Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Representasi Budaya Sasak dalam Begawe Pati di Kecamatan Batukliang Utara: Kajian Antropolinguistik Dewi Hafidayanti; Muhammad Sukri; Saharudin
Teaching and Learning Journal of Mandalika (Teacher) e- ISSN 2721-9666 Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/teacher.v5i2.3434

Abstract

The ritual of begawe pati 'feast for the dead' in Batukliang Utara District as a form of farewell carried out by living relatives towards the deceased. In the begawe pati there are many linguistic lingual units used to mark the language in begawe pati. The purpose of this study was to determine the lingual units contained in begawe pati in Batukliang District. This study is a qualitative descriptive study. This study uses observation, interview, and documentation methods with note- taking techniques. The results of this study found that the lingual units related to begawe pati with the order of lingual units in the form of words, lingual units in the form of verbs, lingual units in the form of phrases, and lingual units in the form of clauses. Meanwhile, from the cultural perspective on begawe pati, the local community views begawe pati as a series of events in the Sasak traditional death ceremony which in ancient times was a form of respect for the deceased so that they would be calm on their journey to the next world, in addition so that the bereaved family could sincerely let go of the deceased. The community believes that the rituals contained in begawe pati are worthy of being passed on to their successors because they do not harm others and insult the teachings of Islam.
Konsep Ruang dan Waktu dalam Bahasa Sasak Dialek A-E di Lombok Tengah Kurnia Kasih, Mitha; Mahsun; Saharudin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v6i2.5988

Abstract

Persoalan ruang dan waktu adalah dua dimensi yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehingga ditandai dengan bahasa yang sangat rinci. Penelitian ini mendeskripsikan sisi kebahasaan tentang konsep ruang dan waktu dalam Bahasa Sasak (dialek a-e) di dusun Polak Penyayang, Lombok Tengah dan pandangan budaya masyarakatnya. Penyediaan data dilakukan dengan metode simak, cakap, dan introspeksi. Lalu dilakukan reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan secara interaktif. Hasil penelitian menemukan bahwa satuan lingual yang dipakai untuk menandai konsep ruang dan waktu dalam Bahasa Sasak (di Polak Penyayang) berbentuk kata dasar dan berbentuk kata kompleks. Konsep ruang yang termasuk bentuk dasar, yaitu leksikon bat ‘barat’, boloq ‘atas, sumber aliran air’, dereq ‘bawah, arah air mengalir’; sementara bentuk kompleks meliputi leksikon běbat ‘ke arah barat’ dan bětimuq ‘ke arah timur’. Konsep waktu yang termasuk bentuk dasar, yaitu leksikon baruq ‘barusan’, uiq ‘kemarin’, dan laeq ‘dulu’; bentuk kompleks meliputi leksikon baruq kělemaq ‘tadi pagi’, jělo ni ‘hari ini’, dan lemaq aru ‘besok pagi’. Selain itu, ditemukan pula konsep waktu yang dilihat dari tanda-tanda alam dan ritual siklus kehidupan tertentu, seperti leksikon kêtaun ‘musim hujan’, kêbalit ‘musim kemarau’, rorampaq ‘antara musim penghujan dan kemarau’, serta nyiwaq ‘hari kesembilan dari hari kematian’. Adapun pandangan budaya masyarakat setempat terkait konsep ruang dan waktu, seperti konsep ruang boloq ‘atas/tinggi’ yang tidak hanya dipandang sebagai sumber mata air, tetapi sebagai sesuatu yang dimuliakan (sakral) dan ini mengacu pada gunung Rinjani sebagai iněn paer ‘induknya bumi Sasak’. Juga pandangan budaya tentang konsep waktu sêrêp jêlo ‘menjelang matahari terbenam’ sebagai waktu pantangan untuk beraktivitas
Pengaruh Pengetahuan Etika Bisnis Islam dan Religiusitas terhadap Perilaku Pedagang Pakaian: Tinjauan Perspektif Ekonomi Syariah di Desa Kotabaru Keritang, Indragiri Hilir Arya Arwanda; Murah Syahrial; Saharudin
Jurnal Bisnis dan Manajemen (JURBISMAN) Vol. 2 No. 4 (2024): Jurnal Bisnis dan Manajemen (JURBISMAN)
Publisher : Penerbit dan Percetakan CV. Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/jurbisman.v2i4.945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan etika bisnis Islam dan religiusitas terhadap perilaku pedagang pakaian di Desa Kotabaru Keritang Indragiri Hilir dalam perspektif ekonomi syariah. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan total sampling sebanyak 34 pedagang dan pengumpulan data melalui kuesioner, dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh positif dan signifikan dari pengetahuan etika bisnis Islam (X1) dan religiusitas (X2) terhadap perilaku pedagang (Y). Uji F menunjukkan Fhitung=43,691>Ftabel=2,92F_{hitung} = 43,691 > F_{tabel} = 2,92 dengan tingkat signifikan p<0,05p < 0,05. Secara parsial, thitungt_{hitung} untuk X1 adalah 6,323 dan untuk X2 adalah 3,380, keduanya lebih besar dari ttabel=2,039t_{tabel} = 2,039. Koefisien determinasi (R2R^2) sebesar 72,1% menunjukkan bahwa variabel X1 dan X2 memberikan kontribusi besar terhadap Y. Dari perspektif ekonomi syariah, pedagang di desa ini telah menjalankan prinsip jujur dan amanah, mencerminkan kesesuaian dengan nilai-nilai etika bisnis Islam dan religiusitas.
Rancang Bangun Alat Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sebagai Sumber Energi Alternatif Apriadi, Roland; Alham, Nur Rani; Muslimi; Saharudin; Manukallo, Maden Nolis Nani; Callista, Nethania; Cindyani; Zulharfian, Annisa Maharani
SainETIn : Jurnal Sains, Energi, Teknologi, dan Industri Vol. 9 No. 1 (2024): SainETin
Publisher : Teknik Elektro Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/sainetin.v9i1.10267

Abstract

Garbage is waste material that can no longer be used as a result of an activity. Garbage can be used as fuel or a source for a Waste Power Plant (PLTSa). The Waste Power Plant is one of the many generators as alternative energy. The prototype of the Waste Power Plant is a small replication of the renewable energy experiment. This study uses a multimeter as a measuring instrument used to measure the resulting voltage and current. Researchers conducted research on the burning time of each type of waste and the power generated. Burning time is measured at the beginning of burning the waste until the water in the boiler boils. The current and voltage measurements are carried out with a period of the first 10 seconds to the fifth 10 seconds with different types of waste. The average power generated using paper waste is 0.07965 Watt, while the average power generated using plastic waste is 0.0580 Watt.
Pengembangan Media Pembelajaran Teks Eksposisi Berbasis Video Animasi di SMP Negeri 3 Narmada Barmansyah, Muh. Sastrawan; Musaddat, Syaiful; Burhanuddin; Saharudin
Journal of Classroom Action Research Vol. 7 No. SpecialIssue (2025): Maret 2025
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan IPA, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcar.v7iSpecialIssue.10826

Abstract

Persoalan tentang kemampuan menulis teks eksposisi siswa kelas IX SMP Negeri 3 Narmada masih jauh dari harapan. Minat belajar siswa kelas siswa kelas IX SMP Negeri 3 Narmada tergolong rendah dikarenakan oleh salah satunya penggunaan media pembelajaran yang kurang efektif. Oleh karena itu tujuan peneitian ini adalah mengembangankan media pembelajaran yang dirancang untuk bisa meningkatkan kemampuan siswa di dalam menulis teks eksposisi. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis), (Design), (Development), (Implementation), (Evaluate) dalam merancang sebuah media pembelajaran. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode wawancara, metode kepustakaan/dokumentasi, metode obervasi, metode kuesioner dan metode tes. Analisis data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif, kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara bersamaan melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Pada data kuantitatif yaitu, data berupa hasil uji coba media pembelajaran melalui penilaian kuesioner dari validitas ahli, guru Bahasa Indonesia, dan siswa. Hasil penelitian menunjukan penggunaan beberapa metode dalam memperoleh data bisa dikatakan valid, dapat dilihat pada total skor yang diperoleh dari hasil validasi oleh 2 dosen ahli, yaitu pada komponen isi/materi skor yang diperoleh adalah 82, pada komponen bahasa skor yang diperoleh adalah 87,5 , dan pada komponen media skor yang diperoleh adalah 58, dimana skor yang diperoleh dari hasil validasi ahli sudah dinyatakan baik/layak diuji coba dan perlu direvisi. Setelah menggunakan media pembelajaran yang dikembangkan terjadi  peningkatan terhadap nilai pretest dengan rerata 57,83 ke nilai posttest dengan rerata 87,66 dengan hasil perbandingan peresentase yaitu 55% termasuk dalam kategori baik/ layak diuji coba dan perlu direvisi.
Developing English Reading Materials for Eight Grade of Islamic Junior High School Jambi Anggraini, Roza; Saharudin; Wachyunni, Sri
Jurnal Informatika Ekonomi Bisnis Vol. 7, No. 2 (June 2025)
Publisher : SAFE-Network

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37034/infeb.v7i2.1126

Abstract

This research aimed to develop English reading materials as supplementary resources for eighth-grade students at an Islamic junior high school in Jambi. Utilizing the ADDIE model comprising Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation stages the study followed a research and development approach. Data were gathered through expert validations, teacher evaluations, and student try-outs using both qualitative and quantitative methods. The material expert scored the product at 75%, suggesting content restructuring, while the media expert rated it at 94.44%, recommending visual improvements. The one-to-one teacher trial resulted in a 94.64% score, emphasizing pedagogical clarity and linguistic accuracy. Finally, student responses during the small group trial indicated a 90.8% satisfaction level, reflecting positive user engagement. The results confirm the worksheet's validity and effectiveness in enhancing reading skills, making it a relevant and implementable instructional tool in English language learning contexts.
Developing English Reading Materials for Eight Grade of Islamic Junior High School Jambi Anggraini, Roza; Saharudin; Wachyunni, Sri
Jurnal Informatika Ekonomi Bisnis Vol. 7, No. 2 (June 2025)
Publisher : SAFE-Network

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37034/infeb.v7i2.1126

Abstract

This research aimed to develop English reading materials as supplementary resources for eighth-grade students at an Islamic junior high school in Jambi. Utilizing the ADDIE model comprising Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation stages the study followed a research and development approach. Data were gathered through expert validations, teacher evaluations, and student try-outs using both qualitative and quantitative methods. The material expert scored the product at 75%, suggesting content restructuring, while the media expert rated it at 94.44%, recommending visual improvements. The one-to-one teacher trial resulted in a 94.64% score, emphasizing pedagogical clarity and linguistic accuracy. Finally, student responses during the small group trial indicated a 90.8% satisfaction level, reflecting positive user engagement. The results confirm the worksheet's validity and effectiveness in enhancing reading skills, making it a relevant and implementable instructional tool in English language learning contexts.
Istilah-Istilah Kebahasaan Terkait Tradisi Kawin Lari di Bayan Kabupaten Lombok Utara: Language Terms Related to Elopement Traditions in Bayan North Lombok District Putra, Pebi Ramanda; Sukri; Saharudin
Jurnal Bastrindo Vol 5 No 1 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jb.v5i1.1732

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk serta makna yang terkandung dalam bentuk-bentuk kebahasaan yang menandai tradisi kawin lari (memulang) yang ada di desa Loloan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode cakap/wawancara dan simak. Sementara analisis data mengunakan metode padan intralingual dan padan ekstralingual dengan menggunakan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan teknik hubung banding membedakan (HBB). Hasil kajian menemukan bahwa istilah kebahasaan tradisi kawin lari (memulang) terdiri dari kata dan frasa, sementara makna yang tercermin pada istilah kebahasaaan terdiri dari tiga jenis makna, yakni makna leksikal, makna gramatikal, dan makna kultural. Abstract: The aim of this research is to describe the forms and meanings contained in the linguistic forms that mark the tradition of elopement (memulang) in Loloan village, Bayan District, North Lombok Regency. This research is a type of qualitative descriptive research. In this research, the data collection method used was the speaking/interview and listening method. Meanwhile, data analysis uses the intralingual matching and extralingual matching methods by distinguishing between the comparison comparison technique (HBS) and the comparison comparison technique (HBB). The results of the study found that the linguistic term for the tradition of elopement (going home) consists of words and phrases, while the meaning reflected in the linguistic term consists of three types of meaning, namely lexical meaning, grammatical meaning and cultural meaning.
Makna Tindakan Sosial pada Tradisi Sesiru Matak Pade Rau pada Masyarakat Beririjarak Kecamatan Wanasaba Lombok Timur: The Meaning of Social Action in the Sesiru Matak Pade Rau Tradition in the Beririjarak Community East Lombok Apriani, Leni; Saharudin; Qadri, Muh. Syahrul
Jurnal Bastrindo Vol 5 No 1 (2024): Edisi Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jb.v5i1.1735

Abstract

Abstrak: Penelitian ini menjelaskan proses kegiatan penanaman padi sampai dengan panen padi yang ada di Desa Beririjarak, yaitu tradisi sesiru matak pade rau. Sesiru berarti ‘tolong-menolong’, matak ‘panen’, dan pade rau adalah istilah ‘padi huma’. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna tindakan sosial yang terkandung dalam tradisi sesiru matak pade rau di Desa Beririjarak, Lombok Timur dengan metode kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan enam data dalam prosesi tradisi sesiru matak pade rau, yaitu begareng ‘membersihkan ladang’, najuk ‘serangkaian proses penanaman padi’, ngoros-ngoros ‘penutupan lubang padi’, mangar ‘ritual ucapan rasa syukur’, matak ‘panen’, dan nujak ‘penumbukan’. Dengan demikian, makna dari keseluruhan proses tersebut dimaknai sebagai bentuk rasa kesukarelaan, sikap saling tolong-menolong untuk mempererat tali silaturahmi dalam nuansa kebersamaan masyarakat sehingga dapat saling menghargai, menghormati, dan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen padi yang melimpah. Abstract: This research explains the process of rice planting until the rice harvest in Beririjarak Village, namely the sesiru matak pade rau tradition. Sesiru means 'help', matak 'harvest', and pade rau is the term 'huma rice'. The purpose of the research is to find out the meaning of social actions that are sometimes in the tradition of sesiru matak pade rau in Beririjarak Village, East Lombok with a descriptive qualitative approach method. Based on the results of the study, six data were found in the process of the sesiru matak pade rau tradition, namely begareng 'cleaning the field', najuk 'a series of rice planting processes', ngoros-ngoros 'closing the rice hole', mangar 'thanksgiving rituals', and nujak 'pounding'. Thus, meaning the whole process is interpreted as a form of volunteerism, mutual assistance to strengthen the relationship in the nuances of community togetherness so that they can appreciate, respect each other, and as a form of community gratitude for the abundant rice harvest.  
PERBANDINGAN ISTILAH KEKERABATAN DALAM BAHASA SASAK DAN MBOJO: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK Haer, Zuriatin; Fathurrahman; Rizki, Imam; Saharudin
SEBASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 8 No 2 (2025): SeBaSa
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sbs.v8i2.30930

Abstract

This research aims to compare kinship terms in Sasak and Mbojo languages ​​in an anthropolinguistic perspective. The scope of the research includes analyzing the form, function, and meaning of kinship terms used in Sasak and Mbojo language-speaking communities, as well as how social factors such as age, gender, and family relationships influence the use of these terms. This type of research is qualitative descriptive research. The method of data provision in this research is the observation method with the technique of listening to conversation and recording techniques. The research data studied include vocabulary and patterns of kinship greetings from blood relations and marriage relations in Sasak and Mbojo languages. The results of this research is that there are seven levels of kinship terms related to blood relations in the Sasak tribe, while in Mbojo tribe it only reaches the sixth level. In addition, there is a patrilineal system in naming kinship in the Sasak language, such as in the mention of papuq dade ‘grandparents from the father’s line’ and papuq bungkak ‘grandparents from mother’s line’. The naming means that when two people who are still related marry, the grandparents from the male side have more rights over their grandchildren regarding lineage. The child will also follow the greeting or kinship language of the father’s lineage or the lineage of the male family.