Proceeding of International Conference on Cultures & Languages
The International Conference on Cultures & Languages (ICCL) provides an interdisciplinary forum for scholars, researchers, educators, practitioners, and cultural professionals to examine the dynamic relationships between language, culture, society, identity, knowledge, and technological transformation. The conference welcomes theoretical, empirical, comparative, and interdisciplinary studies that explore how languages and cultures evolve, interact, and contribute to addressing contemporary global challenges. Its scope encompasses research on language and linguistics, literature and cultural studies, language education and pedagogy, translation and interpreting, communication and media, cultural heritage and preservation, anthropology and society, intercultural communication, digital humanities and emerging technologies, globalization and cultural diversity, religious and cultural traditions, creative industries and the arts, multilingualism, migration and identity, indigenous and local knowledge, and language and culture in sustainable development. The conference also encourages innovative research connecting language and cultural studies with education, technology, social transformation, environmental sustainability, and global citizenship. Through interdisciplinary dialogue and international collaboration, ICCL seeks to advance new perspectives on how language and culture can foster mutual understanding, cultural resilience, inclusive knowledge production, and sustainable global communities.
Articles
1 Documents
Search results for
, issue
"840-863"
:
1 Documents
clear
Intoleransi Beragama di Media Sosial: Analisis Narasi Hoaks dan Interaksi Netizen
Anita Sartika;
Wahyu Hidayat
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 840-863
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/x6qedb88
Hoaks adalah ancaman bagi toleransi beragama, khususnya hoaks yang berkaitan dengan isu agama. Hoaks terkait agama sangat berbahaya karena sifatnya yang lebih sensitif. Hoaks ini biasanya mengunggulkan agama sendiri dan menyerang paham atau agama yang berseberangan. Selain itu, hoaks terkait agama juga biasa menyajikan petunjuk yang keliru, kesalahan dalam menginterpretasikan ayat Al-Qur’an, menghadirkan ketakutan dan membangkitkan emosional, serta mengatasnamakan otoritas agama. Di Indonesia, hoaks terkait agama (dalam hal ini SARA) menduduki posisi ke-dua sebagai hoaks paling banyak tersebar setelah politik di tingkat pertama. Di sisi lain, netizen Indonesia juga dikenal sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara karena tingginya risiko terpapar hoaks, ujaran kebencian, dan diskriminasi (Microsoft, 2020). Oleh karena itu, untuk meneguhkan toleransi beragama di masa pasca-pandemi, maka perhatian dan usaha ekstra perlu dilakukan dalam menangkal hoaks terkait agama. Artikel ini bertujuan menganalisis keterkaitan hoaks terkait agama dan intoleransi beragama. Rumusan masalah artikel ini adalah; pertama, bagaimana perbedaan agama dinarasikan dalam hoaks? Kedua, bagaimana interaksi netizen menyikapi hoaks tersebut? Artikel ini menggunakan metode Analisis Media Siber, yakni menganalisis pada level ruang media, level dokumen media, level objek media, dan level pengalaman. Adapun objek penelitian artikel ini adalah hoaks terkait Covid-19 dan Islam di masa awal pandemi Covid-19 (Januari-Maret 2020. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperjelas keterkaitan hoaks agama dengan intoleransi beragama di media sosial.