Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Skrining Tekanan Darah, Gula Darah, dan Status Gizi sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Kronis di Masyarakat Oktora, Meta Zulyati; Anggraini, Debie; Haiga, Yuri; Liana, Nana; Nurwiyeni; Putriyuni, Anandia; Aliefia, Desi
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.219

Abstract

Latar Belakang: Penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan dislipidemia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan komunitas merupakan langkah strategis untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini faktor risiko PTM dan memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat Nagari Sagalo, Kabupaten Pesisir Selatan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 dalam bentuk pemeriksaan kesehatan massal oleh tim KKN terpadu. Parameter yang diperiksa meliputi tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, tinggi badan, dan status lansia. Edukasi mengenai pencegahan PTM dan gaya hidup sehat diberikan secara langsung melalui penyuluhan dan media cetak. Data hasil pemeriksaan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Rata-rata berat badan peserta adalah 54,9 kg dengan kisaran 29,5–85,2 kg. Tinggi badan rata-rata 148,9 cm. Rata-rata tekanan darah sistolik sebesar 129,4 mmHg dan diastolik 76,8 mmHg. Kadar gula darah rata-rata 110,8 mg/dL dengan nilai tertinggi mencapai 162 mg/dL. Ditemukan beberapa peserta dengan tekanan darah dan kadar gula di atas ambang normal, yang belum menyadari status kesehatannya sebelumnya. Kesimpulan: Kegiatan deteksi dini ini berhasil mengidentifikasi individu dengan faktor risiko PTM yang belum terdiagnosis. Pemeriksaan komunitas dan edukasi kesehatan terbukti penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit kronis. Disarankan dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan dan pemantauan kesehatan secara berkala.
Deteksi Dini Faktor Risiko Kanker Serviks berbasis Data Klinis Pasien di RSUP. Dr. M.Djamil Padang Oktora, Meta Zulyati; Anggraini, Debie; Dewi , Nadia Purnama
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.269

Abstract

Latar Belakang : Kanker serviks merupakan salah satu kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia dan sering terdiagnosis pada stadium lanjut. Deteksi dini dan edukasi faktor risiko sangat penting dalam menurunkan angka kejadian dan mortalitas. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko kanker serviks pada wanita usia subur berbasis data klinis pasien serta mengintegrasikannya dalam kegiatan edukasi masyarakat. Metode: Kegiatan dilaksanakan di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada September 2020–April 2021 dengan desain deskriptif analitik cross sectional. Populasi penelitian adalah 70 pasien kanker serviks yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi usia menikah, jumlah paritas, serta lama penggunaan kontrasepsi hormonal. Kegiatan pengabdian meliputi penyuluhan, diskusi kelompok, distribusi leaflet, dan informasi mengenai skrining deteksi dini (Pap smear/IVA). Hasil: Sebanyak 42,9% pasien menikah pada usia <20 tahun, dan 80% pasien adalah multipara. Lama penggunaan kontrasepsi hormonal terbanyak <5 tahun (55,7%) dengan jenis terbanyak kontrasepsi suntik (62,9%). Sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut: stadium III (47,1%) dan stadium II (30%). Edukasi melalui penyuluhan dan distribusi media informasi berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai faktor risiko dan pentingnya deteksi dini. Kesimpulan: Faktor risiko yang dominan pada pasien kanker serviks adalah usia menikah muda, multiparitas, serta penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang. Edukasi kesehatan berbasis data klinis pasien efektif meningkatkan kesadaran wanita usia subur terhadap pencegahan dan deteksi dini kanker serviks.
Deteksi dan Edukasi Dismenore sebagai Masalah Kesehatan Reproduksi pada Mahasiswi Kedokteran Universitas Baiturrahmah Oktora, Meta Zulyati; Reza, Tia; Naufal Cahyadi, Ghiffari; Hafani; Puteriyani, Nila
Abdika Sciena Vol 3 No 1 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 1, Juni 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i1.270

Abstract

Latar Belakang: Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami wanita usia reproduktif, termasuk mahasiswi. Kondisi ini berdampak signifikan pada aktivitas akademik dan kualitas hidup, namun masih sering dianggap sebagai keluhan normal yang kurang mendapat perhatian. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendeteksi kejadian dismenore pada mahasiswi kedokteran serta memberikan edukasi kesehatan reproduksi mengenai pencegahan dan penatalaksanaannya. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Desember 2023–Januari 2024 di Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Desain kegiatan adalah observasional kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi terjangkau adalah seluruh mahasiswi kedokteran (n = 52) yang diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terkait derajat dismenore dan dampaknya terhadap aktivitas belajar. Kegiatan pengabdian meliputi penyuluhan, diskusi kelompok, dan distribusi leaflet. Hasil: Sebagian besar responden mengalami dismenore sedang (51,9%). Sebanyak 59,6% melaporkan aktivitas belajar terganggu akibat dismenore. Analisis menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kejadian dismenore dan gangguan aktivitas belajar (p = 0,001). Edukasi yang diberikan meningkatkan pengetahuan peserta mengenai manajemen mandiri dismenore, baik farmakologis maupun nonfarmakologis. Kesimpulan: Dismenore sedang merupakan keluhan terbanyak pada mahasiswi kedokteran dan berhubungan signifikan dengan terganggunya aktivitas belajar. Edukasi kesehatan reproduksi terbukti efektif dalam
Perubahan Gambaran Histologik Paru Mencit (Mus Musculus) yang Terpapar Asap Rokok Oktora, Meta Zulyati; Setiamurti, Sherena Meilia; Khomeini, Khomeini
Health and Medical Journal Vol 5, No 2 (2023): HEME May 2023
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v5i2.1286

Abstract

Pendahuluan: Asap rokok merupakan hasil dari proses pembakaran rokok yang mengandung berbagai zat iritan dan menjadi penyebab utama kerusakan organ paru. Menurut data Riset Kesehatan Dasar prevalensi merokok di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2013 (7,2%) dan pada tahun 2018 (9,1%). Menurut data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan terjadinya penyakit kardiovaskular serta berakibat kematian dini yang terjadi pada perokok aktif maupun pasif. World Health Organization (WHO) telah melaporkan 6 juta dari 7 juta kematian/tahun disebabkan oleh penggunaan tembakau secara langsung, dan kematian yang disebabkan oleh paparan asap rokok sebanyak 890.000 orang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi paru mencit yang terpapar asap rokok. Metode: Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi Universitas Andalas dan untuk pembacaan hasil di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorik dengan menggunakan 34 sampel mencit (Mus musculus) dengan 2 kelompok sampel. Mencit berusia 10-12 minggu dan berat badan 25-30 gram. Pemaparan asap rokok secara langsung didalam kandang kawat dengan dosis 3 batang rokok selama 30 menit pada sampel kelompok perlakuan I, dan sampel kontrol negatif tidak diberi perlakuan. Pada hari ke-15 dilakukan terminasi dan kemudian jaringan parudibuat preparat histopatologi. Hasil: Dari penelitian ini didapatkan sebanyak 76,5% sampel penelitian mengandung infiltrasi sel radang dan tampak tertutupnya alveoli oleh makrofag alveolar. Sebanyak 64,7% terjadi perubahan struktur membran alveolus sebanyak 88,2%
Pengaruh Pemberian Aspirin terhadap Gambaran Histopatologi Mukosa Gaster Mencit Moammar Rizky Farhan; Oktora, Meta Zulyati; Dita Hasni
As-Shiha: Jurnal Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2022): As-Shiha: Jurnal Kesehatan
Publisher : Fakultas MIPA dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aspirin is a group of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) that are widely used by the public to treat rheumatic diseases. Apart from its anti-inflammatory role, aspirin is also an anti-thrombotic agent used in coronary heart disease (CHD) to prevent platelet aggregation. Aspirin is also a potent anipyretic. To determine the gastric mucosal histopathology of mice after being induced by apirin. The scope of the research is Medical Pathology, Anatomy and Pharmacology. The research was conducted at the Pharmacology Laboratory of the Faculty of Pharmacy, Andalas University and for reading the results at the Anatomical Pathology Laboratory, Faculty of Medicine, Baiturrahmah University. This research was conducted in March 2020 - January 2021. This research is a laboratory experimental. The samples used in this study were mice (Mus Musculus) aged 4-6 weeks with a body weight ranging from 18-20 grams. A sample of 18 mice was divided into 2 treatment groups, namely, positive and negative control samples. Aspirin was administered orally using a sonde for 3 consecutive weeks in positive control samples, and negative control samples were not treated. On the 27th day the termination was performed, the stomach was taken and histopathological preparations were made. The results of this study of 9 samples found 22.2% (2 samples) experienced desquamation, 44.4% (4 samples) experienced erosion, 33.3% (3 samples) experienced ulceration. Desquamation characteristics can be seen from the peeling of the uppermost layer of the gastric mucosa. And erosion can be seen from the loss of some areas of the gastric mucosa. Then for ulceration where the entire thickness of the mucosa is lost. There was a change in the picture in the gastric mucosa histopathology of mice (Mus musculus) after being induced by aspirin.
Kenali Aktivitas Fisik untuk Kendalikan Obesitas pada Lansia Haiga, Yuri; Anggraini, Debie; Oktora, Meta Zulyati
Abdika Sciena Vol 3 No 2 (2025): JURABDIKES Volume 3 No 2, Desember 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/jurabdikes.v3i2.305

Abstract

Obesitas pada lansia merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat dan berkontribusi terhadap penurunan fungsi fisik, peningkatan risiko penyakit tidak menular, serta berkurangnya kemandirian. Aktivitas fisik yang aman dan teratur merupakan intervensi nonfarmakologis utama dalam pengendalian obesitas pada lansia, namun pemahaman dan praktik aktivitas fisik di tingkat komunitas masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman lansia mengenai aktivitas fisik yang aman dan aplikatif sebagai upaya pengendalian obesitas di Nagari Sungai Gayo Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan. Metode yang digunakan adalah edukasi kesehatan di lapangan melalui penyuluhan interaktif yang disertai demonstrasi gerakan aktivitas fisik aman bagi lansia. Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka selama satu hari dengan melibatkan masyarakat dan kader komunitas. Materi mencakup obesitas pada lansia, manfaat aktivitas fisik, prinsip keselamatan beraktivitas, serta jenis latihan yang sesuai, meliputi aktivitas aerobik ringan, latihan kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan. Kegiatan diikuti oleh 37 peserta dengan rentang usia 24–88 tahun, mayoritas perempuan. Peserta menyatakan materi mudah dipahami dan praktik gerakan bermanfaat untuk diterapkan di rumah. Hambatan utama yang masih dirasakan adalah nyeri sendi, kekhawatiran jatuh, dan konsistensi motivasi. Peserta mengusulkan agar kegiatan aktivitas fisik lansia dilakukan secara rutin melalui posyandu lansia dengan pendampingan kader. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi lapangan berbasis komunitas dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan dan kesiapan perilaku aktivitas fisik pada lansia dalam rangka pengendalian obesitas.
Subcorneal Pustular Dermatosis Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 dan Dislipidemia: Sebuah Laporan Kasus Gustia, Rina; Muchyar, Mutia Sari; Ashar, Miranda; Imaduddin, Ummul Khair; Intan, Shinta Ayu; Oktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.331

Abstract

Pendahuluan: Subcorneal pustular dermatosis (SPD), atau penyakit Sneddon–Wilkinson, merupakan dermatosis neutrofilik kronis yang jarang, ditandai dengan pustul superfisial berulang. SPD semakin banyak dilaporkan berhubungan dengan penyakit sistemik, terutama gangguan metabolik seperti diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia, yang dapat berkontribusi terhadap onset dan kekambuhan penyakit. Laporan kasus: Seorang perempuan berusia 36 tahun yang datang dengan keluhan bercak kemerahan berulang disertai pustul superfisial flaksid berwarna kekuningan yang gatal pada daerah perut dan punggung bawah selama dua bulan terakhir. Lesi awalnya membaik dengan kortikosteroid topikal tetapi kambuh kembali dua minggu kemudian dengan cakupan yang lebih luas. Pasien tidak mengeluhkan demam maupun riwayat konsumsi obat sebelumnya. Pasien memiliki penyakit dasar diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia, keduanya dalam kondisi tidak terkontrol dengan baik. Pemeriksaan klinis menunjukkan plak eritematosa multipel dengan pustul superfisial, krusta, erosi, serta makula hiperpigmentasi pada perut dan punggung bawah. Pemeriksaan dermoskopi menunjukkan multiple yellow-white globule di atas dasar eritematosa yang dikelilingi sisik halus. Evaluasi psikologis menunjukkan tingkat kecemasan sedang dan dampak sedang terhadap kualitas hidup.  Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya mengevaluasi dan menangani komorbiditas sistemik, karena disfungsi metabolik dapat berkontribusi terhadap inflamasi persisten, kekambuhan berulang, dan respons terapi yang kurang optimal pada Subcorneal Pustular Dermatosis.