Minyak goreng, khususnya dari sawit, merupakan salah satu kebutuhan utama di rumah tangga dan industri pangan atau kuliner. Pemakaian minyak goreng tersebut pada akhirnya akan dihasilkan limbah berupa minyak goreng bekas. Minyak goreng bekas memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pada pembuatan biodiesel, salah satu jenis energi terbarukan. Namun demikian, sebelum digunakan pada proses pembuatan biodiesel, minyak goreng bekas tersebut harus dipisahkan dari pengotor-pengotornya. Salah satu metode dalam tahap pemisahan pengotor dari minyak goreng bekas tersebut adalah adsorpsi dengan berbagai jenis adsorben, misalnya arang aktif. Tempurung kelapa merupakan limbah biomassa potensial sebagai bahan baku untuk menghasilkan arang aktif. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh suhu dan kadar adsorben pada adsorpsi minyak goreng bekas dengan arang aktif dari tempurung kelapa untuk terhadap karakteristik minyak goreng bekas sebagai bahan baku pada sintesis biodiesel. Prosedur penelitian meliputi dua tahap utama, yaitu pemurnian minyak goreng bekas dengan metode sedimentasi, filtrasi, evaporasi, dan sedimentasi; kemudian sintesis biodiesel dari minyak goreng bekas setelah dimurnikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi minyak goreng bekas pada suhu 70 °C dan kadar arang aktif sebagai adsorben sebanyak 5% (b/v) diperoleh minyak goreng bekas dengan kualitas terbaik, didasarkan pada parameter densitas, viskositas, bilangan asam, dan bilangan iodin. Biodiesel yang dihasilkan dari minyak goreng bekas yang telah dimurnikan pada kondisi adsorpsi optimal tersebut telah memenuhi standar kualitas biodiesel menurut Standar Nasional Indonesia, SNI 7182-2015.