Claim Missing Document
Check
Articles

TEMBIKAR PADA GUA LADORI DI DESA BENDEWUTA KECAMATAN OHEO KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA (KAJIAN BENTUK DAN RAGAM HIAS) Aksan Aksan; Syahrun Syahrun
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 5 No 2: December 2021
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v5i2.1424

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan ragam hias tembikar di Gua Ladori dan teknik pembuatan ragam hias. Penelitian ini menggunakan teori Sa Huynh-Kalanay, Out Of Taiwan dan Sejarah Budaya. Penelitian kualitatif adalah suatu prosedur pengambilan data yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa studi pustaka dan observasi. Tahap pengolahan data mengunakan analisis morfologi, analisis teknologi dan analisis stilistik. Hasil penelitian ini menunjukan bentuk-bentuk gerabah yang ditemukan di Gua Ladori. Berdasarkan hasil rekonstruksi yang diambil dari 41 sampel, dari jumlah tersebut terdapat 31 fragmen tembikar yang dapat direkonstruksi 15 diantaranya berupa periuk, 7 diantaranya tutupan, 3 mangkuk, 3 mangkuk berkaki dan 10 diantara tidak dapat di rekonstruksi. Berdasarkan hasil analisis ragam hias tembikar yang terdapat di Gua Ladori berupa geometris yang terdiri dari 6 ragam hias yang dapat diidentifikasi yaitu garis berjumlah 4, belah ketupat berjumlah 12, lingkaran berjumlah 4, empat persegi berjumlah 2 dan segitiga berjumlah 1. Berdasarkan analisis teknik pembuatan ragam hias terdiri dari 4 teknik yaitu teknik tekan berjumlah 22, teknik tusuk berjumlah 2, teknik gores berjumlah 8 dan teknik tempel berjumlah 1.
MAKAM KUNO BELANDA DI KELURAHAN KANDAI KOTA KENDARI PROVINSI SULAWESI TENGGARA Kiki Rukmana; Syahrun Syahrun; Sandy Suseno
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 6 No 1: June 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i1.1685

Abstract

Penelitian ini mengidentifikasi dan menjelaskan bentuk serta variasi nisan dan jirat (kijing) makam Belanda di Kelurahan Kandai Kota Kendari. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penalaran induktif yang bersifat deskriptif analitis. Untuk pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi dan wawancara. Sedangkan pengolahan data dilakukan analisis temuan survei dan interpretasi. Berdasarkan hasil temuan makam yang teridentifikasi sebanyak 35 makam dan diklasifikasikan berdasarkan arah hadap dan bentuk nisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah hadap makam terbagi menjadi 4 arah yaitu selatan-utara, utara-selatan, barat-timur, dan timur-barat. 1) Orientasi arah selatan utara terdapat 9 makam dengan bentuk nisan nisan berbentuk segi tiga, kubus, terdapat lobang lonjong, limas, segi panjang, persegi dan berundak menyerupai bunga, menyerupai kubus, dan melengkung. 2) Orientasi utara selatan terdapat 6 makam dengan nisan berbentuk segi tiga, balok, persegi panjang, segitiga, dan kubus. 3) Orientasi barat timur terdapat 17 makam dengan nisan berbentuk segi panjang, segitiga, limas, kubus, melengkung menyerupai bentuk keranda, segi panjang dan pipih, serta menyerupai monument dan berbentuk lingkaran, dan 4) Berorientasi timur barat terdapat 3 makam dengan nisan berbentuk segi panjang berbentuk keranda, berbentuk segitiga, persegi panjang kondisi punggungan berbaring, dan berbentuk kubus.
NILAI PENTING DAN STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN BENTENG WUNA Saswal Ukba; Syahrun Syahrun; Sandy Suseno
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 6 No 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1911

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan unsur nilai penting dan untuk merumuskan sebuah strategi pengolaan yang baik pada situs Benteng Wuna. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitif dan memiliki jenis penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini melibatkan unsur stakeholder atau pemangku kepentingan untuk mengetahui pihak yang berkepentingan terhadap upaya pengelolaan. Dari hasil penelitian yang dilakukan Benteng Wuna diketahui memiliki unsur nilai penting, yaitu nilai penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai penting kebudayaan, dan nilai penting ekonomi. Sementara untuk strategi pengelolaan yang dapat diterapkan yakni strategi berbasis partisipatif masyarakat dan berbagi tanggung jawab.
IDENTIFIKASI BENTENG BONE-BONE DI DESA BONE-BONE KECAMATAN BATUKARA KABUPATEN MUNA Tamiudin Tamiudin; Abdul Alim; Syahrun Syahrun
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 7 No 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2176

Abstract

Benteng Bone-Bone is one of the archaeological remains that constitutes a cultural heritage of the Indonesian nation. This research addresses two main problems: (1) what archaeological remains are found within Benteng Bone-Bone, and (2) what is the function of Benteng Bone-Bone based on its archaeological remains? The study aims to identify and explain the archaeological remains at Benteng Bone-Bone and to determine its function based on these remains. The research is grounded in conceptual frameworks such as spatial archaeology, the concept of fortifications, the concept of archaeological remains, and cultural history theory. This qualitative research employs inductive reasoning and is supported by classification analysis and contextual analysis. Based on the findings, it was concluded that there are 11 archaeological remains at Benteng Bone-Bone, consisting of the fort itself, Lawa I, Lawa II, Makam I, Makam II, Makam III, and loose finds in the form of mollusk fragments representing five species: Helix pomatia, Ruditapes decussatus, Pugilina cochlidium, Telescopium, and Cerithidea quoyi. Benteng Bone-Bone served as a defensive fortification.
SEBARAN GUA DAN CERUK PRASEJARAH DI DESA PADALERE UTAMA Hendra Saputra; Syahrun Syahrun; Salniwati Salniwati
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 7 No 1: June 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v7i1.2179

Abstract

The issues addressed in this research are: (1) What prehistoric caves and rock shelters are present in Padalere Utama Village, Wiwirano District, North Konawe Regency? (2) What are the characteristics of the prehistoric caves and rock shelters in Padalere Utama Village, Wiwirano District, North Konawe Regency? This study employs inductive reasoning, where specific observations are generalized into broader conclusions. Data collection techniques used in this research include library research, field data (observation), and interviews. Additionally, data analysis techniques applied are morphological analysis and contextual analysis. Based on the research findings, there are approximately 14 caves and 2 rock shelters in Padalere Utama Village, each with the potential for containing archaeological remains. Some of the archaeological remains that can be found include mollusks, bones, pottery, stone tools, ceramics, and rock art. Among the various caves and rock shelters discovered, mollusk remains dominate. Furthermore, the characteristics of the caves and rock shelters can be observed through their morphological conditions, environmental settings, and the state of the archaeological remains. The distribution of prehistoric caves and rock shelters in Padalere Utama Village, supported by an environment conducive to the life of prehistoric humans, indicates the presence of culture, civilization, and human migration during that period.
IDENTIFIKASI KERUSAKAN GAMBAR CADAS PADA SITUS GUA LA KOLUMBU DESA LIANGKABORI KECAMATAN LOHIA KABUPATEN MUNA Cindi Claudia Arindi; Syahrun Syahrun; Arie Toursino Hadi
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 8 No 2: Desember 2024
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v8i2.2339

Abstract

The Lakolumbu Cave site is one of the caves that has rock drawings. The site is in Liangkabori Village, Lohia District, Muna Regency, Southeast Sulawesi Province. This study aims to determine the image motifs and factors that cause damage to rock images at the Lakolumbu Cave Site. Then the methods used in this study were data collection, data recording and data processing using ImageJ software to lift images clearer and using CorelDraw X7 Software to reproduce rock images. Based on the results of the research conducted, the Lakolumbu Cave Site has 8 panels with a total of 60 rock images that have been found. The rock images are divided into 6 motifs including human motifs, animal motifs, human and animal motifs, human and boat motifs, geometric motifs and abstract motifs. Human motifs total 32 images. There are 8 animal motifs. Animal and human motifs total 13 images. 1 picture geometric motif. The motif of a man with a boat totalling 1 image. Abstract motifs totalling 4 images. The damage to the rock images found in Lakolumbu Cave is divided into 3 types of damage including temperature fluctuations, biological weathering and flaking.
IDENTIFIKASI GAMBAR CADAS PADA SITUS CERUK LANTOLALAKI DI DESA LIANGKOBORI KECAMATAN LOGIA KABUPATEN MUNA Yudar Aningsi Saputri; Ainussalbi Al Ikhsan; Syahrun Syahrun
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 8 No 2: Desember 2024
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v8i2.2936

Abstract

Ceruk Lantolalaki merupakan ceruk yang memiliki variasi gambar cadas yang beragam yang berada di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuana untuk mengidentifikasi motif gambar cadas, tipologi gambar cadas dan teknik pembuatan gambar cadas yang ada di situs Ceruk Lantolalaki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data primer yaitu data lapangan yang dilakukan dengan metode survei, perekaman gambar, dan mendeskripsi dan data sekunder yang merupakan data yang diolah menggunakan Software ImageJ dengan Plugin D’Stretch untuk memperjelas gambar dan Software CorelDraw X7 untuk mereproduksi gambar. Hasil penelitian yang di lakukan, diketahui bahwa gambar cadas yang terdapat di Ceruk Lantolalaki terdapat 103 gambar yang tersebar di 28 panel yang terdiri dari 4 motif: motif manusia berjumlah 17 gambar, motif hewan berjumlah 3 gambar, motif geometris berjumlah 48 gambar, dan abstrak berjumlah 35 gambar. Motif gambar cadas pada Ceruk Lantolalaki keseluruhan berwarna cokelat dengan teknik pembuatan oles.
Tradisi Pengobatan Katampu (Patah Tulang) pada Masyarakat Muna di Desa Kembar Maminasa Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat ulmi ulmi; Syahrun Syahrun; Samsul Samsul
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2974

Abstract

Tradisi pengobatan Katampu (patah tulang) merupakan praktik penyembuhan tradisional yang dilakukan masyarakat Muna, khususnya di Desa Kembar Maminasa, dengan memanfaatkan obat-obatan alami. Pengobatan ini dilakukan oleh bhisa/sando dalam menangani pasien dengan kondisi patah tulang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan proses pelaksanaan pengobatan Katampu, (2) mengidentifikasi alasan masyarakat memilih pengobatan tradisional, dan (3) menjelaskan pola pewarisan tradisi ini di Desa Kembar Maminasa, Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive, dan data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengobatan Katampu terdiri dari beberapa tahapan, yakni: (1) persiapan alat dan bahan, seperti minyak urut, air hangat, kunyit, kapur, serai, daun bakung, pelepah pinang, dan tali; (2) pelaksanaan, meliputi kompres, pembaluran ramuan, pembungkusan dengan pelepah pinang, dan pemberian air doa. Alasan masyarakat memilih pengobatan ini meliputi kemudahan akses, biaya yang ekonomis, serta penggunaan bahan alami yang minim efek samping. Pewarisan tradisi Katampu dilakukan secara langsung dalam lingkup keluarga, sehingga memastikan kelangsungan praktik ini antar generasi.
Tradisi Pengobatan Kawangku Buku Pada Masyarakat Muna di Desa Mabolu Kecamatan Lohia Kabupaten Muna La Ode Ikbal; Syahrun Syahrun; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/c8vjq143

Abstract

Kawangku Buku (pukul tulang) merupakan tradisi pengobatan tradisional masyarakat Muna yang masih dilestarikan hingga kini.Pengobatan ini dilakukan dengan cara memukul bagian tubuh tertentu untuk mengobati sakit tulang akibat kelelahan bekerja, dan biasanyadiperuntukkan bagi orang tua berusia 40 tahun ke atas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan serta makna simbolik dalam tradisi Kawangku Buku di Desa Mabolu, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna. Metode yang digunakan adalah deskriptifkualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Proses pelaksanaan dimulai dari pertemuan keluarga pasien dengan imam untuk menentukan waktu dan tempat pengobatan. Kemudian dilakukan persiapan alat danbahan. Pada hari pelaksanaan, imam membacakan mantra ke dalam air, lalu air digunakan untuk menyiram alat kerja dan makanan. Pasienmencuci muka, tangan, dan kaki, dilanjutkan dengan pemukulan pada tubuh pasien dan alat kerja, pembacaan doa, serta pemberian bhoka(nasi). Makna simbolik dari alat dan bahan sangat penting. Lakora melambangkan kekuatan, neke kebugaran, kariwu-riwu dan lapa-lapa sebagai penyembuh, karukuno kaharo penolak penyakit, serta kain putih dan daun pisang sebagai lambang kesucian. Pukulan di dahi melambangkan kedekatan kepada Tuhan.
Analisis Gender Pembuatan Minuman Tradisional Arak di Kelurahan Labuan Kecamatan Wakorumba Utara Kabupaten Buton Utara Nursati; La Ta Ena; Laxmi; Syahrun; Rahmat Sewa Soraya; Wa Ode Sifatu; La Aso
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6899

Abstract

Analisis Gender Pembuatan Minuman Tradisional Arak di Kelurahan Labuan Kecamatan Wakorumba Utara Kabupaten Buton Utara