Claim Missing Document
Check
Articles

Cooperative and Conflict dalam Kepemimpinan Pendidikan Berbasis Agama, Filsafat, Psikologi dan Sosiologi Nurhalali Deden As’ari; Tajudin Tajudin; Yanti Yulianti; Sofyan Sauri; Faiz Karim Fatkhullah
Edulead : Journal of Education Management Vol 3 No 1 (2021): Edulead : Journal of Education Management
Publisher : LPPM Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/edulead.v3i1.383

Abstract

Cooperative and conflict in educational leadership is a unity that cannot be separated. new technological advances, intense competition, differences in culture and value systems, as well as various kinds of individual personalities, due to the large number of people who use their tongues freely without being based on moral, value and religious considerations, are the causes of the tendency for conflicts to occur which have the potential to give birth to conflicts and disputes and can This creates a bad situation in various environments, both family, school, and community. so that conflict management and leadership are authoritative, honest and trustworthy as a neutralizer or mediator between conflicting parties, as well as a means to unite various conflicting things to free human life from individual interests and from vices, so that later they can be led to the path of light. Conflict management in education is basically a set of ways to manage all conflicts faced by education managers which are carried out consistently and uniformly, intended to assess, control, fund, and utilize all existing conflicts to increase organizational value for the benefit of interested parties (stakeholders). ). This study tries to look at cooperation and conflict from four perspectives, namely theological, philosophical, psychological, and sociological perspectives. Theologically, Islam teaches the importance of tolerance, respecting the differences that humans have so as not to trigger conflict and lead to enmity and hostility. Conflict is very necessary in human life. However, don't get involved in a conflict that ends up becoming a prolonged conflict with no solution that will actually damage human relations and will harm humans themselves. Philosophically, professional conflict management practitioners must be able to understand the essence of conflict as a form of managing a balance between conflict and the benefits of conflict in the interest of optimizing the benefits of educational institutions. Psychologically conflict management in education focuses on learning about how to understand teaching and learning in an educational environment which is intended to influence educational activities so that the teaching and learning process can take place more effectively by paying attention to the psychological response and behavior of students. Sociologically, conflict management in education is defined as a social process between one or more people who try to get rid of the other party by destroying or making him helpless. Various conflicts and social unrest that occur can actually be managed wisely and wisely. ABSTRAK Kooperatif dan konflik dalam kepemimpinan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. kemajuan teknologi baru, persaingan ketat, perbedaan kebudayaan dan sistem nilai, serta berbagai macam kepribadian individu, akibat banyaknya orang yang menggunakan lidahnya secara bebas tanpa didasari oleh pertimbangan moral, nilai dan agama, merupakan penyebab kecenderungan terjadinya konflik yang berpotensi melahirkan pertentangan dan perselisihan serta dapat menimbulkan situasi yang buruk dalam berbagai lingkungan baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat. sehingga diperlukan manajemen konflik dan kepemimpinan yang berwibawa, jujur dan dapat dipercaya sebagai penetralisir atau penengah diantara pihak-pihak yang berkonflik,,sekaligus sebagai sarana untuk menyatukan berbagai hal yang saling bertentangan untuk membebaskan kehidupan manusia dari kepentingan individual dan dari kejelekan-kejelekan, sehingga kemudian mereka dapat dibawa menuju ke jalan yang terang. Manajemen konflik dalam dunia pendidikan pada dasarnya merupakan seperangkat cara mengelola seluruh konflik yang dihadapi oleh pengelola pendidikan yang dilakukan secara konsisten dan seragam, dimaksudkan untuk menilai, mengendalikan, mendanai, dan memanfaatkan seluruh konflik yang ada untuk meningkatkan nilai organisasi untuk kepentingan pihak yang berkepentingan (stakeholder). Kajian ini mencoba untuk melihat kooperatif dan konflik dari empat perspektif, yaitu perspektif teologis, filosofis, psikologis, dan sosiologis. Secara teologis Islam mengajarkan pentingnya toleransi menghargai adanya perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia agar jangan sampai memicu konflik dan mengakibatkan perseteruan dan permusuhan. Konflik memang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Namun, jangan sampai terlarut dalam konflik yang akhirnya menjadi konflik berkepanjangan yang tidak ada solusinya yang justru akan merusak hubungan antar manusia dan akan merugikan manusia itu sendiri. Secara filosofis, praktisi manajemen konflik yang profesional mesti mampu memahami esensi konflik sebagai bentuk pengelolaan keseimbangan antara konflik dan manfaat konflik demi kepentingan optimalisasi keuntungan lembaga pendidikan. Secara psikologis manjemen konflik dalam pendidikan fokus mempelajari tentang cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan yang dimaksudkan untuk mem-pengaruhi kegiatan pendidikan sehingga proses pembelajaran dan belajar-mengajar dapat berlangsung lebih efektif dengan memperhatikan respon kejiwaan dan tingkah laku peserta didik. Secara sosioligis, manajemen konflik dalam pendidikan, diartikan sebagai suatu proses sosial antara satu orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Berbagai konflik dan kerusuhan sosial yang terjadi sebenarnya dapat dikelola secara arif dan bijaksana.
Ki Hadjar dewantara’s trikon principels towards the development of indonesian education Burhan Kurniansyah; Sofyan Sauri; Pupun Nuryani
xxxx-xxxx
Publisher : Sekolah Pascasarjana UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5340/ciee.v2i1.56488

Abstract

Ideas are ideas resulting from one's thoughts. The idea here is the idea of Ki Hadjar Dewantara as the father of Indonesian Education and is also one of Indonesia's national heroes. One of the ideas of Ki Hadjar Dewantara is about the principle of Trikon cultural theory (Continuity, Convergence and concentricity) is the concept of Ki Hadjar Dewantara culture which has always been the basis of thinking today in the process of cultural development in Indonesia. This research uses a qualitative approach with descriptive analysis. Data collection using library research. As for the qualitative research instrument itself, the researcher (human instrument). This study aims to explore the relevance of the basic idea of Trikon Ki Hadjar Deawantar to the development of Indonesian education which continues to this day and dynamically continues to move towards the ideal achievement goal of education. That the Principle of Trikon Ki Hadjar Dewantara has development value in the educational process.
Makna Simbolik Upacara Khatam Quran Anak-Anak pada Perguruan Quran Awaliyah (PQA) di Nagari Balai Gurah Sumatera Barat Wirdanengsih Wirdanengsih; Sofyan Sauri; Dasim Budimansyah; Edi Suresman
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol. 13 No. 1 (2017): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Juni 2017
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56633/jkp.v13i1.16

Abstract

Upacara Khatam Quran anak- anak di Balai Gurah  kecamatan IV Angkat Kabupaten Agam Sumatera Barat merupakan upacara inisiasi kepada anak-anak yang telah mampu membaca dengan baik dan benar dan dilakukan setahun sekali oleh lembaga pendidikan masyarakat non formal yaitu Perguruan Quran Awaliyah (PQA) sehingga anak-anak di nagari Balai gurah yang berumur 9 tahun keatas umumnya sudah pandai mengaji dengan baik dan benar, sedangkan di beberapa daerah di negeri ini angka melek membaca Alquran masih tinggi dan dinagari ini pelaksanaan Khatam Secara rutin diselenggarakan sejak tahun 1923.Maka tujuan penelitian untuk mendiskripsikan  dan menjelaskan makna upacara Khatam Quran ini.Penelitian ini  dianalisis dengan teori interpretative simbolik yang dikemukaakan oleh Clifford Gertz yang menyatakan makna kegiatan masyarakat berasal dari kebudayaan  yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri, akarnya pada penafsiran  masyarakat yang digambarkan  melalui sistem simbol  beserta jaringan simbol dari setiap kegiatan  dan praktek)  yang dilakukan masyarakat.
Management of Character Education Based on Panca Jiwa in Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor Odik Sodikin; Ujang Cepi Barlian; Sofyan Sauri; Dadan Nurulhaq
International Journal of Nusantara Islam Vol 8, No 2 (2020): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v8i2.10776

Abstract

The purpose of this study was to examine how the management of character education based on the five souls at Pondok Pesantren Darul Muttaqien Bogor. The method used in this research is descriptive method which aims to describe and describe the phenomena in the field, namely scientific phenomena. The results showed that the five souls as the foundation for character education in Islamic boarding schools contain five values, including the value of sincerity, simplicity, independence, ukhuwah Islamiyah, and the value of freedom. Where these five values must be practiced as much as possible so that the students become strong and tough Muslim personalities like buildings that have a solid foundation, and for those who can practice them well, it will be easy to meet the future as well as possible.
INTERNALISASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI NILAI-NILAI KESUNDAAN JALMI MASAGI DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Neneng Euis Kartini; Sofyan Sauri; Yadi Ruyadi
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 9 No. 01 (2020): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v9i01.683

Abstract

Kesundaan merupakan salah satu budaya yang terletak di Jawa Barat dan memiliki kebudayaan yang sangat unik. Keunikan ini akan menjadi sebuah nilai tambah jika terinternalisasikan  dengan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan kearifan lokal yang sudah disepakati. Setiap lembaga pendidikan memiliki metode dalam mengembangkan karakter siswa/siswinya menjadi manusia unggul yang bisa menggali dari budaya yang sudah melekat. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin membuat suatu artikel yang berkaitan dengan karakter anak-anak milenial melalui kebudayaan sunda dengan program Jalmi Masagi. Artikel ini bertujuan untuk menjadikan manusia unggul yang memiliki empat nilai yaitu (1) badannya harus sehat, (2) cerdas (3) berakhlak dan (4) religius, sesuai dengan salah satu program Gubernur Jabar yang telah diluncurkan pada tahun 2018 yang disebut dengan Jabar Masagi.
Pengembangan Karakter Religius Peserta Didik Berbasis Keteladanan Guru Dalam Pembelajaran PAI Muchamad Rifki; Sofyan Sauri; Aam Abdussalam; Udin Supriadi; Miptah Parid
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 11 No. 001 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam (Special Issue 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i4.3597

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai proses pengembangan karakter religius peserta didik yang berbasis kepada keteladanan guru di Sekolah. Hal ini berangkat dari sebuah pandangan bahwa kesuksesan dalam mengembangkan nilai-nilai karakter religius pada suatu proses pendidikan tidak dapat dilepaskan daripada keteladanan yang diberikan oleh guru terhadap para peserta didik. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis kualitatif dengan metode yang dipakai adalah studi kasus (case study). Kemudian pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif. Sementara analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif-analisis. Hasil tulisan ini menunjukkan bahwa di Sekolah, pengembangan karakter religius peserta didik yang berbasis kepada keteladanan guru ini ditunjukkan dengan adanya pengembangan terhadap nilai-nilai yang mengarah pada pembentukan karakter religius peserta didik, seperti sikap taat melaksanakan ibadah, berprilaku baik sesuai ajaran agama, berbicara dengan santun dan saling menghormati dengan sesama warga sekolah. Kemudian pengembangan karakter religius tersebut dilakukan oleh ketika guru berada di dalam maupun di luar kelas, dan juga dengan memanfaatkan komunikasi verbal dan juga non verbal.
Studi Profesionalisme Pedagogik Guru Bahasa Arab dalam Meningkatkan Kemahiran Berbahasa (Studi Fenomenologi Terhadap Guru Bahasa Arab di MA Negeri 3 Majalengka) Ambiya, Iza Zainal; Sauri, Sofyan
EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ibtikar.v13i1.16527

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena hasil UMBN siswa di MA Negeri 3 Majalengka masih harus mengejar KKM; Hal ini menjadi kekhawatiran karena rendahnya kompetensi guru. Penelitian ini berfokus pada salah satu dari empat kompetensi esensial, yaitu kompetensi pedagogik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profesionalisme pedagogi guru dalam meningkatkan kemahiran berbahasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif, sedangkan pendekatan fenomenologi menggunakan pendekatan deskriptif yang dipelopori oleh Edmund Husserl. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Terdapat potensi peningkatan kompetensi pedagogik guru bahasa Arab di MAN 3 Majalengka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kompetensi pedagogik guru perlu ditingkatkan, dengan kategori penilaian saat ini berada pada level MEMADAI. Guru bahasa Arab di MAN 3 Majalengka perlu meningkatkan kompetensi pedagogiknya. Terdapat kekurangan pada beberapa indikator, seperti pengembangan kurikulum dan evaluasi hasil pembelajaran. Peningkatan kompetensi pedagogik dapat memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran
Analisis Pembelajaran Bahasa Arab di Kelas VII-A SMP Islam Terpadu Almaka Jakarta Barat : Studi Analisis Wacana Kelas Dwi Essy Ramala; Sofyan Sauri; Mia Nurmala
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4920

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis interaksi kelas dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas VII-A SMPIT Almaka Jakarta Barat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berdasarkan pendekatan analisis wacana interaksi kelas yang terdiri dari pelajaran, transaksi, pertukaran, gerak, dan tindakan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik rekaman yang selanjutnya dianalisis melalui tahapan- tahapan yaitu (1) transkripsi data; (2) pengkodean data; (3) interpretasi data; dan (4) simpulan data. Setelah semua data terkumpul, selanjutnya dianalisis mengacu pada pola IRF (Initiate-Response-Feedback) Sinclair dan Coulthard. Wacana interaksi kelas selama pembelajaran bahasa Arab menunjukkan adanya pelajaran, transaksi, pertukaran, gerak, dan tindak. Pelajaran yaitu unit tertinggi dalam struktur wacana kelas berupa materi pelajaran. Transaksi yaitu kesepakatan antara guru dan siswa dalam pembelajaran yang terbentuk dari rangkaian pertukaran. Pertukaran berfungsi sebagai penanda dalam beberapa sub bagian topik pelajaran. Gerak berfungsi sebagai unit yang mengklasifikasikan berbagai tindakan guru maupun siswa dalam interaksi pembelajaran. Tindakan yaitu performansi atas tuturan guru maupun siswa dalam interaksi pembelajaran. Pola interaksi IRF dalam wacana interaksi kelas berkembang menjadi beragam pertukaran IRF.
Komunikasi dan Human Relation Pemimpin Berbasis Agama, Filsafat, Psikologi, Sosiologi Pendidikan Dewi Indrawaty; Asep Deni Normansyah; Dian Hidayati; Maesaroh Maesaroh; Sofyan Sauri; Faiz Karim Fatkhullah
Eduprof : Islamic Education Journal Vol. 4 No. 1 (2022): Eduprof : Islamic Education Journal
Publisher : Program Pascasarjana, Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/eduprof.v4i1.127

Abstract

Humans in their lives always need other people, because apart from being individual beings, humans are also social beings. As individual beings, they are able to develop themselves, while as social beings, humans in their lives are gifted with the ability to interact. One of the effective forums for interacting with each other is the organization. In the organization, it is certain that there will be interaction, one of which is through communication. It aims to achieve the objectives to be achieved. Communication is a basic human need, and is one of the important elements in the success of an organization. In an educational organization, for example, it cannot run without the support of communication. Because, how is it possible to educate humans without communication, and teach humans without communication. In general, educational leadership plays a very important role in directing and moving educational organizations to achieve the expected goals. The various roles that must be carried out by a leader cannot be realized without communication. The nature of the organization is very dependent on how the personnel in the organization communicate. The better the quality of communication, the better the quality of the organization. An important aspect of communication is the potential of communication itself as a tool that can be designed by management to achieve organizational goals. The importance of communication can also be seen from the benefits for the organization including the functions of control, motivation, emotional disclosure and the provision of information for decision making. ABSTRAK Manusia dalam kehidupannya selalu membutuhkan orang lain, karena disamping sebagai makhluk individual manusia juga adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk individual, mereka mampu mengembangkan dirinya sendiri, sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia dalam kehidupannya dikaruniai kemampuan berinteraksi. Salah satu wadah yang efektif untuk saling berinteraksi adalah organisasi. Dalam organisasi dipastikan akan terjadi interaksi, yang salah satunya melalui komunikasi. Hal ini bertujuan mencapai tujuan yang akan dicapai. Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia, dan termasuk salah satu unsur penting dalam keberhasilan suatu organisasi. Dalam organisasi pendidikan misalnya, tidak dapat berjalan tanpa dukungan komunikasi. Sebab, bagaimana mungkin mendidik manusia tanpa komunikasi, dan mengajari manusia tanpa adanya komunikasi. Secara umum, kepemimpinan pendidikan berperan sangat penting dalam rangka mengarahkan dan menggerakkan organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Beragam peran yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin mustahil bisa diwujudkan tanpa adanya komunikasi. Hakikat organisasi sangat bergantung pada bagaimana personal yang ada dalam organisasi tersebut berkomunikasi. Semakin baik kualitas komunikasi maka semakin baik pula kualitas organisasi tersebut. Aspek penting dari komunikasi yaitu potensi dari komunikasi itu sendiri sebagai alat yang dapat dirancang manajemen untuk pencapaian tujuan organisasi. Pentingnya komunikasi juga dapat dilihat dari manfaat bagi organisasi meliputi fungsi pengendalian, motivasi, pengungkapan emosional dan penyediaan informasi untuk pengambilan keputusan.
The Development of Arabic Language Teaching Materials Based on Archipelago Folklore: Service at The Malaysian Institute of Teacher Education Mohammad Zaka Al Farisi; Mia Nurmala; Sofyan Sauri; Yayan Nurbayan; Mad Ali; Rinaldi Supriadi; Farhan Fuadi
TAAWUN Vol. 5 No. 01 (2025): TA'AWUN FEBRUARY 2025
Publisher : Pusat Penelitian Pengabdian Pada Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Fattah Siman Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37850/taawun.v5i01.812

Abstract

This community service aims to improve students' understanding of Arabic language learning by integrating local folklore as a learning medium. This program is implemented by the Arabic Language Education Study Program FPBS UPI in collaboration with the Malaysian Teacher Education Institute (IPG). The methods used include focus group discussions and ethnographic approaches to explore students' needs and adapt folklore from the origins of Bandung City into teaching materials. The results of the community service show that the use of folklore not only improves students' understanding of Arabic vocabulary and structure but also enriches their insight into local culture. The impact of this program is seen in the increasing involvement of students in the learning process and the creation of more contextual and relevant learning. This culture-based approach provides an innovative alternative in foreign language learning oriented towards society's benefit.