Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisis Akuisisi Bahasa Bilingual (Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah) pada Anak Usia Dini di Indonesia: Tantangan dan Strategi Pelestarian Bahasa Lokal di Era Digital Panjaitan, Taufik Kusuma; Amalia, Dhea; Nasution, Azwa Khalisa; Husna, Husna; Rambe, Nailah Faizah S; Ripai, Muhammad; Anggini, Putri; Zafira, Putri Alicya; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7192

Abstract

Artikel ini mengkaji akuisisi bahasa bilingual (Bahasa Indonesia dan bahasa daerah) pada anak usia dini di Indonesia, dengan fokus pada tantangan pelestarian bahasa lokal di tengah pengaruh era digital dan strategi untuk mendukung keberlanjutan linguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka untuk mengeksplorasi dinamika proses akuisisi bahasa, mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan teknologi yang memengaruhi perkembangan bahasa anak. Analisis tematik diterapkan pada data dari jurnal akademik, laporan penelitian, dan artikel terkait multilingualisme untuk mengidentifikasi tantangan utama, seperti dominasi konten digital berbahasa asing, kurangnya sumber daya pendidikan berbasis bahasa daerah, dan risiko bilingualisme subtraktif yang melemahkan penguasaan bahasa lokal. Penelitian ini juga menganalisis strategi pelestarian, seperti pengembangan aplikasi edukasi berbahasa daerah, integrasi bahasa lokal dalam kurikulum digital, dan promosi konten media sosial yang mendukung transmisi antargenerasi. Tujuannya adalah memahami bagaimana faktor-faktor tersebut membentuk kemampuan bilingual anak serta memberikan rekomendasi praktis untuk kebijakan pendidikan dan inisiatif pelestarian bahasa. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya wawasan tentang pentingnya menjaga keragaman linguistik di Indonesia, sekaligus menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan digitalisasi melalui pendekatan teknologi yang inklusif.
Peran Emosi dalam Pemerolehan Bahasa: Studi Keterhubungan antara Intonasi, dan Pembentukan Makna pada Anak Usia 4 Tahun Panggabean, Ester Enjelysa; Gultom, Miranda Maria Magdalena; Napitupulu, Prety Vania Akwila; Sirait, Puja Astrid; Purba, Sherly Anjelia; Fitri, Novita Eka; Chelsea, Selly; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7200

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran emosi dan intonasi dalam pemerolehan bahasa anak usia dini, khususnya pada usia 4 tahun ketika anak mulai aktif memahami makna ujaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran emosi melalui variasi intonasi (gembira, sedih, marah, dan netral) memengaruhi pemahaman makna Bahasa pada seorang anak usia 4 Tahun. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus, karena subjek penelitian hanya satu anak. Sumber data penelitian adalah respon verbal dan nonverbal anak ketika diberikan stimulus berupa cerita sederhana dengan intonasi berbeda. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung yaitu pada saat pemberian stimulus cerita lalu dilanjut dengan pertanyaan pemahaman mengenai cerita tersebut, rekaman suara untuk dapat dianalisis ulang, dan catatan lapangan mengenai respon anak tersebut. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik untuk mengelompokkan respon anak dalam memahami makna berdasarkan jenis intonasi yang digunakan, dari sini peneliti dapat mengetahui kecenderungan respon anak yang muncul apakah di intonasi gembira, sedih, marah atau netral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, intonasi gembira mempermudah anak dalam memahami isi cerita dan menjawab pertanyaan dengan lebih lengkap. Kedua, intonasi sedih membuat anak cenderung menjawab singkat dan kurang antusias. Ketiga, intonasi marah membuat anak tertekan sehingga responnya menurun. Keempat, intonasi netral kurang menarik perhatian anak sehingga fokus dan pemahaman menurun. Intonasi emosional, khususnya yang bernuansa positif seperti intonasi gembira, berperan penting dalam membantu pembentukan makna dan memperkuat pemerolehan bahasa anak usia dini.
Teoritis: Peran Digital Storytelling Interaktif Kemampuan Narasi dan Pemerolehan Bahasa Anak Prasekolah Usia 4-6 Tahun Hutabarat, Mikael Pardomuan; Manullang, Bonita; Tamba, Anggreni Agustina; Sagala, Reni Wati Br; Suhardi, Suhardi; Banjarnahor, Fontifai; Sitohang, Jhon Roger; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7208

Abstract

Penelitian ini adalah kajian literatur yang mengevaluasi peran digital storytelling interaktif dalam meningkatkan kemampuan narasi dan pemerolehan bahasa anak prasekolah usia 4–6 tahun. Periode usia ini merupakan masa emas perkembangan bahasa, yang memerlukan stimulasi tepat sebagai dasar keterampilan literasi masa depan. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian literatur sistematis, menganalisis artikel jurnal dan dokumen akademis yang relevan dari tahun 2019 hingga 2024.Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan digital storytelling interaktif memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan bahasa anak, baik aspek reseptif (menyimak, memahami instruksi) maupun ekspresif (berbicara, menuturkan kembali). Media ini efektif karena menggabungkan unsur audio, visual, dan interaktivitas, menciptakan pengalaman multisensorik yang mempercepat pemerolehan kosakata, pemahaman struktur kalimat, dan internalisasi bahasa secara kontekstual dan menyenangkan.Selain itu, interaktivitasnya sangat penting dalam mengembangkan kemampuan narasi. Anak didorong menjadi "co-creator" cerita dengan berpartisipasi menentukan alur atau tokoh, yang melatih mereka menyusun peristiwa secara logis dan memahami struktur naratif (awal, tengah, akhir). Proses ini memperkuat berpikir kronologis dan menjadi fondasi literasi awal. Keberhasilan metode ini ditentukan oleh peran guru sebagai fasilitator yang mengarahkan interaksi dan nilai edukatif. Dengan demikian, digital storytelling adalah alat yang efektif untuk mendukung perkembangan linguistik, kognitif, dan sosial-emosional anak.
Ketidaksesuaian Mean Length of Utterance: Analisis Hambatan Pemerolehan Morfologi dalam Bahasa Anak Usia 4 Tahun Hutabarat, Sani; Silitonga, Erika Cintya Pebrianti; Saragi, Tasya Amelia; Syahputri, Sri; Siburian, Mieke Angelika; Azura, Siti; Harahap, Rosmawaty; Herman, Hidayat
Journal of Education Transportation and Business Vol 2, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v2i2.7218

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami pemerolehan bahasa anak sejak dini, khususnya anak pada usia 4 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hambatan pemerolehan morfologi anak usia 4 tahun melalui pengukuran MLU dan deskripsi struktur bahasa yang dihasilkan Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan analisis Mean Length of Utterance (MLU) dalam bentuk studi kasus pada satu anak. Sumber data penellitian ini adalah seorang anak yang berumur 4 tahun yang bernama Siti Naura. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia sekaligus menjadi bahasa pertama anak tersebut. Teknik analisis data dilakukan dengan beberapa langkah yaitu pertama dengan mentranskrip data yang diperoleh dari subjek penelitian dalam bentuk rekaman yang berupa 100 ujaran. Selanjutnya menghitung MLU dengan cara menghitung jumlah morfem dari tuturan tersebut dan dibagi dengan jumlah tuturan yaitu 100. Setelah mendapatkan hasil MLU, kemudian dijelaskan interpretasi dari hasil MLU yang diperoleh normal atau tidak dalam hal perkembangan bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang diteliti memiliki pemerolehan bahasa yang yang kurang sesuai dengan tingkat usia MLU. Faktor eksternal atau faktor lingkungan yang menjadi penyebab pemerolehan morfem anak tersebut kurang bervariasi.
Bahasa dalam Genggaman: Analisis Peran Media Sosial dan Konten Edukatif dalam Pemerolehan Bahasa Anak Maharani, Tia; Febriani, Anggi Nur; Ismaidin, Safira Ayesha; Pulungan, Hoirina; Amelia, Regita; Sulistyani, Shiwi; Syahkila, Nurul Aisyah; Herman, Hidayat; Harahap, Rosmawaty
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol 3, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v3i2.7221

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah ekosistem pemerolehan bahasa anak. Media sosial dan konten edukatif kini menjadi sumber input linguistik yang signifikan, selain interaksi keluarga dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran media sosial dan konten digital terhadap pemerolehan bahasa anak, sekaligus menelaah perbedaan kualitas input linguistik dari konten edukatif dan non-edukatif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah dua anak usia sekolah dasar, yaitu Raida Maiza yang lebih banyak mengonsumsi konten non-edukatif, serta Rafardhan yang lebih sering terpapar konten edukatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan konten non-edukatif berimplikasi pada penguasaan kosakata dangkal, repetitif, dan dominasi bahasa nonbaku, sehingga perkembangan sintaksis formal anak menjadi terhambat. Sebaliknya, konten edukatif yang dipadukan dengan pendampingan orang tua berkontribusi pada pemerolehan kosakata baku, struktur kalimat yang lebih kompleks, serta keterampilan pragmatik yang lebih kaya. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas input linguistik dan intensitas pendampingan orang tua merupakan faktor krusial dalam pemerolehan bahasa anak. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi orang tua, pendidik, dan pengembang konten digital untuk mengoptimalkan media sosial sebagai sarana pemerolehan bahasa anak.