Claim Missing Document
Check
Articles

Karakteristik Fisikokimia dan Sifat Fungsional Tempe yang Dihasilkan dari Berbagai Varietas Kedelai (Phsyco-chemical Characteristics and Functional Properties of Tempe Made from Different Soybeans Varieties) Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Sri Widowati; Siti Harnina Bintari; Nadya Ichsani
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i3.102

Abstract

Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang diproduksi melalui fermentasi kedelai dengan kapang Rhizopus sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakteristik fisik dan kimia kedelai impor (GMO, Non-GMO) dan kedelai lokal (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Sebelum difermentasi, kelima jenis kedelai dibandingkan satu sama lain dalam hal ukuran, berat per 100 biji, volume, densitas kamba, impuritas, dan derajat pengembangan setelah dimasak dan direndam satu malam. Kadar air, abu, dan proteinnya juga dibandingkan. Untuk produksi tempe, kedelai disortasi, direbus, direndam, dikupas kulitnya, dan difermentasi. Tempe yang dihasilkan kemudian dianalisis kadar air, abu, protein, kapasitas antioksidan, rendemen, biaya paling efektif, dan karakteristik sensorinya. Hasil analisis menunjukkan kedelai Grobogan memiliki ukuran terbesar (19,53 g/100 biji kedelai) dan efektivitas biaya tertinggi (0,73), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen tempe yang dihasilkan (p > 0,05). Tempe yang dihasilkan dari kedelai Grobogan memiliki kadar air, protein, dan lemak yang sama dengan tempe dari kedelai impor. Tempe yang dihasilkan dari kedelai Argomulyo memiliki kadar protein tertinggi (52,70 persen). Kapasitas antioksidan tempe dari kedelai impor dan lokal berkisar antara 186-191 mg AEAC/kg tempe dan tidak berbeda nyata (p > 0,05) satu sama lain. Berdasarkan analisis sensori pada tempe mentah dan tempe goreng, secara keseluruhan tempe dari kedelai lokal memperoleh tingkat kesukaan yang sama dengan tempe dari kedelai impor.Tempe is Indonesian traditional food made by fermentation of soybean by the fungus Rhizopus sp. The objective of this research was to compare physical and chemical properties of import soybeans (GMO, Non-GMO) and local soybeans (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Before being fermented, these import and local soybeans were compared on size, weight/100 grains, volume, bulk density, impurities, and puffing degree after being cooked and overnight soaked. The moisture, ash, and protein contents were also compared. For producing tempe, soybeans were sorted, cooked, soaked, dehulled, and fermented. The tempe moisture, ash, protein, antioxidant capacity, yield, cost effectiveness, and sensory characteristic were then evaluated. The result showed that Grobogan variety had the biggest size (19.53 g/100 soybean grains) and the highest cost effectiveness (0.73), but the yields of all tempe were not significantly different (p > 0.05). Tempe made from Grobogan soybean had moisture, protein, and fat content as high as tempe made from imported soybeans. Tempe made from Argomulyo soybean had the highest protein content (52.70 percent). The antioxidant capacity of tempe made from imported and local soybeans was about 186–191 mg AEAC/g, but was not significantly different (p > 0.05). Based on sensory evaluation of raw and fried tempe, overall tempe made from local soybeans had the same preference with tempe made from imported soybeans. 
Potensi Dedak dan Bekatul Beras Sebagai Ingredient Pangan dan Produk Pangan Fungsional Made Astawan; Andi Early Febrinda
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.104

Abstract

Dedak dan bekatul adalah produk sampingan dari proses penggilingan beras. Dedak (rice bran) terdiri dari lapisan luar butiran beras (perikarp dan tegmen) serta sejumlah lembaga, sedangkan bekatul terdiri atas lapisan dalam butiran beras yaitu aleuron/kulit ari beras serta sebagian kecil endosperma. Dalam proses penggilingan padi di Indonesia dedak dihasilkan pada proses penyosohan pertama, sedangkan bekatul pada proses penyosohan kedua. Dedak dan bekatul mengandung nilai gizi yang lebih tinggi daripada endosperma (sehari-hari dikenal sebagai beras). Karbohidrat utama di dalam dedak padi adalah hemiselulosa, selulosa, pati dan b-glucan. Tiga asam lemak utama di dalam dedak dan bekatul beras adalah palmitat, oleat dan linoleat. Minyak dedak mentah (crude rice bran oil) mengandung 3-4 persen wax dan sekitar 4 persen lipid tak tersaponifikasi. Antioksidan potensial seperti oryzanol dan vitamin E juga ditemukan di dalam dedak beras. Dedak dan bekatul beras juga kaya vitamin B kompleks. Komponen mineralnya antara lain besi, aluminium, kalsium, magnesium, mangan, fosfor, dan seng. Kandungan gizi dan karakteristik fungsional yang dimiliki dedak dan bekatul beras merupakan potensi untuk pemanfaatan keduanya sebagai pangan fungsional dan food ingredient. Permasalahan utama dalam pemanfaatan dedak dan bekatul adalah mudah tengik akibat reaksi yang menjurus kepada ketengikan hidrolitik dan ketengikan oksidatif.Upaya stabilisasi dedak dan bekatul beras dapat dilakukan melalui inaktivasi enzim lipase dan lipoksigenase, antara lain dengan pengaturan pH, pemanasan kering, pemanasan uap, penggunaan energi microwave, pemakaian uap etanol, hingga pemanfaatan antioksidan.
Aplikasi Tepung Bekatul Fungsional Pada Pembuatan Cookies Dan Donat Yang Bernilai Indeks Glikemik Rendah (Application of Functional Bran in Making Cookies and Donuts with Low Glycemic Index Value) Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Sri Widowati; Indira Saputra
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i4.144

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan bekatul fungsional (direndam dalam asam askorbat 1000 ppm selama 1 jam pada berbagai formula cookies dan donat. Terhadap formula cookies dan donat yang terbaik kemudian dilakukan uji sensori, analisis sifat fisik dan kimia, serta pengukuran indeks glikemik (IG). Bekatul fungsional dapat diaplikasikan sebagai pensubstitusi terigu pada pembuatan cookies dan donat. Formula cookies dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 40 persen dari total tepung, dan formula donat dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 35 persen dari total tepung, merupakan formula yang terpiih. Kedua produk tersebut memiliki kadar serat pangan yang tinggi sehingga dapat diklaim sebagai pangan fungsional sumber serat pangan. Penambahan bekatul fungsional ke dalam formula cookies dan donat dapat menurunkan nilai IG, yaitu dari 67 pada cookies standar (tanpa bekatul) menjadi 31 pada cookies bekatul, dan dari 72 pada donat standar menjadi 39 pada donat bekatul. Dengan demikian, cookies dan donat bekatul dapat digolongkan sebagai pangan yang memiliki IG rendah (< 55). Pangan dengan IG rendah dapat diklaim sebagai pangan fungsional anti-diabetes. Faktor pendukung rendahnya IG pada cookies dan donat bekatul dibandingkan cookies dan donat standar adalah kadar lemak, kadar protein, kadar serat pangan, dan kadar amilosa yang lebih tinggi, serta daya cerna pati yang lebih rendah.kata kunci: cookies, donat, bekatul, indeks glikemik, organoleptikThe objective of this research was to apply functional rice bran (made by soaking rice bran in 1000 ppm ascorbic acid for 1 hour in processing some formulas of cookies and donut. Sensory, physical, chemical, and glycemic index (GI) analysis were then done to the selected formula of cookies and donut. The functional rice bran could be applied to substitute wheat flour in making cookies and donut. Cookies formula with addition of 40 percents functional rice bran from the total flour, and donut formula with addition of 35 percents functional rice bran from the total flour, were the best selected formulas. The two formulas had high dietary fiber content, so it can be claimed as a dietary fiber source of functional foods. The addition of functional rice bran into the cookies and donut formulas could decrease the GI value, from 67 in standard cookies (without addition of functional rice bran) to become 31 in functional rice bran cookies, and from 72 in donat standard to become 39 in functional rice bran donut. So, functional rice bran cookies and donut can be classified as foods with low GI value (< 55). Low GI foods can be claimed as antidiabetic functional food. Higher content of fat, protein, dietary fiber, amylose, and also the lower of starch digestion of rice bran cookies and donut contributed in lowering the GI.keywords: cookies, donut, rice bran, glycemic index, sensory
Isotlavon Kedelai sebagai Antikanker Made Astawan; Andi Early Febrinda
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.244

Abstract

Kedelai telah menjadi makanan sehari-hari penduduk Asia, termasuk Indonesia. Kedelai merupakan sumber utama isoflavon. Konsumsi isoflavon pada sebagian besar negara Asia adalah 25-45 mg/orang/hari. Jepang merupakan negara yang konsumsi isoflavonnya tertinggi di dunia, yaitu 200 mg/orang/hari. Di negara-negara Barat konsumsinya kurang dari 5 mg/orang/hari. Beberapa tahun terakhir ini, muncul peringatan tentang bahaya konsumsi kedelai dan hasil olahannya, khususnya dalam literatur populer seperti artikel koran dan majalah, serta beberapa situs tidak resmi di internet. Informasi tersebut umumnya berasal dari penerjemahan yang salah atas hasil-hasil studi yang lemah dan kurang mendasar. Sesungguhnya di dalam kedelai terkandung berbagai komponen yang mempunyai sifat antikanker, seperti: inhibitor protease, fitat, saponin, fitosterol, asam lemak omega-3, dan isoflavon. Isoflavon saat ini banyak diteliti karena potensinya dalam mencegah dan mengatasi berbagai gangguan kesehatan, khususnya kanker. Beberapa mekanisme dasar isoflavon sebagai antikanker adalah: anti-estrogen, penghambatan aktivitas enzim penyebab kanker, aktivitas antioksidan, dan peningkatan fungsi kekebalan sel. Tulisan ini mengulas peranan isoflavon kedelai sebagai zat antikanker. Produk kedelai yang mengandung isoflavonoid berperan dalam pencegahan beberapa jenis kanker seperti kanker payudara, kanker prostat, kanker paru-paru, kanker kolon, dan kanker endometrial. Konsentrasi senyawa ini dalam plasma dapat dengan mudah mencapai level aktif secara biologis tanpa efek racun. Melalui efek penghambatan faktor dan angiogenesis, genistein dapat menjadi penghambat umum dalam pertumbuhan kanker. Melalui modulasi transport obat, genistein dapat menjadi additive yang baik untuk menyempurnakan terapi kanker. Efek biologis yang digambarkan dapat juga digunakan sebagai strategi pencegahan bagi penyakit lain seperti kardiovaskulerdan osteoporosis melalui efek estrogenik dan antioksidatif yang dimilikinya.
Evaluasi Kualitas Nuget Tempe dari Berbagai Varietas Kedelai (Evaluation on Tempeh Nugget Quality Madefrom Different Soybean Varieties) Made Astawan; Nurina Rachma Adiningsih; Nurheni Sri Palupi
JURNAL PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v23i3.255

Abstract

Tempe segar mempunyai umur simpan yang singkat, umumnya 1-2 hari. Oleh karena itu diperlukan teknologi pengolahan tempe menjadi produk lain dengan umur simpan yang lebih panjang, salah satunya dalam bentuk nuget tempe. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan formula dan varietas kedelai terbaik dalam pembuatan nuget tempe. Dalam penelitian ini digunakan empat varietas kedelai, yaitu : varietas GMO Regular US Soybean Grade No.1 (dengan kode A) dan Identity-Preserved (IP) non GMO Food Grade (dengan kode B, H, dan G2). Nuget yang paling disukai panelis adalah yang terbuat darikedelai varietas B dengan formula 73 persen tempe; tapioka, terigu, dan sagu, masing-masing 4 persen; 8 persen putih telur; dan 7 persen campuran bumbu (berdasarkan 100 g campuran bahan). Keempat jenis nuget memiliki komposisi 49,8 - 50,7 persen air, 3,4 - 4,0 persen abu, 26,3 - 29,2 persen protein, 30,3 - 36,2 persen lemak, dan 30,9 - 39,3 persen karbohidrat. Daya cerna protein nuget tempe secara in vitro berkisar 82,1 - 83,7 persen. Profil tekstur keempat jenis nuget tempe adalah : kekerasan 2697-4370 (gf), elastisitas 0,68 - 0,77 (rasio), daya kohesif 0,36 - 0,41 (rasio), kelengketan 1089-1588 (gf), dan daya kunyah 834-1067 (gf).Fresh tempeh has a short shelf life, generally 1-2 days. Therefore, processing technology is needed to produce other tempeh products with longer shelf life, one of which is in the form of tempeh nugget. The purpose of this study is to determine the best formula and soybean varieties to produce tempeh nugget There are four soybean varieties that used in this study : GMORegular US Soybean Grade No. 1 (code A) and Identity-Preserved (IP) non-GMO Food Grade (code B, H, and G2). The most preferable nugget by panelists is made from B varietyof soybean with formula 73 percent of tempeh; tapioca, wheat flour, and sago, 4 percent respectively; 8 percent of egg white; and 7 percent of the seasoning (based on 100 g ingredients). Four types of nugget tempe have a composition : 49.8 - 50.7 percent water, 3.4 - 4.0 percent ash, 26.3-29.2 percent protein, 30.3-36.2 percent fat, and 30.9-39.3 percent carbohydrates. The in vitro protein digestibility of tempeh nugget varies from 82.1 to 83.7 percent. The texture profile of four tempeh nugget varieties are 2697-4370 (gf) of hardness, 0.68 - 0.77 (ratio) of springiness, 0.36 - 0.41 (ratio) of cohesiveness, 1089-1588 (gf) of gumminess, and 834-1067 (gf) of chewiness.
Karakteristik Fisikokimia Tepung Kecambah Kedelai Made Astawan; Khaidar Hazmi
JURNAL PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i2.326

Abstract

Soybean is a strategic commodity in Indonesia because it is one of the most important crops after rice and maize. Indonesian people like to consume processed soybean products due to several reasons, such as their relatively inexpensive price and highly nutritional content. One of the processes that can improve the quality of soy nutrition is germination process. In this study, comparative physicochemical characteristics of germinated soybean flour (TKK) and soybean flour (TK) is investigated. First, soybean and germinated soybean are dried using a freeze dryer, then their sizes are reduced using a blender and finally they are sieved using a 100 mesh sieve. TKK and TK products are analyzed based on not only their chemical and physical characteristics but also their functional properties. It is proven that germination process can improve the chemical characteristics of soybean flour, such as increasing the contents of ash, protein, and antioxidant capacity, but decreasing the fat content.  TKK is significantly higher than TK on bulk density. Protein functional characteristics of TKK are also better on foam capacity and emulsion capacity as compared to TK.
KARAKTERISTIK TEPUNG TEMPE LARUT AIR Made Astawan
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v26i2.351

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah menganalisa karakteristik tepung larut air berbasis kedelai, tempe kedelai dan tempe kecambah kedelai. Tepung larut air diperoleh dari tepung rendah lemak yang diekstrak dengan air dalam keadaan basa (pH 9). Rendemen hasil ekstraksi tepung larut air berbasis kedelai (SF), tempe kedelai (STF), dan tempe kecambah kedelai (GTF) masing-masing ialah 30.51±1.19%; 11.51±1.12%; dan 14.89±1.95%.  STF dan GTF menunjukkan protein terlarut dan aktivitas antioksidan yang secara signifikan lebih tinggi (p < 0.05) dari SF, SPI, dan tepung tak larut air. Viskositas kelompok tepung larut air  (SF, STF, GTF) secara signifikan lebih rendah (p < 0.05) dari SPI. Hasil pengamatan terhadap komposisi asam amino menunjukkan bahwa proses pembuatan tepung larut air tidak menghilangkan kandungan asam amino esensial yang ada pada bahan asal. Karakteristik lain berupa aktivitas air, warna, dan densitas kamba tepung larut air turut dianalisa.
Pengaruh Konsumsi Tempe dari Kedelai Germinasi dan Non-Germinasi Terhadap Profil Darah Tikus Diabetes Made Astawan
JURNAL PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v28i2.439

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik akibat kurangnya produksi insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Tempe memiliki efek hipoglikemik yang dapat memperbaiki fungsi sel pankreas. Germinasi kedelai dapat meningkatkan komponen bioaktif yang dapat mencegah penyakit DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi ransum tepung tempe dari kedelai germinasi (TKG) dan tepung tempe dari kedelai non-germinasi (TNG) terhadap profil darah tikus DM. Profil darah yang diamati meliputi kadar glukosa darah, analisis hematologi (hemoglobin, leukosit, eritrosit, hematokrit, dan trombosit), serta analisis biokimia serum (kolesterol, trigliserida, LDL, HDL, dan albumin). Kelompok tikus DM yang mengonsumsi ransum TNG dan TKG selama 32 hari memiliki penurunan kadar glukosa darah yang lebih besar dibandingkan kelompok tikus DM yang mengonsumsi kasein (kontrol positif). Tikus kelompok TKG memiliki kadar hemoglobin sebesar 14,1 g/dL, hematokrit 37,3 persen,  dan eritrosit 7,9 juta/mm3 yang mendekati nilai pada tikus normal (kontrol negatif), yaitu masing-masing sebesar 13,4 g/dL,  34,6 persen dan 7,6 juta/mm3. Tikus kelompok TKG memiliki kadar trigliserida (64,0 mg/dL)  yang lebih rendah dari tikus kelompok TNG (89,4 mg/dL). Kadar LDL tikus dari kelompok  TKG (9,2 mg/dL) tidak berbeda secara nyata (p>0,05) dengan kelompok kontrol negatif (3,4 mg/dL). Konsumsi TNG dan TKG tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap parameter leukosit, trombosit, kolesterol, dan HDL tikus diabetes.
Pengaruh Germinasi Kedelai terhadap Komposisi Proksimat dan Komponen Bioaktif IsoflavonTempe Segar dan Semangit Made Astawan
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.460

Abstract

Tempe is a traditional food from Indonesian made from soybeans fermented with Rhizopus spp. Based on the fermentation time, tempeh is divided into fresh tempeh and semangit tempe. Purpose of this study to determine the difference in chemical composition between fresh tempe flour from germination soybean (SG) and non-germination (SNG) and semangit tempe flour made from germination soybean (TG) and non-germination (TNG). Stage of the research include soybean germination process for 24 hours, making fresh tempe (48 hours fermentation), making semangit tempeh (120 hours fermentation), the process of making fresh tempe flour and semangit tempe flour. Analysis carried out on all tempeh flour includes yield, proximate, crude fiber, antioxidants and isoflavones. The process of germination of soybean as a raw material and the addition of fermentation time had no significant effect (p> 0,05) on the nutritional component, but had a significant effect (p <0,05) on the isoflavone levels and antioxidant activity of fresh tempe flour and semangit tempe flour produced. TNG has the highest levels of isidlavone daidzein and genistein, which are 432,8 and 707,8 μg / g, respectively. TNG has the highest antioxidant capacity (IC50 value of 2109 ppm) which is significantly better than SG and SNG, but not significantly different from TG.
Perbandingan Karakteristik Fisikokimia dan Komposisi Asam Amino Tepung Tempe Larut Air dengan Isolat Protein Kedelai Komersial Made Astawan; Ananda Putri Cahyani; Leonita Maulidyanti; Tuti Wresdiyati
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.462

Abstract

The aim of this research was to compared the physicochemical characteristics and amino acid composition of conventional water-soluble tempe flour (CWSTF), germinated soybean water-soluble tempe flour (GSWSTF) and commercial soy protein isolate (CPI). Water-soluble tempe flour was made from defatted flour and alkali extraction-isoelectric precipitation. The yield of CWSTF, GSWSTF, and CPI were not significantly different (p>0.05). Proximate analysis of CWSTF and GSWSTF showed significantly different from CPI except water content (p<0.05). The essential amino acids in CWSTF and GSWSTF are lysine, leucine, isoleucine, phenylalanine, valine, methionine, and threonine. Analysis of the physical characteristic CWSTF and GSWSTF showed significantly different (p<0.05) with CPI in colors, aw, and bulk density in a lower with CPI.   Ekstraksi alkali-presipitasi isoelektrik yang dilakukan pada tepung tempe konvensional dan tepung tempe kecambah kedelai menghasilkan tepung tempe larut air. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik fisikokimia dan komposisi asam amino tepung tempe konvensional larut air (TKLA), tepung tempe kecambah kedelai larut air (TKKLA), dan isolat protein kedelai komersial (IPK). Tepung tempe konvensional dan tempe kecambah kedelai dihilangkan lemaknya kemudian diekstrak menggunakan ekstraksi alkali-presipitasi isoelektrik. Hasil penelitian menunjukkan kadar proksimat terhadap kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat pada TKLA dan TKKLA nyata lebih rendah (p<0,05) dibanding IPK. Kadar asam amino esensial pada TKLA dan TKKLA berturut-turut sebesar 20,4 persen; 20,0 persen, lebih rendah dari IPK sebesar 29,6 persen. Analisis sifat fisik dan fungsional terhadap nilai L, derajat putih, dan daya serap minyak menunjukkan TKLA dan TKKLA nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan IPK. Proses ekstraksi pada TKLA dan TKKLA masih dapat dioptimalkan untuk memperoleh kadar proksimat utamanya protein yang lebih baik.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abidah, Puri Adzrok Adurrasyid, Zaid Afifah, Diana N. Afrilia Sandra Ramadhani Agata Tantri Atmaja Ahmad Sulaeman Ahmad Syauqy Alamsah Firdaus Alfarisi, Hamzah Ali, Muhammad Saddam Amilia Dayatri Uray Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Ananda Putri Cahyani Ananda Putri Cahyani Andi Early Febrinda Ani Karmila Anjani, Gemala Ans Budi Hartanta Ansarullah, Alfia ANZS BUDY HARTANTA Arif - Hartoyo Armando M Saragih Ati Widya Perana Ayu P.G Prayudani Aziz, Sandra Azra, Azka Lathifah Zahratu B.A. Susila Santosa Bambang Purwantara Bella Dinar Fauqii Cahyani Bernadetha Beatrix Sibarani C Hanny Wijaya Cahyani, Ananda Putri Chitisankul, Wanida T. Dadang Supriatna Dadang Supriatna Dadang Supriatna Dadi Hidayat Maskar, Dadi Hidayat Dahrulsyah - - Damayanti, Aprilia F. Deddy - Muchtadi Deddy Muchtadi Deddy Muchtadi Deddy Muchtadi DEDDY MUCHTADI Deddy Muchtadi Deddy Muchtadi Diana Nur Afifah, Diana Nur Diini Fithriani Dini Wulan Dari Dodik Briawan Dwi Febiyanti - Dwi Utami, Septi Eiichiro Fukusaki Elis Nurhayati Endang Mahati Endang Prangdimurti Evy Damayanthi Fanie Herdiani Fithriani, Diini Fransiska R Zakaria Hadi Riyadi Hadi Susilo Arifin Hadiningtias, Primanisa Hamzah Alfarisi Hardinsyah Hazmi, Khaidar Herpandi . Hidayati, Mustika I Komang Gede Wiryawan Ichsani, Nadya Ikeu Tanziha Inas Suci Rahmawati Indira Saputra Intan Kusumawati Irma Isnafia Arief Isnafia Arief , Irma Istiqomah, Nurani Jefriaman Sirait Karnila, Rahman Karnila Ketut Adnyane Mudite Khaidar Hazmi koekoeh santoso Komang G Wiryawan Komari Komari Komari Komari Lasmiati, Ni Nengah Laut, Bimaris Tranoya Leonita Maulidyanti LUSIA YUNI HASTANTI Made Darawati Manalu, Johanes Marojahan Mardhiyyah, Yunita Siti Maryani Suwarno Maryani Suwarno Maryani Suwarno Maulidyanti, Leonita Muchtadi, Deddy Muhamad Firdaus Muhamad Firdaus Muhamad Syukur Muhammad Agus Muljanto Muhammad Aries Muhammad Ichsan Mursyid . Mursyid Mursyid Mustika Hidayati Nadya Ichsani Nafisah Nancy Dewi Yuliana nFN Akhyar Ni Nengah Lasmiati Novita, Rias R. Nur Wulandari Nurhayati Arifin Nurhayati H.S. Arifin Nurhayati Nurhayati Nurhayati, Elis Nurina Rachma Adiningsih Palupi, Nurheni Sri Perana, Ati Widya Prasetyawati, Renny Candra Prayudani, Ayu P G Prayudani, Ayu Putri Gitanjali Prima Yaumil Fajri Putri, Anisya Saeila Putri, Sastia P. Putri, Sastia Prama Putty Anggi Lestari Rachma Adiningsih, Nurina Rafidha Irdiani Rahmawati, Irma Sarita Rahmawati, Siti Irma Ramadhani, Afrilia Sandra Ramdhani, Rizal Pauzan Ratnaningsih Eko S. Renny Candra Prasetyawati Rimbawan , Rini Kesenja Rita Khairina RR. Ella Evrita Hestiandari Rudy R Nitibaskara Sadiah, Siti Saithong, Pramuan Salsabila Salsabila Sam Herodian Sandra Arifin Aziz Saputra, Indira Saragih, Armando M SARASWATI SARASWATI Sarwono Waspadji Sarwono Waspadji Sarwono Waspadji Sastia Prama Putri Septi Dwi Utami Setyawati S Karyono Setyawati S. K. Setyawati S. Karyono Setyawati, Amalia Rani Sibarani, Bernadetha Beatrix Siti Harnina Bintari Siti Sa'diah Siti Sadiah Slamet Widodo Soewarno S Soekarto Soewarno Soekarto Sri Anna Marliyati Sri Rahmatul Laila Sri Widowati Sri Widowati Sugeng Heri Suseno Sukarno Sukarno Suliantari . Sundari, Fitria Suci Suratno, Yuhlanny Dewi Sussi Astuti Sutrisno Koswara Taopik Ridwan TATI NURHAYATI Tika Pratiwi Khumairoh Tita Aviana Tjahja Muhandri Tryas, Anisha Ayuning Tuti Wresdiyati Tutik Wresdiyati Utami, Sri Inten V Prihananto Vera Di Nurwati Winiati P. Rahayu Winiati Pudji Rahayu Wirawanti, Ika Wirya Wresdiyati, Tuti Yana Nurdiana Yeni Setiorini Yeni Setiorini Yenni MS Nababan Yuhlanny Dewi Suratno Yuspihana Fitrial