Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : BAPALA

REPRESENTASI KEBUDAYAAN BALI DALAM NOVEL "DI BAWAH LANGIT YANG SAMA" KARYA HELGA RIF (KAJIAN INTERPRETATIF SIMBOLIK CLIFFORD GEERTZ) DWI LESTARI, ANNA; INDARTI, TITIK
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini mendeskripsikan rencana-rencana masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif, resep-resep masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif, aturan-aturan masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif, dan instruksi-instruksi masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan antropologis. Sumber data dalam penelitian ini berupa novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu unit-unit teks yang berhubungan dengan rencana, resep, aturan, dan instruksi masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah baca catat, sedangkan analisis data menggunakan metode hermeneutik. Hasil penelitian ini adalah (1) rencana-rencana masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif terdiri atas dua hal, yaitu perjodohan dan menjadi desainer. Dua hal tersebut direncanakan terlebih dahulu oleh masyarakat Bali agar kehidupan mereka berjalan dengan baik. (2) Resep-resep masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif terdiri atas lima hal, yaitu berpakaian, menamai keturunan, bersembahyang, merawat jenazah, dan melayat. Resep-resep tersebut digunakan oleh masyarakat Bali sebagai bentuk budaya yang ditanamkan sesuai dengan adat. (3) Aturan-aturan masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif terdiri atas lima hal, yaitu menentukan hari baik, upacara matur piuning, upacara ngaben, perkawinan, dan mengurus merajan. Aturan-aturan tersebut dilakukan oleh masyarakat Bali untuk memenuhi adat dan kebudayaan yang telah mengakar dalam kehidupan mereka agar bisa hidup dengan keharmonisan. (4) Instruksi-instruksi masyarakat Bali yang terepresentasi dalam novel Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif ditunjukkan melalui dua cara penyampaian, yaitu berdasarkan moral dan intelektual dan berdasarkan paksaan. Kata Kunci: interpretatif simbolik, rencana, resep, aturan, dan instruksi.
IDENTITAS INKOHEREN DALAM NOVEL TABULA RASA" KARYA RATIH KUMALA (KAJIAN TEORI QUEER JUDITH BUTLER) AISSATHU ROHMAH, MARSYA; INDARTI, TITIK
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Novel Tabula Rasa menceritakan perubahan identitas diri tokoh dalam novel. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kehidupan pada masa lalu yang kurang baik. Sebagai perempuan, identitas dirinya telah berubah menjadi seorang lesbian. Menjadi lesbian berarti seorang perempuan tidak lagi memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis dan lebih tertarik pada sesama jenis. Tujuan penelitian ini yakni untuk mendeskripsikan 1) performativitas perbincangan lesbian tokoh Raras dalam novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala, 2) performativitas penampilandan fisik tokoh Raras dalam novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala, 3) performativitas aktivitas seksual tokoh Raras dalam novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Queer Judith Butler yang mengatakan bahwa identitas seseorang tidak tetap. Identitas merupakan hasil dari sebuah tindakan yang dapat ditandai dengan performativitas perbincangan lesbian, performativitas penampilan dan fisik, performativitas aktivitas seksual. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tertulis berupa novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni teknik baca dan catat. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan kredibilitas yang terdiri atas perpanjangan pengamatan dan analisis kasus negatif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diperoleh simpulan yakni pertama, performativitas perbincangan lesbian tokoh Raras dalam novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala ditemukan kesadaran dan pengakuan diri yang dilakukan tokoh Raras. Kedua, performativitas penampilan dan fisik tokoh Raras dalam novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala ditemukan penampilan dan sikap lesbian. Ketiga, performativitas aktivitas seksual tokoh Raras dalam novel Tabula Rasa karya Ratih Kumala ditemukan angan-angan seksual lesbian dan perlakuan seksual lesbian. Kata kunci: identitas, inkoheren, dan teori Queer
INTERAKSI SOSIAL DALAM NOVEL "TANJUNG KEMARAU" KARYA ROYYAN JULIAN (KAJIAN TEORI GEORG SIMMEL) NADIRA, AINUN; INDARTI, TITIK
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, hakikat manusia sebagai makhluk sosial seharusnya dapat berinteraksi dengan baik. Kedua, novel Tanjung Kemarau karya Royyan Julian menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat Madura dengan segala seluk beluknya, misalnya pertukaran, konflik, prostitusi dan sosiabilitas yang ada di masyarakat Madura tersebut. Kisah dalam novel ini didominasi oleh fenomena interaksi sosial. Karena itu, digunakan teori interkasi sosial milik Georg Simmel. Tujuan yang terdapat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Mendeskripsikan pertukaran dalam novel Tanjung Kemarau karya Royyan Julian. (2) Mendeskripsikan konflik dalam novel Tanjung Kemarau karya Royyan Julian. (3) Mendeskripsikan prostitusi dalam novel Tanjung Kemarau karya Royyan Julian. (4) Mendeskripsikan sosiabilitas dalam novel Tanjung Kemarau karya Royyan Julian. Penelitian ini menggunakan teori milik Georg Simmel yang beranggapan bahwa sosiologi sebagai ilmu pengetahuan harus memiliki tujuan mendeskripsikan, mengklasifikasikan, menganalisis, dan melakukan penyelidikan tentang bentuk hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Salah satu teori yang terkenal dari Georg Simmel adalah teori interaksi. Menurut Simmel, masyarakat dapat terbentuk karena keberadaan interaksi, bukan hanya berisi orang-orang yang diam, tidak ada interaksi sama sekali. Simmel juga tidak mementingkan berapa jumlah orang yang berinteraksi, yang terpenting hanya ada interaksi di dalamnya. Berdasarkan teori Simmel, terdapat empat konsep mengenai interaksi sosial yang digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra, hal tersebut meliputi 1) pertukaran, 2) konflik, 3) prostitusi, dan 4) sosiabilitas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif. Pendekatan objektif yang dimaksudkan di sini adalah pendekatan yang memusatkan perhatiannya ke dalam unsur-unsur pembangun dalam karya sastra atau yang lebih dikenal dengan istilah analisis intrinsik. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Tanjung Kemarau karya Royyan Julian sedangkan data penelitiannya berupa unit-unit teks yang berhubungan dengan keempat rumusan masalah yang merupakan konsep interaksi sosial menurut Georg Simmel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah baca catat, teknik baca catat digunakan untuk memperoleh data melalui membaca teks yang menjadi sumber data penelitian, kemudian mencatat data yang sesuai dengan keempat konsep interaksi sosial milik Georg Simmel. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalan teknik deskripstif analitis. Teknik deskriptif analitis ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi data yang dilanjutkan dengan menganalisis data. Hasil dari penelitian ini adalah temuan interaksi sosial dalam novel Tanjung Kemarau karya Royyan Julian berdasarkan teori interaksi sosial milik Gerog Simmel yang memiliki empat konsep: 1) ditemukan 13 bukti data pertukaran, 2) ditemukan 16 bukti data konflik, 3) ditemukan 7 bukti data prostitusi, dan 4) ditemukan 6 bukti data sosiabilitas.Kata kunci: Interaksi Sosial, Pertukaran, Konflik, Prostitusi, Sosiabilitas
REPRESENTASI JARINGAN DALAM NOVEL "NADIRA" KARYA LEILA S. CHUDORI (KAJIAN TEORI JARINGAN-AKTOR MICHEL CALLON) WULANDARI, INDRIA; INDARTI, TITIK
BAPALA Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : BAPALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan Nadira banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh dan menempati posisi penting dalam cerita karena ketokohannya mendominasi pusat penceritaan dalam novel. Hal tersebut memunculkan sebuah kesatuan kisah yang saling berkelindan secara fungsional seperti sebuah jaringan. Kemenjadian jaringan tersebut dapat diteliti dengan Teori Jaringan-Aktor (TJA) Michel Callon. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mendeskripsikan aktor; aktan; translasi yang meliputi momen problematisasi, penarikan, pelibatan, dan mobilisasi; intermediari, dan representasi jaringan. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan objektif karena bertumpu pada sumber data novel Nadira karya Leila S. Chudori cetakan kedua, Februari 2017, secara keseluruhan. Data dikumpulkan dengan teknik baca sesuai dengan konsep TJA. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis?deskriptif. Agar data yang diperoleh dan dianalisis absah, maka peneliti memerpanjang pengamatan dan meningkatkan ketekunan untuk meningkatkan tingkat keterpercayaan penelitian. Simpulan penelitian ini, yaitu pertama, aktor yang membentuk jaringan ada dua puluh dua. Kedua, aktan dalam jaringan adalah Nadira. Ketiga, proses translasi dapat dilihat dari (1) momen problematisasi, yaitu pencarian alasan kematian ibu Nadira; (2) momen penarikan, ditandai dengan kemunculan respons terhadap kematian ibu Nadira; (3) momen pelibatan, keterkaitan konflik-konflik, yaitu Nadira dengan keluarga, majalah Tera, Bapak X, Tito, dan Niko; dan (4) momen mobilisasi, yaitu hubungan Nadira dengan Tara sebagai sebuah penyelesaian. Keempat, intermediari dalam jaringan adalah Tara. Kelima, kemenjadian jaringan aktor-Nadira terbentuk karena adanya sebuah kausalitas antara inisiasi konflik, yaitu alasan kematian ibu Nadira, Kemala, dengan kehidupan yang dijalani anak-anaknya, khususnya Nadira yang selanjutnya menjadi konflik-konflik saling terkait.Kata Kunci: TAJ, Novel Nadira, representasi jaringan aktor.