This study aims to analyze the management of Hudaibiyah Mosque, one of the main miqat locations frequently visited by Indonesian umrah pilgrims, particularly in relation to improving service quality. A descriptive qualitative approach was employed, and data were collected through in-depth interviews with Indonesian pilgrims, muthawwif (pilgrim guides), and mosque staff. Data analysis employed interactive data analysis, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the capacity of key facilities such as toilets, ablution areas, changing rooms, resting areas, and bus parking remains insufficient given the increasing number of pilgrims, leading to long queues, overcrowding, and reduced worship comfort. Sanitation is suboptimal due to limited cleaning personnel, and informational signage in Indonesian and English is still lacking. Women’s facilities do not adequately support privacy needs, which affects comfort during preparation for ihram. Additionally, crowd management relies heavily on travel agencies’ scheduling rather than a strong independent management system. The study concludes that expanding facility capacity, increasing sanitation staff, providing multilingual signage, and improving women’s areas are essential steps toward enhancing service quality. These findings may serve as a basis for developing standardized miqat service guidelines and for future comparative studies across different miqat mosques. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pengelolaan Masjid Hudaibiyah, salah satu lokasi miqat utama yang sering dikunjungi oleh jemaah umrah Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pelayanan. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap jemaah Indonesia, muthawwif (pembimbing ibadah), dan petugas masjid. Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas fasilitas utama seperti toilet, tempat wudu, ruang ganti, area istirahat, dan parkir bus masih belum memadai dibandingkan dengan peningkatan jumlah jemaah, yang menyebabkan antrean panjang, kepadatan, dan berkurangnya kenyamanan beribadah. Sanitasi dinilai belum optimal akibat keterbatasan petugas kebersihan, serta masih kurangnya papan petunjuk informasi (signage) dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Fasilitas bagi jemaah perempuan juga belum memadai dalam mendukung kebutuhan privasi, yang berdampak pada kenyamanan saat persiapan ihram. Selain itu, manajemen keramaian masih sangat bergantung pada penjadwalan biro perjalanan dibandingkan sistem manajemen mandiri yang kuat dari pihak masjid. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perluasan kapasitas fasilitas, penambahan petugas kebersihan, penyediaan informasi multibahasa, dan perbaikan area khusus perempuan merupakan langkah penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan pedoman standar pelayanan miqat serta untuk studi komparatif di masa depan pada masjid-masjid miqat lainnya.