Claim Missing Document
Check
Articles

Problematika Implementasi Paradigma Baru Pendidikan Pancasila SDN 060926 Medan Natasya Sihombing; Yakobus Ndona; Surya Dharma
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.978

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis problematika implementasi paradigma baru Pendidikan Pancasila di SDN 060926 Medan dalam konteks Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur (library research), yaitu mengkaji berbagai sumber ilmiah relevan yang mencakup jurnal penelitian, buku akademik, regulasi pemerintah, dan dokumen kebijakan pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi paradigma baru Pendidikan Pancasila di SDN 060926 Medan masih menghadapi berbagai problematika signifikan, meliputi: dominasi metode ceramah dan hafalan yang belum bergeser menuju pembelajaran kontekstual dan berbasis nilai; rendahnya partisipasi aktif peserta didik dalam proses internalisasi nilai-nilai Pancasila; keterbatasan kompetensi pedagogik guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang inovatif sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka; serta minimnya ketersediaan perangkat ajar yang mendukung paradigma baru. Problematika tersebut berdampak pada belum optimalnya pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai Pancasila pada peserta didik kelas rendah. Solusi yang dapat diterapkan meliputi penguatan kompetensi guru melalui pelatihan berbasis praktik, penerapan model pembelajaran aktif dan kontekstual, serta pemanfaatan Profil Pelajar Pancasila sebagai kerangka pengembangan karakter. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan transformasi menyeluruh dalam praktik pembelajaran Pendidikan Pancasila agar selaras dengan spirit paradigma baru Kurikulum Merdeka.
Peran Penegakan Hukum Dalam Menciptakan Lingkungan Sekolah Yang Aman Dan Nyaman Anggun Agia Arditha; Yakobus Ndona; Surya Dharma
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.996

Abstract

Sekolah idealnya menjadi ruang paling aman kedua bagi anak setelah keluarga, namun data empiris memperlihatkan realitas yang jauh dari ideal. Berdasarkan data gabungan KPAI dan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), pada tahun 2023 tercatat 285 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, dan angkanya melonjak menjadi 573 kasus pada 2024 naik lebih dari dua kali lipat, dengan 31 persen di antaranya berkaitan dengan perundungan (Pusiknas Polri, 2025). Artikel ini mengkaji secara kritis peran penegakan hukum dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman menggunakan metode penelitian yuridis-normatif dengan analisis kritis-sosiologis melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, dokumen kebijakan, dan jurnal-jurnal akademis terindeks. Pembahasan mencakup tiga pokok persoalan utama: pertama, kerangka normatif perlindungan anak di satuan pendidikan, khususnya Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023; kedua, faktor-faktor struktural yang menghambat efektivitas penegakan hukum; dan ketiga, model penegakan hukum yang responsif dan humanis sebagai alternatif solusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun kerangka hukum yang ada sudah relatif komprehensif, efektivitasnya masih sangat lemah akibat rendahnya kapasitas institusi sekolah dalam menjalankan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), absennya mekanisme sanksi administratif yang tegas, budaya normalisasi kekerasan yang mengakar, serta rendahnya kesadaran hukum di semua lapisan warga satuan pendidikan. Artikel ini berargumen bahwa penegakan hukum yang efektif tidak cukup bertumpu pada pendekatan represif-punitif semata, melainkan harus diintegrasikan dengan pendekatan restoratif, preventif berbasis pendidikan karakter, dan partisipatif yang melibatkan seluruh ekosistem satuan pendidikan. Reformasi kelembagaan, penguatan kesadaran hukum, dan transformasi budaya sekolah secara fundamental menjadi tiga pilar utama yang harus dibangun secara simultan.
Tantangan dan Peluang Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Konsep dan Implementasi dalam Perspektif Filsafat Ilmu Raisyah Aulia Nabila Lubis; Hanna Putri Syahkira; Daulat Saragi; Yakobus Ndona
JURNAL HANDAYANI PGSD FIP UNIMED Vol. 16 No. 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/qej66x97

Abstract

Abad ke-21 menuntut pendidikan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif melalui pembelajaran bermakna dan reflektif. Salah satu pendekatan yang relevan adalah pembelajaran mendalam (deep learning) yang berfokus pada pemahaman konseptual, kesadaran reflektif, dan pengalaman belajar menyenangkan. Penelitian ini merupakan studi pustaka yang menganalisis literatur terkait filsafat ilmu, pembelajaran abad-21, dan implementasi deep learning dengan pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Hasil menunjukkan adanya tantangan dalam dominasi metode konvensional dan keterbatasan teknologi, namun peluang terbuka melalui Kurikulum Merdeka, inovasi digital, dan tuntutan kompetensi abad-21.
Pergeseran Nilai Karakter Anak di Era Digital dalam Perspektif Filsafat Ilmu Natasya Sihombing; Fransiska Mariance Nainggolan; Daulat Saragi; Yakobus Ndona
JURNAL HANDAYANI PGSD FIP UNIMED Vol. 16 No. 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/6ap8w553

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran nilai karakter anak di era digital dengan mengintegrasikan filsafat ilmu, psikologi pendidikan, dan pendekatan pedagogis. Fenomena meningkatnya penggunaan gawai dan berkurangnya permainan tradisional telah menimbulkan dampak sosial, psikologis, dan moral yang signifikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis konten kualitatif, hermeneutika filsafat ilmu, dan psikologi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan melemahnya keterampilan sosial, regulasi emosi, dan internalisasi moral anak. Sebagai solusi, pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) direkomendasikan untuk menguatkan nilai sosial, Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk melatih regulasi emosi, serta Cooperative Learning untuk memperkuat internalisasi moral. Kajian ini menegaskan pentingnya integrasi filsafat ilmu, psikologi pendidikan, dan metode pembelajaran inovatif dalam rekonstruksi pendidikan karakter di era digital.
Peran Filsafat Ilmu Pendidikan dalam Menjawab Tantangan Pendidikan Abad 21 Indah Mutia; Anggun Agia Ardhita; Daulat Saragi; Yakobus Ndona
JURNAL HANDAYANI PGSD FIP UNIMED Vol. 16 No. 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/817jmr60

Abstract

Pendidikan abad ke-21 menghadapi tantangan kompleks seperti perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan kebutuhan keterampilan baru seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Penelitian ini menggunakan studi literatur kualitatif untuk menganalisis peran filsafat ilmu pendidikan sebagai landasan teoretis dan praktis dalam menjawab tantangan tersebut. Hasilnya menunjukkan filsafat pendidikan berfungsi sebagai kompas moral dan intelektual yang mengarahkan pengembangan pendidikan, strategi pembelajaran, dan evaluasi yang relevan. Filsafat ini mendorong transformasi pendidikan menjadi proses pembentukan karakter, adaptasi, dan pemecahan masalah, dengan progresivisme dan rekonstruksionisme sosial menekankan pembelajaran berpusat pada siswa dan perubahan sosial.
DEVELOPMENT OF OASE KASIH-BASED PANCASILA EDUCATION TEACHING MATERIALS TO FOSTER BROTHERHOOD AND SOCIAL SOLIDARITY AMONG ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Paskaria Simbolon; Yakobus Ndona; Surya Dharma; Daulat Saragi; Samsidar Tanjung; Yusnadi
International Journal of Social Science, Educational, Economics, Agriculture Research and Technology (IJSET) Vol. 5 No. 8 (2026): JULY
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to develop, validate, and evaluate the effectiveness of OASE KASIH-based Pancasila Education teaching materials in fostering brotherhood and social solidarity among elementary school students. The study was motivated by the limited availability of character-oriented teaching materials that systematically integrate values of brotherhood, empathy, cooperation, and social responsibility into Pancasila Education learning. A Research and Development (R&D) approach employing the ADDIE model was adopted, encompassing the stages of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The research was conducted at St. Francis of Assisi Elementary School, Binjai, involving Grade V students. Data were collected through expert validation sheets, observation guides, interviews, student response questionnaires, and learning achievement tests. The developed teaching materials integrated the OASE KASIH approach, which emphasizes observation, sensitivity, authentic understanding, affection, attitude selection, action, and spiritual reflection. The validation results demonstrated a high level of feasibility, with scores of 91.6% from content experts, 91.1% from media experts, and 93.5% from language experts. Practicality testing showed positive responses, achieving 89.95% in individual trials and 86.81% in small-group trials. The effectiveness test revealed a significant improvement in students’ social character, with the mean pretest score increasing from 58.47 to a posttest score of 89.12. The average N-Gain score was 0.7423, indicating a high level of improvement, while the paired-samples t-test yielded a significance value of 0.000 (p < 0.05), confirming statistically significant differences between pretest and posttest scores. These findings indicate that the OASE KASIH-based teaching materials are valid, practical, and effective in strengthening students’ brotherhood and social solidarity. The study contributes an innovative character-based instructional resource for enhancing value-oriented Pancasila Education in elementary schools.
Implementasi Kurikulum Merdeka Dalam Perspektif Filsafat Realisme Di Sekolah Dasar Siti Putri; Yakobus Ndona; Ibrahim Gultom
ELEMENTARY SCHOOL JOURNAL PGSD FIP UNIMED Vol. 14 No. 3 (2024): ELEMENTARY SCHOOL JOURNAL PGSD FIP UNIMED
Publisher : FIP Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/esjpgsd.v15i3.67509

Abstract

Kurikulum Merdeka memberi sekolah kesempatan untuk menyesuaikan instruksi berdasarkan kebutuhan siswa mereka. Menurut prinsip realisme, yang mempromosikan pembelajaran berbasis fakta dan pengalaman dunia nyata, Kurikulum Merdeka dapat membantu siswa memahami dengan menggabungkan proyek dan aktivitas kontekstual. Studi ini meneliti penerapan Kurikulum Merdeka di kelas dasar melalui lensa realisme, yang menunjukkan bahwa pendekatan ini membantu dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan keterampilan berpikir kritis. Meskipun ada keterbatasan seperti sumber daya yang terbatas dan kesiapan guru, menggabungkan prinsip-prinsip realisme dapat menghasilkan pengajaran yang lebih bermanfaat dan relevan. Landasan filosofis pendidikan, atau perspektif, akan menuntun apa yang seharusnya dicita-citakan dalam pendidikan. Pendidikan tidak dapat dipahami sepenuhnya hanya melalui metode ilmiah deskriptif; pendidikan juga harus komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan kurikulum merdeka di sekolah dasar melalui sudut pandang filsafat realisme. Penelitian ini menggunakan telaah pustaka sebagai metodologinya. Telaah pustaka ini merupakan penelitian yang mencakup buku, artikel, dan referensi tentang landasan realisme dalam pendidikan Indonesia. Realisme dan kurikulum imerdeka saling terkait. Pemahaman pendidik terhadap filsafat sebagai landasan pengetahuan sangat penting untuk merefleksikan dan menerapkan konsep pembelajaran independen, yang telah dirumuskan secara cermat dengan tujuan untuk mereformasi sistem pendidikan Indonesia
Pengaruh Brainstorming Pada Model Discovery Learning Dalam Kurikulum Merdeka Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 2 Percut Sei Tuan Cindy Nababan; Yakobus Ndona; Halking; Sri Yunita; Sampitmo Habeahan
Jurnal Dunia Pendidikan Vol 6 No 5 (2026): Jurnal Dunia Pendidikan
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jurdip.v6i5.4751

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh brainstorming pada model discovery learning dalam Kurikulum Merdeka terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Percut Sei Tuan. Latar belakang penelitian berawal dari rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa yang terlihat dari hasil tes awal sebelum pembelajaran. Metode penelitian menggunakan pre-eksperimen dengan rancangan pretest-posttest pada satu kelompok. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-5. Instrumen yang digunakan berupa angket dan tes kemampuan berpikir kritis yang diberikan pada dua tahap, yaitu sebelum pembelajaran (pretest) dan sesudah pembelajaran (posttest). Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata pretest sebesar 56,72 yang tergolong kategori cukup. Setelah penerapan brainstorming dalam discovery learning, nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 79,78, sehingga terjadi kenaikan 23,06 poin. Hal ini membuktikan bahwa brainstorming berpengaruh positif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain aspek akademis, teknik ini juga memberi dampak non-akademis, seperti meningkatkan rasa percaya diri, melatih keterampilan komunikasi, serta memperkuat kerja sama antar siswa. Dengan demikian, penerapan brainstorming melalui discovery learning dalam Kurikulum Merdeka terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Percut Sei Tuan. Kata Kunci: Berpikir Kritis, Brainstorming, Kurikulum Merdeka, Pre-test Post-test, Pre-eksperimen.
Strategi Guru Dalam Mengimplementasikan Technological Pedagogical And Content Knowledge (Tpack) Pada Pembelajaran di SMA Swasta Pab 5 Klumpang Ayu Novidaniati Rusnita; Fazli Rachman; Yakobus Ndona; Surya Dharma; Sampitmo Habeahan
Jurnal Dunia Pendidikan Vol 6 No 5 (2026): Jurnal Dunia Pendidikan
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jurdip.v6i5.4974

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam mengimplementasikan Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK) pada proses pembelajaran di SMA Swasta PAB 5 Klumpang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan guru, kepala sekolah, dan siswa sebagai informan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah berupaya mengintegrasikan aspek teknologi, pedagogi, dan konten secara seimbang dalam kegiatan pembelajaran. Strategi yang digunakan mencakup integrasi teknologi dan pedagogi melalui penggunaan media digital interaktif, integrasi teknologi dan konten dengan memanfaatkan sumber belajar daring, serta integrasi pedagogi dan konten melalui penerapan metode Project-Based Learning (PjBL) dan Problem-Based Learning (PBL). Implementasi TPACK memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterlibatan dan motivasi belajar siswa, serta membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual dan menarik. Namun, penelitian juga menemukan beberapa kendala, antara lain keterbatasan sarana teknologi, perbedaan kemampuan guru dalam penguasaan teknologi, dan keterbatasan waktu pembelajaran. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa strategi guru berbasis TPACK berkontribusi penting terhadap pengembangan kualitas pembelajaran di era digital.
Dampak Kebijakan Pemerintah Mengenai Pelarangan Thrifting Terhadap Penjualan Pakaian Bekas di Kota Medan Ivana Theo Philia; Reh Bungana Beru Pa; Yakobus Ndona; Arief Wahyudi; Taufiq Ramadhan
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya aktivitas thrifting dan perdagangan pakaian bekas di Pasar Sambu dan Pasar Melati Kota Medan di tengah penerapan kebijakan pemerintah mengenai larangan impor pakaian bekas yang diperketat melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 47 Tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang pemerintah menetapkan kebijakan pelarangan thrifting, mengkaji dampaknya terhadap pelaku usaha dan konsumen pakaian bekas di Kota Medan, serta mengetahui strategi pemerintah dalam menyediakan kebijakan transisi bagi pelaku usaha yang terdampak. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian normatif-empiris. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pelarangan thrifting dilatarbelakangi oleh tiga pertimbangan utama, yaitu perlindungan industri tekstil dalam negeri, perlindungan kesehatan masyarakat dari risiko pakaian bekas impor, serta penertiban arus perdagangan ilegal. Dampak kebijakan mencakup penurunan pasokan stok barang, berkurangnya jumlah pembeli sebesar 30 hingga 50 persen, dan penurunan omzet pedagang antara 10 hingga 75 persen, serta terbatasnya akses konsumen berpenghasilan rendah terhadap pakaian terjangkau. Sementara itu, strategi transisi pemerintah masih bersifat umum berupa imbauan beralih ke pakaian preloved lokal dan pemanfaatan platform digital, tanpa disertai program pembinaan khusus bagi pedagang terdampak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun kebijakan pelarangan thrifting memiliki dasar hukum yang kuat, pelaksanaannya perlu disertai program transisi terstruktur, pendampingan usaha yang tepat sasaran, dan sosialisasi langsung kepada pedagang agar kebijakan dapat berjalan secara adil dan mencerminkan prinsip negara kesejahteraan. Kata kunci: kebijakan pemerintah, larangan thrifting, penjualan pakaian bekas.   Abstract This study was motivated by the widespread practice of thrifting and the trade of second-hand clothing in Sambu Market and Melati Market, Medan City, amidst the implementation of government policies prohibiting the importation of used clothing, as reinforced through Minister of Trade Regulation Number 47 of 2025. The study aims to analyze the rationale behind the government's policy on banning thrifting, examine its impacts on second-hand clothing traders and consumers in Medan City, and identify the government's transition strategies for businesses affected by the policy. This research employed a descriptive qualitative approach with a normative-empirical research design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and subsequently analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis technique, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the policy prohibiting thrifting is based on three primary considerations: protecting the domestic textile industry, safeguarding public health from the risks associated with imported used clothing, and regulating illegal trade activities. The impacts of the policy include a decline in merchandise supply, a reduction in the number of customers by approximately 30 to 50 percent, and a decrease in traders’ revenues ranging from 10 to 75 percent. Additionally, the policy has limited access to affordable clothing for low-income consumers. Meanwhile, the government’s transition strategy remains relatively general, consisting primarily of recommendations to shift toward locally sourced preloved clothing and the utilization of digital platforms, without the provision of specific assistance or capacity-building programs for affected traders. The study concludes that although the thrifting prohibition policy has a strong legal foundation, its implementation should be accompanied by structured transition programs, targeted business assistance, and direct outreach to traders to ensure that the policy is implemented fairly and reflects the principles of a welfare state. Keywords: government policy, thrifting prohibition, second-hand clothing trade.