cover
Contact Name
Muhammad Asy'ari
Contact Email
muhammadasyari1991@gmail.com
Phone
+6285338219596
Journal Mail Official
lumbunginovasi@gmail.com
Editorial Address
Tanjung Karang Sekarbela, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 2541626X     DOI : -
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat | Lumbung Inovasi: Journal of Community Service (ISSN: 2541-626X) is an open access scientific journal that publish community service and empowerment articles. This journal published twice a year (bianually) in May and November.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 522 Documents
Edukasi Pariwisata Berkelanjutan dalam Meningkatkan Daya Saing Pelaku Usaha Wisata di Desa Masaingi Munawarah, Munawarah; Idris, Idris; Mahardiana, Lina; Evrianti, Hesti; Hilal, Nur; Fera, Fera
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2174

Abstract

Pelaku usaha wisata di daerah pedesaan sering menghadapi tantangan dalam mengadopsi praktik pariwisata berkelanjutan, yang berdampak pada daya saing dan keberlanjutan destinasi. Penelitian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan implementasi pariwisata berkelanjutan di kalangan pelaku usaha wisata di Desa Masaingi. Permasalahan utama meliputi rendahnya pemahaman konsep pariwisata berkelanjutan, terbatasnya adopsi praktik ramah lingkungan, dan kurangnya pelibatan masyarakat lokal dalam pengembangan wisata. Metode pemecahan masalah menggunakan pendekatan participatory action research (PAR) dan experiential learning, melibatkan 30 pelaku usaha wisata dalam program edukasi. Program ini mencakup workshop, mentoring, dan praktik lapangan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep pariwisata berkelanjutan sebesar 44,95%, melebihi target awal 30%. Tingkat adopsi praktik berkelanjutan mencapai 78%.Program ini berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha, dengan rata-rata kenaikan sebesar 35% dalam 6 bulan setelah implementasi. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat 25% dan rata-rata lama tinggal wisatawan bertambah dari 1,2 hari menjadi 2,5 hari.Meskipun menghadapi tantangan infrastruktur digital dan dampak pandemi COVID-19, program ini berhasil meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha wisata. Simpulannya, pendekatan PAR dan experiential learning efektif dalam memfasilitasi adopsi pariwisata berkelanjutan di destinasi wisata pedesaan, berkontribusi signifikan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait pariwisata. Sustainable Tourism Education in Enhancing the Competitiveness of Tourism Business Operators in Masaingi Village Abstract Tourism business operators in rural areas often face challenges in adopting sustainable tourism practices, which impacts destination competitiveness and sustainability. This research aims to enhance understanding and implementation of sustainable tourism among tourism business operators in Masaingi Village. The main issues include limited understanding of sustainable tourism concepts, minimal adoption of environmentally friendly practices, and insufficient local community involvement in tourism development. The problem-solving methodology employed participatory action research (PAR) and experiential learning approaches, engaging 30 tourism business operators in an educational program. The program encompassed workshops, mentoring, and field practices. Results demonstrated a significant 44.95% improvement in understanding sustainable tourism concepts, exceeding the initial target of 30%. The adoption rate of sustainable practices reached 78%. The program positively impacted business operators' revenue, with an average increase of 35% within 6 months post-implementation. Tourist arrivals increased by 25%, and the average length of stay extended from 1.2 days to 2.5 days. Despite challenges in digital infrastructure and COVID-19 pandemic impacts, the program successfully enhanced the capacity and competitiveness of tourism business operators. In conclusion, the PAR and experiential learning approach effectively facilitated sustainable tourism adoption in rural tourism destinations, contributing significantly to achieving tourism-related Sustainable Development Goals.
Pelatihan Pembukuan Sederhana Bagi Pelaku Usaha Wisata Pantai Pangi di Desa Masaingi Kabupaten Donggala Fattah, Vitayanti; Rombe, Elimawaty; Saharuddin, Saharuddin; Hadi, Suryadi; Asriadi, Asriadi; Anisah, Anisah
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2176

Abstract

Desa Masaingi, Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala memiliki potensi usaha wisata yang belum optimal karena pengelolaan yang kurang baik. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat terhadap manajemen keuangan. Dimana mayoritas pelaku usaha belum memiliki pembukuan yang memadai dan masih kurang memahami urgensi pembukuan keuangan, serta masih cenderung mengambil keputusan berdasarkan intuisi dan pengalaman. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasi pelaku usaha mengenai pembukuan sederhana. Metode yang digunakan adalah Sosialisasi, diskusi, demonstrasi, serta monitoring dan evaluasi melalui tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasilnya terjadi peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam membuat pembukuan keuangan, yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan usaha Berdasarkan hasil evaluasi pelatihan, terjadi peningkatan yang signifikan dalam pemahaman dan kemampuan pelaku usaha dalam menyusun pembukuan keuangan. Hasil pre-test menunjukkan skor rata-rata 70, yang meningkat menjadi 109,51 pada post-test, dari total skor 130. Peningkatan sebesar 56,4% ini menunjukkan bahwa pelatihan telah berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara lebih sistematis dan berbasis data, sehingga mendukung mereka dalam pengambilan keputusan yang lebih rasional dan terukur. Simple Bookkeeping Training for Pangi Beach Tourist Enterprises in Masaingi Village, Donggala Regency Abstract Masaingi Village in Sindue District, Donggala Regency, has tourism business potential that remains underdeveloped due to inadequate management. This situation stems from the community's limited understanding of financial management, where the majority of business owners lack adequate bookkeeping practices and do not yet recognize the importance of financial records. They often continue to make decisions based on intuition and experience. To address this, our program aims to educate business owners on basic bookkeeping. The methods employed include socialization, discussion, demonstration, along with monitoring and evaluation through three stages: preparation, implementation, and evaluation. The results show a significant improvement in the ability of business owners to maintain financial records, which can be used as a basis for business decision-making. Evaluation of the training outcomes revealed a notable increase in participants' understanding and skills in financial bookkeeping. The average pre-test score was 70, which rose to 109.51 on the post-test, out of a total score of 130. This 56.4% improvement indicates that the training successfully enhanced participants' understanding and skills in systematic and data-driven financial management, supporting them in making more rational and informed business decisions.
Meningkatkan Keterampilan Public Speaking dan Kemahiran Berbicara Bahasa Inggris Melalui Program English Club bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama Imansari, Nurul; Sudewi, Putu Wahyu; Putri, Andi Mega Januarti
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2183

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan public speaking dan kemahiran berbicara bahasa Inggris melalui program English Club bagi siswa sekolah menengah pertama di SMPN 3 Majene. Program ini dirancang untuk memberikan platform latihan berbicara bahasa Inggris melalui berbagai aktivitas seperti latihan MC, pidato, dan diskusi kelompok. Kegiatan ini menerapkan pendekatan partisipatif yang menggabungkan teori dan praktik, serta berfokus pada unjuk kerja untuk membangun kepercayaan diri siswa dan meningkatkan kemampuan komunikasi verbal. Evaluasi program dilakukan melalui pre-test dan post-test, yang menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan berbicara siswa. Rata-rata nilai pre-test adalah 58,5, sementara post-test menunjukkan peningkatan menjadi 76,3, dengan peningkatan kepercayaan diri berbicara di depan umum sebesar 32%. Hasil ini menegaskan bahwa English Club berkontribusi positif dalam pengembangan keterampilan berbahasa Inggris siswa, terutama dalam konteks public speaking. Improving Public Speaking Skills and English Proficiency through an English Club Program for Junior High School Students Abstract This article aims to improve public speaking skills and English proficiency through the English Club program for junior high school students at SMPN 3 Majene. The program is designed to provide a platform for practicing English speaking through various activities such as MC training, speeches, and group discussions. The activities implement a participatory approach that combines theory and practice, focusing on performance to build students' confidence and enhance their verbal communication skills. The program evaluation was conducted through pre-tests and post-tests, which showed a significant improvement in students' speaking skills. The average pre-test score was 58.5, while the post-test score increased to 76.3, with a 32% increase in public speaking confidence. These results affirm that the English Club contributes positively to the development of students' English language skills, particularly in the context of public speaking.
Pelatihan Pembuatan Desain Kemasan untuk Meningkatkan Brand Awareness Sebagai Upaya Peningkatan Nilai Jual Produk UMKM di Kota Cirebon Daud, Rosy Febriani; Rosyid, Dzulfiqar Fickri; Rachmawati, Ine; Khodijah, Tiara
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2191

Abstract

Desain kemasan produk tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga sebagai alat promosi yang efektif untuk meningkatkan daya tarik dan nilai jual produk. Hal ini menjadi tantangan bagi pelaku UMKM di Indonesia yang sering kali kurang memanfaatkan desain kemasan yang menarik. Di Kota Cirebon, sekitar 82% pelaku UMKM di sektor makanan belum memiliki pengetahuan memadai tentang desain kemasan yang efektif. Untuk mengatasi hal ini, tim pelaksana kegiatan PKM bekerja sama dengan UMKM di Cirebon mengadakan pelatihan desain kemasan untuk meningkatkan brand awareness dan nilai jual produk. Pelatihan ini diikuti oleh 52 peserta, dan hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman tentang desain kemasan sebesar 85% setelah pelatihan, dengan 94% peserta setuju bahwa kemasan yang menarik berperan penting dalam pemasaran. Metode yang digunakan meliputi presentasi, demonstrasi, dan diskusi. Secara keseluruhan, peserta menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif dalam mengembangkan kemasan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi. Training on Packaging Design to Increase Brand Awareness as an Effort to Enhance the Market Value of MSME Products in Cirebon City Abstract Product packaging design not only serves as a protective feature but also as an effective promotional tool to enhance the appeal and market value of products. This remains a challenge for many MSME players in Indonesia, who often lack an attractive packaging design. In Cirebon City, approximately 82% of MSMEs in the food sector lack sufficient knowledge about effective packaging design. To address this, the PKM implementation team collaborated with MSMEs in Cirebon to conduct packaging design training aimed at increasing brand awareness and product value. This training was attended by 52 participants, with evaluation results showing an 85% increase in understanding of packaging design after the training, and 94% of participants agreeing that attractive packaging plays a significant role in marketing. The methods used included presentations, demonstrations, and discussions. Overall, participants demonstrated enthusiasm and active participation in developing product packaging with higher market value.
Bimbingan Teknis Budidaya Ikan Air Tawar pada Kelompok Swadaya Masyarakat "Balesemi" di Desa Bakalan Kabupaten Pasuruan Ernawati; Nugroho, Matheus; Hidayati, Novi Itsna; Soedarmadji, Wisma; Akbar, Maulana Jamaludin
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2195

Abstract

Desa Bakalan berada di Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan, mempunyai potensi wilayah yang dilewati aliran sungai yang cukup melimpah airnya, sehingga dimanfaatkan untuk mengairi tanaman dan memelihara ikan antara lain nila, tombro ataupun lele. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah teknologi budidaya perikanan air tawar kurang berkembang, pengetahuan tentang perikanan masih cukup rendah, dan penggunaan alat produksi serta sarana prasaran masih sederhana. Rendahnya pengetahuan mengenai teknologi dalam budidaya menyebabkan kegiatan produksinya tidak berjalan secara kontinyu. Mitra kegiatan adalah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) “Balesemi” desa Bakalan. Anggota kelompok berjumlah 20 orang, yang berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok mitra guna menjaga kontinyuitas produksi dengan penerapan teknologi wadah kolam terpal sebagai media budidaya. Kegiatan dimulai dari tahap persiapan, sosialisasi, pelaksanaan sampai dengan pendampingan. Tahap persiapan dengan cara survei dan wawancara, melakukan pendekatan dan identifikasi masalah, diskusi bersama tentang pemecahan masalah. Adapun tahap pelaksanaan Bimtek meliputi: 1) Penyiapan kolam, 2) Pemilihan bibit, 3) Penebaran benih 4) Pemilihan pakan berkualitas; 5) Cara panen dan pasca panen. Solusi selanjutnya adalah pemberian bantuan kolam terpal yang dapat digunakan untuk budidaya ikan yang lebih baik. Evaluasi keberhasilan dilakukan melalui hasil survei dan kuisioner. Hasil survei didapat bahwa peningkatan pemahaman peserta sebelum Bimtek terhadap materi pada kisaran paling rendah 25% dan persentase pemahaman tertinggi 50%. Kemudian setelah dilakukan Bimtek mengalami peningkatan pemahaman tertinggi pada materi persiapan kolam mencapai 100% sedangkan terendah  pada materi mengenai pakan sebesar 80%. Hasil pengabdian ini penting artinya bagi perkembangan budidaya perikanan pada umumnya dan peningkatan pendapatan bagi kelompok mitra. Technical Guidance for Freshwater Fish Cultivation at the "Balesemi" Community Self-Help Group in Bakalan Village, Pasuruan Regency Abstract Bakalan Village is located in Purwosari District, Pasuruan Regency, has the potential of an area crossed by a river with abundant water, so it is used to irrigate plants and raise fish including tilapia, tombro or catfish. One of the problems faced is that freshwater fisheries cultivation technology is underdeveloped, knowledge about fisheries is still quite low, and the use of production tools and infrastructure is still simple. The low knowledge of technology in cultivation causes production activities not to run continuously. The activity partner is the Community Self-Help Group (KSM) "Balesemi" in Bakalan Village. This activity aims to improve the knowledge and skills of partner groups in order to maintain production continuity by implementing tarpaulin pond technology as a cultivation medium. Activities start from the preparation stage, socialization, implementation to mentoring. The preparation stage is by means of surveys and interviews, approaching and identifying problems, and discussing together about solving problems. The implementation stages of the Technical Guidance include: 1) Preparation of ponds, 2) Selection of seeds, 3) Spreading seeds, 4) Selection of quality feed; 5) How to harvest and post-harvest. The next solution is to provide assistance in the form of tarpaulin pools that can be used for better fish farming. Evaluation of success is carried out through survey results and questionnaires. The survey results showed that the increase in participants' understanding before the Technical Guidance on the material was in the range of the lowest 25% and the highest percentage of understanding was 50%. Then after the Technical Guidance was carried out, there was the highest increase in understanding in the material on pond preparation reaching 100% while the lowest was in the material on feed at 80%. The results of this service are important for the development of fisheries cultivation in general and increasing income for partner groups.
Pengembangan Diversifikasi Pangan Melalui Pengolahan Keripik Komak Sebagai Camilan Sehat Dewi, Ika Nurani; Primawati, Sri Nopita; Putra, Guyup Mahardian Dwi; Sukri, Akhmad
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2199

Abstract

Salah satu potensi hasil pertanian lokal di Pulau Lombok adalah kacang komak. Secara ekonomi kacang komak sangat berpotensi sebagai sumber protein nabati. sehingga kacang komak dapat menjadi alternatif substitusi kedelai dalam pembuatan tempe. Namun saat ini, pengolahan  kacang-kacangan menjadi pangan fungsional sebagai sumber protein alternatif dan produk yang   bernilai ekonomi tinggi masih sangat kurang. Permasalahan lainnya yang terjadi di masyarakat (mitra) adalah proses produksi tempe masih tergantung pada pasokan bahan baku kedelai. Tujuan dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah: (1) meningkatkan pengetahuan mitra tentang diversifikasi pangan lokal kacang komak sebagai pengganti kedelai, (2) mengembangkan inovasi produk dengan variasi yang berbeda yaitu keripik tempe komak dan (3) meningkatkan keterampilan dalam menggunakan teknologi pembuatan keripik tempe komak, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini dilakukan pada sentra industri tempe di lingkungan Abian Kelurahan Pejeruk Ampenan kota Mataram pada bulan Juli-Oktober 2024. Metode yang digunakan meliputi ceramah dan demonstrasi pelatihan pembuatan tempe komak. Berdasarkan hasil pretest sebesar 17% dan postest sebesar 93% diketahui ada peningkatan  pengetahuan dan pemahaman peserta terkait pengolahan kacang komak. Selain itu, 90% peserta juga menyampaikan minat untuk mengembangkan produk tempe komak lebih lanjut. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan tersebut efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, serta berpotensi mendorong pemberdayaan ekonomi melalui usaha berbasis bahan pangan lokal. Development of Food Diversification Through Processing Komak Chips as a Healthy Snack Abstract One of the potential local agricultural products on Lombok Island is komak beans. Economically, komak beans have great potential as a source of vegetable protein. so that komak beans can be an alternative substitute for soybeans in making tempeh. However, currently, the processing of nuts into functional food as an alternative protein source and product with high economic value is still very lacking. Another problem that occurs in the community (partners) is that the tempeh production process still depends on the supply of soybean raw materials. The objectives of this community service activity are: (1) increasing partners' knowledge about local food diversification of komak beans as a substitute for soybeans, (2) developing product innovation with different variations, namely komak tempe chips and (3) increasing skills in using chip making technology tempe komak, as well as improving community welfare. This activity was carried out at the tempe industrial center in the Abian area, Pejeruk Ampenan subdistrict, Mataram city in July-October 2024. The methods used included lectures and Training demonstrattions on making tempe komak. Based on the pretest resultan of 17% and posttest of 93%, it is known that there has Een an increase in participants in participants knowledge and understanding regarding the procssing of komak nuts. A parit krom that, 90% of pasticipants also expressed Intertest in developing tempe komak Products further. These resultan Shaw that the Training is effective in increasing particioants knowledge and skills, and has the potential to encourage economic empowerment through local Food-based businesses.
Penerapan Teknologi Nano Ekstrak Meniran pada Pakan dan Manajemen Pemeliharaan untuk Meningkatkan Kemandirian Ekonomi Kelompok Ternak Kambing dan Domba di Desa Sepande, Sidoarjo Hidanah, Sri; Sabdoningrum, Emy Koestanti; Yudaniayanti, Ira Sari; Fitriyah, Hadiah; Miarsono, Sigit; Warsito, Sunaryo Hadi; Lamid, Mirni; Lokapirnasari, Widya Paramita; Arif, Mohammad Anam Al; Rosyada, Zulfi Nur Amrina
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2201

Abstract

Tujuan dari program ini adalah meningkatkan produktivitas ternak kambing dan domba melalui penerapan teknologi complete feed dengan penambahan feed additive nanopartikel ekstrak meniran (Phyllanthus niruri). Masalah utama yang dihadapi oleh peternak di Desa Sepande adalah rendahnya produktivitas ternak akibat pengelolaan pakan yang masih tradisional dan kurangnya pemahaman tentang ransum pakan yang tepat. Metode yang digunakan dalam program ini meliputi penyuluhan, pelatihan, dan evaluasi dengan menggunakan teknologi complete feed berbasis nanopartikel. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan bobot harian ternak kambing dan domba yang lebih spesifik, yaitu dari 0,3 kg/hari menjadi 0,5 kg/hari, yang menunjukkan kenaikan sebesar 66,7%. Evaluasi post-test juga mengungkapkan bahwa 90% peternak menyatakan akan melanjutkan penggunaan teknologi ini. Peningkatan produktivitas ternak berdampak langsung pada peningkatan pendapatan peternak hingga 30%. Program ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dengan mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di sektor peternakan. Dengan adopsi teknologi ini, peternak mampu meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan. Application of Nano Meniran Extract Technology in Feed and Management Practices to Enhance Economic Independence of Goat and Sheep Farmers in Sepande Village, Sidoarjo Abstract The purpose of this program is to increase the productivity of goats and sheep through the application of complete feed technology with the addition of nanoparticle feed additive of meniran extract (Phyllanthus niruri). The main problem faced by farmers in Sepande Village is the low productivity of livestock due to traditional feed management and lack of understanding of the right feed ration. The methods used in this program include counseling, training, and evaluation using nanoparticle-based complete feed technology. The results obtained showed a more specific increase in the daily weight of goats and sheep, from 0.3 kg/day to 0.5 kg/day, which showed an increase of 66.7%. The post-test evaluation also revealed that 90% of farmers stated that they would continue using this technology. The increase in livestock productivity has a direct impact on increasing farmers' income by up to 30%. This program contributes to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), specifically SDG 2 (No Hunger) and SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), by supporting food security and inclusive economic growth in the livestock sector. With the adoption of this technology, farmers are able to significantly increase their income.
Aksi Lingkungan: Praktek Membuat Ecobrick di Sekolah Dasar Ardiansari, Lia; Arista, Hermin; Rahma, Ary Analisa; Swari, Utami Ratna
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2211

Abstract

Kegiatan "Aksi Lingkungan: Praktek Membuat Ecobrick di Sekolah Dasar" adalah inisiatif edukatif yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan siswa Sekolah Dasar, khususnya kelas 2. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada konsep ecobrick sebagai solusi inovatif dalam pengelolaan sampah plastik. Kegiatan ini melibatkan 26 siswa, yang tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam membuat ecobrick dari sampah plastik yang mereka kumpulkan. Proses ini mencakup pengenalan konsep, demonstrasi pembuatan, dan sesi praktek kelompok. Selain itu, terdapat 2 guru pendamping yang berperan aktif dalam membimbing siswa selama proses pembuatan, serta memastikan setiap siswa memahami dan menguasai teknik yang diajarkan. Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali siswa dengan keterampilan praktis dalam mendaur ulang plastik, meningkatkan pemahaman mereka tentang dampak negatif sampah plastik, serta mendorong sikap proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Setelah sesi edukasi dan praktek pembuatan ecobrick, hasil post-test menunjukkan peningkatan yang sangat mencolok, yaitu sekitar 85% siswa dapat menjawab dengan benar tentang langkah-langkah pembuatan ecobrick dan 90% memahami manfaat ecobrick bagi lingkungan. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang diajarkan, tetapi juga menunjukkan efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan ini. Environmental Action: Ecobrick Making Practice in Elementary School Abstract The "Environmental Action: Ecobrick Making Practice in Elementary School" activity is an educational initiative designed to raise environmental awareness among elementary school students, especially grade 2. Through this activity, students are introduced to the concept of ecobricks as an innovative solution in managing plastic waste. This activity involves 26 students, who not only learn the theory, but also gain hands-on experience in making ecobricks from the plastic waste they collect. This process includes an introduction to the concept, a demonstration of making, and a group practice session. In addition, there are 2 accompanying teachers who play an active role in guiding students during the making process, as well as ensuring that each student understands and masters the techniques taught. The main objectives of this activity are to equip students with practical skills in recycling plastic, increase their understanding of the negative impacts of plastic waste, and encourage a proactive attitude in maintaining environmental cleanliness. After the educational session and practice of making ecobricks, the post-test results showed a very striking increase, namely around 85% of students were able to answer correctly about the steps for making ecobricks and 90% understood the benefits of ecobricks for the environment. This improvement not only reflects a better understanding of the material taught, but also shows the effectiveness of the learning methods applied in this activity.
Pendampingan Pengisian SJPH Melalui Digitalisasi dan Registrasi Sihalal Bagi UMKM Desa Wisata Hijau Bilebante Kabupaten Lombok Tengah Purwati, Duwi; Mulianah, Baiq; Rusdan, Rusdan; Ardiansyah, Ardiansyah; Agustian, Edwin; Sari, Baiq Mustika; Hidayani, Sari
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2219

Abstract

Tujuan sertifikasi halal pada dasarnya untuk melindungi hak-hak konsumen dalam hal ini konsumen muslim. Adanya Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, tentunya mendorong para pelaku industri pangan dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pangan untuk segera mendaftarkan produknya mendapatkan sertifikat halal. Desa Bilebante sebagai salah satu desa wisata yang sudah masuk kategori Maju dan berada di Kabupaten Lombok Tengah menunjukkan bahwa minat pelaku UMKM untuk mengajukan sertifikasi halal masih rendah. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk 1) Memberikan pendampingan bagi kelompok UMKM berdasarkan kriteria pengajuan sebagai akselerasi sertifikat halal produk di Desa Wisata Halal Bilebante. 2) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku umkm dengan memberikan edukasi pengisian SJPH melalui digitalisasi dan registrasi Sihalal. 3) Menyediakan materi KIE terkait pelaksaanaan praktek digitalisasi untuk pengembangan produk umkm baik dari segi legalitasi produk (menyusun SJPH) maupun kualitas produk terutama di bagian packaging dan branding. Hasil pengabdian ini menunjukkan 100% UMKM yang menjadi responden sudah memiliki legalitas usaha yaitu NIB dan sertifikat halal. Setiap pelaku UMKM diberikan fasilitasi kemasan yang menarik dan alat pemasaran berupa website UMKM Desa Bilebante sehingga memudahkan untuk melakukan pemasaran yang lebih luas. Selain itu, pemahaman UMKM terkait kehalalan produk meningkat dengan adanya kebijakan halal. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian dinyatakan efektif dalam proses pendampingan UMKM untuk mendapatkan sertifikat halal. Assistance in Filling Out SJPH Through Digitization and Sihalal Registration for SMEs in the Green Tourism Village of Bilebante, Central Lombok Regency Abstract The primary goal of halal certification is to protect the rights of consumers, particularly Muslim consumers. The enactment of Law No. 33 of 2014 concerning Halal Product Assurance encourages food industry players and small and medium enterprises (SMEs) in the food sector to promptly register their products for halal certification. Bilebante Village, recognized as an advanced tourism village in Central Lombok Regency, exhibits a low interest among SME operators in applying for halal certification. This community service program aims to: (1) Provide assistance to SME groups based on application criteria to accelerate halal product certification in the Halal Tourism Village of Bilebante. (2) Enhance the knowledge and skills of SME operators by providing education on filling out SJPH (Halal Product Assurance System) through digitization and Sihalal registration. (3) Provide communication, information, and education (CIE) materials related to the implementation of digitalization practices for SME product development, focusing on product legality (preparing SJPH) and product quality, particularly in packaging and branding. The results of this program indicate that 100% of SMEs involved as respondents have obtained business legality, including Business Identification Numbers (NIB) and halal certificates. Each SME operator received attractive packaging assistance and marketing tools in the form of a website for Bilebante Village SMEs, facilitating broader marketing opportunities. Additionally, SME understanding of product halalness improved with the implementation of halal policies. This demonstrates that the community service program was effective in assisting SMEs in obtaining halal certification.
Sosialisasi dan Bimtek Pembuatan Biosaka untuk Tanaman Pakcoy di Dusun Montong Lauq, Desa Selat, Narmada Azizah, Isnaniar Rahmatul; Susilowati, Lolita Endang; Arifin, Zaenal; Jaya, Dori Kusuma
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2221

Abstract

Desa Selat adalah salah satu desa utama penghasil beras di Kecamatan Narmada menghadapi berbagai tantangan seperti produktivitas tanaman dan ketergantungan pada pupuk kimia. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) memperkenalkan Biosaka sebagai inovasi berbasis bahan baku lokal untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen tanaman bagi petani di Dusun Montong Lauq, Desa Selat, Kecamatan Narmada. Metode pengumpulan data melibatkan wawancara partisipatif dan observasi langsung di lapangan. Pelatihan mencakup diskusi kelompok, praktek pembuatan Biosaka, dan evaluasi. Kegiatan ini melibatkan 23 anggota kelompok tani “Pamansam” Dusun Montong Lauq. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum pelatihan, 47% petani memiliki pemahaman sangat rendah tentang Biosaka, dan hanya 3% yang sangat baik. Setelah pelatihan, hasil post-test menunjukkan 36% petani kini memahami Biosaka dengan sangat baik, 37% baik, dan hanya 9% yang tetap pada pemahaman rendah. Peningkatan ini menunjukkan keberhasilan kegiatan PkM dalam meningkatkan pengetahuan petani.  Socialization and Training on Biosaka Production for Pakcoy Plants in Montong Lauq, Selat Village, Narmada Abstract Selat Village is one of the primary rice-producing villages in the Narmada District, facing various challenges such as crop productivity and reliance on chemical fertilizers. The Community Service Program (PkM) introduced Biosaka as an innovation based on local raw materials to enhance plant growth and yields for farmers in Montong Lauq Hamlet, Selat Village, Narmada District. Data collection methods included participatory interviews and direct field observations. The training comprised group discussions, practical Biosaka production, and evaluations, involving 23 members of the "Pamansam" farmer group. Results indicated that prior to training, 47% of farmers had a very low understanding of Biosaka, with only 3% demonstrating a very good understanding. Post-training, the results showed that 36% of farmers now understood Biosaka very well, 37% well, and only 9% remained at a low understanding level. This improvement demonstrates the success of the PkM program in enhancing farmers' knowledge.