Eva Decroli
Endocrinology And Metabolic Subdivision, Division Of Internal Medicine, Dr. M. Djamil General Hospital/ Medical Faculty Of Andalas University, Padang, West Sumatera, Indonesia

Published : 43 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Comorbidities of Gestational Diabetes Mellitus and Urinary Tract Infection: A Case Report Dinda Aprilia; Eva Decroli; Alexander Kam; Robby Satria Putra
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 7 No. 4 (2023): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v7i4.804

Abstract

Background: Gestational diabetes mellitus (GDM) is defined as a condition of glucose intolerance that is found during pregnancy. In pregnant women, urinary tract infection (UTI) is one of the most common bacterial infections that can be found. The infection can be worsened by diabetes as it was shown that the risk of UTI in pregnant women with diabetes (27.6%) is higher than those without diabetes (3%-10.1%). This study aimed to present a case of gestational diabetes mellitus and urinary tract infection. Case presentation: A pregnant woman aged 38 years old with a 15-16 weeks gestational age was admitted with gestational diabetes mellitus and urinary tract infection. The patient was treated with an intravenous insulin drip and antibiotic. The patient was discharged after there was a clinical improvement. Conclusion: There are many risk factors that can contribute to the development of UTI in pregnant women, with one of those being inadequate glycemic control. The treatment of UTI in pregnant women with GDM is generally the same as in those without GDM.
Comorbidities of Gestational Diabetes Mellitus and Urinary Tract Infection: A Case Report Dinda Aprilia; Eva Decroli; Alexander Kam; Robby Satria Putra
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 7 No. 4 (2023): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v7i4.804

Abstract

Background: Gestational diabetes mellitus (GDM) is defined as a condition of glucose intolerance that is found during pregnancy. In pregnant women, urinary tract infection (UTI) is one of the most common bacterial infections that can be found. The infection can be worsened by diabetes as it was shown that the risk of UTI in pregnant women with diabetes (27.6%) is higher than those without diabetes (3%-10.1%). This study aimed to present a case of gestational diabetes mellitus and urinary tract infection. Case presentation: A pregnant woman aged 38 years old with a 15-16 weeks gestational age was admitted with gestational diabetes mellitus and urinary tract infection. The patient was treated with an intravenous insulin drip and antibiotic. The patient was discharged after there was a clinical improvement. Conclusion: There are many risk factors that can contribute to the development of UTI in pregnant women, with one of those being inadequate glycemic control. The treatment of UTI in pregnant women with GDM is generally the same as in those without GDM.
Tiroiditis Hashimoto dan Sindrom Gitelman Dinda Aprilia; Eva Decroli; Alexander Kam; Auliangi Tamayo
Majalah Kedokteran Andalas Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v46.i4.p772-775.2023

Abstract

Seorang perempuan usia 34 tahun datang dengan keluhan lemah pada kedua tangan dan kaki, benjolan di leher, riwayat berdebar-debar, penurunan berat badan dan siklus menstruasi yang tidak teratur. Pasien didiagnosis dengan tiroiditis Hashimoto dan sindrom Gitelman. Pasien diterapi dengan levotiroksin dan koreksi elektrolit. Pasien kemudian pulang dalam keadaan perbaikan klinis.
Pola Bakteri dan Sensitivitas Antibiotik pada Pasien Ulkus Kaki Diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang Sheila Jihan Safira; Eva Decroli; Yustini Alioes
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1061

Abstract

Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes melitus yang paling sering terjadi dan memiliki tingkat perawatan di rumah sakit yang tinggi. Salah satu penyebab ulkus kaki diabetik adalah infeksi bakteri sehingga untuk penanganan diberikan antibiotik sesuai bakteri penyebabnya, tetapi untuk penanganan awal dapat diberikan antibiotik secara empiris. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteri dan sensitivitasnya terhadap antibiotik pada pasien ulkus kaki diabetik yang dirawat di Bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Sampel penelitian menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien ulkus kaki diabetik yang dirawat di Bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2018–2021 dengan total 35 sampel. Sampel dianalisis dengan menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi. Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan bahwa pasien terbanyak yang dirawat adalah perempuan dengan usia ≤60 tahun. Bakteri terbanyak berdasarkan kelompok Gram positif dan negatif adalah bakteri Gram negatif, yaitu Proteus sp (28,6%), Klebsiella sp (17,1%), Escherichia coli (8,6%), dan Acinetobacter baumannii (8,6%). Hasil penelitian berdasarkan kelompok bakteri aerob dan anareob didapatkan yang terbanyak adalah bakteri aerob, yaitu Proteus sp (28,6%), Klebsiella sp (17,1%), Escherichia coli (8,6%), Staphylococcus aureus (8,6%), dan Acinetobacter baumannii (8,6%). Antibiotik yang paling sensitif adalah meropenem, amikacin, dan trimethoprim/sulfamethoxazole. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah bakteri terbanyak yang menginfeksi pasien ulkus kaki diabetik adalah bakteri aerob Gram negatif. Antibiotik dengan tingkat sensitivitas yang tertinggi adalah meropenem.
Pengaruh Diabetes Self Management Education Terhadap Indeks Massa Tubuh Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Antoni, Adi; Decroli, Eva; Afriwardi, Afriwardi; Prayitno, Irwan; Lipoeto, Nur Indrawati; Efendi, Nursyirwan; Mudjiran, Mudjiran; Hardisman, Hardisman
Jurnal Dunia Gizi Vol 6, No 1 (2023): Edisi Juni
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdg.v6i1.5725

Abstract

Pendahuluan: Penyakit kronis yang jumlahnya selalu meningkat setiap tahunnya di dunia salah satunya Diabetes Mellitus. Kriteria yang penting dalam menjaga kesehatan penderita diabetes mellitus khususnya dalam menjaga kadar glukosa darah tetap ideal dilihat dari indeks massa tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh diabetes self management education terhadap indeks massa tubuh penderita diabetes di kota Padangsidimpuan. Metode: Penelitian ini Quasi Eksperimen dengan desain one group pretest-posttest only design dengan melibatkan 40 responden berdasarkan perhitungan besar sampel dengan menggunakan rumus sample size determination in health studies. Teknik sampel yang digunakan adalah proportionale random sampling. Kriteria berupa penderita DM tipe 2, pasien diabetes yang tidak mengalami gangguan kognitif, dapat berkomunikasi verbal maupun nonverbal. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan dengan intervensi sebanyak 6 kali dengan priode waktu 2 jam setiap sesi pemberian edukasi. Pengukuran IMT menggunakan timbangan dan microtoise. Analisis data yang diguanakan yaitu uji Chi-Square dan Paired T-Test. Hasil: Penelitian ini ditemukan bahwa rerata sebelum intervensi DSME didapatkan nilai IMT sebesar 25.266 kg/m2 (SD=2.053) dan rerata sesudah intervensi DSME didapatkan nilai IMT sebesar 24.281 kg/m2 (SD=2.142) (p value= 0.001). Kesimpulan: DSME efektif dalam menurunkan IMT pada penderita diabetes mellitus. Penderita DM dapat memanfaatkan DSME sebagai intervensi mandiri yang dapat dilakukan di rumah untuk mengontrol berat badan ideal agar kadar glukosa darah tetap stabil.
Non Classic - Congenital Adrenal Hyperplasia: Suatu Kasus Langka Sofiani, Dinda Putri; Decroli, Eva; Aprilia, Dinda; Kam, Alexander
Health and Medical Journal Vol 7, No 1 (2025): HEME January 2025
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v7i1.1643

Abstract

Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) adalah kelainan autosomal resesif yang disebabkan defek steroidogenesis. Salah satu tipe CAH adalah defisiensi 21-hydroxylase yang terdiri dari sub tipe classic dan non-classic. Penegakan diagnosis dan penatalaksanaan CAH merupakan suatu tantangan dikarenakan langkanya kasus dan manifestasi klinis yang bervariasi, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan defisiensi enzim. Telah dilaporkan suatu kasus yang langka berupa klitoromegali dengan hirsutisme dan amenorea primer, yang merupakan suatu non classic - congenital adrenal hyperplasia (NC-CAH). Penegakan diagnosis NC-CAH pada kasus ini didapatkan dari gambaran virilisasi pada wanita dewasa berupa klitoromegali dan hirsutisme yang disertai amenorea primer dengan kadar kortisol serum dan elektrolit yang normal. Penelusuran riwayat keluarga dan pencitraan membantu penegakan diagnosis, namun pemeriksaan 17-Hydroxyprogesterone tetap disarankan untuk konfirmasi diagnosis dan pemantauan terapi.
Korelasi antara Kadar Interleukin-6 dengan Kadar Reverse Triiodothyronine dan Kadar Hormon Tiroid Lainnya pada Pasien Sakit Kritis dengan Non-Thyroidal Illness Syndrome Aprilia, Dinda; Decroli, Eva; Fadella, Annesa
Health and Medical Journal Vol 7, No 1 (2025): HEME January 2025
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v7i1.1639

Abstract

Pendahuluan: Penyakit kritis dapat disertai dengan perubahan hormon tiroid. Non-thyroidal illness syndrome (NTIs) adalah kelainan tes fungsi tiroid ditandai dengan penurunan kadar triiodothyronine (T3) dan peningkatan kadar reverse triiodothyronine (RT3) pada pasien dengan penyakit sistemik non-tiroid berat tanpa kelainan tiroid sebelumnya dan interleukin (IL)-6 dikatakan terlibat dalam patogenesis NTIs. Tujuan: Mengetahui rerata kadar IL-6, Thyroid Stimulating Hormone (TSH), T3, Thyroxine (T4) dan RT3 pada pasien kritis; Mengetahui hubungan kadaar IL-6 dengan kadar TSH, T3, T4 dan RT3 pada pasien kritis; Mengetahui angka kejadian NTIs. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional yang dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada 30 pasien kritis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pemeriksaan kadar IL-6, TSH, T3, T4 dan RT3. Hasil: Pada penelitian didapatkan rerata kadar IL-6 adalah 37,457 (24,70) pg/ml dan rerata kadar TSH, T3, T4 dan RT3 secara berurutan adalah 1,19 (1,12) uIU/ml, 0,486 (0,30) nmol/L, 60,87 (27,19) nmol/L dan 181,84 (72,10) ng/dL. Terdapat korelasi yang signifikan (p<0.05) dengan arah korelasi negatif dan kekuatan korelasi lemah (r=-0.319) antara IL-6 dan TSH, korelasi kuat (r=-0.6) antara IL-6 dan T3, korelasi lemah (r=-0,302) antara IL-6 dan T4. Terdapat korelasi yang signifikan (p<0,05) dengan korelasi positif dan korelasi sangat kuat (0,944) antara IL-6 dan RT3. Angka kejadian NTI 96,67% dengan gambaran kombinasi hormon terbanyak yaitu TSH normal, T3, T4 rendah, RT3 tinggi sebesar 46,7%. Kesimpulan: Terdapat korelasi negatif antara kadar IL-6 dengan kadar TSH, T3, T4 dan korelasi positif antara kadar IL-6 dan kadar RT3 pada pasien sakit kritis.
GAMBARAN FAKTOR RISIKO RETINOPATI DIABETIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUP DR. M. DJAMIL Risviani, Darayani; Decroli, Eva; Arisanty, Dessy
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 2 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, February 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v2i2.863

Abstract

Retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes melitus dalam jangka waktu panjang yang ditandai dengan rusaknya mikrovaskular pada retina. Retinopati diabetik merupakan komplikasi yang paling penting karena memiliki insiden yang sangat tinggi, mencapai 40-50% pada pasien diabetes, dan memiliki efek yang sangat buruk untuk penglihatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran derajat keparahan, kadar glukosa, lama pasien menderita DM, jenis kelamin, usia, tekanan darah, dan profil lipid pada penderita DM tipe 2 dengan kejadian retinopati diabetik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder pasien retinopati diabetik yang tercatat di rekam medik.  Berdasarkan faktor resiko kadar glukosa darah puasa terbanyak tidak terkontrol (65,6%), tidak ada perbedaan berdasarkan lama pasien menderita DM tipe 2 antara durasi < 8 tahun dan ≥ 8 tahun, menurut jenis kelamin terbanyak pada perempuan (53,1%), menurut usia terbanyak pada usia ≥ 45 tahun (68,8%), menurut tekanan darah lebih banyak terkontrol (71,9%), menurut profil lipid lebih banyak pada profil lipid tidak terkontrol (78,1%). Faktor risiko retinopati diabetik terdapat lebih banyak pada glukosa darah dan tekanan darah terkontrol, perempuan, usia ≥ 45 tahun, tidak terdapat perbedaan durasi lama pasien menderita DM, dan profil lipid tidak terkontrol.
ANALISIS KADAR AMILOID BETA PLASMA DENGAN GANGGUAN KOGNITIF PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 Syafrita, Yuliarni; Amir, Darwin; Decroli, Eva; Susanti, Restu
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i1.38

Abstract

   ANALYSIS OF PLASMA LEVELS OF BETA AMYLOID WITH COGNITIVE IMPAIRMENT IN TYPE 2 DIABETES MELLITUSABSTRACTIntroduction: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) and Alzheimer’s disease are two kind of neurodegenerative disease that related with age. Patients with DM show a tendency to develop Alzheimer’s disease, but there is no single marker for predicting a DM case will develop into Alzheimer’s disease. Amyloid cascade beta disturbance is one factor involved in the pathogenesis of DM disease as well as in Alzheimer’s disease, and still believed to be the main factor causing Alzheimer’s dementia.Aims: This research was aimed to determine the correlation between beta amyloid plasm level and demographic factors with the occurrence of cognitive dysfunction in type 2 diabetes mellitus patients.Methods: This was a cross-sectional design study on patients with DM in special DM clinic at M Djamil and Ibnu Sina hospital, Padang, between August—October 2016. Cognitive function was examined using the Montreal Cognitive Assessment Indonesian version (MoCA-Ina). Beta amyloid level was measured by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) technique. Beta amyloid diagnostic ability was analyzed by using receiver operating characteristics (ROC). The correlation between the variables were analyze by using Chi-square, and p value p<0.05 was considered to be significant. To determine the strongest variables which correlated to cognitive dysfunction, logistic regression analysis were performed.Result: 65 subjects included in this study, where cognititve dysfuntion were present in 35 patients (58.3%). There were significant correlation between disease duration and low levels of 42 beta amyloid in plasma (Aβ42) with the occur- rence of cognitive dysfunction. The multivariate analysis showed that the disease duration, followed by low levels of Aβ42 and education level were the variables correlated with cognitive dysfunction.Discussion: There were a correlation between low levels of 42 beta amyloid in plasma with the occurrence of cog- nitive dysfunction in type 2 diabetes mellitus patients.Keywords: Beta amyloid, cognitive impairment, demographic factors, type 2 DMABSTRAKPendahuluan: Penyakit diabetes melitus tipe 2 (DM) dan penyakit Alzheimer adalah dua penyakit neurodegeneratif yang sering berhubungan dengan usia. Pasien dengan DM menunjukkan kecenderungan untuk menderita penyakit Alzheimer, namun belum ada satupun penanda untuk memprediksi kasus DM yang akan berkembang menjadi penyakit Alzheimer. Gangguan kaskade amiloid beta merupakan faktor yang terlibat pada patogenesis penyakit DM maupun pada penyakit Alzheimer, dan sampai sekarang masih dipercaya sebagai faktor utama yang menyebabkan demensia Alzheimer.Tujuan: Mengetahui hubungan kadar amiloid beta plasma dan faktor demografi dengan gangguan fungsi kognitif pada penderita DM.Metode: Penelitian dengan desain potong lintang ini, terhadap pasien DM yang berobat di Poliklinik khusus diabetes RSUP Dr. M Djamil dan RS Islam Ibnu Sina, Padang, pada periode Agustus–Oktober 2016. Penilaian gangguan kognitif menggunakan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina), dinyatakan terganggu jika nilai <26.Kadar amiloid beta diperiksa dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan kemampuan diagnostik amiloid beta dianalisis dengan receiver operating characteristics (ROC). Hubungan antar variabel diuji dengan Chi- square, dikatakan bermakna bila nilai p≤0,05. Dilakukan analisis regresi logistik untuk menentukan variabel yang paling kuat hubungannya dengan gangguan fungsi kognitif.Hasil: Didapatkan 65 subjek dengan rerata usia 61,62+7,6 tahun dan sebanyak 53,8% mengalami gangguan fungsi kognitif. Didapatkan hubungan yang bermakna antara lama sakit dan rendahnya kadar Aβ42 plasma dengan terjadinya gangguan kognitif. Pada analisis multivariat diketahui bahwa urutan kekuatan variabel yang berhubungan dengan terjadinya gangguan fungsi kognitif adalah lama sakit, rendahnya kadar Aβ42 plasma, dan tingkat pendidikan.Diskusi: Terdapat hubungan antara lama sakit dan rendahnya kadar Aβ42 plasma dengan terjadinya gangguan kognitif pada penderita DM.Kata kunci: Amiloid beta, DM tipe 2, faktor demografi, gangguan kognitif
Profil Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Ulkus Kaki Diabetik di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2020-2021 Jannah, Lidya Raudhatul; Elvira, Dwitya; Noer, Mustafa; Decroli, Eva; Saputra, Deddy; Linosefa, Linosefa
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i2.1114

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik menjadi permasalahan di Indonesia karena sedikitnya tenaga kesehatan yang menggeluti ulkus kaki diabetik, sedikit pengetahuan masyarakat mengenai ulkus kaki diabetik, dan biaya penatalaksanaan yang besar. Objektif: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pasien diabetes melitus tipe 2 dengan ulkus kaki diabetik di RSUP Dr.M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah pasien dengan diagnosis ulkus kaki diabetik yang berobat di RSUP Dr.M. Djamil Padang periode 2020-2021. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sebanyak 93 sampel. Data menggunakan jenis univariat dan penyajian data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pasien ulkus kaki diabetik paling banyak berada pada usia >55-65 tahun (41,9%), jenis kelamin perempuan (52,7%), tidak bekerja/ IRT (44,1%), tingkat pendidikan terakhir SLTA (55,9%). Derajat ulkus 5 (37,6%), lama rawatan 6-10 hari (40,9%), tekanan darah normal (43,1%). Hasil laboratorium menunjukkan keadaan anemia sedang (47,3%), hipoalbuminemia (96,8%), hiperglikemia (54,8%). Tatalaksana dengan pemberian kombinasi dua antibiotik (59,1%), terapi bedah debridemen (30,2%), kondisi pasien membaik saat dipulangkan (63,4%). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian yaitu sebagian besar pasien ulkus kaki diabetik adalah perempuan lansia akhir dengan kondisi anemia, hipoalbuminemia, hiperglikemia. Tatalaksana yang umum diberikan adalah pemberian kombinasi dua antibiotik dan debridemen dengan luaran pasien membaik. Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, pasien ulkus kaki diabetik, profil Abstract Background: Diabetic foot ulcers are a problem in Indonesia because of the lack healthcare professional on diabetic foot ulcers, little public knowledge about diabetic foot ulcers, and high management costs. Objective: The purpose of this study was to determine the profile of type 2 DM patients with diabetic foot ulcers at RSUP Dr.M. Djamil Padang. Methods: This study was an observational descriptive with a cross-sectional design. The research sample was patients diagnosed with diabetic foot ulcers at RSUP Dr.M. Djamil Padang for the 2020-2021 period. The total sampling technique was used to collect a total of 93 samples. The collecting data was analyze by univariat and presented with frequency distribution tables. Results: The results of this study were the most diabetic foot ulcer patients were in the age group >55-65 years (41.9%), female (52.7%), unemployed/housewife (44.1%), and high school education (55.9%). The most ulcer grade 5 (37.6%), treatment duration was 6-10 days (40.9%) and normal blood pressure (43.1%). Laboratory results showed the conditions of moderate anemia (47.3%), hypoalbuminemia (96.8%), and hyperglycemia (54.8%). Management given was a two combination of antibiotics (59.1%), debridementt therapy (30.2%), the patient's condition improved when being discharged (63.4%). Conclusion: This study concluded that the majority of patients with diabetic foot ulcers were elderly women with anemia, hypoalbuminemia, and hyperglycemia. The most common management given was a combination of two antibiotics and debridementt, which resulted in improved patient outcomes. Patients who are at high risk are expected to be more aware of the appearance of symptoms and clinicians are expected to be able to manage patients comprehensively. Keyword : Diabetic foot ulcer patient, profile, type 2 diabetes mellitus
Co-Authors Adang Bachtiar Ade Chandra Afriwardi Afriwardi Ahmad, Armen Al Hafiz Alexander Kam Alexander Kam Alfitri, Maura Salsabila Andi Fadilah Yusran Putri Antoni, Adi Aprilia, Dinda Asman Manaf Aulia, Salsabila Syafna Auliangi Tamayo Brian Sri Prahastuti Darwin Amir, Darwin Deddy Saputra Delmi Sulastri Dessy Arisanty Dinda Aprilia Dinda Aprilia Dwitya Elvira, Dwitya Efendi, Nursyirwan Efendi, Yanne Pradwi Ellyza Nasrul Eryati Darwin Eti Yerizel Fadella, Annesa Fadrian, Fadrian Fahrurozi, R. Ifan A. Fauzar Fauzar Finisia Noviyanti Firdawati Firdawati Garri Prima Decroli Genta Pradana, Genta Hafni Bachtiar Hardisman Harie Satria ES Husna Yetti Jannah, Lidya Raudhatul Kam, Alexander Linosefa Linosefa Martini, Rose D Meliza Wahyuni Mudjiran Muhammad Luthfi Muharramah, Disa Hijratul Murni, Arina W Mustafa Noer Muthia Faurin Mutia Lailani Nada Utami Prahastiwi Nadila Andam Astari Namanda Putri, Athari Fadhila Nining Kurniawati Nur Indrawati Lipoeto Nurhayati Nurhayati Prayitno, Irwan Putri Sri Lasmini Putri, Biomechy Oktomalio Putri, Septia Harma Putri, Vidola Yasena Rahayuningsih, Sri Puji Restu Susanti Risviani, Darayani Ritonga, Sukhri Herianto Robby Satria Putra Roza Kurniati Roza Mulyana Saptino Miro Saptino Miro, Saptino Sheila Jihan Safira Sofiani, Dinda Putri Sukri Rahman Susila Sastri Syafril Syahbuddin Syafril Syahbuddin Tamayo, Auliangi Try Rahmi Lussii Karsuita Ulvyana, Vyora Viotra, Deka Yanne Pradwi Efendi Yoga, Vesri Yulia, Dwi Yuliarni Syafrita Yusrawati Yusrawati Yustini Alioes Zelly Dia Rofinda