Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Gender Mainstreaming dalam Dokumen Perencanaan dan Penganggaran Daerah : Analisis IKU dan DPA Provinsi Banten Desnianum, Nur Sofi; Aurelia, Puput; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/vxn5br98

Abstract

Pengarusutamaan gender (PUG) merupakan strategi krusial untuk pembangunan inklusif dengan mengintegrasikan perspektif gender ke seluruh kebijakan publik. Penelitian ini menganalisis implementasi PUG melalui Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Provinsi Banten menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan. Analisis dokumen perencanaan (RPJMD/RKPD) dan penganggaran menunjukkan PUG telah ada secara formal, namun integrasi substantif terbatas: hanya 13,8% IKU responsif gender dan 0,31% GRB dari APBD Rp 28 triliun (7 SKPD/4,6%). Program seperti pendampingan KDRT DP3APPKB (Rp 450 juta, 300 perempuan) menonjol, tetapi mayoritas indikator generik tanpa disaggregasi (pedesaan vs perkotaan). Hambatan meliputi kapasitas birokrasi rendah, komitmen politik lemah, dan data gender minim. Penelitian merekomendasikan Perda GRB, template IKU terpilah, dan dashboard monitoring untuk transformasi tata kelola inklusif.
Rekonstruksi Makna Maskulinitas melalui Labelling “Cowok Princess” pada Platform TikTok Nadhifa, Sultan; Nugraha, Muhammad Wafikurrizky; Kamajaya, Rafael; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/pw3xbz55

Abstract

Label "cowok princess" yang berkembang di platform TikTok merepresentasikan fenomena sosial-kultural yang mencerminkan tegangan antara norma maskulinitas tradisional dengan ekspresi emosional laki-laki yang semakin terbuka di era digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana label tersebut berfungsi sebagai instrumen rekonstruksi makna maskulinitas melalui interaksi kolektif pengguna TikTok. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi digital non-partisipan terhadap komentar pada video TikTok periode 2024–2025 dengan total 180 komentar dari 15 video yang dipilih secara purposive. Analisis dilakukan berdasarkan kerangka teori labelling Howard S. Becker. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: konstruksi label sebagai produk sosial kolektif, bekerjanya master status dalam ruang digital, dan internalisasi label oleh pengguna. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan memainkan peran yang sangat aktif dalam membentuk dan menegakkan batas-batas norma maskulinitas melalui pengalaman relasional yang mereka bagikan di ruang digital. Temuan ini menegaskan bahwa TikTok bukan sekadar platform hiburan, melainkan arena aktif tempat makna maskulinitas terus diproduksi, diperdebatkan, dan direkonstruksi oleh jutaan penggunanya setiap hari.
Dekonstruksi Maskulinitas Hegemonik dan Reinterpretasi Patriarki dalam Budaya Pernikahan Adat Bugis-Makassar: Analisis Wacana Kritis pada Film “Jodoh 3 Bujang” Irawan, Dzakwan; Habuzaifah, Vanessa; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/q7a8dw59

Abstract

Relasi antara gender, tradisi budaya, dan media populer semakin menjadi topik fundamental dalam kajian sosial dan politik kontemporer. Dalam masyarakat Bugis-Makassar, tradisi uang panai dalam pernikahan adat sering dipahami tidak hanya sebagai praktik budaya, tetapi juga sebagai mekanisme simbolik yang melegitimasi maskulinitas hegemonik melalui kemampuan ekonomi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana film “Jodoh 3 Bujang” menegosiasikan maskulinitas hegemonik serta mereinterpretasi narasi patriarki yang tertanam dalam tradisi pernikahan Bugis-Makassar melalui representasi uang panai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis serta Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) model Norman Fairclough. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi adegan film, transkripsi dialog yang berkaitan dengan relasi gender dan tradisi uang panai, serta studi literatur mengenai budaya Bugis-Makassar, patriarki, dan maskulinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film tersebut merepresentasikan uang panai sebagai bentuk kapital simbolik maskulinitas yang memperkuat tanggung jawab ekonomi laki-laki serta status sosial dalam struktur patriarki. Namun demikian, alur naratif film juga menampilkan proses negosiasi yang mempertanyakan standar maskulinitas hegemonik yang normatif. Film ini mereinterpretasi makna uang panai melalui transformasi simbolik dengan menampilkan agensi perempuan serta kemungkinan negosiasi nilai patriarki tanpa harus merombak struktur budaya secara radikal. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam kajian gender dan politik dengan menunjukkan bahwa film lokal dapat menjadi ruang diskursif dalam menegosiasikan relasi kuasa gender dalam tradisi budaya dan realitas sosial kontemporer. Oleh karena itu, transformasi nilai patriarki dapat terjadi melalui reinterpretasi simbolik dan diskursif tanpa harus melalui dekonstruksi struktural yang revolusioner.
Pelabelan Negatif terhadap Ekspresi Feminin pada Laki-laki: Analisis Stigma 'Boti' dalam Interaksi Sehari-hari di Media Sosial dan Ruang Publik Indonesia Elisabet Claudya Septiani Silaban; Salwa Zahira; Ika Arinia Indriyany
Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry Vol 1 No 4 (2026): June: Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/1pz1ss06

Abstract

This study examines the negative labeling of feminine expression among men in Indonesia through the stigma associated with the term “boti” within everyday interactions in social media and public spaces. The research employs an empirical qualitative socio-legal approach combining phenomenology and critical discourse analysis to explore how stigma is produced, circulated, and normalized within digital and social environments. Data were collected through social media content analysis on platforms such as Twitter/X, Instagram, and TikTok, alongside semi-structured interviews involving informants selected through purposive sampling. The findings reveal that the use of the term “boti” functions not merely as colloquial slang but as a symbolic instrument that reinforces hegemonic masculinity, regulates gender expression, and reproduces hierarchical gender norms in Indonesian society. From a socio-legal perspective, the persistence of such stigma highlights tensions between constitutional guarantees of expression and the protection of personal dignity under Indonesian law. Strengthening inclusive digital governance and gender-sensitive legal interpretation is therefore essential to prevent symbolic discrimination in contemporary public discourse.  
Politik Gender dan Kontestasi Maskulinitas di Media Sosial: Analisis Representasi Emil Mario dalam Ruang Digital Chanila Misya Subkhan; Ezra Kalyla; Ika Arinia Indriyany
Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry Vol 1 No 4 (2026): June: Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/084syg79

Abstract

This study examines the construction of masculinity and femininity meanings through gender expression represented by the Indonesian digital creator Emil Mario on social media platforms. Using an empirical qualitative approach with a case study design, the research analyzes digital content from TikTok and Instagram, including visual performances, narrative captions, and audience interactions. Data were collected through digital ethnography, documentation of online content, and analysis of public discourse surrounding the creator’s gender expression. The findings reveal that gender identity in digital spaces is constructed through repeated performative practices manifested in visual aesthetics, body gestures, fashion choices, and narrative self-representation. These performative elements contribute to the formation of a distinctive digital persona that challenges conventional norms of hegemonic masculinity in Indonesian society. Audience responses further demonstrate the presence of discursive contestation between traditional patriarchal expectations and more flexible interpretations of gender identity. From a socio-legal perspective, the phenomenon reflects broader debates concerning freedom of expression, non-discrimination, and gender politics in digital public spaces. The study concludes that social media functions as a significant arena where gender identities are negotiated, contested, and reconstructed within contemporary digital culture.
Membangun Resiliensi Perempuan dalam Menghadapi Banjir di Sumatera Utara: Perspektif Kebijakan Responsif Gender Juwita Siregar; Muhamad Fikri; Ika Arinia Indriyany
Presidensial: Jurnal Hukum, Administrasi Negara, dan Kebijakan Publik Vol. 3 No. 1 (2026): Maret: Presidensial : Jurnal Hukum, Administrasi Negara, dan Kebijakan Publik
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/presidensial.v3i1.1563

Abstract

Floods are one of the most frequent hydrometeorological disasters in Indonesia and cause various social, economic, and environmental impacts on communities. In disaster situations, women often face greater vulnerability than men due to limited access to resources, high domestic responsibilities, and minimal protection in disaster policies. Although the government has adopted a gender mainstreaming policy in development, its implementation in disaster management policies remains suboptimal. This study aims to analyze how flood management policies integrate gender perspectives and identify the impacts of floods on women. The study used a qualitative approach using literature study methods and media content analysis to understand the dynamics of policies and women's experiences in disaster situations. The results show that disaster management policies still tend to focus on technical and infrastructure aspects, while women's specific needs are often overlooked, particularly regarding security in refugee camps, access to reproductive health services, and increased domestic burdens during crises. This condition indicates that the integration of a gender perspective in disaster policies still faces various structural and institutional barriers. Therefore, efforts are needed to strengthen the implementation of gender-responsive policies so that disaster management does not only focus on physical mitigation, but is also able to provide fairer and more inclusive protection for all community groups.
Kekerasan Seksual dan Subordinasi terhadap Perempuan Dibawah Umur: Analisis Berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2022 Anggi Yulia; Safira Natasya; Ika Arinia Indriyany
Deposisi: Jurnal Publikasi Ilmu Hukum Vol. 4 No. 1 (2026): Maret : Deposisi: Jurnal Publikasi Ilmu Hukum
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/deposisi.v4i1.6087

Abstract

Sexual violence against women and children is still a serious problem in Indonesia. Girls are among the most vulnerable groups because of their young age, emotional dependence, and the imbalance of power with perpetrators who are generally older or close to the victim. Cases of violence often occur in various environments, such as within the family, early marriage, or social relationships such as dating or friendships with older men. This situation often places girls in a weak position, making it difficult for them to resist or report the violence they experience. This research aims to examine forms of sexual violence against girls in relationships with large age differences and examine legal protection based on Law Number 12 of 2022 concerning Crimes of Sexual Violence. The research uses qualitative methods through literature study by reviewing books, scientific journals, regulations, and data from the Ministry of Women's Empowerment and Child Protection. The results of the study show that unequal age relations often give rise to power inequalities that trigger domination, control and various forms of violence, such as sexual coercion, physical violence, psychological manipulation and domestic exploitation. The TPKS Law plays an important role as a basis for legal protection and fulfillment of rights for victims
Between Marriage and Economic Independence: A Qualitative Study on Women’s Life Choices from the Perspective of Liberal Feminism Citra Septia Dewi; Rizki Ananda; Ika Arinia Indriyany
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 4, No 2 (2026): March 2026
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19033777

Abstract

This research is motivated by the shifting social perspectives on marriage, where women no longer view marriage solely as the primary goal of life, but increasingly consider individual autonomy and economic independence. Although social norms often still place women in domestic roles, access to education and employment opportunities has provided women with greater space to determine their own life choices, including the choice to delay marriage or not marry at all. The purpose of this study is to identify the considerations women make when choosing not to marry, analyze the relationship between economic independence and this life choice, and examine the phenomenon through the perspective of liberal feminism. This research uses a qualitative method with a case study approach to explore the subject’s experiences in depth. The findings show that economic independence provides women with stronger bargaining power, so the decision not to marry is no longer considered a social deviation, but rather a mature reflection of individual rights and financial freedom. The implications of this study emphasize the need to redefine gender roles in modern society to be more inclusive of women’s diverse life choices without negative stigma. This research contributes to the enrichment of literature in family sociology and gender studies, particularly in understanding the dynamics of women’s independence in the contemporary era.
Dinamika Kepemimpinan Perempuan dalam Struktur Tentara Nasional Indonesia: Analisis Relasi Kekuasaan dalam Kebijakan Institusional Alif Mahesa Tanujiwa; Davi Dwi Julio; Ika Arinia Indriyany
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/qtvf0y64

Abstract

Institusi militer secara historis dibangun di atas struktur hierarki yang kuat dan nilai-nilai maskulinitas yang mempengaruhi distribusi kekuasaan serta pola kepemimpinan dalam organisasi. Kondisi ini sering menempatkan perempuan pada posisi marginal dalam sistem karier militer. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika kepemimpinan perempuan dalam struktur Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta bagaimana relasi kekuasaan dalam kebijakan institusional mempengaruhi peluang perempuan mencapai posisi kepemimpinan strategis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode literature review. Analisis dilakukan menggunakan teori relasi kuasa Michel Foucault dan pendekatan Feminist Institutionalism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan kepemimpinan perempuan dipengaruhi oleh mekanisme institusional seperti sistem promosi pangkat, jalur karier, serta budaya organisasi yang masih didominasi norma maskulinitas.
Kekerasan Berbasis Gender Bermotif Asmara di Kampus: Analisis Fenomenologi Kasus UIN Suska Riau Sasmita, Rayhan Putra; Rafasha, Rafasha; Indriyany, Ika Arinia
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 5: April 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i5.16202

Abstract

Abstract: Kekerasan berbasis gender (KBG) di lingkungan kampus merupakan fenomena sosial yang menunjukkan bahwa ruang pendidikan tinggi belum sepenuhnya bebas dari relasi kuasa patriarkal. Kasus pembacokan terhadap mahasiswi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau pada tahun 2026 dengan motif penolakan asmara memperlihatkan bagaimana relasi romantis dapat berkembang menjadi kekerasan ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam dinamika sosial, konstruksi maskulinitas, serta pengalaman mahasiswa dalam memaknai fenomena kekerasan berbasis gender bermotif asmara di lingkungan kampus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap delapan mahasiswa serta analisis dokumen sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan bermotif asmara tidak hanya dipengaruhi faktor emosional individual, tetapi juga berkaitan dengan struktur patriarki dan konstruksi maskulinitas hegemonik yang memandang penolakan perempuan sebagai ancaman terhadap identitas maskulin. Selain berdampak pada korban secara psikologis dan akademik, peristiwa tersebut juga memunculkan rasa tidak aman dalam lingkungan kampus. Oleh karena itu, penguatan kebijakan pencegahan, edukasi kesetaraan gender, serta pengembangan pembelajaran berbasis masalah menjadi langkah penting dalam mencegah kekerasan berbasis gender di perguruan tinggi. Keywords: Kekerasan Berbasis Gender, Patriarki, Maskulinitas Hegemonik, Relasi Asmara, Lingkungan Kampus
Co-Authors Abdul Hamid Adelia Rismayani Agus Sjafari Aini, Hilyatul Ajeng Roro Syanti Akmal, Rahadi Alif Mahesa Tanujiwa Angeline Lusman, Stella Anggi Yulia Anis Fuad Arif Rahman Aryanti, Siti Alya Aulia, Rachel Aurelia, Puput Azalia Salsabila Azis, Muhamad Faqih Riyadul Bayana, Abiyyu Ahnaf Boy Valentino Sihombing Chandra, Assyifa Aulia Chanila Misya Subkhan Citra Septia Dewi Davi Dwi Julio Desnianum, Nur Sofi Dhiya Fathiyyatul Aulia Diqbal Satyanegara Dirlanudin Dirlanudin Elisabet Claudya Septiani Silaban Ezra Kalyla Farhanah, Nadia Malika Farrir Ilallah Fitriyanti, Hilda Gilang Ramadhan Godjali, Moch. Rizky Godjali, Moh Rizky Habuzaifah, Vanessa Handaningtias, Uliviana Restu Hardiyanti, Inne Hendrawan Syafrie Hikmawan, M. Dian Ilmi, Aisyah Machiqa Inayah, Ratu Irawan, Dzakwan Ismalia, Lily Juwita Siregar Kamajaya, Rafael Kamil, Tubagus Fauzan Kandung Sapto Nugroho Karin Caroline Kelly Khairina, Khalishah Zahra Khairunisa, Taufiqah Alifah Liyandi, Mochamad Juniar Luki Oka Prastio M Dian Hikmawan M Dian Hikmawan M. Dian Hikmawan M. Dian Hikmawan M. Rizky Godjali Mahadina, Ivana Joya Mahpudin Mahpudin Manurung, Yolanda Marito, Brigita Putri Marlinda, Erly Maulana, Habibi Mayrudin, Yeby Ma'asan Mayrudin, Yeby Ma’asan Minerva Laisa Sabatini Moh Rizky Godjali Moh Rizky Godjali Muhamad Fikri Muhammad Adjie Akbar Muhammad Daffa Pratama Mukti, Titania Nadhifa, Sultan Nadia Malika Farhanah Nana Nofianti, Nana Ningrum, Kheria Yulia Nisa, Bella Saidah Hoerul Nisaul Istiqomah Nufus Kanani Nufus, Noni Nugraha, Muhammad Wafikurrizky Nugroho, Farhan Bintang Nuraulia, Rahma Dani Nurrohman, Bayu Nurrohman, Bayu Olivia, Melisa Pagnozzi, Angelica Albina Pasya, Aziza Nawra Praceka, Puspita Asri Prastio, Luki Oka Prayoga, Erdin Puspita Asri Praceka Putra, Ary Widodo Putri, Shezy Solevina Rafasha, Rafasha Riswanda , Riswanda Rizki Ananda Romadhoni, Kheysa Husna Khasifa Sadayi, Delila Putri Safira Natasya Salwa Zahira Sasmita, Rayhan Putra Selvi Centia Setiani, Diah Shanty Kartika Dewi Sulistiani, Selvi Tirza, Dominique Jacqualine Titi Stiawati Titi Stiawati Titi Stiawati Tri Wahyudi Tri Wahyudi Wahyudi Triana, Rieta Uliviana Restu Uliviana Restu Handaningtias Utami, Wahyu Kartiko Wahyu Kartiko Utami Wicaksono, Muhammad Satrio Adhi Widodo Widodo Yeby Ma’asan Mayrudin Zidan, Muhammad Yazid