Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Cultural Intersection in the Novel "Kuli" by M.H. Szekely Luloofs Sari, Sartika; Siregar, Umar Mukhtar; Herman, Hidayat
ELT (English Language Teaching Prima Journal) Vol. 7 No. 2 (2025): ELT (English Language Teaching Prima Journal)
Publisher : English Language Teaching Prima Journal (ELT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/elt.v7i2.7765

Abstract

This article discusses the representation of cultural intersection in M.H. Szekely-Lulofs' novel Kuli, a colonial text that records the lives of indentured laborers on Deli plantations. Starting from the multi-ethnic historical context of North Sumatra, this research highlights how cross-ethnic encounters—Javanese, Sundanese, Madurese, Betawi, Malay, and even Chinese—are constructed through stereotypes, conflict, and power relations. Lulofs, a Dutch-descended female writer, uses her personal experiences in Deli as both the setting and the medium to depict a fragmented social reality. Utilizing the perspective of literary sociology, the analysis is directed towards two main aspects: first, ethnic diversity as the foundation of Deli society, shaped by migration and colonization; and second, intersectional conflicts arising as a consequence of differences in ethnic identities and representations within the narrative. The novel Kuli presents ethnic stereotypes in layers: Betawi people are depicted as arrogant, Madurese as tough, Sundanese as polite, and even Chinese who are socially and economically marginalized. This stereotype is not only an identity marker but also a source of conflict that culminates in intergroup violence. Inter-ethnic intersection is depicted ambiguously—on one hand, it gives rise to "ship brother" solidarity, while on the other, it triggers exclusion and criminalization. The novel Kuli, therefore, presents plurality as an arena of tension, where ethnic representations operate within a colonial framework that reinforces social hierarchies
Analisis Akuisisi Bahasa Bilingual (Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah) pada Anak Usia Dini di Indonesia: Tantangan dan Strategi Pelestarian Bahasa Lokal di Era Digital Panjaitan, Taufik Kusuma; Amalia, Dhea; Nasution, Azwa Khalisa; Husna, Husna; Rambe, Nailah Faizah S; Ripai, Muhammad; Anggini, Putri; Zafira, Putri Alicya; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7192

Abstract

Artikel ini mengkaji akuisisi bahasa bilingual (Bahasa Indonesia dan bahasa daerah) pada anak usia dini di Indonesia, dengan fokus pada tantangan pelestarian bahasa lokal di tengah pengaruh era digital dan strategi untuk mendukung keberlanjutan linguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka untuk mengeksplorasi dinamika proses akuisisi bahasa, mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan teknologi yang memengaruhi perkembangan bahasa anak. Analisis tematik diterapkan pada data dari jurnal akademik, laporan penelitian, dan artikel terkait multilingualisme untuk mengidentifikasi tantangan utama, seperti dominasi konten digital berbahasa asing, kurangnya sumber daya pendidikan berbasis bahasa daerah, dan risiko bilingualisme subtraktif yang melemahkan penguasaan bahasa lokal. Penelitian ini juga menganalisis strategi pelestarian, seperti pengembangan aplikasi edukasi berbahasa daerah, integrasi bahasa lokal dalam kurikulum digital, dan promosi konten media sosial yang mendukung transmisi antargenerasi. Tujuannya adalah memahami bagaimana faktor-faktor tersebut membentuk kemampuan bilingual anak serta memberikan rekomendasi praktis untuk kebijakan pendidikan dan inisiatif pelestarian bahasa. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya wawasan tentang pentingnya menjaga keragaman linguistik di Indonesia, sekaligus menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan digitalisasi melalui pendekatan teknologi yang inklusif.
Peran Emosi dalam Pemerolehan Bahasa: Studi Keterhubungan antara Intonasi, dan Pembentukan Makna pada Anak Usia 4 Tahun Panggabean, Ester Enjelysa; Gultom, Miranda Maria Magdalena; Napitupulu, Prety Vania Akwila; Sirait, Puja Astrid; Purba, Sherly Anjelia; Fitri, Novita Eka; Chelsea, Selly; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7200

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran emosi dan intonasi dalam pemerolehan bahasa anak usia dini, khususnya pada usia 4 tahun ketika anak mulai aktif memahami makna ujaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran emosi melalui variasi intonasi (gembira, sedih, marah, dan netral) memengaruhi pemahaman makna Bahasa pada seorang anak usia 4 Tahun. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus, karena subjek penelitian hanya satu anak. Sumber data penelitian adalah respon verbal dan nonverbal anak ketika diberikan stimulus berupa cerita sederhana dengan intonasi berbeda. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung yaitu pada saat pemberian stimulus cerita lalu dilanjut dengan pertanyaan pemahaman mengenai cerita tersebut, rekaman suara untuk dapat dianalisis ulang, dan catatan lapangan mengenai respon anak tersebut. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik untuk mengelompokkan respon anak dalam memahami makna berdasarkan jenis intonasi yang digunakan, dari sini peneliti dapat mengetahui kecenderungan respon anak yang muncul apakah di intonasi gembira, sedih, marah atau netral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, intonasi gembira mempermudah anak dalam memahami isi cerita dan menjawab pertanyaan dengan lebih lengkap. Kedua, intonasi sedih membuat anak cenderung menjawab singkat dan kurang antusias. Ketiga, intonasi marah membuat anak tertekan sehingga responnya menurun. Keempat, intonasi netral kurang menarik perhatian anak sehingga fokus dan pemahaman menurun. Intonasi emosional, khususnya yang bernuansa positif seperti intonasi gembira, berperan penting dalam membantu pembentukan makna dan memperkuat pemerolehan bahasa anak usia dini.
Teoritis: Peran Digital Storytelling Interaktif Kemampuan Narasi dan Pemerolehan Bahasa Anak Prasekolah Usia 4-6 Tahun Hutabarat, Mikael Pardomuan; Manullang, Bonita; Tamba, Anggreni Agustina; Sagala, Reni Wati Br; Suhardi, Suhardi; Banjarnahor, Fontifai; Sitohang, Jhon Roger; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7208

Abstract

Penelitian ini adalah kajian literatur yang mengevaluasi peran digital storytelling interaktif dalam meningkatkan kemampuan narasi dan pemerolehan bahasa anak prasekolah usia 4–6 tahun. Periode usia ini merupakan masa emas perkembangan bahasa, yang memerlukan stimulasi tepat sebagai dasar keterampilan literasi masa depan. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian literatur sistematis, menganalisis artikel jurnal dan dokumen akademis yang relevan dari tahun 2019 hingga 2024.Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan digital storytelling interaktif memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan bahasa anak, baik aspek reseptif (menyimak, memahami instruksi) maupun ekspresif (berbicara, menuturkan kembali). Media ini efektif karena menggabungkan unsur audio, visual, dan interaktivitas, menciptakan pengalaman multisensorik yang mempercepat pemerolehan kosakata, pemahaman struktur kalimat, dan internalisasi bahasa secara kontekstual dan menyenangkan.Selain itu, interaktivitasnya sangat penting dalam mengembangkan kemampuan narasi. Anak didorong menjadi "co-creator" cerita dengan berpartisipasi menentukan alur atau tokoh, yang melatih mereka menyusun peristiwa secara logis dan memahami struktur naratif (awal, tengah, akhir). Proses ini memperkuat berpikir kronologis dan menjadi fondasi literasi awal. Keberhasilan metode ini ditentukan oleh peran guru sebagai fasilitator yang mengarahkan interaksi dan nilai edukatif. Dengan demikian, digital storytelling adalah alat yang efektif untuk mendukung perkembangan linguistik, kognitif, dan sosial-emosional anak.
Ketidaksesuaian Mean Length of Utterance: Analisis Hambatan Pemerolehan Morfologi dalam Bahasa Anak Usia 4 Tahun Hutabarat, Sani; Silitonga, Erika Cintya Pebrianti; Saragi, Tasya Amelia; Syahputri, Sri; Siburian, Mieke Angelika; Azura, Siti; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7218

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami pemerolehan bahasa anak sejak dini, khususnya anak pada usia 4 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hambatan pemerolehan morfologi anak usia 4 tahun melalui pengukuran MLU dan deskripsi struktur bahasa yang dihasilkan Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan analisis Mean Length of Utterance (MLU) dalam bentuk studi kasus pada satu anak. Sumber data penellitian ini adalah seorang anak yang berumur 4 tahun yang bernama Siti Naura. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia sekaligus menjadi bahasa pertama anak tersebut. Teknik analisis data dilakukan dengan beberapa langkah yaitu pertama dengan mentranskrip data yang diperoleh dari subjek penelitian dalam bentuk rekaman yang berupa 100 ujaran. Selanjutnya menghitung MLU dengan cara menghitung jumlah morfem dari tuturan tersebut dan dibagi dengan jumlah tuturan yaitu 100. Setelah mendapatkan hasil MLU, kemudian dijelaskan interpretasi dari hasil MLU yang diperoleh normal atau tidak dalam hal perkembangan bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang diteliti memiliki pemerolehan bahasa yang yang kurang sesuai dengan tingkat usia MLU. Faktor eksternal atau faktor lingkungan yang menjadi penyebab pemerolehan morfem anak tersebut kurang bervariasi.
Bahasa dalam Genggaman: Analisis Peran Media Sosial dan Konten Edukatif dalam Pemerolehan Bahasa Anak Maharani, Tia; Febriani, Anggi Nur; Ismaidin, Safira Ayesha; Pulungan, Hoirina; Amelia, Regita; Sulistyani, Shiwi; Syahkila, Nurul Aisyah; Herman, Hidayat; Harahap, Rosmawaty
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i2.7221

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah ekosistem pemerolehan bahasa anak. Media sosial dan konten edukatif kini menjadi sumber input linguistik yang signifikan, selain interaksi keluarga dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran media sosial dan konten digital terhadap pemerolehan bahasa anak, sekaligus menelaah perbedaan kualitas input linguistik dari konten edukatif dan non-edukatif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah dua anak usia sekolah dasar, yaitu Raida Maiza yang lebih banyak mengonsumsi konten non-edukatif, serta Rafardhan yang lebih sering terpapar konten edukatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan konten non-edukatif berimplikasi pada penguasaan kosakata dangkal, repetitif, dan dominasi bahasa nonbaku, sehingga perkembangan sintaksis formal anak menjadi terhambat. Sebaliknya, konten edukatif yang dipadukan dengan pendampingan orang tua berkontribusi pada pemerolehan kosakata baku, struktur kalimat yang lebih kompleks, serta keterampilan pragmatik yang lebih kaya. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas input linguistik dan intensitas pendampingan orang tua merupakan faktor krusial dalam pemerolehan bahasa anak. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi orang tua, pendidik, dan pengembang konten digital untuk mengoptimalkan media sosial sebagai sarana pemerolehan bahasa anak.
Dampak Budaya Pop Korea Terhadap Pemerolehan Bahasa Korea Sebagai Bahasa Kedua Harahap, Syarafina; Nanda, Sabrina Pramesuary Dwi; Hartati, Difa; Nazra, Yulisin; Sagala, Revayani; Purba, Mega Kristina; Hutagalung, Naima Azmi; Pane, Puan Annisa; Amalia, Nila Dwi; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7236

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meluasnya budaya pop Korea yang memengaruhi minat masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mempelajari bahasa Korea sebagai bahasa kedua karena terpengaruh dengan hal-hal yang mereka gemari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana budaya pop Korea melalui musik, drama, dan media sosial berkontribusi terhadap pemerolehan bahasa Korea oleh pembelajar non-penutur asli yang dikuasai sebagai bahasa kedua. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari pengisian kuisioner dan wawancara yang dilakukan kepada pelajar yang aktif mengikuti budaya pop Korea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap budaya pop Korea meningkatkan motivasi, kosakata, serta kemampuan pemahaman bahasa Korea para pembelajar. Kesimpulannya, budaya pop Korea memiliki peran signifikan sebagai media pembelajaran bahasa Korea secara tidak langsung, sehingga dapat dijadikan strategi pendukung dalam proses pemerolehan bahasa kedua.
Bahasa, Agama, dan Kesadaran Lingkungan: Analisis Konseptual Peran Diskursus Keagamaan dalam Penguatan Ekonomi Berbasis Ekologi Siregar, Umar Mukhtar; Herman, Hidayat
Management Studies and Business journal Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Januari 2025
Publisher : Yayasan Tri Edukasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63462/ax3wy336

Abstract

Environmental issues and sustainability cannot be separated from the ways societies construct meaning and values through language. In religious societies, religious discourse plays a strategic role in shaping collective environmental awareness and influencing related social practices. This article aims to conceptually analyze the role of language and religious discourse in constructing environmental awareness and its implications for ecology-based socio-economic practices. The study employs a library research method using a critical-conceptual approach to national and international literature on discourse analysis, ecolinguistics, and studies of religion and environment. The findings indicate that religious language functions as a medium of moral legitimation that frames human–nature relationships through narratives, metaphors, and normative categories. Religious discourse emphasizing responsibility, balance, and environmental care contributes to the formation of a more stable and collective ecological awareness. Such awareness can subsequently be translated into social practices, including ecology-based economic activities, which are understood as forms of social praxis culturally and symbolically legitimized through language. This article highlights that linguistic approaches, particularly critical discourse analysis and ecolinguistics, offer significant contributions to understanding religious language as a cultural foundation for social transformation toward environmental sustainability.
Kearifan Lokal Berbasis Lingkungan dalam Tradisi Keagamaan sebagai Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Siregar, Umar Mukhtar; Herman, Hidayat
Management Studies and Business journal Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Januari 2025
Publisher : Yayasan Tri Edukasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63462/kc90mz21

Abstract

This study examines how environmentally oriented local wisdom embedded in religious traditions can function as a strategy for community economic empowerment. Environmental degradation and rural economic vulnerability require approaches that integrate ecological sustainability with culturally legitimate economic practices. Using a qualitative case study design, data were collected through observation, in-depth interviews, and document analysis involving religious leaders, traditional authorities, and local micro-entrepreneurs. The findings reveal that religious traditions institutionalize ecological values through norms, rituals, and social sanctions that regulate natural resource use and shape production practices. These values generate social and symbolic capital that strengthens trust, collective action, and market legitimacy for environmentally friendly local products. However, economic pressures and market demands may weaken normative compliance when material incentives are absent. This study demonstrates that religious traditions are not merely symbolic cultural expressions but can be reconstructed as strategic resources for sustainable economic empowerment. The novelty of this research lies in conceptualizing religiously embedded local wisdom as an operational framework linking environmental ethics, social capital, and community-based economic practices. The study contributes to interdisciplinary debates on religion, local culture, and sustainable development by proposing an integrative model of value-based economic empowerment.
Narasi Religius tentang Alam dan Pengaruhnya terhadap Perilaku Ekonomi Berkelanjutan Masyarakat Siregar, Umar Mukhtar; Herman, Hidayat
Management Studies and Business journal Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Januari 2025
Publisher : Yayasan Tri Edukasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63462/946r3884

Abstract

This study investigates how religious narratives about nature shape sustainable economic behavior within local communities. Environmental degradation and economic vulnerability require approaches that integrate ethical values with everyday economic practices. Using a qualitative case study design, data were collected through observation, in-depth interviews, and document analysis involving religious leaders, educators, and local economic actors. The findings indicate that religious narratives construct nature as a moral trust and frame environmentally friendly practices as forms of spiritual responsibility. These narratives influence economic decision-making by guiding choices in production and consumption, particularly through themes of moral accountability, balance, and collective welfare. The study also reveals a tension between normative religious commitments and market pressures, which limits the translation of moral narratives into consistent sustainable practices, especially at the production level. This research demonstrates that religious narratives function not only as moral discourse but also as symbolic mechanisms that mediate between environmental ethics and economic behavior. The novelty of this study lies in integrating narrative analysis with the study of sustainable economic behavior, offering an interpretive framework that explains how symbolic meanings influence material economic choices. The findings contribute to interdisciplinary debates on religion, discourse, and sustainable development by highlighting the role of meaning-making processes in shaping.