Proceeding of International Conference on Cultures & Languages
The International Conference on Cultures & Languages (ICCL) provides an interdisciplinary forum for scholars, researchers, educators, practitioners, and cultural professionals to examine the dynamic relationships between language, culture, society, identity, knowledge, and technological transformation. The conference welcomes theoretical, empirical, comparative, and interdisciplinary studies that explore how languages and cultures evolve, interact, and contribute to addressing contemporary global challenges. Its scope encompasses research on language and linguistics, literature and cultural studies, language education and pedagogy, translation and interpreting, communication and media, cultural heritage and preservation, anthropology and society, intercultural communication, digital humanities and emerging technologies, globalization and cultural diversity, religious and cultural traditions, creative industries and the arts, multilingualism, migration and identity, indigenous and local knowledge, and language and culture in sustainable development. The conference also encourages innovative research connecting language and cultural studies with education, technology, social transformation, environmental sustainability, and global citizenship. Through interdisciplinary dialogue and international collaboration, ICCL seeks to advance new perspectives on how language and culture can foster mutual understanding, cultural resilience, inclusive knowledge production, and sustainable global communities.
Articles
1 Documents
Search results for
, issue
"595-610"
:
1 Documents
clear
MENOLAK SYUBHAT: SEMANGAT TOLERANSI BERAGAMA DALAM DISKURSUS KONVERSI AGAMA LITERATUR FIKIH KLASIK
Saifir Rohman
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 595-610
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/bbh11335
Intoleransi beragama di Indonesia kembali menguat seiring Pandemi Covid-19. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah tindakan pelanggaran KKB dibandingkan tahun sebelumnya. Keadaan ini tentu mengindikasikan urgensi penguatan toleransi beragam di tengah-tengah masyarakat kita. Salah satu yang disinyalir menjadi faktor penyebab intoleransi adalah pemahaman terhadap sumber ajaran keagamaan itu sendiri. Di sinilah literatur fikih klasik sebagai produk pemahaman terhadap sumber-sumber keislaman – yang notabene banyak menjadi rujukan umat Islam – kerap dituding mewariskan pandangan yang intoleran. Terutama pada kasus-kasus yang beririsan dengan inti agama (akidah). Benarkah literatur fikih klasik telah mewariskan pandangan intoleran? Guna menjawab kesangsian (syubhat) ini, studi ini akan bertolak dari isu konversi agama (riddah) sebagai salah satu topik penting dalam pembahasan toleransi dan kebebasan beragama dalam Islam. Mula-mula studi ini hendak mengungkap bagaimana semangat toleransi beragama dalam diskursus konversi agama literatur fikih klasik serta implikasinya terhadap toleransi beragama dalam konteks keindonesiaan. Penelitian pustaka ini menyimpulkan, semangat toleransi beragama sejatinya telah terkandung dalam diskursus literatur fikih klasik mengenai hukuman mati bagi pelaku konversi agama. Implikasinya, pandangan ini tampak sangat potensial untuk dikembangkan dan didayagunakan sebagai alat rekayasa sosial guna mewujudkan masyarakat yang toleran. Secara simultan, pandangan ini telah membuktikan, tuduhan bahwa literatur fikih klasik mewariskan paham intoleran adalah klaim yang tidak berdasar.