gas Kromatografi Ni Kadek Defyantari; Lale Budi Kusuma Dewi; Ida Bagus Rai Wiadnya; Wayan Getas; Zaenal Fikri
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 1 No. 1 (2022): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v1i1.3

Abstract

amfetamin merupakan salah satu obat bius yang dapat ditemukan dalam bentuk pil, kapsul, ataupun bubuk.Amfetamin adalah salah satu dari zat psikotropika yang digolongkan dalam narkoba, untuk pemeriksaannya spesimen yang sering digunakan adalah urine karena tersedia dalam jumlah besar dan mengandung kadar obat yang tinggi sehingga mudah terdeteksi. Penggunaan amfetamin sangat marak di kalangan pecandu karena harganya yang terjangkau dan juga digunakan sebagai doping di bidang olahraga. Harganya yang murah dan lebih mudah didapat. Dalam analisis amfetamin dengan urine ada beberapa metode yang digunakan yaitu screening test, kromatografi lapis tipis, spektrofotometri dan gas kromatografi. Gas kromatografi membutuhkan beberapa tahapan pra analisis dengan preparasi sampel.Kromatografi sering digunakan untuk analisis obat, baik untuk analisis toksikologi maupun analisis senyawa obat itu sendiri. Preparasi dilakukan untuk mengetahui persiapan sampel yang paling tepat, cepat, dan akurat, untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan berbagai jenis metode preparasi sampel sebelum dianalisis menggunakan gas kromatografi. Untuk mengetahui preparasi sampel urine dalam analisi amfetamin dengan metode gas kromatografi. Didapatkan beberapa data yang berhubungan dengan preparasi sampel urine dalam analisis amfetamin dalam dengan metode gas kromatografi. Ditemukan perbedaan perlakuan untuk menentukan amfetamin dalam urine dengan metode gas kromatografi. Dalam analisis amfetamin digunakan beberapa metode atau cara preparasi sampel urine yaitu metode LPME,SPME,SPE, dan DLLME yang bertujuan untuk kuantitasi amfetamin, mengektraksi obat-obatan dalam bentuk yang tidak berubah dan untuk menghilangkan potensi kesalahan eksperimen
Perbedaan Kadar Asam Urat Antara Komunitas Vegetarian Lacto-Ovo Dengan Non Vegetarian I Gusti Ayu Ratih Yuliartini Ayu; I Wayan Getas; Ida Bagus Rai Wiadnya; Yudha Anggit Jiwantoro; Lale Budi Kusuma Dewi
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i1.13

Abstract

Latar Belakang : Sebagian besar purin yang dihasilkan dari makanan akan di produksi menjadi asam urat. Purin terdapat dalam semua jenis bahan pangan yang mengandung protein nabati mauapun hewani seperti jeroan, daging, sayur bayam, seafood dan kacang-kacangan. Kandungan purin yang sangat tinggi sebagian besar terdapat pada protein hewani, sementara protein nabati dan beberapa jenis sayuran mempunyai kandungan purin yang dinilai dapat meningkatkan asam urat. Tujuan Penelitian : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar asam urat antara komunitas vegetarian lacto-ovo dengan non vegetarian. Metode Penelitian : penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling. Analisis data menggunakan uji independent sampel T-Test. Hasil Penelitian : Hasil rata – rata kadar asam urat pada vegetarian lacto – ovo dan non vegetarian yaitu 5,77 mg/dL dan 6,19 mg/dL. Uji t-Tes: P = 0,184 Kesimpulan : Tidak ada perbedaan yang signifikan pada kadar asam urat antara komunitas vegetarian lacto-ovo dengan nonvegetarian yaitu p = 0,184 ≥ α = 0,05.
Differences In Blood Glucose Levels Of Amphetamine-Type Drug Users Who Are Undergoing Rehabilitation and Completed Baiq Linda Rolian ocatari; Lale Budi Kusuma Dewi; Lalu Srigede; Fihiruddin; Nurul Inayati
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i1.19

Abstract

Latar Belakang: Amfetamin merupakan salah satu jenis psikotropika yang berefek diantaranya, mengurangi rasa lelah, nafsu makan menurun, dan susah tidur. Tubuh memerlukan nutrisi, istirahat yang cukup serta aktifitas yang sehat agar kondisinya tetap normal. Pola hidup buruk dan penggunaan NAPZA secara terus – menerus dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah. Tujuan : untuk mengetahui perbedaan kadar gula darah pada pengguna NAPZA jenis amfetamin yang sedang dan selesai menjalani rehabilitasi di BNN Kota Mataram. Metode : Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan observasi oleh peneliti untuk mendata setiap pengguna positif NAPZA jenis amfetamin. Pengumpulan data dlakukan langsung dengan menghitung kadar glukosa darah terhadap responden menggunakan metode POCT. Hasil : Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan diperoleh rata-rata kadar gula darah yang sedang rehabilitasi 78,85 mg/dl, dan selesai rehabilitasi 101,56 mg/dl. Pengolahan data menggunakan uji statistik wilcoxon sehingga didapatkan hasil sig 0,000 < 0,05 yang menandakan adanya perbedaan pada data. Kesimpulan: terdapat perbedaan antara kadar gula darah pengguna NAPZA jenis amfetamin yang sedang dan selesai menjalani rehabilitasi. Kadar gula darah orang selesai rehabilitasi meningkat dari sebelum rehabilitasi. Untuk peneliti selanjutnya bisa melakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor penyebab menurunnya kadar gula darah pada pengguna NAPZA jenis amfetamin yang sedang rehabilitasi.
Profil Kadar Hemoglobin Pada Santriwati Kelas 1, 2, Dan 3 MTS di Pondok Pesantren Darul Hikmah Kota Mataram Fadhilah Rizkiyah; Lale Budi Kusuma Dewi; Siti Zaetun; Agrijanti
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i2.29

Abstract

Latar belakang: Aktivitas fisik dan pola hidup santriwati di pondok pesantren berbeda dengan aktivitas fisik atau pola hidup yang dilakukan oleh siswa yang tidak berada di pondok pesantren. Mengingat aktivitas fisik dan pola hidup santriwati di pondok pesantren memiliki aturan atau jadwal yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren. Terjadinya perubahan aktivitas fisik dan pola hidup pada santriwati dapat menyebabkan terjadinya anemia pada santriwati. Karena aktifitas fisik dan perubahan pola hidup dapat membuat proses regenarasi sel-sel dalam tubuh yang rusak tidak maksimal sehingga mengganggu proses pembentukan hemoglobin. Pengukuran kadar hemoglobin dapat menggunakan alat POCT (Point Care of Test). Tujuan : Untuk mengetahui profil kadar hemoglobin pada santriwati kelas 1, 2, dan 3 MTS. Metode Peneltian: Penelitian ini merupakan penelitian observational analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional yang mengumpulkan data, baik variabel bebas maupun variabel terikat dilakukan dalam waktu bersamaan. Hasil Penelitian: Rerata kadar hemoglobin santriwati kelas 1 MTS adalah 14.5 g/dL, kelas 2 MTS 14.10 g/dL, dan kelas 3 MTS 14.32 g/dL. Kesimpulan : Profil kadar hemoglobin pada santriwati kelas 1 MTS diantaranya 55% normal, 11% rendah, 33% tinggi. Pada kelas 2 MTS diantaranya 76% normal, 7% rendah, 15% tinggi. Dan pada kelas 3 MTS diantaranya 52% normal, 11% rendah, dan 35% tinggi. 
Pengaruh Konsentrasi Formalin Terhadap Hasil Pemeriksaan Urine Metode Carik Celup Pada Urine Penderita Diabetes Melitus Vani Nurcahyanti; Ari Khusuma; Lale Budi Kusuma Dewi; Pancawati Ariami; Iswari Pauzi
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i2.37

Abstract

Latar Belakang: Spesimen urin sebaiknya diperiksa  kurang dari 2 jam setelah pengambilan spesimen dan dapat bertahan 18 jam bila disimpan pada suhu 2 ̊ - 8 ̊ C. Urine penderita diabetes melitus mengandung glukosa yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Pemberian pengawet seperti formalin diharapkan dapat mencegah penguraian komponen bakteri. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui konsentrasi formalin yang dapat dijadikan sebagai pengawet urine metode carik celup pada urine penderita diabetes melitus. Metode Penelitian: Merupakan penelitian Pre Eksperimen dengan rancangan One Grup Pretest-Postest Desain. Sampel urine penderita diabetes melitus akan ditambahkan dengan formalin 37%, 30%, 20%, dan 10% dapat digunakan sebagai pengawet urine pada penderita diabetes melitus sesudah ditunda selama 5 jam.             Hasil Penelitian: Sampel urine pada glukosa sebelum perlakuan +4 setelah diberikan perlakuan +1, pada pH urine sebelum perlakuan 6.0 setelah perlakuan 5.0 pada keton urine sebelum perlakuan negatif (-) setelah perlakuan hasilnya positif(+) pada parameter lain menunjukkan hasil yang tetap sama sebelum pemberian pengawet formalin dan setelah pemberian pengawet formalin.  Kesimpulan: formalin dengan konsentrasi 37%,30%,20%, dan 10% mampu menyebabkan penurunan hasil pada parameter pH dan glukosa urine. Sehingga pengawet formalin tidak efektif pada pemeriksan urine mengandung, glukosa.