Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Skrining Diabetes Sederhana: Gula Darah Sewaktu dan HbA1c pada Pekerja Kantoran di Kawasan Sudirman Martin, Alfianto; Santoso, Alexander Halim; Jap, Ayleen Nathalie; Johan, Richver Framanto
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/drksn621

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada kelompok usia produktif, terutama di lingkungan kerja dengan aktivitas sedentari dan tekanan tinggi. Pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) dan HbA1c menjadi metode sederhana yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini risiko diabetes. Metode: Kegiatan PKM ini menggunakan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sebanyak 57 karyawan perkantoran aktif di Kawasan Sudirman berpartisipasi dalam pemeriksaan GDS dan HbA1c. Data diperoleh melalui pengambilan darah kapiler dengan alat digital, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui distribusi frekuensi, nilai rata-rata, simpangan baku, median, serta rentang nilai minimum–maksimum. Hasil: Pemeriksaan menunjukkan variasi kadar GDS dan HbA1c antarindividu. Nilai rata-rata yang diperoleh memberikan gambaran awal kondisi glikemik karyawan, dengan sebagian responden berada pada kisaran yang memerlukan perhatian. Hasil ini menegaskan adanya potensi risiko diabetes pada pekerja kantoran dengan gaya hidup sedentari dan beban kerja tinggi. Kesimpulan: Skrining sederhana menggunakan GDS dan HbA1c di tempat kerja terbukti efektif sebagai langkah deteksi dini sekaligus meningkatkan kesadaran pekerja mengenai pentingnya menjaga kesehatan metabolik. Program ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui edukasi berkelanjutan dan dukungan perusahaan untuk pencegahan diabetes.
Pengukuran Tekanan Darah dengan Lingkungan Kerja pada Pekerja Kantoran di Kawasan Sudirman, Jakarta Tan, Sukmawati Tansil; Santoso, Alexander Halim; Jap, Ayleen Nathalie; Dinali, Diana; Harsono, Axsel
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/j1vgzt74

Abstract

Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang dipengaruhi oleh faktor gaya hidup dan lingkungan kerja. Pekerja kantoran, khususnya di kawasan bisnis dengan tekanan kerja tinggi, memiliki risiko lebih besar untuk mengalami tekanan darah tinggi akibat beban kerja yang berat, pola makan tidak sehat, dan aktivitas fisik yang terbatas. Kegiatan Pengabdian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik karyawan perkantoran di kawasan Sudirman serta distribusi tekanan darah mereka. Metode: Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Pada tahap Plan, dilakukan perencanaan kegiatan yang mencakup penentuan peserta, instrumen, dan prosedur pelaksanaan. Sebanyak 57 karyawan dari salah satu kantor pusat besar di kawasan Sudirman diikutsertakan sebagai peserta. Tahap Do meliputi pengumpulan data melalui pengisian kuesioner karakteristik peserta serta pemeriksaan tekanan darah secara langsung. Tahap Check dilakukan dengan analisis deskriptif untuk memperoleh gambaran distribusi karakteristik sosiodemografi dan status tekanan darah. Tahap Action difokuskan pada interpretasi hasil untuk menyusun rekomendasi upaya peningkatan kesadaran dan pengendalian tekanan darah di lingkungan kerja. Hasil: Hasil skrining menunjukkan bahwa mayoritas peserta adalah laki-laki (56,1%) dengan rata-rata usia 36,12 tahun (SD 6,97). Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar peserta merupakan lulusan S1 (89,5%). Rata-rata tekanan darah sistolik peserta adalah 133,46 mmHg (SD 13,99) dengan rentang 109–190 mmHg. Berdasarkan kategori tekanan darah, sebanyak 56,1% peserta tergolong hipertensi, sedangkan sisanya 43,9% berada pada kategori normal. Temuan ini menunjukkan prevalensi hipertensi yang cukup tinggi pada pekerja perkantoran di kawasan bisnis padat, yang dapat dikaitkan dengan tekanan kerja tinggi, pola makan cepat saji, serta kurangnya aktivitas fisik. Kesimpulan: Kegiatan pengabdian ini menegaskan pentingnya intervensi promotif berupa edukasi kesehatan, penyediaan fasilitas penunjang gaya hidup sehat, dan manajemen stres di lingkungan kerja. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan angka kejadian hipertensi pada pekerja kantoran
Evaluasi Status Gizi dan Lemak Tubuh Karyawan Perkantoran melalui Pengukuran Lingkar Tubuh dan Lemak Subkutan Santoso, Alexander Halim; Jap, Ayleen Nathalie; Harsono, Axsel; Bustam, Steve Geraldo
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/de37v822

Abstract

Pendahuluan: Status gizi merupakan indikator penting kesehatan yang dapat dinilai melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) dan komposisi tubuh. Penumpukan lemak, khususnya lemak viseral, berperan besar dalam perkembangan penyakit metabolik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran IMT dan komposisi lemak tubuh pada karyawan perkantoran di kawasan Sudirman. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Pada tahap Plan, dilakukan perencanaan kegiatan yang mencakup penentuan responden, alat ukur, dan variabel yang akan diamati. Tahap Do meliputi pengumpulan data antropometri (IMT, lingkar perut, panggul, lengan atas, leher, dan betis) serta komposisi lemak tubuh (lemak total, viseral, dan lipatan bawah kulit pada biceps, triceps, suprailiaka, dan skapula) menggunakan skinfold caliper. Tahap Check dilakukan melalui analisis deskriptif dengan distribusi frekuensi, rerata, standar deviasi, median, serta rentang nilai minimum dan maksimum. Tahap Action difokuskan pada interpretasi hasil dan penyusunan rekomendasi untuk pengembangan program kesehatan berbasis status antropometri dan komposisi tubuh. Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan rerata IMT sebesar 27,51 ± 5,42 kg/m2, yang mengindikasikan status gizi berlebih pada sebagian besar responden. Lingkar perut rata-rata mencapai 89,58 ± 12,15 cm, sementara persentase lemak tubuh rata-rata 30,92 ± 7,11%. Lemak viseral tercatat cukup tinggi dengan rata-rata 11,26 ± 6,42. Pengukuran lemak bawah kulit menunjukkan ketebalan tertinggi didapatkan pada area suprailiaka (18,94 ± 7,47 mm) dan skapula (15,80 ± 6,60 mm), menandakan dominasi penumpukan lemak sentral. Temuan ini menegaskan bahwa pekerja kantoran, merupakan kelompok yang rentan mengalami obesitas abdominal dan peningkatan risiko metabolik. Kesan: Karyawan perkantoran di kawasan Sudirman memiliki status gizi berlebih disertai penumpukan lemak viseral dan lemak bawah kulit di area suprailiaka dan skapula sentral, sehingga berpotensi meningkatkan risiko sindrom metabolik.