Claim Missing Document
Check
Articles

Pandangan Audiens terhadap Ekspresi Gender dalam Konten Edukasi di TikTok @kakakitwil (Oki Ardian) Triana, Rieta; Nufus, Noni; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/5ysbcr66

Abstract

Platform media sosial, khususnya TikTok, membuka peluang bagi individu untuk mengekspresikan diri, termasuk ekspresi gender, sekaligus memicu berbagai respons dari para audiens. Salah satu kreator yang aktif dalam berinteraksi dengan pengikutnya ialah Oki Ardian atau disebut sebagai Ka Itwil. Ia sering merespons pertanyaan dari audiensnya dan membahas pengalaman kegiatan sehari-hari melalui konten edukatif yang dibagikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur yang melibatkan analisis berbagai sumber terkait gender, media sosial, serta respons audiens dalam ruang digital. Analisis dilakukan dengan mengacu teori performativitas gender dari Judith Butler, yang melihat gender sebagai identitas yang terbentuk melalui tindakan, cara memperlihatkan tubuh, dan praktik sosial dilakukan berulang kali. Hasil kajian menunjukkan bahwa konten edukasi yang disampaikan tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman dan nasihat bagi pengikutnya, tetapi memunculkan variasi respons audiens yang dipengaruhi oleh norma sosial mengenai gender. Beberapa audiens menunjukkan dukungannya dan merasa terhubung karena penyampaian yang bisa berkomunikasi dengan baik, sedangkan kelompok lain memberikan kritik karena merasa ekspresi itu tidak sesuai dengan norma gender yang berlaku. Temuan ini menunjukkan media sosial menjadi ruang transaksi dan interaksi sosial, dimana ekspresi gender, nilai-nilai budaya, dan interpretasi audiens saling berinteraksi dalam membentuk makna di ruang digital.
Kebebasan Ekspresi Digital Perspektif Gender dalam Kasus Laras Faizati Azis, Muhamad Faqih Riyadul; Angeline Lusman, Stella; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rxhtpm74

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah menciptakan ruang publik baru yang memungkinkan masyarakat menyampaikan pendapat dan berpartisipasi dalam diskursus sosial maupun politik melalui media sosial. Namun, kebebasan berekspresi di ruang digital juga memunculkan berbagai persoalan hukum dan sosial, terutama ketika ekspresi yang disampaikan dianggap melanggar batas yang diatur oleh regulasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kebebasan ekspresi digital dari perspektif gender dalam kasus Laras Faizati. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku, dokumen hukum, serta media daring. Analisis penelitian menggunakan perspektif subaltern counterpublics dari Nancy Fraser untuk memahami bagaimana perempuan sebagai kelompok yang sering berada dalam posisi subordinat memanfaatkan ruang digital sebagai sarana menyuarakan pengalaman dan kritik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital dapat menjadi ruang alternatif bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam diskursus publik. Namun, di sisi lain, perempuan juga menghadapi berbagai tantangan seperti intimidasi daring, tekanan sosial, serta potensi kriminalisasi melalui regulasi digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menciptakan ruang digital yang lebih inklusif dan adil guna menjamin kebebasan berekspresi perempuan tanpa mengabaikan prinsip-prinsip hukum yang berlaku.
Implementasi Gender Mainstreaming dalam Dokumen Perencanaan dan Penganggaran Daerah : Analisis IKU dan DPA Provinsi Banten Desnianum, Nur Sofi; Aurelia, Puput; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/vxn5br98

Abstract

Pengarusutamaan gender (PUG) merupakan strategi krusial untuk pembangunan inklusif dengan mengintegrasikan perspektif gender ke seluruh kebijakan publik. Penelitian ini menganalisis implementasi PUG melalui Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Provinsi Banten menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan. Analisis dokumen perencanaan (RPJMD/RKPD) dan penganggaran menunjukkan PUG telah ada secara formal, namun integrasi substantif terbatas: hanya 13,8% IKU responsif gender dan 0,31% GRB dari APBD Rp 28 triliun (7 SKPD/4,6%). Program seperti pendampingan KDRT DP3APPKB (Rp 450 juta, 300 perempuan) menonjol, tetapi mayoritas indikator generik tanpa disaggregasi (pedesaan vs perkotaan). Hambatan meliputi kapasitas birokrasi rendah, komitmen politik lemah, dan data gender minim. Penelitian merekomendasikan Perda GRB, template IKU terpilah, dan dashboard monitoring untuk transformasi tata kelola inklusif.
Rekonstruksi Makna Maskulinitas melalui Labelling “Cowok Princess” pada Platform TikTok Nadhifa, Sultan; Nugraha, Muhammad Wafikurrizky; Kamajaya, Rafael; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/pw3xbz55

Abstract

Label "cowok princess" yang berkembang di platform TikTok merepresentasikan fenomena sosial-kultural yang mencerminkan tegangan antara norma maskulinitas tradisional dengan ekspresi emosional laki-laki yang semakin terbuka di era digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana label tersebut berfungsi sebagai instrumen rekonstruksi makna maskulinitas melalui interaksi kolektif pengguna TikTok. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi digital non-partisipan terhadap komentar pada video TikTok periode 2024–2025 dengan total 180 komentar dari 15 video yang dipilih secara purposive. Analisis dilakukan berdasarkan kerangka teori labelling Howard S. Becker. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: konstruksi label sebagai produk sosial kolektif, bekerjanya master status dalam ruang digital, dan internalisasi label oleh pengguna. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan memainkan peran yang sangat aktif dalam membentuk dan menegakkan batas-batas norma maskulinitas melalui pengalaman relasional yang mereka bagikan di ruang digital. Temuan ini menegaskan bahwa TikTok bukan sekadar platform hiburan, melainkan arena aktif tempat makna maskulinitas terus diproduksi, diperdebatkan, dan direkonstruksi oleh jutaan penggunanya setiap hari.
Dekonstruksi Maskulinitas Hegemonik dan Reinterpretasi Patriarki dalam Budaya Pernikahan Adat Bugis-Makassar: Analisis Wacana Kritis pada Film “Jodoh 3 Bujang” Irawan, Dzakwan; Habuzaifah, Vanessa; Indriyany, Ika Arinia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-MARET
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/q7a8dw59

Abstract

Relasi antara gender, tradisi budaya, dan media populer semakin menjadi topik fundamental dalam kajian sosial dan politik kontemporer. Dalam masyarakat Bugis-Makassar, tradisi uang panai dalam pernikahan adat sering dipahami tidak hanya sebagai praktik budaya, tetapi juga sebagai mekanisme simbolik yang melegitimasi maskulinitas hegemonik melalui kemampuan ekonomi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana film “Jodoh 3 Bujang” menegosiasikan maskulinitas hegemonik serta mereinterpretasi narasi patriarki yang tertanam dalam tradisi pernikahan Bugis-Makassar melalui representasi uang panai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis serta Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) model Norman Fairclough. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi adegan film, transkripsi dialog yang berkaitan dengan relasi gender dan tradisi uang panai, serta studi literatur mengenai budaya Bugis-Makassar, patriarki, dan maskulinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film tersebut merepresentasikan uang panai sebagai bentuk kapital simbolik maskulinitas yang memperkuat tanggung jawab ekonomi laki-laki serta status sosial dalam struktur patriarki. Namun demikian, alur naratif film juga menampilkan proses negosiasi yang mempertanyakan standar maskulinitas hegemonik yang normatif. Film ini mereinterpretasi makna uang panai melalui transformasi simbolik dengan menampilkan agensi perempuan serta kemungkinan negosiasi nilai patriarki tanpa harus merombak struktur budaya secara radikal. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam kajian gender dan politik dengan menunjukkan bahwa film lokal dapat menjadi ruang diskursif dalam menegosiasikan relasi kuasa gender dalam tradisi budaya dan realitas sosial kontemporer. Oleh karena itu, transformasi nilai patriarki dapat terjadi melalui reinterpretasi simbolik dan diskursif tanpa harus melalui dekonstruksi struktural yang revolusioner.
The Construction of Masculinity in Relation to Vasectomy Practices in Indonesia’s Family Planning Program Olivia, Melisa; Nugroho, Farhan Bintang; Indriyany, Ika Arinia
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 8 (2026): March
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19027247

Abstract

The Family Planning (KB) program in Indonesia still demonstrates unequal participation between women and men, particularly in the use of permanent contraceptive methods such as vasectomy. This study aims to analyze the causes of low male involvement and examine the influence of masculinity construction on reproductive decision-making. The research employs a qualitative method using a literature review approach. The findings indicate that low male participation is influenced by strong patriarchal values, the perception of fertility as a symbol of masculinity, as well as limited knowledge and access to reproductive health services. From the perspective of hegemonic masculinity, vasectomy is often perceived as a threat to masculine identity, leading to social resistance. Consequently, the responsibility for contraceptive use remains largely borne by women. This study highlights that increasing male participation in the family planning program requires policy approaches that are not only technical-medical but also sensitive to social gender constructions.
Misunderstandings of Feminism Among Women in Patriarchal Societies Zidan, Muhammad Yazid; Wicaksono, Muhammad Satrio Adhi; Indriyany, Ika Arinia
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 8 (2026): March
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19029204

Abstract

Gender inequality remains an ongoing issue within Indonesia’s social dynamics. Although various policies have been introduced to strengthen the principle of equality between men and women, unequal gender relations can still be observed in both domestic and public spheres. In this context, feminism, which seeks to challenge gender inequality, is often misunderstood as a movement that opposes men or as an ideology that contradicts cultural values and social norms. This study aims to examine how feminism is perceived within Indonesian society and how patriarchal culture contributes to maintaining such misconceptions. This research employs a qualitative approach using a literature study method based on academic journals, scholarly books, and official publications related to feminism and patriarchy. The theoretical framework applied in this study is Judith Butler’s post-structuralist feminism, which emphasizes that gender identity is socially constructed through the repeated performance of cultural norms. The findings indicate that misconceptions about feminism are not only influenced by limited gender literacy but also by the internalization of patriarchal values that have long been normalized within social life. These values are reproduced through family structures, educational institutions, media representations, and cultural practices that shape the image of the “ideal woman.” Therefore, a more contextual understanding of feminism is necessary to foster a more constructive discussion on gender equality in Indonesian society.
From Clan to Politics: A Feminist Analysis of the Reproduction of Patriarchy and Masculine Dominance in North Sumatra Tirza, Dominique Jacqualine; Marlinda, Erly; Indriyany, Ika Arinia
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 8 (2026): March
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the reproduction of patriarchy and masculine dominance in local politics in North Sumatra through a feminist perspective, highlighting the role of the patrilineal clan system in shaping social and political power structures. In Batak society, lineage is traced through men, thus positioning men as the successors of the clan and the primary representatives in both customs and social life. This condition causes male authority not only to remain within the family sphere but also extends into the public sphere, including local political practices. This study uses a qualitative approach with a desk study method through a review of literature, scientific journals, and regulations related to gender, customs, and local politics. The results show that patriarchy is reproduced through the clan system, customary practices, and the concept of Dalihan Na Tolu, which strengthens men's legitimacy in leadership and kinship-based power networks. In political contests, masculinity is often used as symbolic capital to gain voter trust, resulting in low female representation despite the 30 percent affirmative action quota policy. These obstacles are not only structural but also cultural, as customary norms still position men as more worthy figures for leadership. Therefore, efforts to achieve gender equality require changes not only in formal policies but also in cultural values and social practices within society.
Gender Power Dynamics within Bureaucratic Structures: An Analysis of Institutional Patriarchy and Hegemonic Masculinity at the DP3AKKB of Banten Province Ilmi, Aisyah Machiqa; Marito, Brigita Putri; Indriyany, Ika Arinia
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 8 (2026): March
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19027395

Abstract

This study aims to analyze the dynamics of gender power relations within bureaucratic structures through the perspectives of institutional patriarchy and hegemonic masculinity in the Department of Women’s Empowerment, Child Protection, Population and Family Planning (DP3AKKB) of Banten Province. The research employs a qualitative method with a case study approach. Data were collected through literature review and document analysis of official institutional documents, including strategic plans, performance reports, and organizational staffing data. Data were analyzed qualitatively using thematic reading and critical interpretation to identify patterns of position distribution, leadership practices, and organizational culture shaping gender relations in the bureaucracy. The findings indicate that women hold a strong numerical representation in the leadership structure of DP3AKKB, with the majority of strategic positions occupied by female officials. However, the hierarchical organizational structure and bureaucratic leadership norms emphasizing authority, seniority, and administrative rationality still reflect the influence of masculine values in leadership legitimacy. This condition creates an institutional paradox in which an institution mandated to promote gender equality continues to operate within a bureaucratic framework that potentially reproduces gendered power relations. The study suggests that gender equality in bureaucracy cannot be measured solely by women’s numerical representation but also requires transformation in organizational culture and substantive power distribution in decision-making processes.
Abiguitas Regulasi Sunat Perempuan di Indonesia: Analisis Bipolitik atas Peran Negara Pasya, Aziza Nawra; Aulia, Rachel; Indriyany, Ika Arinia
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 8 (2026): March
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19027714

Abstract

The practice of female genital mutilation is still found in various regions of Indonesia and is often viewed as part of cultural traditions or religious practices. However, this practice has also sparked debate because it is considered to have no medical benefits and to potentially endanger women’s health and bodily autonomy. This study aims to analyze the ambiguity of state regulations regarding the practice of female genital mutilation in Indonesia through a biopolitical perspective. This study employs a qualitative descriptive method using a literature review approach, drawing from academic journals, books, and government policy documents. The results indicate that state policies regarding female circumcision exhibit inconsistent regulatory dynamics, marked by the implementation of medical guidelines through a Ministry of Health regulation in 2010, which was subsequently revoked in 2014. This situation highlights the state’s ambiguous position in balancing the protection of women’s health with the pressures of cultural and religious norms within society.
Co-Authors Abdul Hamid Agus Sjafari Aini, Hilyatul Alif Mahesa Tanujiwa Angeline Lusman, Stella Anggi Yulia Anis Fuad Aulia, Rachel Aurelia, Puput Azis, Muhamad Faqih Riyadul Chandra, Assyifa Aulia Chanila Misya Subkhan Citra Septia Dewi Davi Dwi Julio Desnianum, Nur Sofi Diqbal Satyanegara Dirlanudin Dirlanudin Dzikrillah, Muhamad Khaerul Elisabet Claudya Septiani Silaban Ezra Kalyla Farhanah, Nadia Malika Gilang Ramadhan Godjali, Moch. Rizky Godjali, Moh Rizky Habuzaifah, Vanessa Handaningtias, Uliviana Restu Hardiyanti, Inne Hendrawan Syafrie Hikmawan, M. Dian Ilmi, Aisyah Machiqa Irawan, Dzakwan Ismalia, Lily Juwita Siregar Kamajaya, Rafael Kandung Sapto Nugroho Karin Caroline Kelly Liyandi, Mochamad Juniar Luki Oka Prastio M Dian Hikmawan M Dian Hikmawan M. Dian Hikmawan M. Dian Hikmawan M. Rizky Godjali Mahpudin Mahpudin Marito, Brigita Putri Marlinda, Erly Maulana, Muhamad Ibnu Mayrudin, Yeby Ma'asan Mayrudin, Yeby Ma’asan Moh Rizky Godjali Moh Rizky Godjali Muhamad Fikri Mukti, Titania Nadhifa, Sultan Nadia Malika Farhanah Nana Nofianti, Nana Ningrum, Kheria Yulia Nufus Kanani Nufus, Noni Nugraha, Muhammad Wafikurrizky Nugroho, Farhan Bintang Nurrohman, Bayu Nurrohman, Bayu Olivia, Melisa Pagnozzi, Angelica Albina Pasya, Aziza Nawra Praceka, Puspita Asri Prastio, Luki Oka Prayoga, Erdin Purwananda, Diwan Azka Puspita Asri Praceka Riswanda Riswanda Rizki Ananda Safira Natasya Salwa Zahira Selvi Centia Setiani, Diah Shanty Kartika Dewi Sulistiani, Selvi Tirza, Dominique Jacqualine Titi Stiawati Titi Stiawati Titi Stiawati Tri Wahyudi Tri Wahyudi Wahyudi Triana, Rieta Uliviana Restu Uliviana Restu Handaningtias Utami, Wahyu Kartiko Wahyu Kartiko Utami Wicaksono, Muhammad Satrio Adhi Widodo Widodo Yeby Ma’asan Mayrudin Zidan, Muhammad Yazid