Claim Missing Document
Check
Articles

Ideal Model in Law: Journalists and Application in Press Reporting Mustawa Mustawa; Abd. Haris Hamid; Handar Subhandi Bakhtiar; Andi Musran; Asriadi Asriadi; Syukri Masse
Amsir Law Journal Vol 6 No 2 (2025): April
Publisher : Faculty of Law, Institut Ilmu Sosial dan Bisnis Andi Sapada.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36746/alj.v6i2.654

Abstract

The appointment of journalists, especially in the field of legal coverage, is extremely urgent and has a wide- ranging impact on conveying information containing truth values, in order to realize a free and responsible press. The manifestation of this responsibility, however, is not accompanied by a system for the appointment of journalists, leading to the dissemination of information that triggers inaccuracies in news, resulting in legal claims, both criminal and civil. These claims continue to occur, and the number of journalists entangled in legal issues also continues to increase. All of this is caused by laxity, both in Law Number 40 of 1999 and in the Press Council Regulations, which do not regulate the standards for the appointment of the journalistic profession. This laxity has triggered the idea of creating a system for the appointment of legal journalists based on the affirmation of a profession that meets professional standards through an ideal model, the regulation of which lies within a legal framework. ___ References Books with an author: Gant, S. (2007). We're all journalists now: The transformation of the press and reshaping of the law in the internet age, New York: Free Press. Haltom, W., & McCann, M. Distorting the Law: Politics, Media, and the Litigation Crisis, Chicago: The University of Chicago Press. Kolodzy, J. (2006). Convergence journalism: Writing and reporting across the news media. NY: Rowman & Littlefield. Manning, P. (2000). News and news sources: A critical introduction, UK: De Montfort University. McNair, B. (2006). Cultural chaos: journalism and power in a globalised world. London: Routledge. Mustawa. (2020). Hukum Pemberitaan Pers, Sebuah Model Mencegah Kesalahan Berita, Jakarta: Kencana (Prenada Media Grup). Plaisance, P. L. (2013). Media ethics: Key principles for responsible practice, LA: Sage Publications. Waisbord, S. (2013). Reinventing professionalism: Journalism and news in global perspective. UK: Polity Press. Journal articles: Akbar, A., Mannan, K., & Saputra, I. R. (2023). Kajian Yuridis Terhadap Tindakan Pencemaran Nama Baik. Jurnal Litigasi Amsir, 150-156. http://journalstih.amsir.ac.id/index.php/julia/article/view/260 Ambarwati, A., Rahman, S., Qahar, A., & Poernomo, S. L. The Essence of the Principle of Good Faith in the Agreement For The Parties. IOSR Journal of Humanities and Social Science, 27, 36-43. https://doi.org/10.9790/0837-2708063643 Astuti, T., Purwanda, S., Prasisto, J., & Prayudi, P. (2024). PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PEREDARAN OBAT TANPA IZIN EDAR:(Studi Putusan Nomor 1/Pid. Sus/2023/Pn. Pre). Jurnal Hukum Positum, 9(1), 1-16. https://journal.unsika.ac.id/positum/article/view/11132 Balla, H., Jumardin, J., Kasim, A., & Pappa, A. K. (2024). Peran Locus dan Tempus Delicti dalam Menentukan Kompetensi Pengadilan pada Kasus Kejahatan Siber. Jurnal Litigasi Amsir, 11(4), 390-395. https://journalstih.amsir.ac.id/index.php/julia/article/view/564 Djanggih, H., Syam, E. S., & Gunawan, S. (2023). The Prosecutor's Legal Policy In Enacting Restorative Justice On Criminal Case. Russian Law Journal, 11(3), 1349-1357. http://repository.umi.ac.id/2370/ Ettema, J. S. (2007). Journalism as reason-giving: Deliberative democracy, institutional accountability, and the news media's mission. Political Communication, 24(2), 143-160. https://doi.org/10.1080/10584600701312860 Gollmitzer, M. (2023). Journalism ethics with Foucault: Casually employed journalists’ constructions of professional integrity. Journalism, 24(5), 1015-1033. https://doi.org/10.1177/14648849211036301 Kasim, A., Suhariyanto, D., Ramdhani, W., Rahim, E. I., & Danial, D. (2024). Scenarios For Limiting The Veto of Permanent Members Of The United Nations Security Council. Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum, 23(1), 499-517. https://jurnal.unikal.ac.id/index.php/hk/article/view/4163 Mustawa, M. (2019). Journalist Competence in Applying the Presumption of Innocence Principle on Press Release. Amsir Law Journal, 1(1), 36-42. https://doi.org/10.36746/alj.v1i1.20
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KERUGIAN AKIBAT HEWAN PELIHARAAN: ANALISIS DI KABUPATEN MUNA BARAT Arjunasat Dariatno; Baso Madiong; Abd. Haris Hamid
Clavia Vol. 23 No. 2 (2025): Clavia : Journal of Law, Agustus 2025
Publisher : Faculty Of Law Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/clavia.v23i2.8770

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk tanggung jawab hukum pemilik hewan peliharaan terhadap kerugian yang ditimbulkan, mengidentifikasi faktor penghambat pelaksanaan tanggung jawab tersebut, serta menjelaskan mekanisme penyelesaian sengketa akibat hewan peliharaan di Kabupaten Muna Barat. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis-empiris dengan metode kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pemilik hewan, masyarakat yang dirugikan, dan aparat desa, sedangkan data sekunder bersumber dari peraturan perundang-undangan, literatur, dan dokumen pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab pemilik hewan sebagian besar masih bersifat moral dan sosial, belum sepenuhnya mengacu pada ketentuan hukum tertulis. Hambatan utama meliputi ketiadaan peraturan daerah khusus, rendahnya sosialisasi hukum, dan lemahnya pengawasan terhadap hewan peliharaan. Penyelesaian sengketa umumnya dilakukan melalui mediasi di tingkat desa dengan mengedepankan prinsip kekeluargaan. Disarankan adanya regulasi daerah dan peningkatan edukasi hukum untuk memperkuat kepastian hukum dan mencegah konflik di masyarakat. This study aims to analyse the form of legal responsibility of pet owners for losses caused, identify factors inhibiting the implementation of these responsibilities, and explain the dispute resolution mechanism due to pets in West Muna Regency. The research uses a juridical-empirical approach with a qualitative method. Primary data was obtained through interviews with animal owners, aggrieved communities, and village officials, while secondary data was sourced from legislation, literature, and supporting documents. The results showed that the responsibility of animal owners is still mostly moral and social, not fully referring to the provisions of written law. The main obstacles include the absence of specific local regulations, low socialisation of the law, and weak supervision of pets. Dispute resolution is generally done through mediation at the village level by prioritising family principles. Regional regulations and increased legal education are recommended to strengthen legal certainty and prevent conflict in the community.
WANPRESTASI KONSUMEN DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN: STUDI KASUS PT. MEGA FINANCE MAKASSAR Juli Mardiani; Abd. Haris Hamid; Abdurrifai Abdurrifai
Clavia Vol. 23 No. 3 (2025): Clavia : Journal of Law, Desember 2025
Publisher : Faculty Of Law Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/clavia.v23i3.8777

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme penyelesaian wanprestasi dalam perjanjian pembiayaan konsumen pada PT. Mega Finance Cabang Makassar, serta mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Perjanjian pembiayaan kosumen merupakan perjanjian tidak bernama yang berlandaskan asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam KUH Perdata. Dalam praktiknya, seringkali terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh debitur, baik berupa keterlambatan pembayaran, pelanggaran klausul, hingga pengalihan objek jaminan tanpa persetujuan. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif-empiris dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, studi kepustakaan serta dokumentasi. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa PT. Mega Finance menerapkan penyelesaian melalui pendekatan non-litigasi seperti negosiasi, mediasi, dan eksekusi jaminan fidusia. Namun, hambatan yang dihadapi meliputi kendala hukum, resistensi dari debitur, serta kurangnya pemahaman masyarakat terhadap hak dan kewajiban dalam perjanjian. Penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan sosialisasi hukum dan perbaikan sistem internal perusahaan guna mengoptimalkan proses penyelesaian sengketa pembiayaan. This study aims to analyze the dispute resolution mechanisms for breaches of contract in consumer financing agreements at PT Mega Finance, Makassar Branch, as well as to identify the obstacles encountered during implementation. Consumer financing agreements are innominate contracts based on the principle of freedom of contract as regulated in the Indonesian Civil Code (KUH Perdata). In practice, breaches of contract often occur, such as late payments, violations of contractual clauses, or unauthorized transfer of collateral objects. This research employs a normative-empirical legal method with a descriptive qualitative approach. Data were collected through interviews, literature review, and internal company documentation. The results indicate that PT. Mega Finance implements non-litigation approaches such as negotiation, mediation, and fiduciary collateral execution to resolve disputes. However, several challenges persist, including legal constraints, debtor resistance, and a lack of public understanding regarding their rights and obligations in financing agreements. This study recommends increased legal awareness and improvements to the company's internal systems to enhance dispute resolution effectiveness.
OPTIMALISASI PENGAWASAN DAN STANDAR PELAYANAN APOTEKER DALAM PENGELOLAAN APOTEK DI KABUPATEN GOWA Nurnaeni Ahmad; Abd. Haris Hamid; Waspada Santing
Clavia Vol. 23 No. 3 (2025): Clavia : Journal of Law, Desember 2025
Publisher : Faculty Of Law Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/clavia.v23i3.8786

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan apoteker dan tanggung jawabnya dalam pengelolaan Apotek di Kabupaten Gowa. Penelitian ini merupakan penelitian normatif- empiris yang menggunakan metode analisis data kualitatif. Penulis menggunakan teknik penelitian berupa studi kepustakaan dengan telaah literatur hukum yang terkait dan pengumpulan data lapangan yang diperoleh melalui wawancara dengan pihak terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan tanggung jawab Apoteker di Kabupaten Gowa belum optimal. Pengawasan terhadap tenaga teknis kefarmasian masih kurang, pengelolaan yang tidak efektif serta ditemukan pelayanan antibiotik tanpa resep. Kondisi ini berpotensi menurunkan mutu pelayanan dan mengancam keselamatan pasien. Apoteker bertanggung jawab memastikan obat yang diberikan aman, tepat, dan efektif. Apoteker harus memberikan pelayanan dan edukasi obat secara profesional demi keselamatan dan kesehatan pasien. Pengawasan terhadap pengelolaan apotek perlu ditingkatkan untuk menjamin apoteker menjalankan tanggung jawabnya sesuai peraturan. This study aims to determine the position of pharmacists and their responsibilities in managing pharmacies in Gowa Regency. This is a normative-empirical study using qualitative data analysis methods. The author used a literature study technique with a review of related legal literature and field data collection obtained through interviews with relevant parties. The results of this study indicate that the implementation of pharmacists' responsibilities in Gowa Regency is not optimal. Supervision of pharmaceutical technicians is still lacking, management is ineffective, and antibiotic services without prescriptions are found. These conditions have the potential to reduce the quality of service and threaten patient safety. Pharmacists are responsible for ensuring that the drugs provided are safe, appropriate, and effective. Pharmacists must provide professional drug services and education for the safety and health of patients. Supervision of pharmacy management needs to be improved to ensure pharmacists carry out their responsibilities in accordance with regulations.
EFEKTIVITAS MEDIASI SECARA ELEKTRONIK DALAM PENANGANAN PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA MAKASSAR KLAS IA Muhammad Adhiyaksa Ridwan; Abd. Haris Hamid; Waspada Santing
Clavia Vol. 24 No. 1 (2026): Clavia : Journal of Law, April 2026
Publisher : Faculty Of Law Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/clavia.v24i1.8823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Mediasi Secara Elektronik dalam penanganan perkara perceraian di Pengadilan Agama Makassar Klas IA. Perkembangan teknologi informasi telah mendorong modernisasi sistem peradilan di Indonesia di bawah kebijakan Mahkamah Agung melalui e-court, e-litigation, dan e-mediation guna mewujudkan asas peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Penelitian ini menggunakan metode empiris dengan pendekatan kualitatif lapangan melalui wawancara dan dokumentasi. Data primer diperoleh dari hakim dan mediator eksternal, sedangkan data sekunder bersumber dari regulasi, literatur, dan statistik perkara perceraian tahun 2023–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediasi elektronik dinilai efektif dalam kondisi tertentu, khususnya ketika para pihak berada di luar kota atau memiliki keterbatasan hadir secara fisik. Mediasi elektronik memberikan efisiensi waktu dan biaya serta tetap memungkinkan tercapainya kesepakatan mengenai hak asuh anak, nafkah, dan tanggung jawab pascaperceraian. Dengan demikian, efektivitas mediasi elektronik bersifat kondisional dan memerlukan dukungan sosialisasi, peningkatan infrastruktur teknologi, serta penguatan regulasi teknis agar dapat berfungsi optimal dalam mengurangi beban perkara perceraian dan meningkatkan akses keadilan. This study aims to analyze the effectiveness Electronic Mediation in handling divorce cases at Makassar Religious Court Class IA. The advancement of information technology has encouraged the modernization of Indonesia’s judicial system under the authority of the Supreme Court of Indonesia through e-court, e-litigation, and e-mediation systems to realize the principles of simple, fast, and low-cost justice. This research applies an empirical method with a qualitative field approach using interviews and documentation. Primary data were obtained from judges and external mediators, while secondary data were derived from regulations, literature, and divorce case statistics from 2023 to 2025. The findings indicate that electronic mediation is conditionally effective, particularly when parties reside in different cities or face limitations in attending court physically. It provides time and cost efficiency while still enabling agreements regarding child custody, alimony, and post-divorce responsibilities. In conclusion, the effectiveness of electronic mediation depends on supporting factors such as public outreach, technological infrastructure enhancement, and clearer technical regulations to optimize its role in reducing divorce case backlogs and improving access to justice.
LEGALITAS PENGGUNAAN SENJATA OTONOM BERBASIS KECERDASAN BUATAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL Pauline Chandra; Yulia A. Hasan; Abd. Haris Hamid
Clavia Vol. 24 No. 1 (2026): Clavia : Journal of Law, April 2026
Publisher : Faculty Of Law Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/clavia.v24i1.8828

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaturan hukum penggunaan senjata otonom berbasis kecerdasan buatan dalam perspektif Hukum Humaniter Internasional. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif melalui studi kepustakaan dengan menelaah berbagai bahan hukum yang berkaitan, serta didukung oleh data wawancara sebagai data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan instrumen yang secara eksplisit mengatur atau melarang penggunaannya tidak menempatkan Autonomous Weapon System dalam kekosongan hukum, karena penilaian legalitasnya tetap didasarkan pada prinsip-prinsip dasar Hukum Humaniter Internasional, yaitu prinsip pembedaan, proporsionalitas, kehati-hatian dalam serangan, serta perlindungan terhadap penduduk sipil dan objek sipil. Prinsip-prinsip tersebut menjadi tolak ukur utama dalam menentukan apakah penggunaan suatu sistem senjata, termasuk yang berbasis kecerdasan buatan, sesuai atau bertentangan dengan ketentuan hukum internasional. Selain itu, Negara diwajibkan untuk melakukan legal review terhadap setiap penggunaan senjata baru sebagaimana diatur dalam Pasal 36 Protokol Tambahan I 1977 menunjukkan bahwa hukum humaniter internasional mampu menyesuaikan diri terhadap kemajuan teknologi persenjataan. This study aims to examine the legal regulation of artificial intelligence-based autonomous weapons from the perspective of International Humanitarian Law (IHL). The research employs a qualitative method with a normative juridical approach through library research by examining various relevant legal materials, supported by interview data as complementary sources. The findings indicate that the absence of an explicit legal instrument regulating or prohibiting their use does not place Autonomous Weapon Systems in a legal vacuum, as their legality is assessed based on the fundamental principles of International Humanitarian Law, namely distinction, proportionality, precaution in attack, and the protection of civilians and civilian objects. These principles serve as the primary benchmarks in determining whether the use of a weapon system, including those based on artificial intelligence, complies with or violates international legal norms. Furthermore, the obligation of states to conduct a legal review of any new weapon, as stipulated in Article 36 of the 1977 Additional Protocol I, demonstrates that International Humanitarian Law possesses an adaptive mechanism to address advancements in military technology.
PEMENUHAN HAK PRO BONO BAGI TAHANAN DI RUMAH TAHANAN NEGARA KELAS I MAKASSAR Irhamsyah Irhamsyah; Yulia A. Hasan; Abd. Haris Hamid
Indonesian Journal of Legality of Law Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Legality of Law, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ijlf.v8i2.6100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan pemenuhan hak atas bantuan hukum secara cuma-cuma (pro bono) bagi tahanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar, serta mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan empiris, dengan mengkaji regulasi yang berlaku serta menggali data lapangan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rutan Kelas I Makassar telah melaksanakan pemenuhan hak pro bono bagi para tahanan, baik dalam bentuk pendampingan litigasi maupun non-litigasi. Seluruh layanan tersebut diberikan tanpa dipungut biaya dan ditujukan khusus bagi tahanan yang tergolong tidak mampu secara ekonomi, dengan tetap mengedepankan kualitas pelayanan hukum. Meskipun demikian, implementasi hak pro bono masih menghadapi berbagai kendala. Beberapa hambatan utama yang ditemukan antara lain adalah prosedur administrasi yang belum sepenuhnya mendukung kemudahan akses bantuan hukum bagi tahanan, keterbatasan sumber daya manusia baik dari segi kuantitas maupun kualitas tenaga pendamping hukum, serta kesulitan dalam pengurusan surat keterangan tidak mampu dari pemerintah desa sebagai syarat administratif. Selain itu, rendahnya pemahaman para tahanan mengenai hak atas bantuan hukum juga menjadi tantangan tersendiri, yang diperburuk oleh adanya stigma negatif dan ketidakpercayaan terhadap efektivitas layanan pro bono yang disediakan. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan kelembagaan, sosialisasi yang masif, serta sinergi antara pihak rutan, lembaga bantuan hukum, dan pemerintah desa guna mewujudkan akses keadilan yang lebih inklusif bagi seluruh tahanan. This study aims to analyze the implementation of the fulfillment of the right to free legal aid (pro bono) for prisoners at the Makassar Class I State Detention Center (Rutan), and to identify the obstacles faced in its implementation. The research method used is a normative and empirical legal approach, by reviewing applicable regulations and collecting field data through interviews and observations. The results of the study indicate that the Makassar Class I Detention Center has implemented the fulfillment of pro bono rights for prisoners, both in the form of litigation and non-litigation assistance. All of these services are provided free of charge and are specifically intended for prisoners who are economically disadvantaged, while still prioritizing the quality of legal services. However, the implementation of pro bono rights still faces various obstacles. Some of the main obstacles found include administrative procedures that do not fully support easy access to legal aid for prisoners, limited human resources both in terms of quantity and quality of legal assistance personnel, and difficulties in processing a certificate of poverty from the village government as an administrative requirement. In addition, the low level of understanding of prisoners regarding the right to legal aid is also a challenge in itself, which is exacerbated by the negative stigma and distrust of the effectiveness of the pro bono services provided. Therefore, efforts are needed to strengthen institutions, massive socialization, and synergy between prisons, legal aid institutions, and village governments in order to realize more inclusive access to justice for all prisoners.
IMPLEMENTASI KONSEP KEADILAN RESTORATIF DALAM PENYELESAIAN KASUS PENCURIAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DI KOTA MAKASSAR Mustafa, Winda Audria; Renggong, Ruslan; Hamid, Abd Haris
Indonesian Journal of Legality of Law Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Legality of Law, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ijlf.v8i2.6114

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi konsep keadilan restoratif (restorative justice) pada tahap penyidikan dalam penanganan tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di wilayah hukum Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Makassar, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam penerapannya. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis empiris dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan keadilan restoratif di Polrestabes Makassar dilakukan melalui mekanisme mediasi antara pelaku anak, korban, dan pihak kepolisian, serta menekankan pada pemulihan hubungan sosial, tanggung jawab pelaku, dan pemulihan kerugian korban, tanpa harus melalui proses peradilan formal yang cenderung represif. Konsep ini dinilai mampu mengurangi dampak psikologis dan sosial terhadap anak pelaku, serta mendorong penyelesaian yang lebih humanis. Namun demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Faktor internal penghambat meliputi keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, kurangnya pelatihan khusus bagi mediator, serta karakter pelaku anak yang merupakan residivis. Sementara itu, faktor eksternal mencakup tingginya tekanan publik, ketidakpuasan korban terhadap hasil mediasi, ketidakpastian hukum, serta lemahnya koordinasi antar lembaga penegak hukum dan perlindungan anak. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan regulasi, peningkatan kompetensi aparat, serta edukasi publik dalam mendukung efektivitas penerapan keadilan restoratif bagi anak yang berhadapan dengan hukum. This study aims to analyze the implementation of the concept of restorative justice at the investigation stage in handling criminal acts of theft committed by children in the jurisdiction of the Makassar City Police (Polrestabes), and to identify factors that become obstacles in its implementation. The method used is an empirical legal approach with data collection through interviews, observations, and document studies. The results of the study indicate that the implementation of restorative justice at the Makassar Police is carried out through a mediation mechanism between child perpetrators, victims, and the police, and emphasizes the restoration of social relations, the responsibility of the perpetrators, and the restoration of the victim's losses, without having to go through a formal judicial process that tends to be repressive. This concept is considered capable of reducing the psychological and social impacts on child perpetrators, and encouraging a more humane solution. However, implementation in the field still faces a number of obstacles. Internal inhibiting factors include limited human resource capacity, lack of special training for mediators, and the character of child perpetrators who are recidivists. Meanwhile, external factors include high public pressure, victim dissatisfaction with the results of mediation, legal uncertainty, and weak coordination between law enforcement and child protection agencies. These findings indicate the need to strengthen regulations, improve the competence of officers, and educate the public in supporting the effectiveness of the implementation of restorative justice for children in conflict with the law.
ANALISIS FUNGSI PENEGAKAN HUKUM OLEH KEPOLISIAN DALAM PENANGGULANGAN PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DI WILAYAH HUKUM KEPOLISIAN RESOR MAMUJU TENGAH Yohannis, Yohannis; Hasan, Yulia A.; Hamid , Abd. Haris
Indonesian Journal of Legality of Law Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Legality of Law, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ijlf.v8i2.7625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan pelaksanaan fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kewenangan Polres Mamuju Tengah dalam upaya menanggulangi tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor roda dua, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam proses penyidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, analisis konseptual, dan studi empiris pendukung untuk memperkuat temuan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan Polres Mamuju Tengah dalam menangani kasus pencurian kendaraan bermotor meliputi tindakan preventif melalui sosialisasi dan patroli rutin, serta tindakan represif berupa penyelidikan, penangkapan, dan pemrosesan hukum terhadap pelaku sesuai dengan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan peraturan kepolisian lainnya. Meskipun demikian, pelaksanaan penegakan hukum masih belum optimal karena dihadapkan pada berbagai kendala. Hambatan utama tersebut mencakup keterbatasan sumber daya manusia baik dari segi jumlah maupun kompetensi penyidik, minimnya sarana dan prasarana pendukung seperti peralatan identifikasi forensik, serta rendahnya kesadaran hukum masyarakat yang masih enggan melapor dan belum menerapkan langkah pengamanan pribadi terhadap kendaraan bermotor. Selain itu, faktor sosial-ekonomi masyarakat turut berkontribusi terhadap meningkatnya potensi kejahatan. Dengan demikian, diperlukan strategi penguatan kapasitas kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya aparat, serta edukasi hukum berbasis masyarakat guna menciptakan sistem penegakan hukum yang efektif dan berkelanjutan dalam menekan angka pencurian kendaraan bermotor di Kabupaten Mamuju Tengah. This study aims to analyze and describe the implementation of law enforcement by the Indonesian National Police (Polri), specifically the Central Mamuju Police Department, in responding to motorcycle theft cases, and to identify the factors hindering the investigation process. The research employs a normative legal method supported by statutory, conceptual, and socio-empirical approaches to obtain comprehensive findings. The results reveal that the efforts implemented by the Central Mamuju Police Department include preventive measures such as legal awareness campaigns and routine patrols, as well as repressive measures involving investigations, arrests, and the prosecution of offenders in accordance with the Indonesian Criminal Code and relevant policing regulations. However, the enforcement efforts have not yet reached optimal effectiveness due to several obstacles. The major barriers identified include limited human resources in terms of both quantity and investigative competence, inadequate supporting facilities and infrastructure, such as forensic identification tools, and low public legal awareness, with community members often reluctant to report cases and failing to apply personal preventive security measures for their vehicles. Additionally, the local community's socioeconomic conditions contribute to increased vulnerability to crime. Therefore, strengthening institutional capacity, improving law enforcement personnel's competence, and expanding community-based legal education are essential strategies to establish a more effective and sustainable framework for reducing motorcycle theft in Central Mamuju Regency.
ASPEK HUKUM PENJATUHAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU USAHA PRODUK KOSMETIK YANG MENGANDUNG MERKURI DAN HIDROKUINON DI KOTA MAKASSAR Ramlah Kalale; Ruslan Renggong; Abd. Haris Hamid
Indonesian Journal of Legality of Law Vol. 8 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Legality of Law, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ijlf.v8i2.7687

Abstract

Peredaran kosmetik bermerkuri di Indonesia masih menjadi persoalan serius dalam perlindungan konsumen dan kesehatan masyarakat. Meskipun pemerintah telah menetapkan berbagai regulasi yang melarang penggunaan bahan berbahaya dalam produk kosmetik, praktik penjualan kosmetik bermerkuri masih marak ditemukan, termasuk di Kota Makassar. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara norma hukum yang berlaku dan implementasi di lapangan. Dalam konteks tersebut, penegakan sanksi pidana terhadap pelaku usaha yang memperdagangkan kosmetik bermerkuri menjadi aspek penting untuk menilai efektivitas sistem hukum yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk penegakan sanksi pidana terhadap pelaku usaha yang memperdagangkan kosmetik bermerkuri di Kota Makassar serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat efektivitas penegakan hukum tersebut. Menggunakan pendekatan yuridis empiris, penelitian ini memadukan studi kepustakaan dan wawancara dengan aparat penegak hukum, pejabat Balai Besar POM, advokat, dan konsumen. Data dianalisis secara kualitatif dengan menekankan hubungan antara norma hukum dan realitas implementasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme penegakan sanksi telah berjalan sesuai kerangka hukum yang berlaku dengan melibatkan kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan BBPOM. Namun, efektivitasnya masih terbatas karena vonis pengadilan yang relatif ringan, pengawasan yang belum merata di seluruh rantai distribusi, serta tingginya permintaan pasar yang mendorong munculnya pelaku baru. Hambatan utama meliputi aspek yuridis (inkonsistensi putusan dan lamanya proses uji laboratorium), struktural (keterbatasan sumber daya aparat), kultural (tingginya budaya konsumtif masyarakat), sosial ekonomi (dorongan keuntungan cepat bagi pedagang kecil), teknologi (pesatnya penjualan daring), serta politik dan kebijakan (minimnya prioritas anggaran dan regulasi daerah). Temuan ini menegaskan perlunya penguatan koordinasi lintas lembaga, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum, serta edukasi publik mengenai bahaya kosmetik bermerkuri. Upaya tersebut diharapkan dapat mewujudkan sistem penegakan hukum yang lebih efektif dan berkeadilan dalam melindungi konsumen serta menjamin kesehatan masyarakat. The circulation of mercury-containing cosmetics in Indonesia remains a serious issue in consumer protection and public health. Although the government has established regulations prohibiting the use of hazardous substances in cosmetic products, the sale of mercury-containing cosmetics remains prevalent, including in Makassar City. This situation indicates a gap between existing legal norms and their practical implementation. In this context, the enforcement of criminal sanctions against business actors trading in mercury-containing cosmetics is an important indicator of the effectiveness of the prevailing legal system. This study aims to analyze the forms of criminal sanction enforcement against business actors involved in the trade of mercury-containing cosmetics in Makassar City and to identify the factors that hinder the effectiveness of such enforcement. Employing an empirical juridical approach, the research combines literature studies and interviews with law enforcement officers, officials from the Food and Drug Supervisory Agency (BBPOM), advocates, and consumers. Data were analyzed qualitatively to examine the interrelation between legal norms and their practical application. The findings reveal that the enforcement process has generally operated in accordance with the legal framework through the involvement of the police, prosecutors, courts, and BBPOM. However, its effectiveness remains limited due to relatively lenient court verdicts, uneven supervision across distribution channels, and high market demand that continuously attracts new offenders. The main inhibiting factors include juridical aspects (inconsistent court decisions and lengthy laboratory testing), structural aspects (limited law enforcement resources), cultural aspects (high consumerism among the public), socio-economic factors (the pursuit of quick profit among small traders), technological challenges (the rise of online sales), and political or policy factors (limited budgetary priority and local regulation). These findings emphasize the need for stronger inter-agency coordination, capacity-building for law enforcement officials, and public education about the dangers of mercury-containing cosmetics.
Co-Authors A. A. Rajab Abd Rahman Abdul Karim Abdul Salam Siku Abdurrifai Abdurrifai Abdurrifai, Abdurrifai Adilane Sutriliawan S. Adri Hiswanto Hasanuddin Afriani, Afa Ade Afrizal, Afrzal Almaherani, Riski Almusawir, Almusawir Alwi Alwi Andi Abriana, Andi Andi Makkasau Andi Muhammad Arfah Pattenreng Andi Musran Andi Rizal Andi Tira, Andi Andri Nofrianto Anrianto Luther Ramba Anti Nari Arifain, Muhammad Arjunasat Dariatno Ashari Setiawan Asriadi Asriadi Asrudi, Asrudi Baso Madiong Basri Oner Basri, Muhammad Reskiawan Bello, Yoel Dwirandhi Heru Purnomo Erick Erick Erika Erika Fajrin, Firman Al Firdayanti, HSM Fitriani Fitriani Fulana, Feri Hamzah Hamzah Handar Subhandi Bakhtiar Harliyanti, Harliyanti Ikrar AR, Muhammad Iksan Ariyanto Ilyas, Andi Muhammad Irsal Irhamsyah Irhamsyah Jaya, Benedict Juli Mardiani Juliati Juliati Juliati, Juliati Junardi, Anto Kamsilaniah Kamsilaniah Kamsilaniah kamsilaniah, Kamsilaniah Karim, Rahmawati Laydida, Evelyn Meilinda Luthfiyah S, Rifqah M. Amil Shadiq M. Syahruddin H Madina Madina Marwan Mas MARWAN MAS Marwan Mas Muh Nur Parawansyah Muh. Rusli Muh. Syahrul Ago Muhammad Adhiyaksa Ridwan Muhammad Rusli Muhammad Saleh Muhammad Syarif Mustafa, Andi Sinar Melati Mustafa, Winda Audria Mustawa, Mustawa Natsir, Anzhar Nur Faizah Abidin Nur Indah, Nur Nurlela Nurlela Nurnaeni Ahmad Nurwijayanti Octaviana, Putri Pamelleri, Andi Chakra Pattenreng, A. Muh. Arfah Pattenreng, Andi Muh. Arfah Pattenreng, Andi Muhammad Arfah Pauline Chandra Purnomo, Dwirandhi Heru Rahma Indah, Nur Rahmat Hidayat Rajadi Marannu Ramlah Kalale Risman Risman Ruslan Renggong Rusli, Salsabilla Alya Saleh, Abd. Rahman Samsul Bahri Setiawan, Eko Bayu Siti Nurbaiti Siti Zubaedah siti zubaedah Siti Zubaidah Siti Zubaidah Sunardi Purwanda Sutoyo, Ahmad Suwandari, Mufitha Syukri Masse Tampandaja, Alce Marchelina Tamsanumajar, Erwin Umbara, I Tri Virgoria, A. Putri Andini Vira Wahyudin, Jalil Waspada Santing Waspada, Waspada Yohannis, Yohannis Yulia A. Hasan Zulkifli Makkawaru