Claim Missing Document
Check
Articles

Penyuntingan Teks Digital Manuskrip Pesantren sebagai Upaya Pelestarian Warisan Intelektual Islam Nusantara Sehid Sehid; Farisi Farisi; Muhammad Zaironi; M. Ilham Firmansyah
Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan Sosial Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus: Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan Sosial
Publisher : Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/atmosfer.v4i3.1967

Abstract

This study discusses the editing of digital texts of pesantren manuscripts as an effort to preserve the Islamic intellectual heritage of the Indonesian archipelago, a heritage of considerable historical, cultural, and academic value. Pesantren manuscripts are largely written in Arabic, Pegon, and Jawi scripts on aging paper media, so many of them are physically fragile, with faded ink and torn or illegible pages, making systematic digital editing an urgent scholarly task. Using a descriptive qualitative approach within a digital-philology framework, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation study, and were analyzed through description of the manuscript, textual criticism, transcription, and text editing, with validity secured through source, technique, and time triangulation as well as member checking. The findings show that the editing process comprises manuscript inventory and description, digitization, transliteration and transcription from Arabic-Malay/Pegon script into Latin script, textual criticism, language and spelling editing, structural organization, technical editing, and verification/validation, so that the resulting text becomes clearer, easier to read, and remains authentic to the source. The study further emphasizes fidelity to the original manuscript, careful recording of textual variants and marginal notes, and verification of Qur'anic, hadith, and scholarly references to safeguard scholarly validity. Thus, digital editing of pesantren manuscripts is not merely a technical task but also a strategy for preserving scholarly tradition and the historical identity of the pesantren for future generations.
Trayektori Kebijakan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 2010–2025: Perspektif Grindle dan Edward III Zainal Mustofa; Nurul Aini; Muhammad Zaironi
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1895

Abstract

Kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa di Indonesia berganti bentuk empat kali dalam lima belas tahun terakhir, dari pedoman sekolah tahun 2010 hingga Profil Lulusan pada 2025, tanpa pernah dievaluasi secara menyeluruh elemen mana yang sebenarnya berhasil dipertahankan. Artikel ini bertujuan memetakan dan menjelaskan trayektori enam produk hukum pendidikan karakter sepanjang 2010–2025, dengan fokus pada elemen yang bertahan, berubah, atau gugur antar-generasi kebijakan dan alasannya. Penelitian memakai studi kepustakaan dengan analisis isi kualitatif deduktif, membaca isi dan konteks tiap regulasi lewat model Grindle, lalu mengecek silang temuannya dengan empat variabel Edward III, yakni komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi, berdasarkan dokumen resmi sebagai data utama dan literatur akademik terindeks sebagai data pendukung. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten: disposisi pelaksana selalu jadi kekuatan sementara komunikasi berlapis dan ketiadaan formula pendanaan yang jelas selalu jadi titik lemah, tidak peduli generasi kebijakan mana yang sedang berlaku. Sebaliknya, struktur pelaksana dan penyebutan program berubah paling sering, menyempit dari empat lembaga lintas sektor menjadi satu kementerian sepanjang periode yang diteliti. Temuan ini menunjukkan bahwa tiap generasi kebijakan cenderung mengubah unsur yang murah secara politik sambil membiarkan persoalan struktural yang lebih mendasar tidak tersentuh.
Co-Authors Abdul Ghofur Abdullah Hilmi Az-Zuhdy Adib Qosim M Afifi, A. Nawawi Alfan Agung Muhamad Bisri AGUS Ahmad Sulusin Ainun Nafila Alfinnurissa’adah Amin Ruksin Anissa Annisa Annisa Ari Abdi Asrori, Sholi Bisyarotul Masfufah Dedi Suari Dika Tripitasari Edy Setiawan Eko Suprayitno Eko Suprayitno Emilda Fibyani Agustin Fahim, Ali Masdar Fahrudin Fahrudin Fajriah Fakhridana, Farhan Muzakki Farisi Farisi Fatkhur Rohman Febrianto Fika Maqfiroh Fitri Ayu Kurnia H. Nur Ali Hesim Muzedi Hidayatulloh Hilam, Husnul Husnul Hilam Ida Fitri Anggarini Ifan Afandy Ika Nur Hikmah Imawan, Yuli Indradewa, Rhian Ishmah Syafiulloh Ishomudin Kemal Husen Khoridatul Bahiyah Kudsiyeh, Kudsiyeh Lailatul Mufarrohah Lingga Fahrurrosi M. Ilham Firmansyah M. Taufik Sirgar Marno Marno Marno Marno Mar’atul Fitriayu Azizah Maulidia, Nuraini Mirrohmatillah Moch. Sahril Sobirin Moh Azaim Moh Hasan Firghol MUHAMMAD AGUS SALIM Muhammad Agus Salim Muhammad Febri Irawan Muhammad Husni Muhammad Husni Muhammad Jazuli Muhammad Rauhul Mufid Muhammad Syauqillah Muhlis, Nur Khozim Muqoffi Muqoffi, Muqoffi Nia Hasanah Nindi Antika, Aisyah Nurhaliza, Sabrina Nurul Aini Nurul Ma’rifah Panji NurMuhammadSholih Rahmania, Almaniatu Inda Rohanita, Lailatur Romadhon, Mochamad Rizqy Salsabila, Ramadhanti Syifa Sari, Zuyyina Linda Sehid Sehid Shofi Sholihah Sholihah Sita Acetylena Siti Nur Azizah, Siti Nur Sobirin, Moch. Sahril Sultan Faiz Amrillah Syuaib, Muhammad Tirta, Wahyu Divangga Vina Lailatul Maskuro Wesil Arisih Zainal Mustofa Zakiyah Alfaizah Zulfan Syahansyah